Bambang Sulardiono
Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Departemen Sumberdaya Akuatik Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Published : 36 Documents
Articles

Found 36 Documents
Search

THE GROWTH ANALYSIS OF Stichopus vastus (Echinodermata: Stichopodidae) IN KARIMUNJAWA WATERS Sulardiono, Bambang; Prayitno, Slamet Budi; Hendrarto, Ign Boedi
JOURNAL OF COASTAL DEVELOPMENT Vol 15, No 3 (2012): Volume 15, Number 3, Year 2012
Publisher : JOURNAL OF COASTAL DEVELOPMENT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Stichopus vastus is one of sea cucumber resources utilize which has commercial economic value, locally known  as “gametes”. Because this species is continuously exploited, while the nature of life has not been known, one of them especially its growth.  Aspect of growth is an important parameter which is used as a basis for evaluating these resources, hence this resource is well managed and can be utilized in a sustainable manner. The study aims to: (1) estimates the growth characteristics mortality rate, recruitment and potential use of sea cucumber of  S.  vastus in Karimunjawa. The study is expected to give beneficial to the species of sea cucumber resource management strategy at  Karimunjawa waters, Jepara. The analysis of the growth parameters of S. vastus obtained values ​​of growth coeficient (K) of 0.55 year-1 and length infinity L ∞ value of 315.80 mm. Therefore the obtained values ​​of K tend to be close to zero value, it indicates the nature of growth tends to slow and with a relatively long life.  Life span of  S. vastus is 5.41 years, which can achieve body lengths of 283.06 to 296.91 mm, and the monthly growth rate ranged from 9.0 to 12.37 mm. The results of the analysis of mortality showed that S. vastus has value of total mortality (Z) of 0.98,  natural mortality (M) of 0.298, and catch mortality (F) of 0.682, with the rate of exploitation (E) of 0.6963. This suggests that the rate of exploitation is above the threshold standard set by the Government of 0.5 (BRKP, 2004). The analysis of the S. vastus the recruitment showed that the higest percentage recruit occurred in May-June is 17.16 - 18.33%. This is presumably due to a population increase of the spawning process in those months, although the value of the addition is not very significant.   It is suggested the need for regulations regarding: (a) the catchment season which is based on the tendency of the reproductive patterns of S. vastus, in Karimujawa, (b) restrictions on the size of the catch, (c) catch quotas, (d) the methods that are environmentally friendly catch, (e) permits the ship / boat used to catch sea cucumbers business. To support the success of regulation, it is necessary to strengthen community institutions through the management of sea cucumber resource-based society, with the Co-management approach.
ANALISIS DAMPAK BUDIDAYA IKAN SISTEM KERAMBA JARING APUNG TERHADAP TINGKAT SAPROBITAS PERAIRAN DI WADUK WADASLINTANG KABTJPATEN WONOSOBO Sulardiono, Bambang
Pena Akuatika Jurnal Ilmiah Perikanan Dan Kelautan Vol 1, No 1 (2009): Jurnal Ilmiah Perikanan Dan Kelautan Vo. 1 No. 1 April 2009
Publisher : Pena Akuatika Jurnal Ilmiah Perikanan Dan Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kegiatan budidaya dengan karamba apung merupakan salah satu upaya untuk meningkatkanproduksi perikanan di perairan Wadaslintang, Kabupaten Wonosobo. Meningkatnya jumlah kegiatanbudidaya di perairan tersebut tentunya akan menimbulkan dampak yang kurang baik terhadap perairankarena sisa pakan yang terbuang karena tidak dikonsumsi dan hasil proses metabolisme dari organismeyang dibudidayakan di daerah tersebut. Apabila terakumulasi di dasar perairan secara terus-menerusakan menimbulkan penumpukan bahan organik. Tingginya bahan organik akan mempengaruhi tingkalkesuburan pada Maka perlu adanya suatu penelitian yang akan melihat sejauh mana kegiatan budidayadengan karamba apung akan membe.rikan dampak ke dalam perairan.Tujuan penelitian adalah mengetahui kondisi perairan sebagai dampak dari kegiatan budidayakaramba jaring apung yang berpengaruh pada tingkat saprobitas perairan wadaslintang.Penelitian ini dilaksanakan pada Bulan Mei 2008 di Perairan Wadas-lintang, KabupatenWonosobo. Metode penelitian menggunakan cara deskriptif, yaitu mencari informasi faktualidentifikasi masalah dan evaluasi. Kaidah pengambilan keputusan menggunakan uji korelasi.Pengambilan sampel dilakukan selamal bulan, dengan interval waktu pengambilan sampel I hari dalamI minggu. Pengambilan sempel dilakukan pada 5 stasiun dengan hari yang sama dengan jangka waktu6 jam untuk semua pengzrmatan paranieter kualitas air (suhu, kedalaman, kecepatan arus, pH dan DO)dengan dilakukan secara in siln. Sedangkan pengambilan sampel bahan organik, kandungan klorofil-qplankton dan nuhien (N dan P) dilakukan I kali dalam satu hari selama satu bulan di lima stasiun,kemudian dilanjutkan analisa laboratorium.Hasil penelitian menunjukan nilai bahan organik, nihat, phospor di perairan karamba lebihtinggi bila dibandingkan dengan kondisi perairan lepas, selain itu kondisi kualitas air yang mengalamiperbedaan antara perairan karamba dengan perairan lepas. Pengamatan terhadap tingkat saprobitasperairan melalui penghitungan TSI serta pengujian klorofil, nrenunjukan bahwa perairan karambacenderung masuk dalam klasifikasi perairan B-mesosaprobik sampai c- mesosaprobik sebagai akibatdari dampak kegiatan budidaya karamba jaring apung, sedangkan pada perairan iepas masuk dalamklasifikasi oligosaprobik, dengan demikian kegiatan leramba jaring apung menunjukan adanyapengaruh dari kegiatan kerambajaringapung terhadap tingkat saprobitas perairan. Kata kunci : Karamba jaring apung, saprobitas perairan. 
HUBUNGAN KANDUNGAN NITRAT (NO3) & FOSFAT (PO4) TERHADAP PERTUMBUHAN BIOMASSA BASAH ECENG GONDOK (Eichhornia crassipes) YANG BERBEDA LOKASI DI PERAIRAN RAWA PENING AMBARAWA, KABUPATEN SEMARANG Bakhtiar, Raidie; Soedarsono, Prijadi; Sulardiono, Bambang
Management of Aquatic Resources Journal Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (254.201 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh hubungan kandungan nitrat dan fosfat terhadap pertumbuhan biomassa basah eceng gondok yang berbeda lokasi di perairan Rawa Pening Ambarawa, dan mengetahui perbandingan lokasi pengikatan eceng gondok ditinjau dari pengukuran kandungan nitrat dan fosfat selama selang waktu 14 hari (2 minggu). Penelitian ini dilakukan pada bulan April hingga Juni 2012. Parameter panjang meliputi : tinggi batang eceng gondok, keliling total rumpun, luasan total rumpun, Parameter berat terdiri atas berat basah eceng gondok, dan Parameter Jumlah terdiri atas jumlah helai daun eceng gondok. Parameter kualitas air yang diukur adalah oksigen terlarut (DO), pH, suhu, kecerahan, kedalaman, nitrat dan fosfat. Hasil yang diperoleh melalui pengukuran kualitas air adalah oksigen terlarut 3,5 mg/l – 6,8 mg/l, pH 8,5 – 11,7, suhu perairan 270C  − 330C, nilai kecerahan 52,9 – 71,6 cm, nilai kedalaman 2,57 – 3,98 m. Untuk nilai kadar nitrat dan fosfat meliputi: Lokasi A di Kampung Rawa Tambakarejo memiliki nitrat 0,174 – 0,553 mg/l dan fosfat 0,023 – 0,052 mg/l.  Lokasi B di Sub DAS Torong memiliki nitrat 0,033 – 0,196 mg/l dan fosfat 0,012 – 0,037 mg/l. Lokasi C di Wisata Bukit Cinta Rawa Pening memiliki nitrat 0,527 – 1,467 mg/l dan fosfat 0,016 – 0,054 mg/l. Lokasi D di TPI Dinas Perikanan Ambarawa memiliki nitrat 0,295 – 1,070 mg/l dan fosfat 0,021 – 0,038 mg/l. Pada lokasi C memberikan hasil lebih baik terhadap pertumbuhan biomassa dibandingkan dengan perlakuan di lokasi yang lain. Pertumbuhan biomassa optimum eceng gondok berada pada kadar Nitrat (NO3) sebesar 1,467 mg/l yang terdapat pada waktu penelitian ke-3 dengan biomassa basah eceng gondok yaitu 2,87 kg dan pertumbuhan biomassa sebesar 2,091% kg/hari.
DAMPAK SURFAKTAN BERBAHAN AKTIF Na-ABS TERHADAP DAYA TETAS TELUR IKAN KARPER (Cyprinus carpio) DALAM SKALA LABORATORIUM Prahastuti, Maulina Septia; Sulardiono, Bambang; Ain, Churun
Management of Aquatic Resources Journal Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (417.512 KB)

