Djap Hadi Susanto
Universitas Kristen Krida Wacana

Published : 9 Documents
Articles

Found 9 Documents
Search

The Usage of Two Minutes Method (M2M) to Determine Mental Disorder Prevalence in Primary Care

Journal of the Indonesian Medical Association Vol. 60 No. 10 October 2010
Publisher : Journal of the Indonesian Medical Association

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Two Minutes Method (M2M) is prepared as a method to assist primary care phycisian in health care service (not just as mental health care service) and it is used to determine mental disorder prevalance compared to conventional psychiatric interview using PPDGJ-III by psychiatrist which is founded to be valid and reliable. The aim of the study was to compare the usage of M2M by primary care physician and the usage of conventional psychiatric interview by psychiatrist in determining mental disorder prevalence in Puskesmas Kecamatan Grogol Petamburan. From 1052 patients visited Puskesmas kecamatan Grogol Petamburan, Jakarta Barat, the mental disorder prevalence was 31.8% which was founded by the pshysician as well as by the psychiatrist. Using M2M, neurosis was founded to be the most common mental disorder (28.5%). Meanwhile, by using diagnotic guideline of PPDGJ-III performed by psychiatrist, Anxiety Disorders were 14%, followed by 12.5% Psychosomatic Disorder, Eating Disorder, Sleep Disorder and Sexual Dysfunction, and 2% Depressive Disorder (total 28.5%).Keywords: diagnostic tool, psychiatry, mental disorder, prevalence, Puskesmas

Epidemic Burden of Cardiovascular Disease in Indonesia

Jurnal Biotek Medisiana Indonesia Vol 1, No 1 (2009)
Publisher : Pusat BTDK

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Transformasi luar biasa di bidang ekonomi dan urbanisasi telah mengubah struktur de­mografi sosial di Indonesia sehingga menyebabkan pergeseran besar dalam pola makan dan penyebab kematian. Sebagai penyebab kematian utama, epidemik penyakit kardiovaskuler telah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius. Masalah menjadi lebih sulit dengan adanya beban ganda penyakit yakni penyakit-penyakit tidak menular menjadi lebih menonjol sementara penyakit-penyakit menular masih belum teratasi karena sanitasi lingkungan yang buruk akibat tidak baiknya sistem pelayanan kesehatan. Penyakit kardiovaskuler sangat berhubungan dengan beberapa faktor risiko yang dapat diubah, seperti kebiasaan merokok tembakau, perubahan gaya hidup (makanan yang tidak sehat dan kurangnya aktivitas fisik), dan kelebihan berat badan/kegemukan. Strategi dengan target individu-individu berisiko tinggi dan upaya pencegahan berlandaskan populasi jelas sangat dibutuhkan untuk menghadapi beban epidemik penyakit kardiovaskuler, disamping menyediakan pelayanan kesehatan baku bagi penduduk Indonesia. Semua strategi ini harus disertai adanya keinginan politik untuk mendukung perubahan kebijakan kesehatan yang diperlukan. Tulisan ini memberikan gambaran singkat tentang beban epidemik penyakit kardiovaskuler di negara-negara berkembang seperti Indonesia, dengan penekanan pada faktor-faktor risiko penting maupun strategi pencegahan dan pengendaliannya.   Kata kunci: Penyakit kardiovaskuler, faktor risiko, pencegahan

Epidemic Burden of Cardiovascular Disease in Indonesia

Jurnal Biotek Medisiana Indonesia Vol 1, No 1 (2009)
Publisher : Pusat BTDK

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Transformasi luar biasa di bidang ekonomi dan urbanisasi telah mengubah struktur de­mografi sosial di Indonesia sehingga menyebabkan pergeseran besar dalam pola makan dan penyebab kematian. Sebagai penyebab kematian utama, epidemik penyakit kardiovaskuler telah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius. Masalah menjadi lebih sulit dengan adanya beban ganda penyakit yakni penyakit-penyakit tidak menular menjadi lebih menonjol sementara penyakit-penyakit menular masih belum teratasi karena sanitasi lingkungan yang buruk akibat tidak baiknya sistem pelayanan kesehatan. Penyakit kardiovaskuler sangat berhubungan dengan beberapa faktor risiko yang dapat diubah, seperti kebiasaan merokok tembakau, perubahan gaya hidup (makanan yang tidak sehat dan kurangnya aktivitas fisik), dan kelebihan berat badan/kegemukan. Strategi dengan target individu-individu berisiko tinggi dan upaya pencegahan berlandaskan populasi jelas sangat dibutuhkan untuk menghadapi beban epidemik penyakit kardiovaskuler, disamping menyediakan pelayanan kesehatan baku bagi penduduk Indonesia. Semua strategi ini harus disertai adanya keinginan politik untuk mendukung perubahan kebijakan kesehatan yang diperlukan. Tulisan ini memberikan gambaran singkat tentang beban epidemik penyakit kardiovaskuler di negara-negara berkembang seperti Indonesia, dengan penekanan pada faktor-faktor risiko penting maupun strategi pencegahan dan pengendaliannya.   Kata kunci: Penyakit kardiovaskuler, faktor risiko, pencegahan

Kejadian Luar Biasa Demam Berdarah Dengue di Jakarta

Jurnal Kedokteran Meditek vol. 14 no. 38 September-Desember 2006
Publisher : Jurnal Kedokteran Meditek

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1101.003 KB)

