Supriharyono Supriharyono
Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Published : 32 Documents
Articles

Found 32 Documents
Search

PENGARUH INTENSITAS PENCAHAYAAN UV TERHADAP PELEPASAN ZOOXANTHELLAE PADA KARANG ACROPORA SP. DALAM SKALA LABORATORIUM (THE EFFECT OF ULTRA VIOLET INTENSITY ON THE RELEASE OF ZOOXANTHELLAE IN CORAL ACROPORA SP. IN LABORATORY SCALE) Nusantara, Dewi Pertiwi; Purnomo, Pujiono Wahyu; Supriharyono, Supriharyono
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 15, No 1 (2019): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ijfst.15.1.46-53

Abstract

Intensitas cahaya merupakan faktor penting terhadap biota karang dalam mendukung pertumbuhan karang, atau sebaliknya dapat menyebabkan bleaching Zooxanthellae dari polyp karang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh intensitas dan lamanya pemaparan pencahayaan UV terhadap laju pelepasan Zooxanthellae pada karang Acropora sp serta recoverynya. Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2018 ? Januari 2019, di Laboratorium Histopatologi BBPBAP Jepara. Spesimen karang Acropora sp. diberikan perlakuan penyinaran secara Fotoperiode dan terus-menerus dengan lampu uv 10 watt, 15 watt dan kondisi normal; dengan ulangan tiga kali. Sampel karang Acropora sp. diambil dari perairan Pulau Panjang Jepara. Pengamatan dilakukan pada interval waktu ke- 0, 12, 24, 36, 48, 60, dan 72 jam. Parameter utama yang diamati adalah laju pelepasan Zooxanthellae dan peubah pendukung yaitu kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intensitas pencahayaan memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap pelepasan Zooxanthellae, semakin tinggi dan pencahayaan yang terus menerus mengakibatkan bleaching total Zooxanthellae pada Acropora sp. Pelepasan Zooxanthellae pencahayaan UV secara terus-menerus lebih besar dari pada perlakuan secara fotoperiode (1881 sel/jam > 731 sel/jam). The light intensity is an important factor for polyp coral in supporting coral growth, or otherwise can cause bleaching of coral. The aims of this research are to evaluate the influence of intensity and the length of ultra violet lighting exposure to the rate of the release of Zooxanthellae in Acropora sp. and their recovery. The research was carried out in December 2018 to January 2019, in the Histopatologi Laboratory of BBPBAP Jepara. Coral Acropora sp. Was given continuous and fotoperiode light treatment with ultra violet lights 10 watts, 15 watts and normally condition; with three times replications. Samples of Acropora sp. were taken from Panjang Island Jepara. The periode of observation are 0 , 12 , 24 , 36 , 48 , 60 , and 72 hours. The main parameters observed are the release of Zooxanthellae and water quality as supporting variables. The result showed that the intensity of ultra violet lighting influence significantly on the release of Zooxanthellae. The higher of intensity and continuous lighting caused total bleaching of Zooxanthellae in Acropora sp. The continuous release of Zooxanthellae UV lighting is greater than photoperiod treatment (1881 cells / hour> 731 cells / hour).
THE DEPTH INFLUENCE TO THE MORPHOLOGY AND ABUNDANCE OF CORALS AT CEMARA KECIL ISLAND, KARIMUNJAWA NATIONAL PARK Suryanti, Suryanti; Supriharyono, Supriharyono; Roslinawati, Yulia
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 7, No 1 (2011): Jurnal Saintek Perikanan
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ijfst.7.1.63-69

