Articles

Found 8 Documents
Search
Journal : Majalah Geografi Indonesia

Estimasi Debit Limpasan Menggunakan Metode Natural Resources Conservation Soil (NRCS) untuk Optimalisasi Tutupan Lahan di DAS Serang Daerah Istimewa Yogyakarta Lestari, Iwuk Sri; Gunawan, Totok; Suprayogi, Slamet
Majalah Geografi Indonesia Vol 30, No 2 (2016): September 2016
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ada banyak faktor yang menyebabkan kondisi DAS menjadi kritis. Perubahan tutupan lahan menjadi salah satu pemicu awal terjadinya kondisi kritis tersebut. Terlebih dengan makin bertambahnya jumlah penduduk, menyebabkan pemanfaatan sumber daya alam makin meningkat. Perubahan tutupan lahan pun akan makin banyak terjadi. Perubahan tutupan lahan yang intensif ke arah tutupan lahan yang tidak bervegetasi menyebabkan limpasan (overlandflow) meningkat. Pada pengelolaan DAS, limpasan (overlandflow) ini penting untuk diperhatikan, karena merupakan komponen penting penyumbang air ke saluran yang menggambarkan dampak perubahan tutupan lahan yag terjadi. Dengan diketahui perubahan tutupan lahan dan limpasan yang dihasilkan, maka dapat disusun suatu skenario tutupan lahan agar limpasan yang dihasilkan terkendali. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mempelajari sebaran nilai CN-lereng di DAS Serang; 2) Mengkaji besarnya limpasan yang dihasilkan dengan menggunakan nilai CN dan CN-lereng; 3) Menyusun skenario optimalisasi tutupan lahan untuk mengendalikan besarnya limpasan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Natural Resources Conservation Soil (NRCS) dengan penyesuaian (memasukkan) lereng. Penyesuaian lereng digunakan untuk mengetahui pengaruh lereng pada nilai CN. Hasil penyesuaian lereng pada nilai CN disebut CN-lereng. CN-lereng ini kemudian digunakan untuk mengestimasi tebal limpasan dan digunakan untuk menyusun skenario tutupan lahan. Estimasi limpasan di DAS Serang menggunakan data hujan harian. Peta Tanah, Peta Tutupan Lahan, dan Peta Lereng dibuat menggunakan Sistem Informasi Geografi (SIG). Hasil penelitian menunjukkan 1) Nilai CN-lereng lebih tinggi dari nilai CN; 2) Limpasan dengan menggunakan nilai CN-lereng lebih tinggi dibanding dengan nilai CN. Ini membuktikan bahwa lereng berpengaruh pada limpasan yang dihasilkan; 3) Limpasan dapat dikendalikan dengan skenario tutupan lahan yang telah disusun dengan mengubah cara pengolahan lahan dan tutupan lahannya
Pengaruh Kerapatan Vegetasi Penutup Lahan terhadap Karakteristik Resesi Hidrograf pada Beberapa Subdas di Propinsi Jawa Tengah Dan Propinsi DIY Latuamury, Bokiraiya; Gunawan, Totok; Suprayogi, Slamet
Majalah Geografi Indonesia Vol 26, No 2 (2012): September 2012
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (735.591 KB)

Abstract

ABSTRAK?Penelitian ini dilakukan di Propinsi Jawa Tengah dan Propinsi DIY, dilatarbelakangi oleh penurunan daya dukung lingkungan seperti rusaknya kawasan hutan dan berkurangnya luas tutupan lahan hutan, yang dapat mempengaruhi perilaku aliran air. Dengan adanya perubahan tutupan lahan akan berdampak pada berubahnya sifat-sifat hidrologi seperti koefisien aliran, debit dan karakteristik hidrograf aliran. Indikator kerusakan hutan dapat dilihat dari karakteristik hidrograf. Evaluasi respon DAS berupa hidrograf aliran akibat adanya perubahan penutup lahan menjadi sangat penting untuk dianalisis karena merupakan tolok ukur dalam setiap penentuan kebijakan terkait dengan penanganan banjir dan tanah longsor. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk (1). mengkaji karakteristik kerapatan vegetasi penutup lahan dan keterkaitannya dalam ekosistem DAS, (2). mengkaji karakteristik aliran dasar (koefisien resesi)? pada beberapa sub-DAS tersebut, dan (3). menganalisis pengaruh kerapatan vegetasi penutup lahan terhadap karakteristik hidrograf aliran khususnya aliran dasar pada sub DAS yang diteliti. