Articles

Found 26 Documents
Search

Pengaruh Generalisasi Unit Lahan pada besarnya Erosi (Studi kasus di DAS Air Nelas, Propinsi Bengkulu) Sulistyo, Bambang
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 2, No 1 (2008)
Publisher : Jurnal Ilmu Kehutanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

The research aims to identify the effect of land unit generalisasion on the erosion at the Air Nelas catchment area in Bengkulu Province. Land unit generalisation is one step to be done in arrangin RTL-RLKT (Rencana Teknik Lapangan-Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah; Field Planning for Soil Rehabilitation and Conservation) conducted by Balai Pengelola DAS (formerly Balai RLKT).Method applied by conducting digital analysis using GIS Program to calculate erosion of the catchment area with USLE (Universal Soil Loss Equation) formula. Comparison analysis was done between the result of erosion before and after land unit generalisation. Land unit generalisation is a process to eliminate land unit having area 1 cm2 on map or 25 hectares on the field at the scale of 1:50.000. The instruction to run generalisation in ArchInfo GIS program is ELIMINATE. Land unit generalisation is done to simplify map analysis manual by avoiding land unit which is very small in the area.The research result showed that for the whole Air Nelas catchment area the erosion rate was 601,279.49 ton/ha/year before generalisation and 267,907.54 ton/ha/year after generalisation, indicating that there was a 33,371.95 ton/ha/year difference or 55.44% as the effect of land unit generalisation process. When the observation was mainly at the area of rehabilitation and conservation, there were categorical changes of the erosion i.e. from Moderate to Heavy or Very Heavy and vice versa. The change was varying between 148,244.82 ton/ha/year (Moderate to Very Heavy) and 79,470.62 ton/ha/year (Very Heavy to Moderate). Overall, the erosion was increaasing aas 65,335.90 ton/ha/year (11,01%) for the whole category in area where rehabilitatin and conservation have to be conducted. Those changes would affect the plan which determine recommendations to be taken in rehabilitation and conservation of catchment areas, as well as change in the project location and budget. Keywords: generalisation, land unit, erosion
PEMETAAN FAKTOR C YANG DITURUNKAN DARI BERBAGAI INDEKS VEGETASI DATA PENGINDERAAN JAUH SEBAGAI MASUKAN PEMODELAN EROSI DI DAS MERAWU Sulistyo, Bambang; Gunawan, Totok; Hartono, Hartono; Danoedoro, Danoedoro
Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 18, No 1 (2011)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji berbagai indeks vegetasi yang diturunkan dari data penginderaan jauh dalam pemetaan faktor C sebagai masukan dalam pemodelan erosi USLE (Universal Soil Loss Equation). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menganalisis data penginderaan jauh Landsat 7 ETM + sehingga menghasilkan berbagai indeks vegetasi yang kemudian dilakukan analisis korelasi dengan Faktor C yang diukur di lapangan pada 45 lokasi. Dari analisis ini diperoleh suatu model untuk pemetaan faktor C (C model ) dari berbagai indeks vegetasi. Peta faktor C yang diperoleh kemudian dilakukan validasi pada 48 lokasi sehingga akan diketahui keakuratan hasil pemodelan. Dalam penelitian ini dikaji 11 (sebelas) indeks vegetasi yang diturunkan dari data penginderaan jauh, yaitu ARVI, MSAVI, TVI, VIF, NDVI, TSAVI, SAVI, EVI, RVI, DVI, dan PVI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 11 indeks vegetasi yang dikaji terdapat 8 indeks vegetasi yang menghasilkan peta faktor C dengan ketelitian yang tinggi, yaitu MSAVI, TVI, VIF, NDVI, TSAVI, SAVI, EVI, dan RVI. Indeks vegetasi yang menggunakan rumus yang lebih kompleks menghasilkan koefisien korelasi yang lebih tinggi dibanding dengan indeks vegetasi yang menggunakan rumus yang sederhana. Indeks vegetasi yang mempertimbangkan latar belakang tanah (MSAVI dan TSAVI) mempunyai koefisien korelasi lebih tinggi dibanding dengan koefisien korelasi yang tidak mempertimbangkan latar belakang tanah.
TOWARD A FULLY AND ABSOLUTELY RASTER-BASED EROSION MODELING BY USING RS AND GIS Sulistyo, Bambang; Gunawan, Totok; ., Hartono; Danoedoro, Projo
Indonesian Journal of Geography Vol 41, No 2 (2009): Indonesian Journal of Geography
Publisher : Faculty of Geography, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

