Taufik Suprihatini
Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Diponegoro

Published : 106 Documents
Articles

Hubungan Antara Kesesuaian Format Siaran Acara ZOOM dan Kredibilitas Penyiar dengan Loyalitas Mendengarkan Program Acara ZOOM di Radio Ichthus. Listantyo, Daniel Dwi; Pradekso, Tandiyo; Suprihatini, Taufik
Interaksi Online Vol 1, No 3 (2013): Wisuda Agustus
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hubungan Antara Kesesuaian Format Siaran Acara ZOOM dan Kredibilitas Penyiardengan Loyalitas Mendengarkan Program Acara ZOOM di Radio Ichthus.AbstraksiRadio sebagai salah satu media massa yang dikonsumsi orang setiap hari baik untukmendapatkan informasi maupun hiburan. Di radio Ichthus terdapat program acara ZOOMdengan format siaran yang disesuaikan segmentasinya supaya menarik loyalitas pendengaruntuk mendengarkan program acara tersebut. Selain format siaran yang sesuai, kredibilitaspenyiar menjadi faktor lain untuk membuat program acara ZOOM lebih menarik dan lebihhidup. Penelititan ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kesesuaian format siaranprogram acara ZOOM dan kredibilitas penyiar dengan loyalitas mendengarkan program acaraZOOM di radio Ichthus. Peneliti menggunakan teori dari Geller yang menyatakan, Pendengaritu menyukai format. Format memberikan struktur, seperti dinding sebuah rumah. Orangorangingin sekali mengetahui siapa dan apa yang sedang mereka dengarkan, dan merekajuga ingin mengetahui waktu (Geller, 2007 : 35), Kita membentuk gambaran tentang dirikomunikator dari pengalaman langsung dengan komunikator itu atau dari pengalamanwakilan (vicarious experiences), misalnya karena sudah lama bergaul dengan dia dan sudahmengenal integritas kepribadiannya atau karena kita sudah sering melihat atau mendengarnyadalam media massa (Rakhmat, 2009 : 258).Populasi dari penelitian ini adalah anak muda beragama kristen yang berusia 15-25 di kotaSemarang. Penarikan sampel dilakukan secara aksidental sebanyak 50 orang. Uji hipotesisdilakukan dengan menggunakan uji statistik Kendal Tau untuk melihat hubungan antarakesesuaian format siaran (X1) dan kredibilitas penyiar (X2) dengan loyalitas mendengarkan(Y). Hasil pengujian hipotesis adalah hubungan antara kesesuaian format siaran programacara ZOOM dengan loyalitas mendengarkan menggunakan perhitungan Kendall Tau,diperoleh hasil bahwa nilai signifikansi sebesar 0,001 maka terdapat hubungan. Nilaikoefisien korelasi kesesuaian format siaran dengan loyalitas mendengarkan sebesar 0,428.Hal ini dapat dikatakan bahwa nilai signifikansi sebesar 0,001 < 0,01 yang berarti keduavariabel tersebut terdapat hubungan yang sangat signifikan dan hipotesis diterima. Dengandemikian, dapat dinyatakan bahwa “ada hubungan antara kesesuaian format siaran programacara ZOOM dengan loyalitas mendengarkan”. Sedangkan hubungan antara kredibilitaspenyiar dengan loyalitas mendengarkan menggunakan perhitungan Kendall Tau, diperolehhasil bahwa nilai signifikansi sebesar 0,189 maka tidak ada hubungan. Nilai koefisienkorelasi kredibilitas penyiar dengan loyalitas mendengarkan sebesar 0,174. Hal ini dapatdikatakan bahwa nilai signifikansi sebesar 0,189 > 0,05 yang berarti kedua variabel tersebuttidak signifikan dan hipotesis ditolak. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa “tidak adahubungan antara kredibilitas penyiar dengan loyalitas mendengarkan”.Keywords: kesesuaian, kredibilitas, loyalitasRelationship Between Compliance Programs Broadcast Format Zoom and Broadcaster Credibilitywith Loyalty Zoom Programs Listening On Radio Ichthus.AbstractionRadio as a mass media consumed a good person every day for information and entertainment. AtIchthus radio programs are broadcast format ZOOM with customized listener loyalty segmentationso interesting to listen to the event program. In addition to the appropriate broadcast format,broadcasters credibility is another factor to make the program more attractive ZOOM and morealive. This study was aimed to investigate the relationship between compliance programs broadcastformat ZOOM broadcaster with credibility and loyalty listening to radio programs in Ichthus ZOOM.Researchers used the theory of Geller stated, the audience liked the format. Format provides thestructure, such as the wall of a house. People want to know who and what they are hearing, andthey also want to know the time (Geller, 2007: 35), we form a picture of yourself communicatorsfrom direct experience with the communicator or representation of experience (vicariousexperiences), eg because it had long been hanging out with him and get to know the integrity of hispersonality or because weve seen or heard in the mass media (Rachmat, 2009: 258).The population is young people aged 15-25 who are Christians in the city of Semarang. Accidentalsampling conducted as many as 50 people. Hypothesis testing is done by using a statistical testKendal Tau to see the relationship between the suitability of the broadcast format (X1) and thecredibility of the broadcaster (X2) with loyalty listening (Y).Results of hypothesis testing is the relationship between the broadcast format compatibility withloyalty programs ZOOM listening using Kendall Tau calculation, the result that the significance valueof 0.001 then there is a relationship. Correlation coefficient values conformity with loyalty listeningto the broadcast format of 0.428. It can be said that the significance value of 0.001 <0.01 whichmeans that there is a relationship between the two variables are highly significant and thehypothesis is accepted. Thus, it can be stated that "there is a relationship between the broadcastformat compatibility with loyalty programs ZOOM listening". While the relationship betweencredibility and loyalty listening broadcasters using Kendall Tau calculation, the result that thesignificance value of 0.189 then there is no relationship. Correlation coefficient broadcaster withcredibility listening loyalty of 0.174. It can be said that the significance value of 0.189> 0.05, whichmeans that the two variables are not significant and the hypothesis is rejected. Thus, it can be statedthat "there is no relationship between the broadcaster with credibility listening loyalty".Keywords: suitability, credibility, loyaltyHubungan Antara Kesesuaian Format Siaran Program Acara ZOOM danKredibilitas Penyiar dengan Loyalitas Mendengarkan Program AcaraZOOM di Radio Ichthus.PENDAHULUAN : Peranan komunikasi massa melalui media massa pada saat sekarangsemakin penting dimana masyarakat berkaitan erat dengannya, media massa merupakansumber informasi bagi masyarakat. Dalam kehidupannya manusia tidak terlepas dari mediamassa yang setiap hari mengelilinginya. Orang cenderung menggunakan media seperti suratkabar, majalah, radio, televisi untuk menghubungkan diri mereka sendiri dengan masyarakatatau dengan kata lain untuk mendapatkan informasi tentang dunia diluar dirinya dan jugauntuk mendapatkan hiburan. Sama halnya dengan bentuk-bentuk media massa yang lainseperti koran, televisi, majalah, film. Radio sebagai salah satu media massa yang dikonsumsiorang setiap hari baik untuk mendapatkan informasi maupun hiburan. Radio termasuksebagai media mekanis, karena media ini menggunakan saluran tertentu secara teknis yaknipemancar. Melalui program-program siarannya, radio menjalankan fungsi-fungsi sebagaimedia massa. Fungsi media massa pada umumnya antara lain adalah memberi informasi,mendidik, membujuk dan memberi hiburan. Untuk media radio fungsi hiburan memiliki porsiyang lebih besar dibandingkan fungsi-fungsi yang lainnya. Jumlah media radio, khususnyaradio siaran swasta, sekarang ini semakin banyak dan semakin tersegmentasi. Seperti diSemarang, terdapat 5 radio rohani diantaranya : Ichthus FM, Goodnews FM, Agape FM,Rhema FM dan BeFM dengan segmentasi audiens merupakan umat Nasrani yang berbedabedadari segi usia, kelas ekonomi maupun jenis kelamin. Radio Ichthus adalah salah saturadio siaran swasta yang berdomisili di Semarang dengan segmentasi audiens umat Nasrani.Sebagai radio yang memiliki segmentasi audiens tertentu, maka program-program siaranyang disajikan disesuaikan terhadap pendengar. Seperti lagu-lagu yang diputar, topik-topikyang menjadi bahasan, informasi yang diberikan serta program siaran khusus, contohnyaacara siraman rohani yang menjadi mayoritas acara di radio Ichthus (radio rohani) dalammenjaga dan menumbuhkan iman para pendengar yang beragama Nasrani. Radio rohanimerupakan radio atau media yang dipakai sebagai perantara akan firman Tuhan bagi parapendengarnya yang kebanyakan umat Nasrani. Media ini mempunyai daya tarik tersendiridikalangan pendengar dikarenakan mempunyai kesamaan akan batin serta keyakinan.Terlebih lagi media radio rohani ini menjadi pilihan bagi umat Nasrani yang terlalu sibukakan pekerjaannya sehingga belum bisa meluangkan waktu untuk beribadah digereja. Selamaperjalanannya, pada tahun 2005 beberapa penyiar senior di radio Ichthus pindah ke radiorohani lain yang merupakan pesaing dari radio Ichthus itu sendiri, sehingga tidak jarangsebagian anggota monitor radio Ichthus yang dulu sering masuk on air sudah jarang sekaliterdengar saat ini dikarenakan mereka (pendengar) lebih mengikuti penyiar kesayangannyapergi. Radio Ichthus memperhitungkan jumlah anggota monitor yang ikut bergabung setiapbulannya, baik anggota monitor tersebut aktif atau pasif. Jumlah pendengar yang seringmasuk atau on air mempengaruhi pendapatan Ichthus melalui iklan karena pihak pengiklantidak mau mengiklankan produknya di radio yang sepi pendengar. Dengan adanya jumlahpendengar yang bergabung mempengaruhi pihak pengiklan untuk memakai jasa radioIchthus. ZOOM (Zona Orang-Orang Muda) merupakan sebuah program acara yang adadalam radio Ichthus. Fungsi dari acara ini yaitu berusaha mempererat hubungan anak mudaKristiani di kota Semarang dan sekitarnya bahkan siapa saja yang mendengarkan Ichthus.Selain tujuannya mempererat jalinan kasih, acara ini juga sebagai ajang untuk mengontrolkehidupan anak muda dalam bergereja serta kehidupan sosialnya, antara lain berupa prestasiatau segala hal yang berhubungan dengan luar gereja. Pendengar acara ini disebut Zoomers,karena acara ini bertema anak muda maka kata Zoomers yang berarti “pecinta ZOOM”dipakai untuk memberi semangat bagi para pecinta acara ini. Acara ZOOM hadir setiap hariSenin hingga Sabtu dengan tema yang berbeda-beda. Format siaran program acara ZOOMdisesuaikan dengan segmentasinya yaitu anak muda. Format siaran terbagi dalam 4 hal yaitu :acara, musik, informasi dan iklan yang ada pada sebuah acara. Acara ZOOM memiliki temayang yang berbeda dalam tiap harinya selama 6 hari mengudara. Acara yang membahasmengenai kehidupan anak muda, mengenai gaya berpakaian, teknologi, hobby serta prestasiyang diperoleh entah di akademik maupun di kalangan professional. Acara Zoom merupakanacara di radio Icthus yang memiliki rating tinggi dikarenakan feedback dari pendengar yangsangat antusias. Dibandingkan dengan acara lainnya, acara Zoom selalu mendapat respondalam bentuk telepon secara on air dan SMS terbanyak di setiap acara berlangsung. Karenaacara Zoom merupakan acara untuk anak muda, maka penyiarnya juga disesuaikan berusiasekitar 15-25 tahun. Penyiar Zoom yang telah melebihi usia 25 tahun di pindah ke acara yanglain, sehingga secara otomatis penyiar junior menggantikan posisi para seniornya. Dalampergantian beberapa penyiar senior dengan penyiar junior, acara Zoom pernah mengalamipenurunan feedback dalam bentuk telepon maupun SMS pada saat on air. Selama mengudarakredibilitas penyiar pada Acara Zoom di radio Ichthus juga sering mendapat kritikan daripendengar yang menelepon ke studio pada saat off air. Beberapa kritikan yang disampaikankepada sebagian penyiar antara lain : artikulasi kurang jelas, banyak bicara pada saat siaran /banyak bercanda, kurang pintar mengolah kata-kata, materi siaran kurang dipahami sehinggapenyampaian menjadi bias, terlalu cepat berbicara, lupa memutarkan lagu yang di request dll.Beberapa hal tersebut menjadi tolak ukur bagi Radio Ichthus sendiri untuk meningkatkankualitas penyiarnya. Meski program acara ZOOM di radio Ichthus memiliki rating tinggikarena feedback yang antusias, tidak berarti program acara tersebut akan selalu baik apabilaIchthus kurang jeli dan teliti dalam menjaga program acara di radio Ichthus. Dengan formatsiaran yang dimiliki program acara ZOOM bukan berarti acara ZOOM telah memenuhisemua keinginan audiens. Penurunan jumlah pendengar terjadi pada acara ZOOM di akhirtahun 2009 hingga 2011. Kenyataan ini dapat dilihat dari penerimaan SMS dan telepon secaraOn Air yang tidak stabil. Penyiar program acara ZOOM juga sering mendapat mendapatkritikan dari para pendengar, diantaranya terlalu banyak berbicara pada saat siaran,membahas topik-topik yang dirasa tidak perlu, banyak bercanda, kurang memahami materisiaran, kurang pintar mengolah kata-kata artikulasi kurang jelas, terlalu cepat berbicara lupamemutarkan lagu yang di-request dan lain-lain. Jika dilihat dari format siaran program acaraZOOM dan kredibilitas penyiar, mungkinkah ada ketidaksesuaian dengan kebutuhanpendengar sehingga mempengaruhi loyalitas? Dari hal tersebut, muncullah pertanyaanapakah ada hubungan antara kesesuaian format siaran program acara ZOOM dan kredibilitaspenyiar dengan loyalitas mendengarkan acara ZOOM di radio Ichthus?PEMBAHASAN : Komunikasi Radio, Para pelaku industri radio harus paham betulmengenai teori-teori komunikasi jika ingin menguasai pasar dan mendapat banyakpendengar. Pada intinya semua media termasuk radio adalah sarana penyampai pesan untukpara komunikan. Teori klasik yang berkatian dengan hal ini adalah sebuah teori yangdikemukakan oleh Aristoteles. Dia menyebutkan bahwa unsur sebuah komunikasi adalapembicara (speaker), dalam hal ini adalah penyiar (jika di media radio), kemudian pesantermasuk hasil menulis di radio (message), dan materi siaran serta pendengar (listener)(Prayudha, 2006 : 3). Kemudian sebuah teori yang umum dan sangat terkenal dari Lasswellyang menyebutkan bahwa who says what in which channel to whom with what effects. Modeltersebut lebih menitikberatkan pada kelompok khusus yang bertanggung jawab dalammelaksanakan fungsi korelasi. Misalnya, dalam lingkungan radio siaran, seorang penyiarmembantu mengkorelasikan atau mengumpulkan respon orang-orang teradap informasi baru.Jika teori tersebut diaplikasikan dalam siaran radio, model Lasswell terdiri dari atas unsurpengirim (who - komunikator/ penyiar) yang merangsang pertanyaan mengenai pengendalianpesan, unsur pesan (say what – pesan/ bahan) untuk analisis isi siaran radio, salurankomunikasi (in which cannel – media) yang dikaji dalam analisis media radio, unsurpenerima (to whom – receiver/ pendengar) yang dikaitkan dengan analisis khalayak, danunsur pengaruh (with what effect – influence akibat)yang ditimbulkan pesan komunikasi padapendengar (Prayudha, 2006 : 7). John R. Wenburg dan William W. Wilmot mengemukakantiga konseptualisasi komunikasi, yaitu komunikasi sebagai tindakan satu arah, interaksi (duaarah) dan transaksi. Komunikasi yang terjadi pada media, seperti radio dan televisimerupakan bentuk konseptualisasi komunikasi interaksi, yaitu komunikasi dengan suatuproses sebab akibat atau aksi-reaksi, yang arahnya bergantian (Mulyana, 2003 : 65). Sebagaicontoh di dunia radio, ketika penyiar memberikan topik atau bahasan kepada pendengarnya,hal itu menandakan bahwa penyiar sedang memberikan aksi atau sebab. Ketika pendengarmulai memberikan feedbacknya berupa SMS atau telepon, hal itu menandakan adanya reaksiatau akibat. Radio memiliki karakteristik yang unik. Meskipun hanya bisa didengarkanternyata efek mendengarkan radio tidak kalah dengan media audio visual yaitu televisi. Radiobisa menjadi media penyampaian pesan yang sangat efektif. Sculberg dalam bukunya RadioAdvertising – The Authoritative Handbook, mengatakan bahwa para ahli psikologi telahmenyimpulkan bahwa memori ingatan yang berasal dari aspek pendengaran manusia,ternyata jauh lebih kuat daripada ingatan yang diperoleh dari indera penglihatan ataupenciuman (Prayudha, 2006 : 12). Radio memiliki kekuatan yang dapat memunculkan theaterof mind bagi para pendengarnya. Radio dapat membuat pendengar merasa akrab dan dekatseperti seorang teman atau sahabat yang sedang mengajak bicara, juga dapat berinteraksimelalui SMS ataupun telepon. Memberi masukan ataupun sekedar membagi informasi danopini untuk pendengar lainnya dapat menjadi alternatif. Selain itu, juga dapat mendengarkanmusik favorit dari radio. Format Siaran Radio, Perkembangan media massa khususnyaradio yang semakin maju, merupakan tantangan bagi pelaku industri media massa untukmengembangkan media tersebut. Perkembangan ini kemudian menimbulkan persaingan yangketat sehingga konsekuensi bagi pelaku industri media adalah keharusan untuk menyajikanprogram acara dan lagu yang menarik dan diminati audien. Seiring dengan perkembanganjaman, saat ini industri radio sudah menjadi sebuah komoditi bisnis yang menguntungkan.Hal ini dikarenakan, radio memang dirancang untuk memiliki sebuah penataan format acaradan format musik yang sedemikian rupa, sehingga mampu menarik pendengar dari berbagaimacam latar belakang (Schament, 2002 : 811). Seperti yang sudah disinggung sebelumnya,bahwa format adalah penyajian program dan musik yang memiliki ciri-ciri tertentu olehstasiun radio. Secara lebih sederhana dapat dikatakan format stasiun penyiaran atau formatsiaran radio dapat didefinisikan sebagai upaya pengelola stasiun radio untuk memproduksiprogram siaran yang dapat memenuhi kebutuhan audiensnya (Morrisan, 2009 : 220). MenurutMorrisan dalam bukunya Pringle Starr McCavitt menjelaskan bahwa : the programming ofmost station is dominate by one principal content element or sound, known as format.Artinya, program sebagian besar stasiun radio didominasi oleh satu elemen isi atau suarayang utama yang dikenal dengan format (Morrisan, 2009 : 220). Geller mengatakan bahwapendengar itu menyukai format. Format memberikan struktur, seperti dinding sebuah rumah.Orang-orang ingin sekali mengetahui siapa dan apa yang sedang mereka dengarkan, danmereka juga ingin mengetahui waktu (Geller, 2007 : 35). Artinya, pendengar lebih nyamanmemilih radio yang memang sudah jelas format dan strukturnya. Siapa penyiar dan informasiapa yang disampaikan semuanya jelas dan mudah dimengerti. If you can create qualityprogramming, consistently stick with a host, program, or format over the time it takes to findits audience, you will likely have your own success story (Geller, 2007 : 5). Artinya, jikasebuah stasiun radio mampu menciptakan program yang berkualitas termasuk program yangkreatif di dalamnya, selain itu dengan penyiar yang konsisten dan format yang sesuai, makadengan sendirinya pendengar akan menjadi konsumen yang loyal bagi radio tersebut danakan memunculkan persepsi bahwa format siaran radio tertentu sesuai dengan dirinya.Kredibilitas Penyiar, Penyiar adalah orang yang bertugas membawakan atau memanduacara di radio, menjadi ujung tombak radio dalam berkomunikasi atau berhubungan langsungdengan pendengar. Keberhasilan sebuah program acara dengan parameter jumlah pendengardan pemasukan iklan utamanya ditentukan oleh kepiawaian penyiar dalam membawakansekaligus menghidupkan acara tersebut (Rosalia, 2010 : 28-29). Penyiar merupakan ujungtombak keberhasilan sebuah radio. Melalui seorang penyiar, radio menyampaikan visi misi,informasi dan berita untuk kebutuhan dan konsumsi pendengar. Ibarat bermain film, penyiarmerupakan aktor yang memerankan suasana sebuah siaran radio. Sebagai aktor, penyiar harusmengendalikan empat senjata utama, yaitu pikiran, perasaan, suara dan raga (Masduki, 2004 :117). Sementara itu, modal yang harus dimiliki seorang penyiar adalah suara, percaya diri,hobi dan bakat (ngobrol-ngobrol dan bakat menghibur), wawasan dan pergaulan luas,penguasaan studio yang baik (Ningrum, 2007 : 23-27. Selain itu, penyiar juga dituntutmemiliki beberapa keterampilan yang mendukung performa siarannya. Secara umum ada tigaketerampilan yang harus dikuasai para DJ dan penyiar. Pertama announcing skill,keterampilan menuturkan segala sesuatu menyangkut musik, kata atau lirik lagu yangdisajikan. Kedua, operating skill, yaitu keterampilan mengoperasikan segala peralatan siaran.Ketiga, musical touch, yaitu keterampilan merangkai musik dalam tatanan yang menyentuhemosi pendengar, bercita rasa dalam seleksi, harmonis dalam rangkaian (Masduki, 2004 :119). Sedangkan dari segi kepribadian, announcer atau penyiar perlu membentuk sikap(attitude), bahasa (language), memiliki wawasan professional (knowledge). Sikap yang harusdimiliki adalah (1) sopan di udara sesuai dengan kebutuhan situasi acara, (2) menghargaiwaktu, (3) bertanggung jawab, rendah hati, (4) tidak mengurai (Masduki, 2004 : 120). Uraiandiatas menunjukan bahwa banyak sekali yang harus dipersiapkan dan dimiliki oleh seorangpenyiar. Hal ini dikarenakan seorang penyiar memiliki tanggung jawab dan tugas yang besar.Departemen perburuhan AS dalam paparan seputar lowongan pekerjaan diradio siaran diAmerika Serikat menggambarkan penyiar radio sebagai sosok dengan banyak aktivitas atautugas kerjanya, beberapa tugasnya adalah sebagai berikut (Masduki : 2004 : 121-122).Loyalitas Mendengarkan, Loyalitas adalah komitmen pelanggan bertahan secara mendalamuntuk berlangganan kembali atau melakukan pembelian ulang produk atau jasa terpilih secarakonsisten di masa yang akan datang, meskipun pengaruh situasi dan usaha-usaha pemasaranmempunyai potensi untuk menyebabkan perubahan perilaku (Hartiti, 2003 : 129). Masihdalam buku yang sama, Griffin menjelaskan bahwa loyalitas lebih mengacu pada wujudperilaku dari unit-unit pengambilan keputusan untuk melakukan pembelian secara terusmenerus terhadap barang atau jasa suatu perusahaan yang terpilih. Sama halnya denganperusahaan radio, ketika ada seorang pendengar yang dengan setia mendengarkan dari waktuke waktu, hal itu merupakan indikasi seorang pendengar yang loyal. Hal Ini menunjukkanbahwa usaha maksimal yang dilakukan oleh radio berhasil. Produk yang diproduksi olehradio berupa informasi atau berita, penyiar yang menyenangkan dan musik yang disajikandalam suatu program mampu menarik hati para pendengar. Kunci keberhasilan sebuah radioadalah kelokalan itu sendiri, sehingga bisa mempengaruhi hati pendengarnya. Sifat radioyang sangat pribadi seakan-akan mampu me-maintainance atau melayani pendengar denganperhatian yang maksimal. Geller mengatakan, bahwa the key to personality radio is logically,having a personality. This means having rich, full life and drawing or all of your experiences.How you relate to life is how your audience will relate to you. The best broadcaster are greatoservers of life. They filter what they see going on around them through their unique creativeproses and send it back to the world. Artinya, kunci radio secara logika, memilikikepribadian. Hal ini berarti kaya makna, penuh arti kehidupan dan gambaran akan semuapengalaman Anda. Bagaimana Anda berhubungan dengan kehidupan adalah bagaimanaaudiens Anda akan berhubungan dengan Anda. Penyiar terbaik adalah pembagi pengalamandalam kehidupan. Mereka menyaring apa yang mereka lihat, atau yang terjadi di sekitarmereka melalui proses kreatif yang unik dan memberikan kembali pada dunia (Geller, 2007 :3). Radio mampu menjadi teman sejati bagi pendengar, membagikan banyak sekalipengalaman (penyiar) dan memberikan gambaran hidup yang kadang berarti bagi pendengar.Dengan ini akan ada kedekatan emosi antara radio dan juga pendengarnya. Terlebih lagidengan sajian lagu-lagu yang banyak sesuai dengan hati sehingga membuat pendengarnyamakin nyaman. Penelitian ini menggunakan tipe penelitian eksplanatori (penjelasan) karenamenjelaskan hubungan antara tiga variabel penelitian. Variabel itu meliputi kesesuaianformat siaran program acara ZOOM, kredibilitas penyiar dan loyalitas mendengarkanprogram acara ZOOM pada radio Ichthus. Populasi dalam penelitian ini adalah anak mudayang beragama Nasrani di kota Semarang berusia sekitar 15-25 tahun yang pernah atau seringmendengarkan siaran radio Ichthus terutama tentang program acara Zoom (Zona Orang-Orang Muda). Sampel yang diambil dalam penelitian ini sebanyak 50 orang, sesuai denganteori Gay & Diehl (1992 : 146) mengenai ukuran sampel yang dapat diterima. Merekamengemukakan bahwa untuk penelitian korelasi, secara minimum tolok ukurannya sekitar 30subyek sebagai obyek penelitian (Ruslan, 2003 : 47). Karena besarnya populasi yang tidakdapat dketahui secara pasti, metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik nonprobability sampling, yaitu metode sampling yang tidak memberi kesempatan atau peluangyang sama bagi setiap unsur atau populasi untuk dipilih menjadi sampel. Teknik pengambilansampel menggunakan metode sampling Accidental, merupakan teknik penentuan sampelberdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan/ incidental bertemu denganpeneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itucocok sebagai sumber data (Kriyantono, 2006 : 156). Adapun kriteria orang yang cocokmenjadi sampel adalah : beragama Kristen, berusia 15-25 tahun, pernah mendengarkanAcara Zoom di Radio Icthus. Uji Hipotesis, Analisis ini menggunakan tes statistik korelasiuntuk menguji apakah terdapat hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikatdengan menggunakan rumus Kendal Tau (τ) karena data yang digunakan memakai skalaordinal. (Sugiyono, 2006 : 237). Perhitungan menggunakan SPSS 18. Berdasarkan hasil ujistatistik hubungan antara kesesuaian format siaran program acara ZOOM dengan loyalitasmendengarkan menggunakan perhitungan Kendall Tau, diperoleh hasil bahwa nilaisignifikansi sebesar 0,001 maka terdapat hubungan. Nilai koefisien korelasi kesesuaianformat siaran dengan loyalitas mendengarkan sebesar 0,428. Hal ini dapat dikatakan bahwanilai signifikansi sebesar 0,001 < 0,01 yang berarti kedua variabel tersebut terdapat hubunganyang sangat signifikan dan hipotesis diterima. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa“ada hubungan antara kesesuaian format siaran program acara ZOOM dengan loyalitasmendengarkan”. Teori yang digunakan juga sesuai, seperti yang dikatakan Geller bahwapendengar itu menyukai format. Format memberikan struktur, seperti dinding sebuah rumah.Orang-orang ingin sekali mengetahui siapa dan apa yang sedang mereka dengarkan, karenapendengar lebih nyaman memilih radio yang memang sudah jelas format dan strukturnya.Terbukti bahwa format siaran program acara ZOOM yang bertema anak muda sesuai denganpendengar, mulai dari pembahasan acara, informasi, musik dan iklan disukai oleh pendengarsehingga membuat mereka (pendengar) loyal dalam mendengarkan program acara tersebutsecara bertahap atau berkali-kali. Sedangkan, berdasarkan hasil uji statistik hubungan antarakredibilitas penyiar dengan loyalitas mendengarkan menggunakan perhitungan Kendall Tau,diperoleh hasil bahwa nilai signifikansi sebesar 0,189 maka tidak ada hubungan. Nilaikoefisien korelasi kredibilitas penyiar dengan loyalitas mendengarkan sebesar 0,174. Hal inidapat dikatakan bahwa nilai signifikansi sebesar 0,189 > 0,05 yang berarti kedua variabeltersebut tidak signifikan dan hipotesis ditolak. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa“tidak ada hubungan antara kredibilitas penyiar dengan loyalitas mendengarkan”. Dengankata lain dalam penelitian ini, walaupun pendengar acara ZOOM telah mendengarkan secaralangsung ketika penyiar melaksanakan siaran, termasuk mengetahui kemampuan yangdimiliki oleh seorang penyiar mulai dari kompetensi, atraktif atau dinamis, kepercayaan dankesungguhan saat siaran, belum tentu menjamin mereka (pendengar) untuk loyal terhadappenyiar tersebut, melainkan pendengar loyal dalam mendengarkan program acara ZOOMkarena format siaran acara ZOOM telah sesuai dengan apa yang diinginkan pendengar, tidakpeduli siapapun penyiar yang membawakan program acara tersebut. PENUTUP : Karenaformat siaran program acara ZOOM ada hubungan dengan loyalitas mendengarkan maka halyang kurang sesuai dalam format siaran seperti iklan, untuk disesuaikan dengan segmentasiprogram acara ZOOM yaitu anak muda. Untuk itu kesimpulan dari pengujian hipotesis ialahTerdapat hubungan positif yang signifikan antara kesesuaian format siaran program acaraZOOM dengan loyalitas mendengarkan program acara ZOOM, hal tersebut ditunjukkandengan nilai signifikansi sebesar 0,001. Sehingga semakin sesuai format siaran program acaraZOOM maka pendengar semakin loyal mendengarkan program acara ZOOM di radioIchthus. Sedangkan hasil uji variable selanjutnya tidak terdapat hubungan yang signifikanantara kredibilitas penyiar dengan loyalitas mendengarkan program acara ZOOM, haltersebut ditunjukkan dengan nilai signifikansi sebesar 0,189 atau melebihi dari ketentuanstandar siginifikasi 0,05. Sehingga hipotesis ditolak, dan beberapa hal untuk menilai ataumeneliti mengenai kredibilitas penyiar bisa dijelaskan oleh sebab-sebab yang lain yang tidakditeliti dalam penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA : Bramson, Robert. 2005. CustomerLoyaliti : 50 Strategi Ampuh Membangun dan Mempertahankan loyalitas Pelanggan. Jakarta: PT Prestasi Pustaka. Geller, Valerie. 2007. Creating Powerful Radio : Getting, Keeping &Growing Audiences. Jordan Hill Oxford : Elsevier Inc. Gray, Frank dan James, Ross. 1997.Radio Programming Roles; FEBC Perspectives. Yaski. Hartiti. 2003. Loyalitas Pelanggan.Bandung : Yayasan Nuansa Cendikia. Kriyantono, Rachmat. 2006. Teknik Praktis RisetKomunikasi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Masduki. 2001. Jurnalistik Radio;Menata Profesionalisme Reporter dan Penyiar. Yogyakarta : LKIS. Masduki. 2004.Menjadi Broadcaster Profesional. Yogyakarta : LKIS. McQuail, Denis. 1987. TeoriKomunikasi Massa . Edisi Kedua. Jakarta : Erlangga. Morrisan, MA. 2009. ManajemenMedia Penyiaran : Strategi Mengelola Radio dan Televisi. Jakarta : Kencana Prenada MediaGroup. Ningrum, Fatmasari. 2007. Sukses Menjadi Penyiar, Scriptwriter dan Reporter Radio.Depok : Penebar Swadaya. Prayudha, Harley. 2004. RADIO; Suatu Penghantar untukWacana dan Praktik Penyiaran. Malang : Bayumedia Publishing. Prayudha, Harley. 2006.Radio : Penyiar It’s not just a talk. Malang : Bayumedia Publishing. Rakhmat, Jalaluddin.2009. Psikologi Komunikasi. Bandung : Remaja Rosdakarya. Rakhmat, Jalaluddin. 2007.Metodologi Penelitian Komunikasi. Bandung : Remaja Rosdakarya. Sumarwan, Ujang.2003. Perilaku Konsumen; Teori dan Penerapannya Dalam Pemasaran. Jakarta : GhaliaIndonesia. Sugiyono. 2007. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung:CV Alfabeta. Sunyoto, W. Daniels Handoyo. 1978. Seluk Beluk Programa Radio.Yogyakarta : Penerbitan Yayasan Kanisius. Vivian, John. 2008. Teori Komunikasi Massa.Jakarta : Kencana Prenada Media Group. Wardhana, Ega. 2009. Sukses Menjadi PenyiarRadio Profesional. Yogyakarta : CV Andi Offset.
