p-Index From 2014 - 2019
0.751
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Interaksi Online
Dr. Sunarto
Departemen Ilmu Komunikasi FISIP UNDIP

Published : 7 Documents
Articles

Found 7 Documents
Search

RESEPSI KHALAYAK TENTANG TAYANGAN STAND UP COMEDY YANG MENGANDUNG UNSUR DISKRIMINASI

Interaksi Online Vol 1, No 2 (2013): Wisuda April
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKKarakteristik masyarakat Indonesia yang plural menyebabkan timbulnya berbagaimacam stereotype pada setiap kultur budaya yang ada. Tindakan-tindakandiskriminatif sampai saat ini pun masih hadir dalam berbagai bentuk, salah satunyaditayangkan dalam bentuk hiburan stand up comedy dengan comic sebagaipenyampai pesan.Penelitian ini merupakan sebuah bentuk studi untuk melihat bagaimanaaudience membangun makna apa yang dikonstruksikan oleh media, melalui risetkhalayak melalui 6 informan dengan rentang usia 17-24 tahun dan berasal dariberbagai kota.Sebagai sebuah hiburan yang ditayangkan di media televisi yang merupakansalah satu sarana komunikasi, yang dinikmati oleh masyaraat dengan kultur yangbervariasi, oleh karena itu comic harus memahami komunikasi antar budaya dankomunikasi interpersonal dengan baik, karena stand up comedy adalah komedi yangdiadopsi dari luar dengan aliran bebas dan terbuka maka dituntut adanya tanggungjawab sosial dari media, hamper esmua informan menyatakan bahwa terdapat unsurunsurdiskriminasi yang disampaikan oleh comic dalam tayangan stand up comedymeskipun telah melalui tahap sensor dan editing, hal ini dapat dikonstruksikan bahwasegala hal mungkin dilakukan untuk menghibur penonton.Akhirnya dapat dismpulkan bahwa Sebagian besar informan berada pada posisidominant dimana penonton menerima makna-makna yang disodorkan oleh tayangan,Unsur diskriminasi yang disampaikan dalam tayangan stand up comedy bertujuanagar audience lebih open mindedness dalam menyikapi realita kehidupan denganidentitas kultural yang berbeda, Stand up Comedy merupakan humor intelektualkarena pesan yang disampaikan memerlukan daya tangkap dan pemikiran tertentuuntuk dicerna.Untuk itu disarankan Untuk penelitian selanjutnya diharapkan dapatmenggunakan pendekatan etnografi dengan lebih melihat pada latar belakang suku,agama, dan ras informan dengan harapan diperoleh resepsi khalayak yang lebihbervariatif, untuk media hendaknya menganut teori sosial responsibility (tanggungjawab sosial), dan hendaknya masyarakat lebih bersikap terbuka terhadap realitaskultur yang ada dengan menilai objektif pesan yang disampaikan dan lebihberorientasi pada isi pesan, disertai dengan mencari informasi dari berbagai sumber.Kata Kunci: Stand Up Comedy,DiskriminasiABSTRACIndonesian’s plural characteristics cause many kinds of stereotypes on every existingcultures. Acts of discrimination still present in many forms, one of it which isbroadcast in the form of stand-up comedy entertainment with the comic as amessenger.This research is a form of study to see how audiences construct meaning from what isconstructed by the media, using audience research through 6 informants with an agerange of 17-24 years and come from various cities.As an entertainment which aired on television as one of the communication means,which is enjoyed by people with varying cultures, therefore comic should understandintercultural communication and interpersonal communications well, because standupcomedy is a comedy adopted from foreign culture with free and open mindedbackground so it is required a social responsibility from the media, almost everyinformants stated that there are elements of discrimination in the impressionsconveyed by stand up comedy comic though it has been through the stages ofcensorship and editing, it can be constructed that everything possible to entertain theaudience.Finally it can be concluded that most of the informants are in a dominant positionwhich the audience accept the meanings offered by shows, Elements ofdiscrimination presented in stand up comedy shows, aims to make the audience moreopen-mindedness in addressing the realities of life with a distinct cultural identity,Stand up Comedy is an intellectual humor because the message requires a certainperception and thought to digest.It is recommended for future studies to use an ethnographic approach by focusing onethnic background, religion, and informant race in the hope to obtained a more variedaudience reception, the media should embrace the theory of social responsibility, andthe public should be more open to the reality of the existing culture to assessobjectively the message and more oriented to message content, along with seekinginformation from various sources.Key words: Stand Up Comedy, DiscriminationPendahuluanPermasalahan penelitianDiskriminasi terhadap kaum minoritas merupakan salah satu fenomena sosial yangtidak terpisahkan dari Negara Indonesia. Karakteristik masyarakat Indonesia yangplural menyebabkan timbulnya berbagai macam stereotype pada setiap kultur budayayang ada. Tindakan-tindakan diskriminatif sampai saat ini pun masih hadir dalamberbagai bentuk dan telah merambah ke berbagai bidang kehidupan bangsa dandianggap sebagai hal yang biasa dan wajar serta tidak menganggap bahwa haltersebut merupakan suatu bentuk diskriminasi. Seperti halnya yang terjadi padamereka yang memeluk agama Kristen. Diskriminasi terhadap agama Kristen diIndonesia telah terjadi sangat lama dan tidak terlihat adanya penyelesaiaan dari pihakpemerintah, terlihat dari tidak adanya buku-buku pelajaran dalam sekolah-sekolahumum yang mengupas sejarah kedatangan dan perkembangannya di Indonesia.Kebanyakan buku-buku pelajaran yang ada hanyalah seputar agama Hindu, Budha,dan Islam dan perkembanganya di Indonesia. Ataupun kasus Gereja Yasmin yangterjadi di daerah Bogor yang sampai saat ini masih menimbulkan konflik antarberbagai pihak. Pelarangan pendirian gereja di wilayah tersebut menuai konflik yangberkepanjangan antar umat Kristen dan Islam disana. BerdasarkanTEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah Indonesia enggan menyelesaikan kasuspelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang berkaitan dengan kebebasan beragamawalaupun sudah diperingatkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). KomisionerHAM PBB pada April 2011 menyampaikan surat diplomasi kepada KementerianLuar Negeri. Dalam surat itu pemerintah didesak agar segera menyelesaikan kasuskekerasan terhadap jemaah Ahmadiyah dan penyerangan terhadap GKI TamanYasmin.(http://www.tempo.co/read/news/2012/02/05/063381842/GKI-Yasmin-Pemerintah-Tak-Mempan-Disorot-PBB, tanggal akses 27 februari 2012, Ananda W.Teresia)Berdasarkan Wahid Institute dalam www.bennisetiawan.blogspot.com,tercatat di tahun 2011 telah terjadi 92 kasus pelanggaran kebebasan beragama danberkeyakinan. Jumlah itu meningkat 18 persen dari tahun sebelumnya, 62 kasus.Pelarangan dan pembatasan aktivitas keagamaan atau kegiatan ibadah tercatat 49kasus. Disusul tindakan intimidasi dan ancaman kekerasan oleh aparat negara (20kasus), pembiaran kekerasan (11 kasus), kekerasan dan pemaksaan keyakinan sertapenyegelan dan pelarangan rumah ibadah (masing-masing 9 kasus). Pelanggaran lainadalah kriminalisasi atau viktimisasi keyakinan (4 kasus).