Sumardiyono Sumardiyono
Program Studi D3 Hiperkes Dan Keselamatan Kerja FK, Universitas Sebelas Maret Surakarta. Jl. Ir. Sutami No. 36 A, Surakarta, Jawa Tengah 57126. Telp. (0271) 646994

Published : 12 Documents
Articles

Found 12 Documents
Search

PERBEDAAN GANGGUAN MUSKULOSKELETAL PEMBATIK WANITA DENGAN DINGKLIK DAN KURSI KERJA ERGONOMIS Sumardiyono, Sumardiyono; Ada, Yeremia Rante
Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 9, No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Keolahragaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Posisi kerja pekerja batik tulis saat ini sebagian besar menggunakan dingklik sehingga posisi kerja menjadi membungkuk yang berisiko mengalami gangguan muskuloskeletal. Secara ergonomis, posisi kerja tersebut harus dirubah sehingga posisi kerja menjadi lebih alami. Masalah penelitian adalah bagaimana perbedaan gangguan muskuloskeletal pada pekerja yang menggunakan dingklik dan kursi ergonomis. Tujuan penelitian untuk mengetahui perbedaan gangguan muskuloskeletal pada pekerja yang menggunakan dingklik dan kursi ergonomis. Metode penelitian eksperimental quasi dengan pendekatan one group pre and posttest design. Populasi penelitian seluruh pekerja industri Batik Sragen. Sampel sebanyak 50 orang menggunakan quota random sampling. Tingkat gangguan muskuloskeletal diukur menggunakan kuesioner Nordic body map. Analisis statistik menggunakan  test. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan keluhan muskuloskeletal sebelum dan sesudah menggunakan kursi ergonomis (p=0,035). Simpulan penelitian, kursi kerja ergonomis menurunkan risiko keparahan gangguan muskuloskeletal.Now, batik workers working position mostly use “dingklik” so work position becomes bent, and it is risk of musculoskeletal disorders. Ergonomically, that working position should be changed becomes more natural position. Research problem was how musculoskeletal disorders differences in workers who use “dingklik” and ergonomic chairs. Research purpose was to determine musculoskeletal disorders differences in workers who use “dingklik” and ergonomic chairs. Quasi- experimental research method by one group pre and posttest design. Population study were Sragen Batik industry workers. Sample of 50 people using by quota random sampling. The rate of musculoskeletal disorders were measured by questionnaire Nordic body map. Statistical analysis using the test. The result showed there were differences in musculoskeletal complaints before and after using ergonomic chairs (p=0.035). The conclusion, ergonomic chair can reduce risk of musculoskeletal disorders.
PERBEDAAN GANGGUAN PENDENGARAN PEKERJA TERPAPAR BISING INDUSTRI DI SURAKARTA ANTARA PEKERJA MEMAKAI ALAT PELINDUNG TELINGA DAN PEKERJA TIDAK MEMAKAI ALAT PELINDUNG TELINGA Rinawati, Seviana; Utari, Siti; Sumardiyono, Sumardiyono
Proceeding Seminar LPPM UMP 2015: Buku III Bidang Ilmu Kesehatan dan Sains Teknik, Proceeding Seminar Nasional LPPM 2015, 26 Se
Publisher : Proceeding Seminar LPPM UMP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bising yang melebihi Nilai Ambang Batas pada industri dapat berisiko gangguan pendengaran terutama pada pekerja tidak memakai alat pelindung telinga yang disediakan perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Perbedaan Gangguan Pendengaran Pekerja Terpapar Bising Industri di Surakarta antara Pekerja Memakai Alat Pelindung Telinga dan Pekerja Tidak Memakai Alat Pelindung Telinga. Metode Penelitian  yang digunakan merupakan penelitian survey analitik, desain cross sectional. Populasi : 305 pekerja dengan sampel penelitian secara purposive sampling (kriteria inklusi dan eksklusi) sejumlah 67 orang masing-masing pada pekerja memakai dan tidak memakai APT. Analisis data menggunakan uji Mann- Whitney (ρ<0,05). Hasil Penelitian Menunjukkan gangguan pendengaran tinggi pada pekerja tidak memakai APT, memiliki risiko gangguan pendengaran 3,35 kali lebih besar daripada yang memakai APT dan adanya perbedaan tersebut ditunjukkan dengan nilai p = 0,002. Dari penelitian  menunjukkan ada Perbedaan Gangguan Pendengaran Pekerja Terpapar Bising Industri di Surakarta antara Pekerja Memakai APT dan Pekerja Tidak Memakai APT. Disarankan seleksi masuk pekerja dilakukan tes kesehatan telinga dan disiplin memakai APTKata Kunci : Alat Pelindung Telinga, Bising industri, Gangguan pendengaran