Sikap Harian Kedaulatan Rakyat Terhadap Pemberitaan Kasus Penembakan di Lapas Cebongan Siregar, Tineke Kristina; Suprihatini, Taufik; Nugroho, Adi
Interaksi Online Vol 1, No 4 (2013): Wisuda Oktober
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sikap Harian Kedaulatan Rakyat Terhadap Pemberitaan Kasus Penembakan di LapasCebongan(Analisis Framing: Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat Periode 24 Maret – 23 Mei2013)ABSTRAKOrganisasi media massa dalam membingkai sebuah berita diharapkan dapat membingkaisuatu peristiwa atau berita sesuai dengan fakta yang di dapat pada saat melakukan liputan dilapangan. Penelitian ini menggunakan paradigma konstruksionis. Metode penelitian yangdigunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif, dengan analisis framing untuk melihatbagaimana SKH Kedaulatan Rakyat dalam membingkai pemberitaan kasus penenembakan diLP Cebongan. Penelitian ini menggunakan teori Zhongdang Pan dan Gerald M Kosicki.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberitaan yang dilakukan oleh SKH KedaulatanRakyat tentang kasus penembakan empat tahanan di Lapas Cebongan oleh anggota Kopassusbahwa adanya keberpihakan SKH Kedaulatan Rakyat secara tidak langsung kepada pihakKopassus. Pada awal pemberitaan yang disajikan oleh SKH Kedaulatan Rakyat dalammenentukan sikapnya, isi berita masih terlihat “abu-abu”. Surat kabar ini terlalu fokus padaunsur Who (Siapa) dan cenderung mengabaikan How (Bagaimana) sebagai salah satu unsuryang seharusnya dipenuhi dalam mengkonstruksi suatu pemberitaan.Kata Kunci : Kopassus, Lapas Cebongan, Tahanan.The Demeanor of Harian Kedaulatan Rakyat About Reporting The Shooting Case inCebongan Prisons(Framming Analysis: Daily News of Kedaulatan Rakyat Period 24th March – 23rd May2013)ABSTRACTIn order to framming an event, mass media organization has been expected to offer newsappropriately in according to reality which is gotten when reasearching in the field. Thisresearch use constructive paradigm and descriptive-qulitative as the method, with framminganalysis. This research uses theory which is given by Zhongdang Pan and Gerald M Kosicki.This research results showed that based on SKH Kedaulatan Rakyat’s reports about firingcase of four prisoners in Cebongan penitentiary by Army Social Forces members indicates.SKH Kedalautan Rakyat has indirectly certain interest with Army Social Forces. In thebeginning of the news which provided by SKH Kedaulatan Rakyat in choosing theirbelonging, the content of the news seems unclearly. This newspaper extremely focus on thesubject (Who), instead of analyze the news comprehensively (How).Keywords : Kopassus, Cebongan penitentiary, prisons.Sikap Harian Kedaulatan Rakyat Terhadap Pemberitaan KasusPenembakan di Lapas Cebongan(Analisis Framing: Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat Periode 24Maret – 23 Mei 2013)SkripsiBAB IPENDAHULUAN1.1. Latar BelakangPemenuhan kebutuhan manusia akan informasi adalah merupakan suatu hal yang dianggapbegitu penting. Sama halnya dengan pemberitaan yang dilakukan oleh harian KedaulatanRakyat, dimana dalam hal ini, Kedaulatan Rakyat sebagai salah satu surat kabar lokal DIYjuga memberikan pemberitaan mengenai kasus penembakan 4 di Lapas Cebongan,Yogyakarta. Berikut berita yang dihasilkan oleh harian Kedaulatan Rakyat:Segerombolan pria bersenjata api laras panjang, Sabtu (23/3) dini harimenyerbu Lapas Sleman yang terletak di Cebongan Sleman.Berhasil masuk ke dalam, para pelaku kemudian menembak empattersangka, yakni Andrianus Candra alias Dedi (33), Hendrik BenyaminSahetapi alias Dicky (38), Gameliel Yermianto alias Adi Lado (29), danYohanes Juan Mambait (38).(Sumber : harian Kedaulatan Rakyat, 24 Maret 2013, Lapas Cebongan SlemanDiserbu 4 Tahanan Tewas).Peneliti menggunakan surat kabar harian Kedaulatan Rakyat sebagai objek dalampenelitian ini karena peneliti menilai bahwa surat kabar harian Kedaulatan merupakan suatusurat kabar lokal yang isi teks beritanya dianggap layak untuk digunakan dalam penelitiankhususnya analisis framing. Dalam hal ini peneliti mencoba melakukan penelitian denganmenggunakan analisis framing dalam kasus ini.1.2. Perumusan MasalahPermasalahan yang akan diteliti oleh peneliti yaitu: Bagaimana sikap harianKedaulatan Rakyat dalam membingkai (frame) pemberitaan Kasus Penembakan 4 orangTahanan oleh Anggota Kopassus di Lembaga Pemasyarakatan Cebongan?1.3. Tujuan PenelitianUntuk mengetahui sikap harian Kedaulatan Rakyat dalam mengkonstruksipemberitaan Kasus Penembakan Lembaga Pemasyarakatan Cebongan.1.4. Kegunaan Penelitian1.4.1 Kegunaan SosialPenelitian ini diharapkan nantinya dapat membantu masayarakat umum khususnyadalam mengkonsumsi media. Diharapkan masyarakat dapat dengan kritis dalammemilah dan memilih media yang ingin dikonsumsi1.4.2 Kegunaan TeoritisPenelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan ilmiah dan memperkayakajian ilmu komunikasi khususnya mengenai persoalan yang berkaitan denganpembingkaian berita dengan menggunakan teori Zhongdang Pan dan Gerald M.Kosicki1.4.3 Kegunaan PraktisAgar dengan membaca penelitian ini, pembaca mengetahui sikap media massadalam peran surat kabar sebagai media massa yang memiliki pandangan yangberbeda-beda dalam mengonstruksi realitas yang ada.1.5. Kerangka Pemikiran Teoritis1.5.1. Paradigma Penelitian1.5.2. State of the art1.5.3. Media Massa1.5.4. Skema dan Produksi Berita1.5.5. Konstruksi Sosial1.5.6. Teori Analisis Framing1.5.6.1. Definisi dan Ideologi Framing1.5.6.2. Efek Framing1.5.6.3. Model Framing : Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki1.6. Metode Penelitian1.6.1. Tipe PenelitianPenelitian yang akan dilakukan ini menggunakan tipe penelitian kualitatif yang bersifatdeskriptif dengan menggunakaan metode analisis framing.1.6.2. Subjek PenelitianHarian Kedaulatan Rakyat periode 24 Maret- 23 Mei 2013.1.6.3. Sumber Dataa. Data PrimerHarian Kedaulatan Rakyat periode 24 Maret- 23 Mei 2013.b. Data sekunderData Sekunder dalam penelitian ini berupa data yang diperoleh diluar dariHarian Kedaulatan Rakyat seperti literatur-literatur, sumber bacaan bukutertulis .1.6.4. Teknik Pengumpulan DataDokumen eksternal, yaitu data-data unit analisis dikumpulkan dengan cara mengumpulkandata dari bahan-bahan tertulis yang disiarkan dari media massa.1.6.5. Analisis Data.Perangkat frame dapat dibagi ke dalam struktur besar menurut Zhongdang Pan dan GeraldM. Kosicki. Pertama, struktur Sintaksis. Kedua, struktur Skrip. Ketiga, struktur Tematik.Keempat, struktur Retoris.BAB IIGAMBARAN UMUM HARIAN KEDAULATAN RAKYAT DAN PEMBERITAANKASUS PENEMBAKAN 4 TAHANAN LP CEBONGAN DALAM HARIANKEDAULATAN RAKYAT2.1. Perkembangan Surat Kabar CetakSurat kabar adalah media massa yang paling tua dibandingkan dengan media massalainnya. Di Indonesia, surat kabar berkembang pesat dengan peran dan fungsinya sendirisebagai penyampai informasi kepada masyarakat luas hingga saat ini.2.2. Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat2.2.1. Sejarah Berdirinya Harian Kedaulatan Rakyat2.2.2. Kepemilikan dan Kepemimpinan Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat2.2.3. Visi dan Misi Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat2.2.4. Kegiatan Sosial dan Penghargaan yang diterima Surat Kabar HarianKedaulatan Rakyat2.2.5. Rubrik Dalam Cetakan SKH Kedaulatan Rakyat dan Tiras SKHKedaulatan Rakyat .2.2.5.1. Rubrik Dalam Cetakan SKH Kedaulatan Rakyat2.2.5.2. Tiras Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat2.2.6. Jumlah Pembaca dan Profil Pembaca SKH Kedaulatan Rayat2.2.6.1. Jumlah Pembaca SKH Kedaulatan Rakyat2.2.6.2. Profil Pembaca SKH Kedaulatan Rakyat2.2.7. Struktur Organisasi dan Profil Harian Kedaulatan Rayat2.3. Deskripsi Kasus Penembakan 4 Orang Tahanan LP Cebongan Dalam HarianKedaulatan RakyatBAB IIISTRUKTUR FRAME PEMBERITAAN KASUS PENEMBAKAN EMPAT ORANGTAHANAN LP CEBONGAN1. Berita tanggal 24 Maret 2013Sintaksis : Menjelaskan kronologis penyerangan LapasSkrip : Unsur Why dalam berita ini tidak disebutkan.Tematik :Seluruh paragraf menerangkan mengenai kronologis penyerangan.Retoris : Gambar2. Berita tanggal 25 Maret 2013Sintaksis : Pihak kepolisian belum berhasil mengidentifikasi pelaku penyerang.Skrip : 5W+1H : sudah memenuhi kriteria.Tematik : menerangkan mengenai pengidentifikasian dan proses pencarian fakta-faktamengenai pelaku penyerang Lapas.Retoris : -3. Berita tanggal 26 Maret 2013Sintaksis : Menerangkan belum ditemukannya sidik jari penyerbu Lapas.Skrip : Tidak terdapat unsur how.Tematik : Seluruh paragraf menerangkan mengenai tahanan yang masih mengalamitrauna akibat penyeranganRetoris : Gambar4. Berita tanggal 27 Maret 2013Sintaksis : Menerangkan bahwa presiden SBY meminta Panglima TNI untuk membantuPolri mengungkap identitas pelaku penyerang.Skrip : Tidak terdapat unsur how.Tematik : terdapat keterkaitan antara paragraf 3 dan 5 yang menekankan peran polridalam pengungkapan penyerang Lapas.Retoris : Gambar.5. Berita tanggal 28 Maret 2013Sintaksis : Polri sudah mulai menemukan titik terang pelaku Lapas dan terdapat sandikhusus pelaku penyerangan.Skrip : Tidak terdapat unsur why dan how.Tematik : Isi berita merupakan pemberitaan terkait pengumpulan fakta dan buktipenyerangan LapasRetoris : Idiom6. Berita tanggal 30 Maret 2013Sintaksis : memberikan keterangan bahwa Tim 9 diterjunkan untuk mengusut kasusCebongan.Skrip : Tidak terdapat unsur why dan how.Tematik : isi pemberitaan hanya memberikan keterangan mengenai keterlibatan oknumTNI AD dalam penyerangan Lapas.Retoris : Gambar7. Berita tanggal 01 April 2013Sintaksis : memberikan keterangan mengenai pengamanan Polda DIY dan sketsaPenyerang Lapas akan disebar.Skrip : Hanya terdapat unsur where dan when saja.Tematik : Tidak begitu menunjukkan bahwa adanya keterkaitan antar paragraf.Retoris : Gambar8. Berita tanggal 02 April 2013Sintaksis : mengenai belum adanya tersangka kasus penyerangan Lapas Cebongan.Skrip : Tidak terdapat unsur who, why dan how.Tematik : Adanya keterkaitan antara paragraf 4 dan 6. Dimana dalam hal ini lebihmenekankan adanya keterkaitan TNI dalam penyerangan Lapas.Retoris : Gambar9. Berita tanggal 04 April 2013Sintaksis : memberikan keterangan mengenai penerjunan tim 9 ke Lapas belummenunjukkan adanya petunjuk pelaku penyerang Lapas.Skrip : Hanya terdapat unsur what, where dan when.Tematik : seluruh paragraf dari berita ini memberikan keterangan mengenai investigasiyang dilakukan oleh tim 9.Retoris : -10. Berita tanggal 05 April 2013Sintaksis : memberikan keterangan bahwa oknum Kopassus mengaku serang Lapas danPenyerang siap bertanggung jawab atas peristiwa tersebut.Skrip : Unsur how tidak terdapat dalam berita.Tematik : berisi tentang pengakuan oknum Kopassus terhadap serangan ke Lapas danterkait dengan kronologis penyerangan.Retoris : Gambar11. Berita tanggal 06 April 2013Sintaksis : tentang pertanggung jawaban Komandan Jenderal terhadap penyerbuan anakbuahnya ke Lapas Cebongan.Skrip : Unsur how tidak terdapat dalam berita.Tematik : berisi tentang pertanggung jawaban Danjen terhadap anak buahnya yangmenyerang Lapas.Retoris : -12. Berita tanggal 10 April 2013Sintaksis : Judul berita : Judul ini memberikan keterangan terkait proses hukum yangakan dilakukan oleh 11 oknum Kopassus.Kutipan sumber: memberikan keterangan terkait persidangan yang akandilakukan.Skrip : Unsur how tidak terdapat dalam berita.Tematik : seluruh berita ini berisi tentang mengenai penyelidikan dan status 11 oknumKopassus.Retoris : Gambar13. Berita tanggal 12 April 2013Sintaksis : memberikan keterangan bahwa tidak perlunya menggunakan DewanKehormatan Militer karena kasus ini dinilai bukanlah pelanggaran HAM.Skrip : Unsur how tidak terdapat dalam berita.Tematik : berisi tentang memberikan penekanan bahwa tidak perlunya menggunakanUU Peradilan HAM karena kasus ini tidak menyangkut HAMRetoris : -14. Berita tanggal 22 Mei 2013Sintaksis : memberikan keterangan bahwa tersangka pelaku penyerangan Lapasbertambah menjadi 12 orang.Skrip : Unsur why dan how tidak terdapat dalam berita.Tematik : berisi tentang sidang yang akan dilakukan secara terbuka dan bertambahnyapelaku menjadi 12 orang.Retoris : Gambar15. Berita tanggal 23 Mei 2013Sintaksis : memberikan keterangan bahwa Odmil telah menerima berkas Cebongan.Skrip : How tidak terdapat dalam berita.Tematik : berisi tentang berisi tentang kelengkapan berkas dan barang bukti dalampenyelidikan.Retoris : -BAB IV4.1. Kasus Cebongan Diserahkan Kepada “TIM 9” Yang Dibentuk TNISintaksis : Lead yang merujuk pada kutipan yang diberikan oleh unsur who dalam hal inisebagai pandangan awal dalam pembentukan body berita.Skrip: Berita ini tidak terdapat unsur Why dan How.Tematik: SKH Kedaulatan Rakyat sendiri belum terlihat memberikan kritikannya dalamkasus ini.Retoris: Adapun gambar yang diberikan oleh SKH Kedaulatan Rakyat yaitu menggambarkanseorang berpenutup wajah lengkap dengan pakaian tertutup dan sarung tangan dimana orangtersebut terlihat sedang membidik sesuatu dengan senjata api laras panjang, seolah-olah inginmenembak sesuatu.4.2. Oknum Kopassus Turun Gunung, Akui Eksekusi Preman, Penyerang LapasSiap Tanggung JawabSintaksis: Melalui judul berita ini SKH Kedaulatan Rakyat memberikan penonjolan melaluipemilihan kata yang digunakan.Skrip: Dalam berita ini tidak ditemukan unsur How.Tematik:. SKH Kedaulatan Rakyat masih terlihat abu-abu dapat menentukan sikap danarahnya terkait penyerangan Lapas Cebongan.Retoris: Gambar yang dicantumkan dalam berita ini yang paling menonjol yaitumenunjukkan gambar seorang pria menggunakan seragam TNI AD.4.3. Tak Perlu Dewan Kehormatan MiliterSintaksis: Dalam berita ini terlihat jelas sikap SKH Kedaulatan Rakyat. Hal ini terlihat darijudul atau headline berita yang diberikan.Skrip: Dalam berita ini tidak ditemukan unsur How.Tematik: Media sudah dengan jelas menunjukkan sikapnya.Retoris: Tidak ditemukan.4.4. Odmil Terima Berkas Cebongan, KSAD Jamin Tak IntervensiSintaksis: Melalui pemilihan kata memberikan penegasan kembali bahwa KSAD dijamin takakan intervensi apa pun dari proses peradilan.Skrip: Dalam berita ini tidak ditemukan unsur How.Tematik: Struktur tematik penulisan yang dilakukan SKH Kedaulatan Rakyat dalam beritaini, media dengan jelas menunjukkan sikapnya.Retoris: Tidak ditemukan.BAB VPENUTUP5.1 Kesimpulan1. Penyajian realitas menjadi sebuah berita dikonstruksi oleh SKH Kedaulatan Rakyat denganpemilihan narasumber berita yang kredibel.2. Surat kabar ini terlalu fokus pada unsur Who (Siapa) dan cenderung mengabaikan How(Bagaimana) sebagai salah satu unsur yang seharusnya dipenuhi juga.3. Struktur retoris yang diberikan dominan tidak sesuai antara gambar dan isi pemberitaanyang diberikan. Banyak gambar ataupun grafik yang tidak konsisten antara isi berita dangambar.5.2 Implikasi Hasil Penelitian1. Implikasi AkademikSecara teoritis, permasalahan dalam penelitian ini berhasil dipecahkan dengan menggunakanteori yang diberikan oleh Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki2. Implikasi PraktisPenelitian yang dilakukan ini memperlihatkan bagaimana media mengkonstruksi suaturealitas ke dalam sebuah pemberitaan. Pada penelitian yang akan dilakukan selanjutnya,peneliti baru dapat menggunakan menggunakan metode penelitian yang berbeda.3.Implikasi SosialMelalui hasil penelitian ini, peneliti menyarankan agar audiens atau seluruh orang yangmengkonsumsi media dapat dengan lebih cermat dan bijaksana dalam menilai setiappemberitaan yang disajikan oleh berbagai media.DAFTAR PUSTAKABaran , Stanley J dan Dennis K. Davis. 2010. Teori Komunikasi Massa: Dasar, Pergolakan,dan Masa Depan (5th ed.). (Terj.) Jakarta : Salemba HumanikaBungin, Burhan. 2006. Sosiologi Komunikasi, Teori, Paradigma, dan Diskursi TeknologiKomunikasi di Masyarakat. Jakarta : KencanaD’Angelo Paul dan Jim A. Kuypers. 2010. Doing News Framing Analysis: Empirical andTheoretical Persfectives. New York : Routledge Communication SeriesEriyanto. 2002. Analisis Framing Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media. Yogyakarta : LkisYogyakartaLittlejohn, Stephen W dan Karen A. Foss. 2009. Teori Komunikasi, Theories of HumanCommunication. Jakarta : Salemba HumanikaMoleong, Lexy J. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : PT Remaja RosdakaryaMulyana, Deddy. 2008. Komunikasi Massa Kontroversi, Teori, dan Aplikasi. Bandung:Widya PadjajaranPawito. 2007. Penelitian Komunikasi Kualitatif. Yogyakarta : PT Lkis Pelangi AksaraYogyakartaSeverin, Werner J dan James W. Tankard, JR. 2008. Teori Komunikasi: Sejarah, Metode,,dan Terapan di Dalam Media Massa (5th ed.) Jakarta : KencanaSobur, Alex. 2004. Analisis Teks Media Massa, Suatu Pengantar untuk Analisis Wacana,Analisis Semiotik, dan Analisis Framing. Bandung : Remaja RosdakaryaSudibyo, Agus. 2001. Politik Media dan Pertarungan Wacana. Yogyakarta : Lkis PelangiAksara YogyakartaSulistiono, 2013. Senangnya Menjadi Wartawan. Yogyakarta : PT Intan SejatiSuyanto, Bagong dan Sutinah. 2010. Metode Penelitian Sosial Berbagai AlternatifPendekatan. Jakarta : KencanaSumber Skripsi:Yunusiana Ariana, (2012) “Pembingkaian Majalah Tempo Pada Pemberitaan Pansus BankCentury” (Analisis Framing Majalah Tempo). Skripsi. UNDIPIka Kumala Wati, (2009) “Sikap Harian Suara Merdeka Tentang Pemberitaan BambangSadono dalam Pemilihan Gubernur Jawa Tengah 2008” (Analisis framing HarianSuara Merdeka Periode Mei-Juni 2008). Skripsi. UNDIPSumber Tesis:Noor Irfan, (2011) Analisis Framing : Pemberitaan Harian Kompas atas RUUK-DIY. Tesis.UNDIPSumber Internet:Aris Fourtofour (2013). Sejarah Koran (Surat Kabar)http://www.kumpulansejarah.com/2013/01/sejarah-koran-surat-kabar.html diakses : 03Juli 2013, pukul 10.38David Straker (2002). The Newspaper Methods Go From Headline To Minor Detail.http://changingminds.org/description/methods/newspaper_method.html diakses : 20Mei 2012, pukul 22.10Febriana (2013). Perkembangan Media Cetak ; Surat Kabar dan Majalahhttp://ohninaaa.blogspot.com/2012/05/perkembangan-media-cetak-surat-kabar.htmldiakses 03 Juli 2013, pukul 11.14I Nyoman Wija, SE, AK (2011). Membungkam Pers dan Media Massa? Antara Fakta,Somasi, dan Hak Jawab. http://www.isi-dps.ac.id/berita/membungkam-pers-dan-mediamassa-antara-fakta-somasi-dan-hak-jawab diakses: 23 April 2013, pukul 12:30Iwan Awaludin Yusuf (2011). Bisnis Surat Kabar, Masihkah Menjanjikan?http://bincangmedia.wordpress.com/tag/suratkabar-di-indonesia/ diakses : 02 Juli 2013,pukul 14:49Jessica (2009). Konstruksi Pemberitaan Pencalonan Sri Sultan Hamengku Buwono X SebagaiCalon Presiden Pada Harian Kedaulatan Rakyathttp://digilib.petra.ac.id/viewer.php?page=1&submit.x=28&submit.y=15&submit=next&qual=high&submitval=next&fname=%2Fjiunkpe%2Fs1%2Fikom%2F2009%2Fjiunkpe-ns-s1-2009-51405069-11641-sri_sultan-chapter4.pdf diakses : 03 Juli, pukul 13.20Mario (2009). Harian Kedaulatan Rakyat. http://id.shvoong.com/books/1873152-hariankedaulatan-rakyat/#ixzz2XsHbvcNx diakses : 02 Juli 2013, pukul 15:34Mesya Mohhamad (2013). Kronologi Pengeroyokan Anggota Kopassus Sertu Heru Didugajadi Pemicu Penyerangan Lapas Cebonganhttp://www.jpnn.com/read/2013/03/23/164068/Kronologi-Pengeroyokan-Anggota-Kopassus-Sertu-Heru- diakses : 02 Juli 2013, pukul 19.50Octa (2011). Perkembangan Pers di Indonesia. http://klikbelajar.com/umum/perkembanganpers-di-indonesia/ diakses : 02 Juli 2013, pukul 14.16Syaiful Hakim (2013). Penyerang LP Cebongan 11 Oknum Kopassus.http://www.antaranews.com/berita/367063/penyerang-lp-cebongan-11-oknum-kopassusdiakses: 23 April 2013, pukul 14:13Syamrilaode (2010). Pengertian Media Massa. http://id.shvoong.com/writing-andspeaking/2060385-pengertian-media-massa/#ixzz2Q8aDpKJJ diakses : 23 April 2013,pukul 14:38Tim Dishub Kominfo Pemerintah Provinsi DIY (2013). Kedaulatan Rakyat (KR)http://www.plazainformasi.jogjaprov.go.id/index.php/media-streaming/mediacetak/864-kr diakses : 02 Juli 2013, pukul: 20.45Tim Redaksi KR Yogya (2013). Profile SKH Kedaulatan Rakyat Yogyakartahttp://krjogja.com/images/SKH%20Kedaulatan%20Rakyat.html diakses: 08 Juli 2013,pukul: 12.31Umi dan Daru (2013). Kronologi Penembakan Brutal di Lapas Sleman yang Tewaskan 4Orang "Sipir tidak bisa berbuat apa-apa dan menunjukkan lokasi sel"http://nasional.news.viva.co.id/news/read/399633-kronologi-penembakan-brutal-dilapas-sleman-yang-tewaskan-4-orang diakses : 02 Juli 2013, pukul 20.27Widhie Kurniawan (2012). Bentrok TNI VS Polri Berulang Kembalihttp://rri.co.id/index.php/editorial/72/Bentrok-TNI-vs-Polri-Berulang-Kembali#.Ua2gppyE9NE diakses : 04 Juni 2013, pukul 16.49
RESEPSI KHALAYAK TENTANG TAYANGAN STAND UP COMEDY YANG MENGANDUNG UNSUR DISKRIMINASI Setiyoko, Titis Ponco; Sunarto, Dr.; Suprihatini, Taufik
Interaksi Online Vol 1, No 2 (2013): Wisuda April
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKKarakteristik masyarakat Indonesia yang plural menyebabkan timbulnya berbagaimacam stereotype pada setiap kultur budaya yang ada. Tindakan-tindakandiskriminatif sampai saat ini pun masih hadir dalam berbagai bentuk, salah satunyaditayangkan dalam bentuk hiburan stand up comedy dengan comic sebagaipenyampai pesan.Penelitian ini merupakan sebuah bentuk studi untuk melihat bagaimanaaudience membangun makna apa yang dikonstruksikan oleh media, melalui risetkhalayak melalui 6 informan dengan rentang usia 17-24 tahun dan berasal dariberbagai kota.Sebagai sebuah hiburan yang ditayangkan di media televisi yang merupakansalah satu sarana komunikasi, yang dinikmati oleh masyaraat dengan kultur yangbervariasi, oleh karena itu comic harus memahami komunikasi antar budaya dankomunikasi interpersonal dengan baik, karena stand up comedy adalah komedi yangdiadopsi dari luar dengan aliran bebas dan terbuka maka dituntut adanya tanggungjawab sosial dari media, hamper esmua informan menyatakan bahwa terdapat unsurunsurdiskriminasi yang disampaikan oleh comic dalam tayangan stand up comedymeskipun telah melalui tahap sensor dan editing, hal ini dapat dikonstruksikan bahwasegala hal mungkin dilakukan untuk menghibur penonton.Akhirnya dapat dismpulkan bahwa Sebagian besar informan berada pada posisidominant dimana penonton menerima makna-makna yang disodorkan oleh tayangan,Unsur diskriminasi yang disampaikan dalam tayangan stand up comedy bertujuanagar audience lebih open mindedness dalam menyikapi realita kehidupan denganidentitas kultural yang berbeda, Stand up Comedy merupakan humor intelektualkarena pesan yang disampaikan memerlukan daya tangkap dan pemikiran tertentuuntuk dicerna.Untuk itu disarankan Untuk penelitian selanjutnya diharapkan dapatmenggunakan pendekatan etnografi dengan lebih melihat pada latar belakang suku,agama, dan ras informan dengan harapan diperoleh resepsi khalayak yang lebihbervariatif, untuk media hendaknya menganut teori sosial responsibility (tanggungjawab sosial), dan hendaknya masyarakat lebih bersikap terbuka terhadap realitaskultur yang ada dengan menilai objektif pesan yang disampaikan dan lebihberorientasi pada isi pesan, disertai dengan mencari informasi dari berbagai sumber.Kata Kunci: Stand Up Comedy,DiskriminasiABSTRACIndonesian’s plural characteristics cause many kinds of stereotypes on every existingcultures. Acts of discrimination still present in many forms, one of it which isbroadcast in the form of stand-up comedy entertainment with the comic as amessenger.This research is a form of study to see how audiences construct meaning from what isconstructed by the media, using audience research through 6 informants with an agerange of 17-24 years and come from various cities.As an entertainment which aired on television as one of the communication means,which is enjoyed by people with varying cultures, therefore comic should understandintercultural communication and interpersonal communications well, because standupcomedy is a comedy adopted from foreign culture with free and open mindedbackground so it is required a social responsibility from the media, almost everyinformants stated that there are elements of discrimination in the impressionsconveyed by stand up comedy comic though it has been through the stages ofcensorship and editing, it can be constructed that everything possible to entertain theaudience.Finally it can be concluded that most of the informants are in a dominant positionwhich the audience accept the meanings offered by shows, Elements ofdiscrimination presented in stand up comedy shows, aims to make the audience moreopen-mindedness in addressing the realities of life with a distinct cultural identity,Stand up Comedy is an intellectual humor because the message requires a certainperception and thought to digest.It is recommended for future studies to use an ethnographic approach by focusing onethnic background, religion, and informant race in the hope to obtained a more variedaudience reception, the media should embrace the theory of social responsibility, andthe public should be more open to the reality of the existing culture to assessobjectively the message and more oriented to message content, along with seekinginformation from various sources.Key words: Stand Up Comedy, DiscriminationPendahuluanPermasalahan penelitianDiskriminasi terhadap kaum minoritas merupakan salah satu fenomena sosial yangtidak terpisahkan dari Negara Indonesia. Karakteristik masyarakat Indonesia yangplural menyebabkan timbulnya berbagai macam stereotype pada setiap kultur budayayang ada. Tindakan-tindakan diskriminatif sampai saat ini pun masih hadir dalamberbagai bentuk dan telah merambah ke berbagai bidang kehidupan bangsa dandianggap sebagai hal yang biasa dan wajar serta tidak menganggap bahwa haltersebut merupakan suatu bentuk diskriminasi. Seperti halnya yang terjadi padamereka yang memeluk agama Kristen. Diskriminasi terhadap agama Kristen diIndonesia telah terjadi sangat lama dan tidak terlihat adanya penyelesaiaan dari pihakpemerintah, terlihat dari tidak adanya buku-buku pelajaran dalam sekolah-sekolahumum yang mengupas sejarah kedatangan dan perkembangannya di Indonesia.Kebanyakan buku-buku pelajaran yang ada hanyalah seputar agama Hindu, Budha,dan Islam dan perkembanganya di Indonesia. Ataupun kasus Gereja Yasmin yangterjadi di daerah Bogor yang sampai saat ini masih menimbulkan konflik antarberbagai pihak. Pelarangan pendirian gereja di wilayah tersebut menuai konflik yangberkepanjangan antar umat Kristen dan Islam disana. BerdasarkanTEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah Indonesia enggan menyelesaikan kasuspelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang berkaitan dengan kebebasan beragamawalaupun sudah diperingatkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). KomisionerHAM PBB pada April 2011 menyampaikan surat diplomasi kepada KementerianLuar Negeri. Dalam surat itu pemerintah didesak agar segera menyelesaikan kasuskekerasan terhadap jemaah Ahmadiyah dan penyerangan terhadap GKI TamanYasmin.