Articles

Found 22 Documents
Search

THERMAL DISPERSION MODEL OF WATER COOLING PLTGU CILEGON CCPP DISCHARGE INTO MARGASARI COASTAL WATERS AT THE WESTERN COAST OF BANTEN BAY

Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol 2, No 1 (2010): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2796.546 KB)

Abstract

Thermal dispersion model based on the hydrodynamics model was applied on PLTGU Cilegon (electric power industry based on gas and steam) at the coast of Margasari, Pulo Ampel District, Serang-Banten. This PLTGU used around 60.000 mP3P/hour of seawater as cooling water system. Therefore, it produced water with high temperature of about 5 PoPC higher than the sourounding of seawater temperature. This high water temperature was flowed out into the coastal waters. This study tried to predict their distribution according to southeast and northeast monsoon. Model verification was conducted both to hydrodynamics component (tide and current) and water temperature. The verification results show good enough patterns between the model results and field measurement.Key words: Bay of Banten, cooling water system, thermal dispersion, hydrodynamics model

Komposisi dan Kelimpahan Fitoplankton di Perairan Sekitar Pulau Maspari, Ogan Komering Ilir

Maspari Journal Vol 6, No 1 (2014): Edisi Januari
Publisher : UNIVERSITAS SRIWIJAYA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pulau  Maspari  merupakan  satu-satunya  pulau  yang  berada  di  perairan  laut  (Selat  Bangka) yang  dimiliki  Sumatera  Selatan.  Sampai  saat  ini  informasi  tentang  kondisi  Pulau  Maspari  masih sangat  terbatas,  sehingga  penelitian ini dirasa perlu  untuk dilakukan. Tujuan penelitian ini  adalah menggali informasi tentang kondisi fisika kimia danbiologi perairan melalui studi langsung ke lokasi perairan  Pulau  Maspari  Ogan  Komering  Ilir  Sumatera  Selatan.  Pengukuran  dan  pengambilan  data dilaksanakan pada bulan Oktober 2013. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa kondisi fisika kimia perairan  Pulau Maspari  masih dalam  kondisi  baik.  Perbedaan utama terlihat dari  sebaran nutrien, dimana kandungan nutrien (fosfat dan ammonia) di sisi bagian utara Pulau Maspari cenderung lebih tinggi dibandingkan sisi bagian barat dan selatan,  kecuali pada kandungan nitrat. Konsentrasi nitrat di bagian barat cenderung lebih tinggi  dibandingkan kedua lokasi lainnya. Pada penelitian biologi, yang diamati adalah jenis dan kelimpahan fitoplankton, dan ditemukan 13 jenis fitoplankton dengan Chaetoceros dan  Bacteriastrum sebagai  fitoplankton  yang  dominan  ditemukan.  Struktur  komunitas pada indeks keanekaragaman sedang, indeks keseragamannya yang tinggi dan tidak ada genera yang mendominasi

Pendeteksian Suara Ikan Lepu Ayam (Pterois Volitans)Pada Periode Makan Dengan Skala Laboratorium

Maspari Journal Vol 6, No 1 (2014): Edisi Januari
Publisher : UNIVERSITAS SRIWIJAYA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian  mengenai  pendeteksian  karakteristik  menggunakan  metode  hidroakustik  telah dilaksanakan  pada  bulan  Juni  2011  sampai  Januari  2012  di  laboratorium  Inderaja,  Akustik  dan Instrumentasi serta Laboratorium Oseanografi Program Studi Ilmu Kelautan. Tujuan dari penelitian ini  adalah  untuk  mendeteksi  karakteristik  suara  ikan  lepu  ayam  (Pterois  volitans).  Penelitian  ini dilakukan menggunakan metode  passive soundingdengan cara merekam suara yang dihasilkan ikan saat periode makan. Perekaman dilakukan pada ikan jantan, betina, dan berpasangan. Karakteristik dari  ikan  lepu  ayam  (Pterois  volitans) menghasilkan  frekuensi  pulsa  antara  149,5  Hz  –  765,7  Hz dengan kisaran intensitas (-78,8) dB – (-11,6) dB.  Ikan lepu ayam betina memiliki rentang intensitas paling  panjang  (-78,8)  dB  –  (-11,6)  dB  dibandingkan ikan  jantan  (-71,5)  dB  –  (-12,4)  dB  dan  saat berpasangan  (-69,4)  dB  –  (-31,5)  dB.  Ikan  jantan  lebih  aktif  saat  sebelum  dan  setelah  makan, sedangkan  ikan  betina  lebih  aktif  saat  makan,  dan  ikan  berpasangan  aktif  saat  makan  dan  setelah makan.

