Bambang Hendro Sunarminto
Department of Soil Science, Faculty of Agriculture, Gadjah Mada University, Yogyakarta
Articles
32
Documents
DAYA MENGEMBANG DAN MENGERUT MONTMORILLONIT I: PENGARUH INTENSITAS CURAH-EMBUN TERHADAP PENGOLAHAN TANAH VERTISOL DI KECAMATAN TEPUS DAN PLAYEN, PEGUNUNGAN SERIBU WONOSARI - RISET LABORATORIUM Montmorillonite Shrink and Swell Capacity I: Influence of Rai

Jurnal Agritech Fakultas Teknologi Pertanian UGM Vol 28, No 01 (2008)
Publisher : Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The laboratory study of Montmorillonite clay type on Vertisols from Gunungkidul Regency was accomplished to know the response of some soil characteristics again moisture application by the simulation of rain fall and rain dew. Two naturally peds substances which have high COLE (coefficient of linear extensibility) value (> 0.06) were used with >30 cm diameter, as Ka peds from Karangasem (Tepus district) and as Gd peds from Gading (Playen district) villages. These soil samples were treated by two dosages of aquadest spraying 24 hours a day for 33 days as simulation of rain falls and 12 hours a day for 20 days as simulation of rain dews processes. The soil peds were filtered each 4 days, with size of: < 2 cm, 2 - 4 cm, 4 - 6.4 cm and > 6.4 cm. Results of study: 1. Karangasem soil has clay and organic matter content higher than Gading soil, so Karangasem soil has lower BD value at moist and dry condition than Gading soil.2. Clay, organic matter content and C/N ratio have higher value; it contributes in increasing micro pores and total soil porosity, it provokes the higher soil water holding capacity.  3. The COLE value and clay content of Karangasem soil (on coral materials) have higher than Gading soil (on marl materials), so Karangasem soil has very high shrink and swell capacity which causes the crushing peds more intensive than that on Gading soil. 4. The effect of intermittent rain dew is stronger than continuous rain fall as “crusher agents”, especially for Karangasem soil which has high COLE value; oppositely the continues rain fall crushes effectively for Gading soil with lower COLE value.ABSTRAKKajian laboratorium mineral Monmorillonit dari Vertisol Gunung kidul dilaksanakan agar meminimalkan pengaruh faktor lingkungan. Tujuan penelitian, untuk mengetahui tanggapan sifat Vertisol, terhadap kehadiran lengas. Bongkah Vertisol (utuh ukuran 30 cm) berasal dari dua tempat di Kab. Gunung kidul, yaitu: contoh Ka dari Karang asem (Kec. Tepus) dan contoh Gd dari Gading (Kec. Playen). Kedua bongkah tanah mempunyai sifat kembang kerut kuat, bernilai COLE (koefisien muai panjang) > 0,06. Bongkah Vertisol disemprot aquadest dengan 2 takaran (disemprot 24 jam se- lama 33 hari dan disemprot 12 jam malam hari saja selama 20 hari) untuk menirukan lengas curah hujan awal musim hujan maupun curah embun pada malam hari. Pengayakan dilakukan setiap 4 hari sekali dengan ukuran: < 2 cm, 2-4 cm, 4-6,4 cm dan > 6,4 cm. Hasil penelitian: (1) Tanah Karang Asem mempunyai kadar lempung dan kadar bahan or- ganik lebih tinggi dari tanah Gading, sehingga bernilai BV rendah. (2) Nilai kadar lempung, bahan organik dan nisbah C/N yang tinggi pada tanah Karang asem meningkatkan jumlah pori mikro tanah serta porositas total tanah. (3) Nilai COLE dan kadar lempung bongkah tanah Karang Asem (dari terumbu koral) lebih tinggi dari bongkah tanah Gading (dari napal), sehingga mempunyai daya kembang kerut tinggi yang menyebabkan penghalusan bongkah tanah Karang asem lebih intensif. (4) Curah embun berselang lebih berperan dari pada curah hujan yang berturut-turut terhadap penghalusan bongkah tanah terutama pada tanah Karang Asem, yang mempunyai nilai COLE tinggi.