(http://www.tempo.co/read/news/2012/02/05/063381842/GKI-Yasmin-Pemerintah-Tak-Mempan-Disorot-PBB, tanggal akses 27 februari 2012, Ananda W.Teresia)Berdasarkan Wahid Institute dalam www.bennisetiawan.blogspot.com,tercatat di tahun 2011 telah terjadi 92 kasus pelanggaran kebebasan beragama danberkeyakinan. Jumlah itu meningkat 18 persen dari tahun sebelumnya, 62 kasus.Pelarangan dan pembatasan aktivitas keagamaan atau kegiatan ibadah tercatat 49kasus. Disusul tindakan intimidasi dan ancaman kekerasan oleh aparat negara (20kasus), pembiaran kekerasan (11 kasus), kekerasan dan pemaksaan keyakinan sertapenyegelan dan pelarangan rumah ibadah (masing-masing 9 kasus). Pelanggaran lainadalah kriminalisasi atau viktimisasi keyakinan (4 kasus).(http://bennisetiawan.blogspot.com/2012/01/berperang-atas-nama-agama.html,tanggal akses 9 maret 2012, Benni Setiawan)Praktik diskriminasi yang telah banyak terjadi di masyarakat justru dihadirkankembali oleh media dengan representasi media. Dimana masalah-masalah tersebutselalu dihadirkan dalam tayangan-tayangan berjenis hiburan, sehingga khalayak yangmenonton lupa akan realitas yang sebenarnya. Inilah bentuk kekerasan simbolik yangdihadirkan oleh media pada khalayak. Belum lama ini Metro TV, menampilkansebuah acara baru dengan kategori hiburan, yaitu tayangan standup comedy show.Tayangan ini merupakan tayangan komedi yang bersifat lepas atau bebas. Bebasberarti, para komedian yang tampil dalam standup comedy bebas untuk membawakanmaterinya tanpa ada batasan, Tergantung dari point of view yang dimiliki olehseorang comic (sebutan untuk komedian standup comedy) terhadap suatu masalah.Bisa masalah sehari-hari, fenomena sosial, “uneg-uneg” maupun keresahan danketegangan yang dimiliki oleh seorang comic, bahkan sampai isu-isu yang sensitifbaik itu agama, suku, ras, dll.Bila dilihat kembali, humor-humor yang mengarah pada diskriminasi dansarkasme telah ada dalam keseharian masyarakat Indonesia baik dalam komunikasipersonal ataupun kelompok namun yang terjadi sekarang ini jelas sekali bertentanganperaturan dan perundangundangan yang ada karena pengungkapan kata yangseharusnya tidak layak didengar justru disiarkan oleh media dengan skala nasional.Dengan tingkat pendidikan masyarakat Indonesia yang masih rendah, dan kurangkritisnya khalayak terhadap isi pesan di media menjadikan khalayak kita hanyamemakan pesan secara buta tanpa mengetahui arti dan makna yang sesungguhnyadari sebuah pesan di media.Tujuan penelitianAdapun yang menjadi tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahuibagaimana resepsi khalayak terhadap tayangan standup comedy yang di dalamnyamengandung unsur–unsur diskriminasiMetodologi PenelitianPenelitian ini menggunakan metode analisis resepsi. Metode ini digunakan untukmelihat bagaimana informan memaknai tayangan stand up comedy yangmengandung usur diskriminasi. Riset khalayak menurut Stuart Hall (1973: 123)membagi khalayak dalam 3 kategori pemaknaan yaitu: dominant, negotiated, danoppositional. Dalam kode dominan, penonton menerima makna-makna yangditawarkan oleh tayangan. Dalam kode negosiasi, penonton tidak sepenuhnyamenerima makna-makna yang ditawarkan tapi mereka melakukan negosiasi danadaptasi sesuai nilai-nilai yang dianutnya, sementara kode oposisi, penonton tidakmenerima makna yang diajukan dan menolaknya”.Teori Stuart Hall juga digunakan sebagai analisis data dalam penelitian iniHasil penelitianImplikasi teoritisPemaknaan khalayak dalam tayangan stand up comedy yang mengandung unsurdiskriminasi terbagi menjadi dua kategori yaitu negotiated dan dominant.Dalam kategori negosiasi (negotiated) informan berada pada posisi mengakui danmenyetujui preffered reading yang ditawarkan oleh media yaitu bahwa stand upcomedy adalah humor yang cerdas dan unsur diskriminasi yang ada di dalamnyaadalah hal yang wajar, tetapi khalayak juga menolak preffered reading tersebutartinya sebaiknya unsur diskriminasi tidak dimasukkan dalam humor apapunalasannya, dan dengan penyampaian yang halus sekalipun karena pola pikir danpemaknaan yang muncul setiap orang berbeda-beda. Ketika pesan diterima olehkhalayak dan pesan tersebut dirasakan kurang tepat, maka ia akan membuat negosiasidalam pemaknaannya. Sehingga pada posisi ini khalayak berada di tengah-tengahyaitu mengakui dan juga menolak preffered reading yang ditawarkan oleh acara standup comedy tersebut.Pada posisi ini semua diskriminasi ditampilkan secara wajar di media yaitudiskriminasi agama, ras, suku, tingkat ekonomi, dan kondisi fisik, karena hanyabertujuan untuk memeriahkan suasana tanpa adanya maksud untuk menyakitisiapapun bahkan membuka cakrawala pemirsa bahwa negara ini terdiri darimasyarakat yang beragam dengan latar belakang yang berbeda-beda, namun karenapola pikir masing-masing pribadi berbeda-beda maka ditakutkan akan menimbulkankonflik untuk ke depannya karena diskriminasi ditujukan untuk golongan minoritasseperti Nasrani, Thionghoa, Batak, Bias Gender (Waria), dan lain-lainSebagian khalayak menyatakan bahwa meskipun stand up comedy adalah sebuahhumor yang cerdas namun adanya unsur diskriminasi yang terdapat didalamnyaadalah hal yang wajar. Meskipun hal ini tidak seiring dengan tingkat pendewasaanmasyarakat sehingga untuk beberapa hal dapat memicu konflik. Diskriminasi dalamsebuah acara humor adalah bumbu yang membuat suatu acara menjadi lebih menarik,dan selama ini diskriminasi dalam humor merupakan hal yang sangat umum danberlangsung sejak puluhan tahun yang lalu.Sebagian besar khalayak mengakui adanya pemaknaan dominant dan iamenerima teks yang ditawarkan media yaitu bahwa stand up comedy adalah komedicerdas dan mengandung unsur diskriminasi yang meliputi perbedaan prinsip,penyampaian, pola pikir, pemaknaan, dan lain-lain. Sehingga pada posisi ini khalayakberada di posisi mengakui preffered reading yang ditawarkan oleh acara stand upcomedy. Dalam hal ini diskriminasi pada humor adalah hal yang wajar meskipununtuk beberapa hal dirasa kurang tepat khususnya untuk humor yang cerdassebaiknya tidak menyakiti pihak lain.Diskriminasi sendiri muncul karena adanya unsur latar belakang sejarah,perkembangan sosio kultural dan situasional, faktor kepribadian, dan perbedaankeyakinan, kepercayaan, dan agama. Unsur-unsur tersebut terlihat dari latar belakangcomic yang beragam sehingga dalam setiap penyampaian materi humor mereka jugamemiliki pola pikir, respon, dan penyampaian yang berbeda. Diskriminasi dalamhumor dapat diterima oleh khalayak dengan syarat diskriminasi tersebut ditujukanuntuk membuat suasana menjadi meriah, disampaikan dengan bahasa yang baik,berdasar pada latar belakang si comic, tetap mempertahankan sisi humor yang munculsehingga memperkecil terjadinya konflik, perlu adanya proses sensor sehingga halhalyang sangat sensitif dapat diminimalisir seperti humor yang mengandungdiskriminasi agama karena hal ini bersifat sangat pribadi.Komunikasi antar budaya akan terjalin setelah adanya komunikasi antarpribadi antara comic dan audience¸dalam hal ini pesan yang ingin disampaikan olehseorang comic melalui tema komedi dibawakan akan menjadi efektif jika adakomunikasi interpersonal yang baik, dalam stand up comedy komunikasiinterpersonal yang terjalin adalah comic menyampaikan aspek kepribadiannyamelalui pengalaman hidup dan cerita kehidupannya yang dibawakan dalam bentukkomedi dengan harapan audience juga mempunyai pemikiran yang sama dengan apayang dia sampaikan sehingga pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik(Rakhmat, 2005: 122)Dalam studi komunikasi antar budaya, ketidaktulusan dalam menjalininteraksi dicerminkan oleh sebuah konsep yang dikenal dengan mindlessness, yaituorang yang sangat percaya pada kerangka referensi yang sudah dikenal, kategorikategoriyang sangat rutin dan cara-cara melakukan sesuatu yang sudah lazim (Ting-Toomey, dalam Mulyana, 2008: 11). Artinya ketika melakukan kontak antar budayadengan orang lain (stranger), individu yang berbeda dalam keadaan mindlessmenjalankan aktivitas komunikasinya seperti automatic pilot yang tidak dilandasidengan kesadaran dalam berpikir (conscious thinking).Individu tersebut lebih berada pada tahapan reaktif daripada proaktif. olehkarena itu untuk mencapai keadaan mindfull dalam komunikasi antarbudaya, makaseseorang perlu menyadari bahwa ada perbedaan-perbedaan dan kesamaan-kesamaandalam diri masing-masing anggota kelompok budaya, pihak-pihak yangberkomunikasi merupakan individu-individu yang unik. Dalam deskripsi yang lebihkonkrit, Langer mengatakan bahwa mindfulness terjadi ketika seseorang 1) memberiperhatian pada situasi dan konteks; 2) terbuka terhadap informasi baru; 3) menyadariadanya lebih dari satu perspektif (Mulyana, 2008:12)PenutupBerdasarkan hasil dari penelitian dapat diketahui bahwa sebagian besar informan berada pada posisidominant hegemonic position. Adanya unsur diskriminasi yang dimunculkan dalam stand upcomedy tidak merubah pemaknaan informan terhadap sebuah humor stand up comedy. Unsurdiskriminasi yang disampaikan dalam tayangan stand up comedy bertujuan agar audiens lebih openminded dalam menyikapi realita kehidupan dengan identitas kultural mereka, melalui sebuah humorjenis verbal seperti stand up comedy unsur diskriminasi berfungsi dalam menciptakan keadaan yangmindfullnesSaranUntuk penelitian selanjutnya diharapkan dapat menggunakan pendekatan yangberbeda dengan lebih melihat pada latar belakang informan dengan harapan diperolehresepsi khalayak yang lebih bervariatif. Agar tidak menimbulkan persepsi yangnegatif di masyarakat, maka media hendaknya menganut teori sosial responsibility(tanggung jawab sosial), seiring dengan perkembangan media massa maka menuntutpara pelakunya untuk memiliki suatu tanggung jawab sosial. Para pemilik danpengelola pers menentukan siapa-siapa, fakta yang bagaimana, versi fakta yangseperti apa yang dapat disiarkan kepada masyarakat dengan menghindari topik yagrasis, gender, atau humor yang audience akan berkeberatan mendengarkannya.Hendaknya masyarakat lebih bersikap terbuka terhadap realitas kultur yang adadengan menilai objektif pesan yang disampaikan dan lebih berorientasi pada isipesan, disertai dengan mencari informasi dari berbagai sumber.DAFTAR PUSTAKABukuAbdullah, Irwan. (2001). Seks, Gender dan Reproduksi Kekuasaan, Tarawang Press,YogyakartaAbdullah, Irwan. (2007). Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan.Yogyakarta:Pustaka PelajarBarker, Chris. (2008). Cultural Studies, Teori & Praktik. Yogyakarta:Kreasi WacanaBlake, Marc. (2005). How to be a Comedy Writer. Great Britain: SummersdalePublishers LtdDarminto, M. Sudarmo. (2004). Anatomi Lelucon Indonesia. Jakarta: ParhumiDenzin, Norman dan Yvonna S. Lincoln. (2009). Handbook of Qualitative Research.Yogyakarta: Pustaka PelajarFakih, Mansour. (2002). Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi, PustakaPelajar, YogyakartaHelitzer, Mel, dan Mark Shatz. (2005). Comedy Writing Secret. (2nd edition). WritersDigest Books,Hall, Stuart. (1973). ‘The Television Discourse : Encoding and Decoding’, dalamCulture, Media, Language ed Stuart hall, Dorothy Hobson, Andrew Lowe andPaul Willis. London : Hutchinson, 1980Haryatmoko, (2007), Etika Komunikasi, Yogyakarta : Penerbit KanisiusJ. Lexy, Moleong, (2004) Metodologi Penelitian Kualitatif. (edisi 4). Bandung:Remaja RosdakaryaLefcourt, H.M, (2005), Humor, dalam Handbook of Positif Psychology by Snyder &Lopez, New York: Oxford University PressLittlejohn, S.W, (1996), Thories of Human Communication (fifth edition), WadsworthPublishing Company, Belmont, CaliforniaLeggat, Alexander, (2002). The Cambridge Companion To Shakespearean Comedy.United Kingdom: Cambridge University PressMcQuail, Dennis. (2002). Teori Komunikasi Massa. Diterjemahkan oleh Agus Darmadan Aminudin Ram, Erlangga, JakartaMindess, (1991), The Antioch Humor Test. New York: Avon BooksMulyana, Deddy, (2008), Komunikasi Humoris. Simbosia rekatama Media, BandungRahardjo, Turnomo, (2005), Menghargai Perbedan Kultural, Yogyakarta: PustakaPelajarRakhmat, Jalaluddin. (2005). Psikologi Komunikasi. Bandung: PT. RemajaRosdakarya.Rayner, Philip, Peter Wall, and Stephen Kruger. (2004). Media Studies: The EssentialResource. London and New York: RoutledgeRogers, Everett, M. (1986). Communion Technology, London: The Free Press, CollierMacmillan PbliRuben, Brent, D, dan Lea P Stewart, (1996). Communication and Human Behavior,Allan & bacon A. Viacom Company, USA. Edisi IVRudy, May,Teuku. (2005). Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Internasional.Bandung: PT Refika AditamaSarlito,(1996), Pengantar Umum Psikologi, Jakarta: Bulan BintangSarwono, Sarlito Wirawan, (1999). Psikologi Sosial Individu dan Teori-Teori,Jakarta: Balai Pustaka.Setaiti. Eni.(2005). Ragam Jurnalistik baru dalam Pemberitaan. Jogyakarta : CVAndi Offset.Sudibyo, (2004). Ekonomi Politik Dunia Penyiaran. Yogyakarta: LKISSuhadi,M. Agus, (1989). Humor itu Serius. Jakarta: PT Pustaka Karya GrafikatamaSullivan, Tim O’ et all. (1994). Key Concept in Communication and Cultural Studies.second edition. London and New york: RoutledgeSuranto, (2010), Komunikasi Sosial Budaya. Yogyakarta. Graha IlmuSuyanto, Bagong. (2006). Metodologi Penelitian sosial, Jakarta, KencanaWiryanto. (2006). Teori Komunikasi Massa. Jakarta: Grasindo.Wibowo, Fred. (1997). Dasar-Dasar Produksi Program Televisi. Jakarta, GramediaWidiasarana IndonesiaWest, Richard. (2008). Pengantar Teori Komunikasi: Teori dan Aplikasi. Jakarta:Salemba HumanikaMakalah dan JurnalAudrieth, Anthony L. (1998). The Art of Using Humor in Public Speaking, Psicologyof HumorAyuningtyas, Retno. (2010). Analisis Resepsi Pemirsa tentang Diskriminasi Genderdalam Tayangan Bukan Empat Mata, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik,Universitas DiponegoroEnggaringtyas, Arum. (2011). Stereotip dan diskriminasi gender terhadap wartawanperempuan di Harian Surya. Universitas Kristen PetraFatt, James. (1998). Why do we laugh?, Communication World. Vol.15 No. 9Hidayat, Dedy, N. (1999). Paradigma dan Perkembangan Penelitian Komunikasi,"Jurnal Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia. No. 3 (April, 1999), hal. 34-35Martin, Rod A. (2003). Sense of Humor. In S. J. Lopez and C. R. Snyder. (Eds.).Possitive Psycological Assessment: University Of Western Ontario LondonMunandar. (1996). Humor: Makna Pendidikan dan Penyembuhan. Suatu TinjauanPsikologis. Makalah. (Dalam Seminar Humor Nasional). SemarangNasir. (2004). Perubahan Struktur Media Massa Indonesia dari Orde Baru ke OrdeReformasi, Kajian Media Politik-Ekonomi. DisertasiPurnama, Indah Dwi. (2009). Film Nagabonar Karya Asrul Sani dan FilmNagabonar Jilid 2 Karya Musfar Yasin: Analisis Resepsi. Fakultas Sastra,Universitas Sumatera Utara,Puspitasari, Aprilia. (2010). Resepsi Khalayak atas Sosok Idola dalam TayanganTelevisi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas DiponegoroSaraswati. (1999). Hubungan Sense of Humor dengan Penyesuaian Diri. Yogyakarta:Universitas Islam IndonesiaSutedjo, Hadiwasito. (1996). Penyusunan Pesan, Makalah Pendidikan Creative danAccount , PPPI Jawa Tengah, 3-4 Mei 1996Tripuspitarini, Hana. (2010). Naturalisasi Kekerasan dalam Komedi Opera Van Java,Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Diponegoro.InternetAritonang, Philemon. (2012). Kompasiana: Stand Up Comedy Berbau Sara. Dalam,http://sosbud.kompasiana.com/2011/09/23/stand-up-comedy-di-metro-tvberbau-sara/. Diunduh pada 14 maret 22.11 WIBArinjaya, I Dw Gd Erick Krisna. (2013). Tips Humor yang Cerdas. Dalam,http://blogdoodey.blogspot.com/2011/04/tips-humor-yang-cerdas.html.Diunduh pada 7 Maret pukul 19.50 WIBHang, yeni. (2012). Diskriminasi Pendidikan Untuk Tionghoa. Dalam,http://yinnihuaren.blogspot.com/2011/10/diskriminasi-pendidikan-untuktionghoa.html. Diunduh pada 9 maret pukul 21.38 WIBJinggaberseri: Stand Up Comedy Indonesia. (2012). Dalam,http://www.squidoo.com/Stand-Up-Comedy-Indonesia-Jinggaberseri.Diunduh pada 2 Juli pukul 22.20 WIBKoran Jakarta. (2012). Stand Up Comedy. Dalam,http://m.koranjakarta.com/?id=75503&mode_beritadetail=1. Diunduh pada27 februari 20.48 WIBLynch, Owen. H. (2002). Humorous Communication: Finding a Place for Humor inCommunication Research. international communication. vol 12, p. 423-44.Dalam,http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/j.14682885.2002.tb00277.x/abstractManuputty, Cavin R., dan Basfin Siregar. (2013). Lintang Atiku: Sejarah PerjalananStand Up Comedy Indonesia. Dalam,http://www.lintangatiku.com/2013/01/sejarah-perjalanan-stand-upcomedy-indonesia.html. Diunduh pada 3 Januari pukul 23.21 WIBSetiawan, Beny. (2012). Berperang atas Nama Agama. Dalam,http://bennisetiawan.blogspot.com/2012/01/berperang-atas-namaagama.html. diunduh pada 9 maret pukul 21.45 WIBSiahaan, Samuel hasiholan. (2012). Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia. BukuTamu, dalamhttp://www.pgi.or.id/index.php?option=com_rsmonials&Itemid=28. Diunduhpada 11 maret pukul 20.28 WIBSetyawan, Dharma. (2012). Komunitas Hijau: Khotbah Stand Up Comedy. Dalamhttp://www.dharmasetyawan.com/2011/11/media-sosial-dan-kotbah-standup-comedy.html. tanggal akses 14 maret pukul 22.18 WIBSido, Fandy. (2012). Kompasiana: Tayangan Humor Indoensia Sarkatis. Dalam,http://hiburan.kompasiana.com/humor/2011/08/05/tayangan-humorindonesia-sarkastis-385608.html. Diunduh pada 14 maret pukul 22.23 WIBTeresia, Ananda W. (2012). Tempo: GKI Yasmin: Pmerintah Tak Peduli. Dalam,http://www.tempo.co/read/news/2012/02/05/063381842/GKI-Yasmin-Pemerintah-Tak-Mempan-Disorot-PBB. Diunduh pada 27 februari pukul 20.30WIBUndang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2002. (2012). Dalam,http://www.kemenkumham.go.id/attachments/article/170/uu39_1999.pdf.Diunduh pada tanggal 27 Februari 21.00 WIBWirodorono, Sunardian. (2012). Jurnal Sunardian: Stand Up Comedy Indonesia.Dalam, http://sunardian.blogspot.com/2012/03/stand-up-comedy-indonesiayah.html. Diunduh pada 14 maret 2012 pukul 22.14 WIBZuhri, Syaripudin. (2013). Humor Itu Mencerdaskan Bukan Merendahkan. Dalamhttp://hiburan.kompasiana.com/humor/2012/10/23/humor-itumencerdaskan-bukan-merendahkan-503542.html. Diunduh pada 27 Februari2013. 21.10 WIBZulfikar, Ahmad (2012). Gudang Materi: Stand Up Comedy di Indonesia dan Dunia.Dalam, http://www.gudangmateri.com/2012/01/stand-up-comedy-diindonesia-dan-dunia.html. Diunduh pada tanggal 14 maret 22.20 WIBFerfei. (2012). Stand Up Comedy: Canda Tawa Berdiri Sampai Mati. Dalam,http://light.mindtalk.com/StandUpComedy/post/4e9ea719f7b73028df00039f. Diunduh pada 14 Juli 2012 pukul 13.23WIB
Memahami Proses Adaptasi Individu yang Berpindah Tempat dengan Host Culture di Semarang Pratiwi, Fitria Nur; Suprihatini, Taufik; Herieningsih, Sri Widowati
Interaksi Online Vol 1, No 2 (2013): Wisuda April
