Articles
130
Documents
Profil Pigmen Polar dan Non Polar Mikroalga Laut Spirulina sp. dan Potensinya sebagai Pewarna Alami (Profile of Polar and Non-Polar Pigment from Marine Microalgae Spirulina sp. and Their Potential as Natural Coloring)

ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 17, No 3 (2012): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (153.275 KB)

Abstract

Penelitian pigmen Spirulina sp. dilakukan untuk menentukan kandungan pigmen polar dan non polar dari Spirulina sp. dengan metode Spektroskopi UV-Vis. Pigmen polar diekstraksi dengan menggunakan larutan buffer fosfat (NaOH-KH2PO4) pH 7, sedangkan pigmen non polar diekstraksi dengan menggunakan aseton murni. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pigmen polar berwarna biru dan kadarnya adalah sebesar 42,272±0,05 mg/g (berat kering), pigmen ini terdiri dari fikosianin (29,159±0,29 mg/g), allofikosianin (9,363±0,20 mg/g), dan fikoeritrin (3,750±0,09 mg/g). Warna pigmen non polar adalah hijau terang dan kadarnya sebesar 4,498±0,06 mg/g (berat kering), pigmen ini terdiri dari klorofil a (3,349±0,03 mg/g) dan karotenoids (1,158±0,03 mg/g). Ekstrak pigmen polar Spirulina sp. kadarnya lebih tinggi dibanding pigmen non polarnya. Pigmen fikosianin berpotensi dikembangkan sebagai bahan aditif pewarna biru alami, karena: kadarnya paling tinggi, menghasilkan warna biru cerah dan cemerlang, bersifat nutrisi fungsional dan tidak beracun.Kata kunci: Spirulina sp., polar, non polar, pigmen, alamiResearch on pigments from Spirulina sp. powder has been done in order to determine polar and non polar pigments content by UV-Vis Spectroscopy method. Polar pigments were extracted using phosphate buffer (NaOH-KH2PO4) pH 7, while non polar pigments were extracted using pure aseton. The result showed that colour of polar pigment was dark blue and its content was 42,272±0,05 mg/g (dry weight), these pigments consist of phycocyanin (29,159±0,29 mg/g), allophycocyanin (9,363±0,20 mg/g), and phycoerythrin (3,750±0,09 mg/g). The colour of non polar pigment was light green and its content was 4,498±0,06 mg/g (dry weight), these pigments consist of chlorophyll a (3,349±0,03 mg/g) and carotenoids (1,158±0,03 mg/g). Due to the high content of pigments from Spirulina sp, showing a bright blue colour, having functional nutrition, and non toxic, the polar pigment phycocyanin have been found suitable for use as additif natural blue colorant.Key word: Spirulina sp., polar, non polar, pigment, natural

Aplikasi Perbedaan Komposisi N, P dan K pada Budidaya Eucheuma cottonii di Perairan Teluk Awur, Jepara

ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 14, No 3 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (414.992 KB)

Abstract

Rumput laut (Eucheuma cottonii) merupakan salah satu hasil laut yang memiliki nilai ekonomis tinggi yang ditunjukkan dengan meningkatnya permintaan dalam berbagai bentuk sehingga diperlukan adanya usaha peningkatan produksinya. Studi aplikasi pupuk N, P dan K dengan konsentrasi yang berbeda telah dilakukan pada usaha budidaya rumput laut tersebut melalui eksperimental lapangan, dengan Rancangan Acak Lengkap. Bibit E.cottonii direndam dalam pupuk selama 15 menit sebelum ditanam dengan sistim rakit. Terdapat lima kombinasi komposisi N, P, dan K yaitu 10:55:10; 15:15:15; 46:0:0; 60:20:10; dan  Kontrol (tanpa direndam dalam pupuk). Bobot awal bibit rumput laut adalah 80 gram dan pengamatan pertumbuhan berat mingguan dilakukan selama 5 minggu. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa rerata bobot total dan laju pertumbuhan tertinggi dicapai pada perlakuan perbandingan N,P dan K 60:20:10 yaitu 543,33 gram dan 5,47 % dan yang terendah adalah 326,67 gram dan 4,02 % yang dicapai perlakuan perbandingan N,P dan K  sebesar 10:55:10 Kata kunci : Euchema cottonii, N, P, K, pertumbuhan  Eucheuma cottonii, seaweed, is one of marine products with high economic value which can be seen from increasing market demand. The study of using different commercial fertilizer in seaweed aquaculture is one of possible effort to increase seaweed production. The method used in this research was experimental applying randomized complete design. All samples are deeped for 15 minutes in different composition of NPK fertilizers before cultivated in floating raft method. The treatments are NPK ratio of 10:55:10; 15:15:15; 46:0:0; 60:20:10 and without fertilizer as control. Seaweed mass for cultivation was 80 grams observe at every week during five week. The observation result show that the highest average of total biomass reached and Survival growth rate at NPK ratio treatment 60:20:10 is 543.33 grams and 5,47 % ,and the lowest is 326.67 grams 4,02 % reached by N, P, and K ratio treatment was 10:55:10 Key  words : Euchema cottonii, N, P, K, growth