ANALISIS PASANG SURUT DENGAN MENGGUNAKAN METODE LEAST SQUARE DAN PENENTUAN PERIODE ULANG PASANG SURUT DENGAN METODE GUMBEL DI PERAIRAN BOOM BARU DAN TANJUNG BUYUT

Maspari Journal : Marine Science Research Vol 7, No 1 (2015): Edisi Januari
Publisher : UNIVERSITAS SRIWIJAYA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wilayah Palembang merupakan salah satu wilayah yang sering mengalami banjir. Sekitar tanggal 21 Februari 2013 terjadi fenomena meluapnya air sungai Musi di sekitar Palembang, berdasarkan pantauan BMKG SMB II Palembang, bahwa fenomena ini salah satunya diakibatkan oleh terjadinya bulan besar yang menyebabkan pasang di Palembang sehingga membuat air tertahan menuju ke laut. Sifat Pasut terjadi secara periodik. Hal ini dapat dikaitkan pada fenomena banjir yang terjadi di Palembang bahwa kedepannya ada kemungkinan akan terjadi banjir lagi jika dilihat dari aspek pasut penyebabnya. Fenomena tersebut menjadi alasan dilakukan penelitian ini yang bertujuan untuk menganalisis komponen harmonik pasang surut dengan metode Least Square dan menganalisis periode ulang pasang surut di perairan Boom Baru dan Tanjung Buyut dengan metode Gumbel.Penelitian ini dilaksanakan bulan September 2013 di Laboratorium Penginderaan Jauh dan Akustik Kelautan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sriwijaya. Data Pasut diperoleh dari hasil pengamatan Pelindo II Cabang Palembang. Datadianalisis dengan metode least square dan Gumbel. Berdasarkan hasil analisis diperoleh komponen K1 dan O1 lebih dominan daripada yang lain. Pola perambatan pasut di kedua perairan terjadi dari Tanjung Buyut menuju Boom Baru. Tipe Pasut dikedua perairan berdasarkan hasil analisis adalah bertipe tunggal. Hasil ramalan pasutnya didapat bahwa hasil peramalan pasut yang lebih akurat terdapat di perairan Tanjung Buyut 80,47% daripada Boom Baru 76,47%, dan peluang terjadinya ketinggian muka air melewati MSL adalah pada periode ulang yang lebih besar dari periode ulang 2,25 tahun di Boom Baru dan lebih besar dari 2,43 tahun di Tanjung Buyut.KATA KUNCI: Gumbel, least square, pasang surut, peramalan, periode ulang.