Abstract

The dominant species of coral depends on environmental conditions or habitat where corals were alive. According to coral life growth, corals have two classification, Acropora and non-Acropora, with different types of morphology branching, massive, encrusting, foliose,  tabulate, submassive, mushroom and   digitate. Lifeform was influence of some nature factor,one of this factor is depth. The aims of this research were to find and examine the influence of depth on coral morphology, to find abundance of coral, and to find morphology of corals at Pulau Ce mara Kecil, Taman Nasional Karimunjawa. The research  was conducted in August  until December 2009, in Cemara Kecil Island, Karimunjawa National Park. The research method used was eksplanatif method, sampling method using the line transect method along 20 m. The data gathered were an abundance of corals, reef morphology, coral diversity, and physical-chemical parameters. Research data  processed by non-parametric test 2 Independent Samples SPSS 16.  The results of this research showed that were not significant difference between corals morphology in depth of 3 m and 10 m.There were 10 species of coral, Acropora Digitate and Acropora Branching species most commonly found at a depth of 3 m, at depth of 10 m most commonly found was submassive coral species. The percentage of live coral abundance range between 52.5% - 79.5%, was generally grouping into well categories until very well. Percentage abundance of the largest reef in the southern part of the depth of 10 m, based on non parametric test 2 independent sam ples showed that it had no significant difference between abundance corals in depth of 3 m and10 m.   Keywords: depth, morphology of coral
PERTUMBUHAN IKAN NILA (OREOCHROMIS NILOTICUS) DENGAN METODE BUDIDAYA CLEANER PRODUCTION (THE GROWTH OF NILE TILAPIA (OREOCHROMIS NILOTICUS) IN CLEANER PRODUCTION CULTURE METHOD) Haeruddin, Haeruddin; Supriharyono, Supriharyono; Widyorini, Niniek
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 15, No 2 (2019): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ijfst.15.2.112-118

Abstract

Budidaya ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan industri budidaya yang cukup penting saat ini.  Ikan nila merupakan salah satu komoditas unggulan perikanan budidaya.  Penerapan cleaner production dalam budidaya ikan dilakukan untuk mengatasi permasalahan pencemaran lingkungan dari limbah budidaya ikan.  Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji pertumbuhan ikan nila (panjang dan berat) pada metode budidaya ikan cleaner production dengan mengaplikasikan enzim EZplus ke dalam pakan untuk menekan limbah padat dan cair yang dihasilkan ikan.  Peubah yang diamati meliputi laju pertambahan panjang harian ikan, laju pertumbuhan berat harian ikan nila atau Specific Growth Rate (SGR), dan rasio konversi pakan atau Food Conversion Ratio (FCR).  Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode budidaya cleaner production pada ikan nila mampu meningkatkan laju pertumbuhan panjang dan bobot ikan serta memperbaiki rasio konversi pakan dan memperbaiki mutu media pemeliharaan ikan. Nowadays the tilapia (Oreochromis niloticus) culture is one of the important aquaculture industry.  Tilapia is one of the best commodity in fish culture.  Implementation of cleaner production in fish farming is carried out to overcome the problem of environmental pollution from fish farming waste.  This research was conducted to examine the growth of tilapia (length and weight) in the Cleaner Production cultivation method by applying the EZplus enzyme to the feed to suppress the solid and liquid waste produced by fish.  The variables observed included the daily growth rate of fish length, Specific Growth Rate (SGR), and feed conversion ratio (FCR).  The results showed that the application of the Cleaner Production cultivation method in tilapia was able to increase the daily growth rate of fish length and weight as well as improve feed conversion ratio and improve the quality of fish culture media.    
VALUASI EKONOMI SUMBERDAYA MANGROVE DI KELURAHAN MANGUNHARJO, KECAMATAN TUGU, KOTA SEMARANG ECONOMIC VALUATION OF MANGROVE RESOURCES IN THE MANGUNHARJO VILLAGE TUGU SUB DISTRICT, SEMARANG CITY Setiyowati, Desti; Supriharyono, Supriharyono; Triarso, Imam
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 12, No 1 (2016): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ijfst.12.1.67-74

