Articles

Found 32 Documents
Search

PENENTUAN KREATININ DALAM URIN SECARA KOLORIMETRI DENGAN SEQUENTIAL INJECTION-FLOW REVERSAL MIXING (SI-FRM) Sulistyarti, Hermin; Sabarudin, Akhmad; Istanti, Yudha Ikoma; Wulandari, Eka Ratri Noor
Jurnal Sains dan Terapan Kimia Vol 5, No 2 (2011)
Publisher : Jurnal Sains dan Terapan Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sequential injection analysis (SIA), generasi kedua dari sistem injeksi alir telahdikembangkan untuk penentuan kreatinin sebagai indeks medis kegagalan ginjalkronis. Pendeteksian kreatinin didasarkan pada reaksi Jaffe yang terjadi antarakreatinin dan asam pikrat dalam medium basa untuk membentuk senyawaberwarna merah-oranye. Absorbansi dari senyawa yang terbentuk diukur padapanjang gelombang 530 nm. Dalam penelitian ini, suatu konsep baru dari SIAyang disebut “lab-at-valve” dikembangkan dengan menambahkan suatu ValveMixing sebagai tempat untuk memaksimalkan pembentukan senyawa antarakreatinin dan alkali-pikrat. Parameter-parameter yang mempengaruhi metode iniantara lain laju alir produk, waktu delay, volume sampel, volume reagen,konsentrasi reagen dan senyawa pengganggu telah dipelajari secara rinci. Darihasil penelitian diperoleh bahwa kondisi optimum akan tercapai pada laju alir 20μL/detik, waktu delay 5 detik, komposisi penggunaan 100 μL sampel dengan 300μL reagen (asam pikrat 0,03 M dan NaOH 3 %) sehingga limit deteksi padapenentuan kreatinin yang dihasilkan sebesar 3,01 μg/g. Aplikasi dari metode iniditujukan untuk penentuan kreatinin dalam sampel urin.Kata kunci : Kreatinin, reaksi Jaffe, SI-VM, RGB kolorimetri, urin
PENGARUH KONSENTRASI AMONIA DALAM PROSES PEMBENTUKAN KOMPLEKS Au(NH3)2+ Umaningrum, Dewi; Mulyasuryani, Ani; Sulistyarti, Hermin
Jurnal Sains dan Terapan Kimia Vol 6, No 2 (2012)
Publisher : Jurnal Sains dan Terapan Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang pengaruh konsentrasi ammonia dalam proses pembentukan kompleks Au(NH3)2+. Tahapan dalam penelitian ini yaitu proses pelarutan serbuk emas dalam larutan ammonia pada beberapa konsentrasi ammonia dan kemudian diukur besarnya konsentrasi emas yang terlarut yang menunjukkan jumlah kompleks Au(NH3)2+ yang terbentuk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi ammonia optimum pada proses pembentukan kompleks Au(NH3)2+ sebesar 7 M dengan jumlah Au terlarut sebesar 0,618 ppm.Kata kunci : kompleks Au(NH3)2+, ammonia.
KARAKTERISASI ELEKTRODA SELEKTIF ION (ESI) RODAMINA B BERMEMBRAN POLIMER CAMPURAN PVC – DOP DENGAN KITOSAN SEBAGAI CARRIER Kurniati, Tuti; Atikah, Atikah; Sulistyarti, Hermin
Jurnal Sains dan Terapan Kimia Vol 7, No 1 (2013)
Publisher : Jurnal Sains dan Terapan Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini membuat dan mengkarakterisasi Elektroda Selektif Ion (ESI) sebagai metode alternatif dalam penentuan Rodamina B secara kuantitatif pada makanan. Metode Elektroda Selektif Ion mudah digunakan untuk pengukuran di lapangan dan hasil pengukurannya memiliki sifat selektif dan sensitif. Elektroda Selektif Ion terdiri atas 4 bagian yaitu : Badan elektroda yang terbuat dari plastik polietilen, konduktor berupa kawat platina, membran menggunakan bahan aktif kitosan dan kabel koaksial RG 58 sebagai penghubung Elektroda Selektif Ion pada potensiometer. Optimasi komposisi membran yang kompatibel dan homogen pada ESI Rodamina B dilakukan dengan % berat perbandingan Kitosan:PVC:DOP adalah (4:32:64 ; 4:34:62 ; 4:35:61 ; 5:34:61; 