Pola Sebaran Salinitas dengan Model Numerik Dua Dimensi di Muara Sungai Musi

Maspari Journal Vol 5, No 2 (2013): Edisi Juli
Publisher : UNIVERSITAS SRIWIJAYA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The aim of this research is to describe the spread salinity with two dimensions numerical model at the Musi River’s estuary, and also to determined relationship of spread salinity with hydrodynamic unsure in water. The research has been done at Juli – Agustus 2011 at Musi River’s estuary, South Sumatra. Determination of sampling points is done by using purposive sampling method. The sample is measured by in-situ method and the data is proceed using Surface Water Modelling System (SMS 8.1) software, then verified with field measurement. The result of this research indicated that when the condition of sea-water tidal waters not too far into the river, the concentration of salinity in the surface layer (0.2 D) ranged between 6 - 28o/oo, in the water column (0.5 D) between 6 - 27o/oo, and in the deep waters (0.8 D) between 5 - 27o/oo. In other hand, at low tide condition, the influence of river moved farther out to the sea, with the concentration of salinity in the surface layer (0.2 D) ranged between 5 - 26o/oo, the salinity in the water column (0.5 D) and in the deep waters (0.8 D) between 4 - 27 o/oo. The result of spread salinity of the model simulation shows that the salinity distribution patterns follow the formed of the flow so that it can be said that the flow will affect the distribution of salinity in the waters. Based on the results of the flow simulation and salinity with or without the effects of wind’s flow and salinity patterns are the same, in the range 0.9 to 23.9o/oo. The verified average error result of measurement and simulation the model (MRE) with or without wind is 3,163 E-11%. So, factor of the wind did not significantly affect the movement of flow on the research.Keywords: Salinity distribution, Numerical models, SMS, Estuary

Identifikasi Massa Air Di Perairan Timur Laut Samudera Hindia

Maspari Journal Vol 5, No 2 (2013): Edisi Juli
Publisher : UNIVERSITAS SRIWIJAYA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The northeast Indian Ocean is a region crossed by the monsoon winds and bordered by mainland on northern and eastern side that allegedly the water mass is influenced by these two factors. This research aims to study the vertical dan cross section distribution of physical parameters such as temperature, salinity, and density and also to identify the types of water masses in the region. The data used are the data of temperature, salinity, and density during 2007-2010 is obtained from sensors located on spacecraft of ATLAS Mooring. There are six stations located on the 90oE and from 0-15 oN, with 4 year observation and there are 4 periods each year. The results of observations of temperature on the surface indicates the period from December to February and March to May have a similar pattern. While the pattern in the period from June to August is similar to September-November. In other hand, the temperatures around depth of 140 m to the bottom shows the same pattern throughout the year. Value of the sea surface temperature of the period from March to May is generally the highest. Observations of sea surface salinity and water column generally are the same in each period, the salinity values decreased from a low-latitude station towards the high-latitude stations. The differences found are the highest surface salinity values are more common in the period from December to February, which is found on the station I and III. The result of value sea surface density observations show a decline pattern of low-latitudes stations in to higher latitudes stations throughout the year, or a pattern that tends to the same of salinity pattern. Analysis of the TS diagram refer to Wyrtki (1961) and Emery (2003) indicates there are some type of water masses, ther are namely the Bengal Bay Water (BBW), South Indian Central Water (SICW), Indian Equatorial Water (IEW), Subtropical Lower Water (SLW), and Northern Salinity Minimum (NSM). Those water masses is found in every period, only period from December to February have differrent type of water masses, that is the Arabian Sea Water (ASW).Keywords: ATLAS Mooring, Diagram TS, Indian Ocean, Water Mass

