Pipih Suptijah
1Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor, Kampus IPB Dramaga, Jalan Agatis No. 1, Bogor 16680 Jawa Barat Telepon (0251) 8622909-8622906, Faks. (0251) 8622907

Published : 70 Documents
Articles

KARAKTERISASI DAN BIOAVAILABILITAS NANOKALSIUM CANGKANG UDANG VANNAMEI (Litopenaeus vannamei)

Jurnal Akuatika Vol 3, No 1 (2012): Jurnal Akuatika
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4460.716 KB)

Abstract

Cangkang udang berpotensi untuk dijadikan sebagai bahan baku dalam proses pembuatan nanokalsium. Tujuan dari penelitian ini yaitu memanfaatkan cangkang udang vannamei menjadi nanokalsium, menentukan karakteristik nanokalsium secara fisik dan kimia serta mengetahui bioavailabilitas nanokalsium yang dihasilkan. Pembuatan nanokalsium dilakukan dengan metode presipitasi. Nanokalsium memiliki rendemen optimum oleh perendaman cangkang udang selama 48 jam (13,92%). Kadar kalsium optimum dihasilkan oleh perendaman cangkang udang selama  48 jam (85,49%). Hasil analisis AAS menunjukkan nanokalsium masih mengandung komponen mineral lain yaitu magnesium, kalium, natrium, fosfor, besi, seng, dan mangan. Nanokalsium yang dihasilkan memiliki nilai pH sebesar 9,40. Ukuran partikel nanokalsium berkisar antara 37-127 nm. Nanokalsium memiliki nilai derajat putih berkisar 81,73-93,39%, dengan rata-rata 87,56%.  Bioavailabilitas nanokalsium cukup tinggi pada menit ke-7 yaitu sebesar 63,3%.   Kata kunci : AAS, bioavailabilitas, cangkang udang Vannamei, nanokalsium, dan SEM

PEMBUATAN KECAP IKAN PETEK (Leiognathus splendens) SECARA FERMENTASI ENZIMATIS

Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 13, No 2 (2010): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia
Publisher : Departement of Aquatic Product Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3462.277 KB)

Abstract

Fish sauce is one of fish-based processed food or fishery product from fermentation process. The appearance of fish sauce is clear brown liquid and it has unique taste and flavor so many people use this as addition ingredient or spices in food to increase its taste. In this study fish sauce was made from petek fish (Leiognathus splendens) that has slow economic value and has not been used optimally. Pineapple was also added as source of bromelin enzyme. This study consisted of two phases which were pilot study and main study. In pilot study fish sauce was made by adding tempe concentration from 10%, 20%, and 30%. Then organoleptic test was done to determine the best fish sauce. The result showed that the most favorablefish sauce was made by adding 10% of tempe concentration. The characteristics of this product were as follows: the color of fish sauce was yellowish brown, its flavor was almost smelled like tempe, its taste was almost salty and its appearance was clear. In main study, tempe concentration was reduced to 5%, 10% and 15%. Organoleptic test showed that the best product was petek fish sauce by adding 15% tempe concentration. The characteristics of this fish sauce were: its color was yellowish brown, its flavor was almost smelled like tempe, its taste was almost tasty and its appearance is clear. The best petek fish sauce had 72,34% water concentration, 6,40% protein, 20,67% ash, 0,36% fat and 0,23% carbohydrate.Keywords: enzyme fermentation, fish sauce, organoleptic test, petek fish, tempe

KARAKTERISTIK SOSIS RASA AYAM DARI SURIMI IKAN LELE DUMBO (Clarias gariepinus) DENGAN PENAMBAHAN 106 ISOLAT PROTEIN KEDELAI

Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 14, No 2 (2011): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia
Publisher : Departement of Aquatic Product Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1134.777 KB)

