Articles

Found 22 Documents
Search

KAJIAN FILOSOFIS TERHADAP STANDAR PERILAKU ETIS NOTARIS

YUSTISIA Vol 87 (2013)
Publisher : YUSTISIA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

A notary bound norms and values that constitute the parameters behave ethically. Philosophically, there is a size that is not universally applicable in the world of ethical behavior parameters notary. In a more concrete level, and factual measures for ethical behavior is a notary public Notary Code of Ethics. In order to realize a notary ethical behavior, integrity and commitment required in the process of enforcement of the Code Notary substance through a mechanism that has been agreed. This process must be done continuously so that woke standards of ethical behavior that can guide behavior that is not only derived from the text of the Notary Code, but also from a contextual understanding of the implementation of the Notary Code of Ethics. Notary Code of Ethics as the only parameter Notary ethical behavior in the sense that the most factual, should always be tailored to the developmental dynamics that occur in the community, so that the values contained in it maintained its existence.

Heritabilitas Sifat Ketahanan terhadap Cekaman Alelopati Gulma Teki pada Padi Gogo

Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 8, No 1 (2002)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Purple nut sedge (Cyperus rotundus L.) is the most difficult weed to control that produces suppressive allelochemicals to germination and early growth of upland rice. This research is aimed to identify responsive variables of upland rice varieties in competing allelopathy of purple nut sedge and estimate their heritability through mean-parents-offspring regression. The research conducted in two stages of experiment. First stage experiment is aimed to identify a critical level of purple nut sedge suppression and estimate of genetic variability among upland rice lines in responding purple nut sedge allelopathy, conducted in Completely Randomized Design with 25 lines and three replications. Experiment consisted of germination testing by tuber purple nut sedge crude extract with six concentration levels of suppression: 0, 5, 10, 15, 20 and 25%, and of competition treatment between upland rice and purple nut sedge with four levels of suppression based on sampled purple nut sedge tuber number: 0, 6, 12 and 24 tubers. Based on first stage experiment, critical level of suppression is identified at 5% of ethanol tuber extract and 6 tubers of purple nut sedge in competition treatment. Second stage experiment is screening of F1 plants and their respective parents at critical level of suppression. Plumulae length could be an effective selection criterion because of its high narrow-sense heritability (h2 = 0.73).Key words: upland rice, heritability, purple nut sedge allelopathy

AN ANALYSIS OF POLITENESS STRATEGIES USED BY CLAIRE PETERSON IN THE BOY NEXT DOOR MOVIE

JOURNAL OF ENGLISH LANGUAGE AND LANGUAGE TEACHING (JELLT) Vol 1, No 1 (2017): Journal of English Language and Language Teaching (JELLT)
Publisher : JOURNAL OF ENGLISH LANGUAGE AND LANGUAGE TEACHING (JELLT)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (390.063 KB)

Abstract

In social interaction, people need to be aware of others’ faces to consider their feelings or maintain the relationship. In order to save a person’s face, people are supposed to use politeness strategies. The objective of the paper is to describe the types and functions of politeness strategies used by Claire Peterson in The Boy Next Door movie. This research belongs to discourse analysis and uses the theory of politeness strategies proposed by Brown and Levinson. The data is movie script of The Boy Next Door movie which is in the form of words and utterances. Based on the analysis, there are 37 utterances containing politeness strategies used by Claire Peterson. In detail, she uses the strategy of bald on record seven times or 18.9%, positive politeness 20 times or 54%, negative politeness 9 times or 24.4%, and off record once or 2.7%. The most frequent politeness strategy used by Claire Peterson is “offer and promise” which belongs to positive politeness strategy. This strategy is used 7 times or 18.9%. In general, she uses politeness strategies to maintain and build good relationship with the others in her daily life.