Abstract

Penurunan kualitas lingkungan disebabkan adanya bahan pencemar, contohnya limbah deterjen yang mengandung surfaktan berbahan aktif Na-ABS. Deterjen dapat memberikan dampak negatif terhadap proses kehidupan organisme di dalamnya, salah satunya proses penetasan telur ikan. Fase telur merupakan stadia yang rentan dan jauh lebih sensitif terkena pengaruh dari luar atau dari lingkungan. Berdasarkan hal tersebut, diperlukan adanya masukan mengenai dampak surfaktan terhadap daya tetas telur ikan karper (C. carpio). Tujuan penelitian ini adalah menentukan nilai LC50-96 jam dari deterjen berbahan aktif surfaktan jenis NA-ABS, dan mengetahui pengaruh kandungan surfaktan terhadap daya tetas telur ikan karper (C. carpio). Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah ikan karper (C. carpio) dan telurnya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental laboratoris. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan yang terdiri dari 3 ulangan. Tahap penelitian terdiri dari: uji pendahuluan, uji lanjut, Persiapan materi telur ikan, uji utama, perhitungan daya tetas telur, dan pengukuran variabel kualitas air. Perlakuan yang diberikan pada uji utama adalah pemberian deterjen terhadap telur ikan dengan konsentrasi 6,25%, 12,5%, 25%, 50%, dan 100% dari nilai LC50-96 jam, yaitu 1,35 mg/L, 2,70 mg/L, 5,40 mg/L, 10,80 mg/L, dan 21,60 mg/L. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai LC50-96 jam surfaktan terhadap ikan karper (C. carpio) adalah 21,60 mg/L. Kualitas air selama penelitian, yaitu: suhu 24,37 – 28,30oC, oksigen terlarut 2,37 – 4,00 mg/L, dan pH 7. Hasil analisis data menggunakan ANOVA faktorial menunjukkan bahwa konsentrasi deterjen berpengaruh nyata terhadap daya tetas telur ikan