p-Index From 2014 - 2019
22.651
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Media Teknik Sipil Indonesian Journal of Geography Cakrawala Pendidikan Jurnal Kependidikan: Penelitian Inovasi Pembelajaran Jurnal Penelitian Saintek Jurnal Ilmiah Telaah Manajemen Jurnal Ilmiah Kajian Akuntansi METAMORFOSA Journal of Biological Sciences JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP MEDIA MEDIKA INDONESIANA KEAIRAN JURNAL ILMU SOSIAL JURNAL ILMU LINGKUNGAN Indonesian Journal of Applied Sciences Jurnal Perikanan Kelautan MediaTor: Jurnal Komunikasi POSITRON Depik Jurnal Poli-Teknologi Paedagogia Prosiding Seminar Biologi Pendidikan Tata Niaga Jurnal INFOTEL REKA KARSA Interaksi Online Journal of Nutrition College Berkala Ilmu Kedokteran Jurnal Sains Dasar Mediator CORAK RESITAL : JURNAL SENI PERTUNJUKAN PROMUSIKA Jurnal Manusia dan Lingkungan Abdimas INTEGRALISTIK Jurnal Penelitian Pendidikan Jurnal Mahasiswa Pasca Sarjana Geoplanning Journal Hukum Dan Dinamika Masyarakat Majalah Geografi Indonesia Students´ Journal of Accounting and Banking Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Interest : Jurnal Ilmu Kesehatan Jurnal Teknik Elektro Jurnal Ilmu Komunikasi Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Jurnal Riset Kesehatan Proceeding Seminar LPPM UMP Tahun 2014 Gravitasi Jurnal Al-Tadzkiyyah Bioeksperimen: Jurnal Penelitian Biologi Forum Geografi Traditional Medicine Journal Jurnal Riset Gizi Proceeding SENDI_U REFLEKSI EDUKATIKA JURNAL KEPERAWATAN GLOBAL Fish Scientiae JETri Jurnal Ilmiah Teknik Elektro Sari Pediatri Jurnal Hukum dan Peradilan Unnes Civic Education Journal Catharsis Sains Peternakan: Jurnal Penelitian Ilmu Peternakan AKUNTANSI DEWANTARA Paediatrica Indonesiana JURNAL SUMBERDAYA AKUATIK INDOPASIFIK Health Notions Moneter - Jurnal Akuntansi dan Keuangan ANALITIKA Jurnal Akuntansi Jurnal PG-PAUD Trunojoyo : Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Anak Usia Dini Didaktis: Jurnal Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan JKKI : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Indonesia BISE: Jurnal Pendidikan Bisnis dan Ekonomi Caraka Tani: Journal of Sustainable Agriculture EnviroScienteae INOVTEK POLBENG Indonesian Journal of Chemistry Jurnal Ilmiah Al-Syir'ah Agrin : Jurnal Penelitian Pertanian Fokus Ekonomi : Jurnal Ilmiah Ekonomi Jurnal Selaras : Kajian Bimbingan dan Konseling serta Psikologi Pendidikan Politik Indonesia: Indonesian Political Science Review Jurnal Kordinat Prosiding Seminar Nasional Pakar EQUILIBRIUM : Jurnal Ilmiah Ekonomi dan Pembelajarannya Pelataran Seni Media Kesehatan Politeknik Kesehatan Makassar WACANA, Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi Jurnal POLIMESIN EDUPEDIA Abdi Seni Gelar : Jurnal Seni Budaya Warta Penelitian Perhubungan Jurnal Teknologi dan Ilmu Komputer Prima (JUTIKOMP) Jurnal Revolusi Pendidikan (JUREVDIK) COMPTON: Jurnal Ilmiah Pendidikan Fisika Jurnal Hukum dan Peradilan Jurnal SPATIAL Wahana Komunikasi dan Informasi Geografi IJEEM - Indonesian Journal of Environmental Education and Management Informasi Interaktif
Articles

ANALISIS EVA DAN KINERJA KONVENSIONAL YANG BERPENGARUH TERHADAP RETURN SAHAM DI BURSA EFEK JAKARTA

Jurnal Ilmiah Telaah Manajemen Vol 1, No 2 (2004): Vol. 1 Edisi 2 Mei 2004
Publisher : Jurnal Ilmiah Telaah Manajemen

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Economiv Value Added (EVA) dan kinerja konvensional (return on asset, return on equity dan earning per share) terhadap return saham di Bursa Efek Jakarta terutama industri manufaktur.penelitian ini menggunakan data sekunder selama tiga tahun sejak akhir tahun 1997 sampai dengan 2000 yang dipublikasi oleh Indonesian Capital Market Directory - 2001) Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling dengan kriteria perusahaan yang sahamnya selalu aktif diperdagangkan dan selalu menyajikan keuangan tahunan serta menyajikan data yang berhubungan  perhitungan EVA.  jumlah sampel yang diperoleh 92 perusahaan selama 3 tahun pengamatan. Analisis yang digunakan adalah analisis regresi berganda dengan teknil ordinary least square (OLS). jumlah sampel yang memenuhi asumsi normalitas sebanyak 20 sampel setelah dilakukan transformasi data dalam bentuk log natural yang selanjutnya digunakan untuk analisis. Hasil aanalisis menunjukkan bahwa secara bersama-sama empat variabel independent berpengaruh signifikan terhadap return saham Industri Manufaktur di BEJ. Hasil ini ditunjukkan dengan F Sig . 0,000 yang berarti signifikan pada level kurang dari  1%. sementara secara parsial hanya variabel earning per share (EPS) yang signifikan mempengaruhi return saham pada level kurang dari 1%(ditunjukkan dengan signifikansi t sebesar 0.004). kemampuan prediksi dari keempat variabel tersebut tergolong tinggi yaitu sebesar 64.4% (ditunjukkan dengan adjusted R Squared sebesar 0.644). Bagaimanapun hasil ini menunjukkan bahwa selama periode pengamatan investor tetap menggunakan analisis fundamental perusahaan terutama EPS, ROA, ROE dan EVA untuk memprediksi return saham. walaupun EVA belum banyak digunakan oleh investor di BEJ, namun rasio provitabilitas (kinerja konvensional) terutama EPS sangat dominan digunakan untuk memprediksi return saham perusahaan di BEJ.disarankan untuk penelitian mendatang untuk dimasukkan variabel-variabel lain yang tidak digunakan dalam model penelitian ini, seperti faktor fundamental perusahaan yang lainnya(likuiditas, aktivitas dan rasio pasar) serta faktor teknikal seperti (kondisi makro ekonomi dan politik). saran ini didasrkan pada pertimbangan mengingat selama periode pengamatan sebagian besar data berdistribusi tidak normal, dinmana ketidaknormalan tersebut sangat mungkin dipengaruhi oleh faktor teknikal. disamping itu juga perlu dilakukan penelitian terhadap seluruh perusahaan yang listed di Bursa Efek Jakarta dengan periode lanjutnya (mungkin secara triwulan sejak tahun 2000 hingga sekarang) sehingga bisa diketahui konsistensi hasil penelitian.

PERAN PERSISTENSI LABA TERHADAP HUBUNGAN ANTARA KEAGRESIFAN LABA DAN BIAYA EKUITAS

Jurnal Ilmiah Kajian Akuntansi Vol 2, No 1 (2010): Vol. 2 No. 1 Pebruari 2010
Publisher : Jurnal Ilmiah Kajian Akuntansi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study investigated the role of earnings persistence as moderating variable in the associationsbetween earnings aggressiveness and cost of equity. The contribution of this study is to explainand explore the previous research about the role of earnings persistence on the associationbetween earnings aggressiveness and cost of equity.This study uses sample of the firms whichpayed dividend and listed in Indonesian Stock Exchange during the period 2004/2005 and2005/2006. The hipothesis was tested using quasi moderating between earnings aggressiveness,earnings persistence, interaction of earnings persistence and earnings aggressiveness on the costof equity. Method of analysis uses quasi moderator type based on interaction regressions. Theresult of this study shows that NIBE based earnings persistence is robust as the moderatingvariable on the association between earnings aggressiveness and dividend growth based cost ofequity. The result of this study indicate that NIBE based earnings persistence to weak on theassociation between earnings aggressiveness and dividend growth based cost of equity.Keywords: earnings persistence, earnings aggressiveness, and cost of equity.

Peran Limfosit T Helper-1 (TH1) dan T Helper-2 (TH2) pada Patogenesis Artritis Lepra

MEDIA MEDIKA INDONESIANA 2008:MMI Volume 43 Issue 1 Year 2008
Publisher : MEDIA MEDIKA INDONESIANA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTThe role of lymphocyte T Helper-1 (TH1) and T Helper-2 (TH2) in the pathogenesis of leprosy arthritisBackground: The autoreactive of TH CD4+ cells is the thought to play an important role in arthritis leprosy pathogenesis. However, wheter of TH1 or TH2 predominant has never been studied.Methods: Various Ag M. leprae (Ag 35 kDa, 10 kDa, 45 kDa, 85 kDa, and MLSA 2 ug/ml) were stimulated to the peripheral blood (10cc) lymphocyte culture (PBMC) using 96 weels microplate and RPMI 1640 media of 22 leprosy arthritis cases, control-1 (n=12) (leprosy without arthritis) and control 2 (n=12) (healthy contact). The activity difference between TH1 and TH2 CD4+ lymphocyte was analysed using the difference delta levels of IFN-γ and IL-4 (ELISA) of the three group studies. Statistical analysis used wereANOVA, Kruskal Wallis or Mann Whitney, and Chi-square.Results: IFN-γ delta levels was significantly higher in the lymphocytes cultures in LA group (the median 132.234 pg/ml, 60.347 g/ml, 14.093 pg/ml, 16.619 pg/ml and 138.394 pg/ml) compared with IL-4 value level (median 0.317 pg/ml, 0.017 pg/ml, -0.206 pg/ml, -0.200 pg/ml and 0.492 pg/ml) after being stimulated with 35 kDa, 10 kDa MMP-1, 45 kDa LAM, 85 kDa and MLSA of 2 ug/ml dose consecutively (all p<0.001). The IFN-γ delta value in LA group also showed the significantly higher level in response toall M. leprae Ag compared to all control-groups, with all p value < 0.05.Conclusion: TH1 CD4+ lymphocyte activity is more dominant compared than TH2 CD4+ lymphocyte activity in leprosy arthritis group patients.Key Words: Leprosy arthritis, IFN-γ, IL-4, TH1 CD4+ and TH2 CD4+ lymphocyte, and M. leprae Ag ABSTRAKLatar belakang: TH CD4+ autoreactive diduga kuat pada patogenesis artritis lepra. Apakah autoimunitas akibat dominansi aktivasi limfosit TH1 atau TH2 pada penderita lepra belum pernah diteliti.Metode: Berbagai Ag M.leprae (35 kDa, 10 kDa, 45 kDa LAM, 85 kDa, dan MLSA dosis 2 ug/ml) distimulasikan pada kultur limfosit darah perifer (10 cc darah vena), menggunakan media RPMI 1640 dari 22 kasus artritis lepra, 12 kontrol-1 (lepra tanpa artritis), dan 12 kontrol-2 (tetangga sehat kontak positif). Nilai delta kadar IFN-γ dan IL-4 (ELISA) diukur untuk mengetahui peran aktivitas limfosit TH1 dan TH2. Statistik yang dipergunakan uji ANOVA, uji Kruskal-Wallis atau Mann Whitney, dan metode Chi-square.Hasil: Nilai delta IFN-γ kultur limfosit kasus artritis lepra (median 132,234 pg/ml, 60,347 pg/ml, 14,093 pg/ml, 16,619 pg/ml dan 138,394 pg/ml) kelompok LA lebih tinggi bermakna dibandingkan nilai delta IL-4 (median 0,317 pg/ml, 0,017 pg/ml, -0,206 pg/ml, - 0,200 pg/ml dan 0,492 pg/ml) pasca stimulasi dengan Ag M. leprae 35 kDa, 10 kDa MMP-1, 45 kDa LAM, 85 kDa dan MLSA dosis 2 ug/ml, (p<0,001). Nilai delta IFN-γ kelompok kasus juga lebih tinggi dibandingkan kedua kelompok kontrol (p< 0,05).Simpulan: Aktivitas limfosit TH1 CD4+ lebih dominan dibandingkan TH2CD4+ pada kelompok penderita artritis lepra.

Optimasi Desain Bangunan Pelengkap Bendungan dengan Metoda Simpson Luas Penampang (Simpson’s Rule)

KEAIRAN No. 2 - Tahun 12 Desember 2005
Publisher : KEAIRAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.635 KB)

Abstract

Design of headworks should be considered in the mitigation of hazards in Indonesia. Several aspects considered in design consist of design flood, influeczes to the structures, and the risk of earthquake. The external loads have a negative impact to the structures so the dimension of the structure should be bigger. In connection of the overdesign of structure, the cross section design should be optimum. The Simpson’s rule  is used to compute accurately the cross section area of the structure. This method is carried out by using the matematical of the existing condition and the reductions of the volume and the weight of the structures caused by the holes in the structures. Experimentally, the studies have been carried out in the Kalibumi weir and the tower of Cikukang dam. These studies present that the results of the stability analysis of the non orderly and non massive structures are quite satisfy. The out-come of the analysis is obtain the safety dams concerning with the program of safety dams in Indonesia.                            Keywords: optimum design, Simpson’s rule, head-works, dams, massive structurePermalink: http://ejournal.undip.ac.id/index.php/keairan/article/view/2733[How to cite: Soetjiono, C. dan Sunarto (2005). Optimasi Desain Bangunan Pelengkap Bendungan dengan Metoda Simpson Luas Penampang (Simpson’s Rule), Jurnal Keairan, 12 (2): 30-42]

Tema Metafora Galaksi Pada PErancangan Sekolah Tinggi Astronomi di Kabupaten Bandung Barat

REKA KARSA Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kabupaten Bandung Barat merupakan wilayah yang sedang berkembang dan melakukan pembangunan dari berbagai aspek. Untuk memajukan kawasan Kabupaten Bandung Barat ini diperlukan sarana pendidikan yang memadai, salah satunya dengan didirikan Sekolah Tinggi Astronomi. Dengan Adanya Sekolah Tinggi Astronomi ini dapat memberikan fasilitas pendidikan bagi masyarakat serta turut mewujudkan visi misi Kabupaten Bandung Barat dengan meningkatkan kualitas SDM di bidang Astronomi. Tema galaksi sebagai metafora dari disain rancangan arsitektur Sekolah Tinggi Astronomi sesuai dengan ilmu astronomi. Pemilihan tema tersebut dipakai untuk memadukan ciri-ciri bentuk dan pola dari galaksi kedalam perancangan arsitektur sehingga dihasilkan rancangan yang memberikan nilai arsitektur yang spesifik dan unik. Permasalahannya, bagaimana menerapkan tema tersebut dalam tapak yang berkontur. Metoda yang dipakai dalam merancang adalah metoda kualitatif dan observasi lapangan. Hasil dari perancangan disain arsitektur Sekolah Tinggi Astronomi ini dapat dilihat dari pola tatanan massa dan bangunan yang mengadopsi filosofi karakter galaksi dengan pola terpusat dan massa – massa pendukung disekitarnya. Kata kunci: Pusat pendidikan, Sekolah Tinggi Astronomi, Metafora Galaksi, Abstract West Bandung Regency is a growing area and the construction of various aspects. To advance this area of ​​West Bandung regency required adequate educational facilities, one with established College of Astronomy. By The High School Astronomy can provide educational facilities for the community and contribute to realizing the vision and mission of West Bandung regency with improving the quality of human resources in the field of Astronomy. Galaxy theme as a metaphor of architecture design design High School Astronomy in accordance with the science of astronomy. The selection of the theme used to combine the characteristics of galaxy shapes and patterns into architectural design to produce a design that gives the value of the specific and unique architecture. The problem is, how to apply the theme within the contoured tread. The method is used in designing qualitative methods and field observations. Results of design architectural design High School Astronomy can be seen from the pattern of mass order and adopted the philosophy that building character galaxies with centralized patterns of galaxies with masses of supporters around them. Keywords: Education center, High School Astronomy, Galaxies metaphor

OPTIMIZING THE UTILIZATION OF NILE TILAPIA (Oreochromis niloticus Linn.) AS GROWTH AND SURVIVAL RATE BIOCATALYST PRAWNS (Macrobrachium rosenbergii de Man)

Prosiding Seminar Biologi Vol 9, No 1 (2012): Seminar Nasional IX Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (246.068 KB)

Abstract

ABSTRAK   Prawns (Macrobrachium rosenbergii de Man) is one of fishery commodities of high economic value. Maintenance monoculture can cause ecosystem balance problems because almost all shrimp collected in the bottom of the pool so that the biological processes that take place in the pool water is not controlled. This situation can encourage the onset of blooming of plankton that causes a decrease in dissolved oxygen content so that the prawns experience stress and can inhibit the growth of giant prawns and decreased production. This study aims to examine the use of Nile Tilapia as growth and survival rate biocatalyst of prawns. The research was conducted from February to June 2011 in the village of Jimus, Karanglo, Klaten and Sub Lab Biology, Laboratory of Mathematics and Science Center UNS. This research used Completely Randomized Design polyculture system 2 treatment and control with 20 head of  stocking juvenile shrimp (PL 21) per m2 on the pool measures 8 x 2 x 1 m3. After 21 days of stocking juvenile shrimp followed by stocking nile tilapia. Parameters measured include growth (weight and length) prawns, survival rate, and water quality of the cultivation. The results showed that survival rates of prawns are high achieved with maintenance treatment with dense stocking tilapia 5 nile tilapia ie 85.11%. The range of water quality during the study between temperature 25-310C, dissolved oxygen content from 4,06 to 9,78 mg / L, the degree of acidity of water from 6.40 to 8.10, 0 ppt salinity, ammonia (NH3) from 0.003 to 0.014 mg / L, nitrite (N02) from 0.003 to 0.201 mg / L, nitrate (N03) from 0.307 to 4.05 mg / L, phosphate (P04) from 0.364 to 1.09 mg / L. Thus, maintenance treatment of tilapia provide a good influence on the stability of the prawns media resulting in the maintenance of survival (survival rate) is quite good.   Kata kunci: Macrobrachium rosenbergii de Man, biocatalyst, Oreochromis niloticus Linn.