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar BelakangManusia adalah makhluk sosial yang selalu berpindah tempat dari satu daerah kedaerah yang lain karena berpindah tugas, transmigrasi dan imigrasi, merekamembutuhkan interaksi satu sama lain, baik itu dengan sesama, adat istiadat,norma, pengetahuan ataupun budaya di sekitarnya. Pengalaman tentangperpindahan seseorang dari satu kota ke kota lainnya memang tidak mudah untukdihadapi, mempelajari karakteristik budaya sangat menolong dalam melakukankomunikasi yang lebih baik. Hal terpenting dalam budaya meliputi bahasa, agama,tradisi, dan kebiasaan.Perasaan takut dan was-was muncul dalam diri pendatang tersebut karenasetiap hari mereka harus berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya menggunakanbahasa daerah yang juga digunakan sebagai bahasa pengantar dalam pergaulansehari-hari. Proses komunikasi antarbudaya sangat dipengaruhi oleh persepsiseorang manusia mengenai lingkungan, benda dan peristiwa yang beradadisekitarnya. Bila seorang manusia telah memahami dan menghargai persepsiorang lain yang berbeda budaya, maka akan bisa melangsungkan proseskomunikasi dengan lancar dan memperoleh reaksi yang diharapkan.(http://www.anneahira.com/komunikasi-antarbudaya.htm).Dalam prosesnya, perbedaan latar belakang budaya memiliki pengaruhkuat terhadap munculnya kecemasan dan ketidakpastian yang berpotensimenimbulkan kesalahpahaman yang menjadi kendala dalam proses adaptasi dankerjasama antarbudaya tersebut. Oleh sebab itu, melakukan adaptasi dankerjasama antarbudaya tidaklah mudah dilakukan. Proses adaptasi budaya yangterjadi pada setiap suku bangsa ada beberapa model adaptasi yang dilakukan olehpendatang terhadap penduduk asli, adaptasi yang dilakukan penduduk asliterhadap pendatang dan adaptasi yang tidak dilakukan oleh pihak manapun,dimana masing-masing etnik berdiam diri tanpa melakukan adapatasi. Padaumumnya adaptasi yang paling sering terjadi adalah adaptasi yang dilakukan olehpenduduk pendatang terhadap penduduk asli.(http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/19439/5/Chapter%20I.pdf)3Keberadaaan pendatang di daerah yang baru merupakan hal yang menarikuntuk dicermati. Keberadaan pendatang tersebut dengan membawa budayaasalnya dengan mudah dapat ditemui dan dikenali misalnya dari logat maupunbahasa yang digunakan. Hal ini menjadikan mereka “berbeda” dengan masyarakathost culture. Keadaan “berbeda” ini akan menyebabkan suatu perasaan “asing”bagi para “perantau” ketika berada dilingkungan yang baru. Inilah yang disebutdengan gegar budaya.Ketika pertama kali berada di sebuah lingkungan yang baru berbagaimacam ketidakpastian (uncertainty) dan kecemasan (anxiety) dialami oleh hampirsemua individu. Ternasuk pendatang tersebut ketika berada di daerah baru.Ketidakpastian (uncertainty) dan kecemasan (anxiety) relative tinggi dari masingmasingindividu ketika melakukan komunikasi antar budaya pada gilirannyamenyebabkan munculnya tindakan atau perilaku yang tidak fungsional. Ekspresiperilaku yang tidak fungsional tersebut antara lain tidak memiliki kepedulianterhadap eksistensi orang lain, ketidaktulusan dalam berkomunikasi dengan oranglain, melakukan penghindaran komunikasi cenderung mennciptakan permusuhandengan orang lain (Turnomo Rahardjo, 2005: 13).II. Rumusan MasalahFaktor perbedaan budaya yaitu masalah bahasa, kebiasaan sehari-hari dan adatistiadat antara pendatang dengan masyarakat setempat (host culture) dalam hal inikeluarga pendatang menjadi masalah. Perasaan “berbeda” dari segi bahasa,kebiasaan dan adat istiadat ini berpotensi menimbulkan conflik. Perasaan“berbeda” ini juga dipengaruhi oleh persepsi dan tingginya pengharapanseseorang ketika memasuki lingkungan yang baru.Ketidakmampuan untuk memprediksi perilaku kalangan pendatang adalahbentuk ketidakpastian (uncertainty) dan kecemasan (anxiety) yang dialami olehkeluarga tersebut di lingkungan yang baru. Hal ini berpotensi menimbulkankesalahpahaman. Dalam prosesnya, ketika “perbedaan” ditonjolkan, dapatmeyebabkan munculnya konflik.4III. Tujuan Penelitian1. Untuk memahami kecemasan dalam interaksi antarabudaya bagi kalanganpendatang yang berpindah tempat.2. Untuk memahami proses adaptasi dan strategi adaptasi yang diterapkanoleh para pendatang saat memasuki daerah yang baru.3. Untuk memahami pengalaman dari host culture ketika hidupberdampingan bermasyarakat dengan kalangan pendatang.IV. Kerangka TeoriSecara konseptual ketidakpastian (uncertainty) merupakan ketidakmampuanseseorang untuk memprediksikan atau menjelaskan perilaku, perasaan, sikap ataunilai-nilai yang diyakini orang lain. Sedangkan, kecemasan (anxiety) merupakanperasaan gelisah, tegang, khawatir atau cemas tentang sesuatu yang akan terjadi.Ketidakpastian merupakan pikiran (thought) dan kecemasan merupakan perasaan(feeling). Ketidakpastian (uncertainty) dan kecemasan (anxiety) merupakanfaktor-faktor penyebab kegagalan komunikasi antar kultural. Gudykunts (dalamGudykunts, 2005:23) menjelaskan bahwa untuk menyesuaikan diri terhadapkebudayaan baru, seseorang tidak seharusnya mengurangi kecemasan danketidakpastian mereka secara total. akan tetapi, mereka tidak dapat berinteraksisecara efektif dengan host culture apabila ketidakpastian dan kecemasan merekaterlalu tinggi, sehingga mereka tidak mampu memprediksi perilaku wargasetempat.Teori negosiasi muka (Face-Negotiation Theory) adalah salah satu darisedikit teori yang secara eksplisit mengakui bahwa orang dari budaya yangberbeda memiliki bermacam-macam pemikiran mengenai “muka” orang lain.Pemikiran ini menyebabkan mereka menghadapi konflik dengan cara berbeda.Wajah merupakan perpanjangan dari konsep diri seseorang, wajah telah menjadifokus dari banyak penelitian didalam berbagai ilmu (Littlejohn & Karen A. Foss,1998 : 130).5Interaction Adaption Theory (IAT) is intended to provide a comprehensiveaccount of multiple concurrent adaptations patterns. Teori ini meningkatkanjangkauan dari model adaptasi yang lalu dengan menandai pengaruh yang kuatyang muncul dalam interaksi normal dan dengan memasukkan perilaku dan fungsikomunikasi yang lebih luas. Konsep kunci IAT adalah requirement, expectations,desires, interaction position, dan actual positions (Gudykunst, 2005: 162). Prosesadaptasi interaksi yang kompleks, yang belum ada, dan kadang-kadang takterlihat.Perasaan berbeda bahasa, adat istiadat dan budaya seketika hilang apabilakita mampu beradaptasi dengan baik di sekitar lingkungan baru kita. Perlahanlahanbudaya host culture harus dipelajari dan dimengerti apabila ingin hidupberdampingan secara harmonis dengan masyarakat setempat.V. Metodologi PenelitianTipe penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif, dengan pendekatanfenomenologi. Unit analisis data dalam penelitian ini terdiri dari empat orangpendatang (dua mahasiswa dan dua keluarga pendatang) sebagai subjekpenelitian, dan empat orang host culture yang menjadi informan tambahan gunacross-check data untuk memenuhi goodness criteria. Data diperoleh melaluiwawancara mendalam dengan delapan subjek penelitianVI. Kesimpulan Interaksi antarbudaya yang dilakukan oleh para informan dari luar pulau Jawadengan host culture di Semarang, mengalami kesulitan saat pertama kaliberinteraksi karena perbedaan budaya dan bahasa. Hal ini mengakibatkan parainforman mengalami kecemasan untuk berinteraksi kembali dengan hostculture serta ketidakpastian bahasa yang digunakan saat berpindah tempat diSemarang. Host culture membantu para informan yang mengalami kecemasandan ketidakpastian dengan membantu proses interaksi antarbudaya dalammelakukan adaptasi bagi para pendatang yaitu berinisiatif dahulu mengajak6para informan untuk berinteraksi dan mengajak para informan untukmengikuti kegiatan yang diadakan dilingkungannya, antara lain pengajian,arisan dan kegiatan olahraga. Proses adapatsi para informan dikatagorikan berdasarkan pengalamankomunikasi yaitu adaptasi antarbudaya yang dilakukan disekitarlingkungannya, konteks identitas dan perbedaan budaya serta bahasa parainforman, kepantasan dan keefektivitas para informan dalam berperilakusehari-hari di lingkungannya, pengetahuan para informan untuk lebihmengenal lingkungan baru, motivasi dalam melakukan interaksi dengan hostculture dan tindakan yang dilakukan para informan dilingkungannya. Prosesadaptasi para informan memakan waktu yang berbeda pada setiap informan,bergantung pada keaktifan informan terhadap kegiatan yang diadakan dilingkungannya. Semakin sering mengikuti aktivitas di lingkungannya, makaproses adaptasinya berjalan dengan cepat. Strategi adaptasi yang dipakai olehpara informan adalah strategi aktif dan strategi interaktif. Strategi aktif yaitumulai mencari tahu tentang lingkungan host culture dari orang yang sudahdahulu dikenal, strategi ini digunakan oleh informan I dan informan III yangberstatus mahasiswa. Sementara strategi interaktif yaitu berhubunganlangsung dengan host culture, seperti memulai percakapan dan interaksisehari-hari (pengajian, olahraga dan arisan), strategi ini digunakan olehinforman II dan informan IV yang merupakan keluarga pendatang. Pengalaman para host culture saat melakukan interaksi pertama kali denganpara informan berbeda-beda. Para host culture tersebut antara lain ibu kost,tetangga, teman kampus, teman kost dan teman lingkungan para informan. Ibukost para informan berinisiatif dahulu untuk melakukan pembicaraan denganinforman, karena akan menempati kost, sedangkan tetangga keluargapendatang juga lebih dahulu melakukan interaksi kepada informan agar cepatakrab dengan warga baru. Teman lingkungan kost maupun teman kampusmenunggu informan untuk melakukan interaksi terlebih dahulu karena takutberbeda bahasa dengan informan.7Gambar 4.1Bangunan Teoritik Pengalaman Proses Adaptasi Individu yang BerpindahTempat dengan Host Culture di SemarangMengalami Ketidakpastian KecemasanMembantu Proses AdatasiPENDATANGHOST CULTUREKompetensiKomunikasi:- AdaptasiAntarbudaya- Konteks- KepantasanDanEfektivitas- Pengetahuan- Motivasi- TindakanHambatan Proses Adaptasi:Internal : KarakteristikindividuExternal : Budaya danBahasaStrategi Adaptasi:- Strategi aktif- Strategi interraktif8DAFTAR PUSTAKABukuCupach, W. R., and Canary, D. J. (1997). Competence In Interpersonal Conflict.California: Waveland Press, Inc.Devito, A Joseph. (1997). Komunikasi Antar Manusia. Professional Books:Karisma Publishing.Guba, E. G. and Lincoln, Y. S. (1994a). Competing Paradigms In QualitativeResearch. London: Sage Publications.Guba, E. G. and Lincoln, Y. S. (1994b). Naturalistic Inquiry . London: SagePublications.Gudykunst, William. (2005). Theorizing About Intercultural Communication.California: Sage Publication, Inc.Liliweri, Alo. (2002). Makna Budaya dalam Komunikasi Antar Budaya.Yogyakarta: LKis.Liliweri, Alo. (2003). Makna Budaya dalam Komunikasi Antar Budaya EdisiRevisi. Yogyakarta: LKis.Liliweri, Alo. (2004). Dasar-dasar Komunikasi Antar Budaya. Yogyakarta:Pustaka Pelajar.Littlejohn, Stephen W, and Foss Karen A. (1998). Theories of HumanCommunication. Belmont: Thomson Learning, Inc.Lustig, Myron W. and Jolene Koester. (1996). Intercultural Competence:Interpersonal Communication Across Culture. New York: HappercollinsCollege Publisher.Lustig, Myron W. and Jolene Koester. (2006). Intercultural Competence:Interpersonal Communication Across Culture 6th Edition. New York:Happercollins College Publisher.Martin, Judith N. and Thomas K. Nakayama. (2004). InterculturalCommunication in Contexts. New York: McGraw – Hill.Moleong, Lexy J. (2002). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: RemajaRosdakarya.Moleong, Lexy J. (2005). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: RemajaRosdakarya.9Moleong, Lexy J. (2010). Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi Revisi. Bandung:Remaja Rosdakarya.Moustakas, Clark. (1994). Phenomenological Research Methods. California: SagePublication, IncMulyana, Deddy. (2010). Komunikasi Lintas Budaya: Pemikiran, Perjalanan.Bandung: Remaja Rosdakarya.Mulyana, Deddy. (2006). Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: RemajaRosdakarya.Rahardjo, Turnomo. (2005). Menghargai Perbedaan Kultural: KompetensiKomunikasi Antar Budaya dalam Komunikasi Antar Etnis. Yogyakarta:Pustaka Pelajar.Riswandi. (2009). Ilmu Komunikasi. Yogyakarta: Graha Ilmu.Samovar, Larry A, and Porter Richard E, Jain C Nemi. (1984). UnderstandingIntercultural Communication. Jakarta: Salemba Humanika.Samovar, Larry A, and Porter Richard E, McDaniel R Edwin. (2010). KomunikasiLintas Budaya. Jakarta: Salemba Humanika.Sukmadinata, Nana Syaodih. (2006). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung :Remaja Rosda KaryaSingarimbun M, dan Sofian E. (1995). Metode Penelitian Survey. Jakarta:Pustaka LP3ES Indonesia.Ting-Toomey, Stella. (1999). Communicating Across Cultures. California:Guilford PressYin, Robert K. (2006). Studi Kasus : Desain dan Metode. Jakarta : Raja GrafindoPersadaJurnalRahardjo, Turnomo. (2007). Jurnal Ilmu Komunikasi Vol. I. Semarang: 29SkripsiFrimandona, Nike., (2007). Memahami Adaptasi dalam Komunikasi Antarbudaya(Kasus Pernikahan Antaretnis Jawa-Minang). Skripsi. UniversitasDiponegoro.Ulfah, Maria., (2009). Memahami Adaptasi Antar Budaya antara Warga Asingdengan Host Culture di Salatiga. Skripsi. Universitas Diponegoro.Khotimah, Khusnul., (2010). Adaptasi Antar Budaya Warga Korea Selatandengan Budaya Tuan Rumah di Salatiga. Skripsi. Universitas Diponegoro.10Internet(http://gatothp2000.com/2011/09/23/cross-culture-sesorang-yg-diperjalankan/).Diunduh pada tanggal 14 September 2012 pukul 19.00 WIB(http://www.anneahira.com/komunikasi-antarbudaya.htm).Diunduh pada tanggal 14 September 2012 pukul 20.30 WIB(http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/19439/5/Chapter%20I.pdf).Diunduh pada tanggal 16 September 2012 pukul 21.00 WIB
Eksistensi Graffiti sebagai Media Ekspresi Subkultur Anak Muda Kurniasari, Triliana; Suprihatini, Taufik; Lukmantoro, Triyono
Interaksi Online Vol 1, No 2 (2013): Wisuda April
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PENDAHULUAN Menuangkan pesan ke dalam bentuk visual masih sering menjadi pilihan karena bentuk visual memiliki beberapa kelebihan, seperti bisa dinikmati lebih lama, pesan yang disampaikan dapat dipahami dengan lebih jelas, dan dapat terdokumentasikan dengan baik. Sementara di sisi lain, komunikasi visual juga bisa menjadi representasi sosial budaya suatu masyarakat yang dijalankan dan menjadi kebiasaan yang berlangsung lama dalam masyarakat itu. Di sini masyarakat dalam suatu cara tertentu memilih untuk berkomunikasi visual yang justru menunjukkan kelebihannya dibandingkan dengan budaya lainnya, termasuk lewat kemunculan budaya komunikasi visual dalam karya seni rupa jalanan atau street art.Graffiti, sebagai salah satu bentuk street art, mengandung pesan tertentu yang ingin disampaikan oleh para pembuatnya. Pesan bisa muncul secara tersembunyi atau eksplisit. Graffiti dipelopori oleh anak-anak muda yang “gatal” ingin menuangkan ide-ide kreatifnya untuk menunjukkan eksistensi dan ekspresi diri walaupun menggunakan cara-cara yang kerap dianggap melanggar aturan atau norma. Graffiti yang ada di Indonesia kemudian kental dihubungkan dengan kota Yogyakarta, karena bisa dikatakan hampir tiap tembok jalanan di sana tak luput dari sentuhan dan perhatian seniman lukis jalanan.Pada awalnya, menurut Majalah HAI No. 36/XXX/4-10 September 2006 (Wicandra, 2006: 52), graffiti menjadi sekadar coretan dinding yang berafiliasi dengan kelompok atau geng tertentu. Kemudian graffiti menemukan gaya baru yang mengarah pada artistic graffiti sehingga muncul seni mural yang banyak menyajikan kritik sosial. Di sini tembok jalanan menjadi tempat atau medium alternatif bagi seniman guna mengekspresikan segala hal yang mereka rasa dan pikirkan. Selain itu, cara ini juga dapat digunakan sebagai wujud pemenuhan kebutuhan akan eksistensi diri maupun komunitas. Dengan menggunakan nama jalanan (street name) dan ideologinya masing-masing, setiap writer (pembuat graffiti) menumpahkan ekspresinya melalui penampakan warna, objek, dan kata-kata dalam graffiti.Setiap kota ternyata memiliki ceritanya sendiri tentang keberadaan budaya visual graffiti, termasuk di Kota Semarang yang terlihat dari mulai banyaknyasudut kota yang dihiasi oleh graffiti. Walaupun aktivitas graffitinya tidak seramai di Yogyakarta, Kota Semarang pernah dihiasi graffiti mural yang menjadi perbincangan banyak orang yang bertema “Cicak vs Buaya”. Mural ini dibuat oleh 12 PM (one two pm), salah satu komunitas street art di kota Semarang, di Jalan Hayam Wuruk, Pleburan, Semarang, dan merupakan hasil kerjasama antara komunitas street art 12 PM dengan LSM Antikorupsi KP2KKN Jateng. Pesan dalam mural ini begitu mengena karena menggambarkan tentang kondisi politik di Indonesia saat itu yang sarat dengan kisruh politik antara Polri (digambarkan sebagai Buaya) dan KPK (sebagai Cicak).Daya kritis dalam graffiti menunjukkan seni memang tak bisa dipisahkan dengan realitas kehidupan sosial di masyarakat. Seni juga tidak bisa berdiam jika ada ketimpangan dalam kehidupan. Dengan bahasa dan style yang berkarakter, seni mampu berbicara dengan bahasa sendiri. Para seniman akan terus berekspresi meskipun wahana atau wadah mereka banyak yang hilang akibat ditelan perubahan zaman. Tembok jalanan menjadi tempat atau medium alternatif bagi seniman guna mengekspresikan segala hal yang mereka rasa dan pikirkan. Selain itu, cara ini juga dapat digunakan sebagai wujud pemenuhan kebutuhan akan eksistensi diri maupun komunitas. Demi sebuah eksistensi dan mempertahankan identitas agar tetap diakui, kelompok seniman street art tak kehabisan akal guna menuangkan uneg-uneg, mereka berkreasi bukan lagi di atas kanvas namun di tembok-tembok jalan (Andrianto, 2009).Kemunculan komunitas graffiti sendiri sesungguhnya merupakan salah satu bentuk subkultur anak muda di tengah masyarakat. Apa yang membuat subkultur anak muda sangat “terlihat” adalah adanya sifat khas dan perilaku anak muda yang suka mencari perhatian, melakukan pendobrakan, gemar pamer, dan tentu saja, berbeda. Beberapa cara yang dilakukan anak muda untuk mengkomunikasikan eksistensi dirinya muncul salah satunya lewat kebiasaan yang melanggar aturan atau norma. Dalam hal ini, graffiti yang muncul kerap dianggap sebagai salah satu masalah yang ditimbulkan anak muda ketika mereka tidak berhasil mendapatkan akses komunikasi yang diharapkan. Praktik graffiti kerap dijuluki sebagai vandalisme karena bentuknya yang dianggap merusak,mengotori, dan memperkumuh tembok kota. Karena itu, kerap muncul undang-undang yang melarang keberadaan graffiti di tengah masyarakat.Perkembangan komunitas graffiti menjadi suatu subkultur anak muda, dengan adanya sifat khas dan perilaku yang suka mencari perhatian, melakukan pendobrakan, gemar pamer, dan tentu saja, berbeda. Berdasarkan hal tersebut penelitian ini merumuskan permasalahan tentang eksistensi graffiti sebagai media komunikasi dan ekspresi subkultur anak muda.PEMBAHASANPenelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus, di mana peneliti hanya memiliki sedikit peluang untuk mengontrol peristiwa yang akan diselidiki dan bilamana fokus penelitian terletak pada fenomena kontemporer (masa kini) dalam konteks kehidupan nyata (Yin, 2002: 1). Menggunakan tiga orang informan yang terdiri dari para writer, studi kasus dipilih agar dapat memahami dan menjawab keingintahuan peneliti terhadap fenomena graffiti yang tengah berlangsung secara spesifik di Kota Semarang dengan batasan penelitian yang dibahas yakni eksistensi subkultur dan ekspresi yang dibawa oleh subkultur melalui graffiti. Selain itu, penelitian dilakukan karena terdapat keunikan pada penggunaan graffiti sebagai media komunikasi subkultur yang menyajikan berbagai elemen visual mulai dari penampakan garis, objek, warna, kata-kata, hingga penempatannya di jalanan yang mampu menarik perhatian khalayak.Graffiti sebagai bentuk komunikasi visual, sesuai dengan pendapat Chaffee (1993: 3) bahwa komunikasi mempunyai banyak muka, informasi bisa ditransmisikan melalui berbagai bentuk. Di sini komunikasi terbentuk melalui visualisasi graffiti berupa objek, kata-kata, dan pewarnaan sebagai media berekspresi anak muda. Adanya penampakan objek biasanya mewakili pesan yang ingin disampaikan, sementara kata-kata yang tersaji bisa menjadi sarana yang memudahkan penerimaan pesan oleh khalayak. Sedangkan penggunaan warna, bagi informan pria, secara psikologis menunjukkan ekspresi maskulinitas dengan kecenderungan warna gelap. Hal ini berbeda dengan informan wanita yang cenderung menunjukkan ekspresi keceriaan, kesetiaan, atau dedikasi pada orang lain. Tidak hanya itu, mereka yang merasa sebagai pemalu dan tidak percaya diri,bisa menyuarakan ekspresinya lewat graffiti karena di sini mereka tidak harus berbicara.Berdasarkan pengamatan, dominasi graffiti yang muncul di Semarang cenderung menyampaikan pesan visual dan tidak banyak graffiti yang membawa pesan sosial terkait dengan kondisi masyarakat di sekitarnya. Pesan visual tersebut biasanya dibuat dengan maksud memperindah suatu lokasi atau untuk menunjukkan eksistensi diri pada komunitas dan masyarakat. Dalam hal ini, berbagai elemen dalam graffiti bisa menghasilkan bentuk estetika tersendiri dalam berkomunikasi sehingga mampu membangun hubungan antara pembuat dengan khalayaknya. Hal ini karena adanya tiga elemen estetika visual seperti yang diutarakan Dake (2005: 7) tentang objek (yaitu graffiti), pembuat (yaitu writer), dan khalayak. Ketiga elemen tersebut saling mempengaruhi satu sama lain yang pada akhirnya saling membentuk umpan dan timbal balik atas penampakan graffiti.Sementara itu, keberadaan graffiti merupakan suatu bentuk subkultur di tengah masyarakat. Hebdige (Hasan, 2011: 220-221) berpandangan bahwa subkultur adalah subversi bagi apa yang dianggap normal. Subkultur bisa saja dianggap sebagai hal yang negatif karena watak kritisnya terhadap standar masyarakat yang dominan. Subkultur dibawa secara bersama-sama oleh kumpulan individu yang merasa diabaikan oleh standar masyarakat dan menyebabkan mereka mengembangkan perasaan kememadaian terhadap identitasnya sendiri.Mengikuti cara Gelder (Hasan, 2011: 221-222) yang mengusulkan enam kunci cara mendefinisikan subkultur, terlihat ada persamaan dan perbedaan bila masing-masing kunci tersebut diperbandingkan dengan hasil pengamatan di lapangan sebagai berikut:a. Melalui hubungan negatif mereka terhadap kerja (misalnya bersifat parasit, malas-malasan suka bermain di waktu luang).Berkaitan dengan hal ini, kenyataannya setiap writer tetap melakoni pekerjaan lain dalam rangka mempertahankan posisinya secara ekonomi dan politik agar tetap diakui keberadaannya oleh masyarakat. Umumnya mereka ini sangat aktif mengembangkan seni atau mengakrabi dunia anak muda. Dunia yang digeluti tidak jauh dari dunia kreatif, seperti menjadi desainer grafis. Jadi bisadikatakan hubungan negatif yang diutarakan Gelder tidak tampak pada subkultur graffiti yang muncul di Semarang.b. Melalui hubungan mereka yang ambivalen atau negatif terhadap kelas (jika subkultur bukanlah „kesadaran kelas‟ dan tidak konformitas terhadap definisi kelas secara tradisional).Secara umum, graffiti di Semarang tidak dijadikan sebagai sebuah gerakan yang merujuk pada kelas tertentu termasuk kelas atau kelompok akar rumput. Lebih tepatnya, para pelaku yang muncul justru mengandalkan graffiti hanya sebagai sumber ketenaran kelompok dan individu. Graffiti yang tersaji kebanyakan melambangkan nama kelompok dan belum banyak jenis graffiti mural yang menyikapi keadaan sekitar dengan kritis. Ini menandakan bahwa graffiti di Semarang masih berupaya pada usaha mencari “jati diri” street art yang ingin dikembangkan oleh subkultur.c. Melalui asosiasi mereka terhadap teritori atau wilayah (misalnya di jalanan, di klab, kelompok tertentu) daripada pada kepemilikan dan kekayaan.Sebagai salah satu bentuk street art, graffiti sudah tentu beredar di jalanan. Setiap kelompok (crew) umumnya mempunyai penanda markasnya masing-masing. Di sini ada kebiasaan untuk mencantumkan tanda tangan di setiap sudut jalanan yang pernah disinggahi, tidak peduli apakah itu ditimpakan di tembok, baliho, bahkan rambu lalu lintas. Selain itu, ada aturan yang dianut setiap writer untuk saling meminta ijin sebelum menimpa gambar writer lain. Aturan lainnya yang berlaku adalah tidak menggambar di daerah terlarang seperti rumah sakit, sekolah, dan tempat ibadah.d. Melalui perpindahan mereka keluar rumah dan ke dalam bentuk-bentuk kepemilikan non-domestik (kelompok sosial daripada keluarga).Berbeda dengan pendapat Gelder ini, pergerakan subkultur graffiti di Semarang tetap mendapat dukungan domestik yakni dari keluarga. Kenyataannya setiap individu tidak melepaskan dirinya dari pergaulan dalam kelompok sosial termasuk dengan subkultur lain berkembang di sekitarnya. Artinya tidak ada perpindahan para pelakunya ke luar rumah, melainkan secara seimbang mereka bergerak di antara kutub domestik dan non-domestik.e. Melalui ikatan mereka yang unik terhadap gaya yang berlebihan dan kadang keterlaluan.Mengamati pergerakan writer di Semarang, ternyata tidak terdapat gaya berlebihan yang muncul melainkan terdapat pembedaan gaya yang khas terhadap komunitas atau subkultur lain. Kekhasan yang muncul hanyalah penggunaan identitas crew yang melekat pada pakaian yang didesain dan didistribusikan komunitas graffiti secara independen (distro). Hal ini dikarenakan setiap writer umumnya juga bergerak di bidang desain grafis sehingga bisa mengambil keuntungan untuk mengenalkan crew-nya melalui distro tersebut.f. Melalui penolakan mereka terhadap kedangkalan (banalitas) dari kehidupan yang umum yang merupakan korban masifikasi dan tren.Salah satu bentuk penolakan dalam subkultur graffiti misalnya adalah penggunaan ideologi indie atau DIY (Do It Yourself) seperti yang dianut kelompok musik underground, komunitas BMX, skateboard, dan subkultur lainnya. Ideologi indie berlaku pada pemakaian identitas pada merek distro yang dikenakan setiap individu dan biasanya setiap writer akan melekatkan karakter graffitinya ke dalam merek distronya. Penolakan lainnya berupa perlawanan atau perebutan ruang publik dengan tembok-tembok komersial. Ketika wajah perkotaan dipenuhi oleh pesan komersial, saat itulah writer menggunakan graffiti sebagai ajang perlawanan lewat pembuatan tagging secara masif dan diam-diam dalam satu spot komersial.Karakteristik utama dari semua subkultur adalah bahwa anggota subkultur terpisah atau terlepas di berbagai tingkat yang dianggap sebagai budaya dominan. Pembagian tersebut bisa berupa isolasi total atau terbatas pada aspek-aspek kehidupan seperti pekerjaan, sekolah, kesenangan, pernikahan, pertemanan, agama, atau tempat tinggal. Sebagai tambahan, pemisahan tersebut bisa terjadi dengan sukarela, karena lokasi geografis, atau kebebasan (Ferrante, 2011: 61). Hal inilah yang terjadi pada subkultur graffiti yang memisahkan diri dari masyarakat dengan membentuk identitasnya sendiri berdasarkan kesepakatan dan aturan yang dianut di dalam kelompoknya. Dalam pembentukan identitas tersebut, subkulturgraffiti juga membawa ekspresi perlawanan yang mengiringi pergerakannya di tengah masyarakat.Sementara itu, kultur perlawanan yang terbentuk dalam subkultur graffiti Semarang berupa “perang” public space, di mana para writer bertarung memperebutkan ruang publik dengan pemerintah dan para pengiklan. Ruang publik adalah tempat berinteraksi yang mempertemukan semua unsur masyarakat ke dalam sebuah situasi yang luas. Karenanya tidak jarang ruang publik dimanfaatkan berbagai pihak untuk kepentingan menyampaikan pesan. Salah satunya oleh pemerintah dalam mensosialisasikan kebijakan kepada masyarakat melalui baliho, spanduk, dan sebagainya. Pihak lainnya yakni para pemilik modal atau pengiklan yang mampu menyewa tembok untuk kepentingan komersial. Di sini, kultur perlawanan oleh subkultur graffiti mewujud dalam bentuk vandalisme. Vandalisme memang tidak bisa dipisahkan dari budaya graffiti dan lebih sering muncul lewat timpa-menimpa gambar graffiti.Berdasar pengamatan, iklan komersial ternyata cukup mendominasi wajah ruang publik. Setiap tempat di sudut kota tidak ada yang tidak tersentuh iklan, sebut saja di jembatan