p-Index From 2014 - 2019
2.203
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Interaksi Online
Taufik Suprihartini
Unknown Affiliation

Published : 16 Documents
Articles

Found 16 Documents
Search

HUBUNGAN TERPAAN IKLAN POLITIK PRABOWO SUBIANTO DI TELEVISI DAN INTENSITAS KOMUNIKASI DALAM KELOMPOK REFERENSI TERHADAP MINAT MEMILIH Wibowo, Ari Mukti; Herieningsih, Sri Widowati; Suprihartini, Taufik; Yulianto, Much.
Interaksi Online Vol 2, No 8 (2014): Wisuda Oktober
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.121 KB)

Abstract

Pada masa pemilu presiden tahun 2014 ini terlihat banyaknya iklan politik yang muncul di media massa khususnya televisi. Prabowo Subianto merupakan salah satu kandidat yang telah ditetapkan oleh KPU sebagai calon presiden. Iklan politik Prabowo Subianto seringkali tayang di berbagai media televisi nasional. Penelitian ini merupakan tipe penelitian eksplanatory yang bertujuan untuk mengetahui hubungan terpaan iklan politik Prabowo Subianto di televisi dan intensitas komunikasi dalam kelompok referensi terhadap minat memilih. Sampel penelitian ini adalah warga Semarang berusia 17 tahun ke atas yang memiliki hak pilih dan pernah menyaksikan iklan politik Prabowo Subianto di televisi. Sampel yang digunakan adalah non random dengan teknik accidental sampling. Teori yang digunakan pada penelitian ini adalah The Learning Hierarcy Theory yang diungkapkan Rotzoll dan Teori kelompok rujukan dari Hyman.Berdasarkan perhitungan statistik dengan menggunakan rumus uji korelasi Rank kendall, maka diketahui terdapat hubungan positif yang signifikan antara terpaan iklan politik Prabowo Subianto di televisi (X1) dengan minat memilih (Y). Hasil nilai signifikansi yakni 0,010 dengan nilai korelasi sebesar 0,325. Dengan demikian semakin tinggi terpaan iklan maka semakin tinggi minat memilih. Iklan politik merupakan sarana menyampaikan pesan-pesan politik. Akibatnya secara tidak langsung khalayak telah melakukan proses belajar dalam mencerna serta mengingat pesan yang telah diterimanya. Kondisi tersebut tanpa disadari merupakan upaya mengubah sikap khalayak. Pesan-pesan didalam iklanyang menerpa khalayak mampu mempengaruhi aspek kognitif. Berdasarkan perhitungan menggunakan rumus uji korelasi Rank Kendall juga diketahui bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara intensitas komunikasi dalam kelompok referensi (X2) dengan minat memilih (Y). Hasil hasil nilai signifikansi yakni 0,004 dengan nilai korelasi sebesar 0,361. Dengan demikian semakin tinggi intensitas komunikasi dalam kelompok referensi maka semakin tinggi minat memilih. Kelompok referensi merupakan sarana bagi individu untuk mencari acuan dalam bersikap ataupun keyakinan untuk bertindak. Sedangkan intensitas komunikasi didalam kelompoknya akan semakin meningkatkan kohesifitas, kepercayaan, dan konformitas. Oleh karena itu, intensitas juga mempengaruhi seberapa besar sugesti yang diberikan oleh kelompok tersebut dapat diterima oleh indiviu didalamnya.Kata kunci: terpaan iklan, intensitas komunikasi dalam kelompok referensi dan minat memilih
PENDEKATAN KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI DALAM MENJAGA KEHARMONISAN KELUARGA PELAUT Centauria, Saundra; Widowati, Sri; Suprihartini, Taufik; Naryoso, Agus
Interaksi Online Vol 2, No 8 (2014): Wisuda Oktober
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (60.438 KB)

