Articles

Found 11 Documents
Search

PENGARUH SURFACE TREATMENT METODA PLASMA NITRIDING TERHADAP KEKERASAN DAN KETAHANAN AUS PAHAT BUBUT BAHAN BAJA KECEPATAN TINGGI Sunarto, .
Prosiding Seminar Nasional Sains Dan Teknologi Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2010): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 1 2010
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Sains Dan Teknologi Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Baja Kecepatan Tinggi (HSS) banyak digunakan sebagai pahat pada mesin perkakas yang mempunyai sifat keuletan yang baik.  Bahan HSS dapat ditingkatkan kinerjanya dengan cara perlakuan permukaan (surface treatment) menggunakan teknik plasma nitriding. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh nitridasi ion/plasma terhadap perubahan struktur, sehingga diharapkan dapat meningkatkan kekerasan dan ketahanan aus pahat bubut. Penelitian menggunakan bahan baja kecepatan tinggi (HSS) ASSAB 17 dengan variasi tekanan 1,2; 1,4; 1,6; 1,8 dan 2,0 mbar, dengan waktu nitridasi 2; 3; 4; 5 dan 6 jam pada temperatur  5000C.  Proses plasma nitriding dilakukan pada kondisi vakum dengan diisikan gas nitrogen dan diberi beda potensial diantara dua elektrodanya yang mengakibatkan terbentuknya ion nitrogen ke dalam permukaan benda. Uji kekerasan mikro dilakukan pada semua spesimen masing-masing spesimen 5 titik dengan beban terendah 10 gf (gram-force)  waktu identasi 15 detik. Uji struktur mikro dilakukan pada material HSS sebelum dinitridasi dan setelah dinitridasi. Pengujian keausan pahat digunakan untuk membubut material baja karbon rendah dengan variasi parameter kecepatan potong antara 20 m/menit sampai 30 m/menit.  Sedangkan keausan pahat diukur berdasarkan batas keausan tepi sebesar 0,3 mm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekerasan optimal lapisan tipis  plasma/ion nitrogen, dicapai pada tekanan 1,4 mbar, suhu 5000 C selama 5 jam kekerasannya meningkat 477% menjadi 1918 VHN dari kekerasan awal 402 VHN. Pahat HSS yang dilapisi deposisi lapisan tipis plasma/ion nitrogen mampu meningkatkan ketahanan aus sebesar 64%. Kata kunci : Plasma Nitriding, baja kecepatan tinggi, kekerasan, ketahanan aus
HUBUNGAN JENIS KEPITING BAKAU (SCYLLA SPP.) DENGAN MANGROVE DAN SUBSTRAT DI TAMBAK SILVOFISHERY ERETAN, INDRAMAYU (RELATIONSHIP OF MUDCRAB (SCYLLA SPP.) WITH MANGROVE AND SUBSTRATE IN SILVOFISHERY PONDS, ERETAN, INDRAMAYU) Sunarto, .; Sulistiono, .; Setyobudiandi, Isdradjad
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 6 No. 1 (2015): Marine Fisheries - Mei 2015
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (827.98 KB) | DOI: 10.29244/jmf.6.1.59-68