PENGARUH INDEKS MASSA TUBUH (IMT) TERHADAP TEKANAN DARAH PADA PEKERJA YANG TERPAPAR BISING INDUSTRI DI SURAKARTA Sumardiyono, Sumardiyono; Ada, Yeremia Rante; Wijayanti, Reni; Rinawati, Seviana
Proceeding Seminar LPPM UMP 2015: Buku III Bidang Ilmu Kesehatan dan Sains Teknik, Proceeding Seminar Nasional LPPM 2015, 26 Se
Publisher : Proceeding Seminar LPPM UMP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hipertensi menjadi masalah global, diperkirakan lebih dari satu dari tiga orang dewasa usia 25 tahun ke atas atau sekitar satu miliar orang di seluruh dunia mengalami hipertensi. Penyakit itu mengakibatkan hampir 9,4 juta kematian akibat serangan jantung dan stroke setiap tahun. Salah satu faktor internal penyebab hipertensi adalah kegemukan, sedangkan faktor eksternal adalah paparan bising industri pada tenaga kerja. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah karyawan perusahaan tekstil di Surakarta. Pemilihan sampel menggunakan purposive quota sampling. Sampel berjumlah 170 orang untuk pekerja yang terpapar bising melebihi NAB dan 110 orang untuk pekerja yang terpapar bising kurang dari NAB. Uji statistik menggunakan Chi Square Test. Hasil uji menunjukkan: 1) pada pekerja yang terpapar bising melebihi NAB, pekerja gemuk/obesitas berisiko mengalami hipertensi 6 kali dibanding normal/kurus (p=0,000; OR=6,104; 95%CI: 3,078-12,102); 2) pada pekerja yang terpapar bising di bawah NAB, pekerja gemuk/obesitas berisiko mengalami hipertensi 2 kali dibanding normal/kurus (p=0,027; OR=2,364; 95%CI: 1,094-5,106). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kebisingan yang melebihi NAB dapat menyebabkan risiko hipertensi yang lebih besar. Kata kunci : Bising, IMT, Tekanan Darah
HUBUNGAN ANTARA UMUR DAN LAMA TINGGAL DENGAN GANGGUAN PENDENGARAN PADA MASYARAKAT YANG TERPAPAR BISING JALAN RAYA DI SURAKARTA Ada, Yeremia Rante; Sumardiyono, Sumardiyono; Utari, Cr. Siti
Proceeding Seminar LPPM UMP 2015: Buku III Bidang Ilmu Kesehatan dan Sains Teknik, Proceeding Seminar Nasional LPPM 2015, 26 Se
Publisher : Proceeding Seminar LPPM UMP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kebisingan adalah suara yang tidak dikehendaki. Tiga faktor penyebab gangguan pendengaran karena bising adalah frekuensi, intensitas, dan waktu. Frekuensi bising berhubungan dengan tinggi rendahnya nada suara, intensitas berhubungan dengan kerasnya suara, sedangkan waktu berhubungan dengan lamanya paparan. Efek bising juga dipengaruhi oleh usia, kesehatan umum, jarak dengan sumber bising, dan jenis bising. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kebisingan terhadap masyarakat yang bertempat tinggal di sekitar jalan raya di Surakarta. Penelitian ini menggunakan jenis observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah penduduk sekitar jalan raya dengan intensitas bising 65-73 dB di wilayah Surakarta Jawa Tengah. Sampel diambil melalui quota sampling berjumlah 55 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Ada hubungan antara umur dengan tingkat ketulian telinga kanan (p=0,046), telinga kiri (p=0,042), dan tingkat ketulian telinga ganda (p=0,006) pada penduduk di sekitar jalan raya, 2) Tidak ada hubungan signifikan antara lama tinggal dengan tingkat ketulian telinga kanan (p = 0,532), dengan telinga kiri (p = 0,335) maupun tingkat ketulian telinga ganda (p = 0,301) pada penduduk di sekitar jalan raya.  Kesimpulan dari penelitian ini, faktor umur memiliki hubungan dengan gangguan pendengaran masyarakat sekitar jalan raya, sedangkan lama tinggal tidak berpengaruh pada  gangguan pendengaran  masyarakat sekitar jalan raya.Kata kunci: Gangguan Pendengaran, Kebisingan, Lama Tinggal, Umur
Hubungan Lingkar Pinggang dan Lingkar Panggul dengan Tekanan Darah pada Pasien Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) Sumardiyono, Sumardiyono; Pamungkasari, Eti Poncorini; Mahendra, Anton Giri; Utomo, Oki Saraswati; Mahajana, Devita; Cahyadi, Wakhid Ryan; Ulfia, Mila
Smart Medical Journal Vol 1, No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (141.049 KB) | DOI: 10.13057/smj.v1i1.24504