DRAMATURGI KEPEMIMPINAN PEREMPUAN DALAM ORGANISASI PROFIT

Interaksi Online Vol 1, No 4 (2013): Wisuda Oktober
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

DRAMATURGI KEPEMIMPINAN PEREMPUAN DALAMORGANISASI PROFITAbstrakPemimpin dalam organisasi biasanya didominasi oleh kaum pria, karena konsepdan tradisi yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia yang mengaut pahampaternalistik. Seiring perkembangan zaman perempuan kini mampu mendudukijajaran top tier manajemen di sejumlah organisasi profit. Gaya komunikasiperempuan yang dianggap mampu dicintai karyawan dan lingkungan kerjanyadalam membangun sebuah hubungan menjadi sebuah nilai plus.Di dalam penelitian ini menggunakan teori dramaturgi oleh Goffman yangmerupakan perluasan teori dari interaksionisme simbolik. Dramaturgidigambarkan sebagai sebuah pementasan drama yang mirip dengan pertunjukanaktor di panggung. Melalui dramaturgi ditunjukkan bahwa identitas manusia bisasaja berubah-rubah. Manusia adalah aktor yang memainkan drama di suatupanggung kehidupan. Pada saat interaksi berlangsung, maka aktor tersebutmenampilkan pertunjukan dramanya di hadapan orang lain hingga membentukimpression management pada dirinya.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui impression management dalaminteraksi antara pemimpin perempuan dengan stakeholder di organisasinya.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada saat komunikasi berlangsungantara pemimpin perempuan dan stakeholder, kedua belah menampilkanimpression management. Pada back stage, pemimpin perempuan melakukanaktivitas lain sebelum bertemu dengan stakeholder, seperti meeting dengan teamuntuk keberhasilan tampil di front stage, supaya terlihat sebagai pemimpin yangmampu melaksanakan tugasnya dengan baik di hadapan stakeholder. Back stagepemimpin perempuan tidak diketahui oleh stakeholder.Pemimpin perempuan menampilkan impression management di hadapanstakeholder, yaitu sebagai pemimpin perempuan yang mampu menjalankankegiatannya dengan baik, membimbing karyawan dengan telaten, mempunyaikemampuan berbicara yang luwes, dan cakap dalam membangun hubungandengan stakeholder organisasinya. Stakeholder tidak mengetahui hal-hal apa sajayang dirasakan atau dilalui oleh pemimpin perempuan, seperti terkadangpemimpin perempuan merasa tidak siap dalam memimpin rapat, manajemenwaktu yang kurang baik. Hal ini dapat merusak citranya sebagai seorangpemimpin. Oleh karena itu impression management sangat penting demimencapai komunikasi efektif dalam komunikasi pemimpin perempuanstakeholder.Key words: Dramaturgi, Kepemimpinan, PerempuanWOMEN’S DRAMATURGICAL LEADERSHIP IN PROFITORGANIZATIONAbstractLeadership in an Indonesian organization is usually dominated by men aspaternalism runs deep in the people’s minds. Women nowadays have been able toget on top management of profit organization. Their unique communication stylein building a relationship among colleagues and the entire work environment isgreatly valued.This study used the dramaturgy theory by Goffman, which are extensionof symbolic interactionism. Dramaturgy is described as a drama performance withactors on the stage. The theory believes that a man’s identity changes from time totime. A man is an actor performing on a stage of life. When interacting, the actorperforms in front of other people, managing his impression on other people.This research aimed to understand the impression-management takingplace in the interaction between women leaders with other stakeholders in theorganization.The result showed that when an act of communication is taking placebetween a women leader and stakeholders, they are doing impressionmanagement. At back stage, a woman leader does other activities prior to meetingwith stakeholders, such as meeting with the team to ensure the success ofperforming at front stage, so that she is seen as a leader who is able to do their jobproperly in front of stakeholders. A woman leader’s back stage activity is usuallynot known by stakeholders.Women leaders displayed impression management in the presence ofstakeholders as leaders who are able to manage their work well, to leademployees, to speak their minds and to build strong relationships withstakeholders of the organization. Stakeholders may not know what a womanleader feels, such as feeling very unprepared to lead a meeting, having bad timemanagement. This can ruin her image as a leader. Therefore, impressionmanagement is very important for achieving effective communication in thewomen leaders – stakeholder’s communication.Key words: Dramaturgy, Leadership, WomanBAB I1.1. LATAR BELAKANGBukan sebuah hal yang tabu, jika pada saat ini sudah banyak perempuanmenduduki jajaran manajerial dalam organisasinya. Gaya komunikasi perempuandianggap mampu dicintai karyawan dalam lingkungan kerjanya. Dengan gayakomunikasi yang bertutur kata lembut, gesture, dan kasih sayang dalammembangun hubungan yang dimiliki menjadi sebuah nilai plus.Gaya komunikasi pemimpin perempuan, seolah menjadikan itu sebuahalasan organisasi berganti strategi komunikasinya. Dengan demikian, dipandangperlu adanya penelitian yang dapat melihat bagaimana cara komunikasiperempuan dalam berinteraksi dengan stakeholder pada organisasinya.1.2. PERUMUSAN MASALAHSeiring perkembangan zaman perempuan kini sudah melebarkan sayapnya yangtadinya hanya dianggap mempunyai tugas untuk melakukan segala kegiatanpekerjaan rumah, seperti mengurus anak dan suami, memasak, dan kegiatan lainyang dilakukan untuk kepentingan keluarga selain mencari nafkah. Dalam situasiseperti ini dapat dipahami mengapa kerja perempuan sering sekali tidak tampak(invisible) karena dalam masyarakat kita (walaupun tidak semua masyarakat)keterlibatan perempuan sering kali berada dalam pekerjaan yang tidak membawaupah atau tidak dilakukan di luar rumah (walaupun mendatangkan penghasilan)Dalam era seperti saat ini justru amat mudah melihat perempuanmenduduki jajaran top tier manajemen. Wanita karier sudah bertebaran di manamana,bahkan menduduki posisi di organisasi yang dianggap tabu, sepertitambang, pemerintahan, dan perminyakan. Perempuan masuk dalam dunia bisnissaat ini sudah dianggap wajar, bahkan 70% laki-laki sudah bisa mengakui danmerasa nyaman jika perempuan bekerja di luar rumah (SWA, 2010).Gaya komunikasi pemimpin perempuan, seolah menjadikan itu sebuahalasan para organisasi berganti strategi untuk menjadikan karyawan dalamorganisasinya menjadi berubah haluan. Dengan demikian, dipandang perlu adanyapenelitian yang dapat melihat bagaimana cara komunikasi perempuan dalamberinteraksi dengan stakeholder pada organisasinya. Bagaimana impresionmanagement dalam interaksi antara pemimpin perempuan dengan stakeholder diorganisasinya?BAB II2.1. KERANGKA TEORI2.1.1. Interaksionisme SimbolikTeori interaksionisme simbolis dikonstruksikan atas sejumlah ide-ide dasar.Ide dasar ini mengacu pada masalah-masalah kelompok manusia atau masyarakat,interaksi sosial, obyek, manusia sebagai pelaku, tindakan manusia daninterkoneksi dari saluran-saluran tindakan.Symbolic interactionism, a movement within sociology, focuses on the waysin which people from meaning and structure in society through conversation.Menurut teoritisi simbolik, kehidupan sosial pada dasarnya adalah “interaksimanusia dengan menggunkaan simbol-simbol.” Mereka tertarik pada caramanusia menggunakan simbol-simbol yang mempresentasikan apa yang merekamaksudkan untuk berkomunikasi dengan sesamanya, dan juga pengaruh yangditimbulkan penafsiran atas simbol-simbol ini terhadap perilaku pihak-pihak yangterlibat dalam interaksi sosial.George Herbert Mead mempunyai tiga konsep utama dalam teoriInteraksionisme simbolik yaitu, masyarakat (society), diri sendiri (self), danpikiran (mind) . Kategori-kategori ini merupakan aspek-aspek yang berbeda dariproses umum yang sama yang disebut tindak sosial, yang merupakan sebuahkesatuan tingkah laku yang tidak dapat dianalisis ke dalam bagian-bagian tertentu.2.1.1. Konsep DramaturgiFokus pendekatan dramaturgis adalah bukan apa yang orang lakukan, bukan apayang ingin mereka lakukan, atau mengapa mereka melakukan, melainkanbagaimana mereka melakukannya . Goffman mengasumsikan bahwa ketika orangorangberinteraksi, mereka ingin menyajikan suatu gambaran diri yang akanditerima orang lain. Ia menyebut upaya itu sebagai “pengelolaan pesan”(impression management), yaitu teknik-teknik yang digunakan aktor untukmemupuk kesan-kesan tertentu dalam situasi tertentu untuk mencapai tujuantertentu (Ritzer, 1996:215).Menurut Goffman kehidupan sosial itu dapat dibagi menjadi “wilayahdepan” (front region) dan “wilayah belakang” (back region). Wilayah depanmerujuk kepada peristiwa sosial yang menunjukkan bahwa individu bergaya ataumenampilkan peran formalnya. Mereka sedang memainkan perannya di ataspanggung sandiwara di hadapan khalayak penonton. Sebaliknya wilayah belakangmerujuk kepada tempat dan peristiwa yang memungkinkannya mempersiapkanperannya di wilayah depan. Wilayah depan ibarat panggung sandiwara bagiandepan (front stage) yang ditonton khalayak penonton, sedang wilayah belakangibarat panggung sandiwara bagian belakang (back stage) atau kamar rias tempatpemain sandiwara bersantai, mempersiapkan diri, atau berlatih untuk memainkanperannya di panggung depan.Goffman membagi panggung depan ini menjadi dua bagian: front pribadi(personal front) dan setting. Front pribadi terdiri dari alat-alat yang dianggapkhalayak sebagai perlengkapan yang dibawa aktor ke dalam setting. Pemimpinperempuan menggunakan setelan pakaian formal serta notebook atau ipad digenggamannya. Personal front mencakup bahasa verbal dan bahasa tubuh sangaktor. Sebagai seorang pemimpin, perempuan dapat menggunakan kalimat denganpilihan kata yang sopan, halus, penggunaan istilah-istilan asing dalam melakukanpresentasi, memperhatikan intonasi, postur tubuh, dan ekspresi wajah. pakaianyang digunakan, penampakan usia dan sebagainya. Hingga derajat tertentu semuaaspek itu dapat dikendalikan actor.Sementara itu, setting merupakan situasi fisik yang harus ada ketika aktormelakukan pertunjukan. Dimana seorang pemimpin memerlukan ruang kerja yangnyaman dan bersih untuk melakukan tugasnya..Goffman mengakui bahwa panggung depan mengandung anasir strukturaldalam arti bahwa panggung depan cenderung terlembagakan alias mewakilikepentingan kelompok atau organisasi. Sering ketika aktor melaksanakanperannya, peran tersebut telah ditetapkan lembaga tempat dia bernaung. Meskipunberbau struktural, daya tarik pendekatan Goffman terletak pada interaksi. Iaberpendapat bahwa umumnya orang-orang berusaha menyajikan diri mereka yangdiidealisasikan dalam pertunjukan mereka di pangung depan, mereka merasabahwa mereka harus menyembunyikan hal-hal tertentu dalam pertunjukannya.Wilayah ini memperlihatkan sikap superior sang pemimpin perempuan yangtergambar oleh karyawannya.Berbeda dengan panggung belakang (back stage), disini memungkinkanseorang pemimpin perempuan menggunakan kata-kata kasar ketika berkomentar,marah, mengumpat, bertindak agresif, memperolok, atau melakukan kegiatanyang tak pantas dilakukan ketika berhadapan dengan karyawannya. Adanyabelakang panggung dimaksudkan untuk melindungi rahasia pertunjukan sangpemimpin perempuan, stakeholder tidak diizinkan masuk ke wilayah ini.Pertunjukan yang dilakukan akan sulit apabila stakeholder masuk ke dalampanggung2.2. Tipe PenelitianSecara operasional tujuan penelitri menggunakan tipe penelitian kualitatifadalah untuk menjelaskan fenomena dengan sedalam – dalamnya melaluipengumpulan data sedalam-dalamnya. Dalam penelitian ini lebih menekankanpada persoalan kedalaman. Periset merupakan bagian integral dari data artinyapeneliti ikut menentukan jenis data yang diinginkan dan peneliti harus terjunlangsung di lapangan).Analisis deskriptif kualitatif menurut Robert K.Yin (Yin, 2011: 177)1. CompilingMengkompilasi dan menyortir catatan lapangan dan pengumpulan data lainnyadan memisahkan data dari sumber arsip. Setelah itu peneliti meletakan pada folderdata yang dibuat. Jadi pada fase pertama, menempatkan data ke dalam beberapaurutan, yang selanjutya disebut database.2. DisassemblingPada tahap kedua mengkompille data hingga urutan terkecil, lalu memberikanlabel atau kode pada bagian-bagian data penelitian.dengan menggunakan temasubstantif untuk mengatur3. ReassemblingPenyusunan ulang pada tahap ketiga dapat difasilitasi dengan grafik atau denganmengaturnya dalam bentuk tabulasi data.4. InterpretingPeneliti membuat sebuah narasi dari hasil penelitian. Lalu memasukan interpertasipeneliti pada hasil penelitian5. ConcludingPada fase ini terdapat keseluruhan gambran dari hasil penelitian anda. Dan padakesimpulan terkait pada interpertasi pada fase keempat dan semua tahapanpenelitian lainnya.2.2.1. Jenis Data1. Data PrimerYaitu data yang diperoleh langsung dari lapangan. Sumber data primer dalampenelitian ini antara lain: (1) hasil observasi partisipan terhadap perilaku, sikap,simbol pemimpin perempuan dan stakeholdernya. (2) hasil wawancara dengansubjek penelitian yang dilakukan dengan wawancara mendalam (indepthinterview) antar peneliti dengan pemimpin perempuan, dan peneliti denganstakeholdernya.2. Data SekunderYaitu data yang diperoleh selain data primer antara lain: (1) data audio (rekamansuara), (2) data yang berkaitan dengan penelitian seperti internet, atau referensilainnya yang mendukung.2.2.2. Teknik Pengumpulan Data1. Wawancara mendalam (indepth interview)Wawancara mendalam merupakan suatu cara pengumpulan data atau informasidengan cara langsung bertatap muka dengan informan agar mendapat datalengkap dan mendalam. Wawancara ini dilakukan dengan frekuensi tinggi(berulang – ulang) secara intensif. Dalam wawancara ini informan bebasmemberikan jawaban karena periset memiliki tugas agar informan bersediameemberikan jawaban yang lengkap, mendalam dan bila perlu.2. ObservasiObservasi difokuskan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan fenomenariset. Fenomena ini mencakup interaksi (perilaku) dan percakapan yang terjadidiantara subjek yang diteliti sehingga keunggulan metode ini adalah data yangdikumpulkan dalam dua bentuk : interaksi dan percakapan. Artinya selain perilakunon verbal juga mencakup perilaku verbal dari orang – orang yang diamati.3. CollectingCollecting mengacu pada kompilasi atau mengmpulkan benda (dokumen,artefak, dan catatan arsip) yang berhubungan dengan topik penelitian. Sebagianbesar kegiatan collecting ini ketika sedang berada di lapangan, namun penelitijuga dapat mengumpulkan dari beberapa sumber, seperti buku-buku, internet. Inidapat mempermudah peneliti dalam proses penelitian.BAB III3.1. KESIMPULANTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui impression managementdalam interaksi antara pemimpin perempuan dan stakeholder. Impressionmanagement sangat penting pada saat interaksi antara pemimpin perempuan danstakeholder berlangsung. Impression management dapat diperoleh oleh penelitimelalui observasi partisipan dan wawancara mendalam. Karena pemimpinperempuan berperan seperti aktor yang melakukan pertunjukan drama diorganisasi. Hal ini sesuai dengan teori dramaturgi oleh Goffman.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemimpin perempuan melakukanimpression management di hadapan stakeholder. Pemimpin perempuanmelakukan berbagai aktivitas selain bertemu dengan stakeholder. Seperti: arisan,berjulan sepatu, tas dan perlengkapan perempuan lainnya, dan menjadi pengurusorganisasi ekstra dari perusahaannya mempunyai bisnis makanan. Selain itupemimpin perempuan terkadang menyembunyikan masalah perusahaan ataupribadinya. Di depan stakeholder pemimpin perempuan harus terlihat baik dantidak punya masalah. Oleh karena itu karena impression management penting,maka melalui impression management, pemimpin perempuan menunjukan padastakeholder bahwa dia adalah pemimpin perempuan yang terampil dan ahli dalampekerjaannya.Pemimpin perempuan selalu terlihat bersemangat dan ceria ketikamenghadapi stakeholder karena dengan begitu memberikan pandangan bahwapemimpin senang ketika bertemu dengan stakeholder. Padahal pada backstagepemimpin perempuan, stakeholder tidak mengetahui komentar apa yangdiberikan pada stakeholder atau persiapan penting yang dilakukan olehstakeholder perempuan.DAFTAR PUSTAKABuku:Arivia, Gadis. ( 2006). Feminisme Sebuah Kata Hati. Jakarta : KompasBarletta, Martha. (2004). Marketing to women (Mendongkrak laba dari konsumenpaling kaya dalam segmen pasar terbesar). Jakarta: PPMBungin, Burhan. (2006). Sosiologi Komunikasi ( Teori, Paradigma, danDiskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat ). Jakarta : Kencana.Bungin, Burhan. (2007). Penelitian Kualitatif : Komunikasi, Ekonomi,Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta : PrenadaMedia Group.Cornelissen, Joep. (2009). Corporate Communication, A guide to theory andpractice. New Delhi: Sage PublicationDenzim, Norman K dan Yvonna S.Lincoln.(1994). Handbook of QualitativeResearch. California : Sage PublicationsDow, Bonnie J dan Wood, Julia. The Sage Handbook of Gender andCommunication. USA: Sage PublicationsGamble, Teri and Gamble, Michael.(2006). Communication Work.MC Graw-hill humanitiesGriffin, Em. (2004). A First Look at Communication Theory. New York:McGraw-Hill.Kelley, Martha J.M., Lt Col, U.S, (1997). Gender Differences and leadershipstudy. Alabama: Maxwell Airforce BaseKriyantono, Rahmat.(2006). Tekhnik Praktik Riset Komunikasi. DisertaiContoh Praktis Riset Media, Public Relations, Advertising,Komunikasi Pemasaran. Jakarta: Kencana.Kuswarno, Engkus. (2008). Etnografi Komunikas,. Suatu Pengantar danContoh Penelitiannya, Bandung: Widya Padjajaran, (2008).Littlejohn, Stephen W. (1996). Theories of Human Communication.California:Belmont, Woodsworth.Littlejohn, Stephen W Littlejohn dan Karen A Foss .( 2009). Teori Komunikasi,Theories of Human Communication, Edisi 9, Jakarta: Salemba HumanikaMadison, D.Soyini. (2005).Critical Ethnography : Method, Ethics, andPerformance. California : Sage Publications.Moleong, Lexy J. (2009). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : RemajaRosdakaryaMuhammad, Arni, (2005). Komunikasi Organisasi. Jakarta: Bumi AksaraMulyana, Deddy. (2003). Metode Penelitian Kualitatif: Paradigma Baru IlmuKomunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya. Bandung: Remaja RosdakaryaNeuman,W.Lawrence. (1997). Social Research Methods. Qualitative andQuantitave Approach, Third Edition. Boston : Allyn & Bacon A ViacomCompanyNuraini (2010). Perilaku Legislator Perempuan dalam MemperjuangkanKepentingan Perempuan. Skripsi. Unversitas DiponegoroPace, Wayne R dam Faules, Don F. (2006). Komunikasi Organisasi, strategimeningkatkan kinerja perusahaan. Bandung: PT Remaja RosdakaryaPrayitno, Ujianto Singgih, (1996). Wanita dalam pembangunan (Studi terhadapperaturan perundang-undangan RI terhadap konvensi PBB tentangpenghapusan diskrimnasi terhadap wanita). Jakarta: CV.ErasariRahardjo, Turnomo. (2006). Menghargai Perbedaan Kultural : MindfulnessDalam Komunikasi Antaretnis. Yogyakarta : Pustaka PelajarRitzer, George. (1996). Modern Sociological Theory. New York: The McGraw HillSantoso, Anang, (2004), Bahasa Peremouan. Jakarta: Bumi AksaraSaptari, Ratna dan Holzner, Brigitte, (1997). Perempuan kerja dan perubahansosial (sebuah pengantar studi perempuan). Jakarta: Pustaka UtamaGrafitySunarto. (2009). Televisi, Kekerasan dan Perempuan. Jakarta:KompasTong, Rosemarie. (2006). Feminist Though. Bandung: JalasuteraYin, Robert K. (2011). Qualitative Research from start to finish. London: TheGuilford PressInternetPearson, J. Michael dan Furumo, Kimberly. (2007). Gender-BasedCommunication Styles, Trust, and Satisfaction in Virtual Teamsdalam http://jiito.org/articles/JIITOv2p047-060Furumo35.pdf di unduhpada tanggal 6 Maret 2011 pukul 20.00 WIBSnellen, Deborah. (2006). Gender Communication.Colorado dalamhttp://www.cacubo.org/proDevOpp/Gender%20Communication.pdfdiunduh pada tanggal 7 Maret 2011 pukul 08.00 WIBVerghese, Tom. (2008). Women Leading Across Borders dalamhttp://www.culturalsynergies.com/resources/Women_Leading_Across_Borders.pdf diunduh pada tanggal 6 Maret 2011 pukul 20.30 WIBMajalahRahayu, Eva Martha (2010, April). Panggil Mereka Women on Top, SWASembada: 28Rahayu, Eva Martha (2012, April). Karena Wanita Punya Talenta , SWASembada: 29