Abstract

ABSTRACTMudcrab is one of the fishery commodity with high economic value in Indonesia. High market and price stimulated the development of the mudcrabs business in this country. The aim of this research was to evaluate interaction between habitat characteristics and the mudcrabs (Scylla spp.) species. The research was conducted in silvofishery ponds of Eretan village, Indramayu, West Java from September-November 2013 and August-September 2014. Sampling was conducted at five stations. They were BDR (Brackishwater dominated Rhizophora sp.), BDA (Brackishwater dominated Avicennia sp.), BCDR (Brackishwater cannal dominated Rhizopora sp.), BCDA (Brackishwater cannal dominated Avicennia sp.) and SMF (Side of the mangrove forest). The result showed there were two species of the mudcrabs Scylla paramamosain and Scylla olivacea. S. paramamosain was dominated than S. olivacea at all stations. Total number of the S. paramamosain was 107 ind (consisted of 67 male and 40 female), while total number of the S. olivacea was 28 ind (consisted of 17 male and 11 female). Composition of the mudcrabs species in each station was 91% S. paramamosain and 9% S. olivacea at BDR, 89% S. paramamosain and 11% S. olivacea at BDA, 86% S. paramamosain and 14% S. olivacea at BCDR, 68% S. paramamosain and 32% S. olivacea at BCDA, 73% S. paramamosain and 27% S. olivacea at SMF. Differences between kinds of mudcrab in each stations showed there are interaction between kinds of mudcrabs with habitat characteristics.Keywords: Indramayu, mangrove, mudcrabs, substrate,-------ABSTRAKKepiting bakau (Scylla spp.) merupakan salah satu komoditas perikanan di Indonesia yang bernilai ekonomis tinggi. Luasnya pemasaran dan tingginya nilai jual kepiting bakau membuat bisnis tersebut semakin berkembang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan keberadaan jenis kepiting bakau dengan karakteristik habitatnya. Penelitian ini dilakukan dari Agustus-November 2013 dan Agustus-September 2014 pada kawasan tambak silvofishery Desa Eretan, Indramayu, Jawa Barat. Pengambilan sampel dilakukan pada lima stasiun pengamatan diantaranya TSDR (Tambak silvofishery dominan Rhizopora sp.), TSDA (Tambak silvofishery dominan Avicennia sp.), KDR (Kanal dominan Rhizopora sp.), KDA (Kanal dominan Avicennia sp.) dan PHM (Pinggiran hutan mangrove). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat dua jenis kepiting bakau yaitu Scylla paramamosain dan S. olivacea. Di lokasi penelitian jumlah Scylla paramamosain yang tertangkap sebanyak 107 individu yang terdiri dari 67 jantan dan 40 betina, sedangkan jumlah S. olivacea yang tertangkap sebanyak 28 individu yang terdiri atas 17 jantan dan 11 betina. Hasil penelitian menunjukkan pada umumnya jumlah S. paramamosain yang tertangkap melebihi S. olivacea. Persentase kepiting bakau yang tertangkap pada tiap stasiun pengamatan yaitu 91% S. paramamosain dan 9% S. olivacea pada TSDR, 89% S. paramamosain dan 11% S. olivacea pada TSDA, 86% S. paramamosain dan 14% S. olivacea pada KDR, 68% S. paramamosain dan 32% S. olivacea pada KDA, 73% S. paramamosain dan 27% S. olivacea pada PHM. Perbedaan jumlah jenis kepiting bakau yang diperoleh pada tiap stasiun penangkapan menunjukan bahwa terdapat hubungan antara jenis kepiting bakau dengan habitat hidupnya.Kata kunci: Indramayu, mangrove, kepiting bakau, substrat,
SIMULASI RANCANGAN DAN PELETAKAN BLOK KAPAL FERRY RO-RO 200 GT MENGGUNAKAN MODEL CAD 3D DI GALANGAN Wahyuddin, .; Sunarto, .; Irsyan, Andi Achmad
JURNAL RISET TEKNOLOGI KELAUTAN Vol 11, No 1 (2013)
Publisher : Ikatan Sarjana Teknik Perkapalan UNHAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan gambar tiga dimensi (3D) CAD sangat populer di berbagai industri terutama untukrancangan, produksi dan perakitan. Simulasi proses produksi menggunakan model 3D CADmenjadi inti dari sistem CIM (Computer Integrated Manufacturing) oleh karena dapat meningkatkanefisiensi dan keselamatan produksi setiap tahapan kerja atau kegiatan serta mampu mencapaioptimalisasi manufaktur. Penelitian ini, menggambarkan aplikasi model CAD tiga dimensi (3D)dalam mensimulasi rancangan blok Kapal Ferry Ro-Ro 200 GT terutama dalam merumuskan jumlah,berat maupun dimensi blok kapal serta melakukan simulasi peletakan/penataan susunan perakitanblok dengan mempertimbangkan area pembangunan dan kapasitas alat angkat galangan PT. DayaRadar Utama Jakarta. Hasil penelitian memperoleh jumlah blok kapal terdiri dari 9 blok, 42 subblok, 269 panel dan 4.091 komponen, dimensi blok terbesar adalah blok SSG45 yaitu panjang 13.191mm, lebar 9.000 mm dan tinggi 4.500 mm dan berat blok kapal yang terbesar adalah blok HS3dengan berat 30.114,959 kg. Area yang dibutuhkan berdasarkan dimensi blok rancangan adalahuntuk luas perakitan blok di area pembangunan sebesar 1.063,01 m², sedangkan luas yangdibutuhkan pada landasan pembangunan (building Berth) sebesar 1.650 m².
SCREENING OF PROBIOTIC BACTERIA FROM INTESTINE AND CULTURE ENVIRONMENT OF HOEVEN’S SLENDER CARP LEPTOBARBUS HOEVENI BLKR TO CONTROL PATHOGENIC BACTERIA Sunarto, .; Sukenda, .; Widanarni, .
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 2 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (455.755 KB) | DOI: 10.19027/jai.9.127-135

