Articles

Found 25 Documents
Search

Berteori dalam Penelitian Komunikasi

Interaksi: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 2, No 1 (2013): January 2013
Publisher : Master of Communication Science Program, Faculty of Social and Political Science, Diponego

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (433.955 KB)

Abstract

Abstract :Theorizing is a crucial problem in communication research. How to build a good theory in research quantitatively and qualitatively is the main objective in this paper. Solving the prob­lem is be done by explaining the definition and function of theory. Besides that it also describes the perspectives and paradigm that related with communication theories. One of the perspec­tives namely tradition in communication theory that developed by Robert T. Craig is used to understand the communication theories. Several issues that related with theorizing is exposed to get better understanding in using theory in research namely: the direction of reasoning; the level of social reality; the scope of theory; the mode of theory’s explanation;and the theoretical framework. It is suggested to understand better the whole theoretical issues to get theorizing propherly. Besides that reading more book that related with the topic is also suggested to get more understanding in choosing a main theory that fit with the topic’s research.  Keywords: theory, perspective, paradigm, quantitative, qualitative  Abstraksi :Berteori merupakan persoalan krusial dalam penelitan komunikasi. Bagaimana mem­bangun sebuah kerangka teoritis yang baik dalam penelitian dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif merupakan tujuan utama dalam artikel ini. Untuk mengatasi persoalan tersebut dilakukan dengan menjelaskan definisi dan fungsi teori. Selain itu, juga menggambarkan per­spektif dan paradigma yang berhubungan dengan teori-teori komunikasi. Salah satu perspektif yaitu tradisi yang dikembangkan oleh Robert T. Craig digunakan untuk memberikan pemaha­man terhadap keberadaan teori-teori komunikasi. Beberapa isu yang berhubungan dengan proses berteori dipaparkan untuk mendapatkkan pemahaman lebih baik dalam penggunaan teori, antara lain: arah penalaran, level realita, cakupan teori, cara penjelasan teori dan kerangka kerja teoritis. Disarakan untuk bisa memahami dengan lebih baik keseluruhan isu-isu teoritis tersebut untuk bisa berteori dengan memadai. Selain itu juga disarankan memperkaya diri dengan bacaan-bacaan yang relevan dengan topik yang diteliti untuk mendapatkan pema­haman lebih baik dalam memilih sebuah teori yang relevan dengan topik yang diteliti. Kata Kunci: teori, perspektif, paradigma, kuantitatif, kualitatif

REPRESENTASI NILAI-NILAI METROSEKSUAL DI DALAM MAJALAH MEN’S GUIDE

Interaksi Online Vol 2, No 6 (2014): Wisuda April
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Meningkatnya jumlah pria metroseksual merupakan angin besar bagi industri fashion dan sekitarnya, khususnya yang memproduksi item khusus pria. Zaman dahulu, produk pria hanya terbatas pada pakaian, tetapi lihat sekarang, dengan semakin boomingnya fenomena metroseksual maka tersedia pusat kecantikan bagi pria, produk-produk perawatan untuk pria, make up untuk pria, serta majalah-majalah khusus pria. Majalah Men’s Guide merupakan salah satu diantara banyaknya majalah khusus pria di Indonesia yang menawarkan life style baru yang berlawanan dengan sosok pria dalam budaya patriarki yang melihat sosok pria seharusnya kuat, rasional, kasar, ceroboh serta pria yang terpola menghadapi pekerjaan yang memerlukan tenaga dan tidak mementingkan penampilan luarnya.Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dengan menggunakan analisis semiotika dari tokoh Charles Sanders Peirce. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui Majalah Men’s Guide merepresentasikan nilai-nilai metroseksual yang digambarkan oleh sosok figure dalam artikel Profile Guide.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai-nilai metroseksual yang direpresentasikan oleh Majalah Men’s Guide digambarkan dari sosok pria yang menjadi bahasan dalam artikel Profile Guide sebagai pria yang menjaga penampilan dirinya, berkarakter sensitif dan lembut yaitu terlihat dari peduli terhadap permasalahan sosial dan ramah terhadap semua orang, memiliki kecakapan komunikasi dan interpersonal yang baik terhadap semua orang baik pria maupun wanita, terlihat dari mereka dinobatkan sebagai pemenang dalam ajang male pageant yang diselengggarakan dan membawa visi misi untuk menginspirasi masyarakat luas agar bergaya hidup sehat. Majalah Men’s Guide melalui artikel Profile Guide menekanan pria untuk memperhatikan penampilan dirinya dengan memiliki tubuh atletis ideal yang didapatkan dari gemarnya olahraga gym di pusat kebugaran (fitness center),  serta memperhatikan gaya busana yang dikenakan agar terlihat fashionable. Kata Kunci : Representasi, Majalah, Pria Metroseksual, Semiotika

