Sam suri
Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana

Published : 4 Documents
Articles

Found 4 Documents
Search

Vermisidal dan Ovisidal Ekstrak Daun Pepaya Terhadap Cacing Ascaris suum Secara In Vitro Bili Bora, Agung Mourizd Adventus; suri, Sam; Oka, Ida Bagus Made
Indonesia Medicus Veterinus Vol 3 (2) 2014
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui vermisidal dan ovisidal dari ekstrak daun pepaya terhadap cacing Ascaris suum. Menggunakan  Rancangan  Acak  Lengkap (RAL), dengan perlakuan beberapa konsentrasi ekstrak daun pepaya 1,5%, 3%, 4,5% dan 6%; kontrol negatif menggunakan NaCl fisiologis dan kontrol positif menggunakan Albendazole 0,12%. Dilakukan uji vermisidal dan uji  ovisidal, uji ovisidal dibagi  menjadi  dua  uji,  yaitu kontak langsung dan kontak tidak  langsung. Untuk uji vermisidal data dianalisis dengan Analisis Probit untuk mengetahui LC100 (Lethal concentration) dan LT100 (Lethal  time), sedangkan  untuk  uji  ovisidal  data dianalisis dengan Sidik Ragam dan  jika terdapat perbedaan, dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan. Hasil  penelitian  vermisidal  didapatkan  LC100 ekstrak  daun  pepaya adalah  3,362%  dan  LT100 39,822  jam.  Untuk  uji  ovisidal  kontak  langsung  dan kontak tidak langsung didapatkan ekstrak daun pepaya berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap daya berembrio telur A. suum. Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa ekstrak daun pepaya efektif sebagai vermisidal dan ovisidal terhadap cacing A. suum secara in-vitro.  
Gambaran Histopatologi Hati Tikus Putih yang Diberikan Deksametason dan Vitamin E Insani, Aulia; Suri, Sam; Berata, I Ketut
Indonesia Medicus Veterinus Vol 4 (3) 2015
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Deksametason merupakan glukokortikosteroid yang banyak digunakan di masyarakat, penggunaan jangka waktu lama dan dosis besar dapat mengganggu fungsi dan struktur hati. Untuk mengurangi efek samping pemberian deksametason, maka diberikan vitamin E. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan bahwa  vitamin E dapat memperbaiki organ hati akibat efek samping deksametason, yang diperiksa secara histopatologi. Penelitian menggunakan 25 ekor tikus putih jantan, dibagi dalam lima kelompok perlakuan, yaitu kontrol(-), tidak diberi deksametason dan vitamin E; kontrol (+) diberikan deksametason  dosis 0,13 mg/kg, P1  diberikan deksametason 0,13 mg/kg dan vitamin E dosis 100 mg/kg, P2 deksametason dosis 0,13 mg/kg dan vitamin E  dosis 150 mg/kg, P3 deksametason 0,13 mg/kg dan vitamin E dosis 200 mg/kg. Setelah 14 hari, semua tikus dikorbankan nyawanya (nekropsi), selanjutnya diambil organ hatinya untuk pembuatan preparat histopatologi dengan pewarnaan hematoksilin eosin (HE). Variabel yang diperiksa didasarkan pada perubahan normal (skor1) perdarahan (skor 2), degenerasi (skor 3) dan nekrosis (skor 4). Dari hasil pengamatan histologi dari semua subyek perlakuan. Kontrol negatif (-) tergolong dalam kategori skor 1, kontrol positif (+) ini tergolong dalam skor 4, kelompok tikus putih P1 4 subyek skor 2 dan 1 subyek skor 3, kelompok P2 4 subyek skor 3 dan 1 subyek skor 4, dan kelompok P3 4 subyek skor 3 dan 1 subyek skor 4. Hasil penelitian menunjukkan nilai rerata skor perbaikan hati yang signifikan pada semua perlakuan, namun pada kelompok perlakuan P1 hasil rerata skoring yang paling mendekati kontrol (-). Kesimpulan penelitian ini adalah vitamin E dosis 100 mg/kg terbukti terbaik mengurangi efek samping deksametason.
