Articles

Found 14 Documents
Search

Effect of Different Feeding Dosage on The Growth of Cyprinus Carpio and Macrones sp. by Cage-Cum-Cage System

Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 7, No 1 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Jurnal Akuakultur Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.163 KB)

Abstract

Available : http://journal.ipb.ac.id/index.php/jai                 http://jurnalakuakulturindonesia.ipb.ac.id  Feed is an element which requires largest cost in fish culture.  Inefficient in feeding can reduce profit.  In additon, intensive fish culture system requires efficiently the use of area.  Generally, not all space in fish cage filled by fish, because of the nature of fish that lives in some particular space on water such as the surface, middle space or bottom.  Cyprinus carpio and Macrones sp. was reared with gillnet inside gillnet (cage-cum-cage) and fed commercial diet in dose of 3%, 6%, 9% and 12%. Result show that feeding dose of 6% was an efficien mean by relative growth rate.  Growth rate of Cyprinus carpio was about 150.47% and Macrones was 208.87%.  Feed efficiency was about 81.89%. Survival rate of Cyprinus carpio was about 91.67% and Macrones was 86.67%.  Thus, feeding dose of 6% is recommended for Cyprinus carpio and Macrones in cage-cum-cage culture system. Keywords:  growth, Cyprinus carpio, Macrones sp., feeding dose, cage-cum-cage   ABSTRAK Pakan merupakan komponen yang membutuhkan biaya terbesar dalam usaha budidaya. Penggunaan pakan yang tidak efisiensi dapat mengurangi  keuntungan usaha. Selain itu budidaya yang intensif juga menuntut penggunaan ruang gerak ikan yang efisien. Umumnya tidak semua kolom air dalam karamba terisi dengan ikan yang dibudidayakan, karena sifat ikan mendiami bagian tertentu dalam air seperti di permukaan, di pertengahan atau di dasar perairan.  Ikan mas dan ikan baung dipelihara dengan jaring di dalam jaring (cage-cum-cage) dan diberi pakan dengan dosis  3%; 6%; 9% dan 12%. Hasil menunjukan bahwa dosis pakan 6% merupakan dosis yang efisien dalam penggunaan pakan dengan laju pertumbuhan relatif ikan mas 150,47 % dan ikan baung 208,87%, efisiensi pakan 81,89% dan kelangsungan hidup ikan mas 91,67% dan ikan baung 86,67%.  Dosis pakan 6% direkomendasikan sebagai dosis  yang sesuai untuk ikan mas dan ikan baung pada sistem cage-cum-cage. Kata kunci : pertumbuhan, ikan mas, ikan baung, Cyprinus carpio, Macrones, dosis pakan, cage-cum-cage.

Effect of Different Fatty Acid Sources of Diet on Growth Performance of Botia Botia macracanthus Bleeker

Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 7, No 2 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Jurnal Akuakultur Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (116.182 KB)

Abstract

Fish requires essential fatty acid for growth. Freshwater fish needs linoleat fatty acid (n-6) or combination of linoleat and a-linolenat acids (n-3).  Fish oil contains higher level of n-3, corn oil is rich of n-6, while coconut oil is rich of saturated fatty acids.  This study was conducted to determine the effect of fatty acid sources in diet on growth performance of botia Botia macracanthus. Sources of fatty acid examined were coconut oil (control), corn oil, fish oil, and corn oil + fish oil + coconut oil. The results of study show that daily growth rate of fish fed on diet containing mix of corn-coconut-fish oils (8.39%) and only corn oil (8.15%) was higher (p

Effect of Dietary Vitamin C Ascorbic Acid on the Growth Performance and Immune Response of Betok Anabas testudineus Bloch

Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 7, No 2 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Jurnal Akuakultur Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (138.469 KB)