Abstract

African catfish has potential to be processed become sausage because it contained highly protein. Soy protein isolate was use as binder. This research aims was to determined SPI concentration to produce high quality of fish sausage, analyzed the physical characteristics and nutritional value contained in fish sausage, and comparing with commercial sausage. The meat  was washed twice and obtained the yield 18,72%. SPI 13% was selected and gave better result on sausage production. The results of proximate analysis for the ash content of 1,60%, protein of 15,97%, fat of 0,61%, carbohydrate 2,22%, moisture content of 79,6% and the TPC 0.5x101 colony/g. Value of the comparison test objectively for gel strength, water holding capacity and emulsion stability were lower than commercial sausage. Catfish sausage was more preferred the commercial sausage on the parameters folding test, teeth cutting test, smell and taste. Protein and carbohydrate nutrient content of fish sausage African catfish superior to commercial sausage.Key words: frequency of washing, fish sausage, soy protein isolate

Tingkatan Kualitas Kitosan Hasil Modifikasi Proses Produksi

Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 7, No 1 (2004): Buletin Teknologi Hasil Perikanan
Publisher : Departement of Aquatic Product Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (57.122 KB)

Abstract

Kitosan adalah turunan dari kitin yang merupakan polimer alam terdapat pada karapas/limbah udang sekitar 10% - 25%. Proses pembuatan kitin dan kitosan meliputi beberapa tahapan utama, yaitu demineralisasi, deproteinasi dan deasetilasi, yang membutuhkan kondisi tepat agar diperoleh mutu produk yang baik. Tujuan penelitian ini adalah desain proses kitosan untuk memperoleh mutu produk yang bervariasi, adapun metode yang digunakan meliputi modifikasi proses pembuatan kitosan dengan perlakuan konsentrasi reagen, suhu dan waktu disetiap tahapan prosesnya. Adapun hasil yang diperoleh merupakan metode pembuatan kitosan yang cepat, sederhana dan mudah (efisien) dengan perlakuan konsentrasi HCl 1 N dan 1,5 N, suhu 90oC dan waktu proses 1 jam yang menghasilkan produk dengan mutu bervariasi, yaitu grade farmasi, kosmetik, pangan sehat dan industri lainnya misal industri cat, tekstil, pupuk dll, sehingga lebih sesuai dengan aplikasinya.Kata kunci: Deasetilasi, Grade mutu, Kitosan.

EFEKTIVITAS KITOSAN MIKROKRISTALIN SEBAGAI ALTERNATIF ANTIBAKTERI ALAMI DALAM MOUTHWASH

Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 15, No 2 (2012): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia
Publisher : Departement of Aquatic Product Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (782.208 KB)

Abstract

Microcrystalline chitosan is a chitosan that has been modified by minimizing its particle size. Chitosan posses antibacterial property. The use of microcrystalline chitosan as an antibacterial in the mouthwash has not been revealed yet. This study was done to compare the degree  effectiveness of mouthwash that contain  microcrystalline chitosan as an antibacterial and commercial mouthwash. The parameters measured in this study were proximate analysis, yield, deacetylation (Fourier Transform Infrared), particle size (Scanning Electron Microscopy), and total plate count. Microcrystalline chitosan contained moisture, ash, nitrogen and yield were 3.92% dry weight basis (db); 4% db, 1.4% db; and 50% respectively. Detection results of FTIR and SEM showed the size of microcrystalline chitosan was 0.6-6μm and degree of deacetylation was 88.66%. Mouthwash that contained 0.5%, 1% and 1.5% microcrystalline chitosan could reduce TPC bacteria up to 97.57%, 99.05% and 99.46% respectively, while commercial mouthwash reduced TPC bacteria up to 89.70%.Keywords: antibacterial, microcrystalline chitosan, mouthwash.

