Djoko Suprapto
Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Published : 30 Documents
Articles

Found 30 Documents
Search

AN OPEN-SYSTEM RESPIROMETER FOR MEASURING STEADY-STATE OXYGEN UPTAKE BY AQUATIC ANIMALS APPLIED TO THE SCALLOPS Pecten Maximus L. Suprapto, Djoko
JOURNAL OF COASTAL DEVELOPMENT Vol 5, No 2 (2002): Volume 5, Number 2, Year 2002
Publisher : JOURNAL OF COASTAL DEVELOPMENT

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.69 KB)

Abstract

An open-system respirometer for measuring steady-state oxygen uptake rate of aquatic animals is described. The principle of the measurement was to calculate the difference between the oxygen concentrations of the water entering the respiratory chambers with that out from the respiratory chambers. This difference indicated the oxygen consumed by the animals for their respiration. The measuring system was tested to calculate the oxygen consumption related to dry body weight of scallop Pecten maximus L. collected from different populations. This correlation was? expressed by allometric equation as: Y = aXb. The equation was then discussed with the finding of several authors.
ANALISIS KELIMPAHAN PERIFITON PADA KERAPATAN LAMUN YANG BERBEDA DI PERAIRAN PULAU PANJANG, JEPARA Novianti, Merlyna; Suprapto, Djoko; Widyorini, Niniek
Management of Aquatic Resources Journal Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.257 KB)

Abstract

Perifiton merupakan jasad – jasad yang dapat hidup melekat pada permukaan daun lamundengan demikian penelitian ini ditekankan untuk mengetahui struktur komunitas perifiton pada komunitas lamun serta membedakannya pada setiap jenis lamun. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran tentang keberadaan perifiton pada komunitas lamun dalam menunjang fungsi-fungsinya di perairan Pulau Panjang, Jepara sebagai areal konservasi. Kegiatan penelitian dilaksanakan pada antara bulan Juni - Juli 2012 selama 1 bulan di pantai perairan Pulau Panjang, Jepara, Jawa tengah. Proses mengidentifikasi diadakan di laboratorium Fakultas Perikanan dan Kelautan. Metode yang digunakan adalah pengambilan sampel lamun dan perifiton dengan menentukkan tiga titik pengambilan sampel lamun dengan kepadatan jarang, sedang dan padat serta pengukuran .  Jenis Perifiton yang paling banyak ditemui di pada perairan Pulau Panjang pada rata-rata kerapatan berasal dari kelas Bacillariophyceae yaitu berkisar antara 63.134-98.910 ind/cm2, perifiton dengan kelimpahan relatif tertinggi adalah Nizchia sp berkisar 32,26-34,18 % Persen penutupannya pada kerapatan sedang yaitu 39,08%, pada kerapatan padat yaitu 45,01% dan pada kerapatan jarang yaitu 15,89%. Pada sampel daun lamun yang diambil secara acak, ditemukan 16 spesies dengan indeks keanekaragaman (H’) perifiton pada kerapatan jarang mempunyai nilai indekskeanekaragaman sebesar 2,35 dengani keseragamannya sebesar 0,84 kerapatan sedang sebesar 2,39 dan keseragaman (e) sebesar 0,86 dan perifiton pada kerapatan padat mempunyai nilai indeks keanekaragaman  2,45 dan keseragaman 0,87.
KANDUNGAN NITRAT DAN FOSFAT DALAM AIR PORI SEDIMEN DI SUNGAI DAN MUARA SUNGAI WEDUNG DEMAK Arizuna, Mutiara; Suprapto, Djoko; Muskanonfola, Max Rudolf
Management of Aquatic Resources Journal Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.135 KB)