(http://bennisetiawan.blogspot.com/2012/01/berperang-atas-nama-agama.html,tanggal akses 9 maret 2012, Benni Setiawan)Praktik diskriminasi yang telah banyak terjadi di masyarakat justru dihadirkankembali oleh media dengan representasi media. Dimana masalah-masalah tersebutselalu dihadirkan dalam tayangan-tayangan berjenis hiburan, sehingga khalayak yangmenonton lupa akan realitas yang sebenarnya. Inilah bentuk kekerasan simbolik yangdihadirkan oleh media pada khalayak. Belum lama ini Metro TV, menampilkansebuah acara baru dengan kategori hiburan, yaitu tayangan standup comedy show.Tayangan ini merupakan tayangan komedi yang bersifat lepas atau bebas. Bebasberarti, para komedian yang tampil dalam standup comedy bebas untuk membawakanmaterinya tanpa ada batasan, Tergantung dari point of view yang dimiliki olehseorang comic (sebutan untuk komedian standup comedy) terhadap suatu masalah.Bisa masalah sehari-hari, fenomena sosial, “uneg-uneg” maupun keresahan danketegangan yang dimiliki oleh seorang comic, bahkan sampai isu-isu yang sensitifbaik itu agama, suku, ras, dll.Bila dilihat kembali, humor-humor yang mengarah pada diskriminasi dansarkasme telah ada dalam keseharian masyarakat Indonesia baik dalam komunikasipersonal ataupun kelompok namun yang terjadi sekarang ini jelas sekali bertentanganperaturan dan perundangundangan yang ada karena pengungkapan kata yangseharusnya tidak layak didengar justru disiarkan oleh media dengan skala nasional.Dengan tingkat pendidikan masyarakat Indonesia yang masih rendah, dan kurangkritisnya khalayak terhadap isi pesan di media menjadikan khalayak kita hanyamemakan pesan secara buta tanpa mengetahui arti dan makna yang sesungguhnyadari sebuah pesan di media.Tujuan penelitianAdapun yang menjadi tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahuibagaimana resepsi khalayak terhadap tayangan standup comedy yang di dalamnyamengandung unsur–unsur diskriminasiMetodologi PenelitianPenelitian ini menggunakan metode analisis resepsi. Metode ini digunakan untukmelihat bagaimana informan memaknai tayangan stand up comedy yangmengandung usur diskriminasi. Riset khalayak menurut Stuart Hall (1973: 123)membagi khalayak dalam 3 kategori pemaknaan yaitu: dominant, negotiated, danoppositional. Dalam kode dominan, penonton menerima makna-makna yangditawarkan oleh tayangan. Dalam kode negosiasi, penonton tidak sepenuhnyamenerima makna-makna yang ditawarkan tapi mereka melakukan negosiasi danadaptasi sesuai nilai-nilai yang dianutnya, sementara kode oposisi, penonton tidakmenerima makna yang diajukan dan menolaknya”.Teori Stuart Hall juga digunakan sebagai analisis data dalam penelitian iniHasil penelitianImplikasi teoritisPemaknaan khalayak dalam tayangan stand up comedy yang mengandung unsurdiskriminasi terbagi menjadi dua kategori yaitu negotiated dan dominant.Dalam kategori negosiasi (negotiated) informan berada pada posisi mengakui danmenyetujui preffered reading yang ditawarkan oleh media yaitu bahwa stand upcomedy adalah humor yang cerdas dan unsur diskriminasi yang ada di dalamnyaadalah hal yang wajar, tetapi khalayak juga menolak preffered reading tersebutartinya sebaiknya unsur diskriminasi tidak dimasukkan dalam humor apapunalasannya, dan dengan penyampaian yang halus sekalipun karena pola pikir danpemaknaan yang muncul setiap orang berbeda-beda. Ketika pesan diterima olehkhalayak dan pesan tersebut dirasakan kurang tepat, maka ia akan membuat negosiasidalam pemaknaannya. Sehingga pada posisi ini khalayak berada di tengah-tengahyaitu mengakui dan juga menolak preffered reading yang ditawarkan oleh acara standup comedy tersebut.Pada posisi ini semua diskriminasi ditampilkan secara wajar di media yaitudiskriminasi agama, ras, suku, tingkat ekonomi, dan kondisi fisik, karena hanyabertujuan untuk memeriahkan suasana tanpa adanya maksud untuk menyakitisiapapun bahkan membuka cakrawala pemirsa bahwa negara ini terdiri darimasyarakat yang beragam dengan latar belakang yang berbeda-beda, namun karenapola pikir masing-masing pribadi berbeda-beda maka ditakutkan akan menimbulkankonflik untuk ke depannya karena diskriminasi ditujukan untuk golongan minoritasseperti Nasrani, Thionghoa, Batak, Bias Gender (Waria), dan lain-lainSebagian khalayak menyatakan bahwa meskipun stand up comedy adalah sebuahhumor yang cerdas namun adanya unsur diskriminasi yang terdapat didalamnyaadalah hal yang wajar. Meskipun hal ini tidak seiring dengan tingkat pendewasaanmasyarakat sehingga untuk beberapa hal dapat memicu konflik. Diskriminasi dalamsebuah acara humor adalah bumbu yang membuat suatu acara menjadi lebih menarik,dan selama ini diskriminasi dalam humor merupakan hal yang sangat umum danberlangsung sejak puluhan tahun yang lalu.Sebagian besar khalayak mengakui adanya pemaknaan dominant dan iamenerima teks yang ditawarkan media yaitu bahwa stand up comedy adalah komedicerdas dan mengandung unsur diskriminasi yang meliputi perbedaan prinsip,penyampaian, pola pikir, pemaknaan, dan lain-lain. Sehingga pada posisi ini khalayakberada di posisi mengakui preffered reading yang ditawarkan oleh acara stand upcomedy. Dalam hal ini diskriminasi pada humor adalah hal yang wajar meskipununtuk beberapa hal dirasa kurang tepat khususnya untuk humor yang cerdassebaiknya tidak menyakiti pihak lain.Diskriminasi sendiri muncul karena adanya unsur latar belakang sejarah,perkembangan sosio kultural dan situasional, faktor kepribadian, dan perbedaankeyakinan, kepercayaan, dan agama. Unsur-unsur tersebut terlihat dari latar belakangcomic yang beragam sehingga dalam setiap penyampaian materi humor mereka jugamemiliki pola pikir, respon, dan penyampaian yang berbeda. Diskriminasi dalamhumor dapat diterima oleh khalayak dengan syarat diskriminasi tersebut ditujukanuntuk membuat suasana menjadi meriah, disampaikan dengan bahasa yang baik,berdasar pada latar belakang si comic, tetap mempertahankan sisi humor yang munculsehingga memperkecil terjadinya konflik, perlu adanya proses sensor sehingga halhalyang sangat sensitif dapat diminimalisir seperti humor yang mengandungdiskriminasi agama karena hal ini bersifat sangat pribadi.Komunikasi antar budaya akan terjalin setelah adanya komunikasi antarpribadi antara comic dan audience¸dalam hal ini pesan yang ingin disampaikan olehseorang comic melalui tema komedi dibawakan akan menjadi efektif jika adakomunikasi interpersonal yang baik, dalam stand up comedy komunikasiinterpersonal yang terjalin adalah comic menyampaikan aspek kepribadiannyamelalui pengalaman hidup dan cerita kehidupannya yang dibawakan dalam bentukkomedi dengan harapan audience juga mempunyai pemikiran yang sama dengan apayang dia sampaikan sehingga pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik(Rakhmat, 2005: 122)Dalam studi komunikasi antar budaya, ketidaktulusan dalam menjalininteraksi dicerminkan oleh sebuah konsep yang dikenal dengan mindlessness, yaituorang yang sangat percaya pada kerangka referensi yang sudah dikenal, kategorikategoriyang sangat rutin dan cara-cara melakukan sesuatu yang sudah lazim (Ting-Toomey, dalam Mulyana, 2008: 11). Artinya ketika melakukan kontak antar budayadengan orang lain (stranger), individu yang berbeda dalam keadaan mindlessmenjalankan aktivitas komunikasinya seperti automatic pilot yang tidak dilandasidengan kesadaran dalam berpikir (conscious thinking).Individu tersebut lebih berada pada tahapan reaktif daripada proaktif. olehkarena itu untuk mencapai keadaan mindfull dalam komunikasi antarbudaya, makaseseorang perlu menyadari bahwa ada perbedaan-perbedaan dan kesamaan-kesamaandalam diri masing-masing anggota kelompok budaya, pihak-pihak yangberkomunikasi merupakan individu-individu yang unik. Dalam deskripsi yang lebihkonkrit, Langer mengatakan bahwa mindfulness terjadi ketika seseorang 1) memberiperhatian pada situasi dan konteks; 2) terbuka terhadap informasi baru; 3) menyadariadanya lebih dari satu perspektif (Mulyana, 2008:12)PenutupBerdasarkan hasil dari penelitian dapat diketahui bahwa sebagian besar informan berada pada posisidominant hegemonic position. Adanya unsur diskriminasi yang dimunculkan dalam stand upcomedy tidak merubah pemaknaan informan terhadap sebuah humor stand up comedy. Unsurdiskriminasi yang disampaikan dalam tayangan stand up comedy bertujuan agar audiens lebih openminded dalam menyikapi realita kehidupan dengan identitas kultural mereka, melalui sebuah humorjenis verbal seperti stand up comedy unsur diskriminasi berfungsi dalam menciptakan keadaan yangmindfullnesSaranUntuk penelitian selanjutnya diharapkan dapat menggunakan pendekatan yangberbeda dengan lebih melihat pada latar belakang informan dengan harapan diperolehresepsi khalayak yang lebih bervariatif. Agar tidak menimbulkan persepsi yangnegatif di masyarakat, maka media hendaknya menganut teori sosial responsibility(tanggung jawab sosial), seiring dengan perkembangan media massa maka menuntutpara pelakunya untuk memiliki suatu tanggung jawab sosial. Para pemilik danpengelola pers menentukan siapa-siapa, fakta yang bagaimana, versi fakta yangseperti apa yang dapat disiarkan kepada masyarakat dengan menghindari topik yagrasis, gender, atau humor yang audience akan berkeberatan mendengarkannya.Hendaknya masyarakat lebih bersikap terbuka terhadap realitas kultur yang adadengan menilai objektif pesan yang disampaikan dan lebih berorientasi pada isipesan, disertai dengan mencari informasi dari berbagai sumber.DAFTAR PUSTAKABukuAbdullah, Irwan. (2001). Seks, Gender dan Reproduksi Kekuasaan, Tarawang Press,YogyakartaAbdullah, Irwan. (2007). Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan.Yogyakarta:Pustaka PelajarBarker, Chris. (2008). Cultural Studies, Teori & Praktik. Yogyakarta:Kreasi WacanaBlake, Marc. (2005). How to be a Comedy Writer. Great Britain: SummersdalePublishers LtdDarminto, M. Sudarmo. (2004). Anatomi Lelucon Indonesia. Jakarta: ParhumiDenzin, Norman dan Yvonna S. Lincoln. (2009). Handbook of Qualitative Research.Yogyakarta: Pustaka PelajarFakih, Mansour. (2002). Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi, PustakaPelajar, YogyakartaHelitzer, Mel, dan Mark Shatz. (2005). Comedy Writing Secret. (2nd edition). WritersDigest Books,Hall, Stuart. (1973). ‘The Television Discourse : Encoding and Decoding’, dalamCulture, Media, Language ed Stuart hall, Dorothy Hobson, Andrew Lowe andPaul Willis. London : Hutchinson, 1980Haryatmoko, (2007), Etika Komunikasi, Yogyakarta : Penerbit KanisiusJ. Lexy, Moleong, (2004) Metodologi Penelitian Kualitatif. (edisi 4). Bandung:Remaja RosdakaryaLefcourt, H.M, (2005), Humor, dalam Handbook of Positif Psychology by Snyder &Lopez, New York: Oxford University PressLittlejohn, S.W, (1996), Thories of Human Communication (fifth edition), WadsworthPublishing Company, Belmont, CaliforniaLeggat, Alexander, (2002). The Cambridge Companion To Shakespearean Comedy.United Kingdom: Cambridge University PressMcQuail, Dennis. (2002). Teori Komunikasi Massa. Diterjemahkan oleh Agus Darmadan Aminudin Ram, Erlangga, JakartaMindess, (1991), The Antioch Humor Test. New York: Avon BooksMulyana, Deddy, (2008), Komunikasi Humoris. Simbosia rekatama Media, BandungRahardjo, Turnomo, (2005), Menghargai Perbedan Kultural, Yogyakarta: PustakaPelajarRakhmat, Jalaluddin. (2005). Psikologi Komunikasi. Bandung: PT. RemajaRosdakarya.Rayner, Philip, Peter Wall, and Stephen Kruger. (2004). Media Studies: The EssentialResource. London and New York: RoutledgeRogers, Everett, M. (1986). Communion Technology, London: The Free Press, CollierMacmillan PbliRuben, Brent, D, dan Lea P Stewart, (1996). Communication and Human Behavior,Allan & bacon A. Viacom Company, USA. Edisi IVRudy, May,Teuku. (2005). Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Internasional.Bandung: PT Refika AditamaSarlito,(1996), Pengantar Umum Psikologi, Jakarta: Bulan BintangSarwono, Sarlito Wirawan, (1999). Psikologi Sosial Individu dan Teori-Teori,Jakarta: Balai Pustaka.Setaiti. Eni.(2005). Ragam Jurnalistik baru dalam Pemberitaan. Jogyakarta : CVAndi Offset.Sudibyo, (2004). Ekonomi Politik Dunia Penyiaran. Yogyakarta: LKISSuhadi,M. Agus, (1989). Humor itu Serius. Jakarta: PT Pustaka Karya GrafikatamaSullivan, Tim O’ et all. (1994). Key Concept in Communication and Cultural Studies.second edition. London and New york: RoutledgeSuranto, (2010), Komunikasi Sosial Budaya. Yogyakarta. Graha IlmuSuyanto, Bagong. (2006). Metodologi Penelitian sosial, Jakarta, KencanaWiryanto. (2006). Teori Komunikasi Massa. Jakarta: Grasindo.Wibowo, Fred. (1997). Dasar-Dasar Produksi Program Televisi. Jakarta, GramediaWidiasarana IndonesiaWest, Richard. (2008). Pengantar Teori Komunikasi: Teori dan Aplikasi. Jakarta:Salemba HumanikaMakalah dan JurnalAudrieth, Anthony L. (1998). The Art of Using Humor in Public Speaking, Psicologyof HumorAyuningtyas, Retno. (2010). Analisis Resepsi Pemirsa tentang Diskriminasi Genderdalam Tayangan Bukan Empat Mata, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik,Universitas DiponegoroEnggaringtyas, Arum. (2011). Stereotip dan diskriminasi gender terhadap wartawanperempuan di Harian Surya. Universitas Kristen PetraFatt, James. (1998). Why do we laugh?, Communication World. Vol.15 No. 9Hidayat, Dedy, N. (1999). Paradigma dan Perkembangan Penelitian Komunikasi,"Jurnal Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia. No. 3 (April, 1999), hal. 34-35Martin, Rod A. (2003). Sense of Humor. In S. J. Lopez and C. R. Snyder. (Eds.).Possitive Psycological Assessment: University Of Western Ontario LondonMunandar. (1996). Humor: Makna Pendidikan dan Penyembuhan. Suatu TinjauanPsikologis. Makalah. (Dalam Seminar Humor Nasional). SemarangNasir. (2004). Perubahan Struktur Media Massa Indonesia dari Orde Baru ke OrdeReformasi, Kajian Media Politik-Ekonomi. DisertasiPurnama, Indah Dwi. (2009). Film Nagabonar Karya Asrul Sani dan FilmNagabonar Jilid 2 Karya Musfar Yasin: Analisis Resepsi. Fakultas Sastra,Universitas Sumatera Utara,Puspitasari, Aprilia. (2010). Resepsi Khalayak atas Sosok Idola dalam TayanganTelevisi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas DiponegoroSaraswati. (1999). Hubungan Sense of Humor dengan Penyesuaian Diri. Yogyakarta:Universitas Islam IndonesiaSutedjo, Hadiwasito. (1996). Penyusunan Pesan, Makalah Pendidikan Creative danAccount , PPPI Jawa Tengah, 3-4 Mei 1996Tripuspitarini, Hana. (2010). Naturalisasi Kekerasan dalam Komedi Opera Van Java,Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Diponegoro.InternetAritonang, Philemon. (2012). Kompasiana: Stand Up Comedy Berbau Sara. Dalam,http://sosbud.kompasiana.com/2011/09/23/stand-up-comedy-di-metro-tvberbau-sara/. Diunduh pada 14 maret 22.11 WIBArinjaya, I Dw Gd Erick Krisna. (2013). Tips Humor yang Cerdas. Dalam,http://blogdoodey.blogspot.com/2011/04/tips-humor-yang-cerdas.html.Diunduh pada 7 Maret pukul 19.50 WIBHang, yeni. (2012). Diskriminasi Pendidikan Untuk Tionghoa. Dalam,http://yinnihuaren.blogspot.com/2011/10/diskriminasi-pendidikan-untuktionghoa.html. Diunduh pada 9 maret pukul 21.38 WIBJinggaberseri: Stand Up Comedy Indonesia. (2012). Dalam,http://www.squidoo.com/Stand-Up-Comedy-Indonesia-Jinggaberseri.Diunduh pada 2 Juli pukul 22.20 WIBKoran Jakarta. (2012). Stand Up Comedy. Dalam,http://m.koranjakarta.com/?id=75503&mode_beritadetail=1. Diunduh pada27 februari 20.48 WIBLynch, Owen. H. (2002). Humorous Communication: Finding a Place for Humor inCommunication Research. international communication. vol 12, p. 423-44.Dalam,http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/j.14682885.2002.tb00277.x/abstractManuputty, Cavin R., dan Basfin Siregar. (2013). Lintang Atiku: Sejarah PerjalananStand Up Comedy Indonesia. Dalam,http://www.lintangatiku.com/2013/01/sejarah-perjalanan-stand-upcomedy-indonesia.html. Diunduh pada 3 Januari pukul 23.21 WIBSetiawan, Beny. (2012). Berperang atas Nama Agama. Dalam,http://bennisetiawan.blogspot.com/2012/01/berperang-atas-namaagama.html. diunduh pada 9 maret pukul 21.45 WIBSiahaan, Samuel hasiholan. (2012). Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia. BukuTamu, dalamhttp://www.pgi.or.id/index.php?option=com_rsmonials&Itemid=28. Diunduhpada 11 maret pukul 20.28 WIBSetyawan, Dharma. (2012). Komunitas Hijau: Khotbah Stand Up Comedy. Dalamhttp://www.dharmasetyawan.com/2011/11/media-sosial-dan-kotbah-standup-comedy.html. tanggal akses 14 maret pukul 22.18 WIBSido, Fandy. (2012). Kompasiana: Tayangan Humor Indoensia Sarkatis. Dalam,http://hiburan.kompasiana.com/humor/2011/08/05/tayangan-humorindonesia-sarkastis-385608.html. Diunduh pada 14 maret pukul 22.23 WIBTeresia, Ananda W. (2012). Tempo: GKI Yasmin: Pmerintah Tak Peduli. Dalam,http://www.tempo.co/read/news/2012/02/05/063381842/GKI-Yasmin-Pemerintah-Tak-Mempan-Disorot-PBB. Diunduh pada 27 februari pukul 20.30WIBUndang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2002. (2012). Dalam,http://www.kemenkumham.go.id/attachments/article/170/uu39_1999.pdf.Diunduh pada tanggal 27 Februari 21.00 WIBWirodorono, Sunardian. (2012). Jurnal Sunardian: Stand Up Comedy Indonesia.Dalam, http://sunardian.blogspot.com/2012/03/stand-up-comedy-indonesiayah.html. Diunduh pada 14 maret 2012 pukul 22.14 WIBZuhri, Syaripudin. (2013). Humor Itu Mencerdaskan Bukan Merendahkan. Dalamhttp://hiburan.kompasiana.com/humor/2012/10/23/humor-itumencerdaskan-bukan-merendahkan-503542.html. Diunduh pada 27 Februari2013. 21.10 WIBZulfikar, Ahmad (2012). Gudang Materi: Stand Up Comedy di Indonesia dan Dunia.Dalam, http://www.gudangmateri.com/2012/01/stand-up-comedy-diindonesia-dan-dunia.html. Diunduh pada tanggal 14 maret 22.20 WIBFerfei. (2012). Stand Up Comedy: Canda Tawa Berdiri Sampai Mati. Dalam,http://light.mindtalk.com/StandUpComedy/post/4e9ea719f7b73028df00039f. Diunduh pada 14 Juli 2012 pukul 13.23WIB