Perempuan Sebagai Objek Seksual dalam Tabloid Otomotif (Analisis Semiotika Foto pada Rubrik “Cepot” hal 34 Tabloid Motorplus)

Interaksi Online Vol 2, No 7 (2014): WISUDA AGUSTUS
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Media massa kini hadir dengan berbagai kemasan dan segmen. Diantaranya adalah media cetak yang berpengaruh besar terhadap perkembangan media massa, sebagai contoh adalah tabloid "Motorplus" yang merupakan tabloid dengan segmentasi pembaca pria. Pada salah satu rubrik tabloid Motorplus yang berjudul "Cepot", terdapat foto-foto perempuan yang menonjolkan sisi sensualitasnya. Jika dicermati secara kritis, tabloid tersebut menjadikan perempuan sebagai objek. Lalu, bagaimana bentuk objektifikasi perempuan dalam tabloid ini? Dan apa ideologi yang melatarbelakanginya?Penelitian ini bertujuan untuk melihat posisi perempuan sebagai objek melalui foto-foto yang terdapat dalam rubrik tersebut, dan menjelaskan ideologi dominan yang melatarbelakanginya. Teori dalam penelitian ini menggunakan teori standpoint dan teori feminis radikal kultural. Metode dalam penelitian ini menggunakan analisis semiotika Roland Barthes, yang terdiri dari analisis sintagmatik dan paradigmatik.Hasil dalam penelitian ini adalah pada tabloid "Motorplus" terdapat dua temuan bahwa perempuan dijadikan objek seksual. Pertama, perempuan dijadikan sebagai "objek santapan" atau komodifikasi seksual, yaitu perempuan dan nilai sensualitasnya dijadikan komoditas yang dijual kepada pembaca tabloid tersebut. Kedua, perempuan dijadikan sebagai objek tatapan atau objek hasrat seksual bagi pria pembaca tabloid ini. Kemudian pada penelitian ini subjek menjadi objektivikasi seksual aktif yang mana subjek juga dengan aktif dan sadar melakukan pose-pose sensual. Dan dalam hal ini ideology yang melatarbelakangi adalah patriarki. Dimana laki-laki lebih berkuasa penuh atas kontrol seksualnya.Kata Kunci: objek seksual, perempuan

“Pembingkaian Metrotvnews.com dan Sindonews.com Mengenai Mundurnya Hary Tanoesoedibjo Dari Partai Nasional Demokrat”

Interaksi Online Vol 2, No 7 (2014): WISUDA AGUSTUS
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Media Online memiliki banyak kelebihan dalam menyampaikan beritakepada khalayak, salah satunya adalah aktualitas berita yang jauh melampauikecepatan media konvensional seperti surat kabar. Pemberitaan media onlinedipengaruhi oleh ideologi dan ekonomi politik media yang terlihat dari framingberita yang dilakukan oleh media. Hal tersebut tidak lain juga disebabkan olehfaktor kepemilikan media itu sendiri. Terkadang isi berita menjadi timpang danjauh dari netralitas yang seharusnya menjadi dasar sebuah media menyampaikansebuah berita. Bahkan dewasa ini acap kali media seperti di setir kepentinganpemiliknya untuk kepentingan politik dan pencitraan pemilik media tersebut.Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran sampai sejauh manapengaruh ideologi dan politik ekonomi di media terhadap upaya mendekatiobjektivitas dan posisi netral sebuah pemberitaan. Penelitian ini menggunakanparadigma konstruksionis dengan pendekatan kualitatif. Analisa framingdilakukan dengan model analisis Pan dan Kosicki. Hasil penelitian inimenunjukan bahwa framing yang dilakukan sindonews.com terhadap beritamundurnya Hary Tanoesoedibjo dari Partai Nasional Demokrat sangat berpihakpada kepentingan pemilik media. Sementara framing yang dilakukan olehmetrotvnews.com masih menunjukan usaha media untuk melakukan pendekatanpada objektivitas pemberitaan.Kata kunci: Framing, media online, ideologi media, ekonomi politik media.