Abstract

Vitamin C has a function for increasing normal growth, preventing bone annomaly for seed health or reducing stress, accelerating wound recovery and improving immune system against bacterial infection. Enhancement of immune response using immunostimulant had been proven in aquaculture.  One of the immunostimulant that had been examined in several fish species was vitamin C. However, the immunostimulatory effect of vitamin C on betok remains to be proven.  This study was performed to know the effect of feeding fish by diets containing vitamin C in form of ascorbic acid on growth and immune response of betok in term of stress adaptation. Concentrations of vitamin C tested were 0 (control), 125 mg, 250 mg and 375 mg/kg diet. The results show that supplementation of vitamin C in diet can increase daily growth rate and feed efficiency of betok.  Daily growth rate of treated fishes (1.37-1.49%) were higher than that of control (1.14%).  Feeding efficiency was also higher in treated fishes (39.73-48.07%) compared to that of control (33.73%). There was no significantly difference in survival rate of treated fish (93.33-96.67%) and control (93.33%).  Survival rate of fish reared at 15oC as a stress test was also examined.  Results showed that survival rate of fish increases by increasing the level of vitamin C in diet. Number of fish died in stress test was 10 in control, 7 fish in 125 mg/kg, 5 fish in 250 mg/kg and 3 fish in 375 mg/kg.  Thus, inclusion of vitamin C in diet improved ability of fish to adapt to an extreme environment condition. Keywords: Vitamin C, ascorbic acid, growth, immune response, Anabas testudineus   ABSTRAK Vitamin C berfungsi untuk meningkatkan pertumbuhan normal, mencegah kelainan bentuk tulang untuk kesehatan benih atau mengurangi stress, mempercepat penyembuhan luka dan meningkatkan pertahanan atau kekebalan tubuh melawan infeksi bakteri. Peningkatan respon imun dengan  pemberian imunostimulan telah dibuktikan dalam akuakultur. Salah satu immunostimulan yang telah diuji pada beberapa spesies ikan adalah vitamin C. Namun demikian, pengaruh imunostimulatori vitamin C pada ikan betok belum diteliti.  Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efek pemberian pakan yang mengandung vitamin C dalam bentuk ascorbic acid terhadap pertumbuhan dan respons imun dalam arti daya tahan terhadap stres pada ikan betok. Dosis vitamin C adalah 0 (kontrol), 125 mg, 250 mg dan 375 mg/kg pakan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan vitamin C dalam pakan dapat meningkatkan laju pertumbuhan harian dan efisiensi pakan pada ikan betok.  Laju pertumbuhan harian pada ikan perlakuan (39.73-48.07%) lebih tinggi daripada ikan (33.73%). Kelangsungan hidup ikan tidak berbeda antara perlakuan (93.33-96.67%) dan kontrol (93.33%).  Kelangsungan hidup ikan yang dipelihara pada suhu 15oC sebagai uji stress as a stress juga diamati.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelangsungan hidup ikan meningkat dengan meningkatnya kadar C dalam pakan.  Jumlah ikan yang mati dalam uji stres adalah 10 pada kontrol, 7 pada perlakuan 125 mg/kg, 5 ekor pada perlakuan 250 mg/kg dan 3 ekor pada perlakuan 375 mg/kg.  Dengan demikian, penambahan vitamin C dalam pakan meningkatkan kemampuan ikan beradaptasi terhadap kondisi lingkungan esktrim. Kata kunci : Vitamin C, ascorbic acid, pertumbuhan, respons imun, Anabas testudineus

Artificial Feeds Given in Different Dose to the Growth and Feed Consumption of Semah Fish Seed (Tor Douronensis) in Order to Domestication

Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 8, No 1 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Jurnal Akuakultur Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (151.379 KB)