KEKERASAN SIMBOLIK TERHADAP PEREMPUAN DALAM TAYANGAN KOMEDI OPERA VAN JAVA

Interaksi Online Vol 1, No 2 (2013): Wisuda April
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

KEKERASAN SIMBOLIK TERHADAP PEREMPUAN DALAM TAYANGAN KOMEDI OPERA VAN JAVAAlfdian Wizqi PutriABSTRACTMass media especially television is one of the medium that used to convey the message. The successful comedy show that being broadcast on Trans7, Opera van Java, give us the potrayal of symbolic violence towards women. How the manifestation of symbolic violence in comedy show will strengthen the dominant ideology that exist in the society.The purpose of this study is to see the manifestation of symbolic violence towards women in comedy show and the background ideology of the symbolic violence. Theories that used in this study are standpoint theory and sosialist feminist theory. Researcher tried to find the meanings that shown in this comedy show through semiotics analysis by Roland Barthes, include the lexias and five major codes.The results of this study indicate that symbolic violence towards women was manifested to stereotypes, domestication and sexual objectification towards women. Women stereotypes that represent through this show are in the domestic space, role as the wife and mother, responsible on houseworking, take care of the husband and children, weak, passive, dependent, don’t have ability to take decisions, as sexual object/symbol and as the object of sexual abuse. Domestication towards women separates women from public space, make the house as the proper place for women. Sexual objetification reducts women ability to be passive and gender object (passion, exploitation, abuse). Symbolic violence towards women was based on patriarchy and capitalism ideology. Therefore, we need to destruct both patriarchy and capitalism to release women from the oppression.Key words: television, comedy, women, symbolic violencePENDAHULUANSemakin banyaknya program yang disajikan oleh stasiun-stasiun televisi swasta diharapkan dapat menambah pilihan tontonan yang bermanfaat bagi para pemirsanya. Akan tetapi, televisi sekarang ini lebih banyak menyajikan konten hiburan, salah satunya yaitu tayangan komedi. Hal yang disayangkan adalah bahwa komedi televisi banyak sekali mengandung konten kekerasan simbolik terhadap perempuan.Kekerasan simbolik merupakan kekerasan yang bekerja pada sekelompok individu tidak secara fisik, melainkan secara simbolik. Dapat berupa pengingkaran diri, diperlakukan inferior atau dibatasi aspirasinya. Pada relasi gender, kekerasan simbolik cenderung terjadi dalam bentuk penyangkalan hak perempuan dan pemberian keuntungan atau keistimewaan bagi laki-laki (Bourdieu, 2002: xvi).Opera van Java merupakan salah satu tayangan komedi yang menyajikan kekerasan simbolik terhadap perempuan. Perempuan digambarkan secara subordinat dan inferior melalui penokohan, alur cerita, serta adegan-adegan yang ditayangkan. Perempuan yang sering menghiasi tayangan komedi OVJ memang seringkali dijadikan objek untuk membuat guyonan-guyonan yang mampu mengundang tawa pemirsanya. Berhubungan dengan hal tersebut, penelitian ini berusaha untuk mengkaji beberapa permasalahan, yaitu mengapa perempuan seringkali menjadi objek kekerasan simbolik dalam komedi? Bagaimana bentuk-bentuk kekerasan simbolik yang terjadi? Serta apakah ideologi dominan yang melandasi kekerasan yang terjadi?Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana bentuk kekerasan simbolik terhadap perempuan dalam tayangan komedi Opera van Java dan membongkar ideologi gender dominan yang melatarbelakanginya.METODA PENELITIANTipe penelitian ini adalah deskriptif dengan metode kualitatif. Analisis dilakukan dengan menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes. Subyek penelitian adalah salah satu episode tayangan komedi Opera van Java berjudul “Banyak Anak Banyak Rezeki???” yang ditayangkan di Trans7.HASIL PENELITIANMelalui analisis sintagmatik yang meliputi aspek (1) kerja kamera, (2) setting dan kostum, (3) dialog, serta (4) karakter, maka dipilih 20 adegan penting yang dapat memberikan makna mengenai kekerasan simbolik terhadap perempuan dalam tayangan komedi Opera van Java, yaitu adegan nomor 2, 4, 5, 7, 8, 9, 11, 12, 14, 16, 18, 19, 20, 21, 25, 28, 29, 30, 39 dan 50. Selanjutnya, peneliti melakukan analisis paradigmatik dengan menggunakan lima kode pembacaan Roland Barthes yang meliputi kode hermeneutika, kode proarietik, kode simbolik, kode kultural dan kode semik untuk melakukan pemaknaan lebih mendalam di balik penyajian adegan-adegan tersebut.Hasil dari analisis kode hermeneutika dalam tayangan ini menggambarkan perempuan, sebagai istri dan ibu, adalah individu yang tempatnya di rumah, jauh dari sektor produksi. Masalah-masalah yang dihadapi perempuan adalah masalahrumah tangga, seperti mengurus anak, melayani suami dan masalah ekonomi yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan rumah tangga. Kemudian, perempuan digambarkan sebagai sosok yang bergantung dan tidak dapat menyelesaikan masalah.Hasil dari analisis proarietik menunjukkan bahwa kekerasan simbolik terhadap perempuan yang terjadi melalui domestikasi dan objektifikasi seksualitas perempuan. Selain itu, perempuan juga dimunculkan dengan stereotip tertentu, seperti berada di rumah, berperan sebagai istri dan ibu, mengurus rumah tangga, melayani suami dan mengasuh anak, lemah, pasif, patuh, bergantung pada laki-laki (suami), tidak mampu membuat keputusan sendiri, sebagai obyek seksual/simbol seks dan obyek pelecehan.Kekerasan simbolik terhadap perempuan berdampak pada kondisi psikis, ekonomi serta sosial perempuan. Dari segi psikologis, efek yang ditimbulkan adalah ketidaknyamanan bahkan kemarahan. Dari segi ekonomi, perempuan bergantung kepada laki-laki secara finansial. Kemudian dari segi sosial, posisi perempuan selalu inferior terhadap laki-laki. Kekerasan simbolik terhadap perempuan berdampak pada semakin langgengnya dominasi laki-laki dalam masyarakat.Hasil dari analisis kode simbolik menunjukkan bahwa simbol-simbol yang ditampilkan merujuk kepada suatu simbol dominan yaitu simbol dominasi laki-laki. Tayangan ini menampilkan laki-laki sebagai sosok yang dominan, baik darisegi ekonomi, posisinya sebagai kepala keluarga yang harus dihormati dan dilayani, maupun tindakan-tindakan kekerasan yang menunjukkan dominasi.Hasil dari analisis kode kultural merujuk pada satu budaya patriarki. Perempuan, baik dalam status sosial tinggi maupun rendah, sama-sama terdominasi oleh kuasa laki-laki. Dominasi laki-laki ini diperlihatkan melalui kepatuhan, pelayanan, serta kebergantungn seorang istri terhadap suami. Selain itu, dominasi laki-laki juga ditunjukkan dalam bentuk kekerasan seksual terhadap perempuan.Hasil dari analisis kode semik adalah kekerasan simbolik terhadap perempuan terjadi secara alami dan tanpa disadari. Kekerasan simbolik terjadi melalui mitos-mitos yang ada dalam masyarakat yang menentukan peran yang berbeda bagi laki-laki dan perempuan. Kekerasan simbolik yang terjadi terhadap perempuan merupakan bentuk dari dominasi ideologi kapitalisme dan patriarki.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekerasan simbolik terhadap perempuan dalam tayangan komedi Opera van Java terjadi dalam bentuk stereotype, domestikasi dan objektifikasi perempuan. Selain itu, peneliti juga menemukan bahwa kekerasan simbolik yang terjadi dilatarbelakangi oleh ideologi patriarki dan kapitalisme.PEMBAHASANPenelitian ini mengindikasikan adanya kekerasan simbolik terhadap perempuan dalam berbagai bentuk. Menurut penjelasan Bourdieu (2002: xvi),kekerasan simbolik merupakan kekerasan yang bekerja pada sekelompok individu tidak secara fisik, melainkan secara simbolik. Dapat berupa pengingkaran diri, diperlakukan inferior atau dibatasi aspirasinya. Pada relasi gender, kekerasan simbolik cenderung terjadi dalam bentuk penyangkalan hak perempuan dan pemberian keuntungan atau keistimewaan bagi laki-laki.Kekerasan simbolik terhadap perempuan dalam tayangan ini dapat ditemukan dalam bentuk stereotiping, domestikasi dan objektifikasi. Perempuan dalam tayangan ini digambarkan melalui sifat-sifat tertentu yang menegaskan stereotype gender perempuan dalam masyarakat, demikian halnya dengan laki-laki. Sosok perempuan ditampilkan berada di rumah, berperan sebagai istri dan ibu, mengurus rumah tangga, melayani suami dan mengasuh anak, lemah, pasif, patuh, bergantung pada laki-laki (suami), tidak mampu membuat keputusan sendiri, sebagai obyek seksual/simbol seks dan obyek pelecehan. Sedangkan laki-laki ditampilkan bekerja, sebagai pemimpin, dominan, kompetitif, mandiri, dilayani, dipatuhi dan sebagai tempat bergantung (istri dan anak-anak).Penggambaran tersebut mengarahkan pada adanya pembagian sifat-sifat maskulin dan feminin. Menurut Bem (dalam Sunarto, 2009: 155-156), stereotype yang dilekatkan kepada kaum perempuan adalah karakter afeksi, gembira, menyukai anak, penuh kasih sayang, tidak berbahasa kasar, mempunyai hasrat besar untuk menyejukkan perasaan yang terluka, feminin, dapat memuji, lemah lembut, mudah tertipu, cinta anak-anak, setia, sensitif terhadap kebutuhan orang lain, malu, bicara halus, simpatik, sabar, pengertian, hangat dan mengalah. Sedangkan kaum laki-laki adalah sebagai pemimpin, agresif, ambisius, atletik,asertif, atletik, kompetitif, mempertahankan keyakinan, dominan, kuat, mempunyai kemampuan kepemimpinan, bebas, individualistik, mudah membuat keputusan, maskulin, percaya diri, mandiri, kepribadian kuat, kemauan bertanggung jawab dan kemauan mengambil resiko.Meskipun demikian, ada juga sifat-sifat maskulin yang melekat pada tokoh perempuan, misalya ekspresi emosi dengan bentuk kemarahan dan kata-kata kasar. Namun, ekspresi ini merupakan efek dari ketidakpuasan perempuan. Selain itu, sikap kasar dan tidak patuh seorang istri terhadap suami dianggap sebagai sesuatu yang tidak seharusnya. Karakter ini dianggap sebagai penyimpangan dari peran istri dan ibu “ideal” yang seharusnya. Tayangan ini menekankan peran gender yang seharusnya bagi laki-laki dan perempuan, serta memberikan penilaian baik bagi peran gender yang seharusnya dan penilaian buruk bagi peran gender yang dianggap tidak sesuai.Selanjutnya, kekerasan simbolik dalam tayangan ini juga ditampilkan dalam bentuk domestikasi perempuan. menurut penjelasan Sunarto (2009: 140), domestikasi dipahami sebagai pembiasaan, pemisahan dan depolitisasi kaum perempuan. Paham ini menempatkan ranah rumah tangga sebagai tempat yang layak dan umum bagi kaum perempuan. Melalui analisis terhadap leksia-leksia yang dipilih dapat ditemukan kecenderungan untuk menempatkan perempuan dalam ranah domestik/rumah tangga. Tokoh-tokoh perempuan diceritakan berada di rumah dan dilekatan dengan kewajiban-kewajiban rumah tangga, seperti memasak, mengasuh anak dan melayani suami. Peran perempuan dalam rumah tangga ini merupakan konstruksi sosial yang dilegitimasi oleh negara. Sepertiyang dicantumkan dalam UU No. 1 Tahun 1974 tentang perkawinan, tugas istri sebagai ibu rumah tangga adalah dengan mengatur urusan rumah tangg sebaik-baiknya, sedangkan laki-laki berkewajiban mencari nafkah dan melindungi keluarga.Domestikasi menegaskan inferioritas perempuan dalam masyarakat, membatasi kaum perempuan untuk mengembangkan potensinya, mengeksploitasi tenaga kerja perempuan dan menjadikan perempuan bergantung terhadap laki-laki (suami). Penelitian ini juga menunjukkan bahwa perempuan dari kelas sosial rendah mengalami depresi melalui peran domestiknya. Melalui tokoh Bu Joko, perempuan ditunjukkan lelah dengan pekerjaan domestik yang menyibukkannya. Selain itu, peran domestik yang dibebankan kepada perempuan menjadikannya tidak memiliki akses yang memadai ke tempat kerja sehingga perempuan tidak memiliki kemampuan ekonomi untuk mensejahterakan hidupnya. Hal ini menjadikan perempuan bergantung kepada suami. Seperti yang diungkapkan Jaggar (dalam Tong, 2008: 