Penggunaan Bentonit dalam Pembuatan Sabun dari Limbah Netralisasi Minyak Ikan Lemuru (Sardinella sp)

Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 8, No 2 (2005): Buletin Teknologi Hasil Perikanan
Publisher : Departement of Aquatic Product Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.827 KB)

Abstract

Proses pemurnian minyak ikan lemuru menghasilkan limbah yang memiliki warna dan bau yang merusak lingkungan. Limbah ini merupakan hasil penyabunan dari asam lemak bebas dari minyak ikan. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan bentonit sebagai adsorben dalam menghilangkan bau dan warna dari limbah netralisasi minyak ikan lemuru (Sardinella sp) agar sabun yang dihasilkan dapat bermanfaat. Penelitian pendahuluan yang telah dilakukan menunjukkan bahwa pengolahan dengan perbandingan antara limbah minyak ikan lemuru, NaOH dan NaCl 15 % (b/v) yaitu 1:3:0,1 adalah yang terbaik berdasarkan uji kesukaan terhadap warna sabun minyak ikan lemuru, sehingga dijadikan kontrol pada penelitian utama. Hasil analisis kimia produk sabun pada penelitian utama dengan konsentrasi bentonit yang berbeda-beda menunjukkan bahwa kadar air sabun minyak ikan lemuru berkisar antara 58,32-64,54 %. Nilai pH sabun berkisar antara 10,96-12,01. Kadar asam lemak bebas sabun minyak ikan lemuru tidak terdeteksi dan kadar alkali bebas berkisar antara 0,10-0,15 %. Kadar total nitrogen pada sabun minyak ikan lemuru berkisar antara 0,45-0,56 %. Kadar amonia sabun minyak ikan lemuru untuk semua perlakuan tidak terdeteksi. Uji hedonik menunjukkan bahwa sabun minyak ikan lemuru dengan penambahan bentonit yang berbeda tidak memberikan perbedaan yang nyata terhadap kesukaan panelis terhadap warna, bau maupun tekstur.Kata kunci: bentonit, limbah netralisasi minyak, minyak ikan lemuru, sabun

Pengaruh Penambahan Daging Lumat Ikan Nilem (Ostheocilus hasselti) pada Pembuatan Simping sebagai Makanan Camilan

Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 7, No 1 (2004): Buletin Teknologi Hasil Perikanan
Publisher : Departement of Aquatic Product Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (51.697 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan daging lumatan ikan nilem (Osteochilus hasselti) terhadap mutu produk simping. Hasil penggamatan organoleptik untuk penampakan, aroma, rasa, tekstur secara umum cenderung meningkat. Berdasarkan parameter organoleptik, perlakuan penmbahn daging lumat 15% memberikan nilai organoleptik tertinggi. Pada hasil uji proksimat diperoleh kenaikan kadar abu, air, dan kadar protein simping ikan.Kata kunci: Ikan Nilem (Ostheochilus hasselti) dan Simping

Physical and Chemical Characteristics of Agar Bacto with Addition Of Chitosan

Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 11, No 1 (2008): Buletin Teknologi Hasil Perikanan
Publisher : Departement of Aquatic Product Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (221.56 KB)

Abstract

Agar adalah bentuk koloid dari suatu polisakarida kompleks yang diekstrak dari beberapa kelompok alga merah (Rhodophyceae). Salah satu pemanfaatan dari agar adalah sebagai media untuk pertumbuhan mikroba. Agar bakto adalah salah satu medium kultur yang digunakan untuk membantu menggelifikasi berbagai jenis larutan medium atau larutan kaldu (broth). Penambahan kitosan sebagai absorben pada proses pemurnian agar diharapkan dapat menghasilkan agar yang murni (refine agar) yang dapat digunakan untuk agar bakto sebagai media pertumbuhan mikroba. Tujuan dari penelitian ini adalah memodifikasi berbagai konsentrasi kitosan dan waktu proses absorbsi dalam pembuatan agar bakto sebagai media pertumbuhan mikroba. Penelitian dibagi menjadi dua tahap, yang pertama adalah tahapan proses isolasi kitin dan deasetilasi kitin menjadi kitosan dan penelitian utama yang dilakukan yaitu pembuatan agar bakto dengan menambahkan berbagai konsentrasi kitosan (0,5%, 1%, 1,5%) sebagai absorben terhadap agar yang dihasilkan dari Gracilaria sp. dan agar batang. Perlakuan kedua yang diberikan yaitu waktu proses absorbsi setelah dilakukan penambahan kitosan. Proses absorbsi yang dipilih 0 menit, 15 menit, 30 menit, dan 45 menit. Kombinasi perlakuan paling optimum untuk agar bakto berbahan baku Gracilaria sp. adalah pada konsentrasi kitosan 1% dengan lama pemanasan lanjutan ekstraksi selama 45 menit. Kombinasi perlakuan paling optimum untuk agar bakto berbahan baku agar batang adalah pada konsentrasi kitosan 0,5% dengan tanpa pemanasan lanjutan.Kata kunci: agar bakto, Gracilaria sp. , kitosan