Analisis Bingkai: Objektifikasi Perempuan dalam Buku Sarinah

Interaksi Online Vol 2, No 8 (2014): Wisuda Oktober
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Munculnya berbagai kasus – kasus seperti pemerkosaan diangkot, kekerasan dalam rumah tangga, hingga larangan menggunakan rok mini di DPR menuding perempuan sebagai penyebabnya. Dalam kasus tersebut, banyak dari pejabat publik memandang perempuan secara diskriminatif. Berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Soekarno diawal kemerdekaan Indonesia. Pada tahun 1947, diterbitkan buku Sarinah yang ditulis oleh presiden pertama Indonesia yaitu Ir. Soekarno. Sebagai pejabat negara, tujuan Soekarno menulis dan menerbitkan buku Sarinah ini untuk memberikan dukungan terhadap perjuangan pergerakan perempuan Indonesia dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Namun terdapat temuan – temuan yang bersifat objektifikasi perempuan berupa penggunaan metafora dewi – tolol sebagai perumpamaan untuk perempuan yang dipundi  - pundikan layaknya seorang dewi, tetapi dianggap tidak penuh layaknya seorang tolol. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan objektifikasi isi penulisan terhadap perempuan oleh Soekarno dalam buku Sarinah beserta ideologi yang dominan di belakangnya.Penelitian ini menggunakan teori kelompok dibungkam sebagai salah satu penerapan dalam pendekatan teori objektifikasi dan feminisme radikal dalam paradigma kritis melalui metode analisis bingkai model William A. Gamson. Subjek penelitian ini adalah tulisan atau teks dalam buku Sarinah ini yang merupakan hasil dari pemikiran atau pandangan dari Soekarno sebagai penulisnya.Berdasarakan temuan penelitian, objektifikasi terkait isi penulisan buku Sarinah berupa dehumanisasi dan stereotipe terhadap perempuan. Dehumanisasi dalam buku Sarinah dimunculkan melalui metafora, leksikon, dan ilustrasi seperti menganggap perempuan sebagai blesteran dewi – tolol, sebagai benda yang harus dimiliki, barang yang harus ada dalam rumah, benda perhiasan rumah tangga, perempuan tidak lebih dari "benda zaliman suaminya", dan "seorang pengurus rumah yang tidak bergaji serta alat pelahirkan anak". Sedangkan stereotipe perempuan yang dimunculkan dalam buku Sarinah berupa penggambaran sosok perempuan sebagai kaum lemah, kaum bodoh, kaum nrimo, perempuan diperintah laki – laki, bunga rumah tangga, sebagai budak, dan "kodrat" perempuan hidup di bawah telapak laki-laki. Ideologi yang melatarbelakangi terjadinya objektifikasi perempuan ini dikarenakan adanya patriarkisme yang mengakar kuat di masyarakat. Terbukti dengan adanya dominasi kaum laki – laki terhadap perempuan berupa dehumanisasi dan stereotipe dalam isi penulisan buku Sarinah. Kata Kunci: Objektifikasi, Dehumanisasi, Stereotipe, Patriakisme