171), pekerjaan domestik yang dilakukan oleh perempuan merupakan bentuk eksploitasi laki-laki terhadap tenaga kerja perempuan. Karena perempuan di dalam sistem kapitalis tidak mempunyai akses yang memadai terhadap tempat kerja, untuk menjaga kelangsungan hidupnya, perempuan harus menggantungkan diri secara finansial kepada laki-laki.Kekerasan simbolik terhadap perempuan juga ditampilkan dalam bentuk objektifikasi seksualitas perempuan. Menurut Sunarto (2009: 140), objektifikasi adalah pereduksian kaum perempuan menjadi pasif dan obyek gender (hasrat, eksploitasi, siksaan) daripada menampilkan perempuan sebagai subyek manusiasepenuhnya. Perempuan digambarkan sebagai obyek kesenangan laki-laki dan obyek pelecehan seksual. Penggambaran tersebut menampilkan bahwa perempuan hanya dilihat dari seksualitasnya.Kekerasan simbolik terhadap perempuan dalam tayangan ini kemudian mempertanyakan ideologi dominan yang melatarbelangi praktik kekerasan simbolik yang terjadi. Hal yang menarik didiskusikan dalam penelitian ini yang pertama adalah mengenai penggambaran keluarga sebagai suatu bentuk unit kapitalisme patriarkal. Ideologi kapitalisme patriarkal ini ditunjukkan melalui pembagaian kerja secara seksual. Tokoh perempuan dalam tayangan ini digambarkan sebagai ibu rumah tangga yang kegiatannya berada di rumah, mengurus suami dan merawat anak. Sedangkan laki-laki dewasa digambarkan sebagai kepala keluarga yang bertugas mencari nafkah di luar rumah.Pada zaman prakapitalis, menurut Young (dalam Tong, 2008: 181), perkawinan adalah suatu “rekanan”ekonomi antara laki-laki dan perempuan. Mereka bekerja berdampingan dalam bisnis yang berpusat di rumah. Kapitalisme kemudian muncul dan menciptakan suatu batasan antara tempat kerja dan rumah, mengirimkan laki-laki ke luar menuju tempat kerja sebagai tenaga kerja primer dan memenjarakan perempuan di rumah sebagai tenaga kerja sekunder. Peran istri ini kemudian juga dilihat sebagai fungsi pelaksana reproduksi istri dalam menyediakan tenaga kerja bagi kaum kapitalis. Para istri berperan untuk menjaga stamina tenaga kerja agar siap bekerja kembali keesokan harinya melalui perawatan dan pelayanan kepada suami-suami mereka. Dalam sistem patriarkisme dan kapitalisme, semua yang dilakukan perempuan sebagai pelaksana reproduksitenaga kerja dan calon tenaga kerja merupakan suatu kondisi yang normal dan wajar (Sunarto, 2009: 37-38). Posisi perempuan dalam keluarga dan sistem pembagian kerja secara seksual yang bekerja dalam keluarga menjadikan perempuan tersubordinasi, tidak dapat mengembangkan dirinya, serta menjadikannya lemah dan bergantung kepada laki-laki.Temuan yang menarik selanjutnya adalah bekerjanya ideologi patriarkal kapitalisme ini dalam bentuk perendahan derajat perempuan melalui objektifikasi terhadap seksualitas perempuan. Sosok perempuan yang ditampilkan cantik dan menarik sehingga menjadikannya obyek untuk dinikmati secara visual, digoda, dan bahkan dilecehkan oleh para laki-laki. Hal tersebut sejalan dengan penjelasan Tong (2008: 172) bahwa dalam kapitalisme, seksualitas perempuan menjadi komoditi. Tidak heran bila banyak konten televisi yang mempertontonkan seksualitas perempuan sebagai daya tarik.Penelitian ini menunjukkan dominasi ideologi patriarki yang juga merujuk kepada sistem kapitalis yang ada dalam masyarakat. Melalui pandangan tersebut, peneliti menemukan bahwa kekerasan simbolik terhadap perempuan dalam tayangan ini dilatarbelakangi oleh ideologi patriarki dan kapitalisme yang bekerja bersamaan untuk mengopresi perempuan. Hal ini sejalan dengan pemikiran feminis sosialis yang menyatakan bahwa sumber opresi perempuan terletak pada kaitan antara kedua ideologi ini dan pembebasan kaum perempuan dari ketertindasan hanya dapat terjadi apabila kedua ideologi ini hancur.PENUTUPSimpulanKekerasan simbolik dalam tayangan Opera van Java episode “Banyak Anak Banyak Rezeki???” ditampilkan dalam bentuk stereotype, domestikasi dan objektifikasi seksualitas perempuan. Bentuk kekerasan simbolik yang pertama adalah stereotype perempuan. Tokoh perempuan dalam tayangan ini digambarkan berada di rumah, berperan sebagai istri dan ibu, mengurus rumah tangga, melayani suami dan mengasuh anak, lemah, pasif, patuh, bergantung pada laki-laki (suami), tidak mampu membuat keputusan sendiri, sebagai obyek seksual/simbol seks dan obyek pelecehan.Bentuk kekerasan simbolik yang kedua adalah domestikasi perempuan. Tokoh perempuan dalam tayangan ini digambarkan dengan tugas-tugas rumah tangga, seperti melayani suami, merawat anak dan mengurus keperluan rumah tangga. Melalui domestikasi, perempuan terpinggirkan dari ranah publik sehingga tidak dapat mengembangkan potensinya.Selanjutnya, kekerasan simbolik dimunculkan dalm bentuk obyektifikasi seksualitas perempuan. Tokoh perempuan dalam tayangan ini sering menjadi obyek kesenangan para laki-laki, baik sebagai obyek tatapan, godaan, rayuan, bahkan pelecehan secara fisik melalui pelukan atau ciuman. Penggambaran tersebut menampilkan bahwa eksistensi perempuan hanya dilihat dari segi seksualitasnya saja, yaitu untuk kesenangan laki-laki.Penggambaran perempuan dalam tayangan ini merujuk pada suatu bentuk ketimpangan gender dalam masyarakat. Perempuan digambarkan subordinat terhadap laki-laki. Kekerasan simbolik yang ditampilkan dalam tayangan ini dilihat sebagai suatu bentuk penegasan dominasi patriarki dan kapitalisme yang ada dalam masyarakat. Dengan demikian, pembebasan perempuan dari opresi hanya dapat dilakukan melalui penghancuran kedua ideologi dominan ini.RekomendasiSecara teoritis, pernelitian ini berusaha memberikan kontribusi dan gagasan ilmiah, serta memperkaya pengetahuan mengenai kekerasan simbolik terhadap perempuan unruk menunjang kemajuan disiplin ilmu komunikasi, khusunya di bidang komunkasi gender. selain itu, penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi referensi untuk dilakukannya penelitian lebih lanjut terkait masalah yang dialami perempuan sebagai kelompok marginal.Secara praktis, penelitian ini diharapkan memberi pemahaman bagi para praktisi industri media massa, khususnya televisi mengenai ketimpangan relasi kekuasaan gender yang terjadi melalui penggambaran perempuan dalam media massa. Para praktisi diharapkan lebih memperhatikan kepentingan kaum permepuan agar dapat melakukan pemberitaan atau penggambaran yang layak dan berimbang mengenai perempuan. Dengan demikian, tidak memperkuat ideologi dominan yang menekan kepentingan kaum perempuan yang minoritas.Secara sosial, penelitian ini berusaha mengungkap kekerasan simbolik yang dialami perempuan dalam masyarakat sebagai dampak dari ideologidominan patriarki. Khalayak diharapkan dapat berpikir kritis dan terus mempertanyakan problematika yang dialami oleh perempuan, seperti berbagai bentuk diskriminasi yang dialami perempuan dalam masyarakat. Terwujudnya masyarakat yang memiliki kesadaran gender diharapkan menciptakan masyarakat dengan keseimbangan gender.DAFTAR PUSTAKASumber Buku:Ardianto, Elvinaro, Lukiati Komala dan Siti Karlinah. (2007). Komunikasi Massa: Suatu Pengantar Edisi Revisi. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.Arivia, Gadis. (2006). Feminisme: Sebuah Kata Hati. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.Bourdieu, Pierre. (2010). Dominasi Maskulin. Yogyakarta: Jalasutra.Budiman, Arief. (1982). Pembagian Kerja Secara Seksual. Jakarta: Penerbit PT Gramedia.Burton, Graeme. (2007). Membincangkan Televisi. Yokgayakarta dan Bandung: Jalasutra.Byerly and Ross. (2006). Women and Media: A Critical Introduction. USA: Blackwell Publishing Ltd.Edwards. Tim. (2006). Cultures of Masculinity. New York: Toutledge Taylor & Francis Group.Feldman, Sylvia D. (1974). The Rights of Women. New Jersey: Hyden Book Company, INC.Fiske, John. (2011). Cultural and Communication Studies. Yogyakarta: Jalasutra.Griffin, Em. (2012). A First Look At Communication Theory Eight Edition. New York: The McGraw-Hill Companies, Inc.K. Denzin dan Yvonna S. Lincoln. (2009). Handbook of Qualitative Research. Thousand Oaks, California: SAGE PublicationsKurniawan, Heru. (2009). Sastra Anak: dalam Kajian Strukturalisme, Sosiologi, Semiotika, hingga Penulisan Kreatif. Yogyakarta: Graha Ilmu.Littlejohn, Stephen W dan Karen A. Foss. (2009). Teori Komunikasi Edisi 9. Jakarta; Penerbit Salemba Humanika.Mangunhardjana, Margija. (1976). Mengenal Film. Yogyakarta: Yayasan Kanisius.Maryati, Kun dan Juju Suryawati. (2007). Sosiologi. Jakarta: Penerbit Erlangga.Moleong, Lexy J. (2007). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja RosdakaryaNaratama. (2004). Menjadi Sutrada Televisi. Jakarta: Grasindo.Ollenburger, Jane C and Helen A. Moore. (1996). Sosiologi Wanita. Jakarta: PT Rineka Cipta.Pratista, Himawan. (2008). Memahami Film. Yogyakarta: Homerian Pustaka.Rianto, Puji dkk. (2012). Dominasi TV Swasta (Nasional), Tergerusnya Keberagaman Isi dan Kepemilikan. Yogyakarta: PR2Media &Yayasan Tifa.Richardson, Diane dan Victoria Robinson. (1993). Introducing Women’s Studies: Feminist Theory and Practice. London: The Macmillan Press Ltd.Richmond-Abbott, Marie. (1992). Masculine and Feminine: Gender Roles over the Life Cycle. USA: McGraw-Hill, Inc.Siahaan, N.H.T. (2004). Hukum Lingkungan dan Ekologi Pembangunan. Jakarta: Penerbit Erlangga.Subroto, Darwanto Sastro. (1994). Produksi Acara TV. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.Sumarno, Marselli. (1996). Dasar-Dasar Apresiasi Film. Jakarta: Grasindo.Sunarto. (2000). Analisis Wacana: Ideologi Jender Media Anak-Anak. Semarang: Mimbar bekerjasama dengan Yayasan Adikarya Ikapi dan Ford Foundation.Sunarto. (2009). Televisi, Kekerasan, dan Perempuan. Jakarta: Kompas.Suryochondro. Sukanti. (1984). Potret Pergerakan Wanita di Indonesia. Jakarta: CV. Rajawali bekerja sama dengan Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial (YIIS).Thornham, Sue. (2007). Women, Feminism and Media. Edinburgh: Edinburgh University Press Ltd.Tong, Rosemarie Putnam. (2008). Feminist Thought : Pengantar Paling Komprehensif kepada Arus Utama Pemikiran Feminis. Yogyakarta: Jalasutra.Waluya, Bagja. (2007). Sosiologi: Menyelami Fenomena Sosial di Masyarakat. Bandung: PT Setia Purna Inves.Waluyo, Herman J. (1994). Pengkajian Cerita Fiksi. Surakarta: Sebelas Maret University Press.Webb, Jenn dkk. (2002). Understanding Bourdieu. New South Wales: Allen & Unwin.West dan Turner. (2007). Introducing Communication Theory: Analysis and Application. USA: McGraw-Hill, Inc.Widagdo, M. Bayu dan Winastawan Gora S. (2007).Bikin Film Indie Itu Mudah! Yogyakarta: Penerbit Andi.Sumber Lain:Diannita, Yustin. (2009). Sensualitas Perempuan dalam Iklan Axe Effect – Call Me di Televisi. Skripsi. Universitas Diponegoro.Widyastuti, Diahrani. (2002). Komodifikasi Tubuh Perempuan dalam Tayangan Iklan Televisi (Studi kualitatif pada Iklan Minuman Kesehatan). Skripsi. Universitas Diponegoro.Noristania, Harlin Dyah. (2012). Representasi Kekerasan Verbal Terhadap Perempuan Janda (Analisis Semiotika Film Ku Tunggu Jandamu). Skripsi. Universitas Diponegoro.Astuti, Indri. (2010). Menginterpretasikan Kekerasan Dalam Tayangan Komedi (Analisis Resepsi Terhadap Tayangan Opera van Java di Trans 7). Skripsi. Universitas Diponegoro.Sumber Internet:Trans 7. (2011). Opera van Java Episode “Banyak Anak Banyak Rezeki???”. Diakses pada tanggal 8 Oktober 2012 dari http://www.youtube.com/watch?v=QeltOaSbo5E&list=FLoFVJZ2-8cVm4M2RiRixjTg&index=16Trans 7. (2011). Opera van Java “Episode Kisah Cinta Nyi Ayu Rangrang”. Diakses pada tanggal 4 November 2012 dari http://www.youtube.com/watch?v=C_PsDk11OLYTrans 7. (2011). Opera van Java Episode “Madu Tiga”. Diakses pada tanggal 4 November 2012 dari http://www.youtube.com/watch?v=IvPLRHQ9a9kRayendra, Panditio. (2011). Rating Report: OVJ Sahur dan Primetime Dominasi Rating. Diakses pada tanggal 18 Desember 2012 dalam http://www.tabloidbintang.com/film-tv-musik/ulasan/14659-rating-report-ovj-sahur-dan-primetime-dominasi-rating.html