Abstract

Introduction: Obesity is a state of excessive accumulation of fat in the body, which is a risk factor for cardiovascular disease. Obesity can be measured using anthropometric methods measuring waist circumference and hip circumference. This study aims to find the relationship between the size of waist circumference and hip circumference to blood pressure in prolanis participants in the working area of Kedawung I Public Health Center, Sragen Regency.Method: This study was an observational analytic study using a cross sectional design. The subjects were prolanis participant patient with a history of hypertension in the Kedawung I Community Health Center in Sragen in July 2017. Sampling was done by simple random sampling. The number of subject were 60 persons.Results: There were significant relationship between waist circumference and systolic/ diastolic blood pressure with weak strength (r = 0.304; p = 0.018 and r = 0.337; p = 0.008) and significant relationship between hip circumference with systolic/diastolic blood pressure with weak strength (r = 0.263; p = 0.042 and r = 0.306; p = 0.017).Conclusion: the increasing size of waist and hip circumference may increase blood pressure in prolanis participants.
Kejadian Myalgia pada Lansia Pasien Rawat Jalan Sumardiyono, Sumardiyono; Lowa, Novy Wahyunengsi; Azzam, Abdullah Muchammad; Huda, Khairunnisa Nurul; Nurfauziah, Nadia
JRST (Jurnal Riset Sains dan Teknologi) Volume 1 No. 2 September 2017: JRST
Publisher : Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.442 KB) | DOI: 10.30595/jrst.v1i2.1442

Abstract

ABSTRAK Myalgia atau nyeri otot termasuk salah satu keluhan sakit yang cukup sering diderita manusia. Lansia juga sering mengeluhkan adanya myalgia. Proses menua mengakibatkan terjadinya penurunan fungsi dari organ-organ pada lansia, diantaranya penurunan fungsi muskuloskeletal, dan penurunan massa otot yang dapat menyebabkan gangguan pada otot. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya hubungan kejadian myalgia pada lansia pasien rawat jalan.  Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain penelitian cross sectional. Penelitian dilakukan di Puskesmas Matesih Kabupaten Karanganyar dengan sampel para pasien rawat jalan tanggal 1-31 Mei 2016. Sampel dipilih secara simple random sampling sebanyak 97 sampel. Data sekunder berupa umur diambil dari rekam medik pasien. Data dianalisis secara statistik menggunakan uji Chi Square.  Kejadian myalgia pada pasien rawat jalan lansia (48,6%) lebih sedikit dibandingkan pasien rawat jalan bukan lansia (51,4%).  Tidak terdapat hubungan signifikan antara  kejadian myalgia dengan lansia pada pasien rawat jalan di Puskesmas Matesih Karanganyar (p>0,05). Kata kunci: Myalgia, Lansia ABSTRACTMyalgia or fatigue is one of the most common disease affects humans. Elderly are also often complain of myalgia. Aging process resulted in a decreasing organ function, including musculoskeletal function, and muscle mass, which may cause abnormality to the muscle. This research aims to know the relationship between myalgia disease with elderly in outpatients. This research was an observational analytic research with cross sectinal approach. This research was done at the health center Matesih Karanganyar with a sample of outpatients in May 30–June 1, 2016. The sample was selected by simple random sampling as many as 97 samples. Secondary data are taken from the patient’s medical record. Data was analyzed by Chi Square Test. The incidence of myalgia at the health center Matesih Karanganyar in elderly outpatient (48.6%) less than the younger outpatient (51.4%). There was no significant relationship between the incidence of myalgia with the elderly in outpatients at Matesih health centre in Karanganyar district (p> 0.05). Keywords: Myalgia, Elderly
HUBUNGAN ANTARA MEROKOK dan AKTIFITAS FISIK DENGAN PREVALENSI HIPERTENSI DI INDONESIA (ANALISIS DATA RISKESDAS DAN PROFIL KESEHATAN 2013) ali, balgis; Sumardiyono, Sumardiyono
Smart Medical Journal Vol 2, No 1 (2019): Smart Medical Journal
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (486.438 KB) | DOI: 10.13057/smj.v2i1.30846