Ekstrak Daun Mangrove Aegiceras corniculatum Sebagai Antibakteri Vibrio harveyi dan Vibrio parahaemolyticus

ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 9, No 4 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (113.75 KB)

Abstract

Pada dekade terakhir, pencarian senyawa bioaktif baru dari alam dilakukan sangat intensif. Aegiceras corniculatum merupakan salah satu spesies mangrove yang telah diketahui berpotensi sebagai sumbersenyawa anti bakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi daun mangrove Aegiceras corniculatum sebagai sumber bahan bioaktif anti bakteri Vibrio harveyi dan Vibrio parahaemolyticus. Padapenelitian Aegiceras corniculatum diambil dari pantai Teluk Awur, Jepara. Sampel diekstrak dengan metanol. Uji anti bakteri terhadap Vibrio harveyi dan Vibrio parhaemolyticus dilakukan dengan metode difusi agardengan konsentrasi 5000, 10.000, dan 20.000 ppm dengan pelarut aquades. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun A. corniculatum mampu menghambat V. parahaemolyticus pada semua konsentrasi dengan zona hambatan 0,275-0,55 mm. Namun ekstrak ini tidak menunjukan daya hambat terhadap laju pertumbuhan bakteri V. harveyi.Kata kunci : Aegiceras corniculatum, Bioaktif, Antibakteri, Vibrio harveyi, Vibrio parahaemolyticusExploration of new bioactive compounds from nature has been conducted intensively In the last decade. Aegiceras corniculatum, is one of mangrove species which has potent as a source of antibacterial compounds.The aim of this research is to investigate the potency of Aegiceras corniculatum leaves as a sorce of anti bacterial Vibrio harveyi and Vibrio parahaemolyticus substances. Leaves of Aegiceras corniculatum wascollected from Teluk Awur Jepara. Experimental laboratories method was used in this research, while data was analyzed descriptively. Sample was extracted by using methanol. Agar Diffusion method was utilizedon anti bacterial test against Vibrio harveyi and Vibrio parahaemolyticus with concentration 5.000, 10.000 and 20.000 ppm in aquadest. The result of the test showed that Aegiceras corniculatum leaves extractinhibit the growth of the V. parahaemolyticus with inhibtion zone between 0,275-0,55 mm, but not active against Vibrio harveyi.Key words : Aegiceras corniculatum, bioactive, antibacteria, Vibrio harveyi, Vibrio parahaemolyticus

Pengaruh Kepadatan Terhadap Tingkat Kematangan Gonad dan Fekunditas Kepiting Bakau (Scylla serrata) pada Kultivasi di Tambak Garam

ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 9, No 4 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (118.016 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kematangan gonad dan fekunditas kepiting bakau (Scylla serrata) dengan sistem kultivasi dalam karamba di tambak garam berdasarkan perlakuan kepadatan benih yangberbeda.Benih kepiting berjumlah 144 ekor dengan berat awal rata-rata 250 gram, terbagi kedalam empat perlakuan kepadatan, masing masing A ( 6 ekor ), B ( 8 ekor ), C ( 10 ekor ) dan D ( 12 ekor ), yang masing– masing diulang empat kali dipelihara dalam karamba berukuran 1 x 0,75 x 1 meter. Pemeliharaan dilakukan selama 2 minggu ( 8 – 23 Oktober 2001 ). Hasil pengamatan kematangan gonad berdasarkan dianalisis berdasarkan Indeks Kematangan Gonad serta fekunditas. Kematangan gonad kepiting bakau Scylla serrata tercapai secara merata dengan indeks berkisar diantara 42.87 – 68.70, dengan indeks tertinggi sebesar 65.12 ± 2.39 pada perlakuan C ( kepadatan 10 ekor per 0.75 m 2 ). Sedangkan fekunditas berkisar diantara 60000 –120000 butir telur, dengan perlakuan tertinggi dicapai pada perlakuan B dengan kisaran jumlah telur 96000 – 120000 dan nilai rata – rata 110000 ± 12000 butir telur. Hubungan berat kepiting dengan fekunditas total Y = 567.9562 – 103477.337 X ( r = 0.7966 ). Fekunditas memberikan hasil linier menurun berdasarkan perlakuan dikarenakan kemampuan toleransi serta ruang gerak yang terlalu sempit dan persainganKata kunci : kepadatan, kematangan gonad, fekunditas, kepiting Scylla serrata.The aim of the research is to know the effect of different density on the gonad maturity and fecundity of mud crab ( Scylla serrata ) grown in the cage. This cage were put in salt water pond. Four treatments (density ), i.e. A ( 6 individual ), B ( 8 individual ), C ( 10 individual ) and D ( 12 individual ), with four replications, were applied. The average initial weight of the mud crab is 250 gram. These were grown for two weeks ( October 8 to 23, 2001 ). The mud crab gonad maturity and fecundity was analysed using the analysis based on the Gonad Maturation Index and Fecundity. The gonad maturity was found for almost of mud crab Scylla serrata. The gonad maturity index showed a value from 42.87 – 68.70, which the highest was reached by the treatment C ( with the density 10 individual per 0.75 m 2 ). The fecundity varies from 60000 –120000 eggs, which the highest was 110000 ± 12000 and reached by the treatment B ( with the density 10 individual per 0.75 m 2 ). The relationship between mudgrab weight and fecundity was Y = 567.9562 – 103477.337 X (r = 0.7966). The fecundity showed a decreased linierity due to the limitationspace cause by the level of density.Key words : density, gonad maturation, fecundity, mud crab Scylla serrata

Kandungan Klorofil-a pada Diatome Epipelik di Sedimen Ekosistem Mangrove

ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 9, No 4 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (111.661 KB)

Abstract

Diatom Epipelik memiliki arti penting dalam sedimen mangrove karena merupakan komponen utama mikroalga yang mengandung klorofil, sehingga klorofil dalam sedimen akan mempengaruhi produktivitas primernya. Nilai kandungan klorofil -a dalam sedimen di kedalaman 2 cm berkisar antara 0,125 - 0,405 μg/cm3 menunjukkan bahwa pada kedalaman 2 cm mempunyai kandungan klorofil -a tertinggi bila dibandingkan pada kedalaman sampling 4 cm ataupun 6 cm. Untuk parameter fisika - kimia oseanografi, kondisi lingkungan memiliki kecenderungan yang normal.Kata kunci : klorofil -a, sedimen mangrove, produktivitas primer.The result showed that Epipelic Diatom have an important role in mangrove sediment, since they are known as major component of microalgae which containt chlorophy. These chlorophyll influence the level of primary productivity, within the sediment. The highest chloropyll a content within sediment was found in those taken from 2 cm deep range, compared with those taken from 4 cm and 6 cm deep.Key words : Chlorophyll -a, mangrove sediment, primary productivity.