Abstract

Keharmonisan dalam keluarga adalah suatu hal yang didambakan setiap orang. Namun banyak kesulitan untuk mencapai hal tersebut. Salah satunya yang dialami oleh keluarga pelaut dimana terjadi keterpisahan jarak dalam jangka waktu yang lama. Kondisi hubungan jarak jauh itu memicu banyaknya konflik yang terjadi, hingga terjadinya perselingkuhan dan perceraian. Oleh karena itu diperlukan pengelolaan komunikasi dan konflik secara baik, agar dapat menciptakan keharmonisan dalam keluarga. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui bagaimana pengelolaan komunikasi dan pengelolaan konflik yang terjadi dalam keluarga pelaut. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yang mendasari diri pada pendekatan fenomenologis. Data diperoleh melalui wawancara mendalam kepada subjek penelitian. Teori yang digunakan adalah teori core triad of balance, yang menyatakan hubungan pernikahan dipahami dari tiga hal dalam pengalaman manusia, yaitu perilaku, persepsi , dan fisiologi.Hasil penelitian dari ketiga informan yaitu tiga orang istri yang masing-masing memiliki suami yang berprofesi sebagai pelaut menunjukan bahwa pengelolaan komunikasi pasangan suami istri jarak jauh dapat dijaga dengan cara mengoptimalkan media komunikasi yang ada. Sikap pengungkapan diri / self disclosure , saling jujur, empati, dan supportiveness perlu ditanamkan untuk menjaga hubungan jarak jauh tersebut, karena hal ini dapat mengontrol tingkat kecurigaan dan mengurangi prasangka dari kedua belah pihak. Jenis konflik yang dialami pasangan suami istri jarak jauh ini beragam sesuai dengan lama pernikahan dan kepribadian masing-masing, mulai dari konflik kecil hingga besar. Namun konflik yang sering terjadi yang dikarenakan intensitas pertemuan tatap muka yang sangat terbatas harus dikelola tidak dengan cara mengakhiri hubungan . Dalam hubungan pernikahan, konflik harus diselesaikan dengan baik, mencari solusi bersama yang tidak merugikan kedua belah pihak, dan membuat konflik menjadi suatu hal yang positif agar bisa dimanfaatkan demi mencapai keharmonisan keluarga.Keywords: Komunikasi Antar Pribadi, Keharmonisan Keluarga, Keluarga Pelaut
Pemaknaan Khalayak terhadap Penggambaran Orang Jawa Semarang dalam Rubrik Rame Kondhe di Harian Suara Merdeka Hadi, Mirtsa Zahara; Santosa, Hedi Pudjo; Suprihartini, Taufik; Rahardjo, Turnomo
Interaksi Online Vol 3, No 9 (2015): Wisuda Januari
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (313.178 KB)

Abstract

ABSTRAKNama : Mirtsa Zahara HadiNIM : D2C009069Judul : Pemaknaan Khalayak terhadap Penggambaran Orang Jawa Semarang dalam Rubrik Rame Kondhe di Harian Suara MerdekaRubrik opini di dalam surat kabar merupakan rubrik yang memaparkan opini redaksi tentang suatu pemberitaan. Rame Kondhe merupakan salah satu rubrik opini yang diterbitkan oleh Harian Suara Merdeka yang disajikan dalam format feature dengan menggunakan bahasa Jawa dialek Semarang. Hal unik lain dari rubrik ini adalah penggunaan tokoh-tokoh atau karakter yang berbincang dalam bahasa Jawa dialek Semarang yang jika dibaca sekilas akan timbul pemahaman pembaca bahwa tokoh-tokoh di dalam rubrik tersebut merupakan penggambaran orang Jawa Semarang asli.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pemaknaan khalayak terhadap penggambaran orang Jawa Semarang dalam rubrik Rame Kondhe. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif yang bersifat kualitatif dan menggunakan pendekatan analisis resepsi. Teori yang digunakan adalah teori interpretif dan teori encoding-decoding Stuart Hall yang menjabarkan tiga posisi pemaknaan audiens. Perbedaan posisi pemaknaan audiens dikarenakan perbedaan latar belakang sosial, ekonomi, agama, budaya, pendidikan, usia, dan gender. Hasil penelitian diperoleh melalui wawancara mendalam dengan delapan informan yang berbeda secara etnis, usia, gender, dan latar belakang sosial dan ekonomi.Preferred reading dari rubrik Rame Kondhe adalah khalayak akan diarahkan untuk menyetujui penggambaran tokoh-tokoh yang ada di dalam rubrik Rame Kondhe merupakan pencerminan orang Semarang asli. Hasil penelitian dikelompokkan menjadi tiga posisi pemaknaan, dominant-hegemonic position yang menempatkan khalayak membaca teks sesuai dengan makna dominan, negotiated position yang menempatkan khalayak membaca teks sesuai dengan makna dominan, namun menegosiasikan beberapa hal yang tidak sesuai dengan keadaan audiens, dan oppositional position yang menempatkan khalayak membaca teks tidak sesuai dengan makna dominan dan memberikan alternatif jawaban. Kesimpulan hasil penelitian menempatkan sebagian besar informan berada pada posisi hegemoni dominan yang menyetujui bahwa karakteristik tokoh -tokoh yang ada di dalam rubrik Rame Kondhe merupakan pencerminan orang Semarang asli.Kata kunci : bahasa Jawa, dialek, orang Jawa, orang Semarang, analisis resepsi
Pemaknaan Jilbab Kreatif bagi Perempuan Muslim sebagai Identitas Diri Rakhmad, Wiwid Noor; Suprihartini, Taufik; Lestari, Sri Budi
Interaksi Online Vol 3, No 12 (2015): Wisuda Oktober
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (463.699 KB)