The erosion map data is one of important data used in planningconservation of degraded land. Generally, erosion data is predicted using a modelbecause to gain actual erosion requires much resource (timely, costly and labourintensive). USLE (Universal Soil Loss Equation) is one of existing erosion modelsapplied worlwide, including Indonesia. Nevertheless, erosion analysis conducted isbased on analysis using vector-based maps. This method involves simplification,either algorithms or procedures, and subject to subjectivity, so the result has highuncertainty. This article deals with the idea to build a fully raster-based erosionmodeling. Steps required to obtain raster-based data was highlighted as from thebeginning up to the model validation to get an absolute model. The integration ofremote sensing and GIS was inevitably usedfor the analysis.
PENGEMBANGAN MULTIMEDIA PEMBELAJARAN INTERAKTIF SISTEM BAHAN BAKAR INJEKSI, SISTEM PENDINGIN AIR DAN TRANSMISI OTOMATIS PADA SEPEDA MOTOR MATIC INJEKSI Sulistyo, Bambang
AUTOTECH - Pendidikan Teknik Otomotif Vol 6, No 1 (2015): Jurnal Autotech
Publisher : Pendidikan Teknik Otomotif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Penelitian kolaboratif ini merupakan penelitian pengembangan media pembelajaran, yangbertujuan untuk mengetahui proses pembuatan, tingkat validitas, dan kelayakan mediapembelajaran sistem bahan bakar injeksi, sistem pendingin air dan transmisi otomatis padasepeda motor matic injeksi dengan menggunakan software Adobe flash.Penelitian ini termasuk jenis penelitian Research and Development (R & D). prosedur yangdilakukan terdiri dari: a) Analisis kebutuhan, b) Pengembangan produk media pembelajaran, c) Ujivalidasi oleh ahli materi dan ahli media, d) Revisi, e) Uji coba oleh mahasiswa selaku pengguna, e)Revisi, f) Hasil akhir pembuatan media pembelajaran.Hasi yang didapatkan yaitu: 1) Proses pengembangan media pembelajaran Proses pembuatanmedia pembelajaran sistem bahan bakar injeksi, sistem pendinginan air dan transmisi otomatispada sepeda motor matic injeksi dengan menggunakan software Adobe dilakukan melaluitahapan identifikasi kompetensi sesuai dengan media yang akan dikembangkan, pembuatanrancangan materi, pengumpulan bahan-bahan, pembuatan media dengan adobe flash, validasidari ahli materi, ahli media, dan mahasiswa selaku pengguna, 2) Media pembelajaran yang dibuatmemiliki tingkat kesesuaian dengan silabus sebesar 2.67 (sesuai) dan aspek belajar mandiri 4.0(sangat bisa dipergunakan untuk belajar secara mandiri oleh mahasiswa), dan 3) Mediapembelajaran yang dikembangkan memiliki penilaian kelayakan dengan skor 2.71 (layak) oleh ahlimedia dan 2.87 (layak) oleh mahasiswa selaku pengguna media pembelajaran.Kata kunci: media pembelajaran, sistem bahan bakar injeksi, sistem pendingin air, transmisiotomatis,
PEMANFAATAN TERPENTIN UNTUK MENGURANGI EMISI GAS BUANG PADA SEPEDA MOTOR Sulistyo, Bambang
AUTOTECH - Pendidikan Teknik Otomotif Vol 6, No 2 (2015): Jurnal Autotech
Publisher : Pendidikan Teknik Otomotif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan motor 4 langkah dengan mengaplikasikan sisteminjeksi bahan bakar Programmed Fuel injection (PGMFI) dengan bahan bakar terpentin.Eksperimen dilakukan untuk mengetahui pengaruh perubahan sistem bahan bakar pada unjukkerja motor dan emisi gas buang. Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi industriotomotif terutama untuk mengembangkan motor 4 langkah dan mengurangi emisi gas buang.Penelitian ini menggunakan motor Honda PGM-FI (125 cc) dan mengaplikasikan sistem injeksibahan bakar Programmed Fuel Injection (PGMFI) milik Honda Supra-X. Injektor substitusi sistembahan bakar terpentin injeksi dipasang pada saluran masuk (intake manifold). Tekanan injeksipada terpentin injeksi berada pada 3.0 bar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa substitusi sistembahan bakar premium (bensin) dengan terpentin injeksi dapat menurunkan emisi gas buangmotor. Hasil pencampuran 80 % premium dan 20 % terpentin memberikan hasil paling baik. EmisiCO, HC, CO2, paling sedikit ditemukan pada variasi pencampuran ini. Data juga menunjukkanbahwa pada variasi ini emisi O2 paling sedikit. Hal ini mengindikasikan bahwa terjadi pembakaransempurna dalam ruang bakar kendaraan sehingga oksigen yang tersisa sedikit.Kata kunci: bensin, gas buang, motor, terpentinPENDAHULUANKehidupan
MULTIKULTURALISME DI BIMA PADA ABAD X – XVII Sulistyo, Bambang
Paramita: Historical Studies Journal Vol 24, No 2 (2014): PARAMITA
Publisher : History Department, Semarang State University and Historian Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v24i2.3120