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei data sekunder pada rekaman data AWLR/SPAS untuk analisis resesi hidrograf dan koefisien resesi (Krb), dan interpretasi citra Landsat ETM+ untuk transformasi indeks vegetasi NDVI dikorelasikasi dengan data kerapatan vegetasi untuk mempresentasikan karakteristik kerapatan vegetasi. Selanjutnya hasil transformasi indeks vegetasi NDVI kemudian diujikorelasikan dengan karakteristik resesi (koefisien resesi) untuk menganalisis pengaruh kerapatan vegetasi penutup lahan terhadap karakteristik resesi hidrograf. Hasil uji statistik NDVI dengan koefisien resesi menunjukkan terdapatnya korelasi antara nilai NDVI dan koefisien resesi pada R2 = 0,1427, F = 2.17 tidak berpengaruh nyata pada taraf signifikan 1% sebesar 0.1646 (lampiran 1.2b). Analisis korelasi antara variabel independen (NDVI penutup lahan) dengan variabel dependen (koefisien resesi) memiliki korelasi sangat lemah sebesar 0,077. Hasil ini menunjukkan bahwa parameter kerapatan vegetasi NDVI sangat lemah untuk mengontrol keberadaan aliran-aliran rendah. Karena besarnya simpanan (storage) airtanah tergantung pada besarnya air yang mencapai akuifer. Setelah sumbangan air pada akuifer terhenti, maka air yang tertampung di akuifer akan mengalami pengatusan yang besarnya tergantung kondisi akuifer tersebut. Gerakan air pada akuifer disebabkan oleh gaya gravitasi, kecepatan dan jumlahnya terutama dipengaruhi oleh karakteristik batuan. Karakteristik batuan mempengaruhi pergerakan airtanah, diketahui dari daya hantar hidrolik batuan tersebut.??ABSTRACT?This research was conducted in Central Java and DIY province, as a respond to the decrease of environment capacity such as forest destruction and widespread loss of forest land cover which affect water flow behavior. Land cover change will affect the hydrological properties such as coefficient, rate, and hydrograph characteristics of flow. The indicators of forest destruction can be seen through hydrograph characteristics. Flow hydrographic as an evaluation of river catchment responses to land cover change becomes very important to analyze because it is a benchmark in determination any policy about flood and landslide handling. Therefore, the aims of this study are: (1) to examine the characteristic of land cover vegetation density and its association in river catchment ecosystem, (2) to examine base flow characteristics (coefficient of recession) at these river catchments, and (3) to analyze the influence of land cover vegetation density on flow?s hydrograph characteristic, especially base flow at river catchments. The method used in this research is secondary data survey on AWLR/SPAS data record in order to analyze hydrograph recession and coefficient of recession (Krb), and to interpret ETM Landsat image for NDVI vegetation index transformation for the characteristic of vegetation density. The results of NDVI vegetation index transformation then tested it?s correlated with recession characteristics (coefficient of recession) to analyze the influence of land cover vegetation density on hydrograph recession characteristic. The results showed there is an average value of vegetation density (NDVI) for the river catchments and most of it has mediocre vegetation density level with the percentage of land cover vegetation less more than 30%. Most of base flow recession characteristic (coefficient of recession) lay on relatively high range, i.e. 0.661 to 0.980. Correlation analysis between independent variable (land cover NDVI) with dependent variable (coefficient of recession) is very weak, only 0.077. This result shows that the parameter of NDVI vegetation density can be combined with aquifer formation to control the existence of lower flow. Because the magnitude of soil water storage is depend on water volume that reach the aquifer, the arrangement of optimal hydrogeology condition along dry season (no rain season) depend on geological aquifer condition.?
