Chrisna A Suryono
Jurusan Ilmu Kelautan FPIK-Universitas Diponegoro, Semarang Telp. (024) 7474698
Articles
7
Documents
‚Äč
Bioakumulasi Logam Berat Melalui Sistim Jaringan Makanan dan Lingkungan pada Kerang Bulu Anadara inflata

ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 11, No 1 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.743 KB)

Abstract

Masuknya logam berat sepeti Pb kedalam tubuh kerang dapat melalui jaringan makananan atau kontak dengan lingkungannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh akumulasi logam berat Pb terhadap filtrasi Anadara inflata. Penelitian eksperimen laboratories ini menggunakan 4 konsentrasi Pb (19 ppm, 18 ppm, 17 ppm dan 16 ppm) sebagai perlakuan dan diulang sebanyak 3 kali. Hasil penelitian menunjukan kesemua perlakuan menunjukan penurunan kemampuan filtrasi setelah kerang bulu terakumulasi logam Pb setelah berada dalam media 13 jam kedua. Kata kunci: Anadara inflata, bioakumulasi, Pb The heavy metal Pb can be contaminated on Anadara inflata tissue through food web system and direct contact.  The aim of present study is to understand the effect of Pb accumulation on A. inflata filtration.  The laboratories experiment with 4 different concentrations of Pb (19 ppm, 18 ppm, 17 ppm and16 ppm) and 3 replication has done. The result show, that all concentration of Pb gave negative impact on cockle filtration after the second of 13 hours exposure.Key words: Anadara inflata, bioaccumulation, Pb

Struktur Populasi dan Distribusi Kerang Totok Geloina sp. (Bivalvia: Corbiculidae) di Segara Anakan Cilacap Ditinjau dari Aspek Degradasi Salinitas

ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 11, No 1 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (584.788 KB)

Abstract

Segara Anakan merupakan salah satu estuaria terbesar di Pulau Jawa yang terkenal dengan keanekaragaman hayatinya. Diantara biota yang terdapat adalah kerang Totok (Geloina sp) yang berasosiasi dengan hutan mangrove. Kerang ini memiliki nilai ekonomis  yang cukup tinggi sehingga banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. Namun informasi mengenai sifat-sifat ekologisnya belum banyak diketahui biologisnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui distribusi dan stuktur populasi kerang Geloina sp tersebut. Penelitian dilakukan pada bulan Juli -Oktober 2005 di Segara Anakan Cilacap pada empat stasiun yang berbeda salinitasnya (13, 15, 30 dan 32 ppt). Sifat penelitian adalah studi kasus, metoda pengambilan sampel yang digunakan adalah metoda sampling area. Data yang diambil meliputi kerang dan kondisi perairan. Data yang didapatkan dikelompokan berdasarkan kelas ukuran panjang cangkang selanjutnya dilakukan uji chi kwadrat untuk menentukan pola sebaran. Hasil penelitian menunjukan kerang yang didapat adalah Geloina sp dengan pola sebaran merata pada keempat stasiun penelitian yang berbeda salinitasnya. Adapun kepas ukuran kerang yang didapat dalam keempat stasiun dapat dikelompokan menjadi kelas ukuran <3; 3 – 3,9;   4 – 4,9; 5 – 5,9; 6 – 6,9; 7 – 7,9; >8 cm. Populasi kerang terbanyak pada semua stasiun adalah kelas ukuran 6 – 6,9 cm Kata kunci : Segara Anakan, Geloina sp, salinitas  Segara Anakan is the largest estuary in Java Island and it has high biodiversity. One of fauna found which associated with the mangroves is Totok mussel Geloina sp. That mussel has economic value so that faced high exploited along season. Considering that condition a study of distribution and their population structure was very importance. The research was carried out on July – October 2005 in Segara Anakan Cilacap on different station which had different salinity (13, 15, 30 and 32 ppt). The case study type research and sampling area method was used to collect the data of information of the Geloina sp. The data collected in the field are mussel population and water quality condition where the mussel life. The data of mussel ware grouped in several classes of length and followed by chi quadrant test to define the distribution of Geloina sp. The result of the study showed that the Geloina sp was uniform distributed along the four station which had different salinity and the class of length mussel was found <3; 3 – 3.9; 4 – 4.9; 5 – 5.9; 6 – 6.9; 7 – 7.9; >8 cm. The class length of 6 – 6,9 cm was the highest number of mussel found in Segara Anakan Key words : Segara Anakan, Geloina sp, salinity

Physico-chemical Characteristics and Heavy Metal Contents in Shallow Groundwater of Semarang Coastal Region

ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 12, No 4 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (682.408 KB)