Komodifikasi Keluarga Ustadz Jefri Al Buchori Dalam Tayangan Infotainment

Interaksi Online Vol 2, No 6 (2014): Wisuda April
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pasca Ustadz Jefri Al Buchori meninggal dunia, infotainment memanfaatkan kesedihan yang melanda keluarga Ustadz Jefri Al Buchori sebagai sebuah komoditas berita. Infotainment secara cerdas menyulap tragedi kehidupan selebriti menjadi bagian bisnis mereka, sehingga hal apa pun dapat diubah menjadi komoditas yang layak tonton dengan mengalami komodifikasi. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan komodifikasi isi yang terjadi pada keluarga Ustadz Jefri Al Buchori dalam tayangan infotainment beserta ideologi yang dominan di belakangnya. Penelitian ini menggunakan teori komodifikasi sebagai salah satu penerapan dalam pendekatan teori ekonomi politik media dalam paradigma kritis melalui metode analisis wacana model Teun Van Dijk. Subjek penelitian ini adalah tayangan infotainment Cek&Ricek, penulis naskah dan redaksi Cek&Ricek, serta pengamat media infotainment. Berdasarakan temuan penelitian, komodifikasi isi terkait pemberitaan keluarga Ustadz Jefri Al Buchori berupa dramatisasi dan serialisasi. Dramatisasi berupa munculnya gambar-gambar istri dari Ustadz Jefri Al Buchori yang masih dirudung duka yang ditandai dengan tetesan air mata, selain itu dramatisasi bisa diciptakan dari naskah, yaitu dengan memainkan dramaturgi. Sedangkan serialisasi, tayangan Cek&Ricek menampilkan pemberitaan keluarga Ustadz Jefri Al Buhori dengan tema yang berbeda-beda setiap harinya. Ideologi yang melatarbelakangi tayangan ini dikarenakan adanya sistem rating dalam dunia pertelevisian. Rating menjadi barometer untuk kesuksesan sebuah program televisi. Terbukti dengan adanya kenaikan rating dalam tayangan Cek&Ricekketika memberitakan keluarga Ustadz Jefri Al Buchori, jumlah pendapatan iklan yang diperoleh pihak stasiun televisi juga bertambah.Kata Kunci : Komodifikasi, Kapitalisme, Infotainment

Kekerasan Dalam Sinetron “Si Biang Kerok Cilik” (Analisis Isi Kekerasan Dalam Tayangan Sinetron Anak-anak “Si Biang Kerok Cilik” Di SCTV)

Interaksi Online Vol 2, No 6 (2014): Wisuda April
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tayangan televisi merupakan kebutuhan primer masyarakat untuk mendapatkan informasi dan hiburan. Kebutuhan menonton televisi menjadikan persaingan antar stasiun televisi untuk menghasilkan tayangan yang menarik perhatian pemirsa dan mendapat rating yang tinggi. Namun adanya sistem rating, isi tayangan yang dihasilkan kurang berkualitas dan tidak mendidik seperti unsur kekerasan.Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kekerasan pada tayangan sinetron anak-anak “Si Biang Kerok Cilik” di SCTV. Tipe penelitian ini deskriptif kuantitatif dengan metode analisis isi. Teori yang digunakan adalah Teori Kultivasi dari Gebner (Griffin, 2011) dan Bentuk-bentuk kekerasan menurut Sunarto (2009) sebagai dasar kategorisasi kekerasan. Populasi penelitian ini seluruh tayangan Si Biang Kerok Cilik di SCTV, yaitu 149 episode, menggunakan teknik sampel acak sederhana (simple random sampling) dengan cara pengundian.Sampel berjumlah 10 episode dari populasi meliputi episode 02, 26, 43, 62, 98, 103, 112, 118, 139, dan 146. Teknik analisis data menggunakan uji reliabilitas antar dua koder.Hasil uji reliabilitas antar koder diperoleh 100%. Temuan penelitian menunjukkan sinetron Si Biang Kerok Cilik, dari 170 tokoh terdapat 107 tokoh(63%) melakukan kekerasan. Kekerasan banyak dilakukan oleh tokoh Usia Dewasa dan Anak. Bentuk kekerasan yang banyak muncul adalah Kekerasan Fisik (79%) dan Kekerasan Psikologis (42%). Hampir seluruh kekerasan dilakukan dengan Motif Sengaja (93%), dan sebagian besar dilakukan di Lokasi Publik (67%) yaitu di Jalan dan di Sekolah. Pada sinetron Si Biang Kerok Cilik terlihat bahwa tayangan ini banyak menampilkan / terkesan memberikan bentuk kekerasan secara jelas, serta kekerasan boleh atau wajar dilakukan oleh usia dewasa bahkan anak-anak baik dirumah maupun di tempat terbuka. Saran penelitian ini adalah televisi harus memperhatikan isi tayangan program sehingga layak ditonton pemirsa. Begitu juga masyarakat perlu mendampingi anak saat menonton televisi serta melek media agar dapat memahami dan memilih tontonanyang sesuai.Kata Kunci : Analisis Isi, Kekerasan, Televisi

Representasi Rasisme Kaum Kulit Putih Terhadap Kulit Hitam dalam film 42 “Forthy Two”

Interaksi Online Vol 2, No 6 (2014): Wisuda April
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Film merupakan salah satu media massa yang digunakan untuk menyampaikan pesan serta sekaligus menyebarkan ideologi kepada khalayak. Film banyak merepresentasikan kejadian-kejadian yang ada di dunia nyata dengan menyelipkan ideologi-ideologi dari para pembuat film. Di dalam film menyajikan sebuah tampilan visual yang berisi kode-kode serta mitos yang berasal dari kebudayaan. Film 42 “forthy two” merupakan film yang menggambarkan kebudayaan masyarakat Amerika yang lekat dengan hal rasisme kaum kulit putih Amerika dengan kaum Afro-Amerika. Tujuan dari penelitian ini adalah melihat bagaimana gambaran orang kulit hitam mendapat perlakuan dari orang-orang kulit putih yang direpresentasikan melalui tanda-tanda visual dan verbal. Penelitian ini juga ingin menunjukkan mitos yang ada di dalam film 42 “forthy two”. Di dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode penelitian milik Roland Barthes mengenai analisis semiotika.Penelitian ini menunjukkan hasil bahwa rasisme kaum kulit putih terhadap orang kulit hitam di Amerika ditunjukkan dengan berbagai macam cara baik secara verbal seperti menghina dan meremehkan, maupun secara nonverbal seperti melempar kepala orang kulit hitam dengan bola. Tanda-tanda komunikasi tersebut diungkap melalui pergerakan kamera, dialog, serta kode-kode ideologi di dalam film 42 “forthy two” baik secara verbal maupun secara visual. Selain itu, penelitian ini menggunakan teori Standpoint dan metode penelitian dari Rolland Barthes yang mana menggunakan lima pengkodean untuk mengatahui ideologi apa yang terdapat di dalam film. Penelitian ini juga menunjukkan hasil bahwa rasisme dari dulu sampai sekarang masih tetap ada dan hal tersebut dikarenakan oleh sejarah yang mendasarinya yaitu kapitalisme. Tetapi tidak semua orang dapat terpengaruh dengan adanya rasisme. Ada orang yang memilih untuk mundur dan lari untuk menghindari masalah, tetapi juga ada orang yang tetap pada pendiriannya dan tetap bertahan ditengah-tengah situasi rasisme yang menghimpitnya. Dalam penelitian ini, menunjukkan hasil dengan memperlihatkan pada bagaimana seseorang bertahan ditengah situasi rasisme dan pada akhirnya tetaplah berujung dengan kapitalisme. Kaum dominan menggunakan istilah “memperjuangkan hak asasi manusia” sebagai bentuk mendapat keuntungan lebih dari dunia luar dengan memanfaatkan rasisme yang terjadi terhadap kaum marjinal. Kata kunci : Semiotika, Barthes, Film, Rasisme 

MEMAHAMI PENGATURAN PRIVASI KOMUNIKASI SANTRI PONDOK PESANTREN MODERN ISLAM TERKAIT DENGAN AKTIFITAS DALAM MEDIA JEJARING SOSIAL FACEBOOK

Interaksi Online Vol 1, No 2 (2013): Wisuda April
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