Abstract

Peminat menggunakan jilbab meningkat setelah model-model jilbab kreatif mulai hadirmenghiasi ranah fashion. Tidak dapat dipungkiri, perkembangan jilbab sebagai trend fashiontelah membuat sebagian perempuan muslim lainnya menjadi dapat berkreasi mengenai modeljilbab seperti apa yang ingin dikenakannya. Karena jilbab yang dahulu dikenal denganmodelnya yang polosan dan ukuran yang besar atau lebar, telah berubah menjadi jilbab yangserba modern dan dinamis. Hal ini bergantung pada pengetahuan dan pengalaman perempuanmuslim dalam memaknai jilbab. Penampilan masih terus berperan penting dalammencerminkan identitas pemakainya, serta berdampak pada orang lain dalam menentukansikap terhadap orang tersebut. Meskipun sebagian orang tidak memperdulikannya, dan hanyamengubah penampilan sesuai tren yang sedang berkembang.Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pemaknaan mengenai jilbab yangdipahami oleh perempuan muslim sebagai sarana mempresentasikan diri. Penelitian inimerupakan penelitian kualitatif dan pendekatan fenomenologi. Sedangkan teknik analisis datadilakukan berdasarkan model analisis data fenomenologi dari Von Eckartsberg. Penelitimenggunakan teori dari Erving Goffman tentang presentasi diri yang menjelaskan beberapahal seperti busana yang dipakai, tempat tinggal, cara berjalan, berbicara, dan lain-laindigunakan untuk presentasi diri. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakanindepth interview kepada lima informan yang telah dipilih oleh peneliti, yakni perempuanmuslim yang menggunakan jilbab syar’i, menggunakan jilbab kreatif, dan belummenggunakan jilbab.Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan muslim memaknai jilbab kreatifsebagai pakaian yang modis, elegan, dan menjadikan penggunanya terlihat lebih cantik.Meski alasan mereka menggunakan jilbab adalah karena jilbab merupakan pakaian wajibbagi perempuan muslim, terkadang secara sadar ataupun tidak, jilbab kreatif tersebutmengabaikan beberapa aturan berjilbab dalam Islam dan lebih terpusat pada perkembangantren. Meski demikian, adanya variasi model, bahan, dan aksesoris jilbab membuat perempuanmuslim tertarik untuk mengenakannya.Berdasarkan hasil penelitian, peneliti menyimpulkan bahwa kehadiran trend fashionjilbab kreatif menimbulkan bermacam makna mengenai jilbab. Namun, jilbab kreatif lebihmemperhatikan aspek kecantikan dan tren yang sedang berkembang. Jilbab kreatif membuatbeberapa perempuan muslim merasa lebih nyaman melaksanakan kewajiban berjilbab dengantetap terlihat cantik dan modern.
Ultra Violence Dalam Film Django Unchained I, Dini Tiara; Rahardjo, Turnomo; Suprihartini, Taufik; Dwiningtyas, Hapsari
Interaksi Online Vol 3, No 9 (2015): Wisuda Januari
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (129.624 KB)