Naturalisasi Transgender dalam Film Lovely Man

Interaksi Online Vol 2, No 8 (2014): Wisuda Oktober
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Film merupakan salah satu media massa yang digunakan untuk menyampaikan pesan dan ideologi ke masyarakat. Film merepresentasikan beberapa kejadian di dunia nyata.Film Lovely Man adalah film yang menggambarkan naturalisasi transgender.Kehidupan transgender sama seperti kehidupan masyarakat dominan, tidak ada yang berbeda. Heteronormativitas tidak memberikan ruang gerak yang bebas bagi gender lain selain dua gender dominan, yakni laki-laki dan perempuan. Terdapat 26 leksia dalam penelitian ini, dari leksia dipilih berdasarkan tujuan penelitian.Tujuan penelitian ini adalah bagaimana teks film Lovely Man dalam melakukan naturalisasi transgender dan mengetahui nilai-nilai dalam kultur dominan (heteronormatif) dalam film Lovely Man.Pada penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis semiotika Roland Barthes secara sintagmatik dan paradigmatik. Pada analisis paradigmatik menggunakan lima kode pokok pembacaan teks dari Roland Barthes. Naturalisasi dapat dilihat melalui makna sintagmatik dan paradigmatik dengan menunjukkan bahwa tokoh waria dalam film ini juga memiliki relasi hubungan keluarga yang normal sama seperti keluarga heteroseksual lain. Mitos dan ideologi membangun dan menaturalkan intepretasi tertentu secara khas dan historis dengan menunjukkan ikatan emosional antara ayah dan anak, panggilan orang tua “bapak” dan hubungan antara ayah dan anak. Panggilan “bapak” menunjukkan pada film ini ingin meleburkan status seorang bapak tidak hanya dilihat dari sisi biologisnya saja, tapi dilihat dari perannya sebagai seorang ayah. Namun disisi lain, film ini tidak bisa lepas dari heteronormativity yang ada. Waria masih terbelenggu dalam gender yang mereka yakini yakni transgender, namun dalam perannya sebagai pekerja seksual waria harus berperan sebagai peran feminin. Merubah bentuk tubuh dengan melakukan operasi plastik dengan menunjukkan adanya peran laki-laki dan wanita salah satu bentuk dalam teks film yang tidak bisa melepaskan heteronormativity.Kata kunci : transgender, heteronormativas, naturalisasi, film

Performativitas Gender dalam Film The Kids Are All Right Karya Lisa Cholodenko

Interaksi Online Vol 2, No 8 (2014): Wisuda Oktober
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konsep heteronormativitas tidak memberikan ruang dan toleransi terhadap bentuk gender-gender lain kecuali laki-laki dan perempuan dan heteroseksual dianggap sebagai hubungan yang paling alamiah. Judith Butler, seorang pasca strukturalis, menolak dualisme gender tersebut yang secara sosial sangat sulit ditinggalkan. Film The Kids Are All Right karya Lisa Cholodenko ini mencoba keluar dari nilai-nilai heteronormatif tersebut dengan menampilkan pasangan lesbian yang telah berkeluarga lengkap dengan kehadiran anak-anak.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui strategi pembuat film dalam melakukan naturalisasi pasangan lesbian dalam konteks sosial keluarga dan mengungkap nilai-nilai dalam kultur dominan (heteronormatif) yang tidak bisa dilepaskan oleh film ini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis semiotika model Roland Barthes melalui tahapan analisis sintagmatik dan paradigmatik dengan menggunakan lima kode pokok pembacaan teks. Strategi film dalam melakukan naturalisasi dengan menunjukkan bahwa pasangan homoseksual (lesbian) bisa memiliki anak sendiri, anak-anak yang diasuh oleh pasangan lesbian bisa berprestasi dan mempunyai tumbuh kembang yang baik, ikatan emosional anak-anak dengan orang tua maupun antar individu lesbian ketika sedang berkonflik (ditunjukkan melalui ekspresi menangis, marah, dan kecewa), adegan-adegan romantic relationship pasangan lesbian (berciuman, berpelukan, bergandengan tangan, dan bercinta), adanya transformasi nilai-nilai sosial dari orang tua ke anak-anak, dan orientasi seksual orang tuanya tidak mempengaruhi orientasi seksual anak-anaknya (walaupun masih menunjukkan adanya melancholic heterosexuality). Kecenderungan heteronormativitas terletak pada konstruksi praktek sosial dan kategori gender yang sifatnya tidak hanya dikotomis tetapi juga hirarkis melalui hadirnya simbol butch (dominasi maskulin)dan femme (peran domestik feminin). Film ini juga menunjukkan resistensi terhadap heteronormativitas dengan menampilkan kategori gender dan seksualitas yang cair. Performativitas gender disini adalah sesuatu yang kompleks karena bukan hanya sekadar imitasi bagaimana gender yang seharusnya ditampilkan oleh tokoh-tokoh dalam film, tetapi bukan usaha untuk menghindari pengulangan terhadap model heteronormativitas tentang bagaimana laki-laki dan perempuan seharusnya.Kata kunci : gender, seksualitas, film

HUBUNGAN TINGKAT KETIDAKPASTIAN DAN KONSEP DIRI TERHADAP TINGKAT KECEMASAN KOMUNIKASI PRIA PADA TAHAP PERKENALAN DENGAN WANITA

