Iwin Sumarman
Departemen Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung

Published : 6 Documents
Articles

Found 6 Documents
Search

Clinical efficacy and tolerability of mometasone furoate nasal spray in perennial allergic rhinitis patients : an open multicentre study Darmansjah, Iwan; Setiawati, Arini; Sumarman, Iwin; Mulyarjo, Mulyarjo; Kasakeyan, Elise; Aroeman, Nur A.; Soemantri, Roestiniadi D.; Irawati, Nina; Rahim, Tety H.
Medical Journal of Indonesia Vol 11, No 2 (2002): April-June
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13181/mji.v11i2.55

Abstract

Mometasone furoate (MF) aqueous nasal spray has been shown to be effective and well-tolerated in the treatment of perennial allergic rhinitis (PAR). All of the sudies, however, have been conducted in Canada, UK, and Europe. Therefore, a bridging study is warranted in view of the different climatic conditions in tropical countries. To evaluate the clinical efficacy and tolerability of MF aqueous nasal spray in the treatment of PAR in a tropical country. This study was an open, non comparative, 4-week 3-centre trial in outpatients of 12 to 60 years with moderate to severe PAR of at least 2 years duration. Patients were allergic to at least one major PAR allergen, confirmed by skin prick test. They had total nasal symptom score (TNSS) of ≥ 6 and nasal congestion score (NCS) of ≥ 2 on ≥ 3 diary time points prior to baseline visit and at both screening and baseline visits. Eligible patients received MF aqueous nasal spray at baseline visit, and administered 200 µg mometasone every morning for 4 weeks. The primary clinical efficacy parameter was the mean percentage reduction of TNSS from baseline. Of 100 eligible patients, all completed this 4-week trial. The patient-evaluated TNSS (sum of the Last 3 mornings) decreased signiftcantly from baseline with a mean reduction of 60.9 % (p < 0.0001,) at week-2 and 73.6 % (p < 0.0001) at week-4. The mean reductions in physician-rated TNSS (61.7 % at week-2 and 77.8 % at week-4) were higher than those in the previous studies (43 % and 51 % at week-2, 52 % and 54 % at week-4). Similar trends were observed for nasal congestion score (NCS), other individual symptoms, total symptoms, and clinical efficacy rates. Evening symptoms were reduced similarly as morning symptoms There was no withdrawal due to adverse event. MF aqueous nasal spray, at a dose of 200 µg once daily in the morning for the treatment of moderate to severe PAR in a tropical country, was clinically effective with 24-hour control of PAR symptoms, and was well tolerated. (Med J Indones 2002; 11: 69-80)Keywords : mometasone furoate, nasal spray, perennial allergic rhinitis.
Hubungan Kadar IL-8 Sekret Mukosa Hidung pada Rinosinusitis Kronik tanpa Polip-Nonalergi dengan Fungsi Penghidu Setelah Pemberian Antibiotik Makrolid Candra, Edo Wira; Sumarman, Iwin; Ratunanda, Sinta Sari; Madiadipoera, Teti
Majalah Kedokteran Bandung Vol 46, No 1 (2014)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rinosinusitis kronik (RSK) merupakan inflamasi kronik dengan etiologi multifaktorial. Interleukin-8 (IL-8) adalah sitokin proinflamasi yang dominan pada RSK tanpa polip-nonalergi. Penurunan fungsi penghidu merupakan suatu gejala yang sering dikeluhkan. Klaritromisin merupakan antibiotik makrolid yang efektif karena memiliki efek antibakteri dan antiinflamasi. Tujuan penelitian untuk mengetahui perbaikan gejala klinis, fungsi penghidu dan kadar IL-8 sekret mukosa hidung, serta mencari korelasi IL-8 dengan fungsi penghidu pada RSK tanpa polip-nonalergi.Penelitian ini merupakan randomized clinical trial open labeled pre and posttest design. Data dianalisis memakai Uji Wilcoxon, Mann Whitney, dan korelasi Rank Spearman. Penelitian berlangsung di poliklinik Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin pada 26 subjek yang dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama diberikan klaritromisin dan kelompok kedua diberikan amoksisilin-klavulanat. Diagnosis berdasarkan penilaian skor gejala dengan visual analogue scale (VAS), nasoendoskopi, fungsi penghidu dengan sniffin sticks test, dan dilakukan pengukuran kadar IL-8 sekret mukosa hidung dengan metode enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). Didapatkan perbaikan VAS, nasoendoskopi, fungsi penghidu, dan kadar IL-8 yang signifikan (p=0,001) pada kedua kelompok pascaterapi, dan penurunan skor VAS total yang signifikan pada kelompok klaritromisin (p=0,036). Terdapat korelasi signifikan penurunan kadar IL-8 dengan peningkatan fungsi penghidu (p=0,05) dan dengan gejala hidung tersumbat (p=0,022) hanya pada kelompok klaritromisin. Simpulan, pemberian klaritromisin efektif menurunkan gejala klinis terutama hidung tersumbat, meningkatkan fungsi penghidu, dan menurunkan kadar IL-8 sekret mukosa hidung pada RSK tanpa polip nonalergi. [MKB. 2014;46(1):6–14]Kata kunci: Interleukin-8, klaritromisin, rinosinusitis kronik tanpa polip nonalergi, sniffin sticks testCorrelation between IL-8 level of Nasal Secretion in Non Allergic-Chronic Rhinosunusitis without Nasal Polyp and Olfactory Function After Macrolide Treatment Chronic rhinosinusitis (CRS) is a chronic inflammatory disease caused by multifactorial etiology. Interleukin-8 (IL-8) plays an important role as a major proinflammatory cytokine in non-allergic chronic rhinosinusitis without polyp. The common symptom is olfactory function disturbance. Claritrhomycin as a macrolide antibiotics is effective for CRS because of their antibacterial and antiinflamatory activities. The purpose of this study was to observe improvement of clinical symptom depending on the visual analogue scale (VAS) score, olfactory function, IL-8 level of nasal secretion, and correlation between IL-8 with olfactory function in non-allergic CRS without nasal polyp. This was a randomized controlled trial open labeled pre- and post-test design. Data analysis used Wilcoxon, Mann Whitney, and rank Spearman correlation test. This study was conducted at the Otorhinolaryngology-Head and Neck Surgery Division of Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung. There were 26 subjects divided in two groups, the first group was given clarithromycin and the second group was given amoxicillin-clavulanate. The two groups underwent visual analogue scale (VAS) assessment, nasoendoscopy, sniffing sticks test and nasal secretion of IL-8 by enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). The two groups had a significant improvement VAS score after therapy (p=0.001) and clarithromycin group showed a statistically significant (p=0.036) effect on decreasing the total VAS score compared to the amoxcicillin-clavulanate group. There was significant correlations between decreasing IL-8 level, increasing olfactory function (p=0.05), and nasal obstruction symptom in VAS (p=0.022) was showed only in clarithromycin group. In conclusion, clarithromycin is effective in reducing clinical symptoms, especially in nasal obstruction, increasing olfactory function and decreasing IL-8 of nasal mucous secretion in non-allergic chronic rhinosinusitis without polyp. [MKB. 2014;46(1):6–14]Key words: Clarithromycin, interleukin-8, non allergic-chronic rhinosinusitis without polyp, sniffin sticks test DOI: 10.15395/mkb.v46n1.221
Imunogenisitas dan Keamanan vaksin Tetanus Difteri (Td) pada Remaja sebagai salah satu upaya mencegah Reemerging Disease di Indonesia Fadlyana, Eddy; Rusmil, Kusnandi; Garna, Herry; Sumarman, Iwin; Adi, Soenarjati Soedigo; Bachtiar, Novilia Sjafri
Sari Pediatri Vol 15, No 3 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp15.3.2013.141-9

