K. Sumantadinata
Bogor Agricultural University, Department of Aquaculture

Published : 15 Documents
Articles

Found 15 Documents
Search

Relation between broodstock number and spawning frequency and egg production of humpback grouper (Cromileptes altivelis) Syaifudin, M.; Aliah, R.S.; Muslim, .; Sumantadinata, K.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 6, No 2 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Jurnal Akuakultur Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (166.057 KB)

Abstract

This study was performed to determine spawning frequency, number of ovulated egg and spawning time of humpback grouper (Cromileptes altivelis) broodstock in hatchery.  Broodstock of 20-83 fish in weight of 1.5-2.0 kg were reared in circular concrete tank 225 m3.  The results showed that increasing in number of broodstock increases spawning frequency (R2= 0.694), and ovulated eggs number was also increased (R2= 0.828).  Spawning of humpback grouper can occur in the third to fourth week in every month. Keywords: reproductive biology, spawning, Cromileptes altivelis   ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui frekuensi pemijahan, jumlah telur dan waktu pemijahan populasi induk ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis) di hatchery.  Jumlah induk yang bervariasi antara 20-83 ekor dengan ukuran 1,5-2 kg ditempatkan dalam bak beton bulat, kapasitas 225 m3. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dengan bertambahnya jumlah induk, maka frekuensi pemijahan yang diperoleh juga semakin meningkat (R2=0,694), dan produksi telur juga semakin meningkat (R2=0,828). Pemijahan kerapu tikus dapat berlangsung setiap bulan, di mana waktu pemijahan terjadi pada kuarter keempat hingga kuarter ketiga. Kata kunci: Biologi reproduksi, Pemijahan, Cromileptes altivelis
Characterization of β-Actin Promoter from Nile Tilapia (Oreochromis niloticus) Alimuddin, .; Octavera, A.; Arifin, O.Z.; Sumantadinata, K.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 7, No 2 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Jurnal Akuakultur Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (450.672 KB)