Interaksi Online Vol 2, No 8 (2014): Wisuda Oktober
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang penelitian ini didasarkan pada tingginya prosentase pria yang mengalami kecemasan komunikasi ketika berkomunikasi dengan wanita yang belum dikenal. Setiap hubungan personal baik teman, sahabat, kekasih, dan sebagainya terbentuk melalui tahap-tahap, salah satunya adalah tahap kontak atau perkenalan. Tahap kontak atau perkenalan menjadi krusial karena pada tahap ini masing-masing individu akan memutuskan apakah hubungan dapat dilanjutkan ke tahap selajutnya atau tidak. Dengan demikian, kecemasan komunikasi secara tidak langsung akan menghambat pria untuk mengembangkan hubungan dengan wanita. Kecemasan komunikasi yang dialami pria ditentukan oleh dua faktor, yaitu ketidakpastian dan konsep diri yang dimiliki pria.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat ketidakpastian dan konsep diri yang dimiliki pria dengan tingkat kecemasan komunikasi yang dialami pria pada tahap perkenalan. Beberapa teori yang digunakan pada penelitian ini antara lain teori pengurangan ketidakpastian, teori selanjutnya yang digunakan dalam penelitian ini berkaitan dengan konsep diri yang dimiliki pria, dan teori terakhir yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori kecemasan komunikasi.Penelitian ini merupakan tipe penelitian eksplanatif dengan pendekatan kuantitatif, dan menggunakan paradigma positivistik. Populasi dalam penelitian ini adalah pria berusia 20-40 tahun yang mengikuti produk atau pelatihan Hitman System dan mengalami kecemasan komunikasi. Sampel yang digunakan adalah non random dengan teknik accidental sampling dikarenakan jumlah populasi yang tidak diketahui dengan jumlah sampel sebanyak 80 responden. Berdasarkan perhitungan statistik dengan menggunakan rumus uji korelasi Rank Kendall, diketahui terdapat hubungan positif yang signifikan antara tingkat ketidakpastian (X1) dengan tingkat kecemasan komunikasi (Y), atau semakin tinggi tingkat ketidakpastian pria maka semakin tinggi pula tingkat kecemasan yang dialami pria. Diketahui pula terdapat hubungan negatif yang sangat signifikan antara konsep diri (X2) dengan tingkat kecemasan komunikasi (Y), dapat dikatakan semakin positif konsep diri pria maka semakin rendah tingkat kecemasan komunikasi yang dialami pria. Terakhir, didapati bahwa terdapat hubungan yang sangat signifikan antara tingkat ketidakpastian (X1) dan konsep diri (X2) dengan tingkat kecemasan komunikasi (Y), atau pria mengalami ketidakpastian yang tinggi ketika berkenalan dengan wanita maka tingkat kecemasan komunikasi yang dialaminya juga akan meningkat, namun jika pria memiliki konsep diri yang positif maka tingkat kecemasan yang dialaminya akan menurun.Kata kunci: Tingkat Ketidakpastian, Konsep Diri, dan Tingkat Kecemasan Komunikasi

Subjektivitas Seksualitas Perempuan Dalam Novel Pengakuan Eks Parasit Lajang Karya Ayu Utami