HUBUNGAN ANTARA INTENSITAS MENONTON TAYANGAN SINETRON REMAJA DI TELEVISI DAN INTERAKSI PEER GROUP DENGAN PERILAKU HEDONIS PADA REMAJA

Interaksi Online Vol 1, No 4 (2013): Wisuda Oktober
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro Semarang1HUBUNGAN ANTARA INTENSITAS MENONTON TAYANGAN SINETRONREMAJA DI TELEVISI DAN INTERAKSI PEER GROUP DENGANPERILAKU HEDONIS PADA REMAJAAsri (2013)Mahasiswa S1 Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas DiponegoroABSTRAKSIDitinjau dari sisi psikologis, perilaku hedonis sangat membahayakan remaja, remajaakan mengambil simplifikasi kehidupannya menjadi parameter perkembangan kehidupannya dimasa mendatang, sehingga nafsu kemewahan dan kemegahan membudaya dalam dirinya,akibatnya apabila semua bentuk kemewahan dan kemegahan tersebut tidak dapat dipenuhiakan membuat remaja frustrasi dan kecewa yang berkepanjangan. Dari beberapa faktor yangdianggap menyebabkan perilaku hedonis remaja, maka tujuan penelitian ini adalah mengetahuihubungan antara intensitas menonton sinetron remaja di televisi yang sarat dengan sajiankemewahan dan kemegahan serta tingginya interaksi remaja bersama peer group denganperilaku hedonis.Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan paradigma positistik dengan tradisi sosiopsikologis,sehingga tipe penelitiannya kuantitatif. Teori yang digunakan ialah hirarki of effectdan teori belajar sosial Bandura, diharapkan mampu menjawab tujuan penelitian. Obyekpenelitian adalah siswa SMA Negeri 1 Kota Semarang, yang kesehariannya sarat denganindikasi perilaku hedonis, yang kepadanya diberikan kuesioner. Sampel diambil menggunakanproportional random sampling yaitu 77 siswa, dengan rumus statistik korelasi rank Kendall.Hasil penelitian adalah: 1) Terdapat hubungan antara intensitas intensitas menontontayangan sinetron remaja di televisi dengan perilaku hedonis pada remaja. Semakin tinggiintensitas menonton sinetron remaja di televisi, maka semakin rendah perilaku hedonis dariremaja tersebut; 2) Terdapat hubungan antara interaksi sosial dengan peer group denganperilaku hedonis pada remaja. Semakin tinggi interaksi sosial peer group, maka akan semakinrendah perilaku hedonis pada remaja tersebut.LATAR BELAKANGKecenderungan masyarakat untuk hidup mewah, berfoya -foya, bersuka ria, dan bergayahidup secara berlebih-lebihan, begitu terlihat di lingkungan masyarakat kita sehari-hari.Kecenderungan tersebut sering diistilahkan sebagai budaya hedonisme, yang mempunyai artisuatu budaya yang mengutamakan aspek keseronokan diri, misalnya, freesex, minum-minumankeras, berjudi, berhura-hura, berhibur di club-club malam, dan sebagainya. Berbagai bentukperwujudan dari budaya hedonisme tersebut begitu mempesonakan dan menggiurkan bagibanyak orang, dan dapat dikatakan menjadi suatu kebutuhan bagi masyarakat yang merasadirinya sebagai masyarakat modern (Ayuningtias, 2013:2).Perilaku hedonistik pada remaja tersebut seperti; membawa mobil saat ke sekolah,menggunakan handphone bermerk dan mahal (Black Berry) dan secara proporsional kuranglayak buat remaja, dandanan yang terkesan kurang sopan dan seronok ala artis, main ke mallmall,dinner di McDonald, dan perilaku hura-hura tanpa makna lainnya yang sudah sepertimembudaya pada remaja akhir-akhir ini.Menurut Titi Said, sinteron yang diklaim sebagai sinteron remaja tersebut, banyakmenyajikan perilaku remaja yang mengajari anak-anak dan remaja untuk berpenampilan seksi,berorientasi hedonistic dan berpola hidup senang, serba mudah dan serba mewah. Adegansinetron pun seringkali ditiru dalam perilaku mereka sehari-hari, atau jika tidak ditiru, minimalakan mengkontaminasi pikiran polos anak-anak, karena sebenarnya orientasi yang relevan bagiremaja adalah nilai-nilai budaya kerja keras dan menghargai karya. Apalagi, sekitar 60 juta anakIndonesia menonton acara seperti itu di televisi selama berjam-jam hampir sepanjang hari.Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro Semarang2Sebagian besar masyarakat sudah tahu bahwa sinetron hanya fiksi belaka, tetapi yangtidak disadari adalah efek imitasi/peniruan yang bisa ditimbulkannya. Memang karakter setiapremaja berbeda, tapi pada kenyataannya reaksi yang ditimbulkan media cenderung seragam.Misalnya sinetron yang mempertontonkan siswa SMA yang pergi ke sekolah dengan mobilmewah, banyak ditiru para pelajar saat ini dengan membawa mobil ke sekolah. Begitu jugadengan cara berpakaian para pelajar perempuan dalam sinetron, mulai ditiru para remaja saatini. Fenomena lain yang meniru sinetron adalah westernisasi (aksi kebarat-baratan) sepertibahasa, kuliner dan pakaian yang saat ini jadi trend di kalangan remaja. Hal ini bisa disaksikandi mall-mall, bagaimana anak-anak remaja berdandan bagaikan artis sinetron. Bahkan sebagaiakibat kegemaran remaja mengunjungi mall-mall di pusat perbelanjaan harus sampai membolossekolah, sehingga tidak jarang remaja yang masih siswa SMA/SMK terjaring razia disiplin yangdilakukan oleh pemerintah daerah setempat. Fenomena semacam ini dirasakan sangat getir bagisemua pihak, khususnya; orangtua, pendidik, ulama, tokoh agama dan masyarakat dan pihakpemerintah sendiri.Ketatnya pergaulan remaja dalam ikatan teman sebaya yang cenderung represif, semakinmengindikasikan bahwa tayangan sinetron hedonis tersebut memang merupakan parameterpergaulan remaja pada umumnya, sehingga bilamana ada salah seorang remaja yang tidakmampu mengadopsi nilai-nilai hedonis tersebut, sudah barang tentu akan diisolasi olehkelompok teman sebayanya (peer group). Menonton sinteron remaja yang hedonis, bagi siswadiibaratkan sebagai tolok ukur tentang perkembangan sikap dan perilaku metropolis yang layakuntuk diadopsi sebagai salah satu bagian dari dirinya, sehingga agar tidak ketinggalan jaman,maka perlu dan wajib untuk ditonton, dan akibatnya terpaan menonton tayangan sinetronsemacam itu menjadi tinggi dan sudah dianggap sebagai sebuah kebutuhan. Tolok ukur yangdiperolehnya dari hasil melihat tayangan sinetron kemudian dijadikan bahan masukan dandiskusi di lingkungan teman sebaya, sebagai sebuah wacana yang layak atau tidak untuk ditiru.Dengan dominasi pergaulan teman sebaya yang cenderung homogen yang disertai denganintensitas menonton tayangan sinetron yang tinggi, diduga akan mewarnai perilaku hedonisremaja.Perilaku hedonisme dan konsumtif telah melekat pada kehidupan kita. Pola hidup sepertiini sering dijumpai di kalangan remaja dan mahasiswa, di mana orientasinya diarahkankenikmatan, kesenangan, serta kepuasan dalam mengkonsumsi barang secara berlebihan.Manusiawi memang ketika manusia hidup untuk mencari kesenangan dan kepuasan, karena itumerupakan sifat dasar manusia. Berbagai upaya dilakukan untuk mencapainya. Salah satunyadengan mencari popularitas dan membelanjakan barang yang bukan merupakan kebutuhanpokok. Pada kenyataannya pola kehidupan yang disajikan adalah hidup yang menyenangkansecara individual. Inilah yang senantiasa didorong oleh hedonisme dan konsumenisme, sebuahkonsep yang memandang bahwa tingkah laku manusia adalah mencari kesenangan dalam hidupdan mencapai kepuasan dalam membelanjakan kebutuhan yang berlebihan sesuai arus gayahidup. Penelitian ini akan mengkaji hubungan intensitas menonton tayangan sinteron remajadan interaksi dengan peer group dengan perilaku hedonis pada remaja.PERUMUSAN MASALAHDari beberapa faktor yang dianggap menyebabkan perilaku hedonis remaja, maka faktortingginya intensitas menonton sinetron remaja yang sarat dengan sajian kemewahan dankemegahan serta tingginya interaksi remaja bersama peer group yang berkecenderungan untukmelakukan soliditas dan homogenitas perilaku sebagai perwujudan solidaritas sosial, dianggapsebagai prediktor. Dengan demikian permasalahan yang diajukan adalah “Apakah intensitasmenonton tayangan sinetron remaja di televisi dan interaksi dengan peer group berhubungandengan perilaku hedonis pada remaja?”.Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro Semarang3TUJUAN PENELITIANPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara intensitas menonton tayangansinteron remaja di televisi dan interaksi dengan peer group dengan perilaku hedonis padaremaja.KERANGKA TEORIParadigma PenelitianParadigma penelitian yang dipakai adalah positivistik dengan ttradisi sosiopsikologis.State of The Art (Penelitian Terdahulu)No Nama Judul Variabel Hasil1 Yuyun (2002) Pengaruh IntensitasKomunikasi Keluarga danKonformitas peer groupterhadap Persepsi Remajamengenai InformasiErotikaVariabel bebas:1. Intensitas Komunikasikeluarga2. konformitas peer groupVariabel terikat:1. Persepsi remajamengenai informasierotika1. Intensitas komunikasi keluargaberpengaruh positif terhadappersepsi remaja mengenaiinformasi erotika2. Konformitas peer groupberpengaruh positif terhadappersepsi remaja mengenaiinformasi erotika3. Intensitas komunikasi keluargadan konformitas peer groupberpengaruh terhadap persepsiremaja mengenai informasi erotika2 Yudha (2009) Hubungan IntensitasMenonton TayanganPornografi di Internet danInteraksi dengan PeerGroup terhadap PerilakuImitasi Remaja dalamPacaranVariabel bebas:1. Intensitas MenontonTayangan Pornografi diInternet (X1)2. Interaksi dengan PeerGroup (X2)Variabel terikat:Perilaku Imitasi Remajadalam Pacaran (Y)1. Terdapat hubungan antaraIntensitas Menonton TayanganPornografi di Internet denganPerilaku Imitasi Remaja dalamPacaran2. Terdapat hubungan antaraInteraksi dengan peer groupdengan Perilaku Imitasi Remajadalam Pacaran3 Anggarizaldy,(2007)Hubungan IntensitasMendengarkan ProgramAcara Skuldesak di RadioTRAX FM danPenggunaan Bahasa GaulOleh Penyiar SkuldesakRadio TRAX FM denganPerilaku Imitasi BahasaGaul Pada RemajaVariabel bebas:1. IntensitasMendengarkanProgram Skuldesak(X1)2. Penggunaan BahasaGaul oleh PenyiarSkuldesak (X2)Variabel terikat:Perilaku Imitasi BahasaGaul pada Remaja (Y)1. Terdapat hubungan positif antaraintensitas mendengarkan ProgramSkuldesak dengan Perilaku ImitasiBahasa Gaul pada Remaja2. Terdapat hubungan positif antarapenggunaan bahasa gaul olehpenyiar Skuldesak denganPerilaku Imitasi Bahasa Gaul padaRemajaHubungan antara Intensitas Menonton Sinetron Remaja dengan Perilaku Hedonis padaRemajaIntensitas menonton media televisi tidak hanya menyangkut apakah seseorang secara fisikcukup dekat dengan kehadiran media massa, tetapi apakah seseorang itu benar-benar terbukaterhadap pesan-pesan media tersebut. Intensitas menonton media televisi merupakan kegiatanmendengarkan, melihat, dan membaca pesan media massa atapun mempunyai pengalaman danperhatian terhadap pesan tersebut, yang dapat terjadi pada tingkat individu ataupun kelompok(Shore, 2005:26).Menurut pendapat Rosengren, penggunaan media terdiri dari jumlah waktu yangdigunakan dalam berbagai media, jenis isi media yang dikonsumsi, dan berbagai hubunganJurusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro Semarang4antara individu konsumen dengan isi media yang dikonsumsi atau dengan media secarakeseluruhan. Intensitas adalah banyaknya informasi yang diperoleh melalui media, yangmeliputi frekuensi, atensi dan durasi penggunaan pada setiap jenis media yang digunakan(Rakhmat, 2004:66). Dengan demikian intensitas menonton sinetron remaja adalah banyaknyainformasi yang diperoleh dari aktivitas menonton sinetron remaja di televisi, yang meliputi;frekuensi, atensi dan durasi penggunaan.Rogers (1996:192) mengatakan bahwa dampak sosial dari teknologi komunikasi baruadalah sesuatu yang diharapkan, tidak langsung dan memenuhi, sering bersamaan denganterjadinya dampak yang tidak diharapkan tidak langsung dan tidak memenuhi keinginan).Televisi memiliki efek secara hirarkis terhadap pemirsanya yaitu:1. Kognitif. Kemampuan pemirsa menyerap atau memahami acara yang ditayangkan televisiyang melahirkan pengetahuan bagi pemirsa. Remaja akan menyerap dan memahamiinformasi serta pesan-pesan yang mengandung nilai-nilai hedonis dari televisi, misalnyatentang bagaimana orang-orang berperilaku mewah, serba mudah dan serba instan, yangmana hal-hal tersebut akan menjadi semacam pengetahuan bagi siswa remaja.2. Afektif. Pemirsa dihadapkan pada trend aktual yang ditayangkan televisi. Dalam hal iniremaja akan meniru simbol, properties, gaya rambut, cara bergaul dan sebagainya, daribintang idola mereka di televisi.3. Overt behavior (perilaku). Proses tertanamnya nilai-nilai budaya hedonis dalam hal iniyang berkaitan dengan nilai-nilai hedonistik dalam kehidupan sehari-hari (Rakhmat,2004:57).Hubungan antara Interaksi Sosial Peer Group dengan Perilaku Hedonis pada RemajaProses terjadinya imitasi dalam interaksi sosial, sebagaimana dikatakan oleh Banduradalam Social Learning Theory (Teori Belajar Sosial) bahwa orang belajar dari yang lain,melalui observasi, peniruan, dan pemodelan. Teori belajar sosial ini banyak berbicara mengenaiperhatian, identifikasi, dan imitasi. Teori belajar sosial menjelaskan perilaku manusia dalam halinteraksi timbal balik yang berkesinambungan antara kognitif, perilaku, dan pengaruhlingkungan (Rakhmat, 2004:74)Teori belajar sosial dari Bandura juga menyatakan bahwa individu akan meniru perilakuorang lain jika situasinya sama dengan ketika peristiwa yang ditirunya diperkuat di masa lalu.Sebagai contoh, ketika seorang anak muda meniru perilaku orangtuanya atau saudara tuanya,imitasi ini sering diperkuat dengan senyuman, pujian, atau bentuk-bentuk persetujuan lain.Demikian juga, ketika anak-anak menirukan perilaku teman-temannya, bintang olah raga, atauselebritis, peniruan ini akan diperkuat dengan persetujuan teman sebayanya.Dalam penelitian ini model yang dimaksudkan dalam teori belajar sosial adalah di manasiswa akan belajar mengenai nilai-nilai sosial yang berkembang dari lingkungan temansebayanya, di mana jika lingkungan teman sebayanya menganut nilai hedonis, maka individulain yang terlibat dalam interaksi dalam peer group mencoba untuk melakukan perhatian,identifikasi dan imitasi, sehingga bilamana nilai hedonis tersebut sesuai dengan keinginannya,besar kemungkinan siswa akan belajar tentang nilai-nilai dan perilaku hedonis. Namun jikainteraksi dengan lingkungan teman sebayanya menganut nilai-nilai religius, maka besarkemungkinan individu akan memiliki nilai dan perilaku yang religius pula. Dalam hal ini,individu, khususnya siswa remaja yang masih berada dalam tahap transisi akan senantiasamencari jati dirinya sehingga menemukan apa yang dicarinya dari lingkungan sosial di manasiswa atau remaja tersebut menaruh respek. Dalam tinjauan literatur, lingkungan sosial primeryang berpengaruh terhadap sikap dan perilaku remaja antara lain; orangtua, lingkungan sekolahdan lingkungan teman sebaya (peer group). Semakin tinggi individu berinteraksi dengan peergroup, maka akan semakin tinggi pula tingkat kesesuaian perilakunya dengan nilai-nilai peergroup.Dari teori belajar sosial Bandura di atas maka dapat dikatakan bahwa lingkungan sosialyang primer dari individu akan mengajarkan pada para remaja untuk bersikap dan berperilakusebagaimana yang diyakini dan dipercayai oleh lingkungan sosial tersebut, di mana lingkunganJurusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro Semarang5sosial tersebut berasal dari teman sebaya dan media televisi. Dalam perspektif teori belajarsosial, remaja yang berada dalam transisi mengalami suatu fase yang dinamakan pencarian jatidiri, sehingga lingkungan sosial di mana remaja bergaul akan banyak mewarnai nilai dan sikaphidupnya, selain pengaruh dari orangtua dan sekolah. Perubahan ini apabila tidak mendapatkansuatu respon yang bijak dari segenap pengajar, orangtua dan lingkungan sosial di mana siswabertempat tinggal dikhawatirkan akan mampu mempengaruhi mental siswa kepada norma dannilai sosial yang menyimpang.Penyimpangan tersebut akan semakin kentara bilamana remaja bergaul dalam lingkunganpeer group yang menganut nilai dan paham hedonis, di mana secara perlahan-lahan proses jatidiri yang belum ditemukannya akan dicoba diaplikasikannya ke dalam peniruan sikap danperilaku yang dianut oleh kelompok peer groupnya. Nilai-nilai hedonis, seperti; caraberpakaian, assesories, properties, sarana dan prasarana, gaya hidup dan hobby yang dibawaoleh kelompok peer groupnya, secara perlahan akan diadopsi sebagai salah satu bagian darinilainya, dan di sini barangkali remaja berani mengatakan inilah proses pencarian jati dirinya,yaitu sebagaimana yang dilakukan sikap dan perilaku anggota peer group lainnya.Gambar 1Kerangka Pemikiran TeoritisHIPOTESIS1. Terdapat hubungan antara intensitas intensitas menonton tayangan sinetron remaja ditelevisi dengan perilaku hedonis pada remaja2. Terdapat hubungan antara interaksi sosial dengan peer group dengan perilaku hedonis padaremaja.DEFINISI OPERASIONAL1. Intensitas menonton tayangan sinetron remaja di televisi (X1), indikator:a. Frekuensi menonton tayangan sinetron remaja di televisib. Atensi, tingkat perhatian individu dalam menonton