Abstract

Semah fish (Tor douronensis) is a kind of freshwater fish pertained as a wild fish that almost extint and rare, therefore, it is necessary to preserve through the culture activity. Meanwhile, in fish culture effort, feed is considers as an important factor.  Thus, feed must meet a proper quality and quantity due to the fish maintenance, growth, and reproduction requirement. Test feed employed in this research was an artificial feed in form of pellet which was consists of 40% protein by dose tested of 3%, 6%, 9% and 12% of biomass weight. The result indicated that daily growth rate was ranged between 1.44-1.99% by highest growth achieved at feed dose 6% and from the quadratic regression analysis achieved optimal dose by 6.18%.  Daily feed comsumption rate of semah fish seed was ranged between 2.69-10.19% per day.  Feed efficiency was ranged between 13.85-54.09%, and survival rate was 100%. Keywords: dose, growth, feed comsumption, semah fish, Tor douronensis   ABSTRAK Ikan semah (Tor douronensis) adalah jenis ikan air tawar yang tergolong jenis ikan liar yang hampir punah dan sudah langka, karena itu perlu upaya pelestariannya dengan usaha pembudidayaan. Dalam usaha budidaya ikan, pakan merupakan salah satu faktor penting. Oleh sebab itu pakan harus berkualitas dengan kuantitas yang tepat sesuai dengan kebutuhan ikan untuk pertumbuhannya, pemeliharaan tubuh dan reproduksi. Pakan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah pakan buatan berupa pelet yang mengandung  protein 40% dengan dosis pakan yang diuji 3%, 6%, 9% dan 12% dari bobot biomassa. Hasil menunjukkan laju pertumbuhan harian berkisar antara 1,99-1,44% dengan pertumbuhan tertinggi dicapai pada dosis pakan 6% dan dari analisis regresi kwadratik diperoleh dosis optimum sebesar 6,18%. Laju konsumsi harian benih ikan semah selama penelitian ini berkisar antara 2,69-10,19 %/hari. Efesiensi pakan berkisar antara 54,09-13,85%, dan tingkat kelangsungan hidup 100% Kata kunci: dosis, pertumbuhan, konsumsi pakan, ikan semah, Tor douronensis

Screening of Probiotic Bacteria from Intestine and Culture Environment of Hoeven’s slender carp Leptobarbus hoeveni Blkr to Control Pathogenic Bacteria

Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 9, No 2 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Jurnal Akuakultur Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (455.755 KB)

Abstract

The ability of probiotic bacteria to control disease infection has been used in aquaculture. This experiment was conducted to isolate and characterize probiotic bacteria; the competition test its ability probiotic bacteria against pathogenic bacteria; and to improve survival rate of Leptobarbus hoeveni. The bacteria were isolated from Leptobarbus hoeveni and its culture environment, and then tested to know its ability to inhibit bacterial fish pathogen in-vitro. Furthermore, the selected probiotic bacteria were tested in vivo to evaluate their ability to inhibit pathogen of Leptobarbus hoeveni.  The result showed that probiotic bacteria inhibit the growth of Streptococcus iniae, Flexibacter columnaris, Mycobacterium fortuitum and Aeromonas hydrophila in vitro.  Isolate DD3 was the best of candidate probiotic because of the ability to inhibit pathogen, especially A. hydrophila, the most virulent bacteria in Leptobarbus hoeveni.Key Words  : probiotic bacteria, Leptobarbus hoeveni, pathogenic bacteriaAbstrakKemampuan bakteri probiotik untuk mengendalikan penyakit infeksi telah digunakan dalam akuakultur. Tujuan penelitian ini adalah mengisolasi dan mengkarakterisasi bakteri probiotik, menguji kemampuan bakteri probiotik terhadap bakteri patogen, sehingga dapat meningkatkan tingkat kelangsungan hidup ikan jelawat. Bakteri diisolasi dari usus ikan jelawat dan lingkungan budaya, kemudian diuji kemampuannya menghambat bakteri patogen secara in-vitro. Selanjutnya bakteri probiotik yang dipilih diuji secara in vivo untuk mengevaluasi kemampuannya dalam menghambat patogen di dalam tubuh ikan jelawat. Dari hasil penelitian diperoleh bakteri probiotik yang diisolasi dari usus dan lingkungan budaya ikan jelawat menunjukkan penghambatan pertumbuhan terhadap Streptococcus iniae, Flexibacter columnaris, Mycobacterium fortuitum dan Aeromonas hydrophila secara in vitro. Isolat DD3 merupakan kandidat probiotik terbaik, karena mempunyai kemampuan untuk menghambat bakteri patogen,  khususnya bakteri  A. hydrophila adalah bakteri yang paling viluren bagi ikan jelawat.    Kata Kunci:   bakteri probiotik, ikan jalawat dan baktri patogen