Kajian Kualitas Air Sungai Bedog Akibat Pembuangan Limbah Cair Sentra Industri Batik Desa Wijirejo Indarsih, Widayati; Suprayogi, Slamet; Widiyastuti, Margaretha
Majalah Geografi Indonesia Vol 25, No 1 (2011): Maret 2011
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Sungai Bedog yang mengalir di Desa Wijirejo, Pandak, Bantul,? diindikasikan telah tercemar oleh berbagai jenis limbah, termasuk limbah cair industri batik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui : kualitas limbah cair batik; kualitas air Sungai Bedog ditinjau dari aspek fisik (suhu, TDS, TSS), kimia (pH, COD, BOD, Cu, Cr+6) dan biologi (plankton); tingkat peran serta stakeholder; dan menyusun strategi pengelolaan limbah cair batik agar tidak mencemari lingkungan.Penelitian ini menggunakan metode survei, pengumpulan data dilakukan dengan metode purposive sampling.? Contoh air diambil langsung dari air limbah batik dan air Sungai Bedog dengan 6 stasiun pengamatan, dari daerah hulu ke hilir. S1 merupakan lokasi yang belum tercampur limbah batik berada di sekitar Jembatan Pedak; S2 (+ 350 m dari S1), S3 (+ 750 m dari S2, di sekitar Jembatan Pijenan), S4 (+ 400 m dari S3) dan S5? (+ 250 m dari S4) merupakan lokasi yang telah tercampur limbah cair batik; serta S6 (+ 400 m dari S5) sebagai lokasi yang sudah tidak menerima masukan limbah batik. Data fisik, kimia dan biologi diukur langsung di lapangan dan laboratorium. Pengumpulan data peran serta stakeholder dilaksanakan dengan wawancara menggunakan kuesioner. Analisis hasil yang digunakan adalah deskriptif kualitatif.Hasil penelitian menunjukan bahwa kualitas limbah cair batik melampaui baku mutu. Air Sungai Bedog pada lokasi S4 telah tercemar, ditunjukkan dengan nilai rata-rata COD 28 mg/L (baku mutu 25 mg/L) dan BOD 4,8 mg/L (baku mutu 3 mg/L). S4 merupakan lokasi dengan persebaran industri batik paling rapat. Bahan-bahan organik dan anorganik dalam limbah cair batik telah meningkatkan COD dan BOD air Sungai Bedog. Berdasarkan indeks diversitas plankton, air Sungai Bedog telah tercemar pada lokasi S2, S3, S4 dan S5, sedangkan lokasi S1 dan S6 masih dalam kategori tidak tercemar. Limbah cair batik secara akumulatif dapat mempengaruhi sifat fisik dan kimia ekosistem sungai, sehingga akan menurunkan indeks diversitas plankton yang hidup di dalamnya. Tingkat peran serta 7 stakeholder pemerintah daerah setempat mayoritas (57,14%) dalam kategori sedang. Arahan strategi pengelolaan lingkungan dilakukan dengan : peningkatan peran serta pengrajin batik secara individu (penerapan produksi bersih dan minimalisasi limbah) dan kolektif (pembangunan cluster IPAL); peningkatan peran serta stakeholder; serta pemilihan teknologi IPAL yang tepat.?ABSTRACT Bedog River that flows along Wijirejo Village, Pandak, in Bantul has been indicated to be polluted by varieties of liquid waste including batik industry. The objectives of this research are : to determine the quality of batik liquid waste; the quality of Bedog River water from physical aspects (temperature, TDS, TSS); chemical aspects (pH, COD, BOD, Cu, Cr+6); and biological aspect (plankton); to measure participation of stakeholder and also to develop a management strategy to manage batik liquid waste so that it does not pollute the environment.This research use survey method, data collected by purposive sampling. Water sample is directly taken from batik liquid waste and from the Bedog River with six observation station : S1 is the location before the waste disposal point, located around Pedak Bridge; S2 (+ 350 m next to S1),? S3 (+ 750 m next to S2, located at Pijenan Bridge), S4 (+ 400 m next to S3) and S5 (+ 250 m next to S4) is location that has been polluted by batik liquid waste, and S6 (+ 400 m next to S5) is an area that is no longer able to contain more additonal batik waste. Chemical, physical and biological data is carried on in direct measurement in the field and at laboratory. Participation data of stakeholder data is carried on interview method using questionare . Result analysis used in this research is qualitative descriptive.The result