5:35:60 dan 6:35:59). Total keseluruhan berat membran adalah 1 g dalam pelarut tetrahidrofuran (THF) dengan perbandingan 1:3 (b/v) yang dilapiskan pada kawat platina. Pengaruh waktu prakondisi (dopan) dilakukan dengan tujuan meningkatkan konduktivitas membran ESI yang telah dibuat. Perendaman membran dilakukan dalam larutan RCOONa 0,5 M dengan variasi waktu perendaman membran ESI selama 10, 20, 30, 40, 50, 60, 70 dan 80 menit. Karakterisasi sifat dasar ESI yang dibuat meliputi: faktor Nernst, kisaran konsentrasi pengukuran, batas deteksi, waktu respon, dan life time. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ESI yang dibuat menghasilkan karakteristik optimum untuk pengukuran analisis dengan faktor Nernst 58,86 mV/dekade konsentrasi, batas deteksinya 5,79 ppm, waktu respon yang cepat berkisar 30 detik dan memiliki life time hingga 45 hari. Komposisi penyusun membran optimal perbandingan kitosan:PVC:DOP adalah 4:34:62 dengan waktu perendaman optimum 30 menit.Kata kunci : rodamina B, pewarna makanan, elektroda selektif ion (ESI)
KARAKTERISASI ELEKTRODA SELEKTIF ION (ESI) KROMAT TIPE KAWAT TERLAPIS BERBASIS KITOSAN Kurniasih, Dedeh; Atikah, Atikah; Sulistyarti, Hermin
Jurnal Sains dan Terapan Kimia Vol 7, No 1 (2013)
Publisher : Jurnal Sains dan Terapan Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telah dibuat dan dikarakterisasi suatu elektroda selektif ion (ESI) kromat tipe kawat terlapis. Komposisi optimum membran didapatkan dari campuran kitosan, alikuot 336-kromat, polivinilklorida (PVC) dan dioktilftalat (DOP) sebagai plasticizer dengan perbandingan 4:0,5:35:60,5 (% b/b) dalam pelarut THF (1:3 b/v). Penambahan alikuot 336-kromat dalam membran dengan bahan aktif kitosan dapat meningkatkan konduktivitas membran sehingga dapat menghasilkan karakter sifat dasar. Karakteristik dasar elektrode selektif ion kromat memberikan karakteristik optimum dengan faktor Nernst 29,77 mV/dek, rentang konsentrasi linier 10-6–10-1 M, waktu respon 40 detik, batas deteksi 1,95 x 10-6 M, usia pemakaian 49 hari.Kata Kunci: elektroda selektif ion (ESI) tipe kawat terlapis, ion kromat, kitosan, alikuot 336-kromat
Pembuatan tes kit kertas nitrogen-amonia berdasarkan pembentukan senyawa indofenol biru Sulistyarti, Hermin
CHEMISTRY PROGRESS Vol 7, No 1 (2014)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembuatan tes kit nitrogen-amonia berdasarkan metode fenat menggunakan komparator kertas didasarkan pada reaksi pembentukan senyawa indofenol biru. Tes kit diuji validitasnya secara visual dan pembacaan absorbansi melalui metode standar spektrofotometri UV-Vis pada λ 630 nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan volume NaOH, NaOCl, HCl MnSO4 dan fenat meningkatkan intensitas warna indofenol biru dengan optimasi volume masing-masing 7, 0,25, 0,3, 0,2 dan 0,1 mL. Uji validasi dengan metode standar distilasi-spektrofotometri menunjukkan metode tes kit dengan media kertas dapat digunakan untuk analisis nitrogen pada pupuk yang mengandung 1-15 % nitrogen ammonia.   Keywords : tes kit kertas, fenat, nitrogen, amonia, indofenol biru
PENENTUAN KADAR IODIDA SECARA SPEKTROFOTOMETRI BERDASARKAN PEMBENTUKAN KOMPLEKS IOD-AMILUMMENGGUNAKAN OKSIDATOR PERSULFAT Nisa, Asdauna Zahrotun; Sulistyarti, Hermin; Atikah, atikah
Jurnal Ilmu Kimia Universitas Brawijaya Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Jurusan Kimia, FMIPA Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.97 KB)

