Nana Supriyana
Sekolah Tinggi Teknik Wiworotomo Purwokerto

Published : 9 Documents
Articles

Found 9 Documents
Search

ANALISA RUNNING-IN RODA GIGI TRANSMISI PRODUK USAHA KECIL MENENGAH Hidayat, Taufiq; Supriyana, Nana; Londa, Petrus; Jamari, Jamari; Setiawan, Joga Dharma
ROTASI "JURNAL TEKNIK MESIN" VOLUME 15, NOMOR 2, APRIL 2013
Publisher : ROTASI "JURNAL TEKNIK MESIN"

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (685.903 KB)

Abstract

Saat ini kecenderungan industri roda gigi adalah fokus pada peningkatan efisiensi roda gigi transmisi. Efisiensi roda gigi transmisi menurun dikarenakan kontak load dan unload, seals, pelumas, dan bantalan. Salah satu cara untuk meminimalkan kerugian tersebut adalah dengan menurunkan viskositas pelumas. Cara ini akan menurunkan kecepatan kerugian. Tetapi kerugian karena beban akan meningkat. Untuk menghindari ini, rasio antara ketebalan lapisan pelumas dan kekasaran permukaan harus dijaga, dimana dapat dipenuhi dengan membuat permukaan roda gigi lebih halus. Tujuan penelitian ini adalah menganalisa proses running-in roda gigi produk lokal UKM. Sebagai pembanding dilakukan running-in roda gigi produk OEM. Pengujian yang dilakukan adalah uji kekerasan dan kekasaran permukaan awal dan selama proses running-in. Eksperimen dilakukan pada roda gigi AHM dan UKM. Proses running-in berjalan pada 600 rpm dan beban tetap 10 kg. Roda gigi yang memiliki nilai kekasaran permukaan yang tinggi akan menimbulkan koefisien gesek yang tinggi pula. Roda gigi AHM memiliki kekasaran permukaan antara 0,5-0,8 μm. Kekasaran roda gigi produk UKM antara 0,8-1,2 μm. Roda gigi produk AHM memiliki koefisien gesek 0,41, sedangkan roda gigi produk UKM memiliki koefisien gesek 0,43. Roda gigi produk AHM mempunyai waktu running-in sampai tercapai keadaan steady state selama 45 menit. Sedangkan roda gigi produk UKM mempunyai waktu running-in 40 menit. Dapat disimpulkan bahwa roda gigi produk UKM mempunyai kekasaran permukaan yang lebih tinggi dibanding produk AHM, sehingga koefisien geseknya lebih tinggi pula. Tetapi dari segi waktu runnning-in lebih cepat dikarenakan kekerasan permukaan lebih rendah dibanding produk AHM.
KAJI EKSPERIMENTAL RUNNING-IN PADA KONTAK ROLLING-SLIDING PASANGAN MATERIAL ALUMINIUM DENGAN BAJA S45C Supriyana, Nana; Londa, Petrus; Hidayat, Taufiq; Jamari, Jamari; Nugroho, Sri
ROTASI "JURNAL TEKNIK MESIN" VOLUME 15, NOMOR 2, APRIL 2013
Publisher : ROTASI "JURNAL TEKNIK MESIN"

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (752.498 KB)

Abstract

Keausan yang terjadi pada komponen di sistem permesinan dapat mengakibatkan penurunan kemampuan kerja komponen tersebut (kegagalan kerja komponen). Banyak penyebab yang menimbulkan terjadinya keausan diantaranya adalah kualitas material, kondisi pelumasan, perlakuan pengoperasian komponen terutama pada saat pertama kali komponen permesinan berkontak (running-in) dan lain sebagainnya. Berbagai cara untuk mendeteksi fenomena keausan yang terjadi pada komponen terutama yang berkontak dan bergerak, salah satunya adalah melalui eksperimen. Salah satu parameter untuk mendeteksi adanya gejala keausan adalah perubahan nilai koefisien gesek yang terjadi ketika komponen berkontak dan bergerak. Penelitian ini membahas pengaruh penerapan nilai sr yang berbeda terhadap perubahan nilai koefisien gesek pada fase running-in pada material aluminium dan baja S45C. Peralatan yang digunakan dalam eksperimen ini menggunakan alat uji two disc tribometer. kondisi standar eksperimen nilai slip-roll ratio (sr) 0%, 40%,80% dan 100%, beban tekan 4 kg serta kondisi pelumasan menggunakan minyak pelumas dengan SAE 15W-40. Dimensi benda uji masing-masing disc berdiameter 50 mm, benda uji dengan material aluminium permukaan singgungnya dibuat rata dan pada spesimen dengan material baja S45C dibuat radius dengan jari-jari 5 mm, sedangkan waktu eksperimen adalah selama 60 detik dan setiap 10 detik dilakukan pengukuran kekasaran permukaan pada spesimen yang rata. Hasil eksperimen memperlihatkan perubahan nilai koefisien gesek mempunyai tren menurun seiring waktu running-in yang terus berjalan, perubahan ini diakibatkan beberapa puncak asperiti mulai terpangkas dan jumlah asperiti yang terdeformasi mulai berkurang, kemudian nilai koefisien gesek mulai bergerak turun dan mencapai kondisi rata inilah kondisi steady state karena pada kondisi ini energi yang dikeluarkan untuk melawan gaya gesek yang terjadi relatif lebih sedikit dibanding diawal gerakan dan berkontak. Nilai kekasaran permukaan spesimen juga mengalami perubahan dan hampir semua penurunan nilai kekasaran terjadi pada setiap penerapan nilai sr yang berbeda dan perubahannya menurun sampai kondisi steady state tercapai.
RANCANG BANGUN ALAT UJI RUNNING-IN UNTUK SISTEM KONTAK TWO-DISC Londa, Petrus; Hidayat, Taufiq; Supriyana, Nana; Jamari, Jamari; Nugroho, Sri
ROTASI "JURNAL TEKNIK MESIN" VOLUME 15, NOMOR 2, APRIL 2013
Publisher : ROTASI "JURNAL TEKNIK MESIN"

