Rimadewi Suprihardjo
Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan

Published : 20 Documents
Articles

Found 20 Documents
Search

Kriteria Pengembangan Desa Slopeng sebagai Desa Wisata di Kabupaten Sumenep

Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 3 (2013)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (83.713 KB)

Abstract

Kawasan Pantai Slopeng adalah daerah tujuan wisata yang berprospek cerah. Akan tetapi hingga saat ini potensi wisata ini masih belum optimal pemanfaatannya. pengembangan kawasan ini sebagai kawasan pariwisata terkendala kondisi sosial budaya masyarakat setempat yang kurang bisa menerima kebudayaan yang berbeda dengan kebudayaan atau tata cara kehidupan masyarakat setempat. Sejak tahun 2011 Desa Slopeng mulai dilirik untuk dikembangkan menjadi kawasan desa wisata. Pada penelitian ini dihasilkan kriteria pengembangan Desa Slopeng sebagai desa wisata berdasarkan karakteristik dan faktor pengembangannya. Pendekatan penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Teknik analisisnya yaitu analisa deskriptif untuk menghasilkan karakteristik Desa Slopeng sebagai desa wisata kemudian analisa Delphi untuk menentukan faktor pengembangan serta analisa deskriptif untuk menghasilkan kriteria pengembangan Desa Slopeng sebagai desa wisata. Hasil akhir penelitian berupa kriteria prioritas yang berupa kriteria mengenai atraksi, akomodasi dan proses integrasi pengembangan desa wisata dengan masyarakat setempat serta kriteria pendukung pengembangan Desa Slopeng sebagai desa wisata berupa kriteria mengenai sarana dan prasarana dasar, fasilitas pendukung desa wisata, pengelola desa wisata dan hubungan Desa Slopeng sebagai desa wisata pengembangan pariwisata lain di Kabupaten Sumenep

Kriteria Partisipasi Masyarakat dalam Pelestarian Kawasan Cagar Budaya (Studi Kasus: Kawasan Cagar Budaya Peneleh, Surabaya)

Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.257 KB)

Abstract

Perkembangan suatu kota yang berdampak pada perubahan fisik kawasan bersejarah menyebabkan dibutuhkannya suatu upaya pelestarian kawasan cagar budaya dengan partisipasi masyarakat di dalamnya. Sehingga dapat terwujud suatu konsep pelestarian cagar budaya yang berkelanjutan. Dalam mencapai tujuan penelitian, dilakukan empat tahapan analisa, yaitu identifikasi perubahan fisik dan lingkungan kawasan cagar budaya, identifikasi karakteristik partisipasi masyarakat sesuai dengan tingkat perubahan, penentuan bentuk pelestarian kawasan cagar budaya sesuai dengan tingakt perubahan dan partisipasi masyarakat, dan penentuan kriteria partisipasi masyarakat dalam pelestarian kawasan cagar budaya di Peneleh. Dengan demikian diperoleh hasil penelitian berupa tiga tipologi perubahan fisik dan lingkungan, yaitu Tipologi Perubahan Sedang pada Embong Purnomo dan Undaan Kulon, Tipologi Perubahan Kecil pada Kampung Plampitan, dan Tipologi Tidak Ada Perubahan pada Kampung Pandean. Karakteristik partisipasi masyarakat pada tiap tipologi ini berbeda-beda. Bentuk pelestarian yang diarahkan pada tiap tipologi disesuaikan dengan karakteristik partisipasi masyarakat yang dimiliki. Kriteria partisipasi masyarakat dalam pelestarian kawasan cagar budaya adalah adanya pengurus harian cagar budaya, adanya peningkatan pemahaman mengenai perawatan cagar budaya dan jaring asrpirasi secara rutin oleh pemerintah dengan didampingi komunitas peduli cagar budaya pada masyarakat

Pengembangan Kawasan Pariwisata Terpadu di Kepulauan Seribu

Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (173.601 KB)

