Articles

Found 13 Documents
Search

EKSTRAKSI MINYAK NILAM (Pogostemon Cablin BENTH) DENGAN TEKNIK HIDRODIFUSI PADA TEKANAN 1 – 3 BAR Harimurti, Niken; Soerawidjaja, Tatang H; Sumangat, Djajeng; Risfaheri, Risfaheri
Jurnal Pascapanen Pertanian Vol 9, No 1 (2012): Jurnal Pascapanen Pertanian
Publisher : Jurnal Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT. Niken Harimurti, Tatang H Soerawidjaja, Djajeng Sumangat and Risfaheri. 2012. Patchouly oil extraction with hydrodiffusiontechnique at 1 – 3 bar pressure. Patchouli oil is a type of essential oil which was obtained by pressured steam or water distillation of Pogostemoncablin Benth dried leaves. Key components of patchouli oil are patchouli alcohol and norpatchoulenol which become indicators in determiningpatchouli oil quality. This research was objected to evaluate patchouli oil extraction with hydrodiffusion technique at 1-3 bar pressure. This experimentwas designed with response surface method, with pressure (Low level 1 bar, high level 3 bars) and time (low level 3 hours, high level 12 hours) asvariables. Yield, density, refractive index, optical polarization, solubility in ethanol 90%, acid number and ester number were evaluated as the responsof the two variables. Analysis of respons surface method showed that increasing extraction pressure significantly influence in acid number while theyield of patchouli oil was influenced by pressure, time and interaction of both. Results of qualitative analysis by GC / MS showed that oil samples atno 11 (pressure 3 bar for 3 hours) contained patchouli alcohol 29.66% and norpatchoulenol 0.68%. Microhistology identification of patchouli leavesbefore and after extraction showed reduction of glandular trichomas diameter about 61.2%. Based on quality parameters values, statistical and GC /MS analysis results, the best condition for hydrodiffusion process was at 3 bar pressure for 3 hours.Keywords: patchouli oil, hydrodiffusion, patchouli alcohol, norpatchoulenol
EKSTRAKSI MINYAK NILAM (Pogostemon Cablin BENTH) DENGAN TEKNIK HIDRODIFUSI PADA TEKANAN 1 – 3 BAR Harimurti, Niken; Soerawidjaja, Tatang H; Sumangat, Djajeng; Risfaheri, Risfaheri
Jurnal Pascapanen Pertanian Vol 9, No 1 (2012): Jurnal Pascapanen Pertanian
Publisher : Jurnal Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT. Niken Harimurti, Tatang H Soerawidjaja, Djajeng Sumangat and Risfaheri. 2012. Patchouly oil extraction with hydrodiffusiontechnique at 1 – 3 bar pressure. Patchouli oil is a type of essential oil which was obtained by pressured steam or water distillation of Pogostemoncablin Benth dried leaves. Key components of patchouli oil are patchouli alcohol and norpatchoulenol which become indicators in determiningpatchouli oil quality. This research was objected to evaluate patchouli oil extraction with hydrodiffusion technique at 1-3 bar pressure. This experimentwas designed with response surface method, with pressure (Low level 1 bar, high level 3 bars) and time (low level 3 hours, high level 12 hours) asvariables. Yield, density, refractive index, optical polarization, solubility in ethanol 90%, acid number and ester number were evaluated as the responsof the two variables. Analysis of respons surface method showed that increasing extraction pressure significantly influence in acid number while theyield of patchouli oil was influenced by pressure, time and interaction of both. Results of qualitative analysis by GC / MS showed that oil samples atno 11 (pressure 3 bar for 3 hours) contained patchouli alcohol 29.66% and norpatchoulenol 0.68%. Microhistology identification of patchouli leavesbefore and after extraction showed reduction of glandular trichomas diameter about 61.2%. Based on quality parameters values, statistical and GC /MS analysis results, the best condition for hydrodiffusion process was at 3 bar pressure for 3 hours.Keywords: patchouli oil, hydrodiffusion, patchouli alcohol, norpatchoulenol
BIOKONVERSI BUAH SEMU JAMBU MENTE MENJADI KONSENTRAT PROTEIN MIKROBIAL Sumangat, Djajeng; Sembiring, B. Sofianna; Winarti, Christina
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 14, No 2 (2003): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT
Publisher : Balittro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (162.142 KB)