Gambaran Histopatologi Ginjal Tikus Putih yang Diberi Deksametason dan Vitamin E Rabiah, Erwanti Siti; Berata, I Ketut; Suri, Sam
Indonesia Medicus Veterinus Vol 4 (3) 2015
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Penelitian ini menggunakan 25 ekor tikus putih yang terdiri dari: kelompok kontrol (K) tanpa diberi deksametason dan vitamin E, kelompok perlakuan 1 (P0) diberi deksametason dosis 0,13 mg/kg BB, kelompok perlakuan 2 (P1) diberi deksametason dosis 0,13 mg/kg BB dan vitamin E 100 mg/kg BB, kelompok perlakuan 3 (P2) diberi deksametason dosis 0,13 mg/kg BB dan vitamin E dosis 150 mg/kg BB, kelompok perlakuan 4 (P3) diberi deksametason dosis 0,13 mg/kg BB dan vitamin E dosis 200 mg/kg BB. Setelah pemberian perlakuan selama 14 hari, tikus dikorbankan nyawanya/diterminasi dan diambil ginjal kanannya untuk dibuat preparat histopatologi dengan pewarnaan metode Harris Hematoxylin Eosin (HE). Variabel yang diperiksa adalah gambaran tubulus proksimalnya dengan mikroskop cahaya pembesaran 400x. Dari pemeriksaan preparat histopatologi ginjal terdapat kerusakan ginjal berupa penutupan lumen tubulus proksimal, dimana  rerata penutupan lumen tubulus paling rendah adalah pada kelompok kontrol negatif yaitu 3,52 dan paling tinggi adalah pada kelompok kontrol positif yaitu 24,68. Uji Kruskall Wallis menunjukkan adanya perbedaan bermakna (p=0,01) pada rerata degenerasi tubulus ginjal  dari lima kelompok yang diuji. Kesimpulan dari penelitian ini adalah vitamin E dapat memberikan efek proteksi pada ginjal tikus putih yang terjadi akibat efek toksik deksametason.
Studi Histopatologi Pankreas Tikus Putih (Rattus Novergicus) yang Diberi Deksametason dan Suplementasi Vitamin E Dharma, I Gusti Bagus Sathya; Berata, I Ketut; Suri, Sam
Indonesia Medicus Veterinus Vol 4 (3) 2015
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pemberian vitamin E terhadap pankreas tikus putih yang diberi deksametason. Sebanyak 25 ekor tikus putih jantan berumur 2-3 bulan dengan bobot 100-200 gram dibagi menjadi lima kelompok perlakuan. Kelompok P0 adalah tikus yang diberi pakan dan minum secara ad libitum. Kelompok P1  adalah tikus yang diberi deksametason 0,13mg/kgBB/hari. Kelompok P2 adalah tikus yang diberikan deksametason 0,13 mg/kg BB/hari secara subkutan dan vitamin E 100 mg/kg BB/ hari per oral. Kelompok P3 diberikan deksametason 0,13 mg/kg BB/hari dan vitamin E 150 mg/kg BB/hari. Kelompok P4 diberikan deksametason 0,13 mg/kg BB/hari dan vitamin E 200 mg/kg BB/hari. Pada hari ke 14, tikus dikorbankan nyawama dan pankreas diambil. Preparat histopatologi dibuat sesuai prosedur baku dengan pewarnaan hematoksilin-eosin. Variabel yang diperiksa dalam penelitian ini adalah nekrosis sel eksokrin dan endokrin pankreas. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap. Data dianalisis secara statistik nonparametrik dengan uji Kruskal-Wallis dan dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney. Hasil pengamatan histopatologi menunjukkan adanya nekrosis pada sel eksokrin dan endokrin pankreas, dimana tertinggi pada kelompok P1 dan terendah adalah kelompok P4. Simpulan dari penilitan ini adalah pemberian vitamin E dosis 200 mg/kg berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap perbaikan jaringan pankreas tikus putih yang diberikan deksametason 0,13 mg/kg.