of this research shows that the quality of batik liquid waste has surpassed from the quality standard. The water quality at location S4 has been polluted shown by the COD point 28 mg/L (quality standard 25 mg/L) and BOD point 4,8 mg/L (quality standard 3 mg/L). S4 is the location of which has highest density of batik industry. Both organic and inorganic materials inside batik liquid waste have increased COD and BOD of Bedog River. According to the plankton diversity index, the water of Bedog River has been polluted at S2, S3, S4 and S5 locations. S1 and S6 locations are not classified into the polluted area. Batik liquid waste gives accumulatively effects to chemical and physical river ecosystem character, thus it decreases plankton diversity index which live in it. The grade of local government stakeholder participation generally (57,14%) at middle category. The environment management strategy can be done by : improving participation of batik crafter both? individually (by applying clean production and minimalizing waste) and collectively (by building IPAL in cluster); improving participation of stakeholder; and choosing properly? technology of waste water treatment (IPAL).
ESTIMASI EVAPOTRANSPIRASI POTENSIAL MENGGUNAKAN JARINGAN SYARAF TIRUAN Suprayogi, Slamet; Setiawan, Budi Indra; Suroso, Suroso Suroso
Majalah Geografi Indonesia Vol 18, No 1 (2004): Maret 2004
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.549 KB)

Abstract

ABSTRAK?Berbagai model evapotranspirasi potensial (ETp) telah dikembangkan, mulai dart model-model yang sederhana sampai dengan model-model yang kompleks membutuhkan konversi-konversi dan perhitungan rumit. Model ETp Penman termasuk model yang kompleks membutuhkan parameter-parameter iklim yang cukup banyalcyaitu: suhu udara, kelembaban relatif(relative humidity), kecepatan angin, tekanan uap jenuh (saturation vapor pressure), dan radiasi netto. Proses perhitungannya membutuhkan waktu relatif lama, karena harus melakukan konversi-konversi. Perhitungan ETp dapat dilalcukan secara efisien yalan proses perhitungan cukup singkat dan hasilnya secara basil perhitungan model Penman yaitu dengan model Jaringan SyarafTiruan (Artificial Neural Network), model tersebut merupakan penjabaran fungsi otak manusia (human brain) dalam bentukfungsi matematik yang menjalankan proses perhitungan secara paralel.Tujuan penelitian ini adalah mengestimasi ETp menggunakan model Jaringan Syaraf Tiruan (JST) dengan penjalaran balik (backpropagation). Data yang digunakan adalah data parameter iklim stasiun Serang tahun 1999 sid tahun 2001. Parameter iklim yang digunakan analisis adalah suhu udara, kecepatan angin, kelembaban relatif (RH), dan lama penyinaran matahari. Proses pembelajaran model Jaringan syaraf tiruan penjalaran balik menggunakan input parameter iklim dan output ETp basil perhitungan model Penman. Data training dan test adalah ETp model Penman, parameter iklim tahun 1999, dan ETp, parameter iklim tahun 2000. Verifikasi digunakan ETp, parameter iklim tahun 2001, dengan indikator kesalahn Root Mean Squared Enos (RMSE) digunakan pula koefisien determinasi (R2).Hasil training dan test data menggunakan model jaringan syaraf tiruan penjalaran balik (backpropagation) menunjukkan bahwa data tahun 1999 dan 2000 merupakan data yang representatif dengan.nilai RMSE adalah 0,00056 dan R2 adalah 0,98, sehingga data tersebut dapat mewaldli data parameter iklim stasiun Serang. Verifilcasi dilakukan dengan cara membandingkan ETp harian tahun 2001 basil perhitungan model jaringan syaraf tiruan dengan ETp harian tahun 2001 basil perhitungan model Penman. Nilai RMSE ETp harian tahun 2001 model Jaringan syaraf tiruan dengan model Penman adalah 0,3262, sedangkan koefisien determinasi (R2) adalah 0,88. Nilai tersebut menunjukkan ETp model jaringan syaraf tiruan penjalaran balik (backpropagation) mempunyai nilai yang secara dengan ETp model Penman. Dengan demikian nilaipembobot (weight) basil pembelajaran model JST dapat digunakan untuk mengestimasi ETp stasiun Serang pada tahun-tahun berilannya maupun tahun-tahun yang lalu.