Abstract

Kabupaten administrasi Kepulauan Seribu merupakan kawasan kepulauan di Utara Jakarta, kawasan ini memiliki potensi pariwisata berupa gugusan kepulauan. Gugusan kepulaun ini memiliki karakteristik yang berbeda-beda untuk dijadikan daya tarik wisata, diantaranya adalah wisata bahari, wisata sejarah dan wisata cagar alam (konservasi). Banyaknya jumlah kepulaun seribu, baru beberapa yang digunakan untuk kegiatan pariwisata, diantaranya ialah P. Untung Jawa, P. Pramuka, P. Tidung, P. Harapan yang merupakan pulau-pulau dengan kunjungan wisata terbanyak karena memiliki daya tarik berupa wisata pantai dan laut. P. Onrust, P. Cipir, P. Kelor, P. Bidadari yang memiliki daya tarik utama kawasan sejarahnya serta wisata cagar alam (konservasi) yang terdapat pada P. Rambut dan P. Bokor. Beragamnya daya tarik wisata yang ditawarkan, namun hanya wisata bahari yang berkembang sehingga perlu adanya konsep keterpaduan dalam pengelolaan kawasan Kepulauan Seribu ini agar potensi-potensi wisata yang ada didalamnya dapat berkembang. Penelitian ini ini menggunakan pendekatan rasionalisme, di dalamnya menggunakan pendekatan kualitatif . Penelitian ini menghasilkan pembagian zona-zona pengembangan pada wilayah penelitian, zona-zona ini terdiri dari zona inti dan zona pendukung. Pada zona inti terdapat pembagian kegiatan pariwisata yaitu kegitan utama dengan arahan menjadikan P. untung Jawa, P. Pramuka, P. Tidung, P. Harapan menjadi  kegiatan utama, kegiatan pendukung dengan arahan menjadikan P. Onrust, P. Cipir, P. Kelor dan P. Bidadari sebagai kegiatan pendukung  dan kegiatan penunjang dengan arahan menjadikan P. rambut dan P. Bokor sebagai kegiatan penunjang pariwisata,  sedangkan zona pendukung terbagi pada Pulau Untung Jawa dan Pulau Pramuka sebagai pusat akomodasi di Kepulauan Seribu.

Pelestarian Kawasan Cagar Budaya Berbasis Partisipasi Masyarakat (Studi Kasus: Kawasan Cagar Budaya Bubutan, Surabaya)

Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012): Jurnal Teknik ITS (ISSN 2301-9271)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (131.289 KB)

Abstract

Partisipasi masyarakat dalam upaya pelestarian warisan budaya merupakan salah satu prioritas yang harus tercapai dalam setiap kegiatan pemanfaatan benda cagar budaya yang berwawasan pelestarian. Upaya pelestarian yang dilakukan haruslah berdampak pada meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya keberadaan bangunan-benda cagar budaya sehingga masyarakatlah nanti yang akan lebih berperan serta, pemerintah hanya mengayomi dan mengawasi sehingga tidak keluar dari koridor hukum yang berlaku tentang pelestarian. Dalam penelitian ini digunakan berbagai tinjauan teori yang berkaitan dengan kriteria kawasan cagar budaya, pelestarian kawasan cagar budaya, dan tingkat partisipasi masyarakat. Sedangkan untuk mencapai tujuan penelitian, dilakukan empat tahapan analisa yaitu penentuan cluster kawasan cagar budaya di Bubutan, identifikasi kondisi tingkat partisipasi masyarakat di Bubutan, penentuan faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarakat, dan perumusan bentuk partisipasi masyarakat yang berkelanjutan untuk kawasan cagar budaya di Bubutan. Berdasarkan hasil penelitian, cluster kawasan cagar budaya di Bubutan ada tujuh kawasan yaitu Kampung Praban, Kampung Temanggungan, Kampung Alun-Alun Contong, Kampung Kawatan, Kampung Maspatih, Kampung Tambak Bayan dan Kepatihan, dan Kampung Kraton. Adapaun bentuk partisipasi yang diarahkan untuk ketujuh kampung tersebut berbeda-beda sesuai dengan kondisi eksisiting yang ada. Bentuk partisipasi masyarakat yang ada perlu dibentuk jaringan dalam masyarakat itu sendiri. Pemberdayaan masyarakat dapat dimulai dari RT / RW setempat, tokoh masyarakat, ataupun bekerjasama dengan pihak lain yang memiliki interest dalam bidang cagar budaya.