MEMAHAMI PENGATURAN PRIVASI KOMUNIKASI SANTRI PONDOK PESANTREN MODERN ISLAM TERKAIT DENGAN AKTIFITAS DALAM MEDIA JEJARING SOSIAL FACEBOOKErva Maulita1, Turnomo Rahardjo2, Sunarto3erva_maulita@yahoo.comInformasi privat adalah sebuah informasi yang sangat berharga dan dapat mempengaruhi eksistensi seseorang di tengah lingkungannya. Salah satu informasi privat yang dimiliki oleh santri pondok pesantren modern Islam adalah informasi tentang aktifitas yang dilakukannya di dalam media jejaring sosial facebook. Aktifitas tersebut menjadi sebuah aktifitas privat karena sangat penting bagi keberadaan santri di pondok pesantren modern Islam dimana ketika aktifitas tersebut diketahui oleh pengurus pesantren, maka santri tidak akan terlepas dari hukuman. Di sisi lain santri memiliki keinginan untuk menceritakan aktifitasnya di media jejaring sosial facebook tersebut kepada teman-temannya. Untuk mengatur batasan kepemilikan informasi privat tersebut, maka diadakan pengaturan privasi komunikasi yang di dalamnya terdapat sebuah perjanjian tentang hak dan larangan yang telah disepakati oleh seseorang dengan orang lain sebagai pihak kedua pemilik informasi tersebut. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya pengaturan privasi komunikasi yang dilakukan oleh santri dengan sahabatnya dalam menyembunyikan atau membuka informasi privat yang dimilikinya terkait dengan aktifitas dalam media jejaring sosial facebook.Kata kunci: pengaturan privasi, dialektis, informasi privatPendahuluanKehidupan di dalam pondok pesantren modern Islam sangat identik dengan peraturan yang ada di seluruh aspek kehidupan masyarakat pesantren termasuk santri. Adanya peraturan tersebut merupakan suatu pembentuk identitas dari masyarakat pesantren itu sendiri. Dalam Littlejohn disebutkan bahwa identitas adalah sebuah rupa serta usaha apa yang kita lakuka untuk membentuk rupa kita. (Littlejohn, 2009: 295)Adanya berbagaimacam peraturan tersebutt menimbulkan adanya ketakutan komunikasi dimana santri merasa dirinya diawasi oleh keberadaan aturan yang dapat menempatkannya pada posisi bersalah apabila diketahui melanggar aturan tersebut. Ketakutan komunikasi adalah bagian dari kelompok konsep yang terdiri atas penghindaran sosial, kecemasan sosial, kecemasan berinteraksi, dan keseganan. (Vivian, 2008; 99)Dengan adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dampaknya turut masuk ke dalam pondok pesantren modern Islam, santri mendapat sebuah jalan keluar dengan adanya keberadaan internet di lingkungan pesantren. Internet tersebut dapat diakses dengan mudah oleh santri tanpa adanya pengawasan yang ketat dari pengasuh pesantren terhadap aktifitas-aktifitas yang dilakukan santri dengan memanfaatkan teknologi internet tersebut. Menurut John Vivian (Vivian, 2008; 262) internet adalah jaringan dasar yang membawa pesan. Sedangkan web adalah struktur kode-kode yang mengizinkan pertukaran bukan hanya antar teks tetapi juga grafis, video, dan audio. Komunikasi web menggeser banyak dari kontrol komunikasi melalui media massa ke penerima, membalikkan proses komunikasi tradisional. Penerima tidak hanyamenerima pesan, seperti biasa kita jumpai dalam siaran berita televisi. Penerima kini bisa berpindah ke lusinan alternatif melalui jaringan yang mirip jaring laba-laba.Salah satu situs yang sering diunduh oleh santri dalam memanfaatkan fasilitas internet di pesantren adalah situs jejaring sosial facebook. Melalui facebook, seseorang bisa berkomunikasi dan berinteraksi dengan siapa saja. Bagi seorang santri, facebook bisa digunakan sebagai sebuah jalan keluar untuk mengurangi ketakutan komunikasi. Oleh beberapa santri, facebook juga digunakan sebagai salah satu sarana untuk terbebas dari aturan yang melarang santri bergaul dan berinteraksi dengan lawan jenis.Kajian TeoriSetiap orang memiliki informasi privat dan informasi publik terkait eksistensi dirinya di tengah lingkungannya. Informasi privat adalah informasi mengenai hal-hal yang sangat penting bagi seseorang. Oleh karena itu, proses mengkomunikasikan informasi privat tersebut kepada orang lain disebut dengan pembukaan pribadi (private disclosure). (Turner, 2008;256). Menurut Petronio dalam Littlejohn (2009,307) seorang individu yang terlibat di dalam sebuah hubungan akan terus mengatur batasan-batasan antara apa yang umum dan pribadi, antara berbagaimacam perasaan-perasaan yang ingin dibagikannya kepada orang lain atau tidak ingin mereka bagikan.Dalam mengatur privasi komunikasinya, seseorang dihadapkan kepada dua pilihan antara kebutuhan untuk berbagi informasi tentang dirinya dengan kebutuhan untuk melindungi diri. Hal tersebut mengharuskan seseorang untuk menegosiasikan dan menyelaraskan batasan-batasan yang dijalinnya bersama orang lain. Hal inilah yang menjadi latar belakang ditemukannya Teori Pengaturan Privasi Komunikasi (Communication Privacy Management) oleh Sandra Petronio.Asumsi pertama dari teori ini adalah informasi rahasia tentang diri seseorang disebut dengan informasi privat. Teori pengaturan privasi komunikasi memberikan penekanan pada substans dari proses pembukaan pribadi atau pada hal-hal yang dianggap pribadi. Teori ini juga mempelajari bagaimana orang melakukan pembukaan melalui sistem yang didasarkan kepada aturan. (Turner, 2008: 256)Asumsi kedua adalah batasan privat. Batasan privat merupakan demarkasi informasi privat dan informasi publik. Dengan batasan ini, seseorang memberikan tanda informasi tentang dirinya yang bersifat privat maupun informasi yang bersifat publik. Ketika sebuah informasi diceritakan kepada orang lain, maka batasan disekelilingnya menjadi batasan kolektif dan informasi tersebut bukan hanya milik seorang diri namun sudah menjadi milik bersama (kolektif). (Turner, 2008; 257)Pengaturan privasi ini terdiri dari dua hal: pengembangan pengaturan privasi dan atribut pengaturan privasi. Pengembangan aturan privasi dipandu oleh beberapa kriteria yang ditetapkan oleh beberapa orang untuk mengungkapkan atau menyembunyikan informasi pribadi. Lima kriteria tersebut adalah: (1) kriteria budaya, (2) kriteria gender, (3) kriteria motivasi (4) kriteria kontektual, (5) kriteria biaya-manfaat (risk-benefit rasio).Menegosiasikan aturan dengan orang lain untuk kepemilikan informasi pribadi menjadi sebuah informasi bersama membutuhkan koordinasi dan menyelaraskan perilaku mereka yang terlibat di dalamnya. Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain: (1)aturan mengenai sifat tembus pandang (boundary permeability), (2) aturan tentang hubungan batasan (boundary linkage), (3) aturan mengenai kepemilikan informasi (boundary ownership). Ketika aturan-aturan tersebut dilanggar mungkin akan ada sanksi yang dijatuhkan. Petronio menyebutkan moment ini sebagai kekacauan batasan (boundary turbulance).Internet merupakan jaringan dasar yang membawa pesan. Sedangkan satu hal yang sangat dekat dengan internet adalah web, yang mengandung pengertian struktur kode-kode yang mengizinkan pertukaran bukan hanya antar eks tetapi juga grafis, video, dan audio (Vivian, 2008; 262). Vivian menyebutkan beberapa kekuatan internet: (1) dari segi isi, internet memuat banyak hal dari berbagaimacam bentuk file, (2) internet mempunyai ciri khas yang biasa disebut dengan daya navigasi yaitu link internal sehingga pengguna dapat dengan mudah berpindah halaman, (3) link eksternal merupakan ciri unik internet dimana dapat melakukan konektifitas antar situs secara global, (4) waktu menungu (loading) yang relatif cepat sehingga pengguna tidak perlu menunggu terlalu lama untuk mendapatkan informasi yang diinginkan (Vivian, 2008; 277)MetodeTipe penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Penelitian ini dilakukan untuk menggambarkan pengaturan privasi komunikasi yang dilakukan santri pondok pesantren modern Islam terkait dengan aktifitas yang dilakukannya dalam media jejaring sosial facebook.Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan fenomenologi, dimana peneliti akan mengkaji fenomena dari sudut pandang santri sebagai orang pertama yang mengalami secara langsung pengaturan privasi komunikasi yang dilakukannya terkait dengan aktifitas dalam media jejaring sosial facebook. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan makna dan hakikat dari pengalaman pengaturan privasi komunikasi santri pondok pesantren modern Islam, tidak hanya mencari penjelasan mengenai suatu realitas, mendapatkan gambaran yang berasal dari orang pertama yaitu santri pondok pesantren modern Islam melalui wawancara formal dan informal.Situs penelitian ini adalah santri Pondok Pesantren Modern Islam Assalaam Surakarta dengan alasan bahwa PPMI Assalaam Surakarta memiliki keterbukaan terhadap media internet. Subjek penelitian adalah santri PPMI Assalaam Surakarta yang duduk di kelas Madrasah Aliyah atau yang setingkat.Teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam (indepth interview) dan kajian kepustakaan. Analisis interpretasi data menggunakan modifikasi dari Van Kaam (Moustakas, 1994: 120) dengan langkah-langkah sebagai berikut: (1) listing and preminary grouping, (2) reduction and elimination, (3) clustering and thematizing the invariant constituens, (4) final identification of the variant constituent and themes by application: validation, (5) individual textural description, (6)individual struktural description, (7) textural-struktural description.PembahasanPondok pesantren modern Islam dekat dengan banyaknya aturan dan sistem punishment dan reward bagi siapa saja yang melanggar dan berprestasi. Aturan tersebut sebenarnya alat pembentuk identitas masyarakat pesantren. Dimana identitas terbentuk dari proses konstruksi makna yang dilatarbelakangi oleh atribur budaya atau sumber-sumber lain yang dapat dijadikan prioritas. Dan identitas tersebut mengacu kepada pelaku sosial. (Castell.2004:6)Proses pembentukan identitas berasal dari dua hal. Proses pembentukan identitas yang berasal dari dalam diri seseorang disebut dengan subjective dimension sedangkan proses pembentukan identitas yang berasal dari apa yang orang lain katakan tentang diri anda disebut dengan ascribed dimension. (Littlejohn, 2009: 131). Penegakan kedisiplinan dan aturan yang ada di pesantren merupakan sebuah upaya subjective dimension. Sedangkan ascribed dimension sangat tergantung dari bagaimana proses subjecive dmension belangsung. Apabila proses “penggemblengan” yang dilakukan oleh pihak pengasuh pesantren sukses dan dapat tercermin