Articles

Found 12 Documents
Search

Toleransi Beberapa Varietas Padi pada Sawah Gambut Berkorelasi dengan Kandungan Asam Fenolat

Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) Vol 40, No 2 (2012): JURNAL AGONOMI INDONESIA
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (274.452 KB)

Abstract

One of the causes of the low productivity of rice grown on peat soils was the high levels of of toxic phenolic compounds in the soil. Development of tolerant rice varieties is one of strategies to grow rice on peat soils. The aims of this research were to select rice varieties tolerant to peat soils and to study the correlation between the plant phenolic acid content with plant tolerance to peat soil. This research was conducted at the Seed Farm Centre Lubuk Minturun, Padang from February to July 2009. The research consisted of two experiments i.e. in peat soil and in mineral soil. The experiments used a completely randomized design using 21 varieties of rice as treatments which were replicated four times. The results showed that there were nine rice varieties categorized as tolerant to peat soil. These tolerant varieties showed higher stress tolerance index (STI), demonstrated by a high level of phenolic acids (coumaric, syringic, and ferulic) in the plant tissues. The STI value had positive correlation with the content of plant phenolic acids, thus the level of plant phenolic acids can be used as an indicator to determine tolerant rice varieties in peat soils. Keywords: peat soil, phenolic acids, tolerant rice, STI

PENGARUH BAHAN PERTANAMAN TERHADAP KUALITAS BENIH YANG DIHASILKAN PADA TANAMAN BENGKUANG

Jurnal Ilmu dan Teknologi Terapan Pertanian Vol 3 No 1 (2019): Journal of Applied Agricultural Science and Technology
Publisher : Payakumbuh State Polytechnic of Agriculture

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (156.243 KB)

Abstract

Umbi dan biji merupakan bahan pertanaman yang sering digunakan petani untuk mendapatkan benih bengkuang dimana masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh bahan pertanaman penghasil benih terhadap kualitas benih yang dihasilkan pada tiga aksesi bengkuang (Kuranji, Padang Sidimpuan dan Blitar). Penelitian telah dilaksanakan pada bulan April sampai Juni 2018 dengan metoda Deskriptif. Pengamatan dilakukan terhadap 100 sampel dari tiap-tiap aksesi. Parameter yang diamati adalah panjang, lebar dan tebal biji, berat biji saat panen, berat biji saat polong pecah, berat biji kering, berat biji saat berkecambah, daya kecambah, nilai indeks perkecambahan dan uji muncul tanah. Hasil dianalisis dengan pengujian Parametrik, Independent Sample-T Test taraf 5% menggunakan program SPSS Statistik 19. Hasil memperlihatkan bahwa benih yang berasal dari bahan pertanaman umbi dan biji pada bengkuang tidak berbeda ukuran panjang, lebar dan tebal biji, berat saat panen, berat saat polong pecah, berat kering, berat saat berkecambah, nilai indeks perkecambahan dan uji muncul tanah pada ketiga aksesi uji. Perbedaan hanya terlihat pada daya kecambah. Berdasarkan pengujian dan analisis statistik yang telah dilakukan pada beberapa parameter pengamatan dapat diambil kesimpulan bahwa umbi dan biji sama-sama dapat digunakan sebagai bahan pertanaman penghasil benih pada pembudidayaan bengkuang.

SELEKSI BEBERAPA GENOTIPE GANDUM BERDASARKAN KOMPONEN HASIL DI DAERAH CURAH HUJAN TINGGI

JURNAL AGROTEKNOLOGI Vol 4, No 1 (2013): Agustus 2013
Publisher : JURNAL AGROTEKNOLOGI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.13 KB)

Abstract

This Research aimed to select wheat genotypes which potential to be developed in a high rainfall area. It was conducted at September 2012 to January 2013 in Alahan Panjang, Solok Regency, West Sumatera. Seventeen wheat genotypes were planted at Alahan Panjang, Solok, West Sumatera from September 2012 – January 2013, including local varieties (Nias, Selayar, Dewata). It used random design block with 3 replications and 10 samples each block. If genotypes were significant according to test f then continued by test duncan on standard 5 %. Observed variables were amount of spikelet per spike, amount grain of spikelet, amount of floret per spike, spikelet length and width, grain length and width, amount of full grain, amount of unfull grain and a thousand grain weight. The result showed that UAGDM 13 had a good amount of spikelet per spike. All genotypes had high amount of floret per spike except UAGDM16. A good spikelet length was belonged to all genotypes except UAGDM11 and UAGDM13. Grain length and width were not significant among all genotypes. Three genotypes which had a high amount of full grain were UAGDM5, UAGDM6 and UAGDM17. Genotype UAGDM1 was the best of a thousand grain weight.