Pengembangan Kawasan Wisata Pesisir Talang Siring di Kabupaten Pamekasan

Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (396.88 KB)

Abstract

Kawasan wisata pesisir Talang Siring adalah salah satu potensi wisata yang dimiliki oleh Kabupaten Pamekasan yang terletak di Kecamatan Larangan. Berdasarkan. Potensi ini masih belum dimanfaatkan dan dikembangkan secara maksimal dan masih belum memiliki keterkaitan antar potensi wisata. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan memanfaatkan potensi wisata tersebut. Tahapan pada penelitian ini, yaitu mengidentifikasi potensi wisata, menganalisa keterkaitan antar potensi, faktor pendukung pengembangan wisata, kriteria pengembangan wisata dan konsep pengembangan wisata. Pada Jenis penelitian ini menggunakan pendekatan rasionalistik. Teknik analisa yang digunakan untuk mencapai tujuan dan sasaran antara lain sasaran pertama dengan menggunakan metode analisa deskriptif theoretical dan Analisa Scoring (Pembobotan dengan skala likert), sasaran kedua menggunakan analisis empirical analytic serta dilanjutkan analisa delphi bertujuan untuk menentukan konsensus group untuk faktor pendukung, pada sasaran keempat menggunakan analisis deskriptif theoritical dan sasaran kelima menggunakan analisis triangulasi untuk merumuskan konsep pengembangan. Penelitian ini menghasilkan tiga zona pengembangan, yaitu zona inti, pendukung dan konservasi. Dengan penanganan konsep pariwsata Bahari yang harus dilakukan antara lain meningkatkan daya tarik utama dengan penambahan jenis sajian atraksi wisata khususnya di zona inti wisata, mempertahankan kelestarian lingkungan dengan rehabilitasi kerusakan lingkungan, ketersediaan fasilitas pendukung dan penunjang khususnya di zona pendukung wisata serta menjalin linkage kawasan dengan obyek wisata lain yang dilakukan kerja sama antara masyarakat dengan wisatawan agar obyek wisata yang belum berkembang mendapatkan dampak dari wisata utamanya.

Zona Wisata Kawasan Wisata Alam Air Terjun Madakaripura, Kabupaten Probolinggo

Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (232.79 KB)

Abstract

Kabupaten Probolinggo memiliki keindahan wisata alam salah satunya berupa wisata air terjun. Wisata Alam Air Terjun Madakaripura termasuk dalam kawasan hutan lindung dan rawan bencana longsor sehingga pengembangannya membutuhkan pembagian zona wisata yang sesuai dengan karakteristik fisik kawasan wisata alam. Penelitian ini bertujuan menentukan zona wisata kawasan wisata alam Air Terjun Madakaripura, Kabupaten Probolinggo. Metode analisa yang digunakan dalam tahapannya adalah analisa Theoritical Deskriptif Kualitatif, teknik analisa Delphi dan analisa teknik Overlay. Hasil penelitian ini berupa zona wisata pada kawasan wisata alam Air Terjun Madakaripura, Kabupaten Probolinggo dengan melihat pada kondisi eksisting serta faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan kawasan wisata.

Pemintakatan Risiko Bencana Banjir Bandang di Kawasan Sepanjang Kali Sampean, Kabupaten Bondowoso

Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012): Jurnal Teknik ITS (ISSN 2301-9271)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (95.561 KB)