Abstract

Kekerasan merupakan aspek yang tidak pernah lepas ditampilkan dalam media. Film merupakan media massa yang menampilkan kekerasan dengan vulgar. Kekerasan yang berlebihan ini disebut dengan ultra violence dimana kekerasan divisualisasikan dengan sekeji mungkin. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan bagaimana teks, dalam hal ini film mendesain kekerasan menjadi suatu hiburan yang kemudian layak dipertontonkan. Penelitian ini menggunakan analisis semiotika The Codes of Television John Fiske, yang meneliti film dengan tiga tahap penelitian. Secara teknis film dilihat melalui level realitas dan representasi, kemudian pada level terakhir dilihat ideologi yang terdapat dalam film.Hasil penelitian memperlihatkan bahwa kekerasan yang ditampilkan dalam film merupakan bentuk hiperrealitas. Kekerasan yang ditampilkan bukan murni hasil representasi realitas namun merupakan buatan pembuat film yang sama sekali tidak dapat dihubungkan dengan kekerasan pada realitas. Selain itu, pada film ini menunjukkan naturalisasi atas tindakan kekerasan. Kekerasan dianggap sebagai bentuk balas dendam terhadap kaum yang menindas. Pihak yang tertindas berhak “menghukum” pihak yang menindas dengan kekerasan. Secara keseluruhan, kekerasan yang terdapat dalam film ini dibentuk menjadi industri budaya yang sengaja dibuat menjadi objek hiburan. Kata kunci : Kekerasan, Hiperrealitas, Industri Budaya
Memahami Kompetensi Komunikasi Antarbudaya Antara Pemilik Homestay dengan Wisatawan Asing di Karimunjawa Mapikawanti, Meidiza Firda; Herieningsih, Sri Widowati; Suprihartini, Taufik; Rahardjo, Turnomo
Interaksi Online Vol 3, No 10 (2015): Wisuda April
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.773 KB)

Abstract

Karimunjawa merupakan daerah wisata yang banyak dikunjungi wisatawan, termasuk wisatawan asing. Banyak masyarakat Karimunjawa memanfaatkan peluang tersebut untuk membuka bisnis homestay. Pemilik homestay dan wisatawan asing, memiliki perbedaan kebudayaan, kebiasaan, dan bahasa, sedangkan mereka harus dapat hidup berdampingan dan saling berkomunikasi setiap harinya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kompetensi komunikasi antarbudaya antara pemilik homestay dengan wisatawan asing di Karimunjawa. Tipe penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologi yang menjelaskan pengalaman unik pemilik homestay dan wisatawan asing dalam berinteraksi dan berkomunikasi secara efektif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu menggunakan teknik wawancara mendalam (indepth interview) dengan enam subjek penelitian, yaitu tiga orang pemilik homestay dan tiga orang wisatawan asing di Karimunjawa. Penelitian ini menggunakan Teori Kompetensi Komunikasi Antarbudaya oleh Lustig dan Koester (1996), Teori Interaksi Simbolik oleh George Herber Mead (1934), serta Teori Pengelolaan Ketidakpastian dan Kecemasan oleh William Gudykunst (2005) sebagai landasan teori.Berdasarkan hasil penelitian, tidak semua wisatawan asing mengalami ketidakpastian dan kecemasan ketika pertamakali datang ke Karimunjawa, hal ini dikarenakan singkatnya kunjungan mereka yaitu hanya beberapa hari dan tujuan mereka ke Karimunjawa adalah untuk berlibur. Meskipun tidak semua wisatawan asing mengalami kecemasan dan ketidakpastian, namun mereka melakukan strategi aktif, pasif, dan interaktif untuk menghindari dan mengurangi kecemasan dan ketidakpastian mereka. Strategi tersebut mereka gunakan untuk mengumpulkan informasi mengenai Karimunjawa dan pemilik homestay. Untuk dapat berkomunikasi secara lancar, pemilik homestay dan wisatawan asing menggunakan aktivitas non verbal kinesis, yaitu menggunakan gerakan tangan dan anggota tubuh bersamaan dengan komunikasi verbal dan tergolong dalam perilaku non verbal illustrator yang bersifat komunikatif, informatif, daninteraktif. Penelitian menunjukkan bahwa pemilik homestay dan wisatawan asing memiliki motivasi yang kuat untuk saling berkomunikasi dan berinteraksi, memiliki pengetahuan yang cukup mengenai kebudayaan, kebiasaan dan bahasa masing-masing, dan bertindak untuk membaur dan berkomunikasi. Selain itu, mereka juga memahami konteks komunikasi antarbudaya dan memiliki kepantasan dan efektivitas dalam interaksi antarbudaya. Hal-hal tersebut merupakan komponen yang dibutuhkan untuk mencapai kecakapan dalam kompetensi komunikasi antarbudaya.
Penaatan Kode Etik di Kalangan Jurnalis Peliput Pemerintah Provinsi Jawa Tengah Setelah Penghapusan Amplop Jurnalis Albab, Choirul Ulil; Nugroho, Adi; Suprihartini, Taufik; Lukmantoro, Triyono
Interaksi Online Vol 3, No 11 (2015): Wisuda Agustus
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.58 KB)