sinetron remaja di televisic. Durasi, lama waktu yang dihabiskan individu untuk menonton sinetron remaja ditelevisi.2. Interaksi dengan peer group (X2), akan diukur dengan indikator:a. Frekuensi, seberapa sering individu berinteraksi dengan peer group.b. Durasi, yaitu lamanya waktu yang dihabiskan individu setiap kali berinteraksi denganpeer groupc. Keteraturan, yaitu kontinuitas individu dalam berinteraksi dengan peer group-nya.d. Keterbukaan, yaitu kesediaan untuk membuka diri tentang informasi yang tersembunyimengenai diri sendiri terhadap anggota lain dalam peer groupe. Empathy, yaitu kemampuan untuk menempatkan diri pada posisi anggota lain di dalampeer group.f. Dukungan, yaitu sikap mendung yang terdiri dari sikap deskriptif, bersikap spontandan bersikap provisional dengan berpikiran terbuka serta bersedia mendengarpandangan yang berlawanan dengan anggota lain dalam peer group3. Perilaku hedonis pada remaja (Y), dengan indikator:a. Sikap (afektif), diukur dengan:1) Kecenderungan terhadap kemewahan2) Kecenderungan untuk berfoya-foya3) Kecenderungan terhadap kemudahanb. Perilaku (overt behavior), diukur dengan:Intensitas Menonton TayanganSinetron (X1)Perilaku Hedonis padaRemaja (Y)Interaksi dengan Peer Group(X2)Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro Semarang61) Tingkat menghindari kesukaran2) Tingkat pemuasan hasrat3) Tingkat pemenuhan keinginan4) Tingkat pemuasan hawa nafsuMETODE PENELITIANTipe PenelitianPenelitian yang akan dilakukan merupakan penelitian eksplanatori (pengujian hipotesis).Populasi dan Sampel1. PopulasiPopulasi penelitian adalah seluruh siswa kelas X dan XI SMA Negeri 1 Semarang,sebanyak 334 siswa2. Sample sizeDengan rumus Yamane diketahui sample size sebesar 77 responden.Alat dan Teknik Pengumpulan DataSebagai alat atau instrumen pengumpulan data dalam penelitian ialah kuesioner yangdibagikan kepada responden untuk diisi jawabannya dengan bantuan teknik wawancara.Teknik Analisis DataTeknik analisis data akan berupa:1. Analisis deskriptifDalam analisis kualitatif atau deskriptif adalah penyajian deskripsi temuan penelitiansecara naratif dengan bantuan tabel frekuensi (tabel univariat) dan tabel silang (tabelmultivariat).2. Analisis inferensialAnalisis kuantitatif atau inferensial akan digunakan untuk pengujian hipotesispenelitian. Dalam penelitian ini menggunakan rumus korelasi rank Kendall.HASIL PENELITIAN1. Temuan Deskriptif (kualitatif)a. Sebagian besar responden tergolong memiliki intensitas menonton tayangan sinetronremaja di televisi menengah ke bawah. Fenomena seperti ini memberikan arahanbahwa secara umum tayangan sinetron remaja di televisi kurang diminati olehkalangan remaja. Hal ini dikarenakan sinetron dimaksud memiliki jam tayang yangbersamaan dengan aktivitas responden yang lain, seperti; saat bersantai bersamakeluarga, bersama teman, jalan-jalan ke tempat hiburan, mall, juga belajar dan lainsebagainya.b. Tingkat interaksi sosial dalam peer group pada responden tergolong menengah ke atas.Tingginya tingkat interaksi sosial tersebut disebabkan adanya perasaan kebersamaan,baik dalam perkembangan psikologis, sosial, edukatif maupun ekonomi, sehinggamenjadi daya perekat sosial di antara mereka. Fenomena ini memberikan arahan bahwawalaupun secara fisik, intensitas pertemuan dan komunikasi berlangsung tinggi, namundalam aspek afektif dan behavior, bentuk ikatan sosial antara anggota kelompok dalampeer group tergolong masih kurang, yang dikarenakan adanya keterbatasansosiopsikologis pada masing-masing anggota akibat adanya kepentingan dankebutuhan yang bersifat individual dan sosial, seperti masih adanya kebutuhan untukberinteraksi dengan lingkungan keluarga dan lingkungan sosial di luar lingkungan peergroup.c. Temuan memperlihatkan sebagian besar responden tergolong memiliki perilakuhedonis tingkat menengah ke atas. Adanya kecenderungan semacam ini dikarenakanpada responden ditemukan tentang tingginya sikap menghindari kesulitan, tingginyakecenderungan untuk mencari kemudahan, adanya kecenderungan pada individu untukJurusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro Semarang7menggunakan bantuan orang lain apabila mengalami kesulitan. Pilihan-pilihan sikapresponden tersebut merupakan karakteristik perilaku hedonis, di mana perilakuindividu yang memiliki kecenderungan untuk bermegah-megah, kehidupan mewahdengan mengesampingkan kerja keras, tekun dan giat dalam meraihnya.2. Temuan Inferensial (Kuantitatif)a. Berdasarkan uji hipotesis penelitian di atas, menunjukkan bahwa hipotesis penelitianditerima. Hal ini dapat ditunjukkan dari hasil penelitian yang diperoleh pada koefisienkorelasi Kendall antara intensitas menonton tayangan sinetron remaja di televisi (X1)dengan perilaku hedonis remaja (Y) sebesar -0,1331 dan setelah ditransformasikan kedalam rumus Z menghasilkan nilai Z sebesar -1,713. Hasil konsultasi memperlihatkanbahwa nilai Z-hitung -1,713 > nilai Z-tabel5% -1,64, sehingga Ho ditolak dan Haditerima pada taraf kepercayaan 95 persen. Dengan demikian, hipotesis yangmenyatakan terdapat hubungan antara intensitas menonton tayangan sinetron remajatelevisi dengan perilaku hedonis remaja dapat diterima. Hal ini dapat dikatakan bahwaketika individu mempunyai intensitas menonton tayangan sinetron remaja di televisitinggi, maka berpotensi menurunkan perilaku hedonis remaja yang bersangkutan.Begitu juga sebaliknya, ketika intensitas menonton tayangan sinetron remaja di televisirendah, maka akan berpotensi menaikkan perilaku hedonis remaja yang bersangkutan.b. Dari perhitungan manual ditemukan koefisien  sebesar -0,2608 yang menghasilkannilai Z sebesar -3,356. Sedangkan nilai Z-tabel (lihat lampiran-7) pada tarafsignifikansi 5% (Zt5%) sebesar |-1,64|, sehingga hasil konfirmasi antara kedua nilai Ztersebut memperlihatkan nilai Z-hitung |-3,356| > Zt5% |-1,64|, sehingga hipotesispenelitian (Ha) diterima pada taraf signifikansi 5%. Dengan demikian antara interaksipeer group dengan perilaku hedonis remaja terdapat hubungan yang sangat signinikan.Variabel intensitas sosial peer group secara statistik berhubungan negatif denganperilaku hedonis siswa SMA di Semarang. Semakin tinggi interaksi sosial peer group,semakin rendah perilaku hedonis pada siswa. Hasil perhitungan statistik ini bersesuaiandengan temuan berdasarkan analisis tabel silang. Fenomena semacam ini memilikimakna bahwa interaksi sosial peer group dengan dengan segala dinamika sosialekonomi dan budaya, justru berpotensi menurunkan sikap dan perilaku hedonis siswaremaja yang bersangkutan.3. Diskusia. Implikasi TeoritikDari hasil hubungan variabel intensitas menonton sinetron remaja di televisiberhubungan negatif dengan perilaku hedonis remaja, memberikan arahan ketikaremaja mempunyai intensitas menonton sinetron remaja di televisi yang tinggi, secaraotomatis dapat dikatakan bahwa waktunya untuk merealisasikan (manifestasi) perilakuhedonis menjadi berkurang, karena adanya aktivitas lain pada waktu yang bersamaandengan spasial yang berbeda. Hal ini sejalan dengan pendapat Rakhmat yangmengatakan bahwa intensitas menonton adalah banyaknya informasi yang diperolehmelalui media, yang meliputi frekuensi, atensi dan durasi penggunaan pada setiap jenismedia yang digunakan (Rakhmat, 2004:66). Intensitas menonton sinetron remajaadalah banyaknya informasi yang diperoleh dari aktivitas menonton sinetron remaja ditelevisi, yang meliputi; frekuensi, atensi dan durasi penggunaan.Terbuktinya hipotesis penelitian ini, mengasumsikan ketika ada remajamengalami intensitas menonton sinetron remaja di televisi yang tinggi, maka otomatisremaja yang bersangkutan alam memiliki perilaku hedonis yang tinggi pula, namundemikian hasil dari penelitian ini tidak menyatakan demikian, justru sebaliknya, dimana semakin tinggi intensitas menonton sinetron remaja di televisi, maka akansemakin rendah perilaku hedonis pada remaja. Peneliti melakukan kemungkinankemungkinanyang terjadi ketika hasil penelitian ini menyatakan bahwa intensitasmenonton tayangan sinetron di televisi berhubungan negatif dengan perilaku hedonisJurusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro Semarang8remaja. Peneliti menarik kembali teori yang digunakan untuk menjelaskan hubunganantara keduanya, yaitu hirarki efek media, di mana pertemuan media dengan khalayakakan berlangsung dalam tiga tingkatan (level) intensitas, yaitu; kognitif, sikap dan overbehavior. Dalam ketiga level (tingkatan) ini terdapat salah satu faktor yangmempengaruhi perilaku hedonis tersebut terjadi. Menurut hirarki efek dan teori belajarsosial (yang digunakan untuk menjelaskan hubungan antara interaksi peer groupdengan perilaku hedonis remaja) bahwa kita belajar tidak hanya dari pengalamanlangsung tetapi dari peneladanan atau peniruan, dibuktikan dalam hubungan keduavariabel ini. Televisi bukan salah satu faktor penentu lingkungan yang kuat dalammunculnya perilaku hedonis. Remaja tidak hanya melakukan peniruan dari televisisaja, walaupun dalam penelitian ini menyatakan bahwa televisi berkorelasi negatifdengan perilaku hedonis remaja. Faktor lingkungan lain seperti keluarga juga menjadipenentu dalam proses perilaku hedonis.Berdasarkan kajian yang telah diuraikan di atas, maka dapat dimaknai bahwahubungan yang timbul akibat adanya tayangan sinetron di televisi dengan perilakuhedonis remaja dapat berupa pengaruh positif dan negatif. Mereka dapat terpengaruhke arah yang positif atau ke arah yang negatif tergantung pada pribadi masing-masingdari remaja tersebut. Sinetron di televisi berpengaruh terhadap remaja karenakemampuan menciptakan kesan dan persepsi bahwa suatu muatan dalam layar kacamenjadi lebih nyata dari realitasnya, sehingga mereka ingin mencoba apa yang merekalihat di televisi itu agar dapat disebut sebagai remaja gaul di lingkungannya.Implikasi teoritik yang bisa diajukan adalah karena hubungan menonton sinetronremaja di televisi dengan perilaku hedonis negatif, maka memunculkan pemikiranbahwa pertemuan antara anak dengan media massa (khususnya saat menonton remajadi televisi), diduga tidak lebih hanya dimanfaatkan untuk mengetahui trend dan gayahidup populer di kalangan remaja perkotaan, yang sekaligus dianggap sebagai aktivitaskatarsis atas rutinitas anak (siswa) terhadap tingkat kepadatan proses belajar belajar disekolah. Hal ini sejalan dengan ditandai semakin banyaknya aktivitas ekstra kurikulerdan pelajaran tambahan yang seringkali membuat anak (remaja) menjadi bosan(boring).b. Implikasi praktisImplikasi praktis dari hasil penelitian adalah terlepas dari besar kecilnyapengaruh yang disebabkan oleh tayangan sinetron remaja di televisi yang saratmengumbar sikap dan perilaku hedonis, maka optimalisasi peranan keluarga dalammembentengi anak remajanya mutlak semakin ditingkatkan. Hal ini bisa dilakukansalah satunya adalah melalui pendampingan yang selalu disertai dengan diskusi antaraorangtua dengan anak remaja, terkait dampak perilaku hedonis bagi pencapaian masadepan anak remaja yang bersangkutan. Dalam hal ini maka intensitas komunikasiantara anak remaja dengan orangtua bukan saja optimal pada saat melakukanpendampingan, akan tetapi bisa juga dilakukan melalui media-media lainnya, seperti;saat makan bersama, saat berwisata, bersantai dan forum komunikasi interpersonallainnya, yang sudah barang tentu diikuti adanya peningkatan perhatian orangtuaterhadap kebutuhan dan kepentingan studi anaknya.c. Implikasi SosialDengan terbuktinya hipotesis penelitian, implikasi sosial yang bisa diambiladalah tayangan sinetron remaja di televisi memang memiliki potensi destruktif(merusak) bilamana khalayak mengalami terpaan yang sangat tinggi, dalam artipertemuan antara dengan tayangan dimaksud berlangsung dalam intensitas yang sangattinggi. Namun bilamana pertemuan tersebut hanya berlangsung dalam durasi yangrelatif singkat (pendek), apalagi selama menonton diselingi dengan seringnyamelakukan pergantian channel televisi, potensi merusak dari tayangan sinetron remajadi televisi dinilai masih sangat lemah. Namun demikian, sinyalemen dari Titi Said,tetap relevan untuk dicermati, khususnya bagi pendidik, orangtua, pemerhati sosial,Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro Semarang9tokoh masyarakat dan tokoh agama, untuk senantiasa mewaspadai bahaya dari isitayangan sinetron remaja di televisi tersebut, yang dalam hal ini lebih intensif dalammemberikan pembinaan, pengertian dan pemahaman kepada putra-putrinya untuk tidakterlalu mempercayai kebenaran tayangan sinetron dimaksud, berikut content-contentdestruktif yang terkandung.Bandura dalam Rakhmat (2004) juga menjelaskan bahwa perilaku, lingkungandan individu itu sendiri saling berinteraksi satu dengan yang lain. Hal ini berartiperilaku individu dapat mempengaruhi individu itu sendiri, di samping itu perilakujuga berpengaruh pada lingkungan, demikian pula lingkungan dapat mempengaruhiindividu, demikian sebaliknya (Walgito, 2003:15). Bilamana berbicara peer group ituadalah panutan, maka ini menyangkut hubungan antara perilaku peer group dengananggotanya, peer group dijadikan model bagi anggotanya, apalagi anggota dalamkelompok umumnya para remaja.PENUTUP1. Kesimpulana. Terdapat hubungan negatif antara intensitas intensitas menonton tayangan sinetronremaja di televisi dengan perilaku hedonis pada remaja.b. Terdapat hubungan negatif antara interaksi sosial dengan peer group dengan perilakuhedonis pada remaja.2. Sarana. Saran AkademisDalam rangka mengurangi atau bahkan mengeliminasi perilaku hedonis pada remaja,seharusnya intitusi televisi swasta tetap menyelenggarakan atau menayangkan acarasinetron remaja di saat prime time, agar supaya perhatian remaja untuk menontonyatetap rendah.b. Saran SosialLingkungan sosial primer siswa merupakan pengaruh utama, maka upayapembentukan sikap dan perilaku remaja dalam berbagai aspekdan isu, sebaiknya disosialisasikan melalui kelompok peer group, karena akanmendapatkan perhatian dan respon yang positif.c. Saran PraktisLingkungan sosial di mana remaja itu bergaul akan banyak mewarnai nilai dan sikaphidupnya, selain pengaruh dari orangtua dan sekolah. Perubahan ini apabila tidakmendapatkan suatu respon yang bijak dari segenap pengajar, orangtua dan lingkungansosial di mana siswa bertempat tinggal dikhawatirkan akan mampu mempengaruhimental siswa kepada norma dan nilai sosial yang menyimpang. Penyimpangantersebut akan semakin terlihat bilamana remaja bergaul dalam lingkungan peer groupyang menganut nilai dan paham hedonis, di mana secara perlahan-lahan proses jati diriJurusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro Semarang10yang belum ditemukannya akan dicoba diaplikasikannya ke dalam peniruan sikap danperilaku yang dianut oleh kelompok peer groupnya.DAFTAR PUSTAKAAmalia, Lia. (2009). Mitos Cantik di Media. STAIN Press. Ponorogo.Azwar, Saefuddin. (2008). Sikap Manusia: Teori dan Pengukurannya. Pustaka Pelajar.Yogyakarta.Haryatmoko. (2007). Etika Komunikasi: Manipulasi Media, Kekerasan dan Pornografi. Kanisius.Yogyakarta.Hujbers, Theo. (1992). Filsafat Hukum dalam Lintasan Sejarah. Kanisius. Yogyakarta.Liliweri, Alo. (2001). Komunikasi Massa dalam Masyarakat. Citra Aditya Bakti. Bandung.Littlejohn, Stephen W. (2004). Theories of Human Communication. Fairfield Graphics.California.Marwan. (2008). Dampak Siaran Televisi terhadap Kenakalan Remaja. Yayasan Kanisius.Yogyakarta.Mc Quail, Denis. (1997). Teori Komunikasi Massa, Suatu Pengantar, Erlangga, Jakarta.Mulyana, Deddy. (2007). Ilmu Komunikasi, Suatu Pengantar. Remaja Rosdakarya. Bandung.Rakhmat, Jalaluddin. (2004). Psikologi Komunikasi, Remaja Rosdakarya. Bandung.Shore, Larry. (2005). Mass Media For Development A Rexamination of Acces, Exposure andImpact, Communication The Rural Third World. Preagur. New York.Soekanto, Soerjono. (2002). Sosiologi suatu Pengantar. Rajawali Press. Jakarta.Surbakti, EB. (2008). Sudah Siapkah Menikah?. Elek Media Komputindo. Jakarta.Tubbs, Stewart L & Moss, Sylvia, (1996). Human Communication. Remaja Rosdakarya.Bandung.Walgito, Bimo. (2003). Psikologi Sosial. Andi Offset. Yogyakarta.Walgito, Bimo. (2004). Pengantar Psikologi Umum. Andi Offset. Yogyakarta.Muhyidi, Muhammad. (2004) Remaja Puber di Tengah Arus Hedonis. Mujahid Press. Bandung.Jurnal dan Artikel IlmiahAyuningtias, Prasdianingrum. (2013). Pesan Hedonisme dalam Film Layar Lebar “Realita Cinta& Rock N’Roll” eJournal lmu Komunikasi, 2013, 1 (2): 14-27 ISSN 0000-0000,ejournal.ilkom.fisip-unmul.org.Liandra, Dwi Tasya. (2013). Pengaruh Televisi Publik dan Swasta terhadap Perilaku Remaja.Skripsi. Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat-FakultasEkologi Manusia Institut Pertanian Bogor.Oetomo, R. Koesmaryanto. (2013). Pengaruh Tayangan Sinetron Remaja di Televisi terhadapAnak. Artikel Ilmiah. Departemen Sains Komunikasi dan PengembanganMasyarakat-Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor.