Growth of Gracilaria under Different Planting Distances in Pond

Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 8, No 2 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Jurnal Akuakultur Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (43.878 KB)

Abstract

The use of non-productive shrimp ponds for cultivation of Gracilaria is one of the strategies that can be performed to achieve production target of seaweed. This study was conducted to determine the influence of different planting distances on growth of Gracilaria cultivated in pond. Gracilaria was separately planted in distant of 20x20 cm; 25x25 cm; 30x30 cm and 35x35 cm in pond for 45 days cultivation.  Relative growth rate and thallus length increment were measured to obtain an optimal planting distance. The results of study showed that 25x25 cm planting distance resulted in a higher relative growth rate (137.8%) and increment of thallus length (15.3%) compared with other treatments.  Thus, cultivation of Gracilaria in an unproductive pond with 25x25 cm planting distance may improve production. Keywords : non-productive ponds, planting distance, Gracilaria   ABSTRAK Pemanfaatan tambak udang yang tidak produktif untuk budidaya Gracilaria merupakan salah satu strategi yang dapat dilakukan untuk mencapai target produksi rumpul laut. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh jarak tanam yang berbeda terhadap pertumbuhan Gracilaria di tambak.  Gracilaria ditanam terpisah dengan jarak 20x20 cm; 25x25 cm; 30x30 cm dan 35x35 cm di tambak selama 45 hari pemeliharaan.  Pertumbuhan relatif dan panjang thalus diukur untuk memperoleh jarak tanam yang optimal.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa jarak tanam 25x25 cm memberikan pertumbuhan relatif (137.8%) dan pertambahan panjang thalus (15.3%) tertinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Dengan demikian, budidaya Gracilaria di tambak tidak produktif dengan jarak tanam 25x25 xm diduga sangat membantu untuk mencapai target produksi rumput laut. Kata kunci : tambak non-produktif, jarak tanam, Gracilaria

PENGARUH SURFACE TREATMENT METODA PLASMA NITRIDING TERHADAP KEKERASAN DAN KETAHANAN AUS PAHAT BUBUT BAHAN BAJA KECEPATAN TINGGI

Prosiding Seminar Nasional Sains Dan Teknologi Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2010): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 1 2010
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Sains Dan Teknologi Fakultas Teknik

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Baja Kecepatan Tinggi (HSS) banyak digunakan sebagai pahat pada mesin perkakas yang mempunyai sifat keuletan yang baik.  Bahan HSS dapat ditingkatkan kinerjanya dengan cara perlakuan permukaan (surface treatment) menggunakan teknik plasma nitriding. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh nitridasi ion/plasma terhadap perubahan struktur, sehingga diharapkan dapat meningkatkan kekerasan dan ketahanan aus pahat bubut. Penelitian menggunakan bahan baja kecepatan tinggi (HSS) ASSAB 17 dengan variasi tekanan 1,2; 1,4; 1,6; 1,8 dan 2,0 mbar, dengan waktu nitridasi 2; 3; 4; 5 dan 6 jam pada temperatur  5000C.  Proses plasma nitriding dilakukan pada kondisi vakum dengan diisikan gas nitrogen dan diberi beda potensial diantara dua elektrodanya yang mengakibatkan terbentuknya ion nitrogen ke dalam permukaan benda. Uji kekerasan mikro dilakukan pada semua spesimen masing-masing spesimen 5 titik dengan beban terendah 10 gf (gram-force)  waktu identasi 15 detik. Uji struktur mikro dilakukan pada material HSS sebelum dinitridasi dan setelah dinitridasi. Pengujian keausan pahat digunakan untuk membubut material baja karbon rendah dengan variasi parameter kecepatan potong antara 20 m/menit sampai 30 m/menit.  Sedangkan keausan pahat diukur berdasarkan batas keausan tepi sebesar 0,3 mm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekerasan optimal lapisan tipis  plasma/ion nitrogen, dicapai pada tekanan 1,4 mbar, suhu 5000 C selama 5 jam kekerasannya meningkat 477% menjadi 1918 VHN dari kekerasan awal 402 VHN. Pahat HSS yang dilapisi deposisi lapisan tipis plasma/ion nitrogen mampu meningkatkan ketahanan aus sebesar 64%. Kata kunci : Plasma Nitriding, baja kecepatan tinggi, kekerasan, ketahanan aus