Abstract

The ability of probiotic bacteria to control disease infection has been used in aquaculture. This experiment was conducted to isolate and characterize probiotic bacteria; the competition test its ability probiotic bacteria against pathogenic bacteria; and to improve survival rate of Leptobarbus hoeveni. The bacteria were isolated from Leptobarbus hoeveni and its culture environment, and then tested to know its ability to inhibit bacterial fish pathogen in-vitro. Furthermore, the selected probiotic bacteria were tested in vivo to evaluate their ability to inhibit pathogen of Leptobarbus hoeveni.  The result showed that probiotic bacteria inhibit the growth of Streptococcus iniae, Flexibacter columnaris, Mycobacterium fortuitum and Aeromonas hydrophila in vitro.  Isolate DD3 was the best of candidate probiotic because of the ability to inhibit pathogen, especially A. hydrophila, the most virulent bacteria in Leptobarbus hoeveni.Key Words  : probiotic bacteria, Leptobarbus hoeveni, pathogenic bacteriaAbstrakKemampuan bakteri probiotik untuk mengendalikan penyakit infeksi telah digunakan dalam akuakultur. Tujuan penelitian ini adalah mengisolasi dan mengkarakterisasi bakteri probiotik, menguji kemampuan bakteri probiotik terhadap bakteri patogen, sehingga dapat meningkatkan tingkat kelangsungan hidup ikan jelawat. Bakteri diisolasi dari usus ikan jelawat dan lingkungan budaya, kemudian diuji kemampuannya menghambat bakteri patogen secara in-vitro. Selanjutnya bakteri probiotik yang dipilih diuji secara in vivo untuk mengevaluasi kemampuannya dalam menghambat patogen di dalam tubuh ikan jelawat. Dari hasil penelitian diperoleh bakteri probiotik yang diisolasi dari usus dan lingkungan budaya ikan jelawat menunjukkan penghambatan pertumbuhan terhadap Streptococcus iniae, Flexibacter columnaris, Mycobacterium fortuitum dan Aeromonas hydrophila secara in vitro. Isolat DD3 merupakan kandidat probiotik terbaik, karena mempunyai kemampuan untuk menghambat bakteri patogen,  khususnya bakteri  A. hydrophila adalah bakteri yang paling viluren bagi ikan jelawat.    Kata Kunci:   bakteri probiotik, ikan jalawat dan baktri patogen
GROWTH OF GRACILARIA UNDER DIFFERENT PLANTING DISTANCES IN POND Sunarto, .
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 2 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (43.878 KB) | DOI: 10.19027/jai.8.157-161