APLIKASI MODEL ARTIFICIAL NEURAL NETWORK SEBAGAI EXTENSION ARC VIEW-GIS UNTUK PENILAIAN KESESUAIAN LAHAN PERKEBUNAN KAKAO DI DIY. Hermantoro, Hermantoro; Suprayogi, Slamet; Rudiyanto, Rudiyanto
Majalah Geografi Indonesia Vol 22, No 1 (2008): Maret 2008
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.069 KB)

Abstract

Evaluasi kesesuaian lahan untuk tujuan tertentu di sektor perkebunan menjadi?sangat penting karena meningkatnya persaingan dalam penggunaan lahan dan?pengembangan sektor perkebunan . Evaluasi lahan menghasilkan informasi tentang nilai?ekonomi dari penggunaan lahan tertentu . Tujuan dari penelitian ini adalah untuk?mengembangkan metode Evaluasi Kesesuaian Lahan kakao estate dengan menggunakan?model terintegrasi Artificial Neural Network (ANN) dan Sistem Informasi Geografis (GIS). Propagasi Kembali Model ANN yang digunakan untuk memprediksi dasar hasil kakao?pada kualitas lahan parameter . Hasilnya menunjukkan bahwa model yang terbaik ANN?untuk memprediksi hasil kakao memiliki 15 lapisan input, 15 lapisan tersembunyi , dan 1?output layer . dengan koefisien determinasi ( r2 ) dari 0,99 dan Kesalahan Root Mean?Square ( RMSE ) dari 93,83 dalam proses pelatihan , jika dalam pengujian menemukan r2?sebesar 0,76 dan RMSE dari 113,83 . Dalam tahap verifikasi model terintegrasi dari ANN?dan GIS digunakan untuk mengevaluasi kesesuaian lahan Jogjakarta Daerah Istimewa?untuk pengembangan real kakao . Hasilnya melihat bahwa Jogjakarta Daerah Istimewa?memiliki lahan sesuai marginal ( S2 ) kakao dari 38,911.102 Ha , Cocok ( S2 ) dari?110.367.050 Ha , dan sangat cocok ( S3 ) dari 20,577.179Ha.
