Articles

Found 5 Documents
Search

KAJIAN INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH INDUSTRI ELEKTROPLATING YANG EFISIEN Sumada, Ketut
Teknik Kimia Vol 1, No 01 (2006): JURNAL TEKNIK KIMIA
Publisher : jurusan teknik kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam rangka menurunkan biaya investasi dan operasiona llimbah industri elektroplating diperlukan pengkajian terhadap berbagai teknologi pengolahan air limbah industri elektroplating. Pada penelitian ini teknologi pengolahan air limbah untuk industri elektroplating yang dikaji adalah Proses Kimia-Fisik dengan Teknologi Tangki Berpengaduk aliran kontinyu dan Proses Pertukaran Ion dengan Teknologi Unggun Diam (fixed bed).Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan suatu proses dan teknologi pengolahan air limbah industri elektroplating yang efisien dilihat dari segi biaya operasionalnya, serta kualitas air hasil pengolahan yang memenuhi standar Baku Mutu Air Limbah.Penelitian dengan proses kimia-fisik menggunakan bahan kimia ferro sulfat (FeSO4) sebagai reduktor, natrium hidroksida (NaOH) dan kalsium hidroksida (Ca(OH)2) sebagai presipitat (bahan pengendap). Variabel proses pada kombinasi ferro sulfat-natrium hidroksida : Derajat keasaman (pH) : 5, 7, 9, 11, dan 13, sedangkan pada kombinasi ferro sulfat-kalsium hidroksida : derajat keasaman (pH) : 5, 7, 9 dan 11 serta laju alir air limbah : 200, 400, 600, 800, 1000 ml/menit.Penelitian dengan proses pertukaran ion menggunakan resin kation sebagai penukar ion logam berat bermuatan positif (Cr+3, Cu+2, Zn+2, Pb+2 dan Cd+2), dan resin anion penukar ion logam berat bermuatan negatif (Cr2O7-2 dan CN-). Variabel proses : berat resin kation dan anion : 500, 750, 1000, 1250 gram, volume air terolah : 20, 40, 60, 80, 100, 120, 140, 160, 180 dan 200 liter serta pengujian terhadap resin yang telah diregenerasi dengan mempergunakan larutan natrium hidroksida 5% berat.Hasil penelitian menunjukan bahwa proses kimia-fisik dan pertukaran ion dapat menurunkan konsentrasi ion logam berat air limbah industri elektroplating hingga dibawah nilai baku mutu air limbah, pada proses kimia-fisik kondisi terbaik pada pH 9 dan laju alir 400 ml/menit, biaya operasional dengan kombinasi ferro sulfat-natrium hidroksida sebesar Rp 7.150/m3, ferro slufat-kalsium hidroksida Rp 51.500/m3, waktu tinggal tangki reduksi : 24 menit, tangki presipitasi 22 menit dan clarifier 1,5 jam.Pada proses pertukaran ion jika resin dipergunakan sekali dalam operasional, biaya operasionalnya Rp 250.000/m3, tetapi jika resin dipergunakan berulang-ulang dengan regenerasi biaya operasional Rp 1250/m3. In order to decrease the investation and operational cost of electroplating industry waste, study on various kind of electroplating industry waste water treatment technology is needed. In this research, the studied waste water treatment technology for electroplating industry was Physic-Chemistry Process conducted with the technology of Continuous Stream Tank with Stirring Rod and Ion Exchange Process with Fixed Bed Technology.This research aimed to yield an efficient electroplating industry waste water treatment technology and process measured from it’s operational cost aspect, and also the quality of treatment product water which meets Waste Water Quality Standard.Research was conducted with physic-chemistry process using FeSO4 as reductor, NaOH and Ca(OH)2 as precipitator. Process variables at FeSO4-NaOH combination : acidity degree (pH) : 5, 7, 9, 11, dan 13; at FeSO4-Ca(OH)2 combination : acidity degree (pH) : 5, 7, 9, dan 11, and waste water flow velocity : 200, 400, 600, 800, 1000 ml/minute.Research was conducted with ion exchange process using cation resin as ion exchanger for heavy metal with positive ion (Cr+3, Cu+2, Zn+2, Pb+2, and Cd+2), and ion exchanger anion resin for heavy metal with negative ion (Cr2O7-2 and CN-). Process variables : the weight of cation and anion resin : 500, 750, 1000, 1250 gram, the volume of processed water : 20, 40, 60, 80, 100, 120, 140, 160, 180, and 200 litre, and testing over resin which had been regenerated using NaOH solution with 5% weight.The result of research showed that physic-chemistry process and ion exchange could decrease the concentration of electroplating industry waste water heavy metal ion down to the quality standard amount of waste water, at physic-chemistry process with the best condition at pH 9 and flow velocity 400 ml/minute, operational cost with FeSO4-NaOH combination as much as Rp 7.150/m3, FeSO4-Ca(OH)2 Rp 51.500/m3, reduction tank left time : 24 minutes, precipitation tank 22 minutes and clarifier 1,5 hours.At ion exchange process if resin was used once at operational, the operational cost was Rp 250.000/m3, but if resin was used repeatedly with regeneration then the operational cost was Rp 1250/m3.