Abstract

Secara alamiah konsentrasi zat hara dalam perairan bervariasi untuk masing-masing bentuk senyawanya, termasuk nitrat dan fosfat. Namun dalam kondisi tertentu dapat terjadi keadaan di luar batas yang dinyatakan aman untuk kategori perairan tertentu. Peranan nitrat dan fosfat yang terkandung didalam sedimen yang ada di sungai atau muara adalah sebagai unsur penting bagi pertumbuhan dan kelangsungan hidup organisme didalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan dan faktor-faktor yang mempengaruhi kandungan nitrat dan fosfat dalam air pori sedimen antara sungai dan muara Sungai Wedung Demak. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 15 – 29 Juni 2013 di Perairan Sungai Wedung Demak. Pengambilan sampel dilaksanakan sekali setiap 1 minggu.Metode penelitian ini menggunakan analisis deskriptif. Metode pengambilan air pori sedimen dan kualitas air dilakukan pada pagi hari sekitar pukul 07.00 WIB dan siang hari sekitar pukul 12.30 WIB. Titik sampling terdiri dari dua ekosistem yaitu sungai dan muara. Setiap ekosistem terdapat tiga titik sampling. Analisa kandungan nitrat dan fosfat menggunakan metode Hach Programme. Pengukuran kualitas air meliputi salinitas, suhu, oksigen terlarut, pH, dan kecerahan. Analisa data menggunakan uji Independent-Sample T Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kandungan unsur hara pada air pori sedimen di sungai maupun muara Sungai Wedung Demak. Oksigen terlarut, suhu, pH, dan kecerahan adalah faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi kandungan nitrat dan fosfat pada air pori sedimen.
JENIS DAN KELIMPAHAN IKAN PADA KARANG BRANCHING DI PERAIRAN PULAU LENGKUAS KABUPATEN BELITUNG Yuspriadipura, Aga; Suprapto, Djoko; Suryanti, -
Management of Aquatic Resources Journal Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (525.769 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan kelimpahan ikan yang terdapat di Karang Branching, Pulau Lengkuas Kabupaten Belitung. serta mengetahui Indeks Keanekaragaman dan Keseragaman ikan yang terdapat di Karang Branching, Pulau Lengkuas Kabupaten Belitung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Dilaksanakan pada bulan Juni sampai Agustus 2013 di Pulau Lengkuas Kabupaten Belitung. Berdasarkan hasil penelitian terdapat 17 jenis ikan karang yaitu Siganus gulatus (baronang), Epibulus msidlator (tikus-tikus), Scarus rivulatus (kakak tua), Hemigymnus melapterus (nori merah), Halichoeres hortulanus (piso-piso), Caesio cuning (platak), Cheilimus fasciatus (betok biru), Pomacentrus coelestis (ekor kuning), Heniochus varuis (kepe-kepe monyong), Scarus iwulatus (keling tanduk), Celiscus strigatus (betok sri gunting), Scolopsis margarefiter (kepe-kepe susu), Chelmon rostrastus (keling perak), Hovaculichthys taeniorys (tanda-tanda), Lutjanus fulvilamma (nori monyong), Chaetodon kleini (kakak tua merah), Paraglyphidodon nogoris (kepe-kepe tanduk). Nilai indeks keanekaragaman (H’) Ikan Karang di lokasi sebesar 2,553, dan nilai indeks keseragaman (e) 0,901, hal tersebut menunjukkan bahwa di perairan tersebut ada dominasi salah satu spesies yaitu Pomacentrus coelestis. This research aims to find out the type and abundance of fish in Branching Coral, Lengkuas Island in Belitung Regency. The method that was used in this research was a survey method. Was carried out in June until August 2013 at the Lengkuas Island of Belitung Regency. Based on the research results there were 17 types of coral fish namely Siganus gulatus (Rabbitfish), Epibulus msidlator (rats), Scarus rivulatus (parrot), Hemigymnus melapterus (red nori), Halichoeres hortulanus (piso-piso), Caesio cuning (platak), Cheilimus fasciatus (blue anabas), Pomacentrus coelestis (yellow tail), Heniochus varuis (monyong butterflyfish), Scarusi wulatus (rivet horns), Celiscus strigatus (sri gunting anabas), Scolopsis margarefiter (butterfly milk) Chelmon rostrastus (Silver-rivet), Hovaculichthys taeniorys (signs), Lutjanus fulvilamma (nori monyong), Chaetodon kleini (red parrot), Paraglyphidodon nogoris (Horn butterflyfish). Value of diversity index (H’) coral fish in the research location of 2,553, and uniformity index value (e) 0,901, it showed that in the water, there was a one predominance species of Pomacentrus coelestis.
PERSEPSI DAN PARTISIPASI NELAYAN DALAM PENGELOLAAN KAWASAN KONSERVASI LAUT DAERAH UJUNGNEGORO-ROBAN KABUPATEN BATANG Adhian, -; Suprapto, Djoko; Purwanti, Frida
Management of Aquatic Resources Journal Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (231.95 KB)