penyeberangan, di persimpangan jalan, di sekitar lampu merah, di tembok rumah, di mana pun bisa ditemui iklan komersial. Bahkan penempatan iklan komersial tidak jarang menyalahi aturan, seperti dengan menempelkan sederet poster iklan yang sama pada satu tembok. Kemampuan iklan komersial melahap ruang publik dikarenakan kemampuan pemilik modal untuk membayar waktu dan tempat beriklan. Karenanya bila dilihat secara kasat mata, iklan komersial begitu merajai beragam medium yang tersaji di jalanan. Pada posisi inilah graffiti menjadi pesaing iklan-iklan komersial. Writer sejatinya termasuk salah satu pihak yang bersaing mendapatkan perhatian khalayak di ruang publik. Karena adanya persaingan tersebut, tidak jarang tanda tangan atau tagging ditimpakan pada iklan-iklan komersial di tembok kota.Perlawanan ini menciptakan subkultur graffiti yang memadukan tiga bentuk protes seperti yang disebutkan Yinger (Hasan, 2011: 222), yaitu 1) penentangan terhadap nilai dominan berupa tindakan masyarakat yang patuh pada pemerintah dan budaya konsumerisme karena adanya iklan komersial, 2) penentangan terhadap struktur kekuasaan yang terlihat melalui larangan mencorat-coret tembok atau kemampuan pemilik modal dalam membeli tembok, dan 3) penentangan terhadap pola-pola komunikasi yang terperangkap dalam nilai-nilai dominan itu yakni berupa paksaan mematuhi peraturan pemerintah serta bujukan dan rayuan terhadap terbentuknya masyarakat konsumen.Adanya ekspresi perlawanan memang tidak pernah lepas dari graffiti, di mana dengan perlawanan tersebut graffiti bisa mendapatkan posisinya saat ini di masyarakat. Posisi tersebut di satu sisi masih lekat dengan penolakan yang menganggapnya sebagai perusakan terhadap fasilitas publik, sedangkan di sisi lain ia diterima karena efektivitasnya dalam mengkritisi keadaan sosial masyarakat.PENUTUPFenomena graffiti yang muncul di beberapa kota belakangan ini menjadikan dinamika perkotaan yang semakin beragam menarik untuk dipelajari. Tidak terkecuali di Kota Semarang di mana kemunculannya mendapat penilaian yang berbeda-beda dari masyarakat. Bagi sebagian kalangan, graffiti dianggap hanya sebagai coretan tembok belaka yang tidak mempunyai makna. Namun bagi sebagian yang lainnya, graffiti dianggap sebagai karya seni yang menyatukan elemen garis, bentuk, dan warna di medium tembok jalanan. Selain itu, graffiti juga dianggap bisa menyampaikan pesan tentang eksistensi pembuatnya.Eksistensi gerakan graffiti di Semarang masih berupaya mencari jati diri dengan cara bergerilya dari satu tembok ke tembok lainnya, masif, dan militan. Ada kecenderungan graffiti menjadi semacam tren di kalangan anak muda yang muncul dengan ideologi “ikut-ikutan”. Hal ini terlihat dari kemunculan banyak seniman (writer) baru yang menggunakan graffiti hanya sebagai ajang pemenuh kepuasan pribadi dan eksistensi diri, yakni dengan membuat pesan visual seperti dalam piece, tagging, dan throw-up yang dibuat sebebas-bebasnya, tanpa mengandung pesan sosial tertentu seperti yang ada pada jenis mural dan stensil. Meskipun demikian, seniman yang lebih senior biasanya telah menemukan originalitas karya dengan membuat graffiti yang berisi pesan sosial.Gerakan graffiti di Semarang membawa ekspresi perlawanan yang berupa perebutan ruang publik antara para seniman dengan para pemilik modal. Perlawanan terlihat dari kecenderungan writer untuk menimpa gambar secarasembunyi-sembunyi dan tanpa ijin di spot-spot yang dipenuhi dengan pesan periklanan atau komersial. Hal ini terkait dengan kenyataan banyaknya tembok kota yang menjadi spot komersial sehingga sarana untuk menumpahkan ekspresi semakin berkurang. Karena bentuk perlawanan tersebut, graffiti di Semarang masih lekat dengan stempel vandalisme. Masyarakat cenderung menilai graffiti sebagai tindakan yang tidak bertanggung jawab dan mengotori keindahan lingkungan.Menggunakan metode studi kasus, penelitian ini memberikan gambaran bagaimana komunitas graffiti membentuk subkultur yang terus bertahan di tengah masyarakat dan menggunakan graffiti sebagai media ekspresi dan komunikasi. Dalam hal ini, studi kasus dipilih untuk menjawab keingintahuan peneliti berkaitan dengan kemunculan fenomena graffiti secara spesifik di suatu wilayah, yaitu di Semarang, dengan batasan penelitian yang dibahas yakni eksistensi subkultur dan ekspresi yang dibawa oleh subkultur melalui graffiti. Hal ini terkait dengan pemanfaatan graffiti untuk menyampaikan pesan kepada khalayak. Penempatannya di jalanan menjadi daya tarik tersendiri, di mana mulai dari proses pembuatan hingga hasil akhir selalu menarik perhatian khalayak yang lalu lalang di jalanan.Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi perkembangan komunikasi visual di kalangan anak muda, khususnya graffiti yang disajikan sebagai bentuk ekspresi diri namun kerap dianggap vandalisme oleh masyarakat. Peneliti berusaha memberikan penyadaran kepada masyarakat bahwa graffiti selayaknya dihargai sebagai media komunikasi dan ekspresi anak muda yang menyajikan berbagai pesan mulai dari eksistensi individu hingga pesan sosial. Oleh karena itu, peneliti memberikan rekomendasi agar writer mampu menyajikan graffiti yang bisa dipertanggungjawabkan, artinya memiliki konsep yang jelas dan mengandung pesan sosial sekaligus pesan visual sehingga bisa menimbulkan timbal balik yang lebih banyak dari khalayak. Dengan demikian fungsi sosial dan visual graffiti sama-sama bisa terpenuhi, yakni di satu sisi pesan pesan sosial mampu membangkitkan pemahaman bahwa graffiti bisa ditujukan sebagai media mengkritisi keadaan di lingkungan masyarakat. Sementara di sisi lain, secara visual graffiti dapat dimanfaatkan untuk memperindah lokasi.DAFTAR PUSTAKAChaffee, Lyman G. 1993. Political Protest and Street art: Popular Tools for Democratization in Hispanic Countries. Westport: Greenwood Publishing Group, Inc.Dake, Dennis. 2005. “Aesthetic Theory” (dalam Handbook of Visual Communication: Theory, Methods, and Media, Ken Smith dkk, New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates, Inc., hal. 3-22).Ferrante, Joan. 2011. Seeing Sociology: An Introduction. California: Wadsworth Cengage Learning.Hasan, Sandi Suwardi. 2011. Pengantar Cultural Studies. Yogyakarta: Ar Ruz Media.Yin, Robert K. 2002. Studi Kasus: Desain dan Metode. Jakarta: Raja Grafindo Persada.Sumber internet:Andrianto, Andi. 2009. “Graffiti, Simbol Perlawanan Kota” (http://www.suara merdeka.com/smcetak/index.php?fuseaction=beritacetak.detailberitacetak&id_beritacetak=58125; diakses 25/03/2012 22:16:13)Wicandra, Obed Bima. 2006. “Graffiti di Indonesia: Sebuah Politik Identitas Ataukah Tren? Kajian Politik Identitas pada Bomber di Surabaya” dalam Jurnal Nirmana Vol. 8, No. 2, Juli 2006, hal. 51-57. (http://fportfolio. petra.ac.id/user_files/02-032/POLITIK%20IDENTITAS%20GRAFFITI. PDF; diakses 24/03/2012 21:31:26)
Memahami Pengalaman Negosiasi Identitas Komunitas Punk Muslim di Dalam Masyarakat Dominan Mardiansyah, Muhammad Reza; Rahardjo, Turnomo; Suprihatini, Taufik
Interaksi Online Vol 1, No 2 (2013): Wisuda April
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang Sejak dulu, fenomena Punk di Indonesia selalu dihadapkan dengan masalah bahwa anak-anak Punk tidak lebih dari sekadar sampah masyarakat. Gaya hidup mereka yang cenderung menyimpang seringkali dikaitkan dengan perilaku anarkis, brutal, bikin onar, mabuk-mabukan, narkoba, sex bebas dan bertindak sesuai keinginannya sendiri mengakibatkan pandangan masyarakat akan anak Punk adalah berandal yang tidak mempunyai masa depan yang jelas. Ditambah lagi dengan tindakan kriminal yang belakangan ini mulai banyak dilakukan anak Punk mulai dari penjambretan dan pencurian.Pandangan buruk terhadap komunitas Punk sudah sangat melekat dalam masyarakat, tetapi ternyata tidak semua komunitas Punk seperti yang digambarkan di atas. Di daerah Pulogadung Jakarta Timur terdapat sebuah komunitas Punk yang menggunakan agama Islam sebagi ideologi yang mereka anut yaitu komunitas Punk Muslim.Komunitas Punk Muslim adalah komunitas Punk yang berdiri sejak tahun 2007 lalu. Kata Muslim yang digunakan dalam nama komunitas Punk Muslim bukan tanpa alasan, sejak berdirinya komunitas Punk Muslim, komunitas ini berkomitmen akan membawa Islam sebagai jalur dalam segala kegiataannya.Punk Muslim hampir sama dengan komunitas Punk lainnya, mereka tetap membawa counter culture yang sama, yaitu mendobrak kebiasaan lama dan anti mainstream. Yang membedakan Punk Muslim dengan komunitas Punk lainnya hanya pada ideologinya, jika komunitas Punk lainnya lebih cenderung menggunakan ideology bebas dan anarkis, Punk Muslim menggunakan ideology islam yang lebih terarah dan teratur. Dalam penampilannya komunitas Punk Muslim juga tidak berbeda dengan komunitas Punk lainnya, mereka tetap bercelana jeans kumal, berkaos hitam lusuh dan sepatu boot malah sebagian anggota Punk Muslim masih ada yang menggunakan tattoo.Komunitas Punk Muslim didirikan karena ingin merubah stigma negatif yang menempel pada komunitas Punk pada umumnya. Ketika banyak yang menilai komunitas Punk itu hanya sampah masyarakat, komunitas Punk mencoba untuk merangkul mereka. Komunitas Punk Muslim mencoba menjelaskan kepada teman-teman Punk bahwa menjadi anak Punk itu tidak harus dengan tindakan anarkis, kriminal dan kebebasan yang tanpa aturan. Komunitas PunkMuslim tidak mencoba untuk melawan komunitas Punk lainnya, komunitas Punk Muslim hanya melawan sebuah konsep atau sistem kebebasan yang terlampau ekstrim yang menyebabkan anak-anak Punk terlihat negatif dalam masyarakat..Dalam kegiatan sehari-harinya anggota Punk Muslim selalu menggelar pengajian rutin di markas mereka untuk menambah ilmu mereka tentang agama, mereka juga tidak lupa menjalan shalat 5 waktu bahkan pada saat bulan ramadhan mereka menjalankan ibadah puasa, mengadakan shalat tarawih bareng dan juga pesantren untuk anak-anak Punk dan jalanan. Komunitas Punk Muslim ini juga menyalurkan aspirasi mereka lewat sebuah band Punk Muslim yang sudah terbentuk terlebih dahulu, sampai saat ini mereka sudah mengeluarkan dua album Punk yang memadukan aliran musik Punk dengan syair-syair religi.Komunitas Punk Muslim memang berbeda dengan komunitas Punk lainnya, mereka tidak lagi menggunakan ideologi bebas seperti komunitas – komunitas Punk lainnya, mereka menggunakan ideologi Muslim yang lebih terkonsep dan terarah. Namun, dengan masih menggunakan nama komunitas Punk mereka masih tetap saja menjadi komunitas yang termarjinalkan dalam masyarakat. Identitas mereka sebagai anak Punk lebih banyak membawa kerugian dari pada membawa keuntungan bagi mereka yang menyandangnya. Hal ini terjadi karena adanya persepsi yang salah pada masyarakat dalam memandang komunitas Punk.Munculnya stigma negatif tentang komunitas Punk juga berpengaruh pada identitas komunitas Punk Muslim. Tidak dipungkiri bahwa banyaknya perilaku anak Punk yang menyimpang seperti mabuk-mabukan, melakukan kekerasan dan tindak kejahatan membawa perubahan terhadap identitas komunitas Punk Muslim. Negoisasi identitas pun dilakukan oleh komunitas Punk Muslim ketika mereka harus berinteraksi dengan masyarakat dominan, dengan tetap mempertimbangkan budaya Punk itu sendiri dan budaya masyarakat dominan.Menurut Cupach dan Imahori, faktor dominan yang mempengaruhi identitas individu adalah budaya (cultural) dan identitas rasional (rational identities). Budaya memberikan pikiran, ide, cara pandang, sementara identitas rasional memberikan pola interaksi dan pola sosial yang membentuk bagaimana individu hendak memproyeksikan karakter dirinya berdasarkan pengalamannya dalam menjalani hubungan dengan orang lain atau dominant culture (Gudykunts, 2002: 191-192)Dalam konteks komunikasi antarbudaya, setiap melakukan komunikasi dengan orang dari budaya yang berbeda, pasti akan melakukan negosiasi identitas budaya masing-masing dalam diri individu tersebut. Orang–orang akan bernegosiasi dengan diri mereka sendiri tentang identitas budaya yang melekat pada mereka dan identitas budaya lain. Identitas didefinisikan sebagai konstruksi refleksi diri yang tampak, dibangun, dan dikomunikasikan dalam konteks interaksi budaya tertentu. Sedangkan negosiasi berarti interaksi transaksional dimana individu-individu yang berada dalam situasi antarbudaya akan memproses konsep diri orang lain dan diri mereka sendiri. Teori negosiasi identitas dipaparkan oleh Ting-Toomey memiliki asumsi, bahwa dalam teori ini menekankan konsepsi refleksi diri yang bekerja pada saat komunikasi antarbudaya berlangsung (Gudykunts, 2005:217).Agar diterima dan mendapatkan kenyamanan di lingkungan, maka komunitas Punk Muslim harus bisa menegosiasikan identitas Punk yang mereka punya kepada masyarakat dominan secara efektif. Mereka harus menegosiasikan bahwa Identitas Punk yang di punyai Punk Muslim bukan lagi seperti komunitas Punk pada umumnya yang sudah mempunyai citra buruk di dalam masyrakat. Identitas komunitas Punk Muslim tersebut akan terbentuk melalui negosiasi ketika mereka menyatakan, memodifikasi dan menentang identifikasi –identifikasi komunitas Punk pada umunya melalui sikap, perbuatan dan tindakan mereka kepada masyarakat dominan. Mereka seharusnya tidak lagi menentang budaya masyarakat dominan, tetapi seharusnya memahami, menghormati dan menghargai budaya masyarakat dominan karena Inti dari keberhasilan negoisasi adalah kedua belah pihak merasa sama-sama di pahami, dihormati, dan dihargai.II. Perumusan MasalahMelalui penelitian ini, peneliti ingin mengetahui bagaimana komunitas Punk Muslim menegosiasikan identitas mereka dalam masyarakat dominan yang masih menganggap komunitas Punk itu negatif ?.III. Tujuan Penelitian1. Memahami pengalaman negosiasi identitas yang dilakukan oleh komunitas Punk Muslim di dalam masyarakat dominan2. Mengetahui apakah masyarakat dominan masih menganggap komunitas Punk Muslim itu negatif setelah dilakukannya negosiasi identitas.IV. Signifikasi PenelitianSignifikasi TeoritisPenelitian ini secara teoritis diharapkan mampu memberikan kontribusi dalam mengkaji teori negosiasi identitas. Negosiasi identitas dalam penelitian ini akan mengkaji tentang pengalaman negosiasi identitas yang dilakukan komunitas Punk Muslim di dalam masyarakat dominan dalam konteks komunikasi budaya.Signifikasi PraktisSecara praktis, penelitian ini diharapkan dapat menjelaskan tentang bagaimana komunitas Punk Muslim menegosiasikan identitas mereka di dalam masyarakat dominan.Signifikasi SosialDalam tataran sosial, penelitian ini diharapkan mampu memberikan gambaran pengalaman negosiasi identitas komunitas Punk Muslim di dalam masyarakat dominan sehingga diharapkan mampu menjadi pedoman untuk pembaca dan mayarakat luas khususnya kelompok minoritas yang akan menegosiasikan identitasnya dengan baik dengan kelompok budaya dominan.V. Kerangka Teoritik Co-Culture TheoryCo-culture merupakan pemikiran teoritik yang menjelaskan kesetaraan budaya (Rahardjo.2005:46). Komunikasi co-culture merujuk pada interaksi diantara para anggota kelompok underrepresented dengan kelompok dominan. Fokus dari teori co-culture adalah memberikan sebuah kerangka dimana para anggota co-culture menegosiasikan usaha-usaha untuk menyampaikan suara diam mereka dalam struktur dominan. Teori Negosiasi IdentitasDidasarkan pada cross-cultural-face-negotiation-theory nya, Toomey berargumentasi bahwa negosiasi identitas adalah prasyarat untuk komunikasi antarbudaya yang sukses. Ia menekankan bahwa “negosiasi identitas yang efektif adalah proses antar dua interaksi dalam suatu peristiwa komunikasi dan ini penting sebagai basis kompetensi komunikasi antarbudaya (Gudykunts, 2002 : 192).Pada intinya Teori negosiasi identitas ini menjelaskan bahwa negosiasi identitas terjadi secara efektif apabila kedua belah pihak merasa dipahami, dihormati dan diterima nilainya sehingga timbul rasa pengertian diantara kedua pihak yang menegosiasikan identitasnya.VI. Metode PenelitianMetode pengkajian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif yang bertujuan untuk menjelaskan fenomena dengan sedalam-dalamnya mengenai negosiasi identitas komunitas Punk Muslim di dalam budaya dominan. Pendekatan yang dipakai dalam penelitian ini adalah fenomenologi yang fokus pada pemikiran pengalaman pribadi subjek yang dalam ini adalah komunitas Punk Muslim.Lokasi Penelitian berada di Jakarta, dengan subjek penelitiannya adalah anggota komunitas Punk Muslim yang yang sudah menjadi anggota minimal satu tahun karena dianggap sudah memiliki pengalaman yang banyak dan diharapkan mereka dapat memberikan informasi tentang pengalaman mereka menegosiasikan identitas mereka di dalam masyarakat dominan.Dalam penelitian ini pengumpulan data dilakukan dengan cara melakukan wawancara mendalam (indepth interview) dimana anggota narasumber (komunitas Punk Muslim) diminta menceritakan pengalaman komunikasinya dalam menegosiasikan identitasnya dalam masyarakat budaya dominan. Wawancara ini akan menggunakan interview guide (panduan wawancara) yang dapat menjadi alat bantu subjek penelitian (komunitas Punk Muslim) dalam menjawab pertanyaan dan menggunakan alat bantu seperti alat tulis dan perekam suara.VII. Kesimpulan Munculnya Punk di Indonesia selalu dihadapkan dengan stereotip masyarakat dominan yang masih memandang komunitas Punk sebagai kelompok yang identik dengan keonaran, ketidakmapanan dengan hidup di jalanan, dan sering mabuk-mabukan sehinggaupaya merazia mereka dilakukan dimana-mana dengan alasan mengganggu ketertiban umum. Stereotip yang berkembang mengenai komunitas Punk pada umumnya memengaruhi komunitas Punk Muslim dalam membangun identitasnya yang ingin merubah pandangan masyarakat terhadap komunitas Punk menjadi postif. Anggota masyarakat yang melabelkan stereotip kepada komunitas Punk Muslim dipengaruhi oleh minimnya komunikasi yang terjalin antara masyarakat dan komunitas Punk Muslim akibat adanya stereotip tersebut. Berdasarkan hasil penelitian, komunitas Punk Muslim menggunakan perspektif agama Islam sebagai ideologi mereka. Ideologi merupakan cara berpikir seseorang atau kelompok yang membentuk sekumpulan konsep bersistem berupa pemahaman maupun teori dengan tujuan tertentu. Komunitas Punk Muslim menggunakan ideologi agama Islam yang tidak hanya mengarah kepada duniawi, tetapi kepada akhirat juga. Ideologi tersebut juga digunakan oleh komunitas Punk Muslim sebagai identitas mereka yang berbeda dengan komunitas Punk pada umumnya yang banyak menggunakan ideologi D.I.Y (Do It Your Self) yang berarti mereka dapat mengerjakan segala sesuatunya sendiri tanpa bantuan orang lain. Ideologi ini muncul karena sifat mereka yang anti sosial, tidak mempercayai siapapun diluar komunitas Punk, bahkan kecenderungan ideologi ini selalu berkaitan dengan perlawanan terhadap kekuasaan atau politik, anti sosial, minoritas, anti hukum, dan segala hal yang cenderung negatif. Identitas komunitas Punk Muslim tidak mereka tunjukkan melalaui atribut-atribut khusus yang mereka gunakan. Komunitas Punk Muslim cenderung bersikap layaknya masyarakat biasa dengan cara berperilaku sopan, berpakaian bersih dan wangi walaupun masih tetap menggunakan pakaian serba hitam seperti komunitas Punk pada umumnya, dan menutupi atribut-atribut Punk yang menyeramkan seperti tatto, anting, tindikan dan rambut mowhawk. Cara tersebutlah yang mereka tunjukkan sebagai identitas mereka sebagai seorang anggota komunitas Punk Muslim. Komunitas Punk Muslim yang berupaya untuk mengubah pandangan masyarakat terhadap komunitas Punk menjadi positif, menegosiasikan identitasnya didalam masyarakat dominan dengan melakukan strategi komunikasi akomodasi. Mereka mencoba menjalin hubungan positif dengan masyarakat tetapi tetap mempertahankan identitas mereka. Hal tersebut terbukti dari keaktifan komunitas Punk Muslim melakukankegiatan-kegiatan sosial seperti Tabliq, sunatan masal, membagi santunan kepada anak yatim dan para janda di lingkungan sekitar markas, namun mereka tetap mempertahankan identitasnya sebagai komunitas Punk dengan hidup dijalanan dan tetap memainkan musik beraliran Punk walaupun liriknya bernuansa Islam. Komunitas Punk Muslim melakukan strategi tersebut agar masyarakat sekitar bisa menerima komunitas Punk Muslim sebagai komunitas yang mempunyai citra positif. Hasil dari negosiasi identitas yang dilakukan komunitas Punk Muslim didalam masyarakat dominan adalah feeling of being understood (perasaan dipahami), komunitas Punk Muslim dan anggota masyarakat dominan sekitar markas yang terus melakukan interaksi untuk terus memahami perbedaan budaya dan latar belakang budaya satu sama lain. Selanjutnya adalah Feeling of being respected (perasaan dihormati) komunitas Punk Muslim mencoba menghormati masyarakat sekitar dengan meminta izin kepada ketua RW dan RT setempat sebagai perwakilan dari masyarakat setempat bila ingin mengadakan suatu acara. Wargapun menghormatinya dengan memberikan izin dan ikut berpartisipasi dalam acara tersebut. Terakhir adalah feeling being affirmative value (perasaan diterima nilai perbedaannya) yakni menguatkan secara positif dan menerima perbedaan. Komunitas Punk Muslim yang memiliki kemampuan di bidang musik diminta masyarakat untuk mengisi acara pada kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh masyarakat sekitar. Begitu juga dengan komunitas Punk Muslim, pada setiap kegiatan kemasyarakatan di lingkungan sekitar seperti kerja bakti, tahun baru Islam dan rapat RT, komunitas Punk Muslim selalu menghadiri acara tersebut karena masyarakat sekitar sudah dapat menerima komunitas Punk Muslim sebagai waga sekitar. Berdasarkan hasil negosiasi identitas komunitas Punk Muslim didalam masyarakat dominan. Masyarakat sudah tidak lagi menganggap komunitas Punk Muslim itu sebagai komunitas yang memiliki citra negatif tetapi sudah sebagai komunitas yang mempunyai citra positif di mata masyarakat. Hal itu di tunjukkan dengan kedatangan masyarakat atau partisipasi masyarakat pada saat komunitas Punk Muslim mengadakan acara atau dengan melihat antusias warga yang mengundang komunitas Punk Muslim dalam acara mereka.Gambar 4.1Bagan Pengalaman Negosiasi Identitas Komunitas Punk Muslim Didalam Masyarakat DominanKomunitas Punk Muslim (Subculture) Masyarakat dominan (Dominant Culture) Stereotip Terhadap Komunitas Punk Strategi Akomodasi (Kegiatan sosial dan kegiatan positif) Negosiasi Identitas Hasil Negosiasi Identitas : feeling of being understood (perasaan dipahami) feeling of being respected (perasaan dihormati) feeling being affirmative value (perasaan diterima nilai perbedaannya) Ideologi Agama Islam Keinginan Merubah Pandangan Negatif Terhadap komunitas Punk Bersikap layaknya masyarakat biasaDAFTAR PUSTAKABarnard, Malcolm. 2011. Fashion sebagai Komunikasi : Cara Mengkomunikasikan Identitas Sosial, Seksual, Kelas, dan Gender. Yogyakarta : Jalasutra.Fiske, John. 2011 diterjemahkan oleh Yosial Iriantana, MS. Dan Idi Subandy Ibrahim. Cultural and Communication Stuides. Sebuah Pengantar Paling Komprehensif. Yogyakarta: Jalasutra.Gudykunst.William B. 2002. Handbook of International and Interculutal Communication Second Edition. Thousand Oaks, California: SAGE publication.Gudykunst, William. 2005. Theorizing About Intercultural Communication. California : Thousand Oaks : SAGE Publication, Inc.Hebdige, Dick. 1979. Subculture the Meaning of Style. London & Newyork : Routledge Taylor and Francis Group.Littlejohn, Stephen W. & Karen A. Foss.2009. Teori Komunikasi Edisi 9. Jakarta: Salemba HumanikaLittlejohn, Stephen W & Karen A. Foss. 2009b. Encyclopedia of Communication Theories. California : Thousand Oaks : SAGE Publication, Inc.Martin, Judith & Thomas K. Nakayama. 2007. Intercultural Communication In Context (4th ed). NewYork : McGraw-HillMoleong, Lexy J. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : PT. Rosdakarya.Moustakas, Clark. 1994. Phenomenological Research Methods. California : SAGE Publication.Neuman, William Lawrence. 1997. Social Research Methods : Qualitative and Quantitative Approaches. Needhom Heights : A Valcom Company.Pearson, Judy C.,Paul E. Nelson, Scott Listworth. Lynn Harter. (2011). Human Communication (4th ed.). New York: McGraw-HillRahardjo, Turnomo. 2005. Menghargai Perbedaan Kultural. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.Sulistiyani, Hapsari. 2006. Modul Pelatihan Metode Penelitian Kualitatif. Semarang : Fisip Undip.INTERNEThttp://antarabogor.com/index.php/detail/1983/anak-Punk-resahkan-warga-depokhttp://www.facebook.com/pages/PUNK-Muslim-original page/163233493698838?fref=tshttp://punkmuslim.multiply.com/?&show_interstitial=1&u=http://allamandakathriya.blogspot.com/2012/04/komunitas-punk.html.