Abstract

 Hutan mangrove merupakan salah satu sumberdaya yang memiliki fungsi dan peran penting dalam satu kesatuan ekosistem. Keberadaannya mendapat tekanan yang serius sebagai dampak dari konversi lahan untuk budidaya tambak intensif dan abrasi gelombang laut. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pemanfaatan sumberdaya mangrove,menganalisis valuasi ekonomi total (TEV) sumberdaya mangrove setelah dikonversi menjadi tambak, dan menganalisis nilai manfaat sumberdaya mangrove. Metode penelitian menggunakan metode proportional stratified random sampling. Metode analisis yang digunakan adalah metode identifikasi pemanfaatan sumberdaya mangrove, metode identifikasi manfaat dan fungsiekosistem mangrove, dan metode evaluasi kebijakan sumberdaya mangrove dengan menggunakan Analisis Manfaat Biaya. Hasil penelitian menunjukkan pemanfaatan sumberdaya mangrove yang dilakukan masyarakat lokal: perikanan tangkap ikan belanak, perikanan budidaya/tambak ikan bandeng dan udang windu, pembibitan mangrove, dan buah mangrove. Nilai ekonomi total sumberdaya mangrove di Kelurahan Mangunharjo saat ini seluas 7,1 ha ekosistem mangrove dan 75 ha tambak produktif sebesar Rp1.398.787.140 / tahun atau Rp160.480.161 / ha / tahun. Nilai manfaat sumberdaya mangrove yang tertinggi yaitu manfaat tidak langsung 63,77% (Rp892.000.000 / tahun atau Rp125.633.803 /Ha /tahun), nilai manfaat lainnya adalah manfaat langsung 33,30% (Rp465.739.500 /tahun atau Rp29.065.000 /ha /tahun), manfaat keberadaan 2,87% (Rp40.136.000 /tahun atau Rp5.652.958 /Ha /tahun), dan manfaat pilihan 0,07% (Rp911.640 / tahun atau Rp128.400 /ha /tahun).  Mangrove forest is one resource that has function and role in the ecosystems. Mangrove forests in Mangunharjo Village are under increasing pressures as the impact of land conversion for intensive aquaculture and ocean wave abrasion. The aim of this research was to 1)identify the utilization ofmangrove resource, 2) analyze the value of the total economic (TEV) resources after mangrove converted into ponds,and 3) analyze the value of the benefits of mangrove resources. The method applied in the research was a purposive random sampling proportional to get representative respondents. Data were analyzed with several methods of analysis:a methodof resource utilization of mangrove identification, methods of identifying the benefits and functions of mangrove ecosystems, and mangrove resource policy evaluation method using Cost Benefit Analysis. This research results showed that the utilization of mangrove resources by local people is mullet fishing, aquaculture/ponds milkfish and shrimp, mangrove seeds, and mangrove fruits.The total economic value of mangrove resources in the Mangunharjo Village currently covering 7,1 ha of mangrove forest and 75 ha for the ponds that is still productive for IDR 1398787140 per year or IDR 160480161 /ha / year.Value of the benefits of mangrove resources is the highest 63,77% indirect use value (IDR 892000000 /year or 125633803 /ha /year), the value of other benefits are the direct use value of 33,30% (IDR 465739500 /year or IDR 29065000 /ha /year), the existence use value of 2,87% (IDR 40136000 /year or 5652958 /ha /year), and option use value of 0,07% (IDR 911640 /year or128400 /ha /year).  
DAMPAK DINAMIKA GARIS PANTAI MENGGUNAKAN CITRA SATELIT MULTI TEMPORAL PANTAI SEMARANG PROVINSI JAWA TENGAH (STUDY OF THE DYNAMICS OF IMAGE USING SATELLITE BEACH LINE MULTI-TEMPORAL BEACH SEMARANG CENTRAL JAVA PROVINCE) Sardiyatmo, Sardiyatmo; Supriharyono, Supriharyono; Hartoko, Agus
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 8, No 2 (2013): Jurnal Saintek Perikanan
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ijfst.8.2.33-37