Abstract

Promoter is one of the factors determining the successful of transgenesis.  In this study we isolated and characterized β-actin promoter from Nile tilapia (tiBP) towards production of autotransgenic tilapia.  β-actin promoter has high activity in muscle.  Sequence of tiBP promoter was isolated by using PCR method. Sequencing was performed using ABI PRISM 3100 machine. Analysis of sequences was conducted using GENETYX version 7 and TFBind softwares. DNA fragment of PCR amplification product digested from the vector cloning was then ligated with pEGFP-N1 to generate ptiBP-EGFP construct. The construct was microinjected into one-cell stage of zebrafish (Danio rerio) embryos to test the tiBP promoter activity. EGFP gene expression was observed by fluorescence microscope.  The result of sequence analysis showed that the length of DNA fragment obtained is about 1.5 kb and containing the evolutionary conserved sequences of transcription factor for β-actin promoter including CCAAT, CArG and TATA boxes.  Furthermore, tiBP sequence in ptiBP-EGFP construct could regulated GFP expression in muscle of zebrafish embryos injected with the construct. The results suggested that PCR amplification product is the regulator sequence of tilapia β-actin gene. Autotransgenic tilapia can be then produced by changing GFP gene fragment of ptiBP-EGFP construct with genes from tilapia encoding important traits in aquaculture. Keywords:  cloning, β-actin promoter, autotransgenic, EGFP, Oreochromis niloticus, Danio rerio   ABSTRAK Promoter merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan transgenesis.  Pada penelitian ini kami mengisolasi dan mengkarakterisasi promoter β-actin dari ikan nila (tiBP) dalam rangka pembuatan ikan nila autotransgenik. Promoter β-actin memiliki aktivitas tinggi pada jaringan otot. Sekuens promoter tiBP diisolasi menggunakan metode PCR.  Sekuensing dilakukan menggunakan mesin ABI PRISM 3100. Analisa sekuens menggunakan software GENETYX versi 7 dan TFBind.  Fragment DNA hasil amplifikasi PCR yang didigesti dari vektor kloning selanjutnya diligasi dengan pEGFP-N1 untuk membuat konstruksi ptiBP-EGFP. Konstruksi ptiBP-EGFP dimikroinjeksi ke embrio ikan zebra (Danio rerio) fase 1 sel untuk menguji aktivitas promoter tiBP. Ekspresi gen EGFP diamati menggunakan mikroskop fluoresens. Analisa sekuens menunjukkan bahwa panjang fragmen DNA hasil amplifikasi PCR sekitar 1,5 kb dan memiliki faktor transkripsi yang konserf untuk promoter β-actin, yaitu CCAAT, boks CArG dan TATA.  Selanjutnya, sekuens tiBP dalam konstruksi ptiBP-EGFP mampu mengendalikan ekspresi gen EGFP pada jaringan otot embrio ikan zebra yang dimikroinjeksi dengan konstruksi tersebut.  Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa fragmen DNA hasil amplifikasi PCR tersebut merupakan sekuens promoter β-actin ikan nila. Pembuatan ikan nila autotransgenik selanjutnya dapat dilakukan dengan mengganti gen EGFP pada pktBA-EGFP dengan gen-gen asal ikan nila yang mengkodekan karakter penting dalam budidaya ikan. Kata kunci:  kloning, promoter β-actin, autotransgenik, EGFP, Oreochromis niloticus, Danio rerio
Hematology of common carp following DNA vaccination and koi herpesvirus challenge test Nuryati, Sri; Maswan, N.A.; Alimuddin, .; Sukenda, .; Sumantadinata, K.; Pasaribu, F.H.; Soejoedono, R.D.; Santika, A.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 9, No 1 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Jurnal Akuakultur Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The study was aimed to determine the effectiveness of DNA vaccine doses on hematological aspect which represent immune response and its influence on common carp survival rate. DNA vaccines encoding the viral glycoprotein of  koi herpesvirus (KHV) have been proved to highly protect the fish under laboratory condition.  A dose of 12.5 µg/100 µl vaccine had resulted in a survival rate of 96.67 % during 30 days after challenge test with a lethal dose of KHV. Fish vaccinated using lower doses, i.e. 2.5 and 7.5 µg/100µl showed 100% mortality after 15 and 19 days challenge test respectively, whereas non vaccinated fish as a control showed 100% mortality after 17 days challenge test.  Total leucocytes of the vaccinated fish were higher than control until 42 days post vaccination, but declined afterward.  Phagocytic index of the vaccinated fish using 12.5 µg/100 µl was declined after 49 days post vaccination or 7 days post challenge test. Key words: DNA vaccine, Koi herpesvirus (KHV), leucocyte, phagocytic index, Cyprinus carpio   ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh vaksinasi menggunakan vaksin DNA dengan dosis berbeda terhadap gambaran darah ikan sebagai respresentasi tanggap kebal ikan mas serta pengaruhnya terhadap tingkat kelangsungan hidup ikan mas. Vaksin DNA penyandi glikoprotein koi herpesvirus (KHV) dapat memberikan proteksi yang tinggi pada percobaan skala laboratorium.  Vaksinasi dengan dosis 12,5 µg/100µl dapat mempertahankan kelangsungan hidup sebesar 96,67% selama satu bulan setelah uji tantang dengan virus KHV menggunakan dosis letal.  Ikan yang divaksin dengan dosis yang lebih rendah yaitu 2,5 dan 7,5 µg/100µl mengalami kematian total berturut-turut setelah 15 dan  19 hari uji tantang, sedangkan ikan kontrol yang tidak divaksin mengalami kematian total setelah 17 hari uji tantang.  Jumlah leukosit total ikan yang divaksinasi lebih tinggi dibanding dengan kontrol sampai hari ke-42, setelah itu mengalami penurunan.  Indeks fagositosis ikan yang divaksin dengan dosis 12,5 µg/100µl mengalami penurunan setelah hari ke-49 atau 7 hari setelah uji tantang. Kata kunci: Vaksin DNA, Koi herpesvirus (KHV), leukosit, indeks fagositosis, Cyprinus carpio
Rematuration Periods and Sperm Characteristics of Litopenaeus vannamei Anwar, L. Okmawati; Sumantadinata, K.; Carman, O.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 6, No 1 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Jurnal Akuakultur Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.588 KB)