GARAM INDUSTRI BERBAHAN BAKU GARAM KROSOK DENGAN METODE PENCUCIAN DAN EVAPORASI Sumada, Ketut; Dewati, Retno; Suprihatin, Suprihatin
Teknik Kimia Vol 11, No 1 (2016): JURNAL TEKNIK KIMIA
Publisher : jurusan teknik kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Garam krosok atau disebut “Crude Solar Salt” merupakan garam yang dihasilkan melalui proses evaporasi dan kristalisasi air laut. Beberapa garam krosok yang dihasilkan khususnya di Jawa Timur mempunyai kualitas yang berbeda-beda hal ini dipengaruhi oleh kualitas air laut sebagai bahan baku, fasilitas produksi yang tersedia dan penanganan pasca panen. Empat contoh garam krosok yang diperoleh dari berbagai sentra garam di Jawa Timur mempunyai kadar natrium klorida yang berbeda-beda yaitu : 89.25% ; 82.32% ; 83.65% dan 88,34 % (dry base), sisanya adalah bahan pengotor seperti ion magnesium (Mg), kalsium (Ca), sulfat (SO4) dan lainnya. Garam krosok yang dihasilkan memiliki kualitas rendah karena kandungan natrium klorida (NaCl) hanya berkisar antara 80-90 %, kualitas ini masih berada dibawah dari standar nasional Indonesia (SNI) yaitu kadar NaCl minimal 94,7 % untuk garam konsumsi dan diatas 98 % untuk garam industri. Dalam rangka memenuhi standar nasional Indonesia (SNI) untuk garam konsumsi maupun garam industry, perlu dilakukan pengolahan terhadap garam krosok yang tersedia, proses yang dilakukan meliputi proses PENCUCIAN dengan larutan garam mendekati jenuh (300 gram/liter air) yang bertujuan untuk menghilangkan kandungan bahan pengotor “tidak terlarut” seperti tanah, debu dan pasir, serta bahan pengotor “terlarut” seperti ion magnesium (Mg), kalsium (Ca), sulfat (SO4) dan kalium (K). Proses EVAPORASI sering disebut rekristalisasi dilakukan setelah proses pencucian, meliputi proses pelarutan garam dan evaporasi, evaporasi dilakukan secara bertahap dan evaporasi total dan partial.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas garam krosok yang dihasilkan setiap daerah berbeda-beda dengan kisaran kandungan NaCl : 82.32% - 89.25%, proses pencucian dengan larutan garam mendekati jenuh menghasilkan garam dengan kadar NaCl: 94,85 % - 98,14 %, proses evaporasi tahap pertama menghasilkan garam dengan kadar NaCl : 97,75 % - 99,21 %, proses evaporasi tahap kedua dengan evaporasi total menghasilkan garam dengan kadar NaCl : 98,67 % - 99,43 % dan dengan evaporasi partial menghasilkan garam dengan kadar NaCl : 99,34 % - 99,73 %. Proses pencucian dapat menghasilkan garam yang memenuhi standar garam konsumsi, dan proses evaporasi tahap kedua secara total maupun partial dapat menghasilkan garam yang memenuhi standar garam industri.
KARAKTERISTIK NATRIUM SILIKA DARI GEOTHERMAL SLUDGE DAN ABU BAGASSE Sumada, Ketut; Palaguna, Kadek Aditya; Anggun, Brendayani
Teknik Kimia Vol 11, No 2 (2017): JURNAL TEKNIK KIMIA
Publisher : jurusan teknik kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Limbah geothermal dan abu bagasse merupakan limbah yang mengandung silika amorf yang sampai saat ini belum dimanfaatkan secara optimal. Kebutuhan Natrium Silikat dipasaran cukup tinggi sehingga dibutuhkan suatu  penelitian yang bertujuan untuk memenuhi standart nilai rasio SiO2/Na2O (Modulus) natrium silikat. Pada penelitian ini dipelajari  pengaruh konsentrasi Natrium Hidroksida (NaOH) dan berat bahan baku terhadap modulus natrium silikat. Proses pembentukan natrium silikat dilakukan menggunakan metode ekstraksi dengan pelarut basa (natrium hidroksida) pada suhu 100oC dalam waktu ekstraksi 60 menit. Larutan natrium silika yang dihasilkan dianalisis kadar natrium dan silikanya dan dihitung besarnya modulus yang dihasilkan. Variabel proses yaitu konsentrasi larutan natrium hidroksida : 0,5 N, 1,5 N, dan 2,5 N serta berat limbah geothermal dan abu bagasse yang diekstraksi yaitu :  60, 90, 120, 150 dan 180 gram. Laturan natrium hidroksida yang digunakan yaitu 1 liter. Temperatur proses ekstraksi 1000C dan waktu ekstraksi 60 menit. Hasil penelitian menunjukkan modulus terbesar yang diperoleh yaitu 2,00 sedangkan untuk limbah abu bagasse modulus yang diperoleh 1,34. Berdasarkan hasil berat jenis dan modulus tersebut dapat diketahui bahwa limbah geothermal sludge memberikan modulus yang lebih besar dibandingkan dengan limbah abu bagasse.
REMOVAL IMPURITIS GARAM DENGAN METODE PERTUKARAN ION SECARA BATCH Pujiastuti, Caecilia; Ngatilah, Yustina; Sumada, Ketut; Putri, Dinar Ismilla; Laila, Indah Nur
Journal of Research and Technology Vol 5, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.2577043