Abstract

AbstrakPenelitian ini mengkaji tentang penentuan kadar iodida menggunakan teknik spektrofotometri visible dengan menggunakan oksidator persulfat (S2O82-) berdasarkan pembentukan Iod-amilum yang berwarna biru ditentukan pada panjang gelombang 614 nm. Tahapan penelitian ini meliputi, penentuan waktu optimum, mengetahui pengaruh variasi konsentrasi I- dan pengaruh variasi konsentrasi S2O82- terhadap pembentukan kompleks Iod-amilum. Pembuatan kompleks Iod-amilum dapat dilakukan dengan mereaksikan I-dengan S2O82-, kemudian ditambah amilum 1%. Warna yang dihasilkan akan dianalisa secara spektrofotometri visible pada panjang gelombang 540 nm. Kadar iodida terkecil yang dapat diukur dengan menggunakan teknik spektrofotometri visible adalah 20,3 ppm dengan konsentrasi S2O82-100 ppm dan pada waktu 90 menit Kata kunci: iodida, kompleks iod-amilum, persulfat, spektrofotometri  AbstractThis study was to examine determination of iodide using persulfate visible spectrophotometry method based on complex formation of blue colour starch-iodine  determined at 540 nm wavelengths. Stages of the study include: determining the optimum time, determine the effect of concentration variations persulfate (S2O82-) and iodide (I2) on the iodine-starch complexes formation. Preparation of starch-iodide complex to do by reacting I-with S2O82- as an oxidator and starch as an indicator. The resulting color will be analyzed by visible spectrophotometry at a wavelength of 614 nm. Smallest iodide levels can be measured by spectrophotometric method at concentration  of  20.3 ppm and S2O82- 100 ppm and optimum time of 90 minutes. Keywords: iodide, iodine-amylum complex, persulfate, spectrophotometry
PENENTUAN KADAR IODIDA SECARA SPEKTROFOTOMETRI BERDASARKAN PEMBENTUKAN KOMPLEKS AMILUM-IODIUM MENGGUNAKAN OKSIDATOR IODAT Febrianti, Sita; Sulistyarti, Hermin; Atikah, atikah
Jurnal Ilmu Kimia Universitas Brawijaya Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Jurusan Kimia, FMIPA Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (389.903 KB)

Abstract

Iodium adalah zat gizi esensial bagi tubuh. Gangguan Akibat Kekurangan Iodium  (GAKI) merupakan salah satu masalah gizi yang menjadi faktor penghambat pembangunan sumber daya manusia karena dapat menyebabkan terganggunya perkembangan mental dan kecerdasan manusia. Penentuan iodida penting untuk mengetahui jumlah iodida dalam urin. Penentuan iodida dapat dilakukan dengan spektrofotometer metoda spektrofotometri sinar tampak dengan memanfaatkan metode kolorimetri yaitu dengan cara pembentukan kompleks amilum-iodium yang berwarna biru dan menyerap cahaya pada panjang gelombang 615 nm. Pembentukan kompleks amilum-iodium dapat dilakukan dengan cara mereaksikan I- dengan oksidator IO3- dalam suasana asam dengan indikator amilum. Warna yang dihasilkan akan dianalisa secara spektrofotometri sinar tampak. Pembentukan kompleks dilakukan dalam waktu optimum 6 menit dan dengan volume penambahan oksidator iodat 0,8 mL.Kata kunci: iodida, iodat, kompleks amilum-iodium, spektrofotometri
pembuatn tes kit tiosianat berdasarkan pembentukan kompleks besi(III) tiosianat Dini, Putri; Sulistyarti, Hermin; Atikah, Atikah
Jurnal Ilmu Kimia Universitas Brawijaya Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Jurusan Kimia, FMIPA Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1208.82 KB)