Abstract

Latar belakang. Di Indonesia berpotensi terjadi reemerging disease difteri akibat belum ada program imunisasi ulang yang berkesinambungan pada remaja.Tujuan. Menilai imunogenisitas dan keamanan vaksin tetanus difteri (Td) yang diberikan sebagai imunisasi ulang pada remaja.Metode. Uji klinis randomized double-blind controlled dilakukan terhadap 296 pelajar remaja sehat di kota Bandung, usia 10–18 tahun, pada September 2007–September 2008. Didapatkan 296 remaja sebagai subjek penelitian, dibagi dalam 2 kelompok secara acak sederhana. Kelompok I mendapat vaksin Td 0,5 mL intramuskular. Kelompok II mendapat vaksin TT sebagai kontrol. Pemeriksaan kadar antibodi anti difteri dan anti tetanus dilakukan sebelum dan 1 bulan setelah imunisasi menggunakan teknik enzyme-linked immunosorbent assays (ELISAs). Data keamanan dikumpulkan sampai 1 bulan pasca imunisasi menggunakan buku harianHasil. Konsentrasi antibodi seroproteksi (>0,1 IU/mL) terhadap difteri dan tetanus mencapai 93,2% dan 100,0%. The geometric mean titer (GMT) terhadap difteri meningkat dari 0,0618 IU/mL menjadi 0,7583 IU/mL (p<0,001), dan terhadap tetanus meningkat dari 0,4413 IU/mL ke 14,4054 IU/mL (p<0,001). Nyeri pada tempat suntikan terjadi pada 20,3% kelompok Td dan 18,2% pada TT (p=0,028). Demam >37,5°C hanya terjadi pada sedikit subjek dari kedua kelompok (rentang Td: 0,7-4,7%; rentang TT: 3,4–6,7%). Tidak terdapat reaksi kejadian ikutan pasca imunisasi serius dan dapat ditoleransi dengan baik.Kesimpulan. Imunisasi ulang Td meningkatkan kadar antibodi protektif terhadap difteri dan tetanus, serta aman diberikan pada remaja.
Efektivitas Ekstrak Kulit Manggis Sebagai Terapi Adjuvan Terhadap Perbaikan Gejala dan Tanda Klinis serta Kualitas Hidup Pasien Rinitis Alergi Kadarullah, Oke; Lasminingrum, Lina; Sumarman, Iwin
Jurnal Berkala Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan Vol 1, No 4 (2017): MAGNA MEDICA
Publisher : Jurnal Berkala Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Rinitis alergi (RA) merupakan penyakit inflamasi di mukosa hidung yang diperantarai IgE setelah paparan alergen. Polusi dapat memperberat inflamasi alergi. Terapi RA ditujukan untuk memperbaiki gejala, mencegah perburukan, dan meningkatkan kualitas hidup. Ekstrak kulit manggis merupakan herbal yang lazim digunakan sebagai terapi adjuvan/tambahan dengan efek antiinflamasi dan antioksidan. Kapasitas antioksidannya lebih tinggi dibandingkan buah lain. Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai perbaikan gejala klinis, tanda klinis, serta kualitas hidup pada RA menetap sedang berat.Metode: Penelitian ini merupakan quasi experimental randomized trial open label pre and post test design.Penelitian berlangsung di poliklinik Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung bulan September −November 2013. Kelompok kontrol mendapat terapi standar berupa tablet loratadin dan kortikosteroid intranasal, sedangkan kelompok perlakuan diberi tambahan kapsul ekstrak kulit manggis selama 14 hari. Diagnosis berdasarkan anamnesis , pemeriksaan fisik dan tes kulit tusuk. Lalu dinilai skor gejala hidung semikuantitatif Weeke, Davis dan Okuda (TNSS), skor nasoendoskopi adaptasi Lund Kennedy, serta skor gangguan kualitas hidup RQLQ dari Juniper. Data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon dan Mann Whitney.Hasil: Dari 34 subjek terbagi dalam dua kelompok, perbaikan skor TNSS, skor nasoendoskopi, dan skor RQLQ didapatkan hasil yang signifikan (p<0,05) pada tiap kelompok pascaterapi. Namun perbandinganseluruh variabel pemeriksaan pasca terapi antara kedua kelompok tidak siginifikan (p>0,05).Simpulan: Pemberian kapsul ekstrak kulit manggis sebagai terapi adjuvan tidak efektif pada pasien RA menetap derajat sedang berat dalam meningkatkan efektivitas terapi standar.Kata kunci: ekstrak kulit manggis, klinis, terapi adjuvan, rinitis alergi.
Makrolid menurunkan IL-8 sekret hidung dan meningkatkan fungsi penghidu pada rinosinusitis kronik tanpa polip Candra, Edo Wira; Madiadipoera, Teti; Sumarman, Iwin; Ratunanda, Sinta Sari
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 43, No 1 (2013): Volume 43, No. 1 January - June 2013
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (163.084 KB) | DOI: 10.32637/orli.v43i1.18