Abstract

Seorang jurnalis dituntut tetap netral dan independen dari pihak mana pun. Ganjar Pranowo setelah terpilih sebagai Gubernur Jawa Tengah, pada Oktober 2013 memberlakukan kebijakan penghapusan amplop untuk jurnalis. Banyak pro dan kontra atas kebijakan ini. Biasanya, Humas Pemprov Jateng membagikan amplop berisi Rp 150.00,00 kepada jurnalis yang meliput kegiatan Pemprov.Penelitian ini bertujuan untuk memberikan deskripsi mengenai penaatan Kode Etik di kalangan jurnalis Pemprov Jawa Tengah setelah penghapusan amplop untuk jurnalis. Teori-teori yang digunakan untuk mendukung penelitian ini diantaranya adalah Teori Pemberian Hadiah (Mauss: 2002), Sembilan Elemen Jurnalistik (Kovach: 2001), dan Teori-Teori Etika. Metode penelitian yang digunakan adalah Deskriptif Kualitatif. Peneliti akan menggambarkan hasil penelitian di lapangan secara utuh. Peneliti memilih Kepala Biro Humas Pemprov Jateng, Pemimpin Redaksi Suara Merdeka, pengurus organisasi kewartawanan (PWI, AJI, dan IJTI), dan Jurnalis yang bertugas di Pemprov Jateng sebagai narasumber.Hasilnya, jurnalis di Jawa Tengah sebagian besar jurnalis menaati Kode Etik Jurnalistik, tidak ada perubahan dalam mekanisme kerja mereka. Beberapa kesalahan sempat dilakukan oleh jurnalis pemula seperti kesalahan verifikasi data dan cover both sides, karena jam terbang yang masih rendah. Kebijakan ini justru berdampak membuat hubungan antarjurnalis memburuk, muncul pengotak-kotakan di kalangan jurnalis. Terbukti dari munculnya sebutan jurnalis ring satu, ring dua, dan seterusnya. Kode Etik Jurnalistik wajib ditaati, namun semua pengurus organisasi kewartawanan tidak bisa menjamin anggotanya sudah memahami dan menaati isi dari kode etik. Konsistensi dari Ganjar Pranowo masih banyak dipertanyakan, pasalnya masih ada praktik amplop setelah kebijakan penghapusan amplop ini diberlakukan.
Bahasa Gaul dan Eksistensi Diri Sadewo, Jonathan Dio; Santosa, Hedi Pudjo; Suprihartini, Taufik; Rahardjo, Turnomo
Interaksi Online Vol 3, No 11 (2015): Wisuda Agustus
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.313 KB)

Abstract

Pemakaian bahasa gaul saat ini sudah menjadi pemakaian sehari-hari, adanyakebutuhan akan penggakuan ini menjadikan anak muda berperan pada lingkungannyauntuk membuat suatu kesan yang ditampilkan didepan orang-orang. Hal inilah yangdidapat pada teori Dramaturgi Sosial oleh Erving Goffman yaitu bagaimana orangberperan di depan penonton untuk menampilkan suatu kesan yang merupakan tujuandari pertunjukan tersebut. Didalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui danmenjelaskan pengalaman dari individu-individu dalam penggunaan bahasa gaul untukberinteraksi. Hasil dari wawancara yang mendalam didapatkan dari informan yaituanak muda yang memakai bahasa gaul secara intens. Penelitian ini merupakanpenelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan metode fenomenologi.Pada penelitian ini mendapatkan suatu hasil yaitu bahasa gaul yang digunakanoleh anak muda saat berinteraki satu dengan yang lainnya merupakan sarana atau alatpenunjukan eksistensi didepan penonton yang menjadi bagian pertunjukan.Penggunaan bahasa gaul ini merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan darikeseharian anak muda. Kemudahan untuk berkomunikasi yaitu menjadikanpemakaian bahasa gaul lebih mengakrabkan. Penampilan didepan lingkungannya saatmenggunakan bahasa gaul (frontstage) akan berupa sebuah penampilan yang sudahdiatur tujuannya yaitu menampilkan sebuah kesan yang sama dengan yangdiinginkan. Berbeda dengan kondisi sebenarnya yaitu ketika informan berada padakondisi tidak ada penonton (backstage) dengan menampilkan diri yang sebenarnya.Penampilan yang dibuat akan menciptakan kesan bahwa para anak muda yangmenggunakan bahasa gaul adalah anak muda yang eksis dan mengikutiperkembangan zaman.
Representasi Whiteness dalam Film 12 Years A Slave Nugroho, Arfianto Adi; Nugroho, Adi; Suprihartini, Taufik; Lukmantoro, Triyono
Interaksi Online Vol 3, No 11 (2015): Wisuda Agustus
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.774 KB)