Abstract

Faktor-faktor Penyebab Tingginya Angka Kematian Ibu(Maternal Mortality Rate) di Indonesia

Jurnal Kedokteran Meditek Vol. 6 No. 17 Oktober-Desember 1998
Publisher : Jurnal Kedokteran Meditek

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (790.026 KB)

Abstract

Pencegahan Penyakit Rabies dengan Pendekatan Lingkungan

Jurnal Kedokteran Meditek Vol. 15 No. 39C Januari-April 2008
Publisher : Jurnal Kedokteran Meditek

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.358 KB)

Abstract

Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Ibu Rumah Tangga mengenai Konsumsi Yodium dan Faktor yang Berhubungan di Kelurahan Kelapa Dua Jakarta Barat

Jurnal Kedokteran Meditek Vol. 17 No. 45 September - Desember 2011
Publisher : Jurnal Kedokteran Meditek

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1407.133 KB)

Abstract

AbstrakLatar belakang: Gamgguan akibat kekurangan Yodium (GAKY). Merupakan salah satu masalah nutrisi di Indonesia. Hasil survei konsumsi garam beryodium tingkat rumah tangga secara nasional pada tahun 2003 bara mencapai 73,24% rumah tangga yang mengkonsumsi garam dengan kandungan yodium >30 ppm. Di Jakarta saja, cakupan konsumsi garam yang mengandungcukup yodium hanya sebesar 68,70%. Tujuan penelitian ini adalah diketahuinya gambaran tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku ibu rumah tangga dan faktor-faktor yang berhubungan mengenai konsumsi yodium dalam rangka pencegahan penyakit Gangguan Akibat Kekurangan Yodium. Metode: Desain penelitian adalah deskriptif dengan pendekatan potong lintang (cross sectional). Populasi adalah ibu-ibu rumah tangga di Kelurahan Kelapa Dua, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Jumlah sampel sebesar 105 orang yang dipilih secara multistage simple random sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara dan dengan bantuan kuesioner. Hasil: Sebaran menurut tingkat pengetahuan sebagian besar adalah rendah (41,0%), sikap baik (43,8%) dan sebagian besar berperilaku kurang (42,9%). Didapatkan adanya hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku ibu terhadap usia ibu, tingkat pendidikan ibu, sumber informasi, dan aktivitas sosial ibu ibu. Sementara itu didapatkan tidak ada hubungan antara perkerjaan ibu dan pendapatan keluarga terhadap tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku ibu. Terdapat hubungan yang bermakna antara perilaku ibu dengan pengetahuan dan sikap perilaku ibu, serta antara sikap ibu terhadap tingkat pengetahuan ibu mengenai konsumsi yodium.Kata kunci : konsumsi yodium, pengetahuan, sikap, dan perilaku ibu rumah tangga

Pencemaran Merkuri di Indonesia

Jurnal Kedokteran Meditek vol. 12 no. 30 January-April 2004
Publisher : Jurnal Kedokteran Meditek

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1131.647 KB)

Abstract

Pengaruh Lingkungan Terhadap Penyakit Demam Berdarah Dengue

Jurnal Kedokteran Meditek Vol. 15 No. 39E September-Desember 2008
Publisher : Jurnal Kedokteran Meditek

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakLingkungan merupakan agregat dari seluruh kondisi dan pengaruh-pengaruh luar yang mempengaruhi kehidupan dan perkembangan suatu organisasi. Salah satu peran lingkungan adalah sebagai reservoir dari berbagai agent dan vektor penyakit. Secara umum lingkungan dibedakan atas lingkungan fisik dan lingkungan non fisik. Lingkungan fisik adalah lingkungan alamiah yang terdapat di sekitar manusia, sedangkan lingkungan non fisik ialah lingkungan yang muncul akibat adanya interaksi antar manusia.Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yang sangat erat hubungannya dengan kesehatan lingkungan, sehingga ia disebut juga salah satu penyakit menular yang berbasis lingkungan. Artinya, kejadian dan penularannya dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan. Karena itu upaya untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat harus ditujukan kepada penyehatan lingkungan hidup.Penyakit demam berdarah dengue (DBD) masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, yang cenderung semakin luas penyebarannya sejalan dengan meningkatnya mobilitas dan kepadatan penduduk. Deman berdarah kerap kali menimbulkan Kejadian Luar Biasa dan mengakibatkan kematian yang tidak sedikit setiap tahun di berbagai daerah Indonesia.Kesehatan lingkungan dalam aspek kesehatan lingkungan fisik yang berperan dalam penularan penyakit DBD misalnya pekarangan yang tidak bersih, seperti bak mandi yang jarang dikuras, pot bunga, genangan air di berbagai tempat, ban bekas, batok kelapa, potongan bambu, drum, kaleng-kaleng bekas serta botol-botol yang dapat menampung air dalam jangka waktu yang lama, bak mandi, WC, tempayan, drum air, bak menara (tower air) yang tidak tertutup, sumur gali. Sementara dari lingkungan non fisik antaranya adalah keadaan demografi suatu wilayah (kepadatan, mobilitas, perilaku, adat istiadat, sosial ekonomi penduduk). Biasanya DBD akan menyerang orang-orang yang tinggal di daerah pinggiran, kumuh. Faktor sosial seperti tingkat pendidikan serta ekonomi penduduk turut mempengaruhi perkembangbiakan vektor DBD.Kata kunci : demam berdarah dengue, host, lingkungan