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (447.468 KB)

Abstract

Keausan merupakan fenomena tribologi yang terjadi pada setiap peralatan akibat kontak mekanik antara dua komponen. Dalam kurun waktu yang lama keausan ini akan menimbulkan kerusakan pada peralatan. Untuk meningkatkan keandalan dan efisiensi peralatan, maka fenomena keausan ini perlu dikaji lebih lanjut. Didalam ilmu tribology para peneliti membagi proses terjadinya keausan akibat kontak mekanik tersebut menjadi tiga fase, yaitu fase running-in, fase steady state (fase tunak) dan fase wear-uot. Untuk mengetahui secara cepat kondisi dari ketiga fase tersebut diperlukan alat uji running-in. Paper ini difokuskan pada rancang bangun alat uji running-in. Alat ini dipakai untuk menguji komponen yang terdiri dari dua buah piringan (two-disc) yang terbuat dari material yang dapat divariasikan jenisnya. Perancangan mekanismenya memungkinkan sisi kedua piringan pada arah radial saling kontak ketika kedua piringan tersebut berputar (rolling contact) dan dapat divariasikan beban maupun putaran. Untuk itu metode perancangan Pugh dapat memberikan solusi, karena dengan metode ini semua konsep produk akan dinilai dan konsep produk terbaik yang akan dikembangkan menjadi produk. Pengujian dilakukan secara eksperimen untuk mengetahui fenomena keausan yang terjadi mulai dari kondisi running-in sampai kondisi steady state. Hasil rancangan menunjukan bahwa alat uji dapat digunakan untuk menentukan variabel-variabel dalam proses running-in. Dengan variasi jumlah putaran (maksimal 2800 rpm), beban tekan (masimal 5 kg) dan beban torsi yang dapat dikontrol (5 kg) serta arah putaran specimen yang dapat diatur, maka gaya gesek pada permukaan specimen dapat diketahui, sedangkan variabel yang diukur adalah perubahan kekasaran permukaan.
PENGUJIAN RUNNING-IN PADA KONTAK SLIDING ANTARA BOLA BAJA DENGAN PELAT KUNINGAN Jamari, Jamari; Supriyana, Nana
ROTASI VOLUME 16, NOMOR 1, JANUARI 2014
Publisher : ROTASI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (689.994 KB)

Abstract

Salah satu indikasi kerusakan komponen mekanik adalah keausan. Keausan disebabkan oleh berbagai macam faktor diantaranya adalah jenis material yang berkontak, kondisi pelumasan, perlakuan terhadap pengoperasian komponen, kekasaran permukaan yang berkontak, kondisi operasi dan lain-lain. Seringkali keausan menyebabkan kegagalan, namun demikian, keausan akibat proses running-in justru menguntungkan. Running-in merupakan proses adaptasi antar komponen yang berkontak menuju keadaan setimbang, sehingga proses ini sangat menentukan sistem kontak sesudahnya. Makalah ini bertujuan mempelajari fenomena keausan running-in pada kontak sliding antara bola baja dengan pelat kuningan melalui pengujian dengan mesin jenis two-disc. Sliding dilakukan dengan slip 200% yaitu menahan salah satu disc dan memutar disc pasangannya. Fenomena running-in dipelajari melalui perubahan koefisien gesekan dan perubahan topografi permukaan yang berkontak. Hal yang menarik adalah pengukuran koefisien gesekan dan topografi permukaan dilakukan semi-online. Kurva koefisien gesekan sebagai fungsi dari waktu ditampilkan dan perubahan topografi permukaan kontak selama proses atau running juga ditampilkan pada setiap siklus atau waktu tertentu. Periode running-in dapat diprediksi melalui perubahan koefisien gesekan dan dikonfirmasi dengan perubahan kekasaran permukaan.
UJI PERFORMA PENGARUH IGNITION TIMING TERHADAP KINERJA MOTOR BENSIN BERBAHAN BAKAR LPG Supriyana, Nana; Hidayat, Taufiq
Jurnal Simetris Vol 6, No 2 (2015): JURNAL SIMETRIS VOLUME 6 NO 2 TAHUN 2015
Publisher : Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (187.197 KB)