Abstract

Kandungan logam berat di dalam lingkungan perairan secara alami berasal dari hasil proses geokimia. Namun, kandungan logam berat dalam perairan ini dapat meningkat seiring dengan meningkatnya aktivitas manusia seperti, aktivitas pelayaran, limbah industri, limbah domesitk dan sebagainya. Dalam penelitian ini telah dilakukan studi untuk menentukan kandungan logam berat merkuri (Hg), timbal (Pb), besi (Fe), Kromium (Cr) dan tembaga (Cu). Parameter fisika-kimia contoh air dan kandungan logam berat sampel air yang berasal dari daerah pantai Semarang juga diukur dengan menggunakan Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai keragaman  antar parameter fisika kimia (pH, suhu, salinitas) adalah kecil. Warna, rasa dan bau dari sampel air juga diamati. Kandungan logam berat (mg L-1) dalam sampel air menunjukkan nilai Cr 5.083 + 1.59, Pb 5.52 + 1.34,  Fe 1.199 + 1.29. Sedangkan logam Hg dan Cu dalam penelitian ini tidak terdeteksi. Nilai rerata hasil penelitian tersebut melebihi ambang maksimum yang disyaratkan World Health Organization (WHO) dan Indonesian Drinking & Domestic Water Quality Standard for Ground Water . Penelitian ini menunjukkan bukti adanya kontaminasi logam berat yang membahayakan pada suplai airtanah dangkal di daerah pantai Semarang. Kata kunci: parameter fisika kimia, logam berat, Atomic Absorption Spectrophotometer  Heavy metals in the aquatic environment have to date come mainly from naturally occurring geochemical materials. However, this has been enhanced by human activities such as boat activity, industrial effluents, domestic sewage etc. An attempt was made to determine the level of trace metals such as Mercury (Hg), Lead (Pb), Iron (Fe), Chromium (Cr) and Copper (Cu). The physico-chemical and trace metal contents of water samples from coastal zone of Semarang were assessed using Atomic Absorption Spectrophotometer technique. Results indicated that low variation existed among some physico-chemical parameter (pH, temperature, salinity). In the water sample colour, taste and odor were investigated. Heavy metal levels (mg L-1) in the water were Cr 5.083 + 1.59, Pb 5.52 + 1.34,  Fe 1.199 + 1.29. However, Hg and Cu were not detected in any of the samples. Comparison of the metal contents in the water sample with World Health Organization (WHO) limits and Indonesian Drinking & Domestic Water Quality Standard for Ground Water showed that the mean levels of Fe, Pb, Cr were exceeded the maximum permissible levels for drinking  water. This work has conclusively proven the presence of dangerous heavy metal contamination of the groundwater supply in the coastal area of Semarang. Key words: Physico-chemical parameters, heavy metals,  Atomic Absorption Spectrophotometer

Pengaruh Kepadatan Terhadap Tingkat Kematangan Gonad dan Fekunditas Kepiting Bakau (Scylla serrata) pada Kultivasi di Tambak Garam

ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 9, No 4 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (118.016 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kematangan gonad dan fekunditas kepiting bakau (Scylla serrata) dengan sistem kultivasi dalam karamba di tambak garam berdasarkan perlakuan kepadatan benih yangberbeda.Benih kepiting berjumlah 144 ekor dengan berat awal rata-rata 250 gram, terbagi kedalam empat perlakuan kepadatan, masing masing A ( 6 ekor ), B ( 8 ekor ), C ( 10 ekor ) dan D ( 12 ekor ), yang masing– masing diulang empat kali dipelihara dalam karamba berukuran 1 x 0,75 x 1 meter. Pemeliharaan dilakukan selama 2 minggu ( 8 – 23 Oktober 2001 ). Hasil pengamatan kematangan gonad berdasarkan dianalisis berdasarkan Indeks Kematangan Gonad serta fekunditas. Kematangan gonad kepiting bakau Scylla serrata tercapai secara merata dengan indeks berkisar diantara 42.87 – 68.70, dengan indeks tertinggi sebesar 65.12 ± 2.39 pada perlakuan C ( kepadatan 10 ekor per 0.75 m 2 ). Sedangkan fekunditas berkisar diantara 60000 –120000 butir telur, dengan perlakuan tertinggi dicapai pada perlakuan B dengan kisaran jumlah telur 96000 – 120000 dan nilai rata – rata 110000 ± 12000 butir telur. Hubungan berat kepiting dengan fekunditas total Y = 567.9562 – 103477.337 X ( r = 0.7966 ). Fekunditas memberikan hasil linier menurun berdasarkan perlakuan dikarenakan kemampuan toleransi serta ruang gerak yang terlalu sempit dan persainganKata kunci : kepadatan, kematangan gonad, fekunditas, kepiting Scylla serrata.The aim of the research is to know the effect of different density on the gonad maturity and fecundity of mud crab ( Scylla serrata ) grown in the cage. This cage were put in salt water pond. Four treatments (density ), i.e. A ( 6 individual ), B ( 8 individual ), C ( 10 individual ) and D ( 12 individual ), with four replications, were applied. The average initial weight of the mud crab is 250 gram. These were grown for two weeks ( October 8 to 23, 2001 ). The mud crab gonad maturity and fecundity was analysed using the analysis based on the Gonad Maturation Index and Fecundity. The gonad maturity was found for almost of mud crab Scylla serrata. The gonad maturity index showed a value from 42.87 – 68.70, which the highest was reached by the treatment C ( with the density 10 individual per 0.75 m 2 ). The fecundity varies from 60000 –120000 eggs, which the highest was 110000 ± 12000 and reached by the treatment B ( with the density 10 individual per 0.75 m 2 ). The relationship between mudgrab weight and fecundity was Y = 567.9562 – 103477.337 X (r = 0.7966). The fecundity showed a decreased linierity due to the limitationspace cause by the level of density.Key words : density, gonad maturation, fecundity, mud crab Scylla serrata