ANALISIS NERACA AIR UNTUK PENGEMBANGAN TANAMAN PANGAN PADA KONDISI IKLIM YANG BERBEDA Water Balance Analysis for the Development of Food Crops in a Different Climate Conditions

Jurnal Agritech Fakultas Teknologi Pertanian UGM Vol 31, No 02 (2011)
Publisher : Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In order to develop food crops in upland in the tropics area, the potential water resources, such as the availability of soil moisture and surface water can be used as a source of water supply especially during the deficit. Therefore, to develop a sustainable food crop,  the water balance analysis is absolutely necessary. The data used were series of climate data (temperature, precipitation, evaporation) for 37-year period (1971-2007) at Japura station, Rengat, Riau, heat index data and soil data (soil moisture at field capacity and permanent wilting point) and the effective rooting depth. Exceeded rainfall probabilities and water balance were analyzed using statistical methods. The results showed that soil moisture conditions were always above the limit of water availability for crops although the water balance was deficit for normal, wet and dry conditions. This shows that food crops can be planted all for the whole year in the research area.ABSTRAKDalam rangka pengembangan tanaman pangan di lahan tadah hujan/kering di daerah tropik basah, potensi sumberdaya air, baik berupa ketersediaan lengas tanah maupun air permukaan dapat dijadikan sebagai sumber pasokan air terutama pada saat defisit. Oleh sebab itu untuk pengembangan tanaman pangan yang berkelanjutan, maka analisis neraca air mutlak diperlukan. Data yang digunakan berupa data seri iklim (temperatur udara, curah hujan, evaporasi) periode 37 tahun (1971­2007) stasiun Japura, Rengat, Riau, data indeks panas serta data tanah (lengas tanah pada saat kapasitas lapang dan titik layu permanen) serta  kedalaman perakaran efektif. Peluang curah hujan terlampaui dan neraca air dianalisis meng­ gunakan metode statistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keadaan lengas tanah selalu pada batas air tersedia bagi tanaman meskipun neraca air mengalami defisit baik pada kondisi normal, kering maupun basah. Hal ini menunjukkan bahwa di wilayah penelitian dapat dilakukan penanaman tanaman pangan sepanjang tahun.

An Evaluation of Suitable Landscape to Crop Food Cultivation By Using Neural Networks

IJCCS - Indonesian Journal of Computing and Cybernetics Systems Vol 1, No 1 (2006): IJCCS
Publisher : Indonesian Computer, Electronics, and Instrumentation Support Society (IndoCEISS)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penentuan jenis tanaman pangan yang sesuai ditanam pada lahan tertentu berdasarkan nilai-nilai karakteristik lahan sangat diperlukan sebagai pendukung pengambilan keputusan, koordinasi, dan pengendalian bagi para peneliti, praktisi, dan perencana penggunaan lahan, sehingga kerugian (finansial) yang cukup besar tidak terjadi nantinya. Program komputer dengan menggunakan Jaringan Syaraf Tiruan (JST) metode Learning Vector Quantization (LVQ) dapat digunakan sebagai alat yang tepat dalam memberikan informasi tanaman yang cocok ditanam dengan mudah, cepat, dan akurat. Data pelatihan didapat dari kombinasi nilai karakteristik lahan yang termasuk dalam kelas kesesuaian S1 dan S2. Hasil pengujian menunjukkan bahwa nilai Eps (error minimum yang diharapkan) = 0.005, nilai ?? ?? = 0.05, nilai maksimum epoh = 10, dan nilai pengurangan learning rate sebesar 0.1*?? ?? merupakan nilai-nilai yang cukup efektif dan efisien dalam melakukan prediksi jenis tanaman pangan yang sesuai ditanam pada lahan tertentu karena tingkat ketepatan prediksinya adalah 100%.

PERAN EDU-TAINMENT DALAM MEMBANGUN KOMITMEN DAN PERAN NYATA PADA GERAKAN JIHAD KEDAULATAN PANGAN

Pertanian Tropik Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Pasca Sarjana FP USU