Abstract

Latar belakang: Rinosinusitis kronik (RSK) merupakan inflamasi kronik dengan etiologi multifaktorial.Interleukin-8 (IL-8) adalah sitokin proinflamasi yang dominan pada RSK tanpa polip. Penurunan fungsi penghidumerupakan suatu gejala yang sering dikeluhkan pada RSK. Klaritromisin merupakan antibiotik makrolid yang efektifkarena memiliki efek antibakteri dan antiinflamasi. Tujuan: Untuk mengetahui perbaikan gejala klinis, fungsipenghidu dan kadar IL-8 sekret mukosa hidung, serta mencari korelasi antara IL-8 dengan fungsi penghidu pada RSKtanpa polip. Metode: Penelitian ini merupakan randomized clinical trial open labeled pre and posttest design. Datadianalisis dengan menggunakan uji Wilcoxon, Mann Whitney, dan korelasi Rank Spearman. Penelitian berlangsung dipoliklinik Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin pada 26subjek yang dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama diberikan klaritromisin dan kelompok kedua diberikanamoksisilin/klavulanat. Diagnosis berdasarkan penilaian skor gejala dengan visual analogue scale (VAS),nasoendoskopi, fungsi penghidu dengan sniffin sticks test, dan dilakukan pengukuran kadar IL-8 sekret mukosa hidungdengan metode enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). Hasil: Didapatkan perbaikan VAS, fungsi penghidu,dan kadar IL-8 yang signifikan (p=0,001) pada kedua kelompok pascaterapi, dan penurunan skor VAS total yangsignifikan pada kelompok klaritromisin (p=0,036). Terdapat korelasi signifikan antara penurunan IL-8 denganpeningkatan fungsi penghidu (p=0,05) dan dengan gejala hidung tersumbat (p=0,022) hanya pada kelompokklaritromisin. Kesimpulan: Pemberian klaritromisin efektif menurunkan gejala klinis terutama hidung tersumbat,menurunkan kadar IL-8 sekret hidung, dan meningkatkan fungsi penghidu pada RSK tanpa polip.Kata kunci: Interleukin-8, klaritromisin, rinosinusitis kronik tanpa polip, sniffin sticks test.ABSTRACTBackground: Chronic rhinosinusitis (CRS) is a chronic inflammatory disease with multifactorial etiology.Interleukin-8 (IL-8) plays an important role as a major proinflammatory cytokine in CRS without nasal polyp.The common symptom is of olfactory function impairment. Claritrhomycin as macrolide antibiotic is effective forCRS because of their antibacterial and antiinflamatory activity. Purpose: To observe improvement of clinicalsymptoms, olfactory function, IL-8 level of nasal secretion and correlation between IL-8 with olfactory functionin CRS without nasal polyp. Method: This was a randomized controlled trial open labeled pre and posttestdesign. Data was analysed using Wilcoxon, Mann Whitney, and Rank Spearman correlation test. This study wasconducted in Otorhinolaryngology-Head and Neck Surgery Department Dr. Hasan Sadikin hospital. There were26 subjects divided in two groups, the first group was given clarithromycin and the second group was givenamoxicillin/clavulanate. The two groups underwent visual analogue scale (VAS), nasoendoscopy, sniffin stickstest and nasal secretion of IL-8 by enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). Result: The two groups had asignificant improvement VAS score after therapy (p=0.001) and clarithromycin group showed statisticallysignificant (p=0.036) on decreasing total VAS score than amoxcicillin/clavulanate group. There was significantcorrelations between reduction of IL-8, improvement of olfactory function (p=0.05) and nasal obstructionsymptom in VAS (p=0.022) only in clarithromycin group.Conclussion: Clarithromycin was effective in clinicalsymptoms reduction especially in nasal obstruction, IL-8 reduction in nasal secretion, and improvement ofolfactory function in chronic rhinosinusitis without nasal polyp.Keywords: Clarithromycin, interleukin-8, chronic rhinosinusitis without nasal polyp, sniffin sticks test.
Pengaruh tonsilektomi terhadap ukuran dan ekspresi IL-6 tonsil lingualis pada pasien OSA Mahdiani, Sally; Madiadipoera, Teti; Sumarman, Iwin; Purwanto, Bambang
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 42, No 2 (2012): Volume 42, No. 2 July - December 2012
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (390.247 KB) | DOI: 10.32637/orli.v42i2.29