Komunikasi Antarpribadi Guru Dalam Membangun Kemandirian Anak Berkebutuhan Khusus (Studi Kasus Pada Siswa Tunarungu di SLB Negeri Semarang)

Interaksi Online Vol 1, No 4 (2013): Wisuda Oktober
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

1Komunikasi Antarpribadi Guru Dalam Membangun Kemandirian AnakBerkebutuhan Khusus(Studi Kasus Pada Siswa Tunarungu di SLB Negeri Semarang)Summary PenelitianDisusun untuk memenuhi persayaratan menyelesaikanPendidikan Strata 1PenyusunNama : Anindya Ratna PratiwiNIM : D2C309008JURUSAN ILMU KOMUNIKASIFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS DIPONEGORO2013ABSTRAK2JUDUL : KOMUNIKASI ANTARPRIBADI GURU DALAMMEMBANGUN KEMANDIRIAN ANAK BERKEBUTUHANKHUSUS (STUDI KASUS PADA SISWA TUNARUNGU DI SLBNEGERI SEMARANG)NAMA : ANINDYA RATNA PRATIWITunarungu merupakan bagian dari kelompok anak berkebutuhan khusus,dimana mereka memiliki hambatan dalam hal pendengarannya. Ketidakmampuantunarungu dalam mendengar mengakibatkan terhambatnya perkembangan berbagaiaspek dalam kehidupannya, seperti bahasa dan bicara, intelegensi, emosi, maupunsosialnya. Keterbatasan yang mereka miliki menimbulkan rasa kekhawatirantersendiri baik pada diri anak tunarungu, orangtua dan lingkungan terdekatnya dalamhal kemandiriannya, baik dalam hal bina diri hingga kemandirian dalam halpemenuhan kebutuhannya di masa depan.Fokus penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan gambaran fenomenakomunikasi antarpribadi guru dengan siswa tunarungu di SLB Negeri Semarang.Selain itu juga untuk mengetahui kegiatan komunikasi antarpribadi guru dengansiswa tunarungu dalam membangun kemandirian mereka.Penelitian kualitatif ini menggunakan paradigma post-positivistik dengan tipepenelitian deskriptif. Metode penelitiannya memakai Studi Kasus yang mengacu padaYin (2006) dengan analisis perjodohan pola. Data diperoleh dari hasil wawancarasecara mendalam pada enam informan, yakni satu orang Kepala sekolah, satu orangguru tunarungu, dua dari orangtua siswa tunarungu, serta dua orang informan anaktunarungu, kemudian data dilengkapi dengan hasil observasi yang dilakukan olehpeneliti. Teori utama dalam penelitian ini yakni Social Penetration Theory (SPT) atauTeori Penetrasi Sosial.Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa komunikasi antarpribadi yangefektif dirasa penting untuk diterapkan dalam aktifitas mengajar guru pada siswaberkebutuhan khusus. Komunikasi antarpribadi yang mampu berjalan efektif, dapatmewujudkan perasaan akrab (intimated) antara kedua belah pihak. Selain itu,komunikasi antarpribadi juga mampu menunjukkan perasaan kasih sayang danperhatian guru kepada siswanya, yang mampu menyentuh sisi emosional sehinggasiswa dengan kebutuhan khusus ini tidak merasa dikesampingkan. Perasaan positif inidapat memacu semangat belajar siswa dan dapat mempermudah penyerapan materidari guru, dalam hal ini terkait pembelajaran kemandirian.Kata Kunci : tunarungu, komunikasi antarpribadi, penetrasi sosial.3ABSTRACTTeacher’s Interpersonal Communication in A Special Needs Students to BuildSelf Reliance(Case Study on Deaf Students in SLB N Semarang)Deaf is part of a group of children with special needs, where they have a bottleneck interms of hearing. Inability of the deaf hear, resulting in inhibition of the developmentof various aspects of their lives, such as speech and language development,intelligence, emotional, and social. Limitations they have cause a sense of its ownconcerns both in children with hearing impairment, the parent and its immediateenvironment in terms of independence, both in terms of building themselves up toindependence in fulfilling their needs in the future.The focus of this study was to describe the picture of the phenomenon ofinterpersonal communication between teacher with the deaf students in SLB NegeriSemarang. In addition, to determine teacher’s interpersonal communication activitieswith the deaf students to build self reliance of them.This qualitative study using post-positivistic paradigm with descriptive type. Casestudy research methods used referring to Yin (2006) the analysis of mating patterns.Data obtained from in-depth interviews with six informants, are one principal, oneteacher deaf, two of deaf parents, and two informants deaf children, then the datafurnished by the observations made by the researcher. The main theory in this studynamely, Social Penetration Theory (SPT) or Social Penetration Theory.Results of this study illustrate that effective interpersonal communication isconsidered important to apply in teaching activities of teachers on students withspecial needs. Interpersonal communication that is able to run effectively, can realizea familiar feeling (intimated) between the two sides. In addition, interpersonalcommunication is also able to show feelings of affection and attention from theteacher to the students, who are able to touch the emotional side so that students withspecial needs do not feel excluded. These positive feelings can spur studentsenthusiasm for learning and to facilitate the absorption of material from the teacher,in this case related to learning independence.Keywords: deaf, interpersonal communication, social penetration.41. PendahuluanBanyak orang yang beranggapan bahwa berkomunikasi itu merupakan hal yangmudah. Namun, seseorang akan tersadar ketika komunikasi yang dihadapimengalami hambatan. Situasi tersebut menjadi rumit karena seseorang tidakberhasil menyampaikan maksudnya kepada lawan bicaranya (komunikan)sehingga proses komunikasi berjalan tidak efektif. Proses komunikasi yangterhambat seperti demikian seringkali terjadi pada interaksi komunikasi yangmelibatkan anak berkebutuhan khusus.Anak berkebutuhan khusus sama halnya dengan anak normal lainnya yangakan memasuki masa remaja kemudian menuju kedewasaan penuh. Perubahananak menuju dewasa ini menuntut peran orangtua dan orang terdekatnya untukmembentuk anak menjadi pribadi mandiri.Perkembangan kemandirian mereka, khususnya pada tunarungu inilah yangmenjadi kekhawatiran orangtua. Hal ini mengingat kemandirian menjadi aspekyang teramat penting sebagai bekal masa depannya sehingga individu mampumelaksanakan tugas hidup dengan tanggungjawab, berdasarkan norma yangberlaku. Kemandirian (self relliance) sendiri merupakan kemampuan untukmengelola semua milik kita, tahu bagaimana mengelola waktu, dapat berjalandan berpikir secara mandiri, disertai dengan kemampuan untuk mengambil resikodan memecahkan masalah (Deborah,2005:226).Pendidikan khusus diperlukan anak-anak berkebutuhan khusus untukmengontrol perkembangan emosional dan melatih kemandirian anak secara lebihintensif disertai materi pembelajaran yang lebih terarah. Pendidikan khusus yangbermutu baik sangat diharapkan ketersediannya mengingat angka anakberkebutuhan khusus di Indonesia terus meningkat. Untuk tunarungu jumlahnyasudah mencapai angka 2.547.626 jiwa.Salah satu sekolah pendidikan khusus yang patut dijadikan contoh yakniSLB Negeri Semarang, yang dikenal unggul mencetak siswa-siwa berkebutuhankhusus yang berprestasi. SLB negeri Semarang kini juga menjadi rintisan sekolah5bertaraf internasinal. Prestasi SLB Negeri Semarang sudah dikenal hinggatingkat Nasional. Bahkan, beberapa kali masuk dalam pemberitaan medianasional.Dalam lingkungan sekolah, aktifitas komunikasi antarpribadi terutamaantara guru dengan siswa sangat berperan penting. Johnson (1981) menunjukkanbeberapa peranan yang disumbangkan oleh komunikasi antarpribadi dalamrangka menciptakan kebahagiaan hidup manusia. Identitas atau jati diri seseorangjuga terbentuk lewat komunikasi dengan orang lain dan ternyata kesehatanmental seseorang ditentukan oleh kualitas komunikasi atau hubungannya denganorang lain (Supraktiknya,1995:9). Meskipun, dalam perkembangan anaktunarungu sendiri, keluarga yang mendukung kemajuan perkembangan siswajuga berpengaruh dalam pembentukan kemandiriannyaMelihat pentingnya kualitas komunikasi antarpribadi, maka peran gurutunarungu bukan sekedar mengajar dan menuntaskan kurikulum, melainkan jugabagaimana menjalin kualitas komunikasi yang baik dengan siswa tunarugu danmembantunya untuk berkomunikasi secara lebih baik sehingga prosespembentukan kemandirian pada diri siswa dapat lebih mudah tercapai.Dari uraian tersebut, kemudian menjadi hal yang menarik untuk ditelitibagaimana komunikasi antarpribadi guru tunarungu dalam membangunkemandirian siswa tunarungu di SLB Negeri Semarang.2. Batang Tubuh2.1. Penetrasi sosial dalam komunikasi antarpribadiKomunikasi antarpribadi (interpersonal communication) adalahkomunikasi antara individu-individu). Sedangkan pendapat Deddy Mulyana(2008 : 81) bahwa komunikasi antarpribadi memungkinkan setiap pesertanyamenangkap reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal maupunnonverbal (Suranto, 2011 : 3).6Teori penetrasi sosial kemudian digunakan peneliti untuk menjelaskanhubungan dalam konteks komunikasi antarpribadi yang terjadi antara gurudengan siswa berkebutuhan khusus tunarungu di SLB Negeri Semarang. Teori inimerupakan bagian dari teori pengembangan hubungan atau relationshipdevelopment theory. Teori ini dikembangkan oleh Irwin Altman and DalmasTaylor. Menurut Irwin dan Dalmas, komunikasi adalah penting dalammengembangkan dan memelihara hubungan-hubungan antarpribadi.Altman dan Taylor (1973) dalam teori penetrasi sosial menjelaskan secaraterperinci peran dari pengungkapan diri, keakraban, dan komunikasi dalampengembangan hubungan antarpribadi. Selanjutnya teori mereka menjelaskanperan variabel-variabel ini dalam terputusnya hubungan - tidak adanya penetrasi.(Budyatna dan Leila, 2011: 225-226).Terdapat beberapa asumsi yang dianut Social Penetration Theory (SPT).Asumsi –asumsinya yakni, 1) perkembangan hubungan dari tidak intim menujuke hubungan yang intim. Asumsi berikutnya, 2) perkembangan hubunganumumnya sistematis dan dapat diramalkan. Asumsi yang terakhir adalah 4)pengungkapan diri (self disclosure) adalah inti dari sebuah perkembanganhubungan. Dalam proses penetrasi sosial hubungan antara guru dengan siswatunarungu, mengenai proses perkembangan hubungan dan pengungkapan diri(self disclosure) merupakan dua bagian penting yang perlu dipahami denganlebih mendalam (West dan Turner, 2007:187).2.2. Subyek penelitianDalam penelitian ini yang akan menjadi subyek penelitian adalah pihak-pihakyang berhubungan dengan penelitian ini termasuk yang berperan dalam7pembentukan kemandirian pada siswa tunarungu. Subjek penelitian inimencakup informan-informan penelitian yang terdiri dari 1) Kepala sekolahsejumlah satu orang. 2) Guru sejumlah satu orang, yakni satu dari guru pengajarsetingkat SMP pada kelas B (tunarungu). 3) Orangtua murid (ayah/ibu) denganjumlah dua orang informan, yakni satu dari orangtua tunarungu yang tinggal diasrama SLB N Semarang dan satu lagi dari orangtua tunarungu yang tidaktinggal di asrama (tinggal dirumah orangtua). 4) siswa/siswi sejumlah dua orangyang terdiri dari siswa SMP tunarungu yang tinggal di asrama dan siswatunarungu yang tinggalnya bersama orangtuanya dirumah. Keduanya termasuktunarungu golongan berat hingga sangat berat.2.3. Metodologi PenelitianTipe penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan metode studi kasus danpendekatan penelitiannya menggunakan post-positivistik. Sedangkan untuk jenispenelitiannya adalah penelitian deskriptif. Penelitian ini menggunakan metodepenelitian dengan tipe studi kasus (case study), dimana studi kasus merupakanstrategi yang lebih cocok bila pokok pernyataan suatu penelitian berkenaandengan how atau why (K.Yin, 2006 : 1).2.4. TemuanDalam penelitian ini, diketahui bahwa siswa tunarungu umumnya belum bisabersikap terbuka terhadap gurunya. Ada beberapa faktor yang mempengaruhiketerbukaan pada diri anak tunarungu, yakni : 1) minimnya jumlahperbendaharaan kosakata yang dimiliki. Semakin minim jumlah kosakata yangdimiliki, semakin sulit mengungkapkan perasaannya terutama komunikasinyasecara verbal, sedangkan siswa tunarungu yang kosakatanya cukup banyak akanlebih aktif berkomunikasi dan mudah menceritakan isi hati atau permasalahanyang dialami. 2) Tipe karakter kepribadian anak tunarungu. Siswa tunarunguyang karakternya introvert akan cenderung menyimpan masalah yang dimiliki8dibandingkan dengan dengan tipe kepribadiannya ekstrovert. Namun dalampenelitian ini, informan dengan tipe ekstrovert ternyata enggan juga untukbercerita dengan gurunya, 3) Penilaian siswa tunarungu terhadap guru. Guruyang dinilai kurang sabar dan mudah marah pada siswa mampu mempengaruhisikap keterbukaannya, karena timbul rasa ketidaknyamanan, 4) Kedekatan gurudengan siswanya. Semakin baik dan harmonis hubungan guru dengan siswanya,maka siswa akan mudah bercerita apa saja tentang dirinya tanpa harus dimintaatau ditanya.Komunikasi antarpribadi yang berlangsung efektif antara guru dengansiswa tunarungu dapat mendukung terwujudnya kemandirian siswa. Tunarungudikatakan mandiri apabila mampu berkomunikasi dengan baik, dapat hidupberdampingan dengan orang lain, dan kelak mampu memenuhi kebutuhannyasendiri.Faktor yang mendukung terbentuknya kemandirian siswa yakni kemauananak untuk belajar, dukungan positif dari orangtua serta guru, fasilitas sekolahyang mendukung, serta komunikasi yang baik antara orangtua dengan pihaksekolah. Sedangkan faktor penghambat kemandirian siswa tunarungu yakni anakyang tidak semangat belajar atau malas belajar, orangtua yang tidak pedulidengan perkembangan anak, fasilitas sekolah yang tidak mendukung, serta guruyang tidak mendukung perkembangan kemandirian siswa dan tidak mampumengontrol kesabarannya.3. Penutup3.1 Implikasi TeoretisDalam SPT (Social Penetration Theory), hubungan dapat mengalamiperkembangan dari tidak intim menjadi intim. Seiring berjalannya waktu, suatuhubungan antarpribadi berpeluang menjadi intim. Meskipun tidak semua9hubungan secara ektrim bergerak dari tidak intim menjadi intim. Namun,seringkali sebuah hubungan berada diantara kedua kutub keintiman tersebut,dalam artian hubungannya dekat tapi tidak terlalu dekat (sedang).Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan antara guru denganinforman siswa tunarungu belum berada pada tahap intim atau belum akrab. Halini dinilai berdasarkan sikap keterbukaan diri (self disclosure) siswa tunarungukepada gurunya. Menurut West dan Turner (2007:187), pengungkapan diri (selfdisclosure) adalah inti dari perkembangan hubungan.Keengganan dalam mengungkapkan diri dapat dikarenakan faktorkepribadian dari masing-masing individu. Individu yang introvert biasanyajarang berinteraksi dengan orang lain, cenderung diam dan lebih senangmenyendiri. Seorang yang introvert biasanya hanya berbicara seperlunya danhanya ingin berbicara mengenai apa yang memang ingin mereka bicarakan.Sedangkan individu dengan tipe kepribadian ekstrovert cenderung lebihmenyukai interaksi dengan banyak orang, dan tidak nyaman dengan suasana sepiserta lebih aktif berbicara (Suranto,2011 :158-159).Namun perlu dipahami bahwa berkomunikasi dengan tunarungu tidaksemudah dengan anak normal. Ketidakterbukaan pada anak tunarungu ini dapatpula disebabkkan karena kemampuan komunikasi yang rendah karena minimnyaperbendaharaan kosakata yang dimiliki sehingga timbul kecemasan dalam diritunarungu untuk berkomunikasi, terutama dengan orang lain yang normal karenabiasanya seorang tunarungu kesulitan berkomunikasi secara verbal. Kecemasanberkomunikasi (communication apprehension) ini dapat menyebabkan sikapkeengganan untuk mengungkapkan atau membuka diri. Orang yang apprehensifdalam komunikasi, akan menarik diri dari pergaulan, berusaha sekecil mungkinberkomunikasi, dan hanya akan berbicara apabila terdesak saja (Jalaluddin,2007 :109).Jika dilihat dari komunikasi nonverbal, yang paling sering dipakaiinforman I dalam aktifitas pembelajaran di sekolah antara lain dengan bahasa10isyarat tangan, gerakan mulut, ekspresi wajah, kontak mata, serta gerakan tubuhlainnya berbarengan dengan komunikasi verbalnya. Gerakan tubuh inidinamakan kinesics. Kinesics merupakan suatu nama teknis bagi studi mengenaigerakan tubuh yang digunakan dalam komunikasi. Gerakan tubuh (kinesics)antara lain kontak mata, ekspresi wajah, gerak-isyarat, postur atau perawakan,dan sentuhan (Budyatna dan Ganiem, 2011 :125).3.2 Implikasi PraktisKajian komunikasi terutama pada komunikasi antarpribadi memilikiberbagai manfaat dalam pendidikan anak berkebutuhan khusus. Dalam aktifitaspembelajaran yang melibatkan aspek komunikasi antarpribadi, mampu lebihmenyentuh sisi emosional mereka, sehingga siswa tidak merasa dikesampingkan,serta dapat merasakan kasih sayang orang-orang disekitarnya. Komunikasiantarpribadi oleh diharapkan juga dapat membantu mempengaruhi sikap danperilaku anak berkebutuhan khusus, agar lebih mandiri sebagai bekal hidupnyadi masa depan.Penelitian ini selain diharapkan berguna untuk media kajian komunikasibagi SLB, juga diharapkan mampu bermanfaat sebagai media kajian komunikasibagi orangtua yang membutuhkan informasi berkaitan dengan model komunikasipembelajaran untuk anak berkebutuhan khusus, secara lebih khususnya padaanak tunarungu.3.3 Implikasi SosialSecara sosial, penelitian ini diharapkan mampu memberikan gambaranpada masyarakat yang masih memandang rendah anak berkebutuhan khusus agartidak lagi meremehkan mereka, karena setiap orang yang terlahir di dunia pastimemiliki kelebihan serta kekurangan masing-masing. Selain itu, diharapkan bagimasyarakat, keluarga serta lingkungan disekitar anak berkebutuhan khusus ini,11untuk tidak melakukan tindakan diskriminasi terhadap mereka dalam pemenuhanhaknya, mengingat, setiap manusia memiliki derajat yang sama di mata Tuhan.12Daftar PustakaAw, Suranto. (2011). Komunikasi Interpersonal. Yogyakarta : Graha IlmuBudyatna, Muhammad dan Leila Mona Ganiem.(2011). Teori KomunikasiAntarpribadi. Jakarta : Kencana Prenada Media GroupMulyana, Deddy.(2005). Ilmu komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: PT.Remaja RosdakaryaParker, Deborah.(2005). Menumbuhkan Kemandirian Dan Harga Diri Anak.Jakarta: Prestasi PustakarayaRichard West, dan Lynn H. Turner. (2007). Introducing Communication Theory :analysis and application Third Edition. New York: The McGraw-Hillcompanies, IncSupratiknya. (1995). Komunikasi Antarpribadi Tinjauan Psikologis. Yogyakarta:KanisiusYin, Robert K.(2006). Studi Kasus: desain dan metode. PT. RajaGrafindoPersada : JakartaRakhmat, Jalaluddin. (2007).Psikologi Komunikasi: Edisi Revisi. Bandung:PT.Remaja RosdakaryaYin, Robert K.(2006). Studi Kasus: desain dan metode. PT. RajaGrafindoPersada : Jakarta