LAJU PENGENDAPAN SEDIMEN DI PULAU ANAKAN MUARA SUNGAI BANYUASIN PROVINSI SUMATERA SELATAN

Maspari Journal Vol 8, No 1 (2016): Edisi Januari
Publisher : UNIVERSITAS SRIWIJAYA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perairan  muara  Banyuasin  Sumatera  Selatan,  merupakan  salah  satu muara  sungai  yang mengalami sedimentasi atau pengendapan, dimana dapat dinyatakan bahwa muara Sungai Banyuasin masih mendapatkan pengaruh yang besar dari aktifitas daratan. Pengendapan yang terjadi sangat berpengaruh terhadap kondisi sekitarnya, diantaranya Pula u Anakan yang  terdapat  di Muara  Sungai  Banyuasin.  Terbatasnya  informasi  tentang  laju pengendapan di  lokasi  kajian  menjadi  dasar  pentingnya  penelitian  ini  untuk dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ukuran butir dan karakteristik sedimen serta menganalisis  laju pengendapan sedimen  yang terjadi di  muara  Pulau  Anakan.  Penelitian ini dilaksanakan pada Mei  –  Juni 2013. Penelitian ini dimulai dengan pengambilan sampel sedimen  di  lokasi kajian  menggunakan  sedimen  trap  yang  telah  dimodifikasi, yang berfungsi menangkap sedimen yang berada pada dasar serta permukaan sungai sehingga bisa  ditentukan  karakteristik  maupun  laju  pengendapan  di  lokasi kajian  sekaligus mendapatkan  sumber  sedimen  tersebut  berasal  yang kemudian  dilanjutkan  dengan analisis  sampel  di  laboratorium.  Hasil penelitian  menunjukkan  karakterisitik  sedimen pada Pulau Anakan didominasi lumpur dan lumpur berpasir dengan dominansi sedimen berasal dari masukan sungai/daratan. Laju pengendapan yang terdapat di Pulau Anakan sebelah Utara adalah  2,645  x  10-11m3/s,  untuk  sebelah  Barat  Daya  adalah  1,421  x 10-10m3/s  dan  sebelah  Selatan  adalah  1,625  x  10-9m3/s,  dimana  laju pengendapan  tertinggi berada  pada  bagian  Selatan  Pulau  Anakan,  yang berhadapan  langsung  dengan  muara Sungai Banyuasin dan Sungai Lalan.KATA KUNCI: Banyuasin, pengendapan, Pulau Anakan, sedimentasi.

ANALISIS DATA ARUS DI PERAIRAN MUARA SUNGAI BANYUASIN PROVINSI SUMATERA SELATAN

Maspari Journal Vol 8, No 1 (2016): Edisi Januari
Publisher : UNIVERSITAS SRIWIJAYA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wilayah  pesisir  pantai  Timur  Sumatera  Selatan  yang  terletak  di Kabupaten  Banyuasin sebagian  merupakan  daerah  Muara  Sungai.  Wilayah Banyuasin  ini  merupakan  lahan pasang  surut  sehingga  harus  dikelolah dengan  baik.  Hal  ini  dikarenakan  bahwa  muara sungai Banyuasin ini bermuara di Selat Bangka dan kini telah menjadi daerah lalu lintas transportasi air. Parameter oseanografi Arus laut menjadi salah satu  parameter penyebab daerah  ini  pantas  sebagai  jalur  lalu  lintas.  Arus  laut didefinisikan  sebagai  perpindahan atau gerakan horizontal maupun vertikal dari suatu massa air, sehingga massa air tersebut mencapai kestabilan. Tujuan dari penelitian ini untuk menentukan kecepatan maksimum dan minimum serta arah  arus  umum  maupun  arus  pasut  di  perairan  muara  sungai Banyuasin, menganalisis  arus  yang  dominan  di  perairan  muara  sungai  Banyuasin dan menentukan tipe arus pasang surutnya. Penelitian ini telah dilaksanakan tanggal 10  –  25 Februari  2014  di  Perairan  muara  sungai  Banyuasin.  Data diolah  di  laboratorium Oseanografi Program Studi Ilmu Kelautan Universitas Sriwijaya. Metode yang digunakan adalah  metode  Admiralty.  Hasil  penelitian ini  kecepatan  arus  umum   maksimum  ya ng terdapat di muara Sungai Banyuasin adalah 0,344 m/s dengan arah 224,80, yaitu terjadi saat pasang, sedangkan  kecepatan  arus  umum  minimum  yang  terdapat di  muara Sungai Banyuasin  adalah  sebesar  0  m/s  yaitu  terjadi  saat  menuju  surut. Kecepatan   arus  pasut maksimum  yang  terdapat  di  muara  sungai banyuasin  adalah  0,350  m/s  dengan  arah 226,60 yaitu terjadi saat pasang, sedangkan kecepatan arus pasut minimum sebesar 0,004 m/s dengan arah 203,350yaitu terjadi saat menuju pasang tertinggi, arus yang dominan adalah arus  pasut  dengan  kecepatan  rata-rata  0,131  m/s  dan  tipe  arus pasutnya adalah campuran condong harian tunggal.KATA KUNCI: Admiralty, arus, arus pasut, Banyuasin, muara.