SIMULASI RANCANGAN DAN PELETAKAN BLOK KAPAL FERRY RO-RO 200 GT MENGGUNAKAN MODEL CAD 3D DI GALANGAN

JURNAL RISET TEKNOLOGI KELAUTAN Vol 11, No 1 (2013)
Publisher : Ikatan Sarjana Teknik Perkapalan UNHAS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan gambar tiga dimensi (3D) CAD sangat populer di berbagai industri terutama untukrancangan, produksi dan perakitan. Simulasi proses produksi menggunakan model 3D CADmenjadi inti dari sistem CIM (Computer Integrated Manufacturing) oleh karena dapat meningkatkanefisiensi dan keselamatan produksi setiap tahapan kerja atau kegiatan serta mampu mencapaioptimalisasi manufaktur. Penelitian ini, menggambarkan aplikasi model CAD tiga dimensi (3D)dalam mensimulasi rancangan blok Kapal Ferry Ro-Ro 200 GT terutama dalam merumuskan jumlah,berat maupun dimensi blok kapal serta melakukan simulasi peletakan/penataan susunan perakitanblok dengan mempertimbangkan area pembangunan dan kapasitas alat angkat galangan PT. DayaRadar Utama Jakarta. Hasil penelitian memperoleh jumlah blok kapal terdiri dari 9 blok, 42 subblok, 269 panel dan 4.091 komponen, dimensi blok terbesar adalah blok SSG45 yaitu panjang 13.191mm, lebar 9.000 mm dan tinggi 4.500 mm dan berat blok kapal yang terbesar adalah blok HS3dengan berat 30.114,959 kg. Area yang dibutuhkan berdasarkan dimensi blok rancangan adalahuntuk luas perakitan blok di area pembangunan sebesar 1.063,01 m², sedangkan luas yangdibutuhkan pada landasan pembangunan (building Berth) sebesar 1.650 m².

Screening of Probiotic Bacteria from Intestine and Culture Environment of Hoeven’s slender carp Leptobarbus hoeveni Blkr to Control Pathogenic Bacteria

Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 9, No 2 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (455.755 KB)

