Articles

Found 7 Documents
Search

Perubahan Karakter Agronomi Aksesi Plasma Nutfah Kedelai di Lingkungan Ternaungi Susanto, Gatut Wahyu Anggoro; Sundari, Titik
Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) Vol 39, No 1 (2011): Jurnal Agronomi Indonesia
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (151.675 KB)

Abstract

Excessive shading during plant growth is one of the factors that might decrease the productivity of crops. The aim of this study was to determine agronomic characters of soybean germplasms grown under shaded environment. The research was carried out at Kendalpayak experimental station (grey Alluvial soil, 450 m above the sea level with C3 climate type) during dry season in Malang, from February to April 2006. The experimental design used was Randomized Complete Block Design with three replications. The genetic material observed were 120 accessions of Balitkabi’s soybean germplasm; the treatments were without shading and 50% shading using shading net. The results showed that 50% shading decreased plant age to harvest, increased plant height, and reduced the number of pods and seed weight compared to those in no shading environment. Based on Stress Tolerancy Index (STI) analysis on the seed weight per plant, fi  ve accessions i.e. MLGG 0845, MLGG 3335, MLGG 0010, MLGG 0771, and Wilis demonstrated  high tolerance on 50% shade.   Keywords : shading environment, soybean, yield, yield component 
PROSPEK PEMULIAAN KEDELAI TAHAN HAMA LALAT KACANG (Ophiomyia phaseoli Tryon) DAN BERDAYA HASIL TINGGI Susanto, Gatut Wahyu Anggoro
Buletin Palawija No 23 (2012)
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebagian besar pertanaman kedelai berada pada musim musim kering (MK), namun justru tingkat serangan hama paling tinggi terjadi pada waktu itu. Salah satu hama penting yang menyerang tanaman kedelai adalah lalat kacang (O phaseoli ). Serangan hama lalat kacang pada tanaman kedelai dapat mengakibatkan kerusakan hingga mencapai 90 %, tergantung tingkat serangannya dan sebagian besar tanaman mengalami kematian. Kedelai yang toleran terhadap lalat kacang diidentifikasi memiliki karakter diameter batang kecil. Varietas unggul tahan hama lalat kacang merupakan cara yang efektif dan efisien untuk dapat menekan serangannya. Untuk merancang varietas kedelai unggul toleran lalat kacang memiliki peluang besar dengan mempertimbangkan ketersediaan sumber-sumber gen tahan pada tanaman serta memilih metode pemuliaan yang efektif dan efisien.
GALUR HARAPAN KEDELAI HITAM BERDAYA HASIL TINGGI DAN BERKARAKTER EKSOTIK Adie, M. Muchlish; Susanto, Gatut Wahyu Anggoro; ., Arifin
Buletin Palawija No 13 (2007)
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Meningkatnya permintaan kedelai hitam oleh industri, menimbulkan kembali minat petani untuk menanam kedelai hitam. Pemerintah baru berhasil melepas dua varietas kedelai hitam berdaya hasil tinggi (selain tiga varietas unggul lama, Otau, No 27 dan Merapi) yakni Cikuray (dilepas tahun 1992) dan Mallika (dilepas 2007). Ciri utama varietas tersebut adalah ukuran bijinya berkriteria sedang yaitu sekitar 10 g/100 biji. Perbaikan potensi hasil kedelai hitam serta ukuran biji dan karakter lainnya, diupayakan melalui pembentukan populasi dengan menggunakan kedelai hitam introduksi berukuran biji besar disilangkan dengan varietas kedelai berdaya hasil tinggi. Seleksi dan uji daya hasil mendapatkan tiga galur kedelai hitam prospektif yakni 9837/K-D-8-185, W/9837-D-6-220; dan 9837/W-D-5-211. Pengujian di 18 sentra produksi membuktikan bahwa galur 9837/K-D-8-185, W/9837-D-6-220; dan 9837/W-D-5-211 berdaya hasil 18% lebih tinggi dibandingkan varietas kedelai hitam Cikuray (2,03 t/ha). Tiga galur kedelai hitam tersebut memiliki karakter unik. Galur 9837/K-D-8-185 memiliki ukuran biji 14,84 g/100 biji, dan akan menjadi kedelai hitam pertama berukuran biji besar sekaligus memiliki kandungan protein tinggi (45,36 %). Galur 9837/W-D-5-211 akan menjadi varietas kedelai hitam dengan kandungan protein tertinggi (45,58 %) dari seluruh varietas kedelai yang ada di Indonesia. Sedangkan keunikan galur W/9837-D-6-220 adalah berkotiledon hijau (green kernel), dan akan menjadi varietas kedelai pertama di Indonesia yang memiliki warna kotiledon hijau. Tiga galur tersebut sudah diusulkan untuk dilepas sebagai varietas unggul.
Pengujian 15 Genotipe Kedelai pada Kondisi Intensitas Cahaya 50% dan Penilaian Karakter Tanaman Berdasarkan Fenotipnya Susanto, Gatut Wahyu Anggoro; Sundari, Titik
JURNAL BIOLOGI INDONESIA Vol 6, No 3 (2010): JURNAL BIOLOGI INDONESIA
Publisher : Perhimpunan Biologi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (60.358 KB)