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Paradigma baru pertanian terpadu harus memberdayakan segenap multi-fungsi pertanian terpadu sebagai pemasok utama sandang, pangan, dan papan bagi kehidupan seluruh makluk hidup; juga sebagai gatra lingkungan hidup yang berkelanjutan, penyedia keindahan lingkungan (wisata-agro), penghasil bio-farmaka dan penghasil bio-energi.Gerakan “Jihad Kedaulatan Pangan” (JKP) dalam menumbuh kembangkan kecintaan dalam memproduksi sendiri dan menggunakan produk pangan unggulan lokal secara sungguh-sungguh, tanpa bergantung pada pangan impor lagi. Gerakan ini harus didukung secara sinergi, utuh, terpadu dann yata oleh seluruh pemangku kepentingan agar membentuk jaringan antar ABCG (Academic / akademisi, Business / pedagang swasta, Community / masyarakat, Government / pemerintah) yang erat dan nyata. Kedaulatan Pangan dapat digapai dengan mengaplikasikan konsep Pertanian Terpadu melalui strategi 5A (Agro-produksi, Agri-bisnis, Agro-industry, Agro-teknologi, Agro-wisata) yang memberdayakan seluruh potensi sumber daya alam, air, hayati, lingkungan, SDM dan manajemen secara menyeluruh, terpadu, utuh dan saling sinergis.Konsep ini harus terpadu dari hulu ke hilir untuk masing-masing komoditas unggulan utama sehingga mempunyai nilai tambah di bidang ekonomi, pelestarian lingkungan, sosial dan budaya secara sinergis.Indonesia mempunyai kemampuan, kemauan dan kesempatan untuk mencapai Kedaulatan Pangan, namun komitmen politik dan ekonomi harus dirorong lagi. Dengan perbaikan peraturan, kepemimpinan, pelaksanaan, SDM, teknologi, sinergisme, dan manajemen di seluruh lini 5A ini, maka diharapkan dapat memperbaiki kelemahan utama komoditas pertanian agar mampu memenuhi standart 3K (kuantitas, kualitas dan kontinyuitas) serta bersertifikat halalal thoyiban.Peran pers dan edu-tainment sangat penting untuk meningkatkan image building, kepercayaan, komitmen dan peran nyata seluruh stake holder untuk mendukung program unggulan mendukung Jihad Kedaulatan Pangan.

Tanggap Fisiologi dan Hasil Bawang Merah (Allium cepa L. Kelompok Aggregatum) terhadap Lengas Tanah dan Ketinggian Tempat Berbeda

Biota Biota Volume 18 Nomor 1 Tahun 2013
Publisher : PBI Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Percobaan di rumah kaca telah dilaksanakan di provinsi DIY pada bulan Maret-Juni 2009. Percobaan bertujuan mengkaji tanggap fisiologis dan hasil bawang merah terhadap kondisi lengas tanah berbeda pada ketinggian tempat berbeda. Penelitian disusun berdasarkan percobaan lokasi dalam Rancangan Petak Petak Terbagi (Split Split Plot Design) diulang tiga kali. Petak utama adalah lokasi dengan ketinggian tempat berbeda di atas permukaan laut (dpl.) terdiri atas: (1) 100 m dpl., (2) 400 m dpl., dan (3) 800 m dpl.; Sub-plot adalah varietas bawang merah terdiri atas: (1) ‘Palu’, (2) ‘Palasa’, dan (3) ‘Sumenep’. Sub-sub-plot adalah lengas tanah dalam persentase kapasitas lapangan (% KL) terdiri atas: (1) 50% KL, (2) 100% KL, dan (3) 150% KL (kondisi jenuh). Lokasi dengan ketinggian tempat berbeda memberikan tanggap fisiologi dan hasil bawang merah yang berbeda. Varietas Palu memiliki aktivitas fotosintesis lebih besar pada semua kondisi lingkungan berbeda dan lebih tahan terhadap cekaman kekurangan dan kelebihan lengas tanah terutama di dataran rendah. Lengas tanah 100% KL menghasilkan aktivitas fisiologi dan hasil umbi kering panen lebih tinggi, sebaliknya lengas tanah 50% KL dan 150% KL menurunkan pertumbuhan dan hasil bawang merah varietas Palasa, Palu dan Sumenep pada semua ketinggian tempat.Kata kunci: bawang merah, ketinggian tempat, lengas tanah, fisiologi