REPRESENTASI ISLAM DALAM FILM TANDA TANYA “?” Herdini, Geta Ariesta; Suprihatini, Taufik; Rahardjo, Turnomo
Interaksi Online Vol 1, No 2 (2013): Wisuda April
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang Film Tanda Tanya “?” menceritakan tentang kehidupan beberapa keluargadengan konflik yang berbeda. Konflik-konflik yang ditayangkan yaitu seputarpermasalahan antar etnis dan agama. Diperankan oleh Revalina S Temat (Menuk),Reza Rahardian (Soleh), Rio Dewanto (Ping Hen / Hendra), Hengky Sulaeman (TanKat Sun), Agus Kuncoro (Surya), dan Endhita (Rika).Film Tanda Tanya “?” merupakan sebuah film yang mengangkat tentangmasalah sosial dalam kehidupan masyarakat multi agama dan etnis. Di film inidiceritakan tentang kehidupan suatu kelompok masyarakat yang didalamnya terdapatkeluarga-keluarga dengan latar belakang agama dan kepercayaan yang berbeda,mereka hidup berdampingan dalam suatu struktur masyarakat. Dalam film ini adaadegan perpindahan agama, percintaan beda agama, ada kritik keberagama-an,pembunuhan seorang pastor, ada juga upaya teroris untuk mem-bom gereja, sertapermusuhan antar ras, dan semua itu disajikan dengan gamblang tanpa ada yangditutup-tutupi.Dalam dunia perfilman Indonesia hal-hal yang menyinggung tentang SARAmerupakan hal yang tabu dan sensitif untuk dibahas dan diangkat ke dalam suatufilm. Di dalam Film Tanda Tanya ini akan lebih banyak kita jumpai adegan tentangkehidupan antar umat beragama satu dengan yang lainnya, khususnya antara umatmuslim dengan umat beragama lain. Setiap tokohnya dipastikan memiliki perananadegan dan dialog yang bersentuhan dengan Islam. Sayangnya hampir sebagian besardari adegan dan dialog tersebut mengandung kontroversi dan menuai banyak protesdari para pemuka agama Islam.Banyak yang menganggap bahwa Film ini adalah sesat karena didalamnyatidak menampilkan Islam secara asli, banyak adegan yang dilebih-lebihkan dan tidaksesuai dengan kenyataannya. Selain itu yang film ini juga mengajarkan tentangpluralitas beragama, yang mana ajaran tersebut bertentangan dengan apa yangdiyakini oleh umat Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia.Film garapan Hanung Bramantyo ini menjadi begitu kontroversial karenaselain kental dengan unsur – unsur SARA juga mengandung unsur pluralisme, yangdianggap tindakan murtad oleh beberapa kelompok penganut agama yang fanatikselain itu juga dianggap menyudutkan umat Islam dan Islam sebagai agama yangkasar, tidak mengenal toleransi, rasis dllTujuan PenelitianPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran Islam saatdikonstruksikan melalui simbol-simbol visual dan linguistik dalam film TandaTanya .Penemuan PenelitianAnalisis yang pertama adalah sintagmatik yang menganalisis level realitydan level representasi dari John Fiske. Menguraikan tentang analisa sintagmatik yangmenjelaskan tentang tanda-tanda atau makna-makna yang muncul dalam shot dan adeganyang terjalin dari berbagai aspek teknis yang merujuk pada representasi Islam dalam filmTanda Tanya “?”.Pada level realitas dapat diuraikan melalui penampilan dan lingkungan yangditampilkan dalam film. Kode sosialnya meliputi : appearance (penampilan), dress(pakaian/kostum), make-up (tata rias), environment (lingkungan), speech (gaya bicara),gesture (bahasa tubuh), expression (ekspresi).Level yang kedua adalah level representasi. Level representasi realitas sosial yangdihadirkan kembali oleh tayangan ini. Dalam penghadiran kode-kode representasi yangumum ini dibangun menggunakan camera (kamera), lighting (tata pencahayaan), editing,musik dan selanjutnya ditransmisikan kedalam bentuk cerita, konflik, karakter, dialog,setting dan lain-lainSelanjutnya dilakukan secara paradigmatic yang merujuk pada representasiIslam dalam film. untuk membedah ideologi memerlukan pemaknaan lebih mendalamterhadap penggambaran Islam dalam film ini dan keterkaitannya dengan aspek yang lebihluasDalam representasi atas Islam, penulis menggunakan dasar Teori Representasidengan pendekatan konstruksionis milik Stuart Hall (1997). Representasi adalah bagianterpenting dari proses di mana arti produksi dipertukarkan antar anggota kelompok dalamsebuah kebudayaan. Representasi menghubungkan antara konsep dalam benak kitadengan menggunakan bahasa yang memungkinkan kita untuk mengartikan benda, orangatau kejadian yang nyata, dan dunia imajinasi dari obyek, orang, benda dan kejadian yangtidak nyataAnalisis paradigmatik perlu digunakan untuk mengetahui kedalaman makna darisuatu tanda serta untuk membedah lebih lanjut kode-kode tersembunyi di balik berbagaimacam tanda dalam sebuah teks maupun gambar. Analisis paradigmatik (Chandler,2002:87-88). Perbedaan mendasar antara analisis paradigmatik dan sintagmatik adalahjika analisis sintagmatik mencoba untuk menemukan makna denotasinya, maka analisisparadigmatik berusaha untuk menemukan makna konotasi dari teksAnalisis paradigmatik adalah analisa yang berusaha mengetahui makna terdalamdari teks film dengan melihat hubungan eksternal pada suatu tanda dengan tanda lain.Bagaimana Islam dan kehidupan umat Islam dalam masyarakat serta bagaimana ideologitentang Islam ditampilkan dalam film ini. Kode-kode ideologis yang terlihat dalam filmini akan dianalisis ke dalam beberapa sub bab utama. Analisis yang pertama yaitumeliputi pesan yang terkandung dalam film Tanda Tanya “?” ini, kemudian tentangkonsep Islam yang ingin ditampilkan dalam film, Islam ditampilkan sebagai agama yangkeras, Islam sebagai agama penebar terror, Islam sebagai agama yang intoleran, Islamsebagai agama yang rasis, Islam sebagai agama yang picik, kemudian mengenai Islambeserta Aqidah dan Syariat Islamiahnya serta bagaimana pemikiran Islam tentang ajaranpluralisme agamaPada bab ini dilakukan analisis paradigmatik dengan tujuan untuk mengetahuimakna terdalam dari teks film Tanda Tanya “?”dengan melihat hubungan eksternal padasuatu tanda dengan tanda lain. Bagaimana mitos-mitos mengenai identitas Islam danbagaimana posisi ideologis sutradara film dalam menggambarkan Islam. Selain itu,analisis paradigmatik juga berfungsi untuk menunjukkan adanya realitas lain yangmungkin bersifat abstrak yang ada di balik tanda yang teridentifikasi dalam analisissintagmatik- PESAN DALAM FILM TANDA TANYAHanung sebagai sutradara ingin menyampaikan pesan moral utama yang ingindisampaikan melalui film ini yaitu tentang kerukunan antar umat beragama. Perihal lainyang ingin ditanamkan Hanung adalah mengenai ajaran pluralisme agama. Ajaranpluralisme agama adalah ajaran yang meyakini bahwa semua agama yang ada adalahsama. Banyak hal yang berhubungan dengan kehidupan beragama ditampilkan disiniseperti pelajaran tentang toleransi antar umat beragama, kerukunan antar umat beragamaserta terdapat pesan tentang bagaimana kita menghargai perbedaan dan pilihan orang laindan bukan hanya sebatas toleransi- MITOS ISLAM DALAM FILM TANDA TANYAMenurut Barthes (1977: 165), mitos adalah type of speech (tipe wicara). Mitosmerupakan sebentuk komunikasi yang mengandung sekumpulan pesan dan tidaktergantung pada pesan yang dibawa tetapi bagaimana komunikator menyampaikannya.o ISLAM DITAMPILKAN SEBAGAI AGAMA YANG KERASDalam film Tanda Tanya “?” penggambaran Islam beserta umatnyaseringkali berlebihan dan tidak sesuai dengan apa yang ada diajaran Islam.Islam sering ditampilkan sebagai agama yang keras. “Keras” di sini dapatdiartikan bahwa Islam adalah agama yang menyukai kekerasan. Dalam filmini Islam juga direpresentasikan sebagai agama yang identik dengan teroris.Islam di film ini tampilkan sebagai agama penebar terror. Hal ini tampak dariadegan dan dialog yang ada. Adegan serta dialog yang ada memperkuat kesandan mitos bahwa Islam adalah agama yang menghalalkan kekerasan. Caramedia untuk menampilkan atau menghadirkan sosok Islam yang akrab dengankekerasan, inilah yang akhirnya mengundang kontroversi dari banyak pihako ISLAM SEBAGAI AGAMA YANG RASISDalam film Tanda Tanya “?” Islam juga dugambarkan sebagai agamayang rasis. Rasis disini dapat diartikan bahwa Islam memberikan perlakuanyang berbeda terhadap orang-orang yang berasal dari ras yang berbeda. Difilm ini digambarkan bagaimana Islam tidak menghargai perbedaan ras yangada serta tidak menghargai perbedaan dan keragaman yang akhirnya memicukonflik antar umat Islam dengan umat beragama yang laino ISLAM SEBAGAI AGAMA YANG PICIKPenggambaran Islam dan umatnya dalam film ini seringkali ditampilkansebagai sosok yang picik dan pemikiran yang sempit. Pemikiran seperti itubiasanya dimiliki oleh orang-orang yang merasa dirinya paling benar,sehingga tidak mau menerima saran serta perubahan yang terjadi. Umat Islamdalam film ini digambarkan sebagai pribadi yang merasa paling benar, tidakterbuka dengan saran dan masukan yang datang kepadanya dan juga mudahterpengaruh akan suatu hal yang menurut diri mereka pribadi benar.o ISLAM BESERTA AQIDAH DAN SYARIAH ISLAMNYADalam film Tanda Tanya terdapat banyak dialog dan adegan yangbersinggungan langsung dengan aqidah dan syariah – syariah Islam. Aqidahdan syariah Islam di film ini seringkali ditampilkan melenceng dari yangseharusnyao PEMIKIRAN ISLAM TENTANG AJARAN PLURALISME AGAMADalam film Tanda Tanya banyak disinggung tentang ajaranpluralisme agama. Hal tersebut merupakan salah satu pemicu mengapafilm Tanda Tanya ini dilarang tayang dan menjadi kontroversi.Pluralisme agama adalah ajaran yang menyatakan bahwa semuaagama adalah sama. Hal ini berbeda dengan apa yang diyakini olehumat Islam, sehingga MUI memfatwakan pluralism agama bertentangandengan Islam dan muslim haram mengikuti paham itu. Namun dalamfilm Tanda Tanya ini yang dimunculkan adalah berbeda, Islam di filmini umatnya digambarkan menyetujui ajaran pluralisme danmengikutinya.Jika di lihat dari sudut pemikiran Islam tentang pluralisme, maka filmini ingin menggambarakan suatu pandangan bahwa Islam mengakui bahwasetiap ajaran agama sama yaitu menyampaikan ajaran tentang adanya berbelaskasih, tolong menolong dan solidaritas tanpa memandang batas – batas agama.Tetapi tetap tidak mengakui bahwa agama lain selain Islam adalah benar.PenutupAkan diuraikan kesimpulan yang menjawab tujuan dari penelitian yaitu tentanggambaran Islam saat dikonstruksikan melalui simbol-simbol visual dan linguistik dalamfilm Tanda Tanya “?” serta mengungkap bagaimana mitos di balik representasi inibekerja.Temuan yang pertama berdasarkan analisis paradigmatik yang dilakukan padafilm Tanda Tanya “?” adalah munculnya mitos Islam yang diangkat dalam film yaituIslam ditampilkan sebagai agama yang keras. Selain itu kesan Islam sebagai agamapenebar terror juga sangat kuat, dengan adanya adegan-adegan yang menampilkanperistiwa penusukan pastur serta peristiwa pengeboman yang mana hal tersebut identikdengan tindak terorisme yang sempat marak terjadi di Indonesia yang tidak lainpelakunya adalah para umat muslimKemudian mitos selanjutnya adalah Islam digambarkan sebagai agama yang rasisdan picik, terutama saat berhadapan dengan umat agama yang lain. Rasis dan picik difilm ini digambarkan dengan interaksi yang terjadi antara para pemeran yang beragamaIslam dengan pemeran lain yang beragama Katolik dan Konghucu, serta berasal dariketurunan TionghoaKedua, apabila dilihat dari segi kostum, riasan, dan ekpresi yang telah dianalisissecara sintagmatik, Islam dan umatnya tampil sebagai sosok yang sederhana, tidakberlebihan dan taat terhadap ajaran agamanyaTemuan terakhir adalah sang sutradara Hanung Brahmantyo dalam film TandaTanya “?” ini ingin menyampaikan pesan tentang pluralisme agama. Paham pluralismeagama ini berbeda dengan pandangan umum masyarakat terhadap klaim kebenaranmutlak agama dan khususnya pandangan umat muslim yang tidak mengakui agama lainselain agama Islam adalah benar dan menyatakan bahwa Islam adalah satu-satunyaagama yang benar. Islam dan umatnya digambarkan sebagai agama yang menyetujuipraktik paham pluralisme ini. Padahal dalam ajaran Islam jelas-jelas tidak mengakui dantidak membenarkan ajaran pluralism yang menyatakan bahwa setiap agama adalah sama.Dalam ajaran Islam telah ditegaskan bahwa tiada agama lain yang benar selain agamaIslamPenggunaan daya tarik isu-isu agama ini menjadi produk yang mampumendatangkan keuntungan. Dengan segala kontroversi dan protes yang munculmenguatkan kesan bahwa film Tanda Tanya “?” menggunakan magnet isu agama dalamfilm garapannya sebagai nilai jual utama dalam menarik minat masyarakat untukmenontonnya.Film melahirkan sebuah bentuk realitas yang sengaja dikonstruksikan untukmemberikan sebuah gambaran lewat kode-kode, konversi, mitos, ideologi – ideologikebudayaannya. Karena realitas merupakan hasil konstruksi maka realitas di sini telahmengalami penambahan maupun pengurangan karena turut campurnya faktorsubyektivitas dari pelaku representasi atau orang – orang yang terlibat dalam media itusendiriDAFTAR PUSTAKABuku:Ali, Moh. Daud. 1986. Islam Untuk Disiplin Ilmu Hukum, Sosial dan Politik. Jakarta: CVWirabuana.Anshari, Endang Saifudin. 1987. Ilmu, Filsafat, dan Agama. Surabaya: Bina Ilmu.Barthes, Roland. 1977. Elements of Semiology. Farrar, Straus and Giroux.Berg, Bruce L. 2001. Qualitative Research Methods For The Social Sciences. Singapore: Allyn& Bacon.Butler, Andrew M. 2005. Film Studies. Vermont : Trafalgar Square Publishing.Chandler, Daniel. 2002. Semiotics: The Basics. New York: Routledge.Eco, Umberto diterjemahkan oleh Inyiak Ridwan Muzir. 2009. Teori Semiotika. Bantul: KreasiWacanaEffendy, Onong Uchyana. 2009. Human Relation & Public Relation. Bandung: CV. MandarMajuErikson, Erik H. (1989). Identitas dan Siklus Hidup Manusia. Jakarta: PT. Gramedia.Fiske, John. 1987. Television Culture. London: Routledge.Fiske, John. 2004. Cultural and Communication Studies. Yogyakarta: Jalasutra.Hall, Stuart. 1997. Representation: Cultural Representatuons and Sygnifying Practices. London:Sage Publications Ltd.Junaedi, Fajar. 2007. Komunikasi Massa Pengantar Teoritis. Yogyakarta: Santusta.Liliweri, Alo. 2007. Makna Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta: LKisYogyakartaLittlejohn, Stephen. W and Karen A Foss. 2005. Theories of Human Communication EightEdition. Wadsworth Publishing Company. Canada.Mulyana, Deddy dan Solatun.2007. Metode Penelitian Komunikasi: Contoh-contoh PenelitianKualitatif Dengan Pendekatan Praktis. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.Noviani, Ratna. 2002. Jalan Tengah Memahami Iklan: Antara Realitas, Representasi danSimulasi. Yogyakarta: Pustaka Belajar.Piliang, Yasraf A. 2003. Hipersemiotika. Tafsir Cultural Studies atas Matinya Makna.Yogyakarta: Jalasutra.Webb, Jen. 2009. Understanding Representation. London: SAGE Publications Ltd.Williams, Noel. 2004. How To Get a 2:1 in Media, Communication and Cultural Studies.California: Sage Publications.Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.Sumarno, Marselli. 1996. Dasar-dasar Apresiasi Film. Jakarta: Gramedia Pustaka UtamaRitchie, Jane., and Lewis, Jane. 2003. Qualitative Research Practice: a Guide For SocialScience Students and Researchers. New Delhi: SAGE Publications.Theo Van Leeuwen and Carey Jewitt. 2001. Handbook of Visual Analysis. London: SAGEPublication.Internet :http://forum.kompas.com/movies/35504-mengkritisi-film-tanda-tanya.html. Diunduh pada 28Agustus 2012 jam 00.09 WIBhttp://agama.kompasiana.com/2010/07/05/konflik-agama-menjadikan-indonesia-menakutkan-185565.html. Diunduh pada 28 Agustus 2012 jam 01.00 WIBhttp://beritakbar.blogspot.com/2011/04/film-tanda-tanya-pelecehan-sistematis.html. Diunduhpada 3 September 2012 jam 21.58 WIBhttp://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2011/04/06/14019/menyoal-film-pluralismetanda-tanya-garapan-hanung/. Diunduh pada 3 Sepetember 2012 jam 22.30 WIBhttp://kisah-anak-kost-kikos.blogspot.com/2012/08/tanda-tanya-film-yang-mengangkatisu_31.html. Diunduh pada 3 September 2012 jam 22.35 WIBhttp://www.eramuslim.com/berita/analisa/film-tanda-tanya-pelecehan-sistematis-terhadapislam.htm#.UKXOG2fNsrc. Diunduh pada 3 September 2012 jam 22.45 WIBhttp://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/06/18/m5t1qz-islam-menentangpluralisme-agama. Diunduh pada 3 September 2012 jam 22.48 WIBhttp://www.wikipedia.com. Diunduh pada 3 September 2012 jam 23.00 WIB
Memahami Komunikasi Persuasif Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) Smile Plus dalam Meyakinkan ODHA Bergabung Untuk Membangun Kepercayaan Diri Nuraga, Nugraheni Yunda; Suprihatini, Taufik; Santosa, Hedi Pudjo
Interaksi Online Vol 1, No 2 (2013): Wisuda April
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang ODHA adalah Orang Dengan HIV/AIDS merupakan sebutan di Indonesiabagi mereka yang mengidap HIV/AIDS. Keberadaan ODHA selalu dipandangsebelah mata oleh kebanyakan orang. Di Indonesia masyarakat menganggap virusHIV/AIDS sebagai suatu aib, masyarakat lebih memilih menghindari ODHAbahkan berdampak hingga orang – orang terdekat ODHA seperti orang tua,saudara dan teman. Masyarakat menganggap demikian karena kebanyakan orangmengkaitkan virus HIV/AIDS dengan sex bebas atau penggunaan narkoba.Muncul diskriminasi antara ODHA dengan masyarakat, sehingga mengakibatkanadanya tekanan psikologis seperti takut, stres, marah dan kecewa. Dengankeadaan demikian, ODHA memilih untuk tertutup dari dunia luar.Tekanan psikologis seperti stres, mendorong ODHA dapat merubahkarakteristik kepribadian mereka. Tekanan negatif dari orang – orang disekitarODHA membentuk konsep diri yang negatif bagi ODHA. Kepribadian yangawalnya terbuka, bersikap positif, dan supel dapat berubah menjadi sebaliknya.Keadaan demikian dapat memperburuk kehidupan sosialisasi ODHA dalamrutinitas keseharian mereka.Keadaan tertutup sebenarnya menambah beban bagi ODHA, hal ini dapatmenurunkan mutu hidup mereka. Mutu hidup adalah motivasi untuk tetap survivedan dapat beradaptasi dengan keadaan. Dengan mutu hidup yang baik, makamereka akan memiliki semangat juang untuk bertahan hidup yang tinggi. ODHAmembutuhkan interaksi komunikasisekedar untuk mencurahkan isi hati ataubahkan menambah informasi mengenai penyakitnya tersebut. Sulit bagi ODHAmembuka percakapan tentang dirinya kepada orang lain. Kenyamanan,kepercayaan, dan kedekatan menjadi aspek penting bagi ODHA untuk melakukankomunikasi. Salah satu caranya adalah bergabung dengan Kelompok DukunganSebaya (KDS).Namun, ODHA utamanya mereka yang menetap di KabupatenTemanggung masih enggan untuk bergabung dengan Kelompok DukunganSebaya Smile Plus. Salah satu pengurus KDS Smile Plus (Dias. 53tahun)menyatakan, “ ODHA di Kota Temanggung kebanyakan belum memiliki tingkatkesadaran diri mengenai penyakit yang di idapnya. Ada beberapa yang takutbergabung karena faktor kecemasan, tidak percaya diri dan ada pula yang sudahtidak mau memperdulikan kesehatannya lagi”. Hingga tahun 2011 sendiri anggotaSmile Plus tergabung sebanyak 32 orang, dan bersifat dinamis. Sedangkan padaawal tahun terbentuk di tahun 2008 hingga tahun 2010, jumlah anggota hanyamencapai 24 anggota. Jumlah ini sangat miris jika dibandingkan dengan jumlahpenderita HIV/AIDS di Kota Temanggung sebanyak 192 kasus.Kurangnya pengetahuan, rasa tidak percaya diri, malu, takut untuk terbukamembuat ODHA memilih untuk tetap menutup diri dengan tidak bergabungdalam Kelompok Dukungan Sebaya ini. Dengan jumlah kasus HIV/AIDS diTemanggung tinggi dan kurangnya kesadaran diri ODHA untuk bergabungdengan Kelompok Dukungan Sebaya menjadi suatu masalah bagi pengurus SmilePlus. Mereka harus melakukan komunikasi persuasif yang tepat dan baik untukmeyakinkan bahwa melalui Kelompok Dukungan Sebaya Smile Plus membantuODHA untuk memotivasi diri mereka, memperdulikan kesehatan mereka, dantempat untuk saling berbagi.Tujuan PenelitianPenelitian ini bertujuan untuk memahami komunikasi persuasif KelompokDukungan Sebaya (KDS) Smile Plusdalam meyakinkan ODHA bergabung untukmenumbuhkan kepercayaan diri.Penemuan Penelitian1. Karakteristik KDS Smile Plus dalam komunikasi kelompokKelompok Dukungan Sebaya (KDS) Smile Plus lebih mengacu kepadakomunikasi kelompok primer. Karakteristik kelompok primer antara lain; (1).Kualitas komunikasi pada kelompok primer bersifat dalam dan meluas, artinyamenembus kepribadian kita yang paling tersembunyi, pada kelompok primer kitaungkapkan hal – hal yang bersifat pribadi. (2). Komunikasi pada kelompok primerbersifat personal, dalam kelompok primer yang penting ialah siapa dia, bukanapakah dia. Kita mengkomunikasikan seluruh pribadi kita. (3). Pada kelompokprimer, komunikasi lebih menekankan pada aspek hubungan dari pada aspek isi,komunikasi dilakukan untuk memelihara hubungan baik. (Jalaludin Rakhmat.2007; 142 – 143).Karakteristik kelompok primer sangat dekat sekali dengan karakteristikKDS Smile Plus. Kualitas komunikasi yang mendalam menembus pada hal – halpribadi, dan membangun ikatan emosional dengan anggota menjadi landasanSmile Plus untuk melakukan komunikasi dengan anggotanya. Pembimbing diSmile Plus membuat ODHA nyaman untuk menceritakan hal – hal pribadinya,sehingga anggota Smile Plus menganggap kelompok ini seperti keluarga bukansebagai kelompok profesional. Dua informan yang merupakan pembimbing diKDS Smile Plus selalu memposisikan dirinya sebagai saudara, orang tua atausahabat dengan anggotanya. Dengan anggapan seperti itu membuat anggota SmilePlus yang hampir keseluruhan adalah ODHA akan membangun ikatan emosionalyang dekat, tidak merasa KDS Smile Plus sebagai kelompok yang profesional,sehingga mereka menganggap KDS Smile Plus sebagai keluarga kedua.2. Cara KDS Smile Plus dalam membangun self disclosure ODHA (OrangDengan HIV/AIDS)Menurut Liliweri (1994:163), teori self disclosure menekankan bahwahubungan antar pribadi yang ideal adalah kalau seseorang membiarkan dirinyadan orang lain membagi pengalaman mereka sepenuhnya dengan membuka diri,karena adanya prinsip bahwa pribadi yang dimiliki ibarat kertas “tembuspandang” (transparan), sukar ditutupi sehingga orang lain pun bisa melihat.Membuat ODHA mau terbuka menceritakan segala hal yang dialaminyakepada orang lain membutuhkan cara yang berbeda dengan orang – orangbiasanya. KDS Smile Plus menggunakan beberapa cara agar ODHA nyamanuntuk terbuka dengan pembimbing di Smile Plus, diantaranyaa. Membangun ikatan emosional kekeluargaan antara KDS Smile Plus denganODHAb. Menjaga Privasi ODHAc. Mengikuti kesenangan ODHA dalam berkomunikasi3. Cara KDS Smile Plus dalam membangun kosep diri positif ODHA (OrangDengan HIV/AIDS)Membentuk konsep diri yang positif di pikiran ODHA tidak mudah,karena mereka beranggapan bahwa HIV/AIDS adalah penyakit yang tidak adaobatnya dan apabila orang lain tahu bahwa dirinya positif HIV/AIDS makaresikonya adalah akan dikucilkan. Dalam penelitian ini ada beberapa faktor yangdapat mempengaruhi berubahnya konsep diri ODHA menjadi positif, diantaranyaadalah keberadaan pembimbing Smile Plus sebagai orang lain bagi ODHA dalammelakukan pendampingan dan kelompok rujukan yang diikuti oleh ODHA.William D. Brooks (Jalaludin Rakhmat, 2007:99) mendefinisikan konsepdiri sebagai “those phsyical, social, and psychological perception of ourselvesthat we have derived from experiences and our interaction with others”. Jadikonsep diri adalah pandangan dan perasaan kita tentang diri kita. Persepsi tentangdiri ini bisa bersifat psikologi, sosial, dan fisis. Seperti yang sudah disebutkansebelumnya, konsep diri yang dimiliki ODHA dapat berubah positif dari pengaruhkeberadaan pembimbing Smile Plus sebagai orang lain bagi ODHA dalammelakukan pendampingan dan kelompok rujukan yang diikuti oleh ODHA.1. Orang Lain.Orang lain dalam hal ini adalah peran pendampingan yang dilakukan olehpembimbing KDS Smile Plus dalam membentuk konsep diri positif pada ODHA.Gabriel Marcel menjelaskan bahwa “the fact is that we can understandourselves by starting from the other, or from others, and only by starting fromthem” . Kita mengenal diri kita dengan mengenal orang lain terlebih dahulu.Bagaimana orang lain menilai diri kita, akan membentuk konsep diri kita pribadi.