. Suriansyah
Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana

Published : 3 Documents
Articles

Found 3 Documents
Search

Effect of Dietary Vitamin C Ascorbic Acid on the Growth Performance and Immune Response of Betok Anabas testudineus Bloch

Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 7, No 2 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Jurnal Akuakultur Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (138.469 KB)

Abstract

Vitamin C has a function for increasing normal growth, preventing bone annomaly for seed health or reducing stress, accelerating wound recovery and improving immune system against bacterial infection. Enhancement of immune response using immunostimulant had been proven in aquaculture.  One of the immunostimulant that had been examined in several fish species was vitamin C. However, the immunostimulatory effect of vitamin C on betok remains to be proven.  This study was performed to know the effect of feeding fish by diets containing vitamin C in form of ascorbic acid on growth and immune response of betok in term of stress adaptation. Concentrations of vitamin C tested were 0 (control), 125 mg, 250 mg and 375 mg/kg diet. The results show that supplementation of vitamin C in diet can increase daily growth rate and feed efficiency of betok.  Daily growth rate of treated fishes (1.37-1.49%) were higher than that of control (1.14%).  Feeding efficiency was also higher in treated fishes (39.73-48.07%) compared to that of control (33.73%). There was no significantly difference in survival rate of treated fish (93.33-96.67%) and control (93.33%).  Survival rate of fish reared at 15oC as a stress test was also examined.  Results showed that survival rate of fish increases by increasing the level of vitamin C in diet. Number of fish died in stress test was 10 in control, 7 fish in 125 mg/kg, 5 fish in 250 mg/kg and 3 fish in 375 mg/kg.  Thus, inclusion of vitamin C in diet improved ability of fish to adapt to an extreme environment condition. Keywords: Vitamin C, ascorbic acid, growth, immune response, Anabas testudineus   ABSTRAK Vitamin C berfungsi untuk meningkatkan pertumbuhan normal, mencegah kelainan bentuk tulang untuk kesehatan benih atau mengurangi stress, mempercepat penyembuhan luka dan meningkatkan pertahanan atau kekebalan tubuh melawan infeksi bakteri. Peningkatan respon imun dengan  pemberian imunostimulan telah dibuktikan dalam akuakultur. Salah satu immunostimulan yang telah diuji pada beberapa spesies ikan adalah vitamin C. Namun demikian, pengaruh imunostimulatori vitamin C pada ikan betok belum diteliti.  Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efek pemberian pakan yang mengandung vitamin C dalam bentuk ascorbic acid terhadap pertumbuhan dan respons imun dalam arti daya tahan terhadap stres pada ikan betok. Dosis vitamin C adalah 0 (kontrol), 125 mg, 250 mg dan 375 mg/kg pakan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan vitamin C dalam pakan dapat meningkatkan laju pertumbuhan harian dan efisiensi pakan pada ikan betok.  Laju pertumbuhan harian pada ikan perlakuan (39.73-48.07%) lebih tinggi daripada ikan (33.73%). Kelangsungan hidup ikan tidak berbeda antara perlakuan (93.33-96.67%) dan kontrol (93.33%).  Kelangsungan hidup ikan yang dipelihara pada suhu 15oC sebagai uji stress as a stress juga diamati.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelangsungan hidup ikan meningkat dengan meningkatnya kadar C dalam pakan.  Jumlah ikan yang mati dalam uji stres adalah 10 pada kontrol, 7 pada perlakuan 125 mg/kg, 5 ekor pada perlakuan 250 mg/kg dan 3 ekor pada perlakuan 375 mg/kg.  Dengan demikian, penambahan vitamin C dalam pakan meningkatkan kemampuan ikan beradaptasi terhadap kondisi lingkungan esktrim. Kata kunci : Vitamin C, ascorbic acid, pertumbuhan, respons imun, Anabas testudineus

Study of gonadotropin (GtH) stimulating hormone on gonad maturation of climbing perch Anabas testudineus Bloch

Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 9, No 1 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Jurnal Akuakultur Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (426.913 KB)

Abstract

Gonadotropin can quicken the process of 17α-hidroxyprogesterone hormone synthesis becoming 17α, 20β-di hidroxyprogesterone as the maturation inducing steroids (MIS) and quicken the process of egg nucleus integration to germinal vesicle breakdown (GVBD) position. This research aimed to know the efficacy of gonadotropin hormone in the form of ovaprim on gonad maturation of climbing perch (Anabas testudineus Bloch). Stimulation of GtH with a dose of 0.5 ml/kg of fish body weight could improve the fish gonado somato index (GSI) to 2.72 %, improve the the final egg diameter to  0.70 mm (71.50 %), and shorten ovulation time which down to 4.30 hours. Key words: Gonadotropin hormone, gonad maturation, Anabas testudineus   ABSTRAK Hormon gonadotropin dapat mempercepat proses sintesa hormon 17α-hidroksiprogesteron menjadi 17α, 20β-dihidroksiprogesteron yang berfungsi sebagai steroid yang merangsang pematangan gonad dan mempercepat proses integrasi inti sel telur menuju posisi germinal vesicle breakdowan (GVBD). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas hormon gonadotropin yang terdapat dalam ovaprim terhadap pematangan gonad ikan betook Anabas testudineus Bloch. Pemberian hormon GtH dalam bentuk ovaprim dengan dosis 0,5 ml/kg bobot ikan dapat memperbaiki perkembangan gonad yang ditunjukkan dengan peningkatan nilai gonado somatik indeks (GSI) sebanyak 2,72%, peningkatan diameter telur menjadi 0,77 mm (71,50%) dan mempercepat waktu ovulasi menjadi 4,3 jam. Kata-kata kunci: Hormon gonadotropin, pematangan gonad, ikan betok

Leukosit Ayam Pedaging setelah Diberikan Paracetamol

Indonesia Medicus Veterinus Vol 5 (2) 2016
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil hematologi (total leukosit dan diferensial leukosit) pada ayam pedaging yang diberikan paracetamol dalam pakan mulai umur 14 – 35 hari, Penelitian ini menggunakan Rancangan acak lengkap yaitu P0 (kelompok ayam pedaging yang hanya diberi pakan standar SB-11), P? (pakan standar SB-11 dan paracetamol 1 g/kg pakan), P? (pakan standar SB-11 dan paracetamol 2 g/kg pakan), P? (pakan standar SB-11 dan paracetamol 4 g/kg pakan) masing-masing kelompok terdiri dari enam ekor ayam pedaging. Pengambilan darah pada vena brachialis dilakukan sebelum diberikan perlakuan dan pada hari ke 21 setelah diberikan perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian paracetamol dosis 1-4 g/kg pakan tidak berpengaruh nyata terhadap total leukosit (P>0,05) akan tetapi hanya berpengaruh nyata terhadap monosit (P