Co-Authors AB Susanto Achmad Widodo Adi Priyo Wicaksono, Adi Priyo Agung Chandra Prasetya Agung Nugroho Setiawan, Agung Nugroho Agus Indarjo Agus Sulistiyo Agus Suyanto Agus Syafrudin Agus Triyanto Ahmad Syaify, Ahmad Aini Moeljono, Aini AL. Supartinah, AL. Andika Bagus Setiawan, Andika Bagus Andri Wahyu Septo Putra Anifatur Nurjannah, Anifatur Arbiyanti, Yossi Norma Arfian, Finty Ari Anshori, Ari Ari Suwondo Arief Suseno, Arief Arif Syaifuddin Arifin Budi Putro, Arifin Budi Arinianzah, Aldo Rizqi Aris Wijayanti Arista, Desi Arlien Siswanti Arnefia Mei Yusnida Asfan Muqtadir, Asfan Astuti, Anjar Ave Gierdo Alfaseno, Ave Gierdo Baliyan I, Baliyan Bambang Nugraha, Bambang Basuki Basuki Bayu Surarso Budi Setiawan Chrisna A Suryono Chrisna Adhi Suryono Cicilia Artitin Cynthia Damayanti Dadang Sukandar Dayyana, Surya Desi Sandra Sari Desie Dwi Wisudanti, Desie Dwi Dewi Agustina Dewi Sulistyaningrum Dhidik Prastiyanto Diana Layla Dimas Putra Anugrah, Dimas Putra Djoko Adi Widodo Donny Prasetyo Santoso, Donny Prasetyo Drajat Martianto Dwi Puji Adiana, Dwi Puji Edi Wibowo Edi Wibowo Kushartono Edy Junaidi Eka Miftakhul Jannah, Eka Miftakhul Eko Supraptono Emi Agustina, Emi Endah Setiyaningrum Endang Sri Susilo ENNY SUSWATI Ervia Yudiati Evi Setiawati Fatekurohman, Mohamat fatimah Fatimah Febriana Tirta Kirana, Febriana Tirta Fitri Mahardika Sari Frida Fallo Gatot Murti Wibowo, Gatot Murti Gatot Yulianto Gentur Handoyo Gigih Budhiawan Gunawan Widi Santosa Hadi Endrawati Harindra W Pradhana, Harindra W Harindra Wisnu Pradhana Haryati Haryati Hayat Maulana Heri Sugito Heri Sutanto Hernita Kusuma Wardani Hery Sulistyo JNS, Hery Sulistyo Hery Widijanto Hidayat, Syarief Thaufik Hilmi Trian Setyawan Indhana Sudiharto, Indhana Indri Trifiantari Irianiwati Irianiwati Irwani Irwani Isa Nurnusanto, Isa Isnaini Isnaini Ivan Nurizal Sakti Izah, Luluk Lailatul Jatmiko Endro Suseno Jauhari Syamsiyah Joko Winarno Juniyanto, Dimas Kamasita, Systriana Esi Kartini Sinaga Kesawa Sudarsih Khanif Pramusinto, Khanif Kharis, Muhamad Kusworo Adi Kusworowulan, Suryati Kwartarini Murdiastuti, Kwartarini Laela Meitasari, Laela Laska, Yulinda Lukman Hakim Mahda Veronika Maisi, Sri Malau, Rotua Mardiyono Mardiyono Margo Utomo Marsetyawan HNES, Marsetyawan Mediawati, Saskia Mefi Priba Sari, Mefi Priba Melo, Gabriella Imanuella Melyana Nurul Widyawati Menur Wahyu Pangestika, Menur Wahyu Mohamad Nadhif, Mohamad Muh. Yusuf Muhammad Arif Prasetyo Muhammad Arsyad Suyuti Muhammad Izzuddin Shofar Muhammad Zainuri Mujiyo Mujiyo Mulyanto Mulyanto Munarso Munarso Muthoifin Muthoifin, Muthoifin N. Euis Sutaningsih, N. Euis Nailatul Ilmi Nasronudin Nasronudin Niharul Annas Nirwani Soenardjo Nourobby Aulada, Nourobby Oky Dwi Nurhayati Oky Yuripa Pradana P. H, Aditya Praptiwi Praptiwi Prasetyo Nugroho Raden Ario Radini Sinta, Radini Ragil Saputra Rahayu Sapta S Rahmat Gernowo Rakhmat Syaefullah Ramadhan, Hazbina Fauqi Rani Gamawati, Rani Ratna Dwi Meilani, Ratna Dwi Retno Handayani Retno Hartati Ria Amitasari Ria Azizah Rieneke L Sela, Rieneke L Rini Riyanti Robby Eko Christanto Rudhi Pri, Rudhi Rudhi Pribadi Rusdi, Muh Sangkertadi Sangkertadi Satryo Adi Wibowo, Satryo Adi Setyaningsih, Erni Sharfina Sharfina, Sharfina Siti Fatimah Muis Soeharyo Hadisaputro Sri Budi Barunawati, Sri Budi Sri Huning Anwariningsih Sri Kusumastuti, Sri Sri Sedjati Sri Sukamta Sudadi Sudadi Sudibyo Sudibyo Sugeng Purbawanto Sugiyanto Sugiyanto Sukarnen Sukarnen, Sukarnen Sulistyo Warjono, Sulistyo Sumarno Sumarno Sumaryo Sumaryo Suntoro Suntoro Supriyanto Supriyanto Supriyati Supriyati Suroyo Suroyo Suwarto Suwarto Tatyantoro Andrasto Tika Retnowati Tri Saputra, Tri Valentino, Nico Vifaldi Agti, Vifaldi Vincensius Gunawan Wahyu Fredi Santoso Wahyu Setia Budi Widyatmani Sih Dewi Wilis Ari Setyati Yosafat Hermawan Trinugraha, Yosafat Hermawan Yudha Nurdian, Yudha Yuli Hermansyah, Yuli Yuningtyastuti, Gita Surya