PENGEMBANGAN E-LEARNING SEBAGAI PELENGKAP PEMBELAJARAN TATAP MUKA PADA PROGRAM DIPLOMA TIGA AMIK BSI YOGYAKARTA

Jurnal Bianglala Vol 1, No 1 (2013): Jurnal Bianglala Informatika 2013
Publisher : BSI Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.037 KB)

Abstract

                  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui rancangan e-learning sebagai pelengkap pembelajaran tatap muka, mengetahui tanggapan siswa terhadap e-learning dan mengetahui efektivitas e-learning sebagai pelengkap pembelajaran tatap muka pada program Diploma Tiga AMIK BSI Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan gabungan pendekatan penelitian riset and development (R and D) dan kuantitatif deskriptif. Populasinya  adalah mahasiswa AMIK BSI Yogyakarta. Sampel penelitian diambil menggunakan teknik stratified random sampling, dimana sampel diambil per kelas per angkatan. Subjek penelitian mahasiswa AMIK BSI Yogyakarta. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan observasi dan angket. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis kuantitatif deskriptif. Pengembangan e-learning dilakukan menggunakan Modular Object Oriented Dynamic Learning Environment (MOODLE). Moodle merupakan Learning Management Systems (LMS) yang bersifat open source. Dengan menggunakan Moodle dapat dilakukan beberapa aktivitas pembelajaran diantaranya diskusi, quis, dan penilaian

PENERAPAN ERGONOMI UNTUK PENINGKATAN PRODUKTIVITAS KERJA MENGGUNAKAN KOMPUTER

Paradigma - Jurnal Komputer dan Informatika Vol 9, No 3 (2007): Periode Agustus
Publisher : AMIK BSI Jakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peningkatan produktivitas dalam bekerja sangat penting, karyawan di tuntut agar bisa bekerja dengan baik, efektif dan efisien. Diharapkan dengan sumber daya yang sekecil-kecilnya di capai hasil yang sebesar-besarnya. Banyak faktor yang mempengaruhi produktivitas kerja, diantaranya adalah penerapan ilmu ergonomi. Dengan ergonomi akan dapat meningkatkan produktivitas dan di isisi lain akan memberikan kenyamanan dan keamanan dalam bekerja sehingga karyawan bisa bekerja dengan tenang, aman, nyaman, tidak cepat lelah atau merasakan gangguan dalam bekerja. Ergonomi seharusnya diterapkan pada semua bidang pekerjaan. Berikut ini dibahas penerapan ergonomi untuk meningkatkan produktivitas kerja berkaitan dengan penggunaan komputer sebagai alat bantu.

Keragaan Sepuluh Kultivar Padi Lokal (Oryza sativa L.) Daerah Istimewa Yogyakarta

Vegetalika Vol 6, No 4 (2017)
Publisher : Vegetalika

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penanaman padi varietas unggul mengakibatkan keanekaragaman padi lokal menurunsecara drastis bahkan punah. Kehilangan sumber daya genetik merupakan kehilanganyang tidak ternilai harganya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahuikeragaan karakter agronomi sepuluh kultivar padi lokal (Oryza sativa L.). Sepuluhkultivar padi lokal ditanam di di dusun Timur, Selomartani, Kalasan, Yogyakarta padaDesember 2016 hingga Maret 2017 dengan Rancangan Acak Kelompok Lengkap(RAKL) dengan ulangan sebanyak tiga. Sepuluh kultivar lokal tersebut berasal dariberbagai daerah di Yogyakarta yaitu Mentik putih, Mentik susu, Sri kuning, Pandan wangi, Cempo putih, Kenanga, Gading Melati, Pangestu, Similikiti, dan Menorehbercak ungu. Penanaman dilakukan dengan membuat petak berukuran 4×4 m yangditanam secara jajar legowo 2:1, jumlah tanaman 2 rumpun per lubang, umur bibit 15hari. Analisis varians dilakukan untuk variabel kuantitatif dengan taraf kepercayaan 5%.Jika terdapat signifikansi, dilanjutkan dengan uji HSD Tukey. Kultivar mentik susu dankenanga adalah kultivar yang termasuk dalan kelompok padi sedang dengan umurpanen 120–150 HSS. Sedangkan, delapan kultivar lain termasuk dalam padi berumurgenjah. Kultivar Mentik susu dan Kenanga juga merupakan kultivar yang memiliki umurberbunga paling lama yaitu 100 HSS dan 95 HSS. Kultivar Sri kuning memiliki hasilproduksi aktual paling tinggi dengan 6,28 ton/ha. Di sisi lain, kultivar Mentik susumenjadi yang paling rendah denga 2,18 ton/ha. Analisis korelasi antar karaktermenunjukan karakter jumlah gabah isi per malai, jumlah gabah total per malai, bobot100 butir, dan kepadatan malai memiliki korelasi positif yang kuat terhadap hasilproduksi aktual. Umur berbunga dan umur panen merupakan karakter yang memilikikorelasi negatif paling besar terhadap hasil produksi aktual.