Kajian Kualitas Air Sungai Code Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta shoolikhah, Imroatush; Purnama, Setyawan; Suprayogi, Slamet
Majalah Geografi Indonesia Vol 28, No 1 (2014): Maret 2014
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Status pencemaran dan beban daya tampung Sungai Code yang besar menunjukkan besarnya bahan pencemar yang masuk ke sungai, selain itu Sungai Code juga merupakan salah satu sungai yang terkena dampak aliran lahar din-gin Erupsi Gunungapi Merapi tahun 2010. Erupsi meningkatkan input sedimen dan debit air Sungai Code, serta men-gubah substrat dasar perairan. Tujuan penelitian ini : (1) Menganalisis kualitas air Sungai Code secara fisik dan kimia; (2). Membandingkan kualitas air Sungai Code pasca erupsi Merapi 2010 berdasarkan paramater pH, sulfida, dan besi total, dengan kondisi sebelum erupsi; (3). Menganalisis kondisi makrozoobentos pasca erupsi Gunungapi Merapi 2010, serta menganalisis pengaruh kualitas air sungai terhadap makrozoobentos; dan (4). Menganalisis kerugian ekonomi dan mengetahui persepsi terhadap sungai dari sebagian masyarakat yang memanfaatkan air sungai untuk irigasi pertanian dan perikanan keramba.Pengumpulan data dengan metode survei. Lokasi pengambilan sampel ditentukan secara pur-posive sampling yang mewakili kawasan bagian tengah Sungai Code (sebelum kota dan tengah kota), dan bagian hilir Sungai Code kawasan (setelah kota), meliputi setengah panjang Sungai Code. Sampel air dianalisis secara fisika kimia di Laboratorium. Sampel makrozoobentos diidentifikasi kemudian dianalisis dengan pendekatan kemelimpahan, dom-inansi, dan keragaman, serta regresi. Hasil wawancara untuk menilai persepsi masyarakat dan kerugian ekonomi akibat banjir lahar dingin dianalisis dengan crosstab. Hasil penelitian menunjukkan bahwa parameter DO, BOD, COD, dan ni-trat, tidak memenuhi baku mutu air kelas I di beberapa lokasi. Adapun kekeruhan, fosfat, dan sulfida, hampir di seluruh lokasi tidak memenuhi baku mutu. Menurunnya kualitas DO, BOD, COD, nitrat, dan fosfat disebabkan oleh limbah yang masuk ke sungai, sedangkan menurunnya kualitas sulfida dan kekeruhan, selain dari limbah juga disebabkan oleh erupsi Merapi. Makrozoobentos yang ditemukan di Sungai Code ada 5 genus yaitu Chironomous, Simulium, Ephemer-optera, Lymnaea, dan Tubifex. Suhu, kecepatan arus dan DO berpengaruh pada menurunnya keragaman dan dominansi bentos. Status Sungai Code pasca erupsi tercemar ringan berdasarkan indeks keragaman bentos = 1,69. Pendapatan masyarakat dari sawah dan perikanan keramba sungai pasca banjir lahar dingin menurun antara Rp.500.000,00-Rp. 2.000.000,00/ responden/ panen.?ABSTRACT Pollution status and load capacity of Code River which great shows total of pollutants entering the river, beside of the Code River also one of the affected rivers of lava Merapi Volcano Eruption at 2010. Eruption increase input of sediment and water discharge Code River and change the base substrate waters. The aim of this study: (1) Analyze the Code River water quality of physical and chemical; (2) Compare the Code River water quality after the eruption of Merapi in 2010 based on the parameters pH, sulfide, and total iron, with condition before the eruption; (3) Analyze the conditions of macrozoobenthos after eruption of Merapi Volcano in 2010, and to analyze the effect of water quality on macrozoobenthos; and; (4) Analyze the economic loss and know? perception of most people on the river water for agriculture irrigation and fishpond. Location of sampling is determined by purposive sampling to represent the central part of the Code River (before town and downtown), and the lower of the Code River (after city), include a half the length of the Code River. The water sampling were analyzed in the laboratory to examine quality water of chemical and physics. Macrozoobenthos sampling were identified and analyzed with the approach of abundance, dominant, and diversity, and regression. Results of interview to assess public perceptions and economic loss due to lava flood were analyzed by crosstab. The results show parameters of DO, BOD, COD, and nitrat. Results of interview to assess public perceptions and economic loss due to lava flood were analyzed by crosstab. The results show parameters of DO, BOD, COD, and nitrat, not comply with water quality standard of class I in some locations. Also, turbidity, phosphates and sulfides, nearly all locations not comply quality standards. Decrease of quality of DO, BOD, COD, nitrates, and phosphates were caused by waste into the river, while the declining quality of sulphide and turbidity, besides from waste also caused by eruption of Merapi. Macrozoobenthos were found in the River Code as genus as Chironomous, Simulium, Ephemer-optera, Lymnaea, and Tubifex. Temperature, current speed and DO effect on decreasing the diversity and dominance benthos. Status of Code River after eruption has polluted with the diversity index of benthic = 1.69. Income of farmer and fisherman of river after lava flood has descreasing between in IDR 500.000,00 until IDR 2,000,000.00 / respondent / harvest.