Abstract

The authors tend to argue that the history of Bima, in West Nusatenggara  was started  in early 17th century, when Bima development  political relations with South Sulawesi. Hindu civilization in the form of worship in Wadu Paha, be overlooked, was regarded as a foreign culture. Historians tend to argue that Bima before Islam, have animism and dynamism belief. There are tendency rejects reality the Javanese role in history of Bima.This argument is not rational. What is the benefit of foreigner build a place of worship in one community who has different beliefs? This article would reconstruction history of Bima with appreciate the various components of culture that shaped his civilization. Elements of pre- Islamic became an important civilization component; not only animism and dynamism, but also Hindu . It is still apparent as the idealism of Bimanese  in the present.Keywords: multiculturalism, ethnic, BimaPara penulis sejarah Bima berpendapat bahwa awal peradaban Bima dimulai pada abad  17, ketika Bima menjalin hubungan-hubungan politik dengan Sulawesi Selatan. Peradaban Hindu berupa kompeks peribadatan di Wa du Paha, cenderung diabaikan, dianggap sebagai kebudayaan asing. Para sejarawan cenderung berpendapat bahwa Bima sebelum Islam, memiliki kepercayaan animisme dan dinamisme. Ada kecenderungan subyektivitas yang menolak peran Jawa dalam  sejarah Bima.  Namun apabila dicermati pendapat  ini tidak rasional. Apa kepentingan orang Asing membangun tempat peribadatan  di suatu komunitas yang memiliki kepercayaan yang berbeda.  Tulisan ini berupaya merenkonstruksi kembali sejarah Bima dengan menempatkan dan menghargai berbagai komponen kebudayaan Bima  yang telah membentuk peradabannya. Unsur-unsur pra Islam menjadi unsure penting peradaban tidak hanya animism dan dinamisme, tetapi juga Hindu. Hal ini masih nampak jelas sebagai idealism orang Bima di masa kini.Kata kunci: multikulturalisme, etnis, Bima  
BEBERAPA CATATAN TENTANG SEJARAH NEGARA INDONESIA TIMUR Sulistyo, Bambang
Lensa Budaya: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Budaya Vol 12, No 1 (2017): Jurnal Lensa Budaya
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.809 KB)