Abstract

The reproduction ability of male has an important role in seeds production of Litopenaeus vannamei. The objective of research was to know the sperm characteristics from each rematuration period. The research conducted in Broodstock and Nauply Quality Control Laboratory, Central Pertiwi Bahari, Lampung Province on April until July 2006. Five male shrimps obtained from High Health, Aquaculture Inc., Hawaii-USA, about 39.4 ± 1.51 g in weight and 16.4 ± 0.43 cm in length. Carefull stripping was applied to release the mature spermatophore from the thelicum. The results showed that number of sperm at the first to fourth rematuration period relatively constant (33.62x106 - 39.7402x106 cell). However the number of abnormal sperm were relatively increase slightly (1.2806x106 to 23.3576x106 cell) and also the number of death sperm (0.293x106 to 3.92x106 cell) while the number of normal sperm were relatively decrease (29.1158x106 to 23.3576x106 cell). There were no changes in head size and tail lenght of the sperm from each rematuration periods. Keywords:  Litopenaeus vannamei, spermatozoa, rematuration   ABSTRAK Kemampuan reproduksi udang jantan berperan penting dalam pembenihan udang vaname Litopenaeus vannamei. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik sperma pada setiap periode rematurasi. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kendali Mutu Induk dan Naupli, Central Pertiwi Bahari, Propinsi  Lampung, bulan April sampai Juli 2006. Udang jantan yang digunakan berasal dari High Health, Aquaculture Inc., Hawaii-USA, dengan ukuran berat 39,4 ± 1,51 g, panjang tubuh 16,4 ± 0,43 cm dan berjumlah lima ekor sebagai ulangan. Spermatofor dilepaskan dari telikum dengan teknik  pengurutan. Hasil penelitian menunjukkan jumlah sperma relatif stabil pada empat kali rematurasi (33,62x106 - 39,7402x106 sel). Jumlah sperma abnormal dan sperma mati berbanding terbalik dengan jumlah sperma normal. Jumlah sperma abnormal meningkat dari rematurasi pertama hingga rematurasi ke empat (1,2806x106 ke 23,3576x106 sel) demikian halnya jumlah sperma mati (0,293x106 ke 3,92x106 sel), sedangkan jumlah sperma normal mengalami penurunan (29,1158x106 ke 23,3576x106 sel). Tidak terdapat perubahan ukuran kepala dan panjang ekor sperma dalam setiap periode rematurasi. Kata kunci :  Litopenaeus vannamei, spermatozoa, rematurasi
Requirement of n-6 and n-3 Fatty Acid in Broodstock Diets on Reproductive Performance of Green catfish, Hemibagrus nemurus Blkr. Utiah, Adharto; Junior, M. Zairin; Mokoginta, I.; Affandi, R.; Sumantadinata, K.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 6, No 1 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Jurnal Akuakultur Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (200.829 KB)