Abstract

Background: Obstructive sleep apnea (OSA) is a sleep breathing disorder caused by upper airway  obstruction. It occurs on 51% adult and could cause systemic side effects. Hypertrophy of the palatine  and lingual tonsils cause upper airway obstruction and increasing cytokine IL-6 production. Obstruction and inflammation products have an important role in causing OSA. Inflammation of the palatine tonsil causes lingual tonsil to be inflamed. Purpose: To find out the impact of tonsillectomy on size and IL-6 expression of lingual tonsil. Method:The quasiexperimental open label pre and post test design was done on August 2010 – October 2011. There were 20 adult subjects with snoring, palatine and lingual tonsil hypertrophy. All subjects filled the Epworth Sleepiness Scale (ESS) questionnaire, underwent ENT examination and biopsy using fiber optic rhinolaryngoscope. Immunohistochemistry examination for IL-6  were performed on all biopsy specimens. Results: There is highly significant improvement on lingual  tonsil size score from 3 to 1 after tonsillectomy. IL-6 expression was significantly decreased from 12 to 2 after tonsillectomy. ESS score was also significantly decreased from 16 to 5. The reducing size of lingual tonsil correlates with decreasing of IL-6 expressions. Conclusion:Tonsillectomy on OSA patients reduced the IL-6 expression of the lingual tonsil and that cause the reducing of its size. Decreasing of obstruction and inflammation could lead to the decrease of the ESS score. Keywords: OSA, tonsillectomy, Epworth Sleepiness Scale, lingual tonsil size, IL-6 expression    Abstrak :  Latar belakang: Henti napas obstruktif saat tidur (OSA) merupakan gangguan napas saat tidur yang terjadi karena obstruksi saluran napas atas. Keluhan ini terjadi pada 51% orang dewasa dan menimbulkan efek samping sistemik berat. Pembesaran ukuran tonsil palatina dan tonsil lingualis akan menyebabkan obstruksi saluran napas atas dan mengakibatkan peningkatan produksi IL-6, sehingga akan menyebabkan OSA. Inflamasi yang terjadi pada tonsil palatina membuat tonsil lingualis mengalami inflamasi. Tujuan: Untuk melihat pengaruh tonsilektomi terhadap ukuran dan ekspresi IL-6 tonsil lingulis. Metode: Penelitian quasiexperimental open label pre and post test design di Poliklinik IK. THT-KL RSHS Bandung sejak Agustus 2010 – Oktober 2011. Subjek 20 orang dewasa dengan keluhan mendengkur, pembesaran tonsil palatina dan tonsil lingualis. Seluruh subjek mengisi kuesioner skala kekantukan Epworth (Epworth Sleepiness Scale/ESS), biopsi tonsil lingualis dengan rinolaringoskopi serat optik lentur dan imunohistokimia IL-6 jaringan biopsi. Hasil: Didapatkan perbaikan yang sangat bermakna skor ukuran tonsil lingualis sebelum tonsilektomi (3) dibandingkan setelah tonsilektomi (1). Nilai ekspresi IL-6 menurun sangat bermakna dari 12 menjadi 2. Skor ESS menurun secara bermakna dari 16 menjadi 5. Pengecilan ukuran tonsil lingualis berhubungan dengan penurunan ekspresi IL-6. Kesimpulan: Tonsilektomi pada pasien OSA dapat menurunkan ekspresi IL-6 pada tonsil lingualis, sehingga ukuran tonsil lingualis mengecil. Hilangnya obstruksi dan inflamasi mengakibatkan skor ESS menurun. Kata kunci: henti napas obstruktif saat tidur, tonsilektomi, Epworth Sleepiness Scale, ukuran tonsil lingualis, ekspresi IL-6