(Jalaludin Rakhmat, 2007: 101). Maka bagaimana pendamping KDS Smile Plusmenilai ODHA, akan membentuk konsep diri ODHA seperti apa.2. Kelompok Rujukan atau (Refrence Group)Tergabung dalam sebuah kelompok sangat mempengaruhi konsep diriseseorang. Secara tidak langsung ODHA akan mengikuti aturan – aturan hinggakebiasaan sebuah kelompok yang diikuti dalam keseharian. Sama halnya denganODHA yang bergabung dengan KDS Smile Plus, mereka secara disadari atautidak perlahan mengalami perubahan, baik perilaku atau konsep diri mereka. KDSSmile Plus yang dibentuk untuk ODHA dan dari ODHA bertujuan untuk menjadiwadah bagi ODHA untuk saling bertukar informasi dan saling menguatkan diri.ODHA yang sebelumnya merasa sendiri, memiliki konsep diri negatif akanberubah menjadi lebih baik karena pengaruh kelompok ini.ODHA akan menyesuaikan keadaan yang ada di dalam KDS Smile Plus.Di dominasi dengan pendampingan dari pembimbing yang selalu memacumotivasi hidup ODHA untuk survive, dan pengaruh teman dalam kelompoktersebut, maka hal itu berpengaruh besar bagi ODHA untuk melakukan hal yangsama dengan teman – temannya yang satu kelompok dengannya.Kelompok rujukan adalah kelompok yang secara emosional mengikat dirikita, dan berpengaruh terhadap konsep diri kita. Dengan melihat kelompok ini,orang mengarahkan perilakunya dan menyesuaikan diri dengan ciri – cirikelompoknya. (Jalaludin Rakhmat, 2007: 104).Cara – cara yang digunakan oleh KDS Smile Plus dalam membentuk konsep diriyang positif di diri ODHA diantaranya adalaha. Memberikan pujian kepada ODHAb. Menggunakan testimonic. Event KDS Smile Plus (close meeting)4. Karakteristik ODHA dalam komunikasi persuasifKomunikasi persuasif menurut Nimmo (2000:128) mengungkapkanpersuasi mengubah sikap dan perilaku orang dengan menggunakan kata – katalisan dan tertulis, menanamkan opini baru dan usaha yang disadari mengubahsikap, kepercayaan, atau perilaku orang melalui transmisi pesan. Komunikasipersuasif merupakan metode untuk menyamapikan pesan – pesan darikomunikator untuk mempengaruhi komunikannya dengan pesan – pesan yangsebelumnya telah dikelola seraya menyesuaikan dengan keadaan psikologis dansosiologis serta kebudayaan dari komunikan atau dengan kata lain denganmenggunakan tehnik persuasi (Soenarjo & Djoenasih, 1993:30).Komunikasi persuasif yang dilakukan oleh KDS Smile Plus kepadaODHA diantaranya adalah untuk merubah perilaku negatif ODHA danmenguatkan diri mereka dari status positif HIV/AIDS. Mengajak ODHA untukmerubah perilaku sangat sulit, terutama bagi mereka yang sudah menjadi sebuahkebiasaan. Dalam penelitian ini, ODHA yang sulit untuk dipersuasif melakukanpendampingan adalah ODHA yang memiliki jabatan atau tokoh di lingkungannya.Mereka takut jika statusnya tersebut tersebar hingga ke telinga orang – orangdisekitarnya, sehingga mereka mengganggap bahwa dirinya sehat dan tidak perludilakukan pendampingan dari KDS Smile Plus.Dengan demikian dibutuhkan caratersendiri bagi pembimbing di KDS Smile Plus agar komunikasi persuasif iniberjalan efektif.Dalam melakukan komunikasi persuasif dalam bukunya Miller dan Williamsyang berjudul “The 5 Path To Persuasion”, menjelaskan lima tipe komunikandalam melakukan komunikasi persuasif, yang pertama adalah the charismaticdecision maker, kedua the thinker decision maker, skeptic decision maker,follower decision maker, dan yang terakhir adalah controller decision maker . Jikaditerapkan dalam karakteristik ODHA di Temanggung dapat diklasifikasikanberdasarkan tipe komunikan dalam buku Miller dan Williams ini.a. ODHA sebagai follower decision maker.Follower berdiskusi berdasarkan pada pengalamanan terdahulu yangpernah dialaminya sebelumnya. Mereka mempunyai tanggung jawab yang baik.Untuk melakukan komunikasi persuasif kepada follower yang harus dilakukanadalah sediakan banyak bukti yang menyatakan proposal atau data tersebut suksesuntuk kasus sebelumnya dan harus relevan serta kredibel. (Williams dan Miller.2005. 108).b. ODHA sebagai Skeptic decision maker.Mereka sulit menerima informasi dari orang lain. Mereka akan terusbertanya dan melawan apabila tidak sesuai dengan pikirannya, terutama padaremaja. Mereka memiliki gaya bicara seenaknya sendiri, sulit menghargai oranglain dan akan mengatakan apa yang mereka fikirankan tanpa memperdulikanorang lain. Skeptis memiliki kepribadian yang kuat, namun skeptis merupakantipe yang sulit mempercayai orang. Untuk dapat mempersuasif tipe skeptis harusmemiliki strategi yang kuat diantaranya membangun kepercayaan, kemudianmencari penengah antara skeptis dan persuator, jangan berfikir dari sudut pandangpersuator sendiri, harus ada sumber terpercaya untuk mempersuasif orang tipeskeptis. (Williams dan Miller. 2005. 77).Dalam penelitian ini juga memperlihatkan perbedaan tehnik komunikasipersuasif yang dilakukan oleh pembimbing KDS Smile Plus kepada ODHA.Dalam penelitian ini menunjukan bahwa pembimbing yang positif HIV/AIDSmelakukan komunikasi persuasif dengan mengontrol emosinya menjadi lebihsabar dan lembut. Ia berusaha untuk meredam emosi ODHA dengan halus.Sedangkan pembimbing yang negatif dari virus HIV/AIDS lebih terbuka danmudah beradaptasi/ mudah bergaul dalam melakukan komunikasi persuasifdengan ODHA. Ia tidak sungkan untuk mengingatkan ODHA dengan lebih tegasjika mereka melakukan kesalahan.Implikasi AkademisBerdasarkan lingkup teoritis, penelitian ini membahas mengenaikomunikasi persuasif Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) Smile Plus dalammeyakinkan Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) bergabung untuk membangunkepercayaan diri. Dengan teori konsep diri yang memaparkan mengenai konsepdiri positif mempengaruhi ODHA memiliki pengembangan kepercayaan lebihbaik dari pada ODHA dengan konsep diri negatif. Di dukung dengan adanya teoriself-disclosure ODHA bisa berbagi tentang privasinya kepada pembimbing diKDS Smile Plus, sehingga memudahkan dalam melakukan pendampingan.Sedangkan pada teori komunikasi persuasif menunjukan bahwapembimbing KDS Smile Plus melakukan interaksi perusasif tanpa ada paksaan.Pembimbing menghormati segala keputusan ODHA saat dilakukannyapendampingan. Pembimbing KDS Smile Plus membangun kepercayaan denganODHA dan berusaha agar adanya perubahan membangun kepercayaan diri padaODHA. Maka dalam penelitian ini tidak terbukti adanya penemuan – penemuanuntuk mengembangkan teori baru.DAFTAR PUSTAKABuku:Adler, Ronald.B dan Neil Towne. 1987. Looking Out/Looking In InterpersonalCommunication. USA: CBS Coliege Publishing.Alvin A. Goldberg Carli. E Larson. 1985. Komunikasi Kelompok Proses-ProsesDiskusi dan Penerapannya. Penerbit Universitas Indonesia (UI- Press)Beebe, Steven A, Susan J. Beebe, Mark V.Redmond. 2005. InterpersonalCommunication Relating To Others. United States of America : PersonEducation, Inc.De Vito, Joseph A. 1997. Komunikasi Antar Manusia. Jakarta: ProfessionalBooks.Guba, Egon G & Yvonna S. Lincoln. 1994. Competing Paradigms in QualitativeResearch. Dalam Norman K. Denzin & Yvonna S. Lincoln (ed).Handbook of Qualitative Research. Thousand Oaks, California : SAGEPublications.Jourard, S.M. 1971. The Transparent Self (Edisi Revisi). New York: VanNostrandLiliweri, Alo. 1994. Komunikasi Antar Pribadi. Bandung : PT Citra Aditya Bakti.Littlejohn, Stephen W. 1996. Theories of Human Communication (6th edition).USA : WadsworthLittlejohn, Stephen W. 1999. Theories of Human Communication (6th edition).USA : Wadsworth.Littlejohn, Stephen W. 2008. Theories of Humn Communication (8th edition).USA: Wadsworth.Miller, Robert B & Williamms, Garry A. 2005. Acclaim For The 5 Paths ToPersuasion. New York : Warner Book GroupMoleong, Lexy J. 2005. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung : PT RemajaRosdakarya.Moleong, Lexy J. 2008. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung : PT RemajaRosdakarya.Moustakas, Clark. 1994. Phenomenological Research Methods. London : SagePublications, Inc.Nimmo, Dan. 2000. Komunikasi Politik Komunikator, Pesan dan Media. RemajaRosdakarya: Bandung.Onong Uchayana MA, Effendi. 1998. Hubungan Insani. PT. Remaja Rosdakarya,Bandung.Onong Uchayana MA, Effendi. 1999. Hubungan Insani. PT. Remaja Rosdakarya,Bandung.Pawito. 2007. Penelitian Komunikasi Kualitatif. Yogyakarta: LkiS.Rakhmat, Jalaluddin. 1989. Psikologi Komunikasi, Edisi Revisi. Bandung. RemajaRosdakarya.Rakhmat, Jalaluddin. 2007. Psikologi Komunikasi, Edisi Revisi. Bandung. RemajaRosdakarya.Soenarjo & Djoenasih.S. 1993. Komunikasi Persuasif dan Retorika. Yogyakarta:Liberty.
MANAJEMEN KONFLIK ANTARPRIBADI PASANGAN SUAMI ISTRI BEDA AGAMA Agustin, Asteria; Rahardjo, Turnomo; Suprihatini, Taufik
Interaksi Online Vol 1, No 2 (2013): Wisuda April
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PENDAHULUAN Fenomena peningkatan antar agama saat ini sedang marak terjadi diIndonesia, baik itu di kalangan masyarakat biasa maupun di kalangan artisibukota. Hal ini mendapat perhatian dari masyarakat karena menyangkut agamayang sangat sensitif. Sebagian masyarakat menentang perkawinan ini namun tidaksedikit pula yang menyetujuinya.Menurut Laswell (1987:51) perkawinan bukanlah hal yang mudahdilakukan pasangan beda agama dengan tetap menganut agamanya masingmasing.Perkawinan beda agama adalah penyatuan dua pola pikir dan cara hidupyang berbeda, dan perbedaan agama dengan pasangan dalam perkawinan banyakmenimbulkan permasalahan.Dalam perkawinan beda agama, adaptasi sangat perlu dilakukan. Karenapada saat pria dan wanita yang berbeda agama menikah, tentunya masing-masingmembawa nilai budaya, sikap, gaya penyesuaian dan keyakinan ke dalamperkawinan tersebut. Apalagi di dalam suatu perkawinan di mana kedua belahpihak yang memiliki agama berbeda rentan akan tingkat sensitifitas konflik yangcukup tinggi. Oleh karena itu pasangan suami istri dituntut untuk dapatmenyesuaikan diri dengan nilai-nilai yang dimiliki oleh pasangannya yangkemungkinan besar dipengaruhi oleh agama yang dianutnya. Ditambah denganritual keagamaan yang dijalankan berbeda dengan ritual keagamaan yangdijalankan oleh pasangannya.Oleh karena itu dibutuhkan manajemen konflik yang tepat dan efektif bagipasangan beda agama guna meminimalisir konflik yang yang terjadi menyangkutperbedaan agama.Sidney Jourard dalam Teori Self Disclosure menawarkan konsepketerbukaan diri. Konsep ini memiliki arti bahwa di dalam hubunganinterpersonal yang ideal menghendaki naggota-anggota yang terlibat untukmengenal diri orang lain sepenuhnya dan membiarkan dirinya terbuka untukdikenal orang lain sepenuhnya (Littlejohn,1999:260). Penelitian ini jugamenggunakan Teori Adaptasi Antarbudaya (theory intercultural adaption) yangmengungkapkan bagaimana individu beradaptasi dalam berkomunikasi denganindividu yang berbeda budayanya. Teori ini berpendapat bahwa proses adaptasiadalah suatu cara untuk memenuhi suatu tujuan. Terakhir, RelationalMaintenances Theories juga digunakan dalam penelitian perkawinan antar agama.Teori ini menjelaskan bagaimana individu melakukan pemeliharaan hubunganyang mengacu pada sekelompok perilaku, tindakan dan yang individu gunakanuntuk mempertahankan tingkat relasi (kedekatan individu) yang diinginkan dandefinisi dari hubungan itu. Oleh karena itu, manajemen konflik ini menarik untukdipelajari bagaimana upaya-upaya dan pengelolaan konflik yang dilakukanpasangan beda agama yang hingga saat ini dapat mempertahankan keutuhanperkawinannya dengan tetap menganut agamanya masing-masing.PEMBAHASANPenelitian ini menguraikan tentang pengalaman pasangan suami istri bedaagama dan bagaimana pengelolaan konflik yang mereka lakukan dengan tetapmenganut agamanya masing-masing untuk mempertahankan keutuhanperkawinan. Berangkat dari asumsi bahwa sebagian pasangan beda agamacenderung mengalami konflik yang mendalam bahkan bisa menyebabkanperceraian. Ini dikarenakan adanya perbedaan yang sangat jelas diantarakeduanya, dimana adanya perbedaan pandangan, perbedaan keyakinan, perbedaannilai-nilai agama hingga hak pengasuhan anak.Oleh karena itu adanya pengelolaan konflik yang tepat dan efektif sangatdibutuhkan bagi pasangan beda agama guna meminimalisir konflik yang terjadimenyangkut perbedaan agama, dan ada beberapa strategi manajemen konflik yangdisesuaikan dengan situasi terjadinya konflik, yaitu : kompetisi (menguasai),penghindaran (menarik diri), kompromi (berunding), kolaborasi (menghadapi)dan akomodasi (melunak).Dalam menyelesaikan konflik yang menyangkut perbedaan agama, sebagianbesar informan mengkomunikasikan dengn cara saling membicarakan atauberkolaborasi dan berunding kepada pasangan guna menyelesaikan konflik,mereka bekerja sama dan mencari pemecahan yang memuaskan. Masing-masingpihak bersedia membuka diri sehingga menghindarkan dari perasaan tertekan danmasalah yang dipendam. Tetapi masih ada pula informan yang menyelesaikandengan cara menarik diri atau penghindaran. Mereka lebih memilih untukmengalah dan tidak ingin membicarakannya karena takut hal ini akanmenyinggung salah satu pihak. Penyelesaian dengan cara seperti ini tidak akanmemuaskan kedua belah pihak, karena pasangan tersebut tidak mendapatkan hasilseperti yang diharapkan.Penelitian ini melibatkan tiga pasang responden yang berbeda agamadengan usia perkawinan di atas sepuluh tahun. Lewat penelitian inimenggambarkan bagaimana pasangan dengan kondisi demikian berinteraksi,karena tidaklah mudah menikah dengan pasangan yang berbeda agamanya.Dengan wawancara mendalam, peneliti mengumpulkan informasi tentangpengalaman dan hambatan yang mereka alami setelah menikah dan pengelolaankonflik yang mereka lakukan guna mempertahankan keutuhan perkawinan.Pembahasan tentang penemuan-penemuan di atas menghasilkan tentangbeberapa hal yang dapat disimpulkan dari penelitian yang telah dilaksanakan :1) Ketiga informan melakukan interaksi dengan beradaptasi dan salingmenyesuaikan perbedaan-perbedaan yang dimiliki pasangannya, sepertiperbedaan pandangan, perbedaan keyakinan dan tentu saja adat sertakebiasaan yang berbeda. Para informan bukan lagi membangun hubunganyang lebih intim tetapi tujuannya guna mempertahankan dan memeliharahubungan untuk meminimalisir konflik yang muncul karena masalahkonflik yang dihadapi pasangan beda agama cenderung lebih tinggi. Parainforman menjadikan perbedaan yang ada sebagai bentuk keragaman danproses pembelajaran, bukan sebagai jurang yang dapat memisahkanhubungan yang telah mereka bina.2) Adanya sikap keterbukaan, empati dan sikap saling mendukung sangatdibutuhkan pasangan suami istri beda agama. Dengan adanya keterbukaanpara informan dapat mengkomunikasikan apa yang ada dalam pikiranmereka karena dua agama yang berbeda pastinya memiliki pandangan dankeyakinan yang berbeda pula. Namun, masih ada informan yang tidak mausaling terbuka kepada pasangannya, mereka kurang mampu untuk bisamengungkapkan diri, terutama yang menyangkut masalah agama. Merekajarang membicarakan masalah ini. Hal ini disebabkan masing-masingpihak takut jika ucapan-ucapan yang mereka katakan dapat menyinggungsalah satu pihak yang akhirnya berbuntut pada konflik. Berbeda dengandua informan lainnya (informan I dan informan III) dimana mereka selalubersedia menyediakan waktu untuk membicarakan hal-hal yang berkaitandengan perbedaan agama secara terbuka. Hal ini dilakukan untukmengetahui apa yang diinginkan dan dibutuhkan oleh masing-masingpihak, dan bagaimana solusi terbaik bagi keduanya. Empati dan sikapmendukung ditunjukkan oleh ketiga informan di mana mereka salingbertoleransi kepada pasangannya. Misalnya dengan memberikankebebasan menjalankan ibadah agamanya dengan jalan berusahamenghormati jika pasangan sedang beribadah, ikut mengantar ke tempatibadah sampai dengan menyesuaikan acara keluarga dengan waktuberibadah. Atau di saat suami atau istri sedang berpuasa, mereka bersediamembangunkan dan ikut menemani sahur. Disini terlihat bahwa ketigainforman memiliki posisi yang setara dalam hal kebebasan beribadah.Adanya posisi yang setara antara suami dan istri beda agama inidiharapkan akan menciptakan suatu komunikasi yang efektif.3) Hambatan komunikasi yang terjadi pada ketiga informan, bukan faktoryang terlalu mempengaruhi dalam kehidupan perkawinan mereka. Hal inidikarenakan sejak awal informan telah mengetahui resiko yang terjadi jikamenikah beda agama. Hambatan muncul saat akan menikah di mana parainforman ingin tata cara agamanya lah yang dipakai dalam prosesperkawinan dan juga muncul di awal perkawinan dimana para informanmasih saling mempengaruhi untuk masuk agamanya.4) Komitmen-komitmen yang dibuat ketiga informan memberikan kontribusidalam membangun iklim komunikasi yang positif karena dengan adanyakomitmen tersebut mereka dapat meminimalisir konflik yang muncul padaperkawinan mereka. Seperti saat pemutusan agama anak, antara suamimaupun istri tidak ingin berebutan untuk mengasuh anak dalam halpemilihan agama. Pada informan I, anak-anak mengikuti agama suamidikarenakan sejak awal, sang anak bersekolah di sekolahan berbasisKatolik. Sang istri pun tidak mempermasalahkan bahwa kenyatannyakedua anaknya mengikuti agama suami. Sedangkan pada informan IIsepakat jika nantinya sang anak ikut agama istri, dikarenakan suami seringdinas keluar kota yang berarti dirinya akan jarang berada di rumah. Lainlagi dengan informan III, dari awal suami sepakat menyerahkan hak asuhanak kepada istrinya.5) Konflik yang masih sering terjadi dalam rumah tangga informan berasaldari faktor internal yang melibatkan pasangan informan sendiri. Konfliktersebut menyangkut masalah ‘perbedaan agama’ di antara keduanyadimana mereka memiliki keinginan dan harapan yang berbeda diantarasuami istri, yang akhirnya hal itu berujung pada konflik.6) Dalam penyelesaian konflik yang menyangkut perbedaan agama, sebagianbesar informan mengkomunikasikan dengan cara saling membicarakan(berkolaborasi) dan berunding kepada pasangan guna menyelesaikanmasalah, mereka bekerja sama dan mencari pemecahan yang memuaskan.Masing-masing pihak bersedia membuka diri sehingga menghindarkandari perasaan tertekan dan masalah yang dipendam. Tetapi masih adainforman yang menyelesaikan dengan cara penghindaran. Mereka lebihmemilih untuk mengalah dan tidak ingin membicarakannya karena takuthal ini akan menyinggung salah satu pihak. Namun, penyelesaian dengancara seperti ini tidak akan bisa memuaskan kedua belah pihak, karenainforman tidak mendapatkan hasil seperti yang diharapkan.7) Ketiga informan memandang perkawinan mereka sebagai suatu hal yangpositif. Adanya pro dan kontra dari masyarakat bukan sesuatu hal yangperlu dikhawatirkan. Namun informan melarang jika nantinya anak-anakmereka juga melakukan perkawinan beda agama seperti orangtuanya.PENUTUPDalam penelitian ini, pasangan beda agama seharusnya bisa saling terbukakepada pasangannya. Apa yang diinginkan dan dibutuhkan masing-masing pihakbisa saling diungkapkan dengan menggunakan kata-kata yang tidak menyinggungperasaan pasangan. Jika pasangan suami istri beda agama saling memahami danmenerima perbedaan yang mereka miliki, perbedaan tidak akan menjadisandungan bagi keduanya.Dalam mengelola konflik, khususnya konflik yang disebabkan olehperbedaan agama, diusahakan masing-masing pihak tidak saling menghindar,karena suatu saat masalah tersebut dapat muncul kembali dan permasalahannyaakan menjadi semakin besar. Sebaiknya konflik dihadapi dengan terbuka dengansaling mengungkapkan dan mendengarkan keinginan pasangan guna mencapaikesepakatan bersama, sehingga konflik menyangkut agama tidak menjadiancaman bagi kelangsungan rumah tangga mereka, melainkan berguna untuklebih meningkatkan kualitas hubungan suami istri beda agama.