KARAKTERISASI DAN EVALUASI BEBERAPA GENOTIPE SORGUM (Sorghum bicolor L) DI SUKARAMI KABUPATEN SOLOK

JURNAL AGROTEKNOLOGI Vol 4, No 1 (2013): Agustus 2013
Publisher : JURNAL AGROTEKNOLOGI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (381.488 KB)

Abstract

Karakterisasi dan evaluasi beberapa genotipe sorgum koleksi dari fakultas pertanian Universitas Andalas telah dilakukan mulai Agustus 2012 sampai dengan Desember 2012 di Sukarami Kabupaten Solok. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat keragaman fenotipe sorgum di daerah dataran tinggi. Genotipe yang di uji adalah L1, L2, L3, L4 dan L5. Metoda yang digunakan adalah menanam genotipe sorgum dalam petakan berukuran 2x3 m, dengan sampel yang diamati masing-masing genotipe adalah 6 sampel. Kegiatan perekaman data dilakukan terhadap keragaan karakteristik tanaman sorgum secara kualitatif. Pada masa vegetatif pengamatan seperti (Bentuk Ujung Daun, Kehadiran Lidah daun, Permukaan Daun, Warna Batang Kecambah), dan pada masa generatif pengamatan berupa (warna biji, bentuk biji, ukuran biji, warna sekam dan sifat sekam). Pertumbuhan genotipe sorgum yang diamati pada masa vegetatif, tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan secara morfologi antara genotipe L1, L2, L3, L4, dan L5. Morfologi daun seperti ujung daun, bentuk lidah daun, keadaan permukan daun, pertulangan daun kelima genotipe sorgum memiliki sifat yang seragam. Perbedaan genotipe sorgum dapat dikenali lebih jelas pada fase generatif dibandingkan fase vegetatif.

Perbaikan Genetik Kultivar Padi Beras Hitam Lokal Sumatera Barat Melalui Mutasi Induksi

Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 11, No 2 (2015): Desember 2015
Publisher : BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (377.519 KB)

Abstract

Kultivar padi beras hitam merupakan padi lokal yang berasal dari Pasaman Timur yang memiliki umur panjang dan tinggi tanamannya terlalu tinggi.  Penelitian ini dilaksanakan sejak Maret 2012 sampai Maret 2013 bertujuan untuk memperbaiki genetik padi beras hitam lokal Sumatera Barat khususnya terkait umur tanaman agar lebih genjah melalui pemuliaan mutasi.  Untuk mendapatkan dosis optimum, benih padi beras hitam diiradiasi dengan sinar gamma 60Co dosis 0, 100, 200, 300, 400 dan 500 Gy di Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi-Badan Tenaga Nuklir Nasional (PAIR – BATAN), Jakarta. Dari hasil pengamatan persentase kecambah, tinggi tanaman dan panjang akar pada fase pembibitan, dan persentase kehampaan gabah M1 diperoleh dosis iradiasi 200 - 300 Gy merupakan dosis yang efektif dalam menghasilkan keragaman genetik.  Hal ini juga terlihat pada populasi M2 hasil iradiasi 200 Gy menghasilkan keragaman genetik yang luas pada variabel karakter tinggi tanaman, jumlah anakan produktif dan umur tanaman. Dari hasil seleksi yang dilakukan pada populasi M2 diperoleh kandidat mutan genjah sebanyak 81 kandidat dengan frekuensi mutasi sebesar 0.08 %.  Tanaman genjah terseleksi tentu akan sangat berguna sebagai bahan tanaman awal dalam perbaikan varietas padi beras hitam di masa yang akan datang. Kata kunci : Padi beras hitam, mutasi induksi, genjah.

POTENSI DAN PENINGKATAN KUALITAS NUTRISI BUAH TOMAT (Lycopersicon esculentum) AFKIR SEBAGAI PAKAN TERNAK UNGGAS

JURNAL PETERNAKAN Vol 15, No 1 (2018): Februari 2018
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (524.627 KB)

Abstract

Salah satu hal yang penting dalam menentukan kualitas produk ternak adalah bahan pakan. Kualitas produk ternak akan dipengaruhi oleh asupan nutrisi yang di berikan. Buah tomat afkir merupakan salah satu bahan pakan yang istimewa karena tingginya kandungan likopen didalamnya. Likopen sudah terkenal baik memiliki kemampuan sebagai antioksidan dan menurunkan kandungan kolesterol. Akan tetapi likopen ini masih berada dalam matrik jaringan tomat dan berbentuk trans likopen yang sulit untuk dicerna dan diserap oleh tubuh. Sehingga dalam paper ini menyajikan sejauh mana perkembangan penelitian pemanfaatan buah tomat yang tinggi likopen sebagai pakan unggas. Serta membuka lebih luas bagaimana meningkatkan nilai guna likopen tomat dalam produk ternak unggas. 