Abstract

Introduction: Currently hypertension is a major health problem in the world, including in Indonesia. The prevalence of hypertension in various regions in Indonesia varies. several factors are thought to play a role in this variation including the health system, hypertension risk factors and the prevalence of diabetes mellitus. This study aims to analyze the relationship between the health system (health services, health personnel, finance), hypertension risk factors (smoking and physical activity) and the prevalence of diabetes mellitus with differences in the prevalence of hypertension in various provinces in Indonesia. Currently hypertension is a major health problem in the world, including in Indonesia. The prevalence of hypertension in various regions in Indonesia varies. several factors are thought to play a role in this variation including the health system, hypertension risk factors and the prevalence of diabetes mellitus. This study aims to analyze the relationship between the health system (health services, health personnel, finance), hypertension risk factors (smoking and physical activity) and the prevalence of diabetes mellitus with differences in the prevalence of hypertension in various provinces in Indonesia.Methods: This study used an observational analytic design with an ecological study approach. Data was obtained from 440 districts and 33 provinces in Indonesia. which is taken on a probability basis to size. Samples are men and women aged 18 and above. The independent variable is the prevalence of hypertension while the dependent variable is the health system (health services, health personnel, finance), hypertension risk factors (smoking and sedentary physical activity) and the prevalence of diabetes mellitus. The diagnosis of hypertension is made by a doctor. The data obtained were analyzed using multiple linear regression analysis.Results: Smoking (b = 0, 0.463; 95% CI = 0.042-0.884; p = 0.032), and sedentary physical activity of more than 6 hours (b = 0.196; 95% CI = 0.030-0.3362; p = 0.022) increased the prevalence of hypertension. R2 from the multiple liner regression model is = 27.1%, and overall the models differ significantly (p = 0.05).Conclusion: Smoking and sedentary physical activity are associated with the prevalence of hypertension  
PERBEDAAN GANGGUAN MUSKULOSKELETAL PEMBATIK WANITA DENGAN DINGKLIK DAN KURSI KERJA ERGONOMIS Sumardiyono, Sumardiyono; Ada, Yeremia Rante
KEMAS: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 9, No 2 (2014)
Publisher : Department of Public Health, Faculty of Sport Science, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/kemas.v9i2.2842

Abstract

Posisi kerja pekerja batik tulis saat ini sebagian besar menggunakan dingklik sehingga posisi kerja menjadi membungkuk yang berisiko mengalami gangguan muskuloskeletal. Secara ergonomis, posisi kerja tersebut harus dirubah sehingga posisi kerja menjadi lebih alami. Masalah penelitian adalah bagaimana perbedaan gangguan muskuloskeletal pada pekerja yang menggunakan dingklik dan kursi ergonomis. Tujuan penelitian untuk mengetahui perbedaan gangguan muskuloskeletal pada pekerja yang menggunakan dingklik dan kursi ergonomis. Metode penelitian eksperimental quasi dengan pendekatan one group pre and posttest design. Populasi penelitian seluruh pekerja industri Batik Sragen. Sampel sebanyak 50 orang menggunakan quota random sampling. Tingkat gangguan muskuloskeletal diukur menggunakan kuesioner Nordic body map. Analisis statistik menggunakan test. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan keluhan muskuloskeletal sebelum dan sesudah menggunakan kursi ergonomis (p=0,035). Simpulan penelitian, kursi kerja ergonomis menurunkan risiko keparahan gangguan muskuloskeletal.Now, batik workers working position mostly use dingklik so work position becomes bent, and it is risk of musculoskeletal disorders. Ergonomically, that working position should be changed becomes more natural position. Research problem was how musculoskeletal disorders differences in workers who use dingklik and ergonomic chairs. Research purpose was to determine musculoskeletal disorders differences in workers who use dingklik and ergonomic chairs. Quasi- experimental research method by one group pre and posttest design. Population study were Sragen Batik industry workers. Sample of 50 people using by quota random sampling. The rate of musculoskeletal disorders were measured by questionnaire Nordic body map. Statistical analysis using the test. The result showed there were differences in musculoskeletal complaints before and after using ergonomic chairs (p=0.035). The conclusion, ergonomic chair can reduce risk of musculoskeletal disorders.
Pengaruh Konsentrasi Aktivator Asam Sulfat pada Arang Aktif Kulit Kelapa Muda untuk Menurunkan BOD dan COD Sumardiyono, Sumardiyono; Herawati, Dewi Astuti; Supriyono, Supriyono
Jurnal Biomedika Vol 10 No 2 (2017): Jurnal Biomedika
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Setia Budi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (699.327 KB) | DOI: 10.31001/biomedika.v10i2.278