Abstract

Penelitian biokonversi buah semu jambu mente menjadi konsentrat protein mikrobial dilakukan di Laboratorium Fisiologi Hasil, Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat mulai bulan April 1999 sampai Maret 2000. Tujuan penelitian ada-lah untuk memproduksi konsentrat protein mikrobial dengan menggunakan buah semu jambu mente kering sebagai substratnya melalui proses fermentasi substrat padat. Perlakuan yang dicobakan adalah (A) amonium sulfat sebagai nutrien dengan konsentrasi 0, 1, 2 dan 3% dan (B) lama fermentasi yaitu 48, 72, 96, 120 dan 144 jam. Inokulan yang digunakan dalam fer-mentasi adalah Aspergillus niger. Rancang-an percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap yang disusun secara faktor tunggal, terdiri atas dua faktor dan tiga ulangan. Parameter pengamatan meliputi pertambahan bobot biomasa (%), kadar protein dari biomasa (konsentrat protein mikrobial) dan kandungan asam amino dari protein biomasa yang dihasilkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makin tinggi konsentrasi amonium sulfat, maka kadar protein konsentrat mikrobialnya makin tinggi. Kadar protein tertinggi (17,001%) dicapai pada perlakuan konsen-trasi 3 % amonium sulfat dan lama fermen-tasi 72 jam. Konsentrat protein mikrobial yang dihasilkan mengandung beberapa asam amino esensial yaitu metionin, leusin, fenil alanin, treonin, valin, histidin, tapi tidak mengandung asam amino esensial lisin dan isoleusin. Pertambahan bobot biomasa (konsentrat protein mikrobial) yang tertinggi (0,63%) dihasilkan dengan perlakuan konsentrasi 2 % amonium sulfat dan lama fermentasi 96 jam.
Kajian Teknis dan Ekonomis Pengolahan Briket Bungkil Biji Jarak Pagar Sebagai Bahan Bakar Tungku Sumangat, Djajeng; Broto, Wisnu
Buletin Teknologi Pasca Panen Vol 5, No 1 (2009): Buletin Teknologi Pascapanen Pertanian
Publisher : Buletin Teknologi Pasca Panen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.999 KB)

Abstract

Bungkil biji jarak pagar merupakan limbah hasil pengempaan biji jarak pagar yang dapat dimanfaatkan menjadi briket sebagai bahan bakar tungku. Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan jenis dan konsentrasi perekat yang sesuai untuk briket bungkil dan menentukan keragaan briket bungkil biji jarak pagar sebagai bahan bakar serta mengkaji kelayakan ekonomisnya sebagai bahan bakar pengganti minyak tanah. Pembuatan briket melalui tahapan penggilingan bungkil dan pengayakan 40 mesh, pencampuran dengan perekat, pencetakan dan pengeringan dengan oven (60oC, 24 jam). Perlakuan yang diuji adalah (A) jenis perekat (A1= tapioka dan A2= tepung gaplek) dan (B) konsentrasi perekat (B1=1%, B2=2%, B3=3%, B4= 4% dan B5= 5%). Rancangan percobaan faktorial acak lengkap dengan tiga ulangan. Pengamatan pada briket meliputi kadar air, minyak, abu, zat menguap, nilai kalor, ketahanan tekan dan kerapatan (densitas). Pengujian keragaan briket meliputi uji pembakaran dengan parameter laju pembakaran dan warna nyala api. Analisis ekonomi terhadap briket mencakup perhitungan harga jual briket dan kelayakannya sebagai bahan bakar untuk mensubstitusi minyak tanah. Hasil penelitian menunjukkan, penggunaan tapioka dan gaplek sebagai perekat briket bungkil biji jarak tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap semua parameter uji kecuali pada kadar air. Sedangkan konsentrasi perekat tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap semua parameter uji. Perekat tapioka pada konsentrasi 4% memberikan hasil yang terbaik pada kadar air, keteguhan tekan dan rata-rata laju pembakaran. Lama menyala rata-rata briket sampai menjadi abu adalah 131 menit dengan warna nyala api kekuningan.
Moisture Loss Models of Sweet Potato, Cassava and Taro During Frying Ratnaningsih, Ratnaningsih; Sumangat, Djajeng; Rahardjo, Budi
Agritech Vol 31, No 4 (2011)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/agritech.9646