Abstract

Garis pantai utara Semarang selalu mengalami perubahan dari tahun ke tahun, perubahan yang serius ini perlu untuk dilakukan pemantauan terus menerus. Permasalahan yang dihadapi di daerah pantai utara adalah bagaimana mengetahui perubahan garis pantai, proses yang terjadi dan mengapa terjadi perubahan garis pantai. Metode penelitian yang digunakan adalah interpretasi citra satelit Landsat tahun 1989 tahun 1994, tahun 1999, tahun 2004 dan citra Landsat tahun 2009, dan pengujian lapangan. Dengan menumpang susunkan ke lima citra satelit melalui sistem informasi geografis merupakan cara cepat untuk mengetahui perubahan yang terjadi di pantai utara Semarang. Garis pantai yang terjadi antara tahun 1989 sampai tahun 2009 lebih banyak mengalami proses abrasi jika dibandingkann dengan akresi. Abrasi yang terjadi sebesar 2086.1 ha, sedangkan akresi  sebesar 1221.6 ha. Proses abrasi terjadi akibat adanya arus laut dan ombak laut yang terus menerus menghantam bibir pantai serta adanya pantai yang relatif datar. Sedangkan akresi  disebabkan penumpukan sedimen yang berasal dari daratan  terendapkan di pantai terutama melalui muara sungai.  Untuk mengurangi dampak perubahan garis pantai sebaiknya  masyarakat ikut menjaga dengan mencegah adanya abrasi pantai. Cara yang dapat dilakukan dengan  penghijauan kawasan pantai, dengan penanaman mangrove ditepi pantai dan mengurangi penggunaan lahan di hulu untuk mengurangi bukaan lahan. Kata kunci : Dinamika garispantai, penginderaan jauh ,SIG Northcoast of Semarang had been underwas of changes from year to year. This kind of serious coastel changes will need necessary to do a continuous monitoring. Problems of  the northern coastal area of  java is to find out how the changes  of coastline, the process  and why there is a change of coastline.  Research method used was analysis of  Landsat satellite images of 1989 1994, 1999, 2004 and the 2009, and field testing.  Then followed by overlay of the  five satellite images through a geographical information system is a quick way to find out the changes that occur in the northern coast of Semarang. Changes of coastal line that occurred between 1989 to 2009 experienced more erosion process if dibandingkann by accretion. Erosion that occurs at 2086.1 ha, while the accretion of 1221.6 ha. Based on the research can be drawn a conclusion that is stelit Landsat imagery can be used to determine changes in the coastline north Semarang. Coastal  erosion had been occurs as a result of ocean currents and sea waves continued to hit the beach and the beaches are relatively flat. While the accretion on the beach caused by the buildup of sediments derived from land and deposited on the beach, especially through the mouth of the river. Suggestions to redus the impact of changes in the shoreline community should care for the beach to prevent erosion. The application of an ecosystem based coastal management such as  planting mangroves on the beach and reduce the use of land in the upstream to reduce the aperture area. Keywords: Dynamical Coastline, Remote Sensing, GIS
POTENSI KERUSAKAN TERUMBU KARANG PADA KEGIATAN WISATA SNORKELING DI DESTINASI WISATA TAMAN NASIONAL KARIMUNJAWA Akhmad, Dhanar Syharizal; Purnomo, Pujiono Wahyu; Supriharyono, Supriharyono
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 10 No. 2 (2018): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1763.39 KB) | DOI: 10.29244/jitkt.v10i2.21495