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi aktivator optimum asam sulfat pada arang aktif kulit kelapa muda untuk mendapatkan kapasitas maksimum dalam penurunan angka COD dan BOD limbah cair tahu. Pembuatan arang aktif kulit kelapa muda dilakukan melalui pemilihan, pencucian, pengeringan, pengarangan, dan aktivasi menggunakan berbagai konsentrasi asam sulfat dengan variabel waktu perendaman. Pengujian BOD dan COD dengan metode titrasi. Konsentrasi asam sulfat yang dipergunakan 0,5 N; 1 N; 1,5 N; 2N; dan 2,5 N dengan waktu perendaman masingmasing konsentrasi 0,5 jam, 1 jam, 1,5 jam, 2 jam dan 2,5 jam. Hasil percobaan menunjukkan penurunan BOD paling besar pada penyerapan menggunakan arang aktif konsentrasi aktivator asam sulfat 2,5 N dan waktu perendaman 0,5 jam. Effisiensi penurunan BOD limbah cair tahu sebesar 76,86 % yaitu dari 912 mg/L menjadi 211 mg/L. Sedangkan penurunan COD limbah cair tahu terbaik dihasilkan saat penyerapan menggunakan arang aktif konsentrasi aktivator asam sulfat 2,5 N dengan waktu kontak 0,5 jam. Besarnya COD limbah cair tahu terendah 270 mg/L, efisiensi penurunan sebesar 85,60%. Arang yang telah diaktivasi menggunakan asam sulfat meningkatkan daya penyerapan terhadap angka COD dan angka BOD dibandingkan dengan arang tanpa aktivasi. Peningkatan daya penyerapan masing-masing sebesar 57,76% dari 27,8 % menjadi 85,56% dan sebesar 49,54 % dari 27,62 % menjadi 76,86%.
The Association between Risk Factors and Blood Pressure in the Textile Industry Workers Sumardiyono, Sumardiyono; Hartono, Hartono; Probandari, Ari; Setyono, Prabang
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 5, No 3 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/gmhc.v5i3.2650

Abstract

Noise exposure is often found in the industrial environment that exposed workers at risk for increasing blood pressure. This study aimed at investigating the association between noise level, duration of noise exposure, age, use of earplugs, and body mass index with blood pressure on textile industry workers. An observational study with the cross-sectional design conducted during August to October 2016. The study population was 180 textile industry workers in Surakarta selected by consecutive sampling method. Statistical analysis used was multiple logistic regression. Results showed that variables associated with systolic blood pressure were the use of earplugs (OR=12.7), noise level (OR=7.2), body mass index (OR=5.3), age (OR=4.4) and duration of noise exposure (OR=3.5). Variables associated with diastolic blood pressure were the use of earplugs (OR=6.9), age (OR=6.6), noise level (OR=6.1), body mass index (OR=4.4), and duration of noise exposure (OR=3.1). In clonclusion, the risk factors for blood pressure increased among industrial workers are the use of earplug, noise level, body mass index, age and duration of noise exposure.ASOSIASI ANTARA FAKTOR RISIKO DAN TEKANAN DARAH PADA PEKERJA INDUSTRI TEKSTILPaparan kebisingan yang mengekspos pekerja sering ditemukan di lingkungan industri sehingga berisiko terjadi peningkatan tekanan darah. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan tingkat kebisingan, durasi paparan kebisingan, usia, penggunaan sumbat telinga, dan indeks massa tubuh dengan tekanan darah pada pekerja industri tekstil. Penelitian ini menggunakan jenis observasional dengan desain cross-sectional yang dilakukan pada bulan Agustus–Oktober 2016. Populasi penelitian adalah pekerja industri tekstil di Surakarta. Terpilih 180 orang pekerja dengan menggunakan metode sampling konsekutif. Analisis statistik yang digunakan adalah regresi logistik berganda. Variabel yang berhubungan dengan tekanan darah sistole adalah penggunaan sumbat telinga (OR=12,7), tingkat kebisingan (OR=7,2), indeks massa tubuh (OR=5,3), usia (OR=4,4), dan durasi paparan kebisingan (OR=3,5). Variabel yang terkait dengan tekanan darah diastole adalah penggunaan sumbat telinga (OR=6,9), usia (OR=6,6), tingkat kebisingan (OR=6,1), indeks massa tubuh (OR=4,4), dan durasi paparan kebisingan (OR=3,1). Simpulan, faktor risiko peningkatan tekanan darah di kalangan pekerja industri tekstil adalah penggunaan sumbat telinga, tingkat kebisingan, indeks massa tubuh, usia, dan durasi paparan kebisingan.