Abstract

Sweet potato, cassava and taro were cut into stick (0.01 x 0.01 x 0.05 m) and deep fat fried at three temperatures (160,170 and 180 ºC) for 0 to 360 s. The effects of these cooking methods on moisture loss characteristics were evaluated. The rapid moisture loss from the sticks within the first 100 s of deep fat frying followed by considerably reduced rates. Moisture diffusivity in sweet potato, cassava and taro sticks were evaluated using analytical solution of Fick’s second law diffusion equation. Moisture diffusivities  were ranging from 1.43x10-8  to 1.99x10-8  m2/s, 1.38x10-8  to 2.25x10-8 m2/s, and 3.08x10-8 to 5.25x10-8 m2/s respectively, at temperatures ranging from 160 to 180 ºC, for sweetpotato, cassava and taro. Corresponding activation energies for moisture transfer were 26.88; 39.61 and 43.51 kJ/mol for sweet potato, cassava and taro deep fat frying, respectively.
BIOKONVERSI BUAH SEMU JAMBU MENTE MENJADI KONSENTRAT PROTEIN MIKROBIAL Sumangat, Djajeng; Sembiring, B. Sofianna; Winarti, Christina
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 14, No 2 (2003): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (162.142 KB) | DOI: 10.21082/bullittro.v14n2.2003.%p

Abstract

Penelitian biokonversi buah semu jambu mente menjadi konsentrat protein mikrobial dilakukan di Laboratorium Fisiologi Hasil, Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat mulai bulan April 1999 sampai Maret 2000. Tujuan penelitian ada-lah untuk memproduksi konsentrat protein mikrobial dengan menggunakan buah semu jambu mente kering sebagai substratnya melalui proses fermentasi substrat padat. Perlakuan yang dicobakan adalah (A) amonium sulfat sebagai nutrien dengan konsentrasi 0, 1, 2 dan 3% dan (B) lama fermentasi yaitu 48, 72, 96, 120 dan 144 jam. Inokulan yang digunakan dalam fer-mentasi adalah Aspergillus niger. Rancang-an percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap yang disusun secara faktor tunggal, terdiri atas dua faktor dan tiga ulangan. Parameter pengamatan meliputi pertambahan bobot biomasa (%), kadar protein dari biomasa (konsentrat protein mikrobial) dan kandungan asam amino dari protein biomasa yang dihasilkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makin tinggi konsentrasi amonium sulfat, maka kadar protein konsentrat mikrobialnya makin tinggi. Kadar protein tertinggi (17,001%) dicapai pada perlakuan konsen-trasi 3 % amonium sulfat dan lama fermen-tasi 72 jam. Konsentrat protein mikrobial yang dihasilkan mengandung beberapa asam amino esensial yaitu metionin, leusin, fenil alanin, treonin, valin, histidin, tapi tidak mengandung asam amino esensial lisin dan isoleusin. Pertambahan bobot biomasa (konsentrat protein mikrobial) yang tertinggi (0,63%) dihasilkan dengan perlakuan konsentrasi 2 % amonium sulfat dan lama fermentasi 96 jam.
PENGARUH UKURAN DAN SUSUNAN BAHAN BAKU SERTA LAMA PENYULINGAN TERHADAP RENDEMEN DAN MUTU MINYAK KAYUMANIS SRILANGKA ( Cinnamomun zeylanicum ) Sumangat, Djajeng; Ma’mun, NFN
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 14, No 1 (2003): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.396 KB) | DOI: 10.21082/bullittro.v14n1.2003.%p