REVIEW PROSES PENYANGRAIAN KOPI DAN TERBENTUKNYA AKRILAMIDA YANG BERHUBUNGAN DENGAN KESEHATAN

Jurnal Ilmu dan Teknologi Terapan Pertanian Vol 3 No 1 (2019): Journal of Applied Agricultural Science and Technology
Publisher : Payakumbuh State Polytechnic of Agriculture

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (306.411 KB)

Abstract

Makalah ini berisi tinjauan komprehensif terhadap literatur tentang proses penyangraian kopi dan pembentukan akrilamida sebagai hasil sampingan proses pengolahan biji kopi diterbitkan antara tahun 2008 hingga 2018. bagian besar penelitian bersifat empiris dan sebagian besar studi berfokus pada proses pengolahan kopi dan efek akrilamida pada kesehatan tubuh. Temuan penting lainnya, sebagian kajian menganggap bahwa kopi mampu meningkatkan kesehatan tubuh. Ulasan ini menyajikan pemahaman yang lebih baik tentang manfaat dan bahaya kopi serta pengaruh penyangraian terhadap mutu kopi yang dihasilkan. Tinjauan ini juga menyoroti tentang alat sangrai kopi yang relatif kurang dieksplorasi. Akademisi, peneliti dan kelompok tani dapat menggunakan hasil kajian ini sebagai pedoman dalam menyangrai kopi. Penyangraian dengan waktu dan suhu yang efektif dapat mengurangi pembentukan akrilamida pada kopi, namun perlu kajian literatur terbaru yang berkaitan dengan proses pengolahan kopi terutama pada proses penyangraian.

PENGEMBANGAN SENTRA PRODUKSI BIBIT (PENANGKARAN) KENTANG BERMUTU MELALUI APLIKASI TEKNOLOGI BIOSELULER DI KABUPATEN SOLOK

LOGISTA - Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat Vol 1 No 2 (2017)
Publisher : Department of Agricultural Product Technology, Faculty of Agricultural Technology, Universitas Andalas Kampus Limau Manis - Padang, Sumatera Barat Indonesia-25163

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (744.013 KB)

Abstract

ABSTRAK Tujuan kegiatan ini adalah memberdayakan petani menjadi produsen bibit kentang unggul bermutu tinggi melalui alih teknologi bioseluler (kultur jaringan tanaman), sehingga petani dapat memenuhi kebutuhan bibitnya sendiri.  Melalui kemampuannya untuk memproduksi bibit kentang bermutu, maka akan tercipta kegiatan di sektor penangkaran bibit kentang dan dapat meningkatkan pendapatan petani.  Kegiatan terdiri atas tiga subprogram.  Subprog¬ram pertama adalah produksi dan distribusi propagul kentang (umbi mini/G0) kepada petani penangkar (tahun pertama).  Subprogram kedua adalah produksi umbi propagul kentang G1 – G2 (Tahun kedua dan ketiga).  Subprogram ketiga adalah sosialisasi, pembinaan, dan demonstrasi plot (setiap tahun).  Kegiatan ini merupakan kemitraan antara Fakultas Pertanian Universitas Andalas, Fakultas Pertanian UMMY Solok, Dinas Pertanian Kabupaten Solok, dan Kelompok Tani Harapan Baru sebagai penggguna teknologi.  Kegiatan yang sudah dilakukan pada Tahun I (2017):  1) perbanyakan planlet kentang, 2) pembuatan screen house untuk aklimatisasi dan produksi umbi G0/G1, 3) workshop/sosialisasi penangkaran benih kentang, 4) sekolah lapang produksi umbi kentang G0/G1, 5) pelatihan penguatan kelembagaan petani penangkar kentang, 6) pelatihan sertifikasi benih kentang, dan 7) pelatihan pembuatan pestisida hayati. Kata Kunci: Bibit kentang, Penangkar, Bioseluler ABSTRACT The purpose of this activity was to empower farmers to become producers of elite potato seeds through the transfer of bioseluler technology (plant tissue culture), so that farmers can meet the needs of their own seeds. Through its ability to produce quality potato seeds, it will create activities in the breeding sector of potato seeds and can increase farmers' income. The activity consists of three subprograms. The first subprogram was the production and distribution of potato propagules (mini tubers/G0) to the farmer breeder (first year). The second subprogram was the production of potato propagules G1 - G2 (second and third year). The third subprogram is socialization, guidance, and demonstration plots (every year). This activity was a partnership between the Faculty of Agriculture Andalas University, Faculty of Agriculture UMMY Solok, Dinas Pertanian Kabupaten Solok, and Harapan Baru Farmer Group as a technology user. (1) propagation of potato plantlets, 2) screen house preparation for acclimatization and tuber production G0 / G1, 3) workshop / socialization of potato seed breeding, 4) field school of potato tuber production G0 / G1 , 5) training of institutional strengthening of potato breeder farmers, 6) certification training of potato seeds, and 7) training on making biological pesticides. Keywords: Potato seeds, Breeder, Bioseluler