Interaksi Online Vol 2, No 8 (2014): Wisuda Oktober
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada hakikatnya setiap orang diciptakan sebagai subjek yang unik, baik laki-laki maupun perempuan. Namun realita dalam masyarakat patriarki seakan menempatkan lelaki sebagai subjek dan perempuan sebagai objek. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan tentang subjektivitas seksualitas perempuan, proses terjadinya, serta gagasan dominan dalam novel Pengakuan Eks Parasit Lajang (PEPL) karya Ayu Utami. Teori-teori yang digunakan dalam penelitian ini di antaranya teori standpoint; feminis posmodern dan woman writing; teori subjektivitas, identitas, dan seksualitas; teori representasi dan semiotika, serta ideologi.Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan analisis semiotika naratif yang dikembangkan Algirdas Julien Greimas. Analisis semiotika naratif terdiri atas analisis struktur luar dan analisis struktur dalam yang berisi makna serta manifestasi nilai dalam teks. Analisis struktur luar dilakukan dengan analisis aktansial dan fungsional yang menghasilkan sebuah aktan utama. Sedangkan pada analisis struktur dalam diperoleh hasil bahwa subjektivitas seksualitas perempuan merupakan hasil dari wacana kekuasaan patriarki. Subjektivitas seksualitas adalah adalah sikap yang diambil seseorang, dengan kesadaran penuh, sebagai subjek dalam menentukan peranannya dalam masyarakat. Ciri-ciri subjektivitas seksualitas perempuan adalah merasa telah menempatkan diri sebagai subjek secara sadar, memiliki kepercayaan diri, berani mengambil keputusan (risiko), memiliki suatu kebanggaan tersendiri, memiliki eksistensi di ranah privat dan publik, sehingga posisi perempuan sebagai istri dalam rumah tangga keluarga yang dibangun pun setara dengan suaminya. Ideologi dominan yang melahirkan subjektivitas seksualitas dalam novel adalah patriarkisme, kapitalisme, dan liberalisme. Patriarkisme berperan dalam menciptakan kesadaran tokoh A dalam novel PEPL sebagai perempuan yang teropresi. Kapitalisme memunculkan wacana ‘nilai’ pada suatu hal sehingga diagung-agungkan oleh masyarakat. Kemudian liberalisme menumbuhkan kesadaran tokoh A untuk memperoleh kesetaraan sesuai dengan sesamanya, yakni laki-laki. Ideologi-ideologi tersebut memiliki pengaruh penting untuk tokoh utama dalam novel PEPL untuk secara sadar memilih menjadi subjek. Baik sebagai subjek yang berkuasa maupun subjek yang tertundukkan oleh subjektivitas dominan.Penelitian ini membuka paradigma bahwa perempuan memiliki pilihan dalam hidup. Meskipun sangat sulit untuk mengaktualisasikan kebebasannya, perempuan harus tetap berusaha menjadi subjek atas dirinya sendiri. Kata kunci: subjektivitas, seksualitas, perempuan, woman writing, novel, semiotika naratif

Resistensi dari Objektifikasi Terhadap Perempuan Dalam Novel The Sinden Karya Halimah Munawir

Interaksi Online Vol 2, No 8 (2014): Wisuda Oktober
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Novel merupakan salah satu bentuk karya sastra yang memiliki struktur yang bermakna dan menggunakan bahasa sebagai medianya. Selain merupakan salah satu media massa yang digunakan untuk menyampaikan pesan dan sekaligus menyebarkan ideologi kepada masyarakat novel juga dapat dijadikan sebagai media untuk melakukan perlawanan terhadap suatu konstruksi dominan di masyarakat. Stereotip pada sinden merupakan produk konstruksi sosial di masyarakat yang menempatkan sinden pada posisi subordinat. Melalui novel The Sinden, penulis Halimah Munawir ingin menunjukkan adanya sebuah perlawananterhadap konstruksi negatif dari sosok sinden.Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana bentuk perlawanan dari objektifikasi terhadap perempuan sinden dalam novel The Sinden karya Halimah Munawir, serta mengungkap gagasan residual konstruksi dominan yang negatif di dalam novel. Teori yang digunakan adalah teori standpoint dan teori feminis radikal kultural dan teori resistensi. Metode yang digunakan adalah analisis semiotik naratif A.J Greimas, yaitu dengan analisis struktur cerita dan analisis struktur dalam untuk mendapatkan makna yang terdapat di dalam teks.Hasil penelitian menunjukkan adanya bentuk perlawanan yang dilakukan sinden dengan cara terbuka. Perempuan berusaha melawan opresi laki-laki dari objek tatapan dan objek seksualnya, dengan melarikan diri dan menolak menjadi seorang selir, menolak menjadi objek tatapan serta objek hasrat seksual laki-laki. Objektifikasi seksualitas perempuan mereduksi kaum perempuan menjadi pasif dan objek gender (hasrat, eksploitasi, siksaan). Oleh karenanya, pembebasan perempuan dari opresi hanya dapat dilakukan melalui penghancuran ideologi patriarki yang menjadi gagasan residual di dalam novel. Gagasan residual masih menempatkan laki-laki berada di posisi dominan sehingga dapat melakukan kontrol seksualitas atas perempuan. Kata kunci: resistensi, objektifikasi, perempuan sinden, novel