Abstract

ABSTRAK   Tujuan penelitian untuk mengetahui berapa besar pengaruh perubahan ignition timing terhadap performance motor bensin berbahan bakar LPG. Pada penelitian ini menggunakan motor bensin 4 langkah 1 silinder yang dilengkapi dengan konverter kits. Variabel bebas dalam penelitian adalah variasi ignition timing berbahan bakar LPG dengan sudut pengapian. Sedangkan variabel terikat adalah seberapa besar pengaruh variasi ignition timing berbahan bakar LPG terhadap torsi dan daya pada motor bensin. Pengujian dilakukan pada putaran 4250 – 8250 rpm dengan menggunakan dynamometer inersia dan unjuk kerja yang dicari meliputi torsi dan daya. Dari hasil pengujian dapat disimpulkan bahwa performance torsi dan daya tertinggi yang dihasilkan motor bensin berbahan bakar LPG pada sudut pengapian 32°. Kata kunci: ignition, LPG, motor bensin.
ANALISA TEGANGAN POROS RODA GERBONG KERETA API DENGAN METODE ELEMEN HINGGA Supriyana, Nana; Kholidin, Akhmad
Simetris: Jurnal Teknik Mesin, Elektro dan Ilmu Komputer Vol 7, No 2 (2016): JURNAL SIMETRIS VOLUME 7 NO 2 TAHUN 2016
Publisher : Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (477.884 KB)

Abstract

Poros roda kereta merupakan salah satu bagian yang berhubungan langsung dengan keselamatan penumpang maupun bagian lain dalam perjalanan kereta api. Penelitian untuk mengetahui distribusi tegangan yang dialami oleh poros sehingga diketahui letak area kritis pembebanan poros roda kereta, apakah area kritis roda kereta akibat pembebanan terletak pada asnaff atau astap poros roda kereta dan kasus beban impact karena roda benjol atau rata bidang jalan. Simulasi pembebanan menggunakan software ANSYS 12.0 dengan tiga kondisi pembebanan poros roda kereta. Pertama saat menerima beban statis kereta sebesar 4,625 ton per leher poros kereta, kedua saat kereta berjalan sehingga terjadi beban dinamis sebesar 8,9 ton dan ketiga saat terjadinya beban impact dari adanya roda benjol, kerataan bidang jalan atau ketidak rataan jalan rel sebesar sepuluh kali beban statis atau 46,25 ton. Dari hasil simulasi didapat tegangan maksimum terjadi pada node nomor 32 dan nomor 180 yang terletak pada peralihan diameter asnaff ke diameter astap, area ini pada jarak 285,2 mm dari ujung poros. Nilai tegangan maksimum yang diterima poros pada pengkondisian beban tertinggi akibat beban impact yang dimungkinkan karena roda benjol sebesar 112,3 N/mm2 dan 109, 4 N/mm2 masih dalam batas aman karena tidak lebih besar dari tegangan yang diijinkan pada teori kegagalan von misses yaitu 225 N/mm2. Kata kunci: poros, ansys, tegangan.
DESAIN ELASTOHYDRODINAMIS LUBRICATION SYSTEM DENGAN PENGATUR TEKANAN PADA CAMSHAFT MOTOR BENSIN 4 LANGKAH Supriyana, Nana; Mastur, Mastur
Simetris: Jurnal Teknik Mesin, Elektro dan Ilmu Komputer Vol 8, No 2 (2017): JURNAL SIMETRIS VOLUME 8 NO 2 TAHUN 2017
Publisher : Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (210.782 KB)