Abstract

Wisata snorkeling di Taman Nasional Karimunjawa merupakan salah satu sektor wisata yang paling pesat perkembanganya saat ini di Karimunjawa. Semakin meningkatnya wisatawan snorkeling dapat menimbulkan tekanan ekologi terumbu karang pada lokasi snorkeling. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kontak langsung wisatawan snorkeling dan operator wisata terhadap kerusakan terumbu karang, penelitian ini dilakukan dengan mengikuti operator wisata. Kontak fisik yang paling sering dilakukan oleh wisatawan adalah sit stand kneel pada karang, sedangkan untuk operator wisata adalah penambatan perahu, pemberian pakan pada ikan, serta tidak menegur wisatawan. Nilai kontak fisik pada spot Ujung Bintang 0,029 individu per menit, nilai kontak fisik pada spot Maer 0,063 individu per menit, nilai kontak fisik pada spot Karang Sendok 0,038 individu per menit.
HUBUNGAN KERAPATAN LAMUN DENGAN KELIMPAHAN BAKTERI HETEROTROF DI PERAIRAN PANTAI KARTINI KABUPATEN JEPARA Ariyanti, Vera Nabila; Supriharyono, Supriharyono; Widyorini, Niniek
Management of Aquatic Resources Journal VOLUME 5, NOMOR 3, TAHUN 2016
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (111.93 KB)

Abstract

ABSTRAK Perairan pantai Kartini merupakan salah satu pantai yang ada di jawa tengah tepatnya di kabupaten Jepara. Perairan pantai Kartini tumbuh beberapa lamun, namun yang paling mendominasi adalah spesies Thalassia sp. Lamun yang merupakan produsen primer atau yang menempati trofik satu dalam sistem rantai makanan dimanfaatkan oleh biota herbivora namun lebih banyak dimanfaatkan oleh detritus feeder. Salah satu detritus feeder yang penting bagi kelangsungan ekosistem lamun yaitu bakteri heterotrof yang merupakan bakteri pengurai. Oleh karena itu perlu diketahui hubungan kerapatan lamun dengan kelimpahan bakteri heterotrof di perairan pantai Kartini kabupaten Jepara. Tujuan dari penelitian ini antara lain adalah mengetahui kerapatan lamun perairan pantai Kartini kabupaten Jepara, mengetahui total bakteri heterotrof pada lamun di perairan pantai Kartini kabupaten Jepara, dan mengetahui hubungan kerapatan lamun dengan kelimpahan bakteri heterotrof. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah ekosistem lamun dan sampel daun lamun. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan cara sampling purposive sampling. Penelitian dilakukan pada bulan Februari hingga Maret 2016. Hasil yang diperoleh Kerapatan lamun yang terdapat di perairan pantai Kartini, kabupaten Jepara adalah rata rata 67 tegakan/m2, dengan kerapatan tertinggi adalah 102 tegakan/m2 dan kerapatan terendah adalah 29 tegakan/m2. Kelimpahan total bakteri heterotrof pada lamun di perairan pantai Kartini, kabupaten Jepara yang tertinggi pada pengenceran 104 adalah 173333 x104 upk/ml dan yang terendah adalah 33333 x104 upk/ml. Kerapatan lamun dengan kelimpahan bakteri heterotrof pada perairan pantai Kartini, kabupaten Jepara memiliki hubungan yang kuat karena nilai koefisien korelasi lebih dari 0,600 (r = 0,618). Kelimpahan bakteri dipengaruhi oleh kepadatan lamun, semakin padat lamun maka akan semakin melimpah jumlah bakteri heterotrofnya.Kata kunci: Lamun, Bakteri Heterotrof, Pantai Kartini Kabupaten Jepara.  ABSTRACT The coastal waters of Kartini is one of the coast located in Central Java, Kabupaten of Jepara. Seagrass at the coastal waters dominated by Thalassia sp. As seagrass as a primary producer and the first trophic level organism in the food chain is usually feed by herbivores but it is mostly used by detritus. One of the more important detritus in the ecosystem are the heterothropic bacterias who function as a decomposer. This is why it is important to figure out the correlation between the density of seagrass with the amount of heterothropic bacterias in the waters at the coast of Kartini in Jepara. The purpose of this study is to know the density of seagrass in the waters at the coast of Kartini Kabupaten Jepara, to know the investigate of heterothropic bacterias on Seagrass in the waters at the coast of Kartini Kabupaten Jepara and to analyse the correlation between the density of seagrass with the amount of heterothropic bacterias in the waters at the coast of Kartini Kabupaten Jepara. Materials used for this research are seagrass and samples of seagrass leaves. This research has been conducted in Februari to March 2016. The method used is a descriptive method with purposive sampling. The results obtained were the density of seagrass in the waters at the coast of Kartini was an average of 67 sprouts of seagrass/m2, with the highest density of 102 sprouts of seagrass/m2 and the lowest density of 29 sprouts of seagrass/m2.The total amount of heterothropic bacterias on seagrass in the waters at the coast of Kartini kabupaten Jepara was found at the most of 173333 x 104 upk/ml (diluted at 104) and at the least of 33333 x 104 upk/ml. Density of seagrass has a strong correlation with the amount of heterothropic bacterias in the waters at the coast of Kartini Kabupaten Jepara with a correlation coefficient high than 0,600 (r = 0,618). The amount of bacterias are influenced by the density of seagrass, the higher the density will also increase the amount of heterotrophic bacterias. Key words: Seagrass, Heterotrophic Bacterias, Coast of Kartini Kabupaten Jepara.
HUBUNGAN KANDUNGAN BAHAN ORGANIK DENGAN TOTAL BAKTERI DI SEDIMEN MUARA SUNGAI WISO, JEPARA Mufaidah, Zulistiana; Supriharyono, Supriharyono; Muskananfola, Max Rudolf
Management of Aquatic Resources Journal VOLUME 5, NOMOR 4, TAHUN 2016
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (163.008 KB)