Abstract

Sejarah Sulawesi Selatan antara tahun 1945-1950 telah banyak diulas oleh para sejarawan. Namun membaca sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa tidak dengan sendirinya memperkuat integrasi bangsa. Dengan melihat penulisan sejarah tentang Negara Indonesia Timur karya-karya Anak Agung Gde Agung dan karya R.Z. Leirissa menunjukkan adanya beragam penafsiran. Mencerdaskan masyarakat dengan menulis sejarahnya boleh jadi akan memicu disintegrasi bangsa. Oeh karena itu pembelajaran sejarah belum cukup tanpa mempertimbangkan proses pembelajaran. Makalah ini berupaya membahas karya-karya sejarah Sulawesi Selatan utamanya deskripsi dan pendekatannya, serta pembelajaran sejarah Indonesia, khususnya pada siswa Sekolah Menengah Atas, agar dapat memperkuat proses integrasi bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Conservation Priority Land Selection in Sangiran Mountainous Dome Area using Remote Sensing Data Sulistyo, Bambang
Forum Geografi Vol 10, No 2 (1996)
Publisher : Forum Geografi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of this study is to describe the features of soil forms on PKS derived from the data which are related to the erosions that happen. Based on this, the location of the priority of the soil conservation can be chosen. The research geomorphologic hazard method applied in this study is the continuation of the previous research which has yielded the study of soil form area. The result of that study is combined to other data to know IBE which covers topography, slope area, the count, it can be determined the priority of the soil conservation based on the delineation of the soil forms which are interpreted from remote sensing data especially the aerial photograph. The conclusion are 1) the choice of the priority of soil conservation and cultivating plants an be done by knowing IBE; 2) the degree of priority of the soil conservation and plant cultivation in PKS depend on the spreads of the soil forms. The soil forms happened is the features of the difference of rock formations, litology, the degree of erosion, landslide, and the process of diafirism. The priority sequences of the loations of the soil conservation and plant cultivation are S3 dan S4 followed by S5, s1, S2, and finally F1.
PROSES PENGEMBANGAN KETERAMPILAN MEMBACA PEMAHAMAN (READING COMPREHENSION) MAHASISWA Sulistyo, Bambang
Semantik Vol 2, No 2 (2013): Volume 2 Number 2, September 2013
Publisher : STKIP Siliwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (370.222 KB) | DOI: 10.22460/semantik.2.2.29-46

Abstract

In reading comprehension depends on three factors. The first factor is that the reader understand the text structure. The second factor is that the reader can perform metacognitive control over the content being read. This means that the reader is able to monitor and reflect on the level of comprehension when reading the material. The third and most important criteria, which affect the understanding is that the reader has sufficient background to the content of the text and vocabulary are presented Tankersley (90-91). Good readers in reading comprehension, will be actively involved and thought processes. Good readers during the reading process will find connections between background knowledge with new information in the text. Readers sift relevant new information or that are not relevant to their background knowledge which is astorehouse of information and life experiences.Kata Kunci: Membaca Pemahaman, Literasi, Pengetahuan Latar, Metakognitif
PEMODELAN FAKTOR K BERBASIS RASTER SEBAGAI MASUKAN PEMODELAN EROSI DI DAS MERAWU, BANJARNEGARA, PROVINSI JAWA TENGAH Sulistyo, Bambang
Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 22, No 2 (2015)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji ketelitian absolut pemodelan faktor K berbasis raster sebagai masukan dalam pemodelan erosi Universal Soil Loss Equation (USLE) di Daerah Aliran Sungai (DAS) Merawu, Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah.Metode yang digunakan adalah dengan mengambil 30 sampel tanah secara stratified random sampling berdasarkan bentuklahan DAS Merawu. Sampel tanah tersebut kemudian dianalisis di laboratorium sehingga diperoleh tekstur, permeabilitas, bahan organik, dan struktur yang diperlukan untuk menghitung faktor K menggunakan rumus yang sudah ada. Dari 30 sampel yang diambil, 24 sampel digunakan untuk menghitung faktor K dalam pemodelan, sedangkan 6 sampel lainnya digunakan sebagai uji model. Pengeplotan nilai K pada sampel di atas peta dilakukan sesuai dengan lokasi sampel, kemudian dilakukan digitasi dan rasterisasi dan dilakukan interpolasi spasial untuk memperoleh Peta K untuk setiap piksel dengan metode Kriging. Hasil pemodelan K tersebut (Kmodel) kemudian diuji pada 6 lokasi (Kaktual) untuk mengetahui ketelitian pemodelan. Kmodel dikatakan teliti jika memiliki nilai ≥ 80% terhadap Kaktual.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemodelan faktor K berbasis raster di DAS Merawu mempunyai ketelitian melebihi nilai ambang yang ditetapkan, yaitu sebesar 89,068%, yang menunjukkan bahwa peta hasil pemodelan menggunakan analisis Kriging dapat digunakan untuk analisis lebih lanjut dalam menghitung erosi.