Penurunan Budidaya Tanaman Mendong (Heleocharis Chaetaris Boeck.L) sebagai Bahan Baku Kerajinan Tangan di Padukuhan Parakan Kulon dan Plembon Desa Sendangsari, Kecamatan Minggir, Kabupaten Sleman, Yogyakarta Marbun, Julianti; Sudarmadji, Sudarmadji; Suprayogi, Slamet
Majalah Geografi Indonesia Vol 30, No 1 (2016): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berkembangnya desa dimulai dari prinsip-prinsip kearifan lokal yang ada. Salah satu contoh di Desa Sendangsari, Kecamatan Minggir, Kabupaten Sleman dalam pemanfaatan dan pengolahan tanaman mendong. Tanaman mendong yang telah dibudidayakan, di Padukuhan Parakan Kulon, dan Padukuhan Plembon mengalami penurunan, berkurangnya tanaman mendong yang dijadikan bahan baku Handicraft berdampak kepada keberlanjutan dari petani dan pengrajin mending. Penelitian ini menggunakan metode survei, dengan pendekatan analisis spasial dan temporal. Pengambilan sampel tanah dilakukan pada lahan budidaya mendong, untuk mengetahui kesesuaian syarat tumbuh tanaman mendong dan dianalisis dengan menggunakan Weight Factor Matching. Responden yang diambil untuk mendapatkan informasi dilakukan dengan pendekatan Indepth Interview. Pendekatan analisis spasial dan temporal dalam mengevaluasi penurunan budidaya mendong pada tahun 2009 dan 2014 dilakukan, untuk mendapatkan faktor dominan dalam penurunan budidaya mending. Hasil penelitian ini menunjukkan: (1) Kesesuaian syarat tumbuh tanaman mendong di Padukuhan Parakan Kulon, dan Padukuhan Plembon, Desa Sendangsari dalam Weight Factor Matching termasuk cukup sesuai (S2) dengan persentase 64,37 %. Sebagian lahan budidaya mendong yang ada tergolong dalam kategori sesuai marginal (S3), dan kategori tidak sesuai (N) yang dipengaruhi oleh faktor pembatas kadar air yang kurang di dalam tanah untuk syarat tumbuh mendong. (2) Faktor penurunan tanaman mendong terletak pada biaya produksi yang tinggi tidak sebanding dengan nilai penjualan dari kerajinan anyaman mendong, anyaman mendong yang mudah terserang jamur, dan aspek pemasaran yang terbatas menjadi faktor kendala dalam pembudidayaan mendong berkelanjutan. (3) Distribusi budidaya tanaman mendong terhadap luasan sebaran tanaman mendong mengalami penurunan.? Pada tahun 2009 lahan budidaya tanaman mendong sebesar 4o Ha, mengalami penurunan pada tahun 2014 dengan luas lahan budidaya 9 Ha. Tingkat pemasaran yang menurun memerlukan pendekatan strategi pemasaran dalam pengembangan wilayah perdesaan
Kajian Kualitas Airtanah Bebas antara Sungai Kuning dan Sungai Tepus di Kecamatan Ngemplak, Yogyakata, Indonesia Sutardi, Aris; Suprayogi, Slamet; Adji, Tjahyo Nugroho
Majalah Geografi Indonesia Vol 31, No 1 (2017): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (373.069 KB)

Abstract

Pertumbuhan penduduk di Kabupaten Sleman telah menempatkan banyak tekanan pada sumber daya air. Perkembangan ini berkembang pesat ke daerah pedesaan termasuk Ngaglik, Ngemplak dan Kalasan Kecamatan. Oleh karena itu, studi tentang kualitas air di daerah ini penting. Daerah antara Sungai Kuning dan Sungai ?Tepus merupakan daerah yang ideal untuk melakukan penelitian ini saerah ini meliputi 3 kecamatan yaitu: Ngaglik, Ngemplak dan Kalasan. Dalam penelitian ini, parameter untuk menilai kualitas air terbatas pada 4 parameter: Nitrat, Nitrit, Amoniak dan Fosfat. Penelitian ini dilakukan pada tahun 2015, pengambilan sampel purposive dipilih untuk mengumpulkan