dalam perilaku sehari-hari santri maka masyarakat luar akan dapat menilai sendiri tentang identitas seorang santri.Namun tidak semudah itu dalam membentuk identitas seorang santri. Santri sebagai subjek sekaligus objek dalam pembentukan identitas tersebut memiliki karakteristik yang berbagaimacam. Lebih jauh disebutkan ada empat tahapan pembentukan identitas:Pada tingkat personal layer, santri dihadapkan kepada rasa keberadaan mereka menjadi bagian dari lingkungan pesantren. Dimana identitasnya sebagai seorang santri terkadang berbeda dengan identitasnya sebagai seorang individu. Tingkata kedua adalah enactmen layer dimana dalam tingkatan ini pengetahuan seseorang tentang seorang santri diperoleh dari apa yang dilakukannya, apa yang dimilikinya, dan bagaimana dia bertindak. Tingkatan ketiga adalah relational. Hal ini berkaitan dengan siapa diri anda dalam interaksi dengan orang lain. Identitas dalam tingkatan ini mengacu kepada hubungan seseorang dengan orang lain. Tingkatan keempat adalah communal dimana pada tingkatan ini sebuah identitas diikat pada kelompok atau budaya yang lebih besar.Pada tingkatan communal tersebut muncul adanya ketakutan komunikasi dalam diri santri. Menurut John Vivian, ketakutan komunikasi adalah bagian dari kelompok konsep yang terdiri atas penghindaran sosial, kecemasan sosial, kecemasan interaksi, dan keseganan. (Vivian, 2008:99) ketakutan komunikasi ini ditunjukkan pada saat-saat tertentu, diantaranya ketika santri memutuskan untuk melanggar sebuah aturan, maka secara otomatis terdapat gesture tubuh yang aneh untuk sebisa mungkin menyembunyikan apa yang dilakukannya tersebut.Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa identitas yang dibebankan kepada seseorang sebagai seorang santri yang diharuskan untuk taat dan patuh terhadap peraturan pesantren yang akan membentuknya menjadi pribadi yang baik dan berbudi pekerti dan menggunakan ilmu agama pada setiap kegiatannya hanya berlaku sementara ketika santri tersebut berada di lingkungan pesantren. Ketika berada di luar lingkungan pesantren, maka identitasnya kembali menjadi identitas pribadi. Demikian pula ketika sedang berinteraksi dengan media jejaring sosial facebook.Berbagaimacam aktifitas yang dilakukan oleh seorang santri dalam media jejaring sosial facebook ternyata menjadi aktifitas yang dapat dikategorikan sebagai aktifitas pelanggaran peraturan pesantren. Namun santri berusaha untuk menyembunyikannya agar tidak diketahui oleh pengurus pesantren. Aktifitas-aktifitastersebut menjadi sebuah informasi privat yang aan dijaga dengan sebaik-baiknya oleh seorang santri. Informasi privat adalah informasi mengenai hal-hal penting yang sangat berarti bagi seseorang. Karena pentingnya hal ini bagi konsepsi seseorang akan dirinya dan bagi hubungannya dengan orang lain, maka sangat penting untuk mengkomunikasikan informasi privat ini kepada orang lain (Turner, 2008: 256)Pembukaan diri merupakan proses bercerita dan merefleksikan isi informasi privat seseorang kepada orang lain. Dalam melakukan pembukaan diri, seseorang dihadapkan dengan sebuah ketegangan apakah akan menceritakan informasi privat tersebut kepada orang lain dan menjadi rawan atau tidak. Dalam hal ini seseorang akan mengalami adanya pertentangan. Dimana yang dimaksud dengan pertentangan adalah dua hal yang berbeda dan saling mempengaruhi antara satu dengan yang lainnya dalam diri seseorang dan mampu memberikan tekanan kepada orang tersebut. (Griffin, 2009: 155)Dalam membuat keputusan apakah hendak menceritakan informasi privat tersebut kepada orang lain atau tidak, seseorang membutuhkan orang yang dapat dipercaya untuk berbagi informasi privat tersebut. Dalam hal ini, santri mempercayakan kepada sahabatnya untuk menjadi pemilik kedua informasi privatnya. Yang dimaksud dengan hubungan persahabatan adalah sebuah hubungan yang didalamnya terdapat kegiatan saling mencari, saling memiliki, dan saling menunjukkan keterikatan yang kuat antara satu orang dengan yang lainnya. Persahabatan juga saling menerima, saling berbagi rahasia dan saling mempercayakan rahasia antara satu dengan yang lainnya, saling berbagi ketertarikan terhadap sesuatu, saling mendukung secara emosional, dan dalam hubungan persahabatan tersebut terdapat sebuah harapan untuk dapat mempertahankan hubungan itu sampai akhir. (Gambel. 2005: 266)Berkaitan dengan pembukaan diri yang dilakukan santri terhadap sahabatnya, kedua belah pihak memerlukan adanya aturan yang dapat mengatur kepemilikan informasi bersama tersebut. Aturan tersebut disepakati secara tidak tertulis dimana santri melakukan perjanjian dengan sahabatnya selaku pemilik kedua informasi privatnya untuk tidak menceritakan kepada pengasuh tentang informasi privat tersebut dalam kaitannya dengan interaksi dan aktifitas di media jejaring sosial facebook.Batasan kepemilikan informasi terdiri dari tiga hal: (1) boundary permeability (batasan mengenai sifat tembus aturan), (2) boundary linkage (aturan tentang hubungan batasan) dan (3) boundary ownership (aturan tentang kepemilikan batasang). (Littlejohn, 2009: 309)Selain melakukan perjanjian tidak tertulis dengan sahabatnya, hal lain yang dilakukan oleh seorang santri adalah mengatur batasan pertemanan. Santri tidak sembarangan menerima permintaan pertemanan. Santri akan menerima permintaan pertemanan oleh seseorang ketika mutual friend lebih dari dua puluh orang.Simpulan dan saranDari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa santri menggunakan media jejaring sosial facebook sebagai suatu upaya untuk terlepas dari adanya aturan yang mengikatnya dalam kehidupan sehari-hari di pesantren. Kegiatan di dalam facebook tersebut merupakan sebuah informasi privat yang di dalamnya terdapat sebah pengaturan privasikomunikasi yang dilakukan oleh santri bersama dengan sahabatnya sebagai pemilik kedua informasi privatnya tersebut. Santri memutuskan untuk membuka informasi privatnya tersebut dilatar belakangi oleh dua hal: (1) pemilik kedua informasi privatnya adalah orang yang memiliki kedekatan hubungan dan dapat dipercaya, (2) santri melakukan perjanjian berupa batasan-batasan kepemilikan untuk mencegah agar informasi privat tersebut tidak diketahui oleh orang lain. Oleh karena itu peneliti menyarankan agar pihak pengasuh pesantren lebih aktif dalam mengawasi aktifitas santri dengan menggunakan media internet terlebih lagi jejaring sosial facebook untuk terciptanya pribadi santri yang sesuai atau mendekati visi misi pesantren. Bila mana perlu, penulis menyarankan agar pengasuh pesantren memblokir situs facebook agar tidak dapat diakses oleh santri ketika berada di lingkungan pesantren. Hal ini untuk meminimalisir pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan santri dan dapat mempengaruhi identitasnya sebagai seorang santri yang diharapkan mempunyai akhlak dan kepribadian yang baik.Daftar PustakaCastell, Manuel. (2004). The Power Of Identity (2nd ed). Victoria: AustraliaDenzin, K., dan Lincoln, Y. (2009). Handbook of Qualitative Researh. Jogjakarta:Pustaka Pelajar.Devito, Joseph. (2009). Human Communication The Basic Course (11th ed).United States of Amerika: Pearson Education, Inc.Flew, Terry. (2005). New Media. Oxford: Oxford University PressGambel, M., dan Gambel, T. (2005). Communication Works (8th ed). New York:Mc Graw HillGriffin, EM. (2009). A First Look At Communication Theory (7th ed). New York:Mc Graw HillLittlejohn, S., dan Foss, K. (2009). Teori Komunikasi. Jakarta: SalembaHumanikaMartini, Rina dan kawan-kawan. (2010). Pedoman Penulisan Karya Ilmiah.Semarang: Undip PressMoleong, Lexy J. (2007). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. RemajaRosdakaryaMoustakas, Clark. (1994). Phenomenological Pesearch Methods. California:Sage PublicationNazir,Moh. (2009). Metode Penelitian (7th ed). Bogor: Ghalia IndonesiaSuswono, Sarlito. (2011). Psikologi Remaja (ed rev). Jakarta: Rajawali PressTata Tertib Dasar Santri (TIBSAR). 2012. Sukoharjo.Assalaam PublisherVivian, John. (2008). Teori Komunikasi Massa (8th ed). Jakarta: KencanaWest, R., dan Turner L. (2008). Pengantar Teori Komunikasi Analisis danAplikasi (3th ed). Jakarta: Salmeba HumanikaSumber dari InternetIshaq, Muchammad. (2008). Pengertian Jejaring Sosial. Dalam http://ml.scribd.com/doc/78363152/Pengertian-Jejaring-Sosial diakses tanggal 06/09/2012 pukul 06.00.Darmasih, Ririn. (2009). Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Sex Pra Nikah Pada Remaja SMA di Surakarta. Dalam http://id.scribd.com/doc/69586907/11/Karakteristik-remaja diakses tanggal 24/10/2012 pukul 06.07Admin. (2012). Laboratorium Komputer. Dalam http://www.assalaam.or.id/live-streaming/laboratorium-komputer diakses tanggal 19/03.2013 pukul 13.00Admin. (2012). Lapangan Futsal. Dalam http://www.assalaam.or.id/live-streaming/lapangan-futsal diakses tanggal 19/03/2013 pukul 13.01Admin. (2012) Ruang Belajar. Dalam http://www.assalaam.or.id/live-streaming/ruang-belajar diakses tanggal 10/3/203 pukul 13.02

SYMBOLIC VIOLENCE TOWARDS WOMAN IN CATATAN HATI SEORANG ISTRI

Interaksi Online Vol 4, No 16 (2016): Wisuda Oktober
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Television is a stuff to fulfill entertain and information needs. One of television product called soap opera, but this soap opera often showing restricted show. This soap opera broadcast on prime time, because of violence broadcast in soap opera, this got warning from Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) as Indonesian Broadcast Commission. One of their warning is violences in television broadcast. The purpose of this essay is to find violences toward woman in Catatan Hati Seorang Istri and to uncover hidden ideologies in this soap opera. This essay use descriptive qualitative approach with Roland Barthes semiotics analysis by syntagmatic and paradigmatic. In paradigmatic analysis use 5 codes theory from Roland Barthes. There are 8 lexist in this essay, based on those lexist can use to determine the purpose of this essay to determine how this soap opera showed violences toward woman from syntagmatic analysis which form this soap opera (camera, setting, make-up, dialog, and lighting). Based on those 8 lexists, there are violences towards woman in this soap opera, that violences contain verbal, non-verbal, and physical violences. These violences happened because of patriarchy ideology which being main ideology from plot of Catatan Hati Seorang Istri soap opera.