Memahami Dialektika Konflik dan Pengalaman Komunikasi Pasangan Perkawinan Jarak Jauh dalam Proses Penyelesaian Konflik Rumah Tangga

Interaksi Online Vol 1, No 4 (2013): Wisuda Oktober
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Memahami Dialektika Konflik dan Pengalaman KomunikasiPasangan Perkawinan Jarak Jauh dalam Proses Penyelesaian KonflikRumah TanggaSummary PenelitianDisusun untuk memenuhi persyaratan menyelesaikanPendidikan Strata 1PenyusunNAMA: DEWI IRAWATINIM: D2C309007JURUSAN ILMU KOMUNIKASIFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS DIPONEGOROSEMARANG2013Nama :Dewi IrawatiNIM :D2C309007Judul :Memahami Dialektika Konflik dan Pengalaman Komunikasi Pasangan PerkawinanJarak Jauh dalam Proses Penyelesaian Konflik Rumah TanggaAbstraksiPenelitian ini dilatarbelakangi dengan maraknya pasangan yang menjalani perkawinanjarak jauh. Pada dasarnya setiap individu dalam hubungan perkawinan pasti pernah terlibat konflik.Terlebih lagi perkawinan yang masih dalam tahap-tahap rawan, seperti 5 tahun awal perkawinanyang masih dalam tahap awal penyesuaian dengan pasangan. Penyesuaian terhadap pasangan bagipasangan perkawinan jarak jauh mungkin akan dirasa sebagai suatu hal yang sulit karena masapenyesuaian tersebut harus dilakukan dengan saling berjauhan, sehingga tidak heran konflik seringmuncul diantara pasangan ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami bagaimana dialektikakonflik yang terjadi pada pasangan perkawinan jauh di fase awal perkawinan. Selain itu pula untukmemahami pengalaman komunikasi pasangan perkawinan jarak jauh dalam proses penyelesaiankonflik rumah tangga pada fase awal perkawinan.Upaya menjawab permasalahan dan tujuan penelitian dilakukan dengan menggunakanteori dasar yaitu Teori Dialektika Relasional oleh Leslie A. Baxter. Data diperoleh dari indepthinterview terhadap 3 pasangan suami istri pelaku perkawinan jarak jauh. Metode analisis data yangdigunakan adalah pendekatan fenomenologi dari Van Kaam.Hasil penelitian menunjukkan bahwa dialektika konflik diantara pasangan perkawinanjarak jauh terjadi cukup bervariasi. Terjadi kontradiksi antara keinginan untuk mendekatkan diriatau menjauhkan diri dengan pasangan ataupun keluarga dan lingkungan karena kegiatan personal,aktivitas dengan lingkungan sosial, kesibukan kerja, waktu yang kurang pas untuk bertemukeluarga, konflik pribadi dengan anggota keluarga lain ataupun kesadaran untuk membatasi dirikarena peran dalam rumah tangga. Ditemukan pula salah satu informan yang tidak melakukan aksikeduanya melainkan hanya mendiamkan pasangan. Kemudian adanya kontradiksi antarakeinginan untuk melakukan rutinitas atau spontanitas dengan pasangan dikarenakan kondisikeuangan yang semakin menipis, keinginan dalam hal seksualitas yang berbeda antara suami istri,rutinitas hobi yang melalaikan peran dalam rumah tangga, atau kehadiran anak-anak. Dalam halkontradiksi mengikuti tradisi orang tua dan menciptakan hal yang unik terjadi dalam halpengambilan putusan karena sampai saat ini informan masih tinggal bersama orang tua mereka.Pengambilan putusan tetap dilakukan suami sebagai kepala rumah tangga meski terkadang orangtua masih ikut campur urusan rumah tangga. Sedangkan mengenai kontradiksi antara keinginanuntuk terbuka atau tertutup dengan pasangan ataupun keluarga dan lingkungan informan mencobasaling terbuka namun tetap memiliki informasi yang dirahasiakan.Mengenai pengalaman komunikasi dalam proses penyelesaian konflik, strategi yangdigunakan oleh pasangan perkawinan jarak jauh adalah manajemen konflik efektif maupun tidakefektif. Dalam hal kendala, pasangan perkawinan jarak jauh cukup memiliki kendala yangmenghambat dalam proses penyelesaian konflik, baik itu kendala internal maupun eksternal.Disarankan bagi peneliti yang ingin mengambil tema penelitian mengenai perkawinan jarak jauhlebih dapat mempertimbangkan profesi suami atau istri, tingkat pendidikan dan frekuensipertemuan dengan pasangan dalam memilih informan untuk melihat variasi konflik dan dialektikayang terjadi.Kata kunci: dialektika, konflik, perkawinan jarak jauhNama : Dewi IrawatiNIM : D2C309007Judul : Understanding Dialectic of Conflict and Long Distance Marriage’s CommunicationExperience in Marriage Conflict Solving ProcessAbstractThis research is motivated by the rise of long-distance marriage couple. Basically everyindividual in the marriage relationship must have been involved in the conflict. Moreovermarriage that is still in the stages of cartilage, such as 5 years earlier marriage that is still in theearly stages of adjustment. Adjustments to the couple for marital couples might remotely beperceived as a difficult thing because the adjustment period should be done far from each other, sodo not be surprised conflicts often arise between this couple. The purpose of this research is tounderstand how the dialectic of conflict in a marriage partner away in the early phase of marriage.Besides that, this research to understand the experience of long-distance communication inmarriage couples conflict resolution process in the early phase.The basic theory of this research is Relational Dialectics Theory by Leslie A. Baxter. Datawas obtained from indepth interviews with three couples long distance marriage. Data analysismethods used are phenomenological approach of Van Kaam.The results showed that the dialectical conflict between long distance marriage partnerhappens quite varied. Contradiction between the desire to get closer to or distanced themselveswith couples or families and the environment due to personal activities, activities with the socialenvironment, busy work, time is less fit to meet the family, personal conflicts with other familymembers or awareness to limit ourselves because of the role in households. Also found one of theinformants who did not take action but only silence both couples. Then the contradiction betweenthe desire to perform routine or spontaneity with a partner because of dwindling financialcondition, the desire in terms of a different sexuality between husband and wife, routine of hobbiesrole in the household, or the presence of children. In terms of following the tradition of the oldcontradictions and creating unique things happen in terms of decision-making because until nowall of the informant was still living with their parents. Decision making remained was the husbandas head of household even though sometimes parents are still meddling household. Then for thecontradiction between the desire to be open or closed with a partner or family and neighborhood,informants tried to be open while still have a secret information.About the communication experience in the process of conflict solving process used bylong-distance marriage partner is an effective conflict management and ineffective. In terms ofconstraints, long-distance marriage partner has enough obstacles that hinder the conflict resolutionprocess, both internal and external constraints. It is recommended for researchers who want to takethe theme of research on long-distance marriage could consider a spouse profession, educationlevel and frequency of meetings with the couples when selecting informants to see conflict anddialectical variations that occur.Keywords: dialectic, conflict, long-distance marriage1. PENDAHULUANPasangan yang telah menikah sudah hakikatnya untuk hidup bersama dalam satuatap, dan berkomunikasi tanpa perlu perantara. Terbuka satu sama lain dan beranimenyampaikan perasaan hati, ide, gagasan atau pun segala hal yang menjadi ganjalansehingga meminimalisir terjadinya konflik. Bila sampai terjadi konflik, pasutri bisamengelola konflik tersebut dengan baik sehingga tidak perlu terjadi hal-hal buruk yangmengarah ke arah perusakan hubungan. Pasangan dapat dikatakan harmonis bila salahsatunya dapat mengelola konflik yang sudah terjadi dan melihatnya sebagai bagian normaldari proses perkembangan hubungan mereka.Umumnya pasangan suami istri menginginkan penyelesaian konflik denganberkomunikasi secara tatap muka, namun tidak demikian halnya dengan pasanganperkawinan jarak jauh yang memiliki keterbatasan waktu untuk bertemu. Jauhnya jarakantara pasangan yang terpisah pulau bahkan negara, serta keterbatasan waktu ketikabertemu, mengharuskan mereka untuk menyelesaikan konflik dengan bijak supaya tidakberkepanjangan. Dan ini tentunya bukan hal mudah, mengingat banyak kendala yang bisamenjadi noise untuk keberhasilan penyelesaian konflik itu sendiri. Apalagi bila yangmenjalani LDM ini adalah pasangan yang baru menjalani pernikahan kurang dari 5 tahun,bukan hal mudah bila harus berpisah dengan pasangan seiring dengan keharusan untukmenyesuaikan diri dengan sifat-sifat pasangan.Miskomunikasi yang dialami oleh Nia Angga menjadi salah satu pemicu konflikyang dialami pasangan perkawinan jarak jauh di masa awal perkawinan. Menurutpengakuannya, selama menjalani perkawinan jarak jauh hubungannya dengan suami tidakbaik-baik saja karena komunikasi yang tidak intens. Belum lagi, bila berkomunikasi viahp, intonasi melalui telepon atau tulisan sms yang kurang jelas tanda bacanya kadangmembuat salah penafsiran sehingga tidak jarang membuat mereka bertengkar.(http://anggania.blogspot.com/2011/11/long-distance-relationship-ldr.html, diakses 15Juli 2012, pukul 22.05).Konflik lain dalam perkawinan jarak jauh juga disebabkan karena kurangnyakepercayaan kepada pasangan, seperti yang dialami seorang suami berinisial A yang barumenjalani perkawinan jarak jauh karena istri bekerja di Hongkong dan dia di Korea.Sebelum menjalani perkawinan jarak jauh, mereka telah bertunangan selama 5 tahun danjuga menjalani hubungan jarak jauh. Istri selalu mencurigai suaminya mempunyaihubungan dengan wanita lain meskipun hal itu tidak benar. Menurut suami mereka seringbertengkar karena hal tersebut. Suami bahkan sampai merasa tidak kuat dengan kondisiini namun tidak ingin mengakhiri perkawinan. (http://log.viva.co.id/news/read/144808-pengantin_baru_kok_sering_bertengkar, diakses tanggal 31 Oktober 2012, pukul 21.00).Pemicu konflik bagi pasangan perkawinan jarak jauh lainnya berkaitan denganmasalah ekonomi dan kurangnya empati kepada pasangan. Seperti yang dialami oleh istri(tidak disebutkan namanya) yang telah menikah selama 5 tahun dan memiliki 1 anak. Siistri bekerja sebagai PNS dan tinggal di Jakarta bersama anaknya, sedangkan suamibekerja sebagai karyawan swasta dan tinggal di kota kecil bersama orang tuanya. Hal yangmenjadi masalah karena suami jarang sekali memberikan nafkah pada anak istrinya. Suamijuga pernah mendapat tawaran pekerjaan di Jakarta namun ditolah dengan alasan ingintetap hidup di daerahnya. Sudah setengah tahun belakangan mereka juga seringbertengkar. Si istri bahkan sempat terpikir untuk berpisah karena pada dasarnya diamemang sudah hidup sendiri atas biayanya sendiri, namun dia tidak tega dengan anaknya.(Kewajiban Suami terhadap Istri, dalam http://kawansejati.org/208-kewajiban-suamiterhadap-istri, diunduh 15 Februari, 2013, 10.50)Berbagai konflik pasangan perkawinan jarak jauh tersebut bukan tidak mungkinmengarah ke perceraian bila tidak dikelola dengan baik. Seperti yang terjadi di KabupatenPacitan sepanjang tahun 2012, jumlah perceraian yang disebabkan karena salah satu pihakpergi adalah 387 perkara dari jumlah 1028 perkara cerai yang diajukan. Itu artinya sekitar38% dari jumlah pengajuan cerai yang diajukan ke Pengadilan Agama Pacitan. Faktorpenyebabnya pun mayoritas karena putusnya komunikasi antar pasutri saat mereka tidakhidup bersama di satu kota. Tanpa komunikasi yang intens, pihak yang ditinggalkan diPacitan akhirnya memutuskan untuk mengajukan cerai.(http://www.lensaindonesia.com/2012/12/17/long-distance-relationship-jadi-penyebabtingginya-perceraian.html, diakses 15 Februari 2013, 10.53)Berdasarkan fenomena ini peneliti ingin mengetahui lebih detail mengenaidialektika konflik pasangan perkawinan jarak jauh dan cara komunikasi pasangan tersebutdalam proses penyelesaian konflik rumah tangga mereka sehingga dapat memahamidialektika konflik pasangan perkawinan jarak jauh pada fase awal perkawinan danpengalaman komunikasi dalam proses penyelesaian konflik pasangan tersebut.2. BATANG TUBUH2.1. TEORITeori utama yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Teori DialektikaRelasional oleh Leslie A. Baxter untuk menjawab permasalahan mengenai DialektikaKonflik pasangan perkawinan jarak jauh dan manajemen konflik oleh Devito untukmenjawab permasalahan mengenai pengalaman konflik pasangan perkawinan jarak jauhdalam proses penyelesaian konflik rumah tangga2.2. Subyek PenelitianSubjek dalam penelitian ini disesuaikan dengan judul penelitian, yakni pasangansuami istri perkawinan jarak jauh yang masih dalam fase awal perkawinan yang berjumlahtiga pasang dengan kriteria sebagai berikut: Pasangan suami istri perkawinan jarak jauhdimana jauhnya jarak tempat tinggal yang ditentukan sejauh minimal 300km, atau tempatyang harus ditempuh dengan memakan waktu perjalanan lebih dari 7 jam, atau frekuensiuntuk bertemu pasangan minimal satu bulan sekali; Umur perkawinan masuk dalamkategori fase awal perkawinan yaitu 1-5 tahun; dan Merupakan pasutri jarak jauh yangkeduanya bekerja atau hanya salah satu pasangan yang bekerja atau pasutri tersebut sudahmemiliki anak2.3. MetodologiPenelitian ini menggunakan tipe penelitian deskriptif, dan metodologi kualitatifdengan pendekatan fenomenologi. Dalam Kuswarno (2009:1-2) Fenomenologimerefleksikan pengalaman langsung manusia, sejauh pengalaman itu secara intensifberhubungan dengan suatu objek. Fenomenologi mencoba mencari pemahaman bagaimanamanusia mengkonstruksi makna dan konsep-konsep penting, dalam kerangkaintersubjektivitas. Intersubjektif karena pemahaman kita mengenai dunia dibentuk olehhubungan kita dengan orang lain. Dengan melakukan studi terhadap pengalaman parapasangan suami istri perkawinan jarak jauh diharapkan dapat membuka pemahamanmengenai konflik pasangan-pasangan tersebut. Dalam penelitian ini, informan berbagipengalaman konflik mereka, seperti konflik apa saja yang sering mereka hadapi, danbagaimana cara mereka menyelesaikan konflik tersebut.2.4. Analisis DataBerdasarkan jenis data, yaitu data kualitatif, maka teknik analisis data dilakukandengan pendekatan fenomenologi dari Van Kaam (oleh Moustakas dalam Basrowi danSuwandi, 2008:227)2.5. Temuan Penelitian dan Sintesis Makna Tekstural dan Struktural DialektikaKonflik dan Pengalaman Komunikasi Pasangan Perkawinan Jarak Jauhdalam Proses Penyelesaian Konflik Rumah Tangga2.5.1. Dialektika Konflik2.5.1.1.Integration – Separation (Connection – Autonomy) dan (Inclusion-Seclusion)Dalam hubungan perkawinan, menurut Mary Anne Fitzpatrick (Budyatna, 2011:166) meskipun ada kesamaan mengenai kebutuhan-kebutuhan yang nyata dalam mitraperkawinan, tidak ada cara perkawinan ideal yang tunggal. Pasangan-pasangan perkawinandapat dibedakan atas dasar mengenai ‘ketidaktergantungan” mereka pada tingkat dimanamereka berbagi perasaan satu sama lain. Pada pasangan perkawinan jarak jauh, kondisihidup yang terpisah dengan pasangan maupun keluarga dan menjadi mandiri adalahsemacam tuntutan yang harus dijalani. Untuk itu tidak heran, saat berjauhan, pasangan iniharus mengesampingkan keinginan untuk selalu berada dekat dan tergantung denganpasangan maupun keluarga namun tetap menjaga komunikasi supaya keintiman hubungantetap terjalin harmonis.‘Ketidaktergantungan’ pada pasangan ini dapat dikaitkan dengan kontradiksiintegration-separation yang merupakan kontradiksi antara otonomi dan keterikatan yangmerujuk pada keinginan-keinginan kita yang selalu muncul untuk menjadi tidak tergantungpada orang-orang yang penting bagi kita dan juga untuk menemukan keintiman denganmereka. (West & Turner, 2008: 237). Kontradiksi ini terjadi didalam hubungan denganpasangan atau diantara pasangan dengan komunitas. Dalam hal autonomy ataupuninclusion, masih berkaitan dengan teori dialog oleh Martin Buber (Littlejohn, 2009:302)dimana sesuai dengan salah satu karakteristik relasi I-It, yaitu mementingkan diri sendiri.Hasil penelitian menunjukkan bahwa dialektika konflik diantara pasanganperkawinan jarak jauh terjadi cukup bervariasi. Terjadi kontradiksi antara keinginan untukmendekatkan diri atau menjauhkan diri dengan pasangan (connection-autonomy) ataupunkeluarga dan lingkungan (inclusion-seclusion) karena kegiatan personal, aktivitas denganlingkungan sosial, kesibukan kerja, waktu yang kurang pas untuk bertemu keluarga,konflik pribadi dengan anggota keluarga lain ataupun kesadaran untuk membatasi dirikarena peran dalam rumah tangga. Ditemukan pula salah satu informan yang tidakmelakukan aksi keduanya melainkan hanya mendiamkan pasangan.2.5.1.2.Stability – Change (Certainty-uncertainty) dan (Conventionality-Uniqueness)Fitzpattrick mengungkapkan salah satu dimensi dimana pasangan perkawinandapat dibedakan berdasarkan ideologi mereka. Ideologi merupakan keadaan dimana paramitra menganut sistem keyakinan tradisional dan nilai-nilai terutama mengenaiperkawinan dan peran seks, atau menganut keyakinan-keyakinan nontradisional dan nilainilaiyang toleran terhadap perubahan dan ketidakpastian dalam hubungan. (Budyatna,2011:166). Ideologi ini dapat menjadi faktor yang menyebabkan terjadinya dialektikaantara Stability – Change yang merupakan kontradiksi antara hal yang baru dan hal yangdapat diprediksi merujuk pada konflik-konflik antara kenyamanan stabilitas dan keasyikanperubahan. Dialektik melihat interaksi antara kepastian dan ketidakpastian dalamhubungan. (West & Turner, 2008: 237).Dari hasil penelitian diketahui adanya kontradiksi antara keinginan untukmelakukan rutinitas atau spontanitas dengan pasangan (certainty-uncertainty) dikarenakankondisi keuangan yang semakin menipis, keinginan dalam hal seksualitas yang berbedaantara suami istri, rutinitas hobi yang melalaikan peran dalam rumah tangga, ataukehadiran anak-anak. Dalam hal kontradiksi mengikuti tradisi orang tua dan menciptakanhal yang unik (conventionality-uniqueness) terjadi dalam hal pengambilan putusan karenasampai saat ini informan masih tinggal bersama orang tua mereka. Pengambilan putusantetap dilakukan suami sebagai kepala rumah tangga meski terkadang orang tua masih ikutcampur urusan rumah tangga.2.5.1.3. Expression – Non expression (Openess-Closedness) dan (Revelation-Concealment)Dialektika ini merupakan kontradiksi antara keterbukaan dan perlindunganberfokus yang pertama pada kebutuhan-kebutuhan kita untuk terbuka dan menjadi rentan,membuka semua informasi personal pada pasangan atau mitra hubungan kita, dan yangkedua untuk bertindak strategis dan melindungi diri sendiri dalam komunikasi kita. Posisidialektika mempunyai sifat baik/maupun (both/and) berkaitan dengan keterbukaan danketertutupan (West & Turner, 2008: 237). Openess – Closedness merupakan kontradiksiantara keinginan untuk terbuka dengan pasangan dan tertutup. Sedangkan revelationconcealmentmerupakan kontradiksi antara keinginan untuk mengungkapkan informasidengan keluarga ataupun komunitas dan menyembunyikan informasi.Seperti yang diungkapkan pula oleh DeVito (1997:57) bahwa pengungkapan dirisebagai bentuk komunikasi dimana kita mengungkapkan sesuatu tentang siapa kita, yangdapat dijelaskan dalam Jendela Johari (Johari Window) yang dibagi menjadi empat daerahatau kuadran pokok yang masing-masing berisi diri (self) yang berbeda. Daerah terbuka(open self), daerah buta (blind self), daerah gelap (unknown self), dan daerah tertutup(hidden self).Kontradiksi antara keinginan untuk terbuka atau tertutup dengan pasangan(openess-closedness) memiliki jawaban yang hampir mirip, dimana pasangan informanterbuka namun selektif karena memiliki daerah tertutup (hidden self) yang dirahasiakanuntuk menjaga perasaan pasangannya. Dan pasangan lain terbuka sepenuhnya. Selain ituketiga pasangan juga memiliki semacam keluhan kepada pasangannya namun tidak beraniatau belum sempat diutarakan kepada pasangannya. Seperti ketakutan pasangan selingkuh,keegoisan pasangan, kejujuran pasangan, dan cemburu yang tidak beralasan. Mengenaikontradiksi keinginan untuk terbuka pada keluarga dan lingkungan (revelationconcealment)memiliki jawaban yang serupa diantara informan. Ketiga pasangan memilikikeinginan yang sama untuk tidak terlalu terbuka kepada orang tua ataupun keluarga.Berkaitan dengan lingkungan sosial, hanya 1 pasangan informan yang mengungkapkanbahwa terkadang sharing dengan teman seprofesi atau teman lain.2.5.1.4.Kesediaan menjalani perkawinan jarak jauhKuntaraf (1999: 78) mengungkapkan, keinginan untuk dapat dimengerti olehorang lain merupakan keinginan yang umum bagi kita. Mungkin saja kita memiliki alasanyang tepat dengan penuh pengertian, serta tindakan atau kebiasaan kita yang benar, namuntidak ada gunanya untuk mengharapkan agar kita dapat dimengerti oleh orang lain, kecualikita sendiri dapat mengerti orang lain. Selain itu adalah sangat penting bagi masing-masinguntuk mengerti, bukan dimengerti karena latar belakang dan lingkungan setiap orangberbeda, dan latar belakang yang berbeda itu dibawa ke pernikahannya masing-masing.Dari hasil penelitian diketahui bahwa informan ada yang menerima dengan ikhlas dan adapula yang terpaksa menerima kondisi perkawinan jarak jauh untuk memenuhi kebutuhanekonomi.2.5.2. Pengalaman Komunikasi Pasangan Perkawinan Jarak Jauh dalam ProsesPenyelesaian Konflik Rumah Tangga2.5.2.1. Persepsi tentang KonflikPersepsi mengenai konflik itu menjadi hal yang penting karena akanmempengaruhi solusi dari penyelesaian konflik. Konflik dapat memiliki efek negatif bilatidak dikelola dengan baik. Konflik juga bisa memiliki manfaat positif bagi hubungan kitadengan orang lain bila dikelola secara konstruktif. Ada beberapa manfaat konflik,diantaranya konflik dapat: menjadikan kita sadar bahwa ada persoalan yang perludipecahkan dalam hubungan kita dengan orang lain,dll (Supratiknya, 1995: 95-96)Dalam penelitian ini, konflik dianggap memiliki manfaat positif. Konflik dianggapsebagai proses pembelajaran karena dapat memperjelas keinginan dari kedua pasanganagar dicapai jalan penyelesaian yang cepat dan tidak berlarut lama. Selain itu konflik dapatmembuat informan mengerti dan mengenal sifat pasangan, mengetahui kelebihan sertakekuarangan masing-masing serta menguji kesabaran. Konflik juga dianggap sebagaiproses adaptasi dengan pasangan karena masing-masing individu berasal dari 2 keluargayang cara pemikirannya berbeda, dan juga sebagai anugerah, ekspresi kasih sayang kepadapasangan2.5.2.2. Peran dalam Konflik. Ada empat peranan yang terungkap dalam konflik: a mover, merupakanpasangan yang mendefinisikan atau memulai aksi; a follower merupakan pasangan yangmenyetujui, mendukung dan melanjutkan aksi; an opposer adalah pasangan yangmenentang dan selalu melawan aksi; dan a bystander merupakan pasangan yangmengamati apa yang terjadi tetapi tetap tidak bergeming, Sadarjoen (2005:51).Terkait peran dalam konflik, ada 3 peran dalam konflik yang terungkap dari hasilwawancara ketiga pasang informan. A mover, follower dan opposer. Ketiga pasanginforman memiliki peran yang sama yaitu sebagai a mover dan a follower.2.5.2.3. Situasi Tahap Awal Konflik (ekspresi pertentangan dan respon yangditunjukkan)Daya ekspresi atau ekspresi pertentangan menurut DeVito (1997:266) mengacupada keterampilan mengkomunikasikan keterlibatan tulus dalam interaksi antarpribadi.Daya ekspresi sama dengan keterbukaan dalam hal penekanannya pada keterlibatan, danini mencakup, misalnya, ekspresi tanggung jawab atas pikiran dan perasaan, mendorongdaya ekspresi atau keterbukaan orang lain, dan memberikan umpan balik yang relevan danpatut. Kualitas ini juga mencakup pemikulan tanggung jawab untuk berbicara danmendengarkan, dan dalam hal ini sama dengan kesetaraan.Respon merupakan tanggapan terhadap pesan mengenai apa yang telahdiputuskan oleh penerima. Respon dapat bersifat positif, netral, maupun negatif. Responpositif apabila sesuai dengan yang dikehendaki komunikator. Netral berarti respon itutidak menerima ataupun menolak keinginan komunikator. Dikatakan respon negatifapabila tanggapan yang diberikan bertentangan dengan yang diinginkan oleh komunikator.Pada dasarnya respon merupakan informasi bagi sumber sehingga ia dapat menilaiefektivitas komunikasi untuk selanjutnya menyesuaikan diri dengan situasi yang ada.(Suranto: 2011:8).Dari penelitian ini terungkap bahwa ekspresi pertentangan berupa marah,menangis, terus terang, bertindak tanpa pemikiran yang matang, dan memberikan nasehat.Sedangkan respon yang ditunjukkan adalah mengimbangi, tidak peduli, protes, menangis,dan menerima masukan.2.5.2.4. Strategi KonflikMenurut Devito (1997: 270) ada beberapa strategi konflik yang sering digunakantetapi tidak produktif. Dan ada beberapa prinsip manajemen konflik yang efektif danproduktif. Dari hasil penelitian diketahui bahwa strategi yang digunakan oleh pasanganperkawinan jarak jauh adalah manajemen konflik efektif maupun tidak efektif atau tidakproduktif. Manajemen konflik efektif adalah I messages dan bertengkar aktif sedangkanmanajemen konflik tidak produktif diantaranya menyalahkan, peredam, dan karung goni.Alan Sillar dalam teorinya an Attribution Theory of Conflict menyaring kembaliskemanya yang terdahulu mengenai atribusi teori dan menghubungkan pada ketigakategori resolusi konflik ini: avoidance behaviors, competitive behaviors, dan cooperativebehaviors. Avoidance behaviors merupakan perilaku menghindari menggunakankomunikasi, atau komunikasi tidak langsung. Competitive behaviors melibatkan pesannegatif. Dan cooperative behaviors yang memerlukan komunikasi yang lebih terbuka danpositif. (lLittlejohn, 1999: 277)Pada penelitian ini, peneliti menyimpulkan bahwa pasangan informan 1merupakan pasangan yang memiliki cooperative behaviors, sedangkan pasangan informan2 merupakan pasangan yang memiliki competitive behaviors, dan pasangan 3 memilikicompetitive behaviors dan istri pasangan 3 memiliki avoidance behaviors, individu yangmenghindari komunikasi untuk menyelesaikan konflik.2.5.2.5.Proses mencari solusi (kebebasan menyampaikan pendapat, kesediaanmendengar pasangan,mempertimbangkan situasi kondisi pasangan )Dalam penelitian ini terungkap bahwa pada dasarnya setiap informan ingin selaluberinteraksi dengan pasangan dengan cara mengungkapkan pendapat kepada pasangan.Mengungkapkan pendapat sangat diperlukan supaya pokok permasalahan menjadi jelassehingga mudah dicari solusi dan juga mengungkapkan bahwa informan ingin dimengertioleh pasangannya. Mengungkapkan pendapat dapat menjadi indikator keterbukaan kepadapasangan karena tidak ada yang ditutup-tutupi. Namun meskipun sudah menyatakanpendapat, ada informan yang menyadari bahwa pendapatnya pada akhirnya tidak terlaludianggap oleh pasangannya. Seperti yang diungkapkan oleh Johannesen (1971) dalamLiliweri (2011: 408) bahwa salah satu karakteristrik hubungan Aku-Engkau adalah mutualopenness, yaitu adanya pola-pola perilaku dan sikap `yang memiliki sifat-sifat sepertihubungan timbal balik, membuka hati, gamblang dan terus terang, kejujuran danspontanitas, keterbukaan, berkurangnya sikap kepura-puraan, tidak bersikap manipulatif,persekutuan, intensitas, dan cinta dalam arti tanggungjawab satu sama lain.Mendengarkan pasangan juga menjadi salah satu syarat terjadinya komunikasiyang dialogis. Tanpa adanya kesediaan kedua pasangan saling mendengar secara aktif satusama lain, maka tidak akan terjadi dialog diantara pasangan tersebut. Menurut Kuntaraf(1999: 79) setiap pasangan suami istri yang mengambil waktu berhenti sejenak untukmendengar akan meningkatkan harga diri pasangannya. Hal ini perlu dihayati sebab padahakikatnya adalah lebih mudah untuk berbicara daripada mendengar. Kemampuanmendengar pasangan informan dalam penelitian ini cukup bervariasi. Ketiga pasanganinforman memang sama-sama mencoba untuk mendengarkan pasangan saat terjadikonflik. Bagi pasangan perkawinan jarak jauh, kemampuan mendengarkan mutlak harusdiasah lebih baik karena mereka lebih sering berkomunikasi melalui perantara yangcenderung rentan terhadap gangguan.Mempertimbangkan situasi dan kondisi pasangan dapat menjadi bentuk empatiyang merupakan kunci terjadinya komunikasi yang dialogis. Menurut Fisher dalamSadarjoen (2005:85) empati adalah kemampuan mengidentifikasi status emosional dariorang lain manakala orang tersebut tidak mampu mengaktualisasikannya dengan perasaanyang sama dan merupakan prasyarat bagi kekuatan pasangan dalam menjalin komunikasisatu sama lain. Dari hasil penelitian diketahui pada dasarnya adalah keharusan bagiinforman suami untuk memahami kondisi istri sebagai perempuan yang memiliki masamasalabil setiap bulannya yang mempengaruhi dalam proses penyelesaian konflik.Sedangkan istri pun mencoba memahami situasi dan kondisi suami dengan memahamikesibukan mereka bekerja, terutama pelaut yang kadang terhambat oleh cuaca burukseperti badai ekstrem. Bagi istri, meskipun sudah memahami suami terkadang merasasuaminya yang tidak memahaminya karena selalu menuntut untuk diutamakan.2.5.2.6. Persepsi mengenai solusiKuntaraf (1999: 102) mengungkapkan bahwa dalam berbagai konflik yangdihadapi, ada beberapa pemecahan konflik yang biasa terjadi. Beberapa contoh pemecahankonflik terdiri atas: akomodasi (kalah-menang), menghindar (kalah-kalah), kompetisi(menang-kalah), kompromi, dan kolaborator (menang-menang).Dari hasil penelitian terungkap bahwa terdapat tiga persepsi mengenai solusi yangdiambil. Solusi yang memuaskan, kadang memuaskan dan tidak memuaskan. Solusi tidakmemuaskan, merupakan kondisi dimana salah satu informan istri mencoba untuk mengalahdengan hasil keputusan suami. Mengalah demi perdamaian menandakan bahwa informanistri menggunakan cara akomodosi sebagai bentuk pemecahan konflik.2.5.2.7. Kendala atau HambatanKomunikasi interpersonal dalam prosesnya terdapat komponen-komponenkomunikasi yang secara integratif saling berperan sesuai dengan karakteristik komponenitu sendiri (Suranto, 2011:7). Diantara beberapa komponen tersebut ada 2 komponen yangberkaitan dengan kendala atau hambatan dalam penyelesaian konflik, yaitu gangguan(noise) dan konteks komunikasi.Gangguan atau noise merupakan apa saja yang mengganggu atau membuatkacau penyampaian dan penerimaan pesan, termasuk yang bersifat fisik dan phsikis.Sementara komunikasi selalu terjadi dalam konteks tertentu, paling tidak ada tiga dimensiyaitu ruang, waktu, dan nilai. Konteks ruang menunjuk pada lingkungan konkrit dan nyatatempat terjadinya komunikasi. Konteks waktu menunjuk pada waktu kapan komunikasitersebut dilaksanakan. Konteks nilai meliputi nilai sosial dan budaya yang mempengaruhisuasana komunikasi seperti adat istiadat, situasi rumah, norma sosial, norma pergaulan,etika, tata krama dan sebagainya.Dari hasil penelitian terungkap kendala internal dialami oleh sebagianinforman. Kendala internal atau dapat dikatakan noise yang bersifat phsikis yangterungkap dari penelitian ini adalah sifat egois yang dimiliki informan saat membahassuatu konflik dengan pasangannya. Ada pula informan yang kesulitan berkomunikasidengan pasangannya dikarenakan dirinya merasa kurang ekspresif.Kendala eksternal meliputi saluran, maupun konteks ruang, waktu, dan nilai. Noisepada saluran terjadi saat seringnya errorr pada teknologi komunikasi yang mereka gunakanataupun terlambat penyampaiannya. Sedangkan kondisi yang berjauhan dari pasangan jugamembuat penyelesaian konflik terhambat bagi ketiga pasangan informan ini. Kondisi disinitermasuk kondisi di lingkungan kerja dan kondisi jarak yang berjauhan diantara pasangan,bahkan kondisi tempat tinggal yang serumah dengan orang tua. Ada pula informan yangterpengaruh oleh kesibukan kerja dan kesibukan mengurus rumah tangga sehingga tanpasadar menghambat penyelesaian konflik. Orang tua dan lingkungan sosial (teman-teman)juga terkadang menjadi penghambat dalam proses penyelesaian konflik karena ada yangsuka memanas-manasi, sedangkan orang tua terkadang ikut campur masalah denganpasangan.3. PENUTUP3.1. SimpulanDialektika konflik diantara pasangan perkawinan jarak jauh terjadi cukupbervariasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dialektika konflik diantarapasangan perkawinan jarak jauh terjadi cukup bervariasi. Terjadi kontradiksi antarakeinginan untuk mendekatkan diri atau menjauhkan diri dengan pasangan ataupunkeluarga dan lingkungan karena kegiatan personal, aktivitas dengan lingkungansosial, kesibukan kerja, waktu yang kurang pas untuk bertemu keluarga, konflikpribadi dengan anggota keluarga lain ataupun kesadaran untuk membatasi dirikarena peran dalam rumah tangga. Ditemukan pula salah satu informan yang tidakmelakukan aksi keduanya melainkan hanya mendiamkan pasangan. Kemudianadanya kontradiksi antara keinginan untuk melakukan rutinitas atau spontanitasdengan pasangan dikarenakan kondisi keuangan yang semakin menipis, keinginandalam hal seksualitas yang berbeda antara suami istri, rutinitas hobi yangmelalaikan peran dalam rumah tangga, atau kehadiran anak-anak.Dalam hal kontradiksi mengikuti tradisi orang tua dan menciptakan halyang unik terjadi dalam hal pengambilan putusan karena sampai saat ini informanmasih tinggal bersama orang tua mereka. Pengambilan putusan tetap dilakukansuami sebagai kepala rumah tangga meski terkadang orang tua masih ikut campururusan rumah tangga. Sedangkan mengenai kontradiksi antara keinginan untukterbuka atau tertutup dengan pasangan ataupun keluarga dan lingkungan informanmencoba saling terbuka namun tetap memiliki informasi yang dirahasiakan.Mengenai pengalaman komunikasi dalam proses penyelesaian konflik,strategi yang digunakan oleh pasangan perkawinan jarak jauh adalah manajemenkonflik efektif maupun tidak efektif. Dalam hal kendala, pasangan perkawinanjarak jauh cukup memiliki kendala yang menghambat dalam proses penyelesaiankonflik, baik itu kendala internal maupun eksternal. Disarankan bagi peneliti yangingin mengambil tema penelitian mengenai perkawinan jarak jauh lebih dapatmempertimbangkan profesi suami atau istri, tingkat pendidikan dan frekuensipertemuan dengan pasangan dalam memilih informan untuk melihat variasi konflikdan dialektika yang terjadi.3.2. SaranSecara teoritis, penelitian ini berusaha memberikan gagasan ilmiah, terutama padaTeori Dialektika Relasional, dimana ketegangan-ketegangan yang terjadi tidak selaludiantara 2 hal yang bertentangan. Salah satu contoh seperti temuan penelitian dimanaterdapat aksi diam yang dilakukan oleh pasangan diantara dialektika untuk mendekatkandiri atau menjauhkan diri dari pasangan. Peneliti juga menyarankan bagi peneliti lain yangingin mengambil tema penelitian mengenai perkawinan jarak jauh lebih dapatmempertimbangkan profesi suami atau istri, tingkat pendidikan dan frekuensi pertemuandengan pasangan dalam memilih informan untuk melihat variasi konflik dan dialektikayang terjadiSecara praktis, bagi pasangan perkawinan jarak jauh ada beberapa hal yang harusdiperhatikan untuk menjaga keharmonisan dengan pasangan, seperti lebih seringmelakukan aktivitas spontanitas bersama pasangan supaya hubungan tidak membosankan.Selain itu lebih terbuka dan ekspresif dalam segala hal, termasuk menyampaikan keluhankeluhanyang selalu dipendam, dan tetap ber empati kepada pasangan. Perlu ditekankanjuga bahwa konflik tidak selalu berkaitan dengan hal negatif asalkan dikelola dengan carayang efektif.Secara sosial, ada baiknya pasangan yang akan menjalani pasangan perkawinanjarak jauh, mempertimbangkan kesiapan diri, karena cukup banyak kendala yang dialamipasangan ini saat berkomunikasi dengan pasangan.4. DAFTAR PUSTAKABasrowi dan Suwandi. (2008). Memahami Penelitian Kualitatif. Jakarta: Rineka CiptaDenzin, Norman K dan Yvonna S. Lincoln. (2009). Handbook of Qualitative Research.Yogyakarta: Pustaka PelajarDeVito, Joseph A. (1997). Komunikasi Antar Manusia. Jakarta: Professional BooksGriffin, Emory A. (2011). A first look at Communication Theory-8ed. NY: McGraw HillJamil, M. Mukhsin. (2007). Mengelola Konflik Membangun Damai: Teori, Strategi danImplementasi Resolusi Konflik. Semarang: Walisongo Mediation CenterKuntaraf, Kathleen H Liwijaya dan Jonathan Kuntaraf. (1999). Komunikasi Keluarga:Kunci Kebahagiaan Anda. Bandung: Indonesia Publishing HouseKuswarno, Engkus. (2009). Metodologi Penelitian Komunikasi Fenomenologi: Konsepsi,Pedoman, dan Contoh Penelitiannya. Bandung: Widya PadjadjaranLepoire, Beth A. (2006). Family Communication, Nurturing and Control in a ChangingWorld. California: Sage Publications, IncLiliweri, Alo. (2011). Komunikasi: Serba Ada Serba Makna. Jakarta: KencanaLittlejohn, Stephen W. (1999). Theories of Human Communication sixth edition.USA:Wadsworth Publishing CompanyLittlejohn, Stephen W dan Karen A. Foss. (2009). Teori Komunikasi: Theories Of HumanCommunication. Jakarta: Salemba HumanikaMoleong, Lexy J. (2008). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja RosdakaryaMoustakas, Clark. (1994). Phenomenological Research Methods. California: SagePublications, IncSadarjoen, Sawitri Supardi. (2005). Konflik Marital: Pemahaman Konseptual, Aktual danAlternatif Solusinya. Bandung: Refika AditamaSoyomukti, Nurani. (2010). Pengantar Ilmu Komunikasi. Yogyakarta: Ar-RuzzSupratiknya, A. (1995). Komunikasi Antar Pribadi, Tinjauan Psikologis. Yogyakarta:KanisiusSuranto, AW. (2011). Komunikasi Interpersonal. Yogyakarta: Graha IlmuWalgito, Bimo. (2004). Bimbingan dan Konseling Perkawinan. Yogyakarta: Andi OffsetWest, Richard dan Lynn H. Turner. (2008). Pengantar Teori Komunikasi: Analisis danAplikasi,edisi 3. Jakarta: Salemba HumanikaSumber dari InternetA. Pengantin Baru Kok, Sering Bertengkar. (2012) dalamhttp://log.viva.co.id/news/read/144808-pengantin_baru_kok_sering_bertengkar,diakses tanggal 31 Oktober 2012, pukul 21.00Kewajiban Suami terhadap Istri. (2007). dalam http://kawansejati.org/208-kewajibansuami-terhadap-istri, diakses 15 Februari 2013, 10.50)Nia Angga. (2011). Long Distance Relationship (LDR). dalamhttp://anggania.blogspot.com/2011/11/long-distance-relationship-ldr.html , diaksestanggal 15 Juli 2012, pukul 22.05Oom Komarudin. (2009). Bila Suami Jauh dari Istri, dalamhttp://www.wikimu.com/news/displaynews.aspx?id=14636, diakses 15 Februari2013, 10.45).Mohammad Ridwan. (2012). Long Distance Relationship Jadi Penyebab TingginyaPerceraian. http://www.lensaindonesia.com/2012/12/17/long-distance-relationshipjadi-penyebab-tingginya-perceraian.html, diakses 15 Februari 2013, 10.53Supriyono Sarjono. (2009). The Dissolution Of Marriage-Tahun-tahun Rawan Perceraiandalamhttp://www.kadnet.info/web/index.php?option=com_content&view=article&id=590:the-dissolution-of-marriage-tahun-tahun-rawan-perceraian&catid=43:rumahtangga&Itemid=63, diakses tanggal 16 juli 2012, pukul 20.10