Abstract

Pantai Utara Jawa Tengah khususnya kawasan pesisir Kabupaten Batang memiliki potensi sumberdaya perairan yang cukup tinggi dan dimanfaatkan manusia secara berlebihan. Pemanfaatan yang berlebihan menyebabkan terjadinya degradasi lingkungan sehingga perlu adanya upaya konservasi untuk mengurangi kerusakan yang ditimbulkan. Sejak tahun 2005, Kabupaten Batang mengalokasikan sebagian wilayahnya yaitu kawasan pantai Ujungnegoro-Roban sebagai Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD), suatu kawasan konservasi di wilayah perairan laut yang dikembangkan oleh pemerintah daerah. Penetapan kawasan konservasi tersebut berdasarkan pada kriteria ekologi, sosial budaya, dan ekonomi sehingga diharapkan pemilihan lokasi konservasi sesuai dengan tujuan konservasinya dengan memperhatikan kondisi ekologis dan kebutuhan masyarakat di sekitarnya. Tujuan Penelitian menganalisis persepsi dan partisipasi masyarakat nelayan dalam pengelolaan Kawasan Konservasi Laut Daerah Ujungnegoro, Kabupaten Batang. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif yang bersifat studi kasus. Data primer dikumpulkan yaitu melalui kuisioner ataupun hasil wawancara langsung terhadap 102 responden. Data sekunder dikumpulkan dari monografi desa lokasi penelitian berupa keadaan wilayah, kependudukan dan instansi/lembaga  terkait ini. Data primer dan data sekunder yang dikumpulkan berdasarkan variable persepsi masyarakat nelayan dan variable partisipasi masyarakat nelayan, instansi terkait, dan pengamatan di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat nelayan mempunyai tingkat persepsi sedang (61,84%) mengenai kondisi terumbu karang dan mangrove, keberadaan KKLD yang perlu dipertahankan, manfaat KKLD, aturan KKLD dan sanksi KKLD. Tingkat partisipasi adalah sedang (61,07%) untuk kegiatan penanaman mangrove dan konservasi terumbu karang, walaupun untuk kegiatan pengawasan KKLD dan partisipasi dalam musyawarah Pokwasmas masih kurang.  North coast of Central Java, especially the coastal area of Batang Regency has very high aquatic resources potential and has been widely exploited caused environmental degradation’s. Therefore, there should be a conservation efforts to reduce the damages. Since 2005, the Batang Regency allocate territories in the Ujungnegoro coastal areas as District Marine Conservation Area (DMCA). District Marine Conservation Area (DMCA) a conservation area in the territorial which are developed by local governments. Determination of the conservation area is based on the criteria of ecological, socio-cultural, and economic criterias so the selection of conservation sites is compatible to the conservation purposes by taking into account the ecological conditions and the needs of surrounding communities. The purpose of the research are to analise perception and participation of fishing communities in management of the Ujungnegoro-Roban Marine Conservation Area. Research methods used in this research is descriptive methods as a case study. Primary data collected through interviews or questionnaire to 102 respondents. Secondary Data collected from the village monograph include the territory Status, population and related /institutions of this research. Primary Data and secondary data collected based on perceptions and participation of fishing communities variables, relevant agencies, and observations in the field. The research shows that fisher community have perception on average level (61,84%). about condition of coral reefs mangrove, benefits, regulation and conservation of DMCA. Participation level is on average (61,07%) for activities on mangrove plantation, coral reefs conservation, although surveillance of the DMCA and participation on community group discussion for surveillance discussion are low.
Osmoregulation Pattern of Fingerling Vanname Shrimp (Litopenaeus vannamei) Rearing in Three Molt Stage Iso-Osmotic Media Anggoro, Sutrisno; Suprapto, Djoko; Purwanti, Frida
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 23, No 3 (2018): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Vanname shrimp (Litopenaeus vannamei) is one of euryhaline Crustacean that able to adapt to a wider range of salinities. The need of suitable media for a given size and molting stage of shrimp is a key factor of the success of shrimp culture. In order to ensure the success of fingerling Vanname shrimp (FVS) rearing, it is indispensable to provide suitable osmotic media for the molting process. This research was aimed to examine and determine isoosmotic media that complies with physiological process of FVS. The research was done in laboratory scale with Completely Randomized Design. FVS was acclimated to three salinities level i.e. 15-16 ? as the postmolt isosmotic media, 25-26 ? as the intermolt isosmotic media, and 29-30 ? as the premolt and molt isosmotic media with three replications. The result showed that in the media of 25-26 ?, the osmotic work revealed the minimal level and it enhanced the growth rate without changing the amino acids composition in the shrimp body tissue.
EFFECT OF FRESH FEED AND DENSITY TO THE SURVIVAL RATE OF JUVENILE MANGROVE CRAB SCYLLA SERRATA Suprapto, Djoko
JOURNAL OF COASTAL DEVELOPMENT Vol 5, No 1 (2001): Volume 5, Number 1, Year 2001
Publisher : JOURNAL OF COASTAL DEVELOPMENT

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (138.033 KB)