Abstract

This experiment was conducted to determine the optimum dietary level of n-6 and n-3 fatty acids on reproduction performance of green catfish. Four experimental diets with different level of n-6 and n-3 fatty acid (diet A: 0.77% n-6 fatty acid, 0.07% n-3 fatty acid; diet B: 1.56%,0.10 %; diet C: 1.74%, 0.13 % and diet D: 2%, 0.28%) were used in this experiment during seven month. Diets given twice every day in the morning and evening. The 28 broodstock used in this research with density every waring seven broodstock. Samples of eggs were analyzed for fatty acid composition. The diameter of eggs, fecundity, hatching rate of the eggs, survival rate and percentage of abnormal larvae were determined. Results showed that different dietary level of n-6 and n-3 fatty acids of the broodstock significantly affect the reproductive performance especially fecundity and hatching rate of eggs. The maximum fecundity, egg diameter, and hatching rate were produced broodstock fed on 1.56% n-6 fatty acid and 0.10 % n-3 fatty acid in diet by at the level of 12.29% lipid. Keywords : n-6 and n-3 fatty acids, reproduction performance, green catfish, Hemibagrus nemurus.   Abstrak Penelitian ini dilakukan pada berbagai level asam lemak n-6 dan n-3 dalam pakan untuk melihat pengaruhnya terhadap penampilan reproduksi dari ikan baung. Penelitian dilaksanakan selama 7 bulan.  Empat jenis pakan  digunakan dalam percobaan ini dengan perbedaan kandungan asam lemak n-6 dan n-3 (pakan A: 0,77% asam lemak n-6, 0,56% asam lemak n-3; pakan B: 1,56%, 0,78%; pakan C: 1,74%, 1,00% and pakan D: 2,03%, 1,82%). Dalam penelitian ini 28 ekor induk digunakan dan ditebarkan kedalam waring dengan kepadatan 7 ekor tiap waring. Pakan diberikan pagi dan sore hari secara at satiation.  Sampel telur dan larva dianalisa komposisi asam lemak. Penampilan reproduksi yang diamati adalah diameter telur, fekunditas, derajat penetasan telur, derajat kelangsungan hidup larva dan persentase larva abnormal. Hasil penilitian menunjukan bahwa perbedaan kandungan asam lemak n-6 dan n-3 dalam pakan berpengaruh pada komposisi asam lemak n-6 dan n-3 telur dan juga memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap penampilan reproduksinya khusus pada fekunditas dan derajat penetasan telur. Lama waktu matang yang dicapai oleh tiap induk relatif sama antar perlakuan.  Fekunditas, diameter telur, derajat penetasan telur dan derajat kelangsungan hidup larva tertinggi diperoleh pada induk yang memperoleh pakan yang mengandung 1,56% asam lemak n-6 dan 0,78% asam lemak n-3. Kata kunci:  Asam lemak n-6 and n-3, penampilan reproduksi, ikan baung, Hemibagrus nemurus.
Fin Type Variation of Lionhead Strain Goldfish (Carassius auratus) Offspring Syaifudin, M.; Carman, Odang; Sumantadinata, K.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 3, No 3 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Jurnal Akuakultur Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 Lionhead strain goldfish (Carassius auratus) inheritance produce many variations in phenotype qualitative traits of their offspring that is not common with the parents. Lionhead is an ornamental freshwater fish, they do not have a dorsal fin, but it is a beauty finfish, is popular to the people and have a high economic value. Of the 846 offspring of lionhead is produced in this experiment, and 57,7% of them have dorsal fin (42,3% normal), 13,1% of them have anal fin which did not similar with their parents, 58,6% caudal fin of them did not have similar to their parents. It might be caused by incompletely segregation in meiosis and many gen responsible to certain phenotype trait. Another abnormalities such as no anal fin, blindness, stumped and no pigmen in their gill lamella also occurred. Key words: Inheritance, fin, phenotype, abnormality   ABSTRAK Ikan maskoki strain lionhead menghasilkan keturunan dengan fenotip yang sangat bervariasi dan berbeda dengan induknya. Ikan ini merupakan ikan hias air tawar yang tidak memiliki sirip punggung namun tetap memiliki keindahan, sehingga menjadi begitu populer di masyarakat dan memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Sebanyak 846 keturunan (anakan) telah dihasilkan dalam percobaan ini, dan sebanyak 57,7% dari populasi tersebut memiliki sirip punggung (berarti 42,3% merupakan keturunan normal), 13,1% memiliki sirip dubur yang tidak mirip dengan induknya. Variasi keturunan ikan maskoki strain lionhead ini disebabkan oleh segregasi yang tidak sempurna dalam proses meiosis dan banyaknya gen yang terlibat dalam pembentukan penotip tertentu. Abnormalitas lainnya juga terjadi pada keturunan ikan maskoki strain lionhead ini, seperti tidak adanya sirip dubur, mata buta, tubuh pendek dan tidak adanya pigmen pada lemela insang Kata kunci: Keturunan, sirip, fenotip, abnormalitas  
Growth and Productivity of Chironomus sp. in Enriched Substrat by Chicken Manure 1,0-2,5 g/l Shafruddin, D.; Parlinggoman, B.R.; Sumantadinata, K.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 5, No 1 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Jurnal Akuakultur Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (109.411 KB)