Abstract

ABSTRACTThe Examination of 15 Soybean Genotypes at 50% Light Intensity and Evaluation of Crop’sPhenotypic Characters. Sunlight is one of the important plant growth requirements. In orderto understand morphological character changes in the crops due to different light intensity, 15genotypes of soybean consisted of Willis, D3578-3/3072-11, Seulawah, Aochi/W-62, Kaba,IAC 100/Brr-1, MLGG 0081, MLGG 0059, MLGG 0120, 9837/Kawi, D-6-185, IAC 100, MLGG0383-1, Pangrango, MLGG 0069 and MLGG 0122 were tested. The research was conducted inKendalpayak (grey Alluvial soil type, 450 above sea level, C3 climate type), Malang at dryseason in 2006. The research design was Randomize Complete Block under two differentenvironmental conditions, with three replications. The experiment was conducted under fulland 50 %light intensity. The results indicated that the reduction of light intensity as much as50 % resulted in some changes in phenotypic characters such as size and lifespan of the 15genotype being tested, included the increase of plant height, the longer distance betweennodes, the decrease in node number, the smaller size of stem diameter, the decrease on thenumber of leaves, the narrower of the leaf ‘s width and the decrease in pod number. Lessenedseed weight, the low weight of 100 seeds, the lowering level of the leaf’s greenness, and theaccelerate age of flowering and harvesting. IAC 100, MLGG 0383-1 and IAC 100/BBR-1 producedhigh under 50% of light intensity.Keywords : Soybean (Glycine max (L) Merrill), light intensity, phenotypic
GALUR HARAPAN KEDELAI HITAM BERDAYA HASIL TINGGI DAN BERKARAKTER EKSOTIK Adie, M. Muchlish; Susanto, Gatut Wahyu Anggoro; Arifin, Arifin
Buletin Palawija No 13 (2007): Buletin Palawija No 13, 2007
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (39.371 KB)

Abstract

Meningkatnya permintaan kedelai hitam oleh industri, menimbulkan kembali minat petani untuk menanam kedelai hitam. Pemerintah baru berhasil melepas dua varietas kedelai hitam berdaya hasil tinggi (selain tiga varietas unggul lama, Otau, No 27 dan Merapi) yakni Cikuray (dilepas tahun 1992) dan Mallika (dilepas 2007). Ciri utama varietas tersebut adalah ukuran bijinya berkriteria sedang yaitu sekitar 10 g/100 biji. Perbaikan potensi hasil kedelai hitam serta ukuran biji dan karakter lainnya, diupayakan melalui pembentukan populasi dengan menggunakan kedelai hitam introduksi berukuran biji besar disilangkan dengan varietas kedelai berdaya hasil tinggi. Seleksi dan uji daya hasil mendapatkan tiga galur kedelai hitam prospektif yakni 9837/K-D-8-185, W/9837-D-6-220; dan 9837/W-D-5-211. Pengujian di 18 sentra produksi membuktikan bahwa galur 9837/K-D-8-185, W/9837-D-6-220; dan 9837/W-D-5-211 berdaya hasil 18% lebih tinggi dibandingkan varietas kedelai hitam Cikuray (2,03 t/ha). Tiga galur kedelai hitam tersebut memiliki karakter unik. Galur 9837/K-D-8-185 memiliki ukuran biji 14,84 g/100 biji, dan akan menjadi kedelai hitam pertama berukuran biji besar sekaligus memiliki kandungan protein tinggi (45,36 %). Galur 9837/W-D-5-211 akan menjadi varietas kedelai hitam dengan kandungan protein tertinggi (45,58 %) dari seluruh varietas kedelai yang ada di Indonesia. Sedangkan keunikan galur W/9837-D-6-220 adalah berkotiledon hijau (green kernel), dan akan menjadi varietas kedelai pertama di Indonesia yang memiliki warna kotiledon hijau. Tiga galur tersebut sudah diusulkan untuk dilepas sebagai varietas unggul.
IDENTIFIKASI FENOTIPIK GALUR-GALUR KEDELAI TERHADAP KETAHANAN SERANGAN HAMA ULAT GRAYAK (SPODOPTERA LITURA F.) Susanto, Gatut Wahyu Anggoro; Adie, Moh. Muchlish
JURNAL HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN TROPIKA Vol 15, No 2 (2015): SEPTEMBER, JURNAL HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN TROPIKA
Publisher : Universitas Lampung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (93.221 KB)