Abstract

Camshaft didesain dengan beberapa pertimbangan seperti durasi bukaan katup, tinggi angkat katup, jarak titik puncak antara cam lobe intake  dan cam lobe exhaust, dengan cara kerja berputar, tertekan dan bergesekan akan menimbulkan hal yang tidak bisa dihindarkan yaitu terjadinya proses keausan permukaan yang bergesekan yang berdampak perubahan pada waktu pemasukan campuran bahan bakar dengan udara dan pengeluaran sisa pembakaran yang pada akhirnya berpengaruh terhadap kemampuan kerja motor secara keseluruhan. Penelitian ini dilakukan untuk mengamati fenomena keausan yang terjadi pada komponen camshaft dengan cara membuat desain sistem pelumasan (elastohydrodinamic lubrication system) untuk mencapai kondisi elastohidrodinamis selalu terjadi walaupun diawal bergeraknya komponen camshaft pada motor bensin sehingga keausan permukaan camshaft dapat diminimalisir dan kemampuan kerja motor tetap terjaga. Metode penelitian menggunakan media motor bensin 4 langkah dengan mekanisme katup jenis single over head camshaft (SOHC), kecepatan putar camshaft 2000 Rpm, temperatur kerja 78o C serta menggunakan minyak pelumas SAE 10W-40. Hasil penelitian didapatkan bahwa sistem pelumasan modifikasi dengan penambahan dua buah katup pengatur minyak pelumas pada komponen camshaft menunjukan kekasaran intake cam lobe sebesar 0,316µm dan kekasaran exhaust cam lobe sebesar 0,343µm mempunyai nilai kekasaran lebih rendah dibandingkan dengan sistem pelumasan standar menghasilkan nilai kekasaran sebesar 0,639µm untuk intake cam lobe dan 0,433µm untuk exhaust cam lobe. Hal ini membuktikan bahwa dengan modifikasi desain dengan penambahan sebuah katup pengatur minyak pelumas dapat meminimalisir atau mengurangi resiko keausan camshaft.
OPTIMALISASI KINERJA MOTOR DIESEL DENGAN SISTEM PEMANASAN BAHAN BAKAR Supriyana, Nana; Hidayat, Taufiq
Simetris: Jurnal Teknik Mesin, Elektro dan Ilmu Komputer Vol 6, No 2 (2015): JURNAL SIMETRIS VOLUME 6 NO 2 TAHUN 2015
Publisher : Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (134.398 KB)

Abstract

ABSTRAK Perkembangan dunia otomotif maka banyak pemikiran untuk memodifikasi supaya unjuk kerja motor lebih baik. Salah satunya dengan memanaskan bahan bakar yang dilakukan pada motor diesel, hal ini dilakukan untuk menurunkan viskositas bahan bakar supaya bahan bakar lebih cair dan bahan bakar mudah untuk di injeksikan serta lebih mudah bercampur dengan udara, sehingga daya yang dihasilkan lebih besar dan konsumsi bahan bakar akan lebih irit. Untuk menjawab hal tersebut maka dilakukan penelitian pemanasan terhadap bahan bakar sebelum pompa injeksi pada motor diesel satu silinder. Penelitian ini mendapatkan hasil bahwa daya meningkat sebesar 3,5% pada temperatur 55C dan pada tempertur 65 sebesar 3,8% dari kondisi standart, serta torsi meningkat sebesar 3,5% pada temperatur 55C dan pada suhu 65 torsi meningkat sebesar 3,84% dari kondisi standart serta konsumsi bahan bakar menurun sebesar 3,5% pada temperatur 55C dan pada temperatur 65C menurun sebesar 29,4% dari kondisi standart. Kata kunci: motor diesel, perubahan suhu, unjuk kerja.
UJI PERFORMA MOTOR BENSIN BERBASIS PROGRAM LABVIEW Supriyana, Nana; Mastur, Mastur
Simetris: Jurnal Teknik Mesin, Elektro dan Ilmu Komputer Vol 9, No 2 (2018): JURNAL SIMETRIS VOLUME 9 NO 2 TAHUN 2018
Publisher : Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.567 KB)

Abstract

Performa motor bensin ditunjukan dalam data Torsi dan Daya, berbagai cara dilakukan untuk memperoleh data performa motor bensin mengukur output pada komponen crankshaft, temperatur saluran masuk dan saluran keluar ruang bakar dan temperatur lingkungan. Kegiatan penelitian bertujuan untuk memperoleh data performa pada motor bensin 4 langkah menggunakan software LabVIEW dan Data Aquisition menggunakan NI DAQ USB 6008 produk National Instrumen sebagai pengolah data. Penggunaan beberapa komponen seperti sensor putaran jenis induksi proximity, sensor temperatur dan sensor induksi tegangan tinggi, komponen penguat tegangan sensor dengan Roller Dynamometer Inertia tipe chassis. Hasil data performa motor bensin berupa Torsi dan Daya dapat terbaca pada alat uji dynamometer data Torsi mulai terbaca pada putaran 3750 RPM dengan nilai sekitar 10,65 Nm dan nilai maksimal pada putaran 7574 RPM sebesar 14,84 Nm sedangkan data Daya pada putaran 3750 sebesar 5,6 HP dan nilai maksimal pada putaran 8500 RPM dengan nilai sebesar 16,9 HP. Hasil penelitian tersebut memperlihatkan penggunaan software LabVIEW pada uji performa motor bensin tidak jauh berbeda dengan karakteristik yang dimiliki motor bensin.