KNOWLEDGE MANAGEMENT UNTUK PENINGKATAN PELAYANAN AKADEMIK PADA PERGURUAN TINGGI

Jurnal Bianglala Vol 2, No 1 (2014): Jurnal Bianglala Informatika 2014
Publisher : BSI Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (210.79 KB)

Abstract

Pendidikan Tinggi adalah jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program Diploma, program Sarjana, program Magister, program Doktor, dan program Profesi serta program Spesialis, yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi berdasarkan kebudayaan bangsa Indonesia. Dalam menunjang kegiatan akademik biasanya di perguruan tinggi membuat sistem informasi yang baik, namun demikian permasalahan dalam pelayanan akademik masih sering terjadi, tulisan ini berusaha menyampaikan berbagai hal dengan harapan agar bisa mengurangi permasalahan yang ada dan bisa melakukan peningkatan pelayanan akademik sehingga akan memuaskan semua pihak. Metode penelitian yang dipakai adalah development research atau penelitian pengembangan yang merupakan penelitian berorientasi pada pemecahan masalah praktis. Selanjutnya di sampaikan usulan/masukan pemanfaatan Knowledge Management agar semua pihak terkait bisa melakukan kewajibannya sesuai yang sudah ditentukan dan mendapatkan haknya sebagai mana mestinya. Tujuan akhirnya adalah tercapainya kepuasan semua pihak yang terkait dan tercapainya visi misi lembaga dengan cara yang efektif dan efisien.  

Pendugaan Parameter Genetik Komponen Hasil untuk Seleksi Tidak Langsung Tanaman Padi (Oryza sativa L.) Berdaya Hasil Tinggi

Vegetalika Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Vegetalika

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seleksi langsung terhadap daya hasil seringkali sulit dilakukan karena sifat alami hasil yang kompleks dan besarnya pengaruh lingkungan terhadap hasil. Seleksi tidak langsung mendasarkan pada komponen hasil yang berkorelasi terhadap hasil dapat dilakukan sebagai solusi untuk masalah tersebut. Pendugaan parameter genetik dilakukan untuk memperoleh informasi mengenai komponen hasil yang dapat digunakan untuk meningkatkan hasil per hektar. Sembilan genotipe padi  diasumsikan  berdistribusi  random  ditanam  mengikuti  rancangan RCBD di dua lokasi, Klaten dan Sleman. Komponen varian dan kovarian yang diduga melalui ANOVA dan ANCOVA digunakan untuk menduga heritabilitas, korelasi genetik, koheritabilitas, dan rasio nilai harapan CRA/RA. Analisis lebih lanjut untuk korelasi genetik dilakukan dengan analisis lintas untuk memperoleh informasi tambahan  mengenai hubungan  antara hasil dengan komponen hasil. Tinggi tanaman, panjang daun bendera, umur berbunga, umur panen, bobot 100 butir biji, jumlah malai per rumpun, panjang malai, dan kerapatan malai diketahui memiliki heritabilitas tinggi (lebih dari 0,7) dan lebih tinggi dibandingkan heritabilitas hasil per hektar (0,55 di Klaten dan 0,42 di Sleman). Jumlah malai per rumpun memiliki korelasi genetik positif dan tinggi dengan hasil per hektar sementara panjang daun bendera dan umur berbunga memiliki pengaruh langsung positif dan tinggi terhadap hasil per hektar di lokasi Klaten. Bobot 100 butir biji dan panjang malai memiliki korelasi genetik yang positif dan tinggi terhadap hasil per hektar sementara tinggi tanaman dan jumlah biji per malai memiliki pengaruh langsung yang tinggi dan positif. Akan tetapi, tidak terdapat komponen hasil yang memiliki rasio nilai harapan CRA/RA lebih tinggi dari 1 yang menunjukkan bahwa tidak ada komponen hasil yang dapat meningkatkan kemajuan genetik hasil per hektar melalui seleksi tidak langsung. Seleksi langsung terhadap daya hasil lebih efektif dibandingkan dengan seleksi tidak langsung melalui komponen hasil tertentu.