IDENTIFIKASI KARAKTERISTIK MASSA AIR PERAIRAN SELAT BANGKA BAGIAN SELATAN

Maspari Journal : Marine Science Research Vol 8, No 2 (2016): Edisi Juli
Publisher : UNIVERSITAS SRIWIJAYA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perairan Selat Bangka Bagian Selatan merupakan perairan yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat untuk kegiatan ekonomi, sosial dan ekologi. Perairan ini merupakan perairan yang kompleks kondisi massa airnya karena dipengaruhi oleh masukan dari laut dan  dari daratan  Bangka  dan  OKI. Parameter  oseanografi  seperti  suhu,  salinitas  dan  densitas  di perairan ini merupakan parameter yang masih sangat jarang diukur. Pengukuran terakhir dilakukan pada tahun 1977 oleh Lembaga Oseanologi Nasional Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia(LIPI). Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober 2013 di perairan Selat Bangka Bagian  Selatan.    Data  diolah  di Laboratorium  Oseanografi  Program  Studi Ilmu  Kelautan Universitas Sriwijaya. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak Ocean  Data  View  (ODV)  dengan  metode  sebaran  menegak, melintang,  permukaan (horizontal) dan diagram TS. Hasil yang diperoleh yaitu suhu dan salinitas permukaan lebih tinggi berada di sebelah selatan perairan dan dekat dengan daerah Bangka dengan kisaran 30-35oC  dan  salinitas  31-31,2  psu  serta  densitas  1018,6  Kg/m3.  Sebaran  melintang menunjukkan suhu  dekat  daratan  Bangka  lebih  hangat  dan  salinitas  yang  lebih tinggi berada di kolom perairan diantara kedua daratan dengan kisaran 29-30,4oC dan salinitas 30-31,5  psu  serta  densitas  1018-1019  Kg/m3. Diagram TS  menunjukkan  terjadinya  pola suhu-salinitas   yang  membentuk  pola tersendiri  yaitu  stasiun  1,  10,  11,  14  dan  17.  Nilai sigma-t  stasiun  1, 14  dan  17  berkisar  18,7  dan  18,75,  namun  memiliki  nilai  suhu dan salinitas yang berbeda. Nilai sigma-t stasiun 10 dan 11 berkisar 18,3 dan 18,5 memiliki suhu dan salinitas yang berbeda.KATA KUNCI: Densitas, Massa air,  salinitas, Selat Bangka, suhu.

Karakteristik Pasang Surut dan Pola Arus di Muara Sungai Musi, Sumatera Selatan

Jurnal Penelitian Sains Vol 15, No 1 (2012)
Publisher : Faculty of Mathtmatics and Natural Sciences

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6034.402 KB)

Abstract

Penelitian mengenai kondisi pasang surut dan arus di muara sungai Musi telah dilakukan pada bulan Februari 2007. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik pasang surut dan pola arus di muara sungai Musi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tipe pasang surut di lokasi penelitian bersifat tunggal. Berdasarkan hasil analisis data terlihat bahwa saat pasang, arus cenderung bergerak kearah darat (sungai) sedangkan saat surut, arus bergerak ke arah laut (Selat Bangka). Arus di lokasi penelitian lebih didominasi oleh arus pasang surut dengan nilai besaran rata-rata arus pasang surut adalah 19.3 cm det−1.sedangkan rata-rata kecepatan arus residu sebesar 10.1 cm det−1.