Abstract

ABSTRAK Muara merupakan salah satu ekosistem yang berada di pesisir, yang merupakan tempat terjadinya siklus dekomposisi unsur – unsur hara.Ketersediaan unsur hara didalam suatu perairan dapat menjadi indikator kesuburan perairan tersebut. Dalam hal ini, unsur hara yang dilihat adalah bahan organik sedimen yang terendap di  perairan dasar Muara Sungai Wiso, Jepara. Zat hara tersebut sangat berperan penting terhadap kelangsungan hidup organisme didalamnya. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret – April 2016 dengan tujuan untuk mengetahui total bakteri, kandungan bahan organik dan hubungan antara total bakteri dan kandungan bahan organik total di sedimen Muara Sungai Wiso, Jepara. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini bersifat deskriptif eksplanatif.Pengambilan sampel pada Muara Sungai Wiso dilakukan pada tiga stasiun pengamatan. Stasiun I merupakan bagian hulu aliran air Muara Sungai Wiso. Stasiun II merupakan bagian tengah aliran air Muara Sungai Wiso. Stasiun III merupakan bagian aliran air Muara Sungai Wiso yang berbatasan langsung dengan pantai.Total bakteri di sedimen dasar Muara Sungai Wiso, Jepara berkisar antara 3,3 x 105 cfu/ml hingga 1,2 x 107 cfu/ml. Kandungan bahan organik di sedimen dasar muara Sungai Wiso, jepara berkisar antara 7,12 % hingga 16,57 %. Bahan organik dengan total bakteri yang terdapat di sedimen dasar Muara Sungai Wiso Jepara tidak memiliki hubungan yang nyata (P > 0,05). Kata Kunci: Muara Sungai Wiso; Total Bakteri; Bahan Organik; Sedimen ABSTRACT Estuary is one of the important ecosystem located on the coast. Where of the decomposition cycle nutrient. The available of nutrients in the waters can be an indicator of water fertility. In this case, the element nutrient which is visible content of organic matter in sediment Wiso Estuary, Jepara. The nutrients are crucial to the survival of organism. The reseach was conducted on March – April 2016 in order to determine the total bacteria, the amount organic matter and relations between total bacteria and organic matter in the sediment Wiso estuary, Jepara. The method used in this research is descriptive explanation. Sampling was conducted at Wiso estuary at three observation stations. Station I is the  upstream of Wiso estuarine stream. Station II is a center part of Wiso estuarine stream. Station III is the final part of Wiso estuarine stream which is directly adjacent to the beach. Total bacteria in bottom sediment Wiso estuarine, Jepara ranged between 3,3 x 105 cfu/ml up to 1,2 x 107 cfu/ml. Content of Organic Matter in bottom sediment Wiso estuarine, Jepara ranged between 7,12 %  up to 16,57 %. Organic matter was not correlation with total bacteria (P > 0,05)  in bottom sediment Wiso estuarine Jepara. Keywords:Wiso estuary; Total bacteria; Organic Matter; Sediment
ANALISIS TOTAL BAKTERI COLIFORM DI PERAIRAN MUARA KALI WISO JEPARA Widyaningsih, Wiwid; Supriharyono, Supriharyono; Widyorini, Niniek
Management of Aquatic Resources Journal VOLUME 5, NOMOR 3, TAHUN 2016
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (92.796 KB)