Abstract

Salt is one of the community and industrial consumption products that have the main content of sodium chloride (NaCl). The present quality of the salt product contains about 90-93% sodium chloride, and the other is known as an impurities of calcium (Ca), magnesium (Mg), potassium (K) and sulfate (SO4) ions. The presence of these impurities will decrease the quality of the salt product, so a method is needed to decrease the content of impurities in the salt product. One of the methods that can be used to reduce the levels of impurities such as Ca, Mg, K and sulfate (SO4) ions in salt solution is ion exchange method. In this study we studied the effect of cation resin amount (50-150) grams per liter of salt solution and anion solution (150 grams) and contact time (5-25) minutes on removal of Ca, Mg, K and SO4 ions. The study was conducted in a stirred tank with a fixed rotation speed of 200 rpm, and the initial quality of the salt solution contained Ca ions: 0.07%, Mg: 0.09%, K: 0.04% and SO4: 0.4%. Based on the result of the research, the removal of Ca ion: 93.6%,Mg :78.93%, K : 25.00% dan SO4 : 85.47 %at condition of cation resin amount: 150 gram / liter and contact time 25 minutes
Synthesis of Matrix Si-K-HAs Gel from Geothermal Sludge and Peat Muljani, Srie; Wahyudi, Bambang Wahyudi; Suprihatin, S; Sumada, Ketut
Reaktor Volume 18 No. 2 June 2018
Publisher : Dept. of Chemical Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/reaktor.18.2.76-83

Abstract

The synthesis of matrix silica-potassium-humic acid gel (Si-K-HAs) has been performed successfully by gradual extraction and acidification method. The extraction was carried out in two stages: 1) extraction of humic substances from peat prepared by potassium hydroxide to produce potassium humate (K-HAS) solution, 2) extraction silica from geothermal sludge using K-HAs solution to produce Si-K-HAs solution. Acidification of Si-K-HAs solution prepared by citric acid (1-3N) to produce matrix gel of Si-K-HAs. The Si-K-HAs matrix gel products are characterized by Fourier Transform InfraRed (FTIR), X-ray fluroscence (XRF), and Brunauer–Emmett–Teller (BET) analysis. The acidification process was carried out in neutral to acid (pH 3-7) conditions and the results showed that at neutral pH no Si-K-HAs gel formed. IR spectra confirmed the presence of humic acid in the gel product, whereas XRF analysis confirmed the presence of potassium (K) and silica (SiO2) in the gel product. The molar ratio of SiO2:K2O in the product is 0.9 - 0.3 in the pH range of 3-5. Si-K-HAs powder can be used as soil fertilizer especially for soils that lack silica, humic, and potassium nutrients or for future application development. Keywords: gradual extraction; geothermal sludge; matrix gel; humic substance