besar sampel air tanah. Penggunaan lahan dan kegiatan lain yang dianggap dapat menyebabkan polusi air seperti pertanian, catel, dan limbah domestik. Sampel dianalisis di laboratorium untuk menentukan konsentrasi Nitrat, Nitrit, amoniak dan fosfat. Secara total, 23 sampel dikumpulkan. Selama kerja lapangan, tabel air diukur untuk menghasilkan peta flownet. Peta flownet ini akan digunakan untuk menganalisis potensi pencemaran air tanah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Nitrat, Nitrit, amoniak, dan fosfat yang bervariasi. Kontaminasi Nitrat dan Nitrit dalam air tanah masih di bawah standar sebesar 10 mg / L untuk Nitrat dan 0,06 mg / L untuk Nitrit sementara amoniak dan fosfat berada di atas standar sebesar 0,02 mg / L untuk amoniak dan 0,2 mg / L untuk fosfat. Tingginya jumlah amoniak ini disebabkan oleh kegiatan peternakan ayam sementara fosfat disebabkan oleh penggunaan pemupukan fosfat di daerah pertanian padi. Distribusi kualitas air tanah di daerah itu bervariasi berdasarkan penggunaan lahan, kegiatan orang dan aliran air tanah. Air tanah potensial pencemaran dilakukan berdasarkan aliran air tanah. Hasilnya menunjukkan bahwa daerah atas (utara) memiliki konsentrasi yang lebih rendah dari Nitrat, Nitrit, amoniak dan fosfat. Daerah pertengahan, di mana sebagian besar peternakan ayam dan pertanian berada, telah menjadi sumber pencemaran air.?Population growth in Sleman regency have put a lot of pressure on water resources. This development is growing rapidly into the rural area including Ngaglik, Ngemplak and Kalasan Sub-district. Therefore, study about water quality in these area is important. The area between Kuning River and Tepus River is an ideal area to conduct this research since its cover 3 sub-districts: Ngaglik, Ngemplak and Kalasan. In this research, the parameter to assess water quality is limited to 4 parameters: Nitrate, Nitrite, Ammoniac and Phosphate. The study was conducted in 2015. Purposive sampling was selected to collect the groundwater sampels. Landuse and other people activities that can contribute to water pollution such as farming, catel, and domestic waste were considered. The samples were analysed in laboratory to define the concentration of Nitrate, Nitrite, ammoniac and phosphate. In total, 23 samples were collected. During fieldwork, the water table were measured to generate the flownet map. This flownet map will be used to analyse the groundwater pollution potential. The result of this research shows that the Nitrate, Nitrite, ammoniac, and phosphate were varies. The contamination of Nitrate and Nitrite in the groundwater is still below standard by 10 mg/L for Nitrate and 0,06 mg/L for Nitrite while ammoniac and phosphate were above standard by 0,02 mg/L for ammoniac and 0,2 mg/L for phosphate. These high number of ammoniac were caused by the chicken farming activities while phosphate were caused by the use of phosphate fertilization in the rice farming area. The distribution of groundwater quality in the area were varies based on the landuse, people activities and groundwater flow. The groundwater potential pollution were conducted based on the groundwater flow. The result show that the upper area (north) has lower concentration of Nitrate, Nitrite, ammoniac and phosphate. The mid area, where most of the chicken farm and rice farm are located, has become the sources of the water pollution.