Abstract

Phenotypic identification of soybean lines against armyworm pest resistance (Spodoptera litura F). This research consisted of two parts which aimed to find out the intensity of damage to the leaves and the influence of soybean on the biological aspect of armyworms. The materials tested were Shr/W-C-60, Aochi/Wil-60, 9837/K-D-8-185, 9837/K-D-3-185-95, W/9837-D- 6-220, 9837/K-D-3-185-82, 9837/W-D-5-211, GI, G100H breeding lines and Wilis varieties. The research was conducted at a Balitkabi screenhouse in February 2011, using randomized block design and each treatment was replicated three times. The planting media were plastic pots (diameter 18 cm) filled with earth, two seeds per pot were planted and intensively raised. When the plants were 27 days old after planting, at each replication consisting of 10 materials, they were covered with gauze cages (2 x 2 x 2 m). Then the plants in each pot was infested with 10 instar I armyworm larvae. The other part of research was carried out in Balitkabi Breeding Improvement Laboratory. For testing purposes, there was a need for a third nodal leaf of soybean aged 27 days after planting in each tested material. The research used a completely randomized design each treatment was replicated three times. One nodal leaf in each material was placed in a petri dish 15 cm in diameter, which was coated with moist filter paper, and this was later called treatment. Each treatment was infested with one instar I armyworm larva. The result of research indicated that an assessment of soybean resistance to armyworms could be made from the density of the trichome and/or the length of the trichome on the leaves. The G100H breeding line was found to be resilient with its characteristics of having dense trichome (25/4 mm2) and long trichome (1.1 mm).
Evaluasi Toleransi Sumber Daya Genetik Kedelai terhadap Cekaman Salinitas Taufiq, Abdullah; Nugrahaeni, Novita; Susanto, Gatut Wahyu Anggoro
Buletin Palawija Vol 17, No 1 (2019): Buletin Palawija Vol 17 no 1, 2019
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Varietas kedelai toleran cekaman salinitas merupakan komponen utama budi daya kedelai pada tanah salin. Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi toleransi sumber daya genetik kedelai terhadap cekaman salinitas. Sebanyak 202 aksesi kedelai koleksi plasma nutfah Balitkabi dievaluasi pada lahan salin di Desa Lohgung, Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan pada Juli-Oktober 2017. Evaluasi dilakukan pada dua lingkungan salinitas tanah, yaitu DHL (daya hantar listrik) 4,7-8,4 dS/m (L1) dan 8,8-15,4 dS/m (L2). Setiap aksesi ditanam dalam baris tunggal sepanjang 4 m dan jarak antarbaris 30 cm. Pengamatan terdiri atas DHL tanah, populasi dan tinggi tanaman akhir, komponen hasil dan hasil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah aksesi yang mengalami penurunan tinggi tanaman, populasi tanaman, dan bobot 100 biji 50% akibat peningkatan salinitas dari L1 menjadi L2 hanya 2-4 aksesi, sedangkan untuk peubah jumlah polong isi dan hasil biji masing-masing 76 dan 64 aksesi. Berdasarkan jumlah aksesi pada tingkat penurunan peubah50%, terindikasi bahwa peubah jumlah polong isi dan hasil biji lebih sesuai digunakan sebagai indikator penilaian toleransi terhadap cekaman salinitas. Toleransi terhadap salinitas dari aksesi yang diuji beragam. Teridentifikasi 52% aksesi tidak toleran dan 36% aksesi toleran salinitas L1 dengan hasil 1,5-3,0 t/ha, sedangkan 13% aksesi toleran salinitas L2 dengan hasil 1,5-1,8 t/ha kecuali satu aksesi dengan hasil 2,3 t/ha. Berdasarkan kenampakan gejala keracunan salin, sebagian besar aksesi yang tidak toleran termasuk inkluder dan hanya sebagian kecil yang eksluder.