Abstract

Kabupaten Bondowoso merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Jawa Timur yang dilanda banjir bandang pada beberapa bagian wilayah beberapa tahun terakhir. Banjir yang terparah terjadi di kawasan sepanjang Kali Sampean, Kabupaten Bondowoso terjadi pada tahun 2008. Banyaknya korban dan kerugian materi yang didapat, menunjukkan bahwa kesiapan dan pengetahuan pemerintah dan masyarakat setempat terhadap banjir bandang tersebut masih kurang. Karena itu, diperlukan penelitian untuk merumuskan zona risiko banjir bandang di Wilayah kawasan sepanjang Kali Sampean, Kabupaten Bondowoso. Dalam mencapai tujuan penelitian, dilakukan: identifikasi karakteristik ancaman bahaya (hazard) menggunakan analisis weighted overlay dari variabel kecepatan aliran, material yang dihanyutkan, dampak yang ditimbulkan, ketinggian dan lama genangan; Menganalisa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kerentanan (vulnerability) menggunakan analisa deskriptif untuk mendapatkan faktor-faktor kerentanan yang berpengaruh terhadap banjir bandang kemudian faktor tersebut di perkuat menggunakan analisa delphi, dari hasil delphi ini kemudian di hitung bobot dari setiap faktor dengan analisa AHP expert; menentukan zona kerentanan menggunakan analisis overlay weighted sum pada faktor-faktor kerentanan; dan merumuskan zona risiko bencana banjir bandang menggunakan metode Raster Calculator dengan memperhatikan fungsi risiko yang dipengaruhi oleh ancaman bahaya dan kerentanan. Kemudian didapat peta risiko bencana banjir bandang yang diklasifikasi ke dalam 5 kelas/hirarki berdasarkan dengan pedoman penanggulangan bencana. Dari penelitian ini didapatkan proporsi zona yang berpotensi menimbulkan risiko bencana banjir bandang dengan katagori zona sangat berisiko dengan luas 31,22 km2, dengan proporasi luas 5,51% dari total kawasan penelitian. Sedangkan zona berisiko pada kawasan penelitian memiliki luas sebesar 8,74 km2 dengan proporsi 8,74% dari total luas kawasan penelitian dan zona cukup berisiko pada kawasan penelitian memiliki luas 118,9 km2 dengan proporsi 21% dari total luas kawasan penelitian dan distribusi spasial zona sangat berisiko bencana banjir bandang di kawasan sepanjang Kali Sampean, Kabupaten Bondowoso berada di daerah hilir, Kecamatan yang memiliki tingkat luasan bahaya bencana banjir bandang tertinggi terdapat di Kecamatan Prajekan.

Mitigasi Bencana Banjir Rob di Jakarta Utara

Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (366.688 KB)

Abstract

Fenomena bencana banjir rob beserta dampak negative yang telah ditimbulkan di Jakarta Utara mengindikasikan kurangnya kewaspadaan dan kesiapan dalam menghadapi ancaman bahaya banjir. Kawasan pesisir Jakarta Utara berada pada ketinggian 0-3 m diatas permukaan air laut, banjir , banjir rob di Jakarta Utara memiliki ketinggian sampai 100 cm oleh karena itu perlu merumuskan tingkat risiko banjir rob sebagai upaya untuk mengurangi dampak yang akan terjadi serta memposisikan masyarakat dan daerah yang bersangkutan pada tingkatan risiko yang berbeda. Dalam mencapai tujuan penelitian,dilakukan: Mengidentifikasi faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kerentanan (vulnerability) menggunakan analisa deskriptif untuk mendapatkan faktor-faktor kerentanan yang berpengaruh terhadap banjir rob kemudian faktor tersebut di perkuat menggunakan analisa delphi, dari hasil delphi ini di hitung bobot dari setiap faktor dengan analisa AHP expert; identifikasi karakteristik ancaman bahaya (hazard) menggunakan analisis weighted overlay dari variabel ketinggian dan durasi genangan dan kapasitas menggunakan analisa delphi, selanjutnya memberikan bobot faktor-faktor yang diperoleh dari sasaran sebelum menggunakan analisa AHP menentukan zona kerentanan dan kapasitas menggunakan Analisis overlay weighted sum pada faktor-faktor kerentanan dan kapasitas; dan merumuskan zona risiko bencana banjir rob menggunakan metode Raster Calculator dengan memperhatikan fungsi risiko yang dipengaruhi oleh ancaman bahaya dan kerentanan. Kemudian didapat peta risiko bencana banjir rob yang diklasifikasi ke dalam 5 kelas/hirarki berdasarkan dengan pedoman penanggulangan bencana. Dari penelitian ini didapatkan luas wilayah yang berada pada tingkat resiko banjir rob sangat tinggi sampai dengan kurang berisiko dan kecamatan yang paling beresiko adalah Kecamatan Cilincing, Kecamatan Koja dan Kecamatan Tanjung Priok.