PENGARUH KOMUNIKASI PERSUASIF GURU DAN MOTIVASI BELAJAR SISWA TERHADAP PRESTASI SISWA PADA MATA PELAJARAN BAHASA JAWA DAMAYANTI, ASTRID; Suprihatini, Taufik; Pradekso, Tandiyo
Interaksi Online Vol 1, No 2 (2013): Wisuda April
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTTITLE : THE INFLUENCE OF PERSUASIVE COMMUNICATIONAND STUDENT MOTIVATION TO STUDY JAVANESETOWARD STUDENT ACHIEVEMENT AT THE SUBJECTNAME : ASTRID DAMAYANTINIM : D2C006013Javanese is one of the significant subject that is learned in every junior highschool. However, the students tend to disparage this subject that bring them not tounderstand how the language works. Javanese is considered as traditional and oldfashioned one that make students not interested and feel lazy to study it.This research has been done to found out the influence of persuasivecommunication by teacher and the students motivation to study Javanese toward theirachievement at the subject. Theory that used in this research is about persuasivecommunication by Effendy (1992: 12). The research itself is explanatory one withquantitative approach. The population taken in this research are students from 9th and10th grade of junior high school (SMP) in Semarang Tengah. The sample is taken bystratified proporsional random sampling while the sample itself is 96 persons.Meanwhile, the data is analyzed by regression test of quantitative analysis that usedcalculation from SPSS program (Statistical Product and Service Solution).The result indicates that persuasive communication by teacher (X1) hasinfluenced towards students achievement at Javanese (Y). It can be evidenced bycalculation with statistical test that obtained error probability (sig) 0,000 (<0,05) andR square value is 0.191. It means that persuasive communication by teacher hasinfluenced students achievement 19,1%. Meanwhile, students motivation to study(X2) has also influenced their achievement at Javanese (Y). It can be evidenced byhypothesis test that obtained error probability (sig) 0,000 (<0,05) and R square valueis 14,1%. Regression test indicated that 19,1% and 14,1 % of the study achievementfactors can be explained by persuasive communication by teacher and studentsmotivation to study, while the others 66,8% by other factors that was not be studiedin the research, like intelligence, maturity, and family factor.Keywords : Persuasive, Motivation, AchievementABSTRAKSIJUDUL : PENGARUH KOMUNIKASI PERSUASIF GURU DAN MOTIVASIBELAJAR SISWA TERHADAP PRESTASI SISWA PADA MATAPELAJARAN BAHASA JAWANAMA : ASTRID DAMAYANTINIM : D2C006013Mata pelajaran bahasa Jawa merupakan salah satu pelajaran yang penting dan ada didalam kurikulum setiap sekolah menengah. Akan tetapi, tak banyak siswa yang bisa menguasaipelajaran ini. Hal tersebut disebabkan karena siswa memiliki kecenderungan sikap meremehkanbahasa Jawa, karena bahasa Jawa dipandang sebagai bahasa tradisional yang kuno, danketinggalan jaman. Sehingga membuat siswa menjadi tidak tertarik dan malas untukmempelajarinya.Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh komunikasi persuasif guru danmotivasi belajar siswa terhadap prestasi siswa pada mata pelajaran bahasa Jawa. Teori yagdigunakan untuk mendukung penelitian ini adalah konsep komunikasi persuasif dari Effendy(Effendy, 1992: 12). Penelitian ini merupakan penelitian bertipe eksplanatori dengan pendekatankuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMP Negeri kelas IX dan X yangbersekolah di wilayah kecamatan Semarang Tengah. Teknik sampling yang digunakan dalampengambilan sampel adalah stratified proporsional random sampling dengan jumlah sampelsebanyak 96 orang. Adapun teknik analisis data yang digunakan adalah analisis kuantitatifdengan uji regresi yang menggunakan perhitungan dengan program SPSS (Statistical Productand Service Solution).Hasil penelitian menunjukan bahwa komunikasi persuasif guru (X1) berpengaruhterhadap prestasi siswa pada mata pelajaran bahasa Jawa (Y). Hal ini dibuktikan berdasarkanperhitungan melalui uji statistik dimana diperoleh probabilitas kesalahan (sig) sebesar 0,000(<0,05) dengan nilai R square sebesar 0.191. Artinya, komunikasi persuasif guru mempengaruhiprestasi siswa sebesar 19,1%. Sedangkan untuk variabel motivasi belajar siswa (X2) ternyatajuga berpengaruh terhadap prestasi siswa pada mata pelajaran bahasa Jawa (Y). Hal iniberdasarkan data uji hipotesis, diperoleh probabilitas kesalahan (sig) sebesar 0,000 (<0,05)dengan nilai R square sebesar 0,141. Artinya, bahwa motivasi belajar siswa mempengaruhiprestasi siswa sebesar 14,1%. Hasil uji regresi menunjukkan bahwa 19,1% dan 14,1 % faktorfaktorprestasi belajar dijelaskan oleh komunikasi persuasif guru dan motivasi belajar siswa,sedangkan sisanya 66,8% dijelaskan oleh faktor- faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitianini, seperti kecerdasan siswa, kematangan individu, dan kondisi keluarga.Key Words : Persuasif, Motivasi, PrestasiPENDAHULUANPeran seorang guru yang mengajar di dalam kelas sangat menentukan prestasi akademikpara siswanya. Guru sebagai komunikator dan siswa sebagai komunikan harus mempunyaikesamaan makna agar proses belajar mengajar dapat berjalan dengan maksimal, atau dengan katalain isi pesan yang disampaikan komunikator dapat tersampaikan oleh komunikan. Komunikasiantara guru dan siswa menunjukkan proses dimana orang-orang yang terlibat didalamnya salingmempengaruhi. Suatu komunikasi bisa dikatakan efektif apabila dapat mencapai tujuan atausasaran sesuai dengan maksud si pembicara.Akan tetapi dalam kenyataannya tidak jarang hubungan guru dan siswa di dalam kelaskurang berjalan sebagaimana mestinya, dimana siswa mengalami kesulitan memahami materipelajaran saat berlangsungnya kegiatan belajar mengajar. Mata pelajaran bahasa Jawa bukanlahpelajaran yang baru bagi para siswa, karena pelajaran ini mulai diterima oleh siswa semenjakmereka berada di Sekolah Dasar (SD), artinya hingga lulus SD mereka sudah 6 tahunmempelajari bahasa Jawa. Namun kenyataannya, tak banyak siswa yang bisa menguasaipelajaran ini. Hal tersebut disebabkan karena siswa memiliki kecenderungan sikap meremehkanbahasa Jawa, karena bahasa Jawa dipandang sebagai bahasa tradisional yang kuno, danketinggalan jaman.Persoalan ini tidak jarang membuat siswa merasa kesulitan saat berlangsungnya kegiatanbelajar mengajar. Sehingga membuat siswa menjadi tidak tertarik dan malas untukmempelajarinya. Dapat dilihat selama beberapa tahun terakhir di Semarang, nilai rata-rata bahasaInggris di sejumlah sekolah justru lebih tinggi dari nilai mereka dalam bahasa Jawa. Hal tersebutdapat terlihat pada rendahnya nilai siswa pada mata pelajaran bahasa Jawa di sekolah-sekolah.Nilai rata-rata untuk bahasa Inggris adalah 60,73, sedangkan nilai rata-rata untuk bahasa Jawahanya 51,02. (www.jatenginfo.web.id, 1 Okt 2011: 20.41). Di dalam memperoleh prestasiakademik, siswa memerlukan motivasi di dalam dirinya. Motif-motif penyebab timbulnyamotivasi bagi siswa bisa bermacam-macam. Reward yang diberikan bagi siswa apabila siswamencapai tingkat prestasi tertentu adalah salah satu motif didalam berprestasi.Melihat fenomena yang menunjukan rendahnya nilai dan ketertarikan siswa pada matapelajaran bahasa Jawa, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai pengaruhkomunikasi persuasif guru dan motivasi belajar terhadap prestasi akademik siswa pada matapelajaran bahasa Jawa.PEMBAHASANBeberapa teori yang terkait dengan tujuan penelitian diatas, yaitu:Menurut Effendy, komunikasi persuasif adalah penyampaian pesan yang dilakukan olehkomunikator sedemikian rupa dengan tujuan untuk mengubah sikap, pendapat, atau perilakukomunikan (Effendy, 1992: 12). Komunikasi persuasif juga didefinisikan sebagai perubahansikap akibat paparan informasi dari orang lain. Setiap informasi mempunyai potensi besar dalammempengaruhi sistem sikap dan perilaku seseorang. Sikap dan perilaku seseorang dapat berubahdengan adanya tambahan informasi baru(Werner dan James, 2008: 177) Dalam teoripenggabungan informasi, dikatakan bahwa perubahan sikap seseorang dapat terjadi ketika adatambahan informasi-informasi baru. Sama halnya ketika proses belajar mengajar berlangsung,dimana guru mengkomunikasikan informasi berupa materi pelajaran bahasa Jawa, yangkemudian informasi baru tersebut diterima siswa dan dipercayai oleh siswa, sehingga merubahsikap siswa yang menerima informasi tersebut (Littlejohn, 2009: 111-112). Informasi yangdisampaikan komunikator merupakan informasi yang berupa bujukan (persuasi) dengan tujuanagar komunikan mengubah sikap dan perilakunya sesuai dengan keinginan komunikator.Berdasarkan definisi di atas, jadi komunikasi persuasif guru saat mengajar adalahpenyampaian pesan yang dilakukan oleh guru dengan tujuan mengubah sikap, pendapat, atauperilaku siswa. Dalam hal ini guru, tentu menginginkan agar prestasi belajar siswa berupa nilaimata pelajaran menjadi semakin baik. Dimana prestasi itu sendiri diartikan oleh Djamarahsebagai perubahan sikap, pengetahuan dan ketrampilan siswa sebagai hasil dari interaksi denganpara guru di sekolah (Djamarah, 1994: 23), dan prestasi juga diartikan sebagai hasil yang telahdicapai atau diperoleh siswa berupa nilai mata pelajaran (Nurkencana, 1986 : 62). Maka prestasisiswa merupakan perubahan sikap, pengetahuan, dan keterampilan siswa berupa nilai matapelajaran sebagai hasil dari interaksi dengan para guru di sekolah. Berdasarkan pengertian di atasdapat disimpulkan, komunikasi persuasif guru saat mengajar adalah penyampaian pesan yangdilakukan oleh guru dengan tujuan mengubah prestasi siswa.Untuk membangkitkan semangat dan kegairahan para siswa dalam belajar bahasa Jawa,diperlukan adanya motivasi atau dorongan dengan harapan para siswa tertarik dan memilikisemangat yang tinggi dalam belajar bahasa Jawa. Motivasi belajar adalah keinginan ataudorongan untuk belajar. Didalam kegiatan belajar mengajar motivasi sangat diperlukan karenamotivasi dapat mendorong siswa untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu yang berhubungandengan kegiatan belajar mengajar. Siswa dengan motivasi belajar rendah mengerjakan tugassekolah akan menjadi malas bahkan tidak dikerjakan sehingga mencapai prestasi yang rendah,begitu juga sebaliknya (Ghozali, 1984: 40).Secara konseptual dan operasional, ketiga variabel pada penelitan ini memiliki definisidan indikator sebagai berikut:1. Komunikasi persuasif guru adalah penyampaian pesan berupa ilmu pengetahuan daripendidik kepada peserta didik dengan cara tertentuIndikator: Pemilihan BahasaGuru menyampaikan materi menggunakan bahasa yang sederhana dan mudahdimengerti PengulanganGuru mengulang materi yang telah disampaikan sebelumnya InteraktifGuru melibatkan siswa untuk aktif di dalam kelas EvaluasiGuru memberikan evaluasi belajar InovasiGuru menggunakan media dalam menyampaikan materi2. Motivasi belajar diartikan sebagai serangkaian usaha yang dilakukan siswa gunamencapai hasil atau tujuan tertentuIndikator: Frekuensi belajarTingkat keseringan siswa belajar bahasa Jawa Durasi belajarLama waktu belajar bahasa Jawa3. Prestasi adalah hasil belajar yang menunjukan ukuran kecakapan yang dicapai dalambentuk nilaiIndikator: Nilai mata pelajaran bahasa Jawa siswa di sekolahTipe penelitian yang digunakan adalah penelitian eksplanatori, yaitu penelitian yangbertujuan untuk menguji hipotesis mengenai hubungan kausal antar variabel yang diteliti, yaitupengaruh komunikasi persuasif guru (X1) dan motivasi belajar siswa (X2) terhadap prestasi siwapada mata pelajaran bahasa Jawa (Y). Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMP Negerikelas IX dan X yang bersekolah di wilayah kecamatan Semarang Tengah, yaitu SMPN 3, SMPN7, SMPN 32, SMPN 36, dan SMPN 38. Teknik sampling yang digunakan dalam pengambilansampel adalah stratified proporsional random sampling suatu sampel yang diambil denganmemilih responden secara proporsional dari populasi sasaran yaitu siswa SMPN kelas IX dan Xdari sekolah-sekolah yang berada di kecamatan Semarang Tengah dengan jumlah sampelsebanyak 96 orang..Digunakan analisis yang bersifat kuantitatif untuk menguji pengaruh dari komunikasipersuasif guru dan motivasi belajar siswa (variabel X) terhadap prestasi siwa pada mata pelajaranbahasa Jawa (variabel Y). Adapun teknik analisis data yang digunakan adalah analisis kuantitatifdengan uji statistik yang menggunakan uji regresi dengan menggunakan perhitungan denganprogram SPSS (Statistical Product and Service Solution).Hasil penelitian menunjukan bahwa uji hipotesis untuk pengaruh variabel komunikasipersuasif guru (X1) terhadap prestasi siswa (Y) menunjukkan bahwa regresi signifikan. Haltersebut ditunjukkan dengan nilai p-value sebesar 0,00. Dengan demikian regresi dikatakansignifikan pada taraf 99% karena 0,000 < 0,01. Maka Ho ditolak dan Ha diterima, yakni variabelkomunikasi persuasif guru memiliki pengaruh signifikan terhadap prestasi siswa. Hasil ujiregresi menunjukkan bahwa nilai R Square yang diperoleh sebesar 0,191, yaitu bahwa kontribusipengaruh variabel komunikasi persuasif guru terhadap variabel prestasi siswa adalah sebesar19,1%.Sedangkan, hasil uji hipotesis untuk pengaruh motivasi belajar siswa (X1) terhadapprestasi siswa (Y) menunjukkan bahwa regresi signifikan. Hal tersebut ditunjukkan dengan nilaip-value sebesar 0,00. Dengan demikian regresi dikatakan signifikan pada taraf 99% karena 0,000< 0,01. Maka Ho ditolak dan Ha diterima, yakni variabel motivasi belajar siswa memilikipengaruh signifikan terhadap prestasi siswa. Hasil uji regresi menunjukkan bahwa nilai R Squareyang diperoleh sebesar 0,141, yaitu bahwa kontribusi pengaruh variabel motivasi belajar siswaterhadap variabel prestasi siswa adalah sebesar 14,1%.Dalam penelitian ini pengaruh komunikasi persuasif guru terhadap prestasi siswadijelaskan dengan menggunakan pendapat dari Effendy, Djamarah, dan Nurkencana, yangmengatakan bahwa komunikasi persuasif guru adalah penyampaian pesan yang dilakukan olehguru dengan tujuan mengubah prestasi siswa. Adapun pengertian prestasi dalam hal inimerupakan perubahan sikap, pengetahuan, dan keterampilan siswa berupa nilai mata pelajaransebagai hasil dari interaksi dengan para guru di sekolah. Pendapat ini menjelaskan bahwapenyampaian pesan berupa informasi baru yang dilakukan oleh guru dapat mempengaruhi sistemsikap dan perilaku siswa yang kemudian ditunjukkan dalam bentuk nilai dan disebut denganprestasi (lihat bab 1 hal. 13 dan 16).Hal itu sesuai dengan teori perubahan sikap Hovland, yang menjelaskan bahwa sikap itudapat terbentuk dan sikap dapat berubah melalui proses komunikasi. Serupa dengan Hovland,dalam teori penggabungan informasi, dikatakan bahwa perubahan sikap seseorang dapat terjadiketika ada tambahan informasi-informasi baru. Hovland, Janis & Kelly juga beranggapan bahwaproses dari perubahan sikap adalah serupa dengan proses belajar. Persuasi dipandang sebagaisebuah cara belajar. Dalam teori belajar (learning theory) perilaku manusia dipandang sebagaisebuah rangkaian stimulus- respon. Keadaaan manusia secara terus menerus diserang olehstimulus atau rangsangan. Kemudian apa yang dilakukan manusia merupakan hasil daripemrosesan stimulus yang ditanggapi manusia sebagai respon. Teori ini dapat memprediksiperilaku sehingga kemudian dapat mengontrolnya sesuai kehendak komunikator. Dengan katalain komunikator dapat mengarahkan perilaku seseorang ke arah yang dikehendakinya (lihat bab1 hal. 15).Dari penjelasan di atas digambarkan bahwa ketika proses belajar mengajar berlangsung,dimana guru mengkomunikasikan informasi berupa materi pelajaran bahasa Jawa, yangkemudian informasi baru tersebut diterima siswa dan dipercayai oleh siswa. Sehingga dapatmerubah sikap siswa yang menerima informasi tersebut. Informasi yang disampaikan gurumerupakan informasi yang berupa bujukan (persuasi) dengan tujuan agar siswa mengubah sikapdan perilakunya sesuai dengan keinginan guru. Dalam hal ini guru, tentu menginginkan agarprestasi belajar siswa berupa nilai mata pelajaran menjadi semakin baik. Dari hasil pengujianmenunjukkan bahwa komunikasi persuasif guru memiliki pengaruh yang signifikan terhadapprestasi siswa.Hipotesis mengenai motivasi belajar siswa juga dapat dibuktikan dengan memperhatikanhasil penelitian yang disajikan. Hasil penelitian menyebutkan hal yang sesuai dengan hipotesis,yaitu motivasi belajar memberikan pengaruh yang signifikan terhadap prestasi siswa. Lingrenmengatakan bahwa motivasi belajar adalah dorongan yang ada pada seseorang yangberhubungan dengan prestasi. Sama halnya dengan yang disampaikan oleh Ghozali, bahwa siswadengan motivasi belajar rendah mengerjakan tugas sekolah akan menjadi malas bahkan tidakdikerjakan sehingga mencapai prestasi yang rendah, begitu juga sebaliknya. Jadi dapatdisimpulkan bahwa dengan adanya motivasi belajar, setiap siswa ingin mendapatkan tujuan akhiryaitu prestasi yang ditandai dengan nilai. Hal ini mendukung hasil pembuktian hipotesis di atas,bahwa motivasi belajar berpengaruh terhadap prestasi siswa.PENUTUPKESIMPULANPenelitian tentang pengaruh komunikasi persuasif guru dan motivasi belajar siswaterhadap prestasi siswa pada mata pelajaran bahasa Jawa, menghasilkan beberapa kesimpulansebagai berikut.1. Terdapat pengaruh komunikasi persuasif guru saat mengajar terhadap prestasi siswa padamata pelajaran bahasa Jawa. Artinya bahwa penyampaian pesan berupa materi pelajaranyang dilakukan oleh guru dapat mempengaruhi sistem sikap dan perilaku siswa yangditunjukkan dalam bentuk nilai. Hal ini dapat dijelaskan karena materi yang disampaikanoleh guru saat mengajar bersifat persuasif dimana didalamnya terdapat pemilihan bahasayang tepat, guru juga melakukan evaluasi, pengulangan, dan inovasi didalam kelas,sehingga dapat mengarahkan siswa untuk bertindak sesuai dengan yang diinginkan guru.2. Terdapat pengaruh motivasi belajar siswa terhadap prestasi siswa pada mata pelajaranbahasa Jawa. Artinya, ketika motivasi belajar siswa yang ditandai dari lamanya waktubelajar dan seringnya siswa mengulang pelajaran tinggi, prestasi siswa pun ikut tinggi.Hal ini dapat dijelaskan karena motivasi merupakan keseluruhan daya penggerak didalamdiri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan darikegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yangdikehendaki oleh subyek belajar itu dapat tercapai.SARANPenelitian tentang pengaruh komunikasi persuasif guru dan motivasi belajar siswaterhadap prestasi siswa pada mata pelajaran bahasa Jawa, menghasilkan saran sebagaiberikut :1. Didalam proses belajar mengajar guru sebaiknya dapat lebih memacu motivasi siswadalam mempelajari bahasa JawaDAFTAR PUSTAKACangara, Hafied. 2006. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta : PT Raja Grafindo PersadaDe Vito, Joseph. 1997. Komunikasi Antarmanusia. Jakarta : Professional BooksDjamarah, Syaiful Bahri. 1994. Prestasi Belajar Dan Kompetensi Guru. Jakarta: UsahaNasionalEffendy, Onong Uchjana. 2002. Ilmu komunikasi teori dan praktek. Bandung: PT.Remaja rosdakaryaGhozali, Endang. W. 1984. Kesukaran Belajar. Citra Dunia Kedokteran No.35.Surabaya: Fakultas Ilmu Kedokteran Jiwa Universitas AirlanggaHardiyanto dan Esti Sudi Utami. 2001. Kamus Kecik Bahasa Jawa Ngoko-Krama.Semarang: Lembaga Pengembangan Sastra dan BudayaHamzah, Uno. 2008. Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar yangKreatif dan Efektif. Jakarta: Bumi AksaraImaningtyas. 2010. Sistem Koordinasi Manusia. Bogor: PT. Gelora Aksara PratamaKriyantono, Rachmat. 2006. Teknis Praktis Riset Komunikasi. Jakarta : KencanaLittlejohn, Stephen W. 2009. Theories of Human Communication (9th edition). Jakarta:Salemba HumanikaMakmun, Abin Syamsuddin. 2003. Psikologi Pendidikan. PT Rosda Karya Remaja,BandungMarisan, dkk. 2010. Teori Komunikasi Massa. Bogor: PT. Ghalia IndonesiaMuhammad,Arni. 1996. Komunikasi Organisasi, Jakarta : Bumi AksaraMulyana, Deddy. 2002. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung : RemajaRosdakarya OffsetMulyasa, H.E. 2009. Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: KemandirianGuru dan Kepala Sekolah. Jakarta: Bumi AksaraMunandar. 2003. Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah. Jakarta:GramediaNaim, Ngainun. 2011. Dasar-Dasar Komunikasi Pendidikan. Arr-Ruz Media:YogyakartaNugroho, Adi. 2005. Analisis dan Perancangan Sistem Informasi Dengan MetodologiBerorientasi Objek. Informatika. BandungNurkencana. 2005. Evaluasi Hasil Belajar Mengajar. Surabaya: Usaha NasionalPoerwadarminta, WJS. 1996. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai PustakaPurwadi, Dr. 2005. Tata Bahasa Jawa. Yogyakarta: Media AbadiPurwanto, M Ngalim. 1999. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT. Remaja RosdakaryaRakhmat, Jalaluddin. 2004. Psikologi Komunikasi. Bandung : PT. Remaja RosdakaryaSabri, M.Alisuf. 1996. Psikologi Pendidikan . Jakarta: Pedoman JayaSaputra, Karsono H. 1992. Pengantar Sekar Macapat. Depok: Fakultas SastraUniversitas IndonesiaSardiman. 2007. Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. RemajarosdakaryaSasangka, Sry Satria Tjatur Wisnu. 2004. Unggah-ungguh Bahasa Jawi. Jakarta:Yayasan ParamalinguaSingarimbun, Masri. 1995. Metode Penelitian Survai. Jakarta : LP3ESSoemirat, Soleh, Hidayat Satiri dan Asep Suryana. 2004. Komunikasi Persuasif. Jakarta :Universitas TerbukaSusanto, Astrid. 1993. Komunikasi Dalam Teori dan Praktek, Jilid 2. Bandung: BinaciptaTarigan, Henri. 1993. Strategi Pengajaran dan Pembelajaran Bahasa. Bandung:Angkasa BandungUsman, M Uzer. 2011. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT. Remaja RosdakaryaWalgito, Bimo. 2010. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: CV. Andi OffsetWerner dan James Tankard Jr. 2008. Teori Komunikasi: Sejarah, Metode, dan Terapandi dalam Komunikasi Massa. Jakarta: Kencana Prenada Media GroupWidjaja, H.A.W. Drs. 2000. Ilmu Komunikasi Pengantar Studi. Jakarta: PT. Rineka CiptaYusuf. Pawit M. 1990. Komunikasi Pendidikan dan Komunikasi instruksional. Bandung:PT. Remaja rosdakaryaSuara Merdeka, Sabtu, 23 Agustus 2008Suara Merdeka, Senin, 30 Mei 2005www.AnneAhira.com, 26 Maret 2011: 15.38www.jatenginfo.web.id, 1 Okt 2011: 20.41www.kompas.com, 12 Feb 2011: 21.57www.solopos.com, 12 Feb 2011: 21.57Data Pokok Pendidikan Wilayah (DAPODIK) Dinas Pendidikan Kota Semarang Th.2011
Co-Authors Ade Ayu Kartika Sari Rezki Adi Nugroho Amanda Meipuspa Nusa Anike Puspita Yunita, Anike Puspita Annie Renata Siagian, Annie Renata Arlinda Nurul Nugraharini, Arlinda Nurul Asteria Agustin ASTRID DAMAYANTI Austin Dian P Bebby Rihza Priyono Daniel Dwi Listantyo Dea Dwidinda Lutfi Desy Kurniasari, Desy DITA PURMIA UTAMI Dr. Sunarto Dwi Ratna Setyorini Fauzan Faiz Febryana Dewi Nilasari Fitria Nur Pratiwi Fitria Purnama Sari Geta Ariesta Herdini Hapsari Dwiningtyas Hedi Pudjo Santosa Ilham Prasetyo Imanda Aulia Akbarian Ira Astri Rasika Isti Murfia Joyo N.S Gono Joyo NS Gono Khairunnisya Sholikhah Lintang Andini Lintang Ratri Rahmiaji Luthfi Fazar Ridho M Bayu Widagdo Melani Ria, Melani Meta Detiana Putri MIZWAR AGUSTIFAR Much Yulianto Muchammad Yulianto Muhammad Reza Mardiansyah Muhammad Syamsul Hidayat MUTIA ADI CAHYANI, REZA NIKOLAUS AGENG PRATHAMA Nugraheni Yunda Nuraga Nuriyatul Lailiyah Nurrist Surayya Ulfa Nurriyatul Lailiyah, Nurriyatul Paskah M Pakpahan, Paskah M Primada Qurrota Ayun, Primada Qurrota Restu Ayu Mumpuni, Restu Ayu Rindhianti Novita Sari Rizky Amalia Safwedha, Onny Sallindri Sanning Putri Sarah Tri Rahmasari Septia Hartiningrum Sri Widowati Sri Widowati Herieningsih Swasti Kirana Putri, Swasti Kirana Syarifa Larasati, Syarifa Tandiyo Pradekso Tineke Kristina Siregar Titis Ponco Setiyoko Tommy Ardianto Triana Lestari Triliana Kurniasari Triono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Turnomo Rahardjo Wilis Windiasih Wiwid Noor Rakhmad Woro Widiyasari Yanuar Luqman