PENGGUNAAN KITOSAN SEBAGAI PENGISI DALAM PEMBUATAN SABUN TRANSPARAN

Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 13, No 1 (2010): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia
Publisher : Departement of Aquatic Product Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (91.581 KB)

Abstract

Chitosan is a natural material extracted from deacetylated chitin of crustacean shell used for many kinds of functions, not only for food but also non food product. The research objective is to find out the effect of chitosan used for filler within transparency soap to the characteristic of physical, chemical and bioeffect of end product, and to find out which concentrate of chitosan will be used for the best product. The research was divided by two steps, pre-research and main research.  Pre-research resulted that transparency soap with 5% chitosan was the best choice based on organoleptic test which was the best in toughness, and based on chemical also microbiological analyses. The soap with 5% chitosan has TPC (Total Plate Count) amount to  2.0x101, while the one without chitosan contained TPC 6.5x101. The main research showed that transparency soap with 5% chitosan has better quality compare to commercialized one.

Application of Chitosan on Purification Ground Water With Coagulation and Filtration Treatment

Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 11, No 1 (2008): Buletin Teknologi Hasil Perikanan
Publisher : Departement of Aquatic Product Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (63.402 KB)

Abstract

Air merupakan sumber daya alam yang sangat penting dalam kehidupan manusia dan digunakan untuk berbagai kegiatan, termasuk kegiatan pertanian, perikanan, peternakan, industri, pertambangan, rekreasi, olah raga dan sebagainya. Masalah utama sumber daya air meliputi kuantitas air yang sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan manusia yang terus meningkat dan kualitas air untuk keperluan domestik terus menurun khususnya untuk air minum. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kemampuan kitosan dalam menurunkan jumlah bakteri koliform dan konsentrasi besi di dalam air sumur dan untuk mengetahui kemampuan kitosan didalam proses pemurnian air sumur. Penelitian ini dilakukan dalam dua tahap, yaitu koagulasi dan filtrasi. Pada proses penjernihan air sumur, didapatkan hasil bahwa penurunan nilai TPC (Total Plate Count) dan konsentrasi besi yang signifikan bila dibandingkan dengan kontrol (tanpa kitosan) adalah larutan kitosan 1 ppm, dimana nilai TPC air sumur sebesar 5,6 x 103 cfu/ml dan nilai konsentrasi besi yaitu 0,08 mg/l. Pada proses filtrasi (tahap akhir), didapatkan hasil bahwa filter dengan kitosan 5 gram sudah dapat menghasilkan air dengan kualitas memenuhi syarat kesehatan, dilihat dari parameter pH, kekeruhan, kadar besi, dan bakteri koliform. Dengan nilai pH sebesar 6,7+0,01, nilai kekeruhan sebesar 4,5+0,71 NTU, kadar besi < 0,016 mg/l, dan nilai bakteri koliform 0 MPN/ml. Parameter TSS hasil pemurnian belum termasuk ke dalam air dengan kualitas memenuhi syarat kesehatan (Raini 2004). Berarti parameter TSS masih perlu diturunkan.Kata kunci: air murni, absorbsi, kitosan, koagulasi, filtrasi.