Abstract

The use of non-productive shrimp ponds for cultivation of Gracilaria is one of the strategies that can be performed to achieve production target of seaweed. This study was conducted to determine the influence of different planting distances on growth of Gracilaria cultivated in pond. Gracilaria was separately planted in distant of 20x20 cm; 25x25 cm; 30x30 cm and 35x35 cm in pond for 45 days cultivation.  Relative growth rate and thallus length increment were measured to obtain an optimal planting distance. The results of study showed that 25x25 cm planting distance resulted in a higher relative growth rate (137.8%) and increment of thallus length (15.3%) compared with other treatments.  Thus, cultivation of Gracilaria in an unproductive pond with 25x25 cm planting distance may improve production. Keywords : non-productive ponds, planting distance, Gracilaria   ABSTRAK Pemanfaatan tambak udang yang tidak produktif untuk budidaya Gracilaria merupakan salah satu strategi yang dapat dilakukan untuk mencapai target produksi rumpul laut. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh jarak tanam yang berbeda terhadap pertumbuhan Gracilaria di tambak.  Gracilaria ditanam terpisah dengan jarak 20x20 cm; 25x25 cm; 30x30 cm dan 35x35 cm di tambak selama 45 hari pemeliharaan.  Pertumbuhan relatif dan panjang thalus diukur untuk memperoleh jarak tanam yang optimal.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa jarak tanam 25x25 cm memberikan pertumbuhan relatif (137.8%) dan pertambahan panjang thalus (15.3%) tertinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Dengan demikian, budidaya Gracilaria di tambak tidak produktif dengan jarak tanam 25x25 xm diduga sangat membantu untuk mencapai target produksi rumput laut. Kata kunci : tambak non-produktif, jarak tanam, Gracilaria
Pengaruh Modifikasi Bola Takraw Terhadap Hasil Belajar Sepak Sila Siswa Kelas VIII SMP Sunarto, .; Triansyah, Andika; Yunitaningningrum, Wiwik
Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Vol 5, No 8 (2016): Agustus 2016
Publisher : Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh modifikasi bola takraw terhadap hasil belajar sepak sila siswa kelas VIII SMP Negeri 21 Pontianak. Metode penelitian yang digunakan adalah True-Experimental Design dengan desain Pretest-posttets Control Group Design. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 109 siswa, dengan teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah sistematis sampling dengan kelipatan 3 berjumlah 36 siswa yang di bagi menjadi kelas eksperimen dan kelas kontrol. Dari hasil hipotesis (Uji-t), kelas eksperimen diperoleh thitung sebesar 11,19 dengan tabel distribusi t pada taraf signifikan ( ) = 5% dengan ttabel sebesar 1,740. Artinya thitung 11,19 > ttabel1,740, maka Ha diterima. Sedangkan kelas kontrol thitung 5,45 > ttabel 1,740, maka Ha diterima. Artinya terdapat pengaruh modifikasi bola takraw terhadap hasil belajar sepak sila kelas VIII SMP Negeri 21 Pontianak. Perhitungan effect size dengan modifikasi bola takraw memberikan pengaruh sebesar 10,64% terhadap hasil belajar sepak sila siswa.   Kata kunci: modifikasi bola takraw, sepak sila, hasil belajar  Abstract: This study was aimed to determine the effect of modifications ball takraw on learning outcomes sila eighth grade students of SMP Negeri 21 Pontianak. The method used is True-Experimental Design with Design Pretest-Posttest Control Group Design. The population in this study amounted to 109 students, with a sampling technique used was the systematic sampling with a multiple of 3 of the 36 students were divided into experimental class and control class. From the results of the hypothesis (t-test), the experimental class obtained t at 11.19 with t distribution table at significant level (α) = 5% by ttabel 1,740. That is tamounted 11.19> ttabel 1,740, so Ha is received. While the control class tamounted 5.45> ttabel 1,740, so Ha is received. This means that there are significant modifications to the learning outcomes takraw ball football sila class VIII SMP Negeri 21 Pontianak. Result of calculation of effect size with modification takraw ball was 10.64% on student’s learning outcomes football.   Keywords : modification takraw ball , soccer sila , learning outcomes 
EFFECT OF DIFFERENT FATTY ACID SOURCES OF DIET ON GROWTH PERFORMANCE OF BOTIA BOTIA MACRACANTHUS BLEEKER Sunarto, .; Sabariah, .
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 2 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (116.182 KB) | DOI: 10.19027/jai.7.199-204

Abstract

Fish requires essential fatty acid for growth. Freshwater fish needs linoleat fatty acid (n-6) or combination of linoleat and a-linolenat acids (n-3).  Fish oil contains higher level of n-3, corn oil is rich of n-6, while coconut oil is rich of saturated fatty acids.  This study was conducted to determine the effect of fatty acid sources in diet on growth performance of botia Botia macracanthus. Sources of fatty acid examined were coconut oil (control), corn oil, fish oil, and corn oil + fish oil + coconut oil. The results of study show that daily growth rate of fish fed on diet containing mix of corn-coconut-fish oils (8.39%) and only corn oil (8.15%) was higher (p
ARTIFICIAL FEEDS GIVEN IN DIFFERENT DOSE TO THE GROWTH AND FEED CONSUMPTION OF SEMAH FISH SEED (TOR DOURONENSIS) IN ORDER TO DOMESTICATION Sunarto, .; Sabariah, .
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 1 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (151.379 KB) | DOI: 10.19027/jai.8.67-76