Abstract

The problem of seed production of Scylla serrata juvenile is the massive mortality due to cannibalism among them that normally happen when the animal undergone the molting. The density of juvenile and the feed play important role to avoid the cannibalism. The aim of the study is to understand the interaction between fresh feed and density in controlling the mortality of the juvenile reared in the laboratory scale. A factorial plot with three levels of treatments of fresh feed and three levels of juvenile densities was used in this experiment. The fresh feed treatment did not significantly influence either survival rate or growth rate of juvenile. On the other hand, the density strongly influenced the survival rate of juvenile but not to the growth rate.
PENGARUH UMUR REPLANTASI MANGROVE (Rhizophora sp.) SEBAGAI HABITAT Uca sp. Rizal, Novia Firza Wijayanti; Suprapto, Djoko; Djuwito, -
Management of Aquatic Resources Journal Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.81 KB)

Abstract

Sebagian besar kawasan hutan pesisir di Indonesia telah mengalami kerusakan, termasuk kawasan di sekitar pantai Desa Mangunharjo, Kecamatan Tugu, Kabupaten Semarang. Kerusakan ini lebih banyak disebabkan oleh ulah manusia yang kurang bijak dalam mengelolanya. Hilang dan rusaknya kawasan mangrove pada beberapa wilayah pesisir telah mengakibatkan hilangnya fungsi mangrove baik fisik, ekologis, maupun ekonomi. Salah satu penyelesaian atas permasalahan tersebut adalah dengan melakukan gerakan penghijauan atau penanaman kembali (replantasi). Adapun aspek yang dapat ditinjau dalam mengevaluasi keberhasilan replantasi hutan mangrove ini adalah kembalinya fungsi ekologis hutan mangrove, diantaranya adalah penyedia habitat berbagai biota seperti Uca sp. Tujuan umum dari penelitian ini adalah mengetahui wilayah hasil replantasi yang mampu menyediakan habitat bagi Uca sp.Tujuan khusus yang ingin dicapai adalah mengetahui keberadaan berbagai ukuran karapas Uca sp. sebagai indikasi kesesuaian habitat dan mengetahui kepadatan Uca sp. berdasarkan wilayah tanpa mangrove dan wilayah mangrove dengan jenis mangrove Rhizophora sp. berumur tiga bulan dan satu tahun. Sampel Uca sp. dan substrat diambil dari tiga zona dengan tiga kali pengulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa zona replantasi mangrove berumur satu tahun merupakan habitat bagi Uca sp. dan terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai kepadatan Uca sp. pada zona tanpa mangrove dan zona dengan perbedaan umur replantasi mangrove. Most of the coastal forest in Indonesia have been damaged, including the area around the coastal village of Mangunharjo, District of Tugu, Semarang. This damage is mainly caused by negative human activities. The loss and destruction of mangrove areas in some coastal areas have resulted the disfunction of mangrove in physical, ecological, and economical aspects. One of the solution to this problem is a replantation of mangrove. One of the variabel indicating the success of replantation is the return of the ecological function, for example providing the habitat for many organisms such as Uca sp. The general objective of this research was to determine which area that is able to provide habitat for Uca sp. The specific objectives were to know the existence of various sizes of the carapaces as an indication of the suitable habitat and to know the density of Uca sp. between non-mangrove area and those with mangrove areas with species Rhizophora sp. the age of three months and the age of one year. Uca sp. and substrate samples were taken from three zones with three repetition. The results showed that one year old mangrove replanted area is suitable habitat for Uca sp. and the density of Uca sp. between non-mangrove area and mangrove replanted areas with different age have significant difference.
EVALUASI PROGRAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PESISIR DI DESA SARAWANDORI, KOSIWO KABUPATEN KEPULAUAN YAPEN, PROVINSI PAPUA Karubaba, Obaja; Purwanti, Frida; Suprapto, Djoko
Management of Aquatic Resources Journal Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.456 KB)