EVALUASI KARAKTER TANAMAN CABAI HIAS (Capsicum annuum L.) GENERASI F1 HASIL PERSILANGAN ‘PETER PEPPER’ DENGAN ‘ROYAL BLACK’

Vegetalika Vol 4, No 3 (2015)
Publisher : Vegetalika

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (512.941 KB)

Abstract

Cabai hias mempunyai beragam warna dan bentuk buah yang mampu memberikan keindahan pada taman, sehingga perlu evaluasi karakter dalam strategi pemuliaan tanaman. Tujuan penelitian ini yaitu mengevaluasi karakter kualitatif dan kuantitatif tanaman cabai hias F1 hasil persilangan ‘Peter Pepper’ dengan ‘Royal Black’ dan mengetahui tindak gen karakter kuantitatif. Rancangan percobaan yang digunakan yaitu Rancangan Acak Kelompok Lengkap dengan tiga genotipe yaitu ‘Peter Pepper’, ‘Royal Black’, dan F1 (PP×RB) dengan 3 ulangan. Karakter yang diamati dibedakan menjadi dua yaitu karakter kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter kualitatif tanaman cabai hias F1 yang mengekspresikan sifat dominan tetua betina ‘Peter Pepper’ yaitu karakter warna kotiledon, hipokotil, habitus pertumbuhan tanaman, habitus percabangan, warna daun, bentuk daun, orientasi bunga, orientasi buah, dan bentuk ujung buah. Karakter kualitatif cabai hias F1 yang mengekspresikan sifat dominan tetua jantan ‘Royal Black’ yaitu warna batang, warna kotak sari, warna tangkai sari, warna buah sebelum masak, dan bentuk buah. Karakter kualitatif cabai hias F1 yang mengekspresikan sifat kodominan yaitu karakter antosianin pada buku dan warna mahkota bunga. Karakter kuantitatif tanaman cabai hias F1 yang sama dengan tetua betina ‘Peter Pepper’ yaitu karakter diameter batang dan berat buah. Karakter kuantitatif cabai hias F1 yang sama dengan tetua jantan ‘Royal Black’ yaitu karakter panjang daun, lebar daun, jumlah buah, dan warna buah fase muda. Karakter kuantitatif cabai hias F1 yang berbeda dengan kedua tetuanya yaitu karakter tebal daging buah. Cabai hias F1 yang memiliki tindak gen incomplate dominance yaitu karakter diameter batang, lebar daun, diameter buah, bobot buah, tebal daging buah, jumlah buah per tanaman, dan berat biji per buah, sedangkan F1 yang memiliki tindak gen over dominance yaitu karakter tinggi tanaman, tinggi dikotomus, panjang daun, umur mulai berbunga, umur mulai berbuah, panjang buah, panjang tangkai buah, dan warna buah fase muda, fase antara, dan fase tua.

Islamic Values in Spatial Function of Javanese Traditional Architecture

Journal of Islamic Architecture Vol 3, No 4 (2015): Journal of Islamic Architecture
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Science and Technology UIN Maliki Malang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (146.419 KB)

Abstract

Learn from the past is important thing as based for the next step. Learn past architecture to gain positive values can be used as guidelines to design better architectural works. Javanese traditional architecture is one of local architecture from the past which has positive values, even if it is done deeper study; it has Islamic values which can be used as principles in the process of Islamic architectural design. To achieve Islamic values in spatial pattern Javanese traditional architecture can be done through exploration and reviewing Javanese traditional architectural space afterward it is associated with Islamic values which are relevant with Al Qur’an and sunnah prophet. In fact is the spatial pattern in Javanese traditional architecture arrayed with beauty and also has Islamic valuable function. Those Islamic values are 1) high esteem guest (pendopo) through providing wide and comfortable living room; 2) create divider (pringgitan) which separate between living room and main room so that the privation can be kept; 3) separation the bed room (gandok kiwo and gandok tengen) between parents and their children who are going mature and also between boys and girls; 4) provide praying room (senthong tengah) to pray as family education and also as a place to pray to the God.