Abstract

Penelitian mengenai cara penyulingan kulit kayumanis telah dilakukan di Laboratorium Ekofisiologi Hasil, Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor, mulai Juni sampai Desember 1997. Penelitian ini bertujuan mempelajari pengaruh ukuran dan susunan bahan baku didalam ketel suling serta lamapenyulingan terhadap rendemen dan mutu minyak kulit kayumanis Srilangka/Ceylon(Cinnamomum zeylanicumNees). Bahan baku berupa kulit batang dan dahan kayumanis berumur 13 tahun, berasal dari Kebun Percobaan Cimanggu, Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat,Bogor. Metode penyulingannya adalah metode dikukus (steam and water distillation) dengan perlakuan terdiri atas tiga faktor yaitu (1) ukuran bahan baku, (2) susunan bahan baku dalam ketel suling, dan (3) lama penyulingan. Pengamatan dilakukan terhadap rendemen minyak dan parameter mutu minyak yaitu bobot jenis, indeks bias, putaran optik, kelarutan dalam etanol, persentase total senyawa aldehida (dihitung sebagai sinamaldehida) dan analisis komponen kimia minyak kulit kayumanis. Rancangan percobaan adalah Acak Lengkap secara faktorial dengan ulangan dua kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendemen minyak semakin meningkat pada bahan yang berukuran semakin kecil serta penyulingan yang semakin lama. Rendemen tertinggi (1,08%,v/b) diperoleh pada perlakuan: susunan bahan tidak bertingkat (langsung), ukuran bahan sedang (0,5-1,0 cm) dan penyulingan selama 6 jam. Hasil analisis minyak dengan kromatografi gas menunjukkan adanya 34 macam komponen, dengan komponen kimia utama adalah sinamaldehida, eugenol,linalool dan sineol. Kombinasi perlakuan terbaik ditinjau dari mutu minyaknya adalah: susunan bahan bertingkat (dua tingkat), ukuran bahan sedang (0,5-1,0 cm) dan penyulingan 4 jam yang menghasilkan rendemen minyak 0,81% (v/b), bobot jenis (20 0C) 1,5641, putaran optik (-) 4,73 0, kelarutan dalam etanol 70% 1:1,25 dan total aldehida (sinamaldehida) 56,63%.
PENGOLAHAN BIJI JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.) MENJADI SUMBER BAHAN BAKAR NABATI DAN PEMANFAATAN PRODUK SAMPING Harimurti, Niken; Sumangat, Djajeng
Buletin Teknologi Pasca Panen Vol 7, No 1 (2011): Buletin Teknologi Pascapanen Pertanian
Publisher : Buletin Teknologi Pasca Panen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (13118.049 KB)

Abstract

Biji jarak pagar (Jatropha curcas L.) merupakan sumber bahan baku minyak non-pangan (nonedible oil)yang berasal dari tanaman. Minyak jarak pagar dapat diolah menjadi biodiesel yang berpotensi untuk alternatif substitusi minyak solar untuk bahan bakar mesin diesel atau substitusi minyak tanah. Ekstraksi minyak jarak pagar umumnya dilakukan dengan cara pengempaan mekanis yang lebih layak secara ekonomis. Minyak kasar yang dihasilkan memerlukan pemurnian sebelum digunakan sebagai bahan baku biodiesel. Proses pembuatan biodiesel dilakukan melalui proses transesterifikasi dengan meraksikan minyak dengan metanol pada nisbah molar optimal (1:6) dan katalis basa K/NaOH pada suhu reaksi 60-680C. Metil ester yang dihasilkan adalah biodiesel kasar yang memerlukan pemurnian. Karakteristik biodiesel dari minyak jarak pagar dengan biji dari Nusa Tenggara Barat memenuhi syarat mutu SNI. Sebagai hasil samping pada ekstraksi minyak, diperoleh bungkil biji jarak pagar yang dapat diolah menjadi briket biomasa untuk bahan bakar tungku. Secara teknis dan ekonomis masih belum layak dengan sifat nyala api merah kuning dan berasap. Pengembangan minyak jarak sebagai bahan baku bahan bakar nabati masih terkendala oleh terbatasnya produksi biji jarak pagar dengan harga jual yang belum kompetitif.
Peningkatan Mutu dan Efisiensi Produksi Minyak Akar Wangi Melalui Teknologi Penyulingan Dengan Tekanan Uap Bertahap Mulyono, Edy; Sumangat, Djajeng; Hidayat, Tatang
Buletin Teknologi Pasca Panen Vol 8, No 1 (2012): Buletin Teknologi Pascapanen Pertanian
Publisher : Buletin Teknologi Pasca Panen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (634.294 KB)