Abstract

12 Years A Slave adalah film drama sejarah yang bercerita tentang perjalananSalomon Northup, seorang kulit hitam merdeka untuk terbebas dari perbudakan danmemperoleh kemerdekaannya kembali. Berbeda dengan film-film Hollywoodsebelumnya yang mengangkat tema sejarah konflik sosial antarras di Amerika, filmini menyajikan secara gamblang kekejaman sistem perbudakan yang dilakukan kulitputih dalam bentuk kekerasan fisik dan psikologis. Meski membuka kembali sejarahkelam bangsa Amerika, film ini sukses meraih penghargaan sebagai Film TerbaikOscar 2014.Tujuan penelitian ini adalah mengetahui representasi sosok kulit putih dalamfilm 12 Years A Slave. Tipe penelitian ini adalah kualitatif, menggunakan pendekatanteori representasi dari Stuart Hall dan analisis semiotika dengan teknik analisis datadari konsep Kode-Kode Televisi John Fiske. Analisis dilakukan dengan tiga level,yakni level realitas, level representasi, dan level ideologi. Level realitas dan levelrepresentasi dianalisis secara sintagmatik, sedangkan analisis secara paradigmatikuntuk level ideologi.Hasil penelitian menemukan bahwa sosok kulit putih digambarkan sebagai rasyang lebih unggul sedangkan ras kulit hitam sebagai ras yang lemah dan tidakberdaya tanpa bantuan kulit putih. Melalui analisis sintagmatik pada level realitas danrepresentasi peneliti menemukan stereotip materialis dan kejam pada sosok kulitputih. Stereotip tersebut merupakan representasi dari kekuasaan kulit putih dalamperbudakan. Sedangkan melalui analisis paradigmatik pada level ideologi penelitimenemukan konstruksi ideologi Whiteness dan American Dream. Konstruksi ideologiwhiteness menampilkan identitas heroik pada kulit putih yang menyelamatkan kulithitam yang lemah. Film ini menempatkan ras kulit putih sebagai penanda istilahhukum dan pengatur kehidupan sosial. Konstruksi American Dream yang ditampilkanlewat semangat dan kegigihan Northup untuk keluar dari perbudakan danmendapatkan kemerdekaannya menyiratkan pesan Amerika sebagai negara yangideal, pahlawan, dan penyelamat dunia.
REPRESENTASI MARJINALISASI ORANG JAWA DALAM FTV SCTV PULANG MALU GAK PULANG RINDU Utami, Fransiska Candraditya; Santosa, Hedi Pudjo; Suprihartini, Taufik; Widagdo, M Bayu
Interaksi Online Vol 3, No 11 (2015): Wisuda Agustus
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (233.337 KB)

Abstract

Representasi orang Jawa dalam FTV di Indonesia banyak yang melenceng dari keadaan sebenarnya dan mengarah pada pembentukan stereotip negatif yang memarjinalkan orang Jawa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana representasi orang Jawa yang terdapat dalam FTV SCTV Pulang Malu Gak Pulang Rindu yang diindikasikan memarjinalkan orang Jawa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan analisis semiotika. Teknik analisis data menggunakan teori Codes of Television dari John Fiske (1987). Hasil penelitian ini menunjukkan adanya penggunaan dialek Jawa yang tidak semestinya sehingga terkesan kampungan; orang Jawa digambarkan sebagai kelompok yang buruk ketika berinteraksi dengan sesama orang Jawa; orang Jawa digambarkan berada di pihak yang salah dalam bermasyarakat; serta orang Jawa digambarkan mendapat posisi yang non-dominan ketika berinteraksi dengan etnis lain. Representasi yang memarjinalkan orang Jawa ini membawa ideologi Kelas kedalamnya. Motif dari adanya representasi marjinalisasi orang Jawa dalam FTV Pulang Malu Gak Pulang Rindu adalah adanya ideologi Kapitalisme dalam industri pertelevisian Indonesia sehingga lebih mementingkan keuntungan daripada kualitas.