Abstract

Program Pemberdayaan Masyarakat pesisir di desa Sarawandori dapat membantu meningkatkan pendapatan nelayan. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat pesisir di desa Sarawandori Kosiwo Kabupaten Kepulauan Yapen Papua. Metode penelitian bersifat deskriptif  dimana pengambilan sampel dilakukan secara purposive berdasarkan pertimbangan jenis kegiatan. Data dikumpulkan dengan cara observasi lapangan, wawancara terhadap 50 masyarakat nelayan dari 18 KK yang menerima bantuan dan mengikuti program pemberdayaan masyarakat pesisir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada 5 kegiatan program pemberdayaan masyarakat pesisir di desa Sarawandori yaitu: Pengembangan kapasitas aparat kampung, Pelatihan budidaya rumput laut dan ikan (Keramba), Metode Penangkapan ikan, Pemasaran hasil perikanan, Metode bantuan sarana budidaya ikan yang sudah berjalan dari tahun 2007 sampai sekarang. Pelaksanaan program yang prioritas di desa Sarawandori yaitu pemanfaatan sumber laut untuk meningkatkan kehidupan masyarakat nelayan. Prosedur atau mekanisme penyaluran bantuan berjalan sesuai dengan ketentuan. Community Empowerment Program at the coastal village of Sarawandori can help to increase the income of fishermen. The purpose of this study were to identify and to evaluate the implementation of the program in the coastal village of Sarawandori Kosiwo Yapen Islands District of Papua. The research method is descriptive in which sampling was done purposively based on the consideration of the type of activity. Data were collected by field observations, interviews to the 50 fishers communities from 18 family leaders who receive aid and get the empowerment program. The research showed that there are 5 activities of the program in the Sarawandori villages namely: Capacity building of the officials village, training on culture of seaweed and fish (Cage), Fishing Methods, Fishery marketing and aids for aquaculture facilities. The program has been running from 2007 to the present. Implementation of the priority programs at Sarawandori village is marine resources utilization to improve the life of fishers communities. Procedure and mechanism of aid delivery is running well in accordance to the regulation.
PENGARUH SUHU DAN SALINITAS TERHADAP PENETASAN KISTA Artemia salina SKALA LABORATORIUM Bahari, Muhammad Cholid; Suprapto, Djoko; Hutabarat, Sahala
Management of Aquatic Resources Journal Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (472.022 KB)

Abstract

Artemia memiliki nutrisi yang sangat tinggi dan sesuai dengan kebutuhan gizi untuk larva ikan dan crustacea untuk dapat tumbuh lebih cepat. Nilai nutrisinya didapatkan dari kandungan protein Artemia yang mencapai 60% pada Artemia dewasa. Suhu dan salinitas merupakan salah satu faktor fisik yang paling penting dalam kehidupan laut dan organisme air. terdapat hubungan yang kompleks antara dua faktor, dimana suhu dapat memodifikasi efek salinitas, sehingga mengubah batas toleransi salinitas dari suatu organisme. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jumlah Hatching percentage serta Hatching effisiency pada tetasan kista Artemia pada suhu dan salinitas media yang berbeda. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei 2014 di laboratorium Pengelolaan Sumberdaya Ikan dan Lingkungan Jurusan Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro. Suhu yang digunakan dalam penelitian ini adalah 28 0C dan 32 0C, sedangkan salinitas yang digunakan adalah 15‰, 20‰, 25‰, 30‰ dan 35‰. Selama penelitian dilakukuan pengambilan sampel pada 15 jam pertama dan 3 jam berikutnya hingga 36 jam, serta dilakukan perhitungan Hatching percentage serta Hatching effisiency. Hasil penelitian didapatkan kombinasi suhu dan salinitas terbaik untuk media penetasan adalah dengan menggunakan suhu 280C dan salinitas 35‰ dengan hasil Hatching percentage, Hatching effisiency sebanyak 229.166 naupli 76,73%. Berdasarkan Uji Anova dua arah, rata-rata penetasan kista Artemia berbeda dan dipengaruhi oleh suhu dan salinitas. Artemia has a very high nutrition and appropriate to be the food of fish larval and crustaceans to grow quick. The nutrition value obtained from the content of a protein Artemia to reach 60% in adult Artemia. Temperature and salinity are the most important physical factors in marine life and organism.There is a complex relationship between the two factors, where the temperature can modify the effect of salinity, thus changing the salinity tolerance limits of an organism, while salinity can modify the effects of the temperature. The purpose of this study were to determine Hatching Percentage and Hatching Effisiency of Artemia cysts at different temperature and salinity levels. This study was conducted in May 2014 in the laboratory of Fisheries Resources Management and Environment, Faculty of Fisheries and Marine Sciences Diponegoro University. The temperature used in this study were 280C and 320C, while the salinity used were 15 ‰, 20 ‰, 25 ‰, 30 ‰, and 35 ‰. During the study, sample were taken in the first steps in 15 hour in continued after at 3 hours and 36 hours consequently, the hatching percentage and hachting efficiency was calculated. The results showed the best combination of temperature and salinity for hatching was 280C temperature and salinity of 35‰ with results of 76.73% and the Hatching efficiency as naupli 229,166. Based on two-way ANOVA test, the Artemia cysts average hatching differ significantly and influenced by temperature and salinity