Abstract

Semah fish (Tor douronensis) is a kind of freshwater fish pertained as a wild fish that almost extint and rare, therefore, it is necessary to preserve through the culture activity. Meanwhile, in fish culture effort, feed is considers as an important factor.  Thus, feed must meet a proper quality and quantity due to the fish maintenance, growth, and reproduction requirement. Test feed employed in this research was an artificial feed in form of pellet which was consists of 40% protein by dose tested of 3%, 6%, 9% and 12% of biomass weight. The result indicated that daily growth rate was ranged between 1.44-1.99% by highest growth achieved at feed dose 6% and from the quadratic regression analysis achieved optimal dose by 6.18%.  Daily feed comsumption rate of semah fish seed was ranged between 2.69-10.19% per day.  Feed efficiency was ranged between 13.85-54.09%, and survival rate was 100%. Keywords: dose, growth, feed comsumption, semah fish, Tor douronensis   ABSTRAK Ikan semah (Tor douronensis) adalah jenis ikan air tawar yang tergolong jenis ikan liar yang hampir punah dan sudah langka, karena itu perlu upaya pelestariannya dengan usaha pembudidayaan. Dalam usaha budidaya ikan, pakan merupakan salah satu faktor penting. Oleh sebab itu pakan harus berkualitas dengan kuantitas yang tepat sesuai dengan kebutuhan ikan untuk pertumbuhannya, pemeliharaan tubuh dan reproduksi. Pakan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah pakan buatan berupa pelet yang mengandung  protein 40% dengan dosis pakan yang diuji 3%, 6%, 9% dan 12% dari bobot biomassa. Hasil menunjukkan laju pertumbuhan harian berkisar antara 1,99-1,44% dengan pertumbuhan tertinggi dicapai pada dosis pakan 6% dan dari analisis regresi kwadratik diperoleh dosis optimum sebesar 6,18%. Laju konsumsi harian benih ikan semah selama penelitian ini berkisar antara 2,69-10,19 %/hari. Efesiensi pakan berkisar antara 54,09-13,85%, dan tingkat kelangsungan hidup 100% Kata kunci: dosis, pertumbuhan, konsumsi pakan, ikan semah, Tor douronensis
EFFECT OF DIETARY VITAMIN C ASCORBIC ACID ON THE GROWTH PERFORMANCE AND IMMUNE RESPONSE OF BETOK ANABAS TESTUDINEUS BLOCH Sunarto, .; Suriansyah, .; Sabariah, .
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 2 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (138.469 KB) | DOI: 10.19027/jai.7.151-157