TRANSFER TEKNOLOGI SAMBUNG MENGGUNAKAN ANAKAN (Root-sucker) SEBAGAI BATANG BAWAH UNTUK PROPAGASI TANAMAN KESEMEK DI BATU BAGIRIEK ALAHAN PANJANG

Jurnal Hilirisasi IPTEKS Vol 1 No 3a (2018): September 2018
Publisher : LPPM Universitas Andalas

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (595.546 KB)

Abstract

Persimmon, kesemek, buah kaki atau manggih hutan dalam bahasa minang adalah berbagai sebutan untuk buah yang dihasilkan oleh tanaman pohon  Diospyros kaki Thunb.  Buah kesemek mengandung berbagai nutrisi penting, anti toksik dan bahkan anti kanker. Kesemek merupakan tanaman sub tropika sehingga di Indonesia kesemek hanya beradaptasi pada ketinggian ± 1400 mdpl, seperti Alahan Panjang. Petani biasanya menggunakan anakan untuk perbanyakan, namun akibatnya tanaman membutuhkan waktu yang lama untuk berbuah, lebih dari 8 tahun. Kegiatan ini bertujuan untuk mentransfer teknologi sambung pucuk menggunakan anakan (root-sucker) sebagai batang bawah (root-stock) sebagai upaya untuk mendapatkan perbanyakan kesemek secara cepat dan tanaman cepat berbuah. Mitra kegiatan ini adalah kelompok tani Harapan Baru yang berada di Batu Bagiriek Alahan Panjang Kabupaten Solok, Sumatera Barat dari bulan Oktober hingga Desember 2016. Metode kegiatan meliputi penyuluhan, demonstrasi dan pelatihan grafting. Hasil kegiatan adalah petani meningkat pengetahuannya tentang manfaat buah kesemek, teknik budidaya dan pasca panen serta mampu melakukan grafting atau penyambungan pada kesemek menggunakan root-sucker (anakan) sebagai batang bawah. Berdasarkan hasil uji statistika menggunakan analisis Likert, kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan memiliki nilai indeks 92, menunjukkan bahwa kegiatan yang dilakukan bermanfaat atau berhasil mentransfer pengetahuan dan juga keterampilan kepada petani.

PENGARUH BAP (BENZIL ADENIN PURIN) DAN NAA (NAPHTHALEN ACETIC ACID) TERHADAP EKSPLAN TANAMAN TURI (Sesbania grandiflora) DALAM MEDIA MULTIPLIKASI In Vitro

Pastura : Jurnal Ilmu Tumbuhan Pakan Ternak Vol 5 No No 1 (2015): Vol 5 No 1 Tahun 2015
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Turi merupakan leguminosa pohon. Perbanyakan turi secara vegetatif sulit dilakukan karena kemampuanturi untuk tumbuh kembali setelah dilakukan pemotongan sangat rendah. Penelitian dalam upaya perbanyakanturi melalui metode multiplikasi tanaman turi secara in vitro telah dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan.Eksplan yang digunakan adalah kotiledon, daun dan hipokotil steril tanaman turi. Media dasar yang digunakanadalah MS (Murashige skoog) yang diperkaya dengan vitamin. Sebagai sumber energi digunakan sukrosasebanyak 30 g/l dan bacto agar 8g/l. Penelitian ini terdiri dari perlakuan BAP sebagai salah satu jenis sitokinin)secara tunggal yaitu MS + BAP 1 mg/l dan MS + BAP 2 mg/l, dan kombinas BAP dengan NAA (sebagaisalah satu jenis auksin) yaitu MS + BAP 1mg/l + NAA 0,08 mg/l, MS + BAP 2 mg/l + NAA 0,08 mg/l.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi auksin dan sitokinin mampu memperbanyak shootled turi.Kata kunci: turi, ksplan, Benzil Adenin Purin, Naphthalen acetic acid, in vitro