Pengelolaan Sampah Perumahan Kawasan Pedesaan Berdasarkan Karakteristik Timbulan Sampah di Kabupaten Gresik

Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (715.552 KB)

Abstract

Permasalahan sampah yang terjadi di kawasan pedesaan Kabupaten Gresik adalah karakteristik kawasan pedesaan yang mengelolah sampahnya mengubur, membakar dan membuangnya kesaluran air/lahan kosong sehingga menimbulkan dampak negatif.  Dampah negatif yang ditimbulkan adalah pembakaran yang menyebabkan polusi, penanaman sampah yang dapat merusak sumber air tanah dan pembuangan sampah kesaluran air (Got, sungai, dll) dapat meningkatkan potensi bencana. Penelitian ini terbagi empat tahapan analisa yakni, Menganalisa tipe-tipe kawasan berdasarkan karakteristik timbulan sampah di kawasan pedesaan di Kabupaten Gresik dengan analisis data kuartil, mengindentifikasi cara masyarakat dalam  mengelola sampah di masing-masing tipe kawasan dengan analisa deskriptif, Menganalisa pengelolaan sampah perumahan pedesaan di masing-masing tipe kawasan dengan analisa deskriptif, dan menyusun arahan pengelolaan sampah perumahan di kawasan pedesaan di perbatasan Gresik-Surabaya untuk megatasi permasalahan sampah yang ada dengan analisa triangulasi. Menurut hasil analisa dari 47 Desa yang ada diwilayah penelitian, didapatkan 8 desa berada di Kawasan Tipe 1 dan 10 Desa berada di Kawasan Tipe 2 serta 29 Desa pada Kawasan Tipe 3. Cara pengelolaan masing-masing Kawasan Tipe adalah dengan pola komunal di Kawasan Tipe 1 dan individual di Kawasan Tipe 2 dan 3. Hasil arahan dalam penelitian adalah pengelolaan dititik beratkan pada pengolahan sampah di sumber sampah dengan mengikutsertakan masyarakat. Pada Kawasan Tipe 1 dilakukan secara komunal dengan pengomposan dan daur ulang kemudian pengelolaan pada kawasan tipe 2 dilakukan dengan cara pengelolaan di sumbernya dengan menjual hasil sisa pertanian atau membakar sampah sisa hasil pertanian, sedangkan pada Kawasan Tipe 3 dilakukan pengomposan secara individual dan daur ulang secara komunal di TPS.

Arahan Pengembangan Kawasan Cagar Budaya Singosari Malang Sebagai Heritage Tourism

Jurnal Teknik ITS Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (969.969 KB)

Abstract

Permasalahan di kawasan cagar budaya Singosari yaitu kurangnya peran serta stakeholder dan keterpaduan perencanaan dalam mengembangkan obyek pariwisata. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan arahan pengembangan kawasan cagar budaya Singosari Malang sebagai Heritage Tourism. Tahapan dalam penelitian ini meliputi mengetahui potensi dengan menggunakan analisa teoritical descriptif dan skoring, mengetahui kendala dengan menggunakan analisa teoritical descriptif dan skoring. Selanjutnya dilakukan penentuan faktor yang berpengaruh dengan menggunakan teknik analisa deskriptif dan analisa Delphi. Kemudian dalam perumusan arahan pengembangan kawasan cagar budaya di Singosari Malang menggunakan teknik content analysis. Arahan untuk pengembangan kawasan cagar budaya Singosari sebagai heritage tourism terdiri dari arahan mikro spasial-non spasial dan arahan makro spasial-non spasial yang dibagi menjadi 3 zona pengembangan secara spasial di kawasan cagar budaya Singosari yaitu zona inti, zona pendukung langsung dan zona pendukung tidak langsung. Zona inti merupakan tempat adanya bangunan cagar budaya sebagai daya tarik wisata, zona pendukung langsung berkaitan dengan arahan mikro spasial-non spasial yaitu penataan bangunan cagar budaya yang kondisinya sebagai ikon kawasan dan kesejarahan yang terkandung didalamnya, fasilitas akomodasi serta fasilitas pendukung pengembangan. Kemudian zona pendukung tidak langsung berkaitan dengan arahan makro spasial-non spasial yaitu partisipasi masyarakat, atraksi wisata, pemasaran, aksesibilitas, implementasi kebijakan, pengembangan antar obyek wisata, kerjasama sektor swasta serta pendanaan di kawasan wisata cagar budaya.