Abstract

The ability of probiotic bacteria to control disease infection has been used in aquaculture. This experiment was conducted to isolate and characterize probiotic bacteria; the competition test its ability probiotic bacteria against pathogenic bacteria; and to improve survival rate of Leptobarbus hoeveni. The bacteria were isolated from Leptobarbus hoeveni and its culture environment, and then tested to know its ability to inhibit bacterial fish pathogen in-vitro. Furthermore, the selected probiotic bacteria were tested in vivo to evaluate their ability to inhibit pathogen of Leptobarbus hoeveni.  The result showed that probiotic bacteria inhibit the growth of Streptococcus iniae, Flexibacter columnaris, Mycobacterium fortuitum and Aeromonas hydrophila in vitro.  Isolate DD3 was the best of candidate probiotic because of the ability to inhibit pathogen, especially A. hydrophila, the most virulent bacteria in Leptobarbus hoeveni.Key Words  : probiotic bacteria, Leptobarbus hoeveni, pathogenic bacteriaAbstrakKemampuan bakteri probiotik untuk mengendalikan penyakit infeksi telah digunakan dalam akuakultur. Tujuan penelitian ini adalah mengisolasi dan mengkarakterisasi bakteri probiotik, menguji kemampuan bakteri probiotik terhadap bakteri patogen, sehingga dapat meningkatkan tingkat kelangsungan hidup ikan jelawat. Bakteri diisolasi dari usus ikan jelawat dan lingkungan budaya, kemudian diuji kemampuannya menghambat bakteri patogen secara in-vitro. Selanjutnya bakteri probiotik yang dipilih diuji secara in vivo untuk mengevaluasi kemampuannya dalam menghambat patogen di dalam tubuh ikan jelawat. Dari hasil penelitian diperoleh bakteri probiotik yang diisolasi dari usus dan lingkungan budaya ikan jelawat menunjukkan penghambatan pertumbuhan terhadap Streptococcus iniae, Flexibacter columnaris, Mycobacterium fortuitum dan Aeromonas hydrophila secara in vitro. Isolat DD3 merupakan kandidat probiotik terbaik, karena mempunyai kemampuan untuk menghambat bakteri patogen,  khususnya bakteri  A. hydrophila adalah bakteri yang paling viluren bagi ikan jelawat.    Kata Kunci:   bakteri probiotik, ikan jalawat dan baktri patogen

Effect of different feeding dossage on the growth of Cyprinus carpio and Macrones sp. by Cage-Cum-Cage system

Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 7, No 1 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.163 KB)

Abstract

ABSTRACTFeed is an element which requires largest cost in fish culture.  Inefficient in feeding can reduce profit.  In additon, intensive fish culture system requires efficiently the use of area.  Generally, not all space in fish cage filled by fish, because of the nature of fish that lives in some particular space on water such as the surface, middle space or bottom.  Cyprinus carpio andMacrones sp. was reared with gillnet inside gillnet (cage-cum-cage) and fed commercial diet in dose of 3%, 6%, 9% and 12%. Result show that feeding dose of 6% was an efficien mean by relative growth rate.  Growth rate of Cyprinus carpio was about 150.47% and Macrones was 208.87%.  Feed efficiency was about 81.89%. Survival rate of Cyprinus carpio was about 91.67% and Macrones was 86.67%.  Thus, feeding dose of 6% is recommended for Cyprinus carpio andMacrones in cage-cum-cage culture system.Keywords:  growth, Cyprinus carpio,Macrones sp., feeding dose, cage-cum-cage ABSTRAKPakan merupakan komponen yang membutuhkan biaya terbesar dalam usaha budidaya. Penggunaan pakan yang tidak efisiensi dapat mengurangi  keuntungan usaha. Selain itu budidaya yang intensif juga menuntut penggunaan ruang gerak ikan yang efisien. Umumnya tidak semua kolom air dalam karamba terisi dengan ikan yang dibudidayakan, karena sifat ikan mendiami bagian tertentu dalam air seperti di permukaan, di pertengahan atau di dasar perairan.  Ikan mas dan ikan baung dipelihara dengan jaring di dalam jaring (cage-cum-cage) dan diberi pakan dengan dosis  3%; 6%; 9% dan 12%. Hasil menunjukan bahwa dosis pakan 6% merupakan dosis yang efisien dalam penggunaan pakan dengan laju pertumbuhan relatif ikan mas 150,47 % dan ikan baung 208,87%, efisiensi pakan 81,89% dan kelangsungan hidup ikan mas 91,67% dan ikan baung 86,67%.  Dosis pakan 6% direkomendasikan sebagai dosis  yang sesuai untuk ikan mas dan ikan baung pada sistem cage-cum-cage.Kata kunci : pertumbuhan, ikan mas, ikan baung, Cyprinus carpio, Macrones, dosis pakan, cage-cum-cage.