Genetik Uniformity of Widely Separated Population of Coral Acropora aspera from Karimunjawa and Panjang Island Waters Revealed by Partial Sequence of Internal Transcribed Spacer-4 Regions

ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 9, No 3 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (146.635 KB)

Abstract

Telah kita ketahui dengan baik bahwa kaarang hidup tersebar dari daerah tropis sampai subtropis di Indo Pasifik. Namun malangnya informasi tentang hubungan secara genetic antar populasi terumbu karang yang dipisahkan oleh jarak tersebut sangat kurang. Variasi genetic karang Acropora aspera telah dianalisa dengan internal transcribed spancer-4 (ITS-4). Analisa dilakukan terhadap dua pupulasi karang yang berasal dari Karimunjawa dan Jepara. Hasil sequencing dengan ITS-4 menunjukan bahwa diantara meraka terdapat hubungan yang dekat baik yang ada di Karimunjawa dan Jepara. Dari hubungan tersebut dapat diasumsikan bahwa populasi A. aspera yang ada di Jepara berasal dari Karimunjawa bila dillihat sebaran genetis.Kata kunci: Acropora aspera, sebaran genetis, ITS-4 It is well known that coral species are broadly dispersed across the tropical and subtropical Indo Pacific. Unfortunately, there is little information about the genetic connectivity between coral populations separatedby large distance. Variability in the nucleotide sequence of the internal transcribed spacer-4 (ITS-4) of the nuclear ribosomal gene in coral Acropora aspera was analyzed. Two populations of corals from Karimunjawaand Jepara were investigated. Sequencing analysis of ITS region of rDNA gene showed that there is closely related between parental of A. aspera Karimunjawa and Jepara. This relation suggest that presumably A.aspera population in Jepara was originated from Karimunjawa through genetic flow.Key words: Acropora aspera, gene flow, ITS-4 

Pertumbuhan Karang Bercabang Acropora aspera, Stylophora pistilata dan Pocillopora darmicornis Hasil Planulasi di Laboratorium

ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 9, No 2 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.711 KB)

Abstract

Penelitian ini berlangsung di perairan Pulau Panjang Jepara pada tahun 2003. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perkembangan planula yang ditransplan di perairan. Metoda yang digunakan adalahdiskriptip dengan pengamatan langsung dan menginterprestasikannya. Hasil yang didapat menunjukan pola perkembangan planula tumbuh menjadi karang muda. Pertumbuhan paling cepat dialami oleh A asperanamun ketiga jenis karang tidak menunjukan perbedaan secara nyata dalam pertumbuhan. Selama pengamatan kondisi perairan sangat sesuai untuk tumbuhnya karang.Kata kunci : Planula, A. aspera, S, pistilata, P. darmicornisThe research was held at Panjang Island waters in 2003. The aim of the study was understanding the development of planula which were transplanted in the sea. Descriptive method with direct watching andinterpretation was used in this study. The result showed that planula growth to be young coral reef. The faster growth was shown by A. aspera, but all the coral was not significant different in growth. During theresearch water quality condition was suitable for coral to grow.Key words: Planula, A. aspera, S, pistilata, P. darmicornis

Teknik Setting Spora Gracilaria gigas Sebagai Penyedia Benih Unggul dalam Budidaya Rumput Laut

ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 9, No 1 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (161.922 KB)

Abstract

Rumput laut Gracilaria gigas dapat dikembangkan melalui cara generatif dengan cara menumbuhkan spora hingga menjadi thalus dengan teknik setting spora. Tujuan dari penelitian ini adalah mencari media yangtepat untuk tumbuhnya spora hingga menjadi thallus muda. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan perlakuan media tempat melekatnya spora hingga menjadi thallus muda adalah talirafia, tali nilon, tali ijuk dan tali kapas. Hasil yang didapat menunjukan bahwa media yang paling banyak ditumbuhi oleh thalus muda adalah media dati tali rafia dengan kepadatan pertumbuhan 84 ind/cm2 sedangkan yang paling sedikit adalah media dari tali kapas dengan kepadatan pertumbuhan 24 ind/cm2.Kata kunci : Gracilaria gigas, setting spora, thallus, mediaSeaweed of Gracilaria gigas has developed by generative method with the concept to growing spores to be young thallus on the substrates. The aim of the research is to find the substrate which has comfortable sporesstick on to be young thallus. Randomized design was used in these experiment with four kind of rope (raffia, nylon, palm fiber and cotton) as a substrates. The highest number of young thallus was grew on raffia rope as substrate and the lowest was on cotton rope as a substrate.Key words : Gracilaria gigas, spora setting, thallus, media