KAJIAN PEMETAAN LAHAN PERTANIAN PANGAN BERKELANJUTAN (LP2B) DI KABUPATEN PURWOREJO

Sains Tanah - Jurnal Ilmu Tanah dan Agroklimatologi Vol 10, No 1 (2013)
Publisher : Faculty of Agriculture, Sebelas Maret University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Implementasi Undang-Undang 41 Tahun 2009 tentang lahan pertanian pangan berkelanjutan masih perlu untuk ditingkatkan. Kabupaten Purworejo memiliki luas total 103.481,75 ha yang tediri dari sawah,lahan kering dan kebun campur. Peningkatan pembangunan yang cukup tinggi menyebabkan Kabupaten Purworejo rawan terjadi alih fungsi lahan terutama lahan pertanian ke non pertanian. Penentuan lahan pertanian pangan berkelanjutan diharapkan dapat mengendalikan laju alih fungsi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan parameter untuk memetakan LP2B dan LCP2B, menentukan dasar perhitungan untuk menilai antar parameter LP2B dan LCP2B, menentukan kriteria pengelompokan karakteristik lahan pertanian pangan sebagai LP2B dan LCP2B dan memetakan lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B) Kabupaten Purworejo. Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi data spasial dan data tabulasi Data spasial terdiri dari Peta Present landuse hasil interpretasi citra satelit resolusi tinggi kabupaten purworejo skala 1:25.000, peta topografi, peta kesesuaian lahan, peta batas administrasi kecamatan, dan peta lahan baku sawah. Data tabulasi terdiri dari kebutuhan dan ketersediaan pangan, neraca bahan pangan, alih fungsi lahan sawah, laju pertumbuhan penduduk, dan kebutuhan luas lahan. Hasil penelitian diketahui bahwa jumlah penduduk, produksi lahan sawah, luas tanam, luas panen, laju alih fungsi dan neraca bahan makanan dapat digunakan sebagai parameter untuk menentukan LP2B sedangkan kriteria pengelompokan lahan didasarkan pada sistem irigasi dan produkstivitas lebih dari 5,5 ton/ha dengan IP lebih dari 1,75. Berdasarkan hasil analisis kabupaten Purworejo memiliki total luas kawasan pertanian pangan seluas 38.562 ha yang terdiri dari 27.850,18 ha lahan basah dan 10.712 ha lahan kering. Dari luas tersebut yang menjadi LP2B basah seluas 25.826 ha dan LP2B kering 5.243 ha. Lahan cadangan pertanian pangan berkelanjutan basah (LCP2B basah) 2.024 ha dan cadangan pertanian pangan berkelanjutan kering (LCP2B kering) 5.469 ha.

Effect of Acetic Acid as Pre-Emergence Herbicide on Maize Germination

Jurnal Penelitian Pertanian Terapan Vol 15, No 1 (2015)
Publisher : Politeknik Negeri Lampung.

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Profitable crop production starts with a weed control program that includes pre-emergence herbicides to deliver long-lasting, residual weed control. Pre-emergence herbicides are applied to prevent the germination of weed seeds. The study was conducted to determine the effect of acetic acid as a pre-emergence herbicide on maize germination. Pots experiment was conducted on August until September 2012. The experimental design used was Completely Randomized Design (CRD) single factor in four replicates. The application of pre-emergence acetic acid at several concentration, i.e. control (no acetic acid) 0%, 10% acetic acid and 20% acetic acid. The result showed that the pre-emergence aplication at 10% and 20% of the glacial acetic acid solution lowered pH were 5,12 and 5,43 respectively at one week after application, so that inhibited maize germination. No shoots and roots were grew. This was due to the increase of electrical conductivity (EC) or electrolyte leakage caused by the high permeability of the damaged membrane of seed. The EC of control treatment was 11μS/cm g, compared to 10 and 20% treatment of acetic acid were 36 μS / cm g and 55 μS / cm g EC respectively. Increasing concentration of acetic acid caused the higher of protein content leaked, i.e. 7,95%, 7,32% and 7,03% respectively for without acetic acid treatment, 10% and 20% acetic acid. Acetic acid also inhibited respiration rate of maize seed, where the higher concentration of acetic acid produced the lower respiration rate, i.e. 31.63 mg/g/hour, 12.38 mg/g/hour and 2,75 mg/g/hour respectively for without acetic acid treatment, 10% and 20% acetic acid. Keywords : Acetic Acid, Maize (Zea mays L.), Germination, Pre-Emergence Herbicide