Abstract

Minyak akar wangi (Java Vetiver Oil) merupakan salah satu jenis minyak atsiri yang dihasilkan dari distilasi akar tanaman Vetivera zizanioides Stapf. Minyak akar wangi memiliki daya fiksasi aroma yang kuat sehingga banyak digunakan terutama dalam industri parfum, kosmetik, aromatherapy dan pewangi sabun. Mutu minyak akar wangi Indonesia relatif rendah jika dibandingkan dengan minyak asal Haiti dan Reunion. Warna yang gelap dan aroma gosong (smoky burn) pada minyak akar wangi Indonesia disebabkan oleh penggunaan tekanan tinggi (± 5 bar) yang konstan sejak awal penyulingan. Perbaikan mutu dan peningkatan efisiensi produksi minyak akar wangi perlu segera dilakukan agar minyak akar wangi Indonesia kembali dapat bersaing di pasar dunia. Peningkatan rendemen dan mutu minyak akar wangi dapat dilakukan melalui perbaikan cara panen dan penanganan pascapanen serta metode dan kondisi proses penyulingan. Penyulingan dengan tekanan uap bertahap merupakan salah satu solusi yang dapat digunakan untuk memperbaiki mutu minyak dan meningkatkan efisiensi produksi minyak akar wangi. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan tekanan uap bertahap (tekanan uap 2,0; 2,5; dan 3,0 bar dengan total waktu penyulingan 9 jam) dapat menghasilkan recovery minyak sebesar 92,58%, lebih tinggi dibandingkan dengan recovery minyak pada tekanan uap 3 bar secara konstan (90,4%). Mutu minyak yang dihasilkan memenuhi syarat SNI No. 06-2386-2006. Penggunaan tekanan uap bertahap juga dapat menghemat konsumsi energi (bahan bakar) rata-rata sebesar 8,30% dibandingkan dengan konsumsi energi yang digunakan pada penyulingan rakyat.
Optimasi Proses Metanolisis Dalam Minyak Jarak Pagar (Jatropha Curcas L) Dengan Metode Permukaan Respon Harimurti, Niken; Sumangat, Djajeng; Haliza, Winda; Risfaheri, nFN
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 7, No 1 (2010): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5839.427 KB) | DOI: 10.21082/jpasca.v7n1.2010.16-22

Abstract

Minyak jarak pagar mempunyai nilai kalor total yang tidak berbeda jauh dengan nilai kalor total bahan bakar minyak konvensional. Namun, viskositas minyak jarak pagar kasar yang tinggi menyulitkan penggunaannya secara langsung sebagai bahan bakar. Untuk menurunkan nilai viskositas minyak nabati ini, dilakukan proses transesterifikasi dengan metanol sehingga dihasilkan metil ester dari asam-asam lemaknya. Penelitian ini bertujuan mendapatkan kondisi optimum nisbah molar metanol terhadap minyak dan waktu reaksi transesterifikasi dalam memproduksi metil ester. Optimasi menggunakan Metode Permukaan Respon dengan rancangan komposit pusat faktorial penuh 22 Nisbah metanol terhadap minyak jarak (x1) dan waktu reaksi (X2) berada dalam selang 4,4<X1<6,6 dan 60<X2 <10. Reaksi transesterifikasi menggunakan katalis KOH 0,5% dari bobot minyak jarak pagar. Reaksi berlangsung dalam ketel berpengaduk 600 rpm pada suhu 60°C. Perlakuan optimum ditentukan dari karakteristik optimum metil ester yang dihasilkan. Karakterisasi meliputi kadar metil ester (persentase rendemen metil ester), viskositas kinematik dan bilangan asam. Kondisi optimum proses transesterifikasi dicapai pada nisbah molar metanol terhadap minyak jarak pagar sebesar 6,6:1 dan waktu reaksi 60 menit. Pada kondisi optimum tersebut, kadar metil ester, viskostas kinematik, dan bilangan asam masing-masing berkisar 99,192%, 4,167cSt, dan 0,112 mg KOH/g minyak. Secara umum, hasil analisis permukaan respon tersebut telah memenuhi standar mutu biodiesel (SNI 04-7102-2006). Optimization Of Methanolysis Of Jatropha Curcas L Crude Oil Applying Response Surface MethodologyJatropha oil possesses total calorific value which is not significantly different from conventional petroleum diesel. However, its high viscosity makes it difficult to be used directly as fuel. The oil has to be converted into methyl ester through methanolysis (transesterification) process before it could be used effectively to substitute diesel fuel. The aim of this research was finding the optimum condition of the methanol molar ratio to oil and reaction time (duration of transesterification process) on the methyl ester yield and the characteristics of methyl ester especially viscosity and acid number. Optimization was conducted using Response Surface Method. Factors tested in this experiment were molar ratio of methanol to jatropha oil (5:1 and 7:1), and reaction times (50 minutes and 120 minutes). Transesterification process was conducted at 60°C in a reactor equipped with stirrer 600 RPM using KOH 0.5% of oil volume as catalyst. Parameters observed were methyl ester content (indicating percent of methyl ester yield), kinematic viscosity and acid number. Optimum conditions was achieved at molar ratio 6.6: I and reaction time 60 minutes. At these optimum points, the characteristics of methyl ester were as follow: percentage of methyl ester yield 99.192%, kinematic viscosity 4.167cSt and acid number 0.112 mg KOH/g oil. These values met the Indonesian National Standard of biodiesel (SNI 04-7102-2006).