Abstract

ABSTRAKTiosianat merupakan salah satu senyawa yang secara tidak langsung dapat menyebabkan Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI). Penentuan tiosianat dapat dilakukan dengan tes kit, berdasarkan  metode kolorimetri yaitu dengan cara pembentukan kompleks berwarna merah Besi (III) tiosianat. Pembentukan kompleks Besi (III) tiosianat dapat dilakukan dengan cara mereaksikan tiosianat SCN- dengan ion Fe3+ dalam suasana asam. Warna yang dihasilkan akan dianalisa secara spektrofotometri visibel. Intensitas warna dari kompleks yang terbentuk dibuat sebagai komparator. Hasil penelitian menunjukkan waktu optimum pembentukan kompleks adalah 3 menit dan pH 2.Kata kunci: kompleks Besi(III) tiosianat, tes kit,tiosianatABSTRACTThiocyanate is a compound that can indirectly lead to Iodine Deficiency Disorders(IDD). Determination of thiocyanate to do with the test kit, based on the colorimetric method based on the formation of the red complex iron(III) thiocyanate. Complex formation of iron(III) thiocyanate can be done by reacting thiocyanate(SCN-) with Fe3+ ions under acidic conditions. The resulting color will be analyzed by visible spectrophotometry. Color intensity of the complex formed was madeas a comparator. The results showed the optimum time of the complex formation of 3 minutes and pH 2.Key words:iron(III) thiocyanate complex, tes kit, Thiocyanate
PENGARUH KONSENTRASI ASAM DAN DIAMETER SPOT REAKSI PADA KEMAMPUAN DETEKSI TEST KIT MERKURI(II) Indriana, Silvi Avianti; Sulistyarti, Hermin; Atikah, Atikah
Jurnal Ilmu Kimia Universitas Brawijaya Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Kimia, FMIPA Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (477.125 KB)

Abstract

Test kit merkuri(II) telah berhasil dibuat berbasis pada pembentukan kompleks merkuri(II)-ditizonat yang berwarna oranye. Pada penelitian ini dilakukan optimasi konsentrasi asam yang mempengaruhi kestabilan kompleks merkuri (II) ditizon dan diperoleh konsentrasi optimum 2 M. Pada kondisi asam optimum, test kit larutan dapat digunakan untuk mendeteksi merkuri pada kisaran konsentrasi 0-10 ppm. Pengembangan test kit berbasis kertas memerlukan optimasi diameter spot reaksi yang melibatkan AKD (Alkyl Ketene Dimer) sebagai pembatas diameter spot reaksi yang bersifat hidrofobik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intensitas warna kompleks merkuri (II) ditizon pada kertas meningkat dengan menurunnya diameter spot reaksi, dan diperoleh diameter optimum pada 1 cm. Penggunaan diameter optimum menunjukkan perbedaan intensitas warna untuk konsentrasi merkuri (II) pada konsentrasi 0, 10, dan 20 ppm.Kata kunci : AKD, asam, ditizon, test kit merkuri, diameter spot reaksi
UJI SELEKTIFITAS DAN VALIDITAS TEST KIT MERKURI(II) Putra, Bhurman Pratama; Sulistyarti, Hermin; Fardiyah, Qonitah
Jurnal Ilmu Kimia Universitas Brawijaya Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Kimia, FMIPA Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (359.195 KB)

Abstract

ABSTRAK Merkuri adalah logam berat yang sering diketahui masyarakat tentang bahayanya jika terpapar oleh manusia. Untuk mengetahui kadar merkuri, biasanya digunakan instrumentasi yang mahal. Pada penelitian ini, telah dibuat metode alternatif berupa test kit untuk penentuan kadar merkuri berdasarkan pembentukan kompleks merkuri dengan ditizon yang berwarna oranye. Namun test kit yang telah dibuat tersebut belum dilakukan uji selektifitas dan validitasnya. Uji selektifitas dilakukan dengan melihat pengaruh ion Ag+ dan Pb2+ terhadap kinerja test kit dengan rentang konsentrasi 1-10 ppm. Penambahan ion Ag+ 10 ppm menurunkan absorbansi test kit merkuri 1-10 ppm sebesar 12,12 %, sedangkan penambahan ion Pb2+ dengan konsentrasi yang sama yakni 10 ppm, absorbansi test kit merkuri relatif konstan. Untuk memvalidasi test kit merkuri ini, dilakukan dengan cara menguji sampel sintetis merkuri dan membandingkannnya dengan metode standar AAS (spektrofotometer serapan atom). Hasil validasi menunjukkan bahwa test kit merkuri memberikan akurasi 90% sedangkan metode standar AAS memberikan nilai akurasi yang tinggi, yakni sebesar 98,83%.   Kata kunci: Merkuri, test kit, ditizon, selektifitas, validitas