PENGARUH INOKULASI JAMUR MIKORIZA ARBUSKULA TERHADAP GLOMALIN, PERTUMBUHAN DAN HASIL PADI

Sains Tanah - Jurnal Ilmu Tanah dan Agroklimatologi Vol 11, No 1 (2014)
Publisher : Faculty of Agriculture, Sebelas Maret University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian pot ini bertujuan untuk mengukur kandungan glomalin,  pertumbuhan dan hasil tanaman padi dari inokulalsi mikoriza. Penelitian disusun dengan Rancangan Acak Lengkap dari empat perlakuan yaitu dua taraf sterilisasi (TO, tanpa sterilisasi dan TS, + sterilisasi) dan dua taraf inokulasi mikoriza (M1, - mikoriza dan M1+ mkorisa) dengan enam kali ulangan. Mikoriza sebanyak 5 g/pot diberikan sebelum penamanan benih padi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Glomalin Total (GT) dan Glomalin mudah diekstrak (GEE) lebih tinggi pada inokulasi mikoriza, masing-masing meningkat 16 % dan 20% pada tanah tidak steril (TOM1) dan  25 % dan 11 %  pada tanah steril(TSM1) dibandingkan tanpa mikoriza. Kandungan GT berkisar dari 4,95 – 9,74 mg/ g tanah dan GEE 0,99 – 2,78 mg/g tanah. Inokulasi mikoriza meningkatkan C organik tanah, sebesar 13,47 %  pada tanah tak steril dan 12,93 % pada tanah steril. Tinggi tanaman, jumlah anakan dan berat gabah kering giling (GKG) nyata dipengaruhi inokulasi mikoriza. GKG pada tanah steril+ mikoriza paling tinggi (20,68 g/pot) namun tidak berbeda nyata dengan  tanah tak steril + mikoriza. Sterilisasi tanah nyata tidak mempengaruhi produksi glomalin, pertumbuhan dan hasil tanaman padi.

DETEKSI DAN PENGHITUNGAN KERAPATAN INOKULUM Phytophthora capsici DALAM TANAH DENGAN MENGGUNAKAN UMPAN DAUN LADA

Jurnal Agroteknos Vol 4, No 3 (2014)
Publisher : Jurnal Agroteknos

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Phytophthora capsiciis a causal agent for footrot disease in pepper and classified as a soil-borne pathogen. The inoculums of P. capsici in the soilis difficultto detect. The dynamics of P. capsici population in the soil is frequently and rapidly fluctuates and hard to detect, causing the pathogen to produce disease rapidly. The aimsof this research were todetect the pathogen P.capsici using black pepper leaf baiting and to quantify the inoculum of the pathogen P.capsici in the soil belonging to several disease intensities of the black pepper foot rot in the field. The first experiment: detecting the pathogen P. capsici using black pepper leaf baiting in the soil artificially infested using several sporangia, anda second experiment: quantification of propagul of the P.capsici in various categories of intensity on the black pepper foot rot disease in the field. The research results showed that the black pepper leaf baiting could be used to detect the existence of the propagul of P.capsiciin the soil artificially infested in various densities of sporangia.  The increase in disease intensity occurred in parallel with the greater density of P. capsici inocula in soil. The density of P. capsici inocula in the soil tended to decline when the disease intensity reached the highest level.

PERTUMBUHAN DAN HASIL DUA KULTIVAR PADI DAN BERBAGAI JARAK TANAM PADA SISTEM PENGAIRAN GENANGAN DALAM PARIT

AGROLAND Vol 18, No 3 (2011)
Publisher : AGROLAND

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The experiment was conducted on the Technical Irrigated Rice Field in D.I. Yogyakarta with soil type is Regosol. The study took place in July to December 2010. The research aim was to obtain agronomic characters and optimal planting distance that could increase the productivity of land with furrow irrigation system (FIS). The research used a factorial design (2 x 4+2) with 3 replications. Factor 1 was cultivars (K): K1 (Cimelati) and K2 (Sarinah). Factor 2 was planting distances (J): J1 (20 x 20 cm), J2(20 x 15 : 40 cm; legowo 2:1), J3(20 x 12,5 : 40 cm; legowo 2:1), and J4(20 x 12,5 : 45 cm; legowo 2:1). Controls were Cimelati and Sarinah cultivars grown in wetland rice field. The experimental results showed that the ability of plants to form seedlings in FIS was better than in the rice fields. The ability of plants to form seedlings in FIS at different planting distances was similar. Net assimilation rate (NAR) and relative growth rate (RGR) in the wetland system was better than FIS, but the leaf area index (LAI) and crop growth rate (CGR) was better in FIS. The NAR, RGR, and CGR in both systems were similar. Larger panicle and grain panicle number, 1000 grain weight and percentage of filled grain rice were found in FIS than in the rice field. The growth of rice in FIS was not affected by differences in both cultivars and planting distance. Dry harvested grain weight in FIS was lower than in the rice field. Dry harvested grain weight of Cimelati cultivar (8.04 t/ha) in FIS with planting distance of 20 x 12,5 : 40 cm (legowo 2:1) was comparable with that in the rice field (8.05 t/ha).