Abstract

Vitamin C has a function for increasing normal growth, preventing bone annomaly for seed health or reducing stress, accelerating wound recovery and improving immune system against bacterial infection. Enhancement of immune response using immunostimulant had been proven in aquaculture.  One of the immunostimulant that had been examined in several fish species was vitamin C. However, the immunostimulatory effect of vitamin C on betok remains to be proven.  This study was performed to know the effect of feeding fish by diets containing vitamin C in form of ascorbic acid on growth and immune response of betok in term of stress adaptation. Concentrations of vitamin C tested were 0 (control), 125 mg, 250 mg and 375 mg/kg diet. The results show that supplementation of vitamin C in diet can increase daily growth rate and feed efficiency of betok.  Daily growth rate of treated fishes (1.37-1.49%) were higher than that of control (1.14%).  Feeding efficiency was also higher in treated fishes (39.73-48.07%) compared to that of control (33.73%). There was no significantly difference in survival rate of treated fish (93.33-96.67%) and control (93.33%).  Survival rate of fish reared at 15oC as a stress test was also examined.  Results showed that survival rate of fish increases by increasing the level of vitamin C in diet. Number of fish died in stress test was 10 in control, 7 fish in 125 mg/kg, 5 fish in 250 mg/kg and 3 fish in 375 mg/kg.  Thus, inclusion of vitamin C in diet improved ability of fish to adapt to an extreme environment condition. Keywords: Vitamin C, ascorbic acid, growth, immune response, Anabas testudineus   ABSTRAK Vitamin C berfungsi untuk meningkatkan pertumbuhan normal, mencegah kelainan bentuk tulang untuk kesehatan benih atau mengurangi stress, mempercepat penyembuhan luka dan meningkatkan pertahanan atau kekebalan tubuh melawan infeksi bakteri. Peningkatan respon imun dengan  pemberian imunostimulan telah dibuktikan dalam akuakultur. Salah satu immunostimulan yang telah diuji pada beberapa spesies ikan adalah vitamin C. Namun demikian, pengaruh imunostimulatori vitamin C pada ikan betok belum diteliti.  Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efek pemberian pakan yang mengandung vitamin C dalam bentuk ascorbic acid terhadap pertumbuhan dan respons imun dalam arti daya tahan terhadap stres pada ikan betok. Dosis vitamin C adalah 0 (kontrol), 125 mg, 250 mg dan 375 mg/kg pakan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan vitamin C dalam pakan dapat meningkatkan laju pertumbuhan harian dan efisiensi pakan pada ikan betok.  Laju pertumbuhan harian pada ikan perlakuan (39.73-48.07%) lebih tinggi daripada ikan (33.73%). Kelangsungan hidup ikan tidak berbeda antara perlakuan (93.33-96.67%) dan kontrol (93.33%).  Kelangsungan hidup ikan yang dipelihara pada suhu 15oC sebagai uji stress as a stress juga diamati.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelangsungan hidup ikan meningkat dengan meningkatnya kadar C dalam pakan.  Jumlah ikan yang mati dalam uji stres adalah 10 pada kontrol, 7 pada perlakuan 125 mg/kg, 5 ekor pada perlakuan 250 mg/kg dan 3 ekor pada perlakuan 375 mg/kg.  Dengan demikian, penambahan vitamin C dalam pakan meningkatkan kemampuan ikan beradaptasi terhadap kondisi lingkungan esktrim. Kata kunci : Vitamin C, ascorbic acid, pertumbuhan, respons imun, Anabas testudineus
EFFECT OF DIFFERENT FEEDING DOSSAGE ON THE GROWTH OF CYPRINUS CARPIO AND MACRONES SP. BY CAGE-CUM-CAGE SYSTEM Tossin, M.R.; Sunarto, .; Sabariah, .
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 1 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.163 KB) | DOI: 10.19027/jai.7.59-64

Abstract

ABSTRACTFeed is an element which requires largest cost in fish culture.  Inefficient in feeding can reduce profit.  In additon, intensive fish culture system requires efficiently the use of area.  Generally, not all space in fish cage filled by fish, because of the nature of fish that lives in some particular space on water such as the surface, middle space or bottom.  Cyprinus carpio andMacrones sp. was reared with gillnet inside gillnet (cage-cum-cage) and fed commercial diet in dose of 3%, 6%, 9% and 12%. Result show that feeding dose of 6% was an efficien mean by relative growth rate.  Growth rate of Cyprinus carpio was about 150.47% and Macrones was 208.87%.  Feed efficiency was about 81.89%. Survival rate of Cyprinus carpio was about 91.67% and Macrones was 86.67%.  Thus, feeding dose of 6% is recommended for Cyprinus carpio andMacrones in cage-cum-cage culture system.Keywords:  growth, Cyprinus carpio,Macrones sp., feeding dose, cage-cum-cage ABSTRAKPakan merupakan komponen yang membutuhkan biaya terbesar dalam usaha budidaya. Penggunaan pakan yang tidak efisiensi dapat mengurangi  keuntungan usaha. Selain itu budidaya yang intensif juga menuntut penggunaan ruang gerak ikan yang efisien. Umumnya tidak semua kolom air dalam karamba terisi dengan ikan yang dibudidayakan, karena sifat ikan mendiami bagian tertentu dalam air seperti di permukaan, di pertengahan atau di dasar perairan.  Ikan mas dan ikan baung dipelihara dengan jaring di dalam jaring (cage-cum-cage) dan diberi pakan dengan dosis  3%; 6%; 9% dan 12%. Hasil menunjukan bahwa dosis pakan 6% merupakan dosis yang efisien dalam penggunaan pakan dengan laju pertumbuhan relatif ikan mas 150,47 % dan ikan baung 208,87%, efisiensi pakan 81,89% dan kelangsungan hidup ikan mas 91,67% dan ikan baung 86,67%.  Dosis pakan 6% direkomendasikan sebagai dosis  yang sesuai untuk ikan mas dan ikan baung pada sistem cage-cum-cage.Kata kunci : pertumbuhan, ikan mas, ikan baung, Cyprinus carpio, Macrones, dosis pakan, cage-cum-cage.