Abstract

ABSTRAK Kali Wiso merupakan sungai yang berada di tengah kota Jepara. Perairan ini menjadi tempat pembuangan limbah-limbah secara langsung. Limbah tersebut diantaranya limbah domestik, limbah pasar, limbah kapal, serta limbah TPI. Berdasarkan masukan limbah tersebut menjadikan muara ini tercemar. Perairan yang tercemar dapat dilihat dari pengamatan secara fisika, kimia, maupun biologis. Kondisi perairan yang tercemar secara biologis dilihat dari keberadaan bakteri patogen yang ada di perairan. Indikator bakteri yang digunakan yaitu bakteri coliform, karena sifatnya yang berkorelasi positif dengan bakteri patogen lainnya. Pemanfaatan perairan ini digunakan untuk kegiatan pelabuhan, tempat bersandar kapal nelayan, serta kegiatan perikanan yang ada di sekitar perairan Jepara. Oleh karena itu perlu diketahui kepadatan bakteri coliform sehingga dapat bermanfaat sesuai dengan peruntukannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui total bakteri coliform serta mengetahui adanya bakteri Escherichia coli. Penelitain ini dilakukan pada bulan Maret 2016 di Muara Kali Wiso dengan dua kali pengulangan dalam kondisi pasang dan surut. Metode yang digunakan yaitu survei dengan teknik sampling purposive sampling. Metode analisa laboratorium yang digunakan berdasarkan SNI -01-2332-1991. Kepadatan bakteri coliform pada perairan muara Kali Wiso yaitu >110.000 sel/100ml dan bakteri Escherichia coli sebesar >110.000 sel/100ml. Pada kondisi pasang dan surut kepadatan bakteri coliform dan Escherichia coli memiliki nilai perikaraan yang sama, namun tidak menandakan bahwa total bakteri keduanya sama. Kepadatan bakteri coliform dan Escherichia coli telah melebihi batas kriteria mutu air yang telah ditetapkan. Keberadaan bakteri patogen ini bisa mengkontaminasi biota-biota yang ada di perairan. Sehingga jika biota tersebut dikonsumsi oleh manusia bisa menyebabkan gangguan kesehatan secara tidak langsung. Kata kunci: Muara Kali Wiso; Bakteri Coliform; Bakteri Escherichia coli ABSTRACT Kali Wiso is the river in the middle of Jepara. This river receives wastes disposal from surrounding across. The waste including domestic waste, market waste, ship waste, and waste from fish market. Based on the inputs of the waste that made the estuary polluted. Polluted waters can be seen from the observation of physical, chemical, and biological. The conditions of the waters which biologically polluted are recognized from the pathogenic bacteria existing in these waters. The indicator of bacteria used, namely coliform bacteria, because of its positive correlation with other pathogenic bacteria. The utilization of these waters is used for the activities of the port, fishing pout, and fishing activities in the waters around Jepara. Therefore, its important to know the density of coliform bacteria so that can be advantageous according to its purpose. The purpose of this study to determine total of coliform bacteria and the existence of Escherichia coli bacteria. This research conducted in March 2016 at Kali Wiso estuary with on the condition of ups and downs with two repetitions. The method used is a survey with purposive sampling technique. Laboratory analysis method used by ISO -01-2332-1991. The density of coliform bacteria in the waters of the Kali Wiso estuary is >110.000 cells/100ml and Escherichia coli bacteria is >110.000 cells/100ml. On the condition of ups and downs density of coliform bacteria and Escherichia coli have the same approximate value, but it does’nt signify that the total of bacteria both are the same. The density of coliform bacteria and Escherichia coli have exceeded the water quality criteria that have been set. The existence of these pathogenic bacteria can contaminate the biota in aquatic. Therefore, this biotics are consumed by humans, it can cause health problem indirectly. Keywords: Kali Wiso Estuary; Coliform Bacteria; Escherichia coli Bacteria
Pengaruh Kegiatan Penambangan Timah terhadap Kualitas Air Laut di Wilayah Pesisir Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Kurniawan, Kurniawan; Supriharyono, Supriharyono; Sasongko, Dwi P.; Sasongko, Dwi P.
Akuatik: Jurnal Sumberdaya Perairan Vol 8 No 1 (2014): AKUATIK : Jurnal Sumberdaya Perairan
Publisher : Department of Aquatic Resources Management, Faculty of Agriculture, Fisheries, and Biology, University of Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (311.235 KB)