Co-Authors 08.05.52.0064 Novi Perwitasari 09.05.52.0075 Lia Yuliana 10.05.52.0010 Dwi Sulistyowati 10.05.52.0030 Christina Dewi 12.05.52.0210 Resty Andini Putri, 12.05.52.0210 12.52.02.0204 Kinayah, 12.52.02.0204 12.5202.0172 Sukowati 1352020069 Prijatno Sri Eko Putranto, 1352020069 1352020070 Teguh Purnomo, 1352020070 1352020104 Pujadi, 1352020104 1352020105 SRI HERANINGSIH, 1352020105 A, Reo A. Samik Wahab, A. Samik Abdurrachman, Mirzam Adi Nugroho Adi Ratriyanto Adnan Sofyan Afiana Praditasari, Afiana Agres Vivi Susanti Agung Budi Raharjo Agung Budiharjo Agus Candra Agus Naryoso Agus Prasetyo Budi Agustian Ipa Aji Setiawan Alimuna, Wa Allen Yeoh, Allen Amalia Yunika Putri, 13.05.52.0204 Ana, Testian Yushli Anada Leo Virganta, Anada Leo Andi Suhardiyanto Andriani, Beti Angga Dwi Pratama, 14.05.52.0003 Angga Widhi Saputro Anggun Parameswari, Anggun Anindya Ratna Pratiwi Annisa Arum Putri Anton Styo Wibowo, Anton Styo Ardang, Rifvan Yuniar Ari Setyowati Arief, Ahmad Fikri ARIF INDIARTO, ARIF Arifin Arifin Arintina Rahayuni Aristiati, Kun Ariyanti, Wahyu Arizona, Meivy Armeina Nur Rachmawati ARTINI PANGASTUTI Arum, Rizki Sekar Asri Nugraheningtyas Astuti, Satria Dwi Aulia, Vina Auliya Hakim, Muhammad Andi Ayi Yustiati Azhari Azhari Azizzah, Farah B. Setiawan Baedhowi Baedhowi Bagus Indrawan, Bagus Bambang Sigit Bambang Wasito Adi Bardi Murachman Baskoro Adi Prayitno Bayu Setya Hertanto Cahyo, Reza Dwi cahyono, hadi Carlina Soetjiono Chairunnisa Chairunnisa Condro Hadi Mulyono, Condro Hadi David David DEWI IRAWATI Dewi Kusuma Wardani Dhimas Arvico, 13.05.52.0138 Djarot Sadharto, Djarot Djati Mardiatno Dwi Pratama, 14.05.52.0003 Angga Dwi Ratnawati, Dwi EDWI MAHAJOENO Eka Kusumawati, Eka Eka Wahyudi Eko Haryono Eko Mujiyanto, 13.05.52.0092 Endah Tri Wahyuni Endang Widjayanti LFX Erland, Radja Ernawan Setyono Euis Soliha F.X. Hartono Fasani, Rizkan Faif Fattah, Fuad Abdul Febrianto, Aji Sofian Feri Setyowibowo Gema Paku Bumi Gumilang, Anggita Moro Hani Faurizka Happy Ade Permanasari Hardyanto S HARI SUTRISNO Harini Harini Harlistyanti, Ryna Hartono Hartono Hartono, Rudy Harwanto, Dody Candra Herbowo Hardianto Hermin Poedjiastoeti Hersugondo Hersugondo Heru Santoso Wahito Nugroho, Heru Santoso Wahito Hosiana MD Labania Idham Halid Ikhsan Jaslin, Ikhsan Ilham Futaki Indra Surjati Indrawati, Like Intan Permata Sari, 12.05.52.0029 Isna Putri Indayani, Isna Putri Isni Nurruhwati Iva Yuniasih, 14.05.52.0001 JaisSetiawan, 13.05.52.0232 Jaslin Ikhsan Jayanti, Noviana Luthfi Jazilah, S. Joko Riyanto Joko Sutrisno Jonet Ariyanto Nugroho, Jonet Ariyanto Junun Sartohadi Kristanto, Alfa Kristiani Kristiani Kristiara, Sandy Kristiawan, Dona Kuat Rahardjo TS Kusuma Putri, Devi Ayu Kusumo, Pandansari Langgeng Wahyu Santosa Latif Sahubawa Leidena Sekar Negari Leny Noviani Lestari, Wijayanti Puji Lia Faiqoh Luasunaung, Alfred Luqmana Chakim, 15.05.52.0010 M Masykuri Manik, Astri Marita Martien Herna Susanti Mintasih Indriayu, Mintasih Muchamad Yulianto Muhammad Cahyadi, Muhammad Muhammad Sabandi, Muhammad Muhammad, Arfaningsi Mujadid, Ahmad Zahry Muslimawati, Claudia Musripah, 14.05.52.0098 N Wahyuningsih, N N Widyas, N Nachrowi D. Nachrowi Naibaho, Lamhot Neazar Astina Prabawani Nimas Hayuning Anggrahita, Nimas Hayuning Ningsih, Maulida Fajari Noor Sudiyati Novita Sekarwati, Novita Nugroho Tri Waskitho Nugroho, Dowes Ardi Nurcholis, Muhammad Nurfiatin, Titin Nurrohmah, Elida Nurul Dwi Dhamayanti, 15.05.52.0096 Nurul Khakhim Okid Parama Astirin Oktapiandi, Oktapiandi P, Azlhimsyah Rambun Pamenan, Azlhimsyah R. Pancawati Hardiningsih Paransa, Isrojaty Johanes Paringsih, Novia Citra Perdana, Firdaus Pinkky Sisvianingrum, 13.05.52.0049 Ponendi Hidayat Prabang Setyono Pramuwardani, Ida Pranoto Pranoto Pranoto, Wahyu Yudha Prasetyanta, Eka PRASETYO ANI PUJIASTUTI, 1252020126 Prasica Rudy Artha, 12.05.52.0191 Prastyanti, Katisya Abrina Pratami, Vivin Alfyana Yulia Pratiwi, Ervin Devi Pristiati, Tutut PUJI LESTARI Purba, Gandi YS Putri Endah Kurnia, 12.05.52.0134 Rachmawati Meita Oktaviani Rachmawati, Susan Rahayu, Slamet Mardiyanto Rahayu, Slamet Mardiyanto Rahmi Lubis Ramdani Salam Rani Rakhmaputri Wiranto Rara Sugiarti Regina Tutik Padmaningrum Reina Widianingrum, 14.05.52.0159 Reni Dyah Ayu Nur Fatimah, Reni Dyah Ayu Nur Reny Rahayuningsih, 13.05.52.0189 Rialdi, Rio Rianawati, Titik Rizaldi, Rizaldi Rois, Ibnu Rosyid Hidayah, Rosyid Rudy Yoga Lesmana S.A. Bachtiar, S.A. Safrudin, Dwi Sagaf Faozata Adzkia, Sagaf Faozata Saiful Bachri Salman Alfarisy Totalia Sangaji, Niko Sari, Reza Nepilia Sari, Siti Kartika Sayudi, Dewi Sri Septiani Septiani Setyo Prihatin, Setyo Shalihuddin Djalal Tandjung, Shalihuddin Djalal Sigit Heru Murti, Sigit Heru Sigit PRASTOWO Sintha, Aga Dwi Sishayati, Sishayati siti marwati Siti Nurjanah SITI RACHMAWATI Slamet Suprayogi Soebardi, Aris Sofia Mubarika Sopaheluwakan, Ardhasena Sri Budi Lestari Sri Budiastuti Sri Handayani Sri Mawarni, Sri Sri Mulatsih Sri Noor Mintarsih, Sri Noor Sri Waluyanti Sri Widowati Herieningsih Suardi, Rofiandri Sudarmadji Sudarmadji Sudarno Sudarno Sudibiyakto Sudibiyakto Sudiyono Sudiyono Suherman Suherman Sukanadi, Made Sumardino Sumardino Sumarno Sumarno Suparji Suparji, Suparji Suprijatmi, Tanti Supriyanto Supriyanto Suproborini, Arum Surya, Ferry Hendra Susanto J Susila Kristianingrum Sutaryo Sutaryo Sutrisno sutrisno Sutriyono, Toto Suwarno Suwarno Suyanto Hadi Syahudi, Giman Syofia Rahmayanti, Syofia Tandiyo Pradekso Tandjung, Djalal Titi Yuli Astuti, Titi Yuli Titik Kuntari Tomi Yuniardi M, 12.05.52.0120 Totok Sumaryanto F. Totok Sumaryanto Florentinus, Totok Sumaryanto Tri Retnasari, Tri Triana Setyawardani Triyanto Triyanto Triyono Lukmantoro Triyuliati Triyuliati Turnomo Rahardjo Tutik Fitri Wijayanti Tutik Wahyuni Tutik Wahyuningsih* Tyas, Eden Handayani Tyastuti, Erma Musbita Ubad Badrudin Udi Utomo Ula, Husnal Utami Utami Utomo Utomo Vita Kartikasari, Vita Wadiyo Wadiyo, Wadiyo Wahyu Sejati, Wahyu Wardhani, Puspita Indra Warsinah Warsinah Wibowo, Totok Wahyu Widha Sunarno Widianingrum, Reina Wijaya, Barkah Bangkit Wijayanti Endang, Wijayanti Wiryanto Wiryanto Wiwid Noor Rakhmad Wiyono, Joko Wulan Widiyanti, Wulan Wulandari, Yun Ismi Y B P. Subagyo, Y B Yasarah Diswari Ditiya, 15.05.52.0204 Yatimin Yatimin Yeow Liang, Yeow Yudiantoro, Dwi Fitri Yuli - Andriani Yuli Kurnia Ningsih Yuliyati Yuliyati, Yuliyati Yunianingsih, Era Yuwono Setiadi, Yuwono