S. Suryana
Assesment Institute for Agricultural Technology of South Kalimantan, Jl. Panglima Barat No. 4 Banjarbaru, South Kalimantan

Published : 3 Documents
Articles

Found 3 Documents
Search

MODEL PEMBERDAYAAN PENDIDIKAN NON FORMAL (PNF) DALAM KAJIAN KEBIJAKAN PENDIDIKAN Suryana, S.
Edukasi No 2 (2010): Edukasi
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.389 KB)

Abstract

Tujuan yang ingin dicapai dari pemberdayaan PNF adalah untuk membentuk individu dan masyarakat menjadi mandiri. Kemandirian tersebut meliputi kemandirian berpikir, bertindak dan mengendalikan apa yang mereka lakukan tersebut. Lebih lanjut perlu ditelusuri apa yang sesungguhnya dimaknai sebagai suatu masyarakat yang mandiri. Kemandirian masyarakat adalah merupakan suatu kondisi yang dialami oleh masyarakat yang ditandai oleh kemampuan untuk memikirkan, memutuskan serta melakukan sesuatu yang dipandang tepat demi mencapai pemecahan masalah-masalah yang dihadapi dengan mempergunakan daya kemampuan yang terdiri atas kemampuan kognitif, konatif, psikomotorik, afektif, dengan pengerahan sumber daya yang dimiliki oleh lingkungan internal masyarakat tersebut. Menurut Paul Freire dalam Keban & Lele pemberdayaan masyarakat berinti pada suatu metodologi yang disebut conscientization yaitu merupakan proses belajar untuk melihat kontradiksi sosial, ekonomi dan politik dalam masyarakat. Paradigma ini mendorong masyarakat untuk mencari cara menciptakan kebebasan dan struktur-struktur yang opresif. Bertolak dari pengertian ini maka sebuah partisipasi masyarakat tidak hanya sebatas pada pelaksanaan suatu program saja melainkan juga menyentuh nilai politik dan nilai ekonomi yang pada nilai politik yang pada giliranya mampu membawa peningkatan ksejahteraan pada masyarakat.Untuk mencapai tujuan tersebut perlu ada kebijakan yang memihak pada kepentingan masyarakat banyak terutama bagi golongan miskin dan kurang beruntung.Kata Kunci: kebijakan pendidikan model pemberdayaan pnf; pemberdayaan masyarakat
PERMASALAHAN MUTU PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF PEMBANGUNAN PENDIDIKAN Suryana, S.
Edukasi No 1 (2011): Edukasi
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.171 KB)

Abstract

Dalam perspektif Pembangunan Pendidikan Nasional, pendidikan harus lebih berperan dalam membangun seluruh potensi maikannusia agar menjadi subyek yang berkembang secara optimal dan bermanfaat bagi masyarakat dan pembangunan nasional. Dalam konteks demikian, pembangunan pendidikan itu mencakup berbagai dimensi yang sangat luas yang meliputi dimensi sosial, budaya, ekonomi, dan politik. Dalam perspektif sosial, pendidikan akan melahirkan insan-insan terpelajar yang mempunyai peranan penting dalam proses perubahan sosial di dalam masyarakat. Dalam perspektif budaya, pendidikan merupakan wahana penting dan medium yang efektif untuk mengajarkan norma, mensosialisasikan nilai, dan menanamkan etos di kalangan warga masyarakat. Dalam perspektif politik, pendidikan harus mampu mengembangkan kapasitas individu untuk menjadi warga negara yang baik (good citizens), yang memiliki kesadaran akan hak dan tanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat , berbangsa, dan bernegara. Karena itu, pendidikan harus dapat melahirkan individu yang memiliki visi dan idealisme untuk membangun kekuatan bersama sebagai bangsa. Dalam tiga tahun mendatang, pembangunan pendidikan nasional di Indonesia masih dihadapkan pada berbagai tantangan serius, terutama dalam upaya meningkatkan kinerja yang mencakup (a) pemerataan dan perluasan akses; (b) peningkatan mutu, relevansi, dan daya saing; (c) penataan tata kelola, akuntabilitas, dan citra publik; dan (d) peningkatan pembiayaan. Dalam upaya meningkatkan kinerja pendidikan nasional, diperlukan suatu reformasi menyeluruh yang telah dimulai dengan kebijakan desentralisasi dan otonomi pendidikan sebagai bagian dari reformasi politik dalam meningkatkan mutu pendidikan.Kata Kunci: Pembangunan Pendidikan; Persepektif Pembangunan Pendidikan; Mutu Pendidikan
THE COLOR PATTERN OF ALABIO DUCK (Anas platyrhynchos Borneo) IN SOUTH KALIMANTAN Suryana, S.; Noor, R.R.; Hardjosworo, P.S.; Prasetyo, L.H.
Journal of the Indonesian Tropical Animal Agriculture Vol 35, No 2 (2010): (June)
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (67.166 KB)

Abstract

The study was carried to identify the phenotypic variation of Alabio duck (Anas platyrhynchosBorneo) being kept by smallholder. This research was conducted in Hulu Sungai Selatan (HSS), HuluSungai Tengah (HST) and Hulu Sungai Utara (HSU), South Kalimantan from May until November2009. Six hundreds (75 males and 525 females) duck characterized in this study was age ranged from5-5.5 months old. The observed parameters were plumage color, color feature, plumage shine, the colorof bill, feet and shank. The results showed that the ducks from three locations (HSS, HST and HSU)performed different plumage color and color feature. The dominant plumage color of the Alabio maleduck was grayish white on the neck (44-56%), grayish black on the back (40-60%) brownish grey onthe chest (52-80%), while the wing was more dominated by blue-green (56%) and black (80%) in thetail. Whereas the female ducks was dominated (70-100%) brown spotted color, the rest blackish gray attail, such as back, neck and chest. Twinkle Alabio duck plumage on males and females have the highestpercentage was the glint of silver (100%) and of shiny blue-green for males (85-100%). The percentageof phenotypic color of bill, feet and shank of male and female ducks were lite yellow (40-60%), brightorange (12-44%), pale yellow (8-28%) and black (4-12%).