Abstract

Tin mining activities in Bangka regency coastal areas are directly or indirectly give pressure significantly to the degradation of aquatic ecosystems including coral reef ecosystems that affect spawning, feeding, fishing ground of fish resources and other marine biota. The purpose of this study is to examine the content of heavy metals Pb, Cd, Cr in wastewater from tin mining activities in the coastal waters of Bangka Regency, to examine the content of heavy metals Pb, Cd, Cr of the sea waters which is tin mining activities occurred in the coastal area of Bangka Regency and to examine the content of heavy metals Pb, Cd, Cr in the sediments which is tin mining activities occurred in the coastal area of Bangka Regency. Methods of research conducted by direct observation in the field, data collection and laboratory testing. Data taken in the form of water quality parameters, residual waste leaching, sea water and sediment which caught in active tin mining areas. The content of heavy metals test results compared to heavy metal environmental quality standards for marine biota water based Kep 51/MENLH/2004 and the sediment by IADC / CEDA. The measurement results of water quality parameters are as follows: TSS value was on environmental quality standards (20 mg/l). There are 109 mg/l, 208 mg/l, 65 mg/l, 75 mg/l, 120 mg/l, 188 mg/l and 63 mg/l; Brightness was on environmental quality standards (SNI 05-2413-1991 less than 5 m) ranged from 0.05 to 0.08 m; Temperature 28-320C standard is still appropriate; salinity standards are ranging from 27 to 29 o/oo; Density Oxygen (DO) 7 to 9.8 ppm standard is 5 ppm (SNI 06-6989. 14-2004); The Degree of Acidity (pH) 6 to 7 pH is still qualify. The content of heavy metals (Pb, Cd, Cr) in wastewater from tin mining activities was on environmental quality standards that has become environmental pollutants. The content of heavy metals (Pb, Cd, Cr) in the seawater which is tin mining activities occurred in the coastal area of Bangka Regency have been on the environmental quality standards that has been categorized as polluted seawater. The content of heavy metals (Pb, Cd, Cr) in the sediment remained below the environmental quality standards of heavy metal content in the sediment