Abstract

Chironomus sp. larvae or called as bloom worm contains high nutrient and caroten that are important to support fish and shellfish culture, especially ornamental fishes.  Larval Chironomus is abundant in environment rich of organic and inorganic compounds. This study was carried out to examine growth and productivity of Chironomus larvae reared in water containing 1.0, 1.5, 2.0 and 2.5 g of chicken manure per liter water.   The growth of chironomus larvae for 4 weeks rearing was reached a peak at the third week. Higher population, 19,680 larvas, was obtained by the highest dose of fertilizer.  Growth by length and weight of Chironomus larvae of all treatments was similar Keywords: Cacing darah, Chironomus dan kotoran ayam   ABSTRAK Larva Chironomus sp. yang dikenal sebagai cacing darah memiliki kandungan nutrisi tinggi dan pigmen karoten yang penting untuk menunjang keberhasilan budidaya ikan dan udang terutama sebagai ikan hias. Larva Chironomus banyak terdapat di perairan yang mengandung bahan organik tinggi sehingga diperlukan pemupukan baik organik maupun anorganik untuk merangsang petumbuhannya. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pertumbuhan produktivitas larva Chironomus yang dipelihara dalam air yang mengandung 1,0, 1,5, 2,0 dan 2,5 g kotoran ayam per liter air. Pertumbuhan larva yang dipelihara selama 4 minggu pada media yang dipupuk menggunakan kotoran ayam sebanyak 1,0; 1,5; 2,0 dan 2,5 gr/l masing-masing mengalami puncak pada minggu ke-3. Populasi terbanyak mencapai 19680 ekor terjadi pada media dengan dosis pemupukan tertinggi. Pertumbuhan panjang maupun berat larva Chironomus yang dipelihara dengan pemupukan media yang berbeda tersebut masing-masing tidak berbeda nyata. Kata kunci : Cacing darah, Chironomus dan kotoran ayam
Genetic Characterization of Domesticated F1 Generation in Humpback Grouper (Cromileptes altivelis) Aliah, Ratu Siti; Wahidah, .; Sumantadinata, K.; Nugroho, Estu; Carman, O.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 5, No 1 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Jurnal Akuakultur Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (158.336 KB)

Abstract

First generation (F1) of hatchery produced humpback grouper (Cromileptes altivelis) has been characterized genetically in order to serve the information of their status in related to their breeding strategy. PCR-RFLP method was used to detect the variation of mtDNA D-loop region of F1 population at BBPBL Lampung and BBAP Situbondo. The result of study showed that reducing of haplotype diversity had been arised from broodstock (0.8548) to F1 generation population (0.7473; 0.7273; and 0.6947, respectively).  Genetic divergence that had found between population BBPBL Lampung and BBAP Situbondo make it possible to do outbreeding in order to get its heterosiss effect. Keywords: mtDNA, haplotype diversity, genetic differentiation, Cromileptes altivelis   ABSTRAK Ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis) generasi pertama (F1) hasil domestikasi di hatchery telah dikarakterisasi secara genetik untuk menyediakan informasi status sehubungan dengan program pemuliaannya.  Metode PCR-RFLP digunakan untuk mendeteksi variasi sekuens D-loop mtDNA ikan kerapu tikus F1 yang diproduksi di BBPBL Lampung dan BBAP Situbondo.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa telah terjadi penurunan keragaman haplotipe dari induk (0,8548) ke populasi generasi F1 (masing-masing 0,7473; 0,7273; dan 0,6947).  Adanya keragaman genetik antara populasi ikan kerapu tikus di BBPBL dan BBAP Situbondo memungkinkan dilakukannya outbreeding untuk mendapatkan efek heterosis. Kata kunci: mtDNA, keragaman haplotipe, diferensiasi genetik, Cromileptes altivelis
The Phenotype of Diploid and Triploid F1 of Female Kohaku and Sanke Koi with Males White and Red Koi Alimuddin, .; Sumantadinata, K.; Hadiroseyani, Yani
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 1, No 3 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Jurnal Akuakultur Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study was done to discover the effect of addition of chromosome number on phenotype F1 hybrid of females kohaku (white-red) and sanke (white-red-black) koi with males white and red koi. The white and red males koi were the F1 of gynogenesis. Spawning of koi was done by hormonal (ovaprim 0,5 ml/kg body weight) and fertilization was done artificially. Triploidization was done by heat shock at 40°C during 1,0-1,5 minutes after 2-3 minute from egg fertilization. Colour analysis was done on 4 months old fish. Triplodization was succeeding on 86,67%.  Addition of chromosome number on koi due to triploidization was suppressed the percentage of koi with combination color (kohaku, shiro-bekko, hi-utsuri, and sanke). It was seen on hybridization of sanke vs white koi as much as 5,55%, while on sanke vs red koi reached 45,02%. Hybridization of kohaku vs white koi as well as kohaku vs red koi produced higher percentages of kohaku compared to kohaku vs kohaku. Key words: Phenotype, diploid, triploid, koi fish, hybrid, chromosome   Abstrak Studi ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh penambahan jumlah set kromosom terhadap fenotipe keturunan persilangan ikan koi kohaku (putih-merah) dan sanke (putih-merah-hitam) betina dengan jantan putih dan merah. Ikan koi jantan putih dan merah merupakan hasil ginogenesis generasi pertama. Pemijahan ikan koi dilakukan dengan rangsangan hormonal ovaprim 0,5 ml/kg induk dengan sistim pembuahan buatan. Triploidisasi dilakukan dengan memberikan kejutan panas 400C selama 1,0-1,5 menit pada saat 2,0-3,0 menit setelah pembuahan telur. Analisis warna dilakukan setelah ikan berumur 4 bulan. Tingkat keberhasilan triploidisasi yang diperoleh cukup tinggi, yaitu sebesar 86,67%. Penambahan jumlah set kromosom ikan koi akibat triploidisasi menurunkan persentase ikan koi yang berwarna kombinasi (putih-merah, putih-hitam, merah-hitam dan putih-merah-hitam) sebesar 5,55% untuk persilangan sanke vs putih, dan 45,02% untuk persilangan sanke vs merah. Tingginya penurunan koi warna kombinasi diduga disebabkan adanya dominansi warna tertentu, misalnya dominansi warna hitam yang persentasenya meningkat sebesar 31,7% pada persilangan sanke vs merah. Pada persilangan kohaku dengan koi putih dan dengan koi merah, persentase kohaku lebih besar daripada perkawinan normal kohaku yang diperoleh pada tahap pertama. Persentase kohaku dari perkawinan normal kohaku hanya sebesar 18,6%, sedangkan kohaku vs putih atau dengan merah adalah sekitar 27% untuk triploidisasi dan 33% untuk persilangan  normal. Tingkat kelangsungan hidup ikan normal lebih besar daripada ikan hasil triploidisasi, kecuali persilangan sanke vs putih. Kata kunci : Fenotipe, diploid, triploid, ikan koi, hibrid dan kromosom
Correlation between Number of Spot with Body Length in Humback Grouper, Cromileptes altivelis Yahyadi, Y.; Aliah, R.S.; Murdjani, M.; Sumantadinata, K.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 3, No 2 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Jurnal Akuakultur Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The study with the objective to identify correlation between the number of black spots (dot) and total length was conducted in the humpback grouper. The spots were counted from 423 samples offish which ranged from 1.2 cm to 53.0 cm in size. The numbers of spots were observed at the body, head and fins. The simple linier regression was used to analyze correlation between the number of spots and total length. The regression between total spots (Yi) and total length (X) is Yi = 16.386 X + 80.754; the total spots of the body (Y2) and total length is Y2= 4.230 X + 1.548; the spots of the head (Y3) and total length is Y3 = 3.907 X + 31.728, and the total spots of the fins (Y4) and total length is Y4 = 5.066 X + 42.802. In general, there was a positive correlation between number of black spot and total length. A duplication like mitotic division. The process of black spots duplication probably similar to mitotic division of cell. Key words : Grouper, Cromileptes altivelis, spot (dot), body lenth   ABSTRAK Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi korelasi antara jumlah totol hitam pada ikan kerapu bebek dengan pertambahan panjang tubuhnya. Pengamatan totol dilakukan terhadap 423 ekor kerapu bebek yang berukuran panjang total 1,2 cm sampai 53,0 cm yang diperoleh dari Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo, Jawa Timur. Jumlah totol dihitung pada bagian badan, kepala dan sirip. Data dianaiisis dengan menggunakan regresi linier sederhana. Persamaan regresi linier keseluruhan jumlah totol (Y|) dengan panjang total (X) adalah Y, = 16.386 X + 80.754, jumlah totol pada badan dengan panjang badan Y2 = 4.230 X + 1.548, jumlah totol pada kepala (Y3) dengan panjang badan adalah Y3 = 3.907 X + 31.728, dan jumlah totol pada sirip (Y4) dengan panjang badan adalah Y4 = 5.066 X + 42.802. Secara umum ada korelasi positif antara jumlah totol dengan panjang total. Proses pertambahan jumlah totol diduga seperti pada proses perbanyakan sel secara mitosis. Kata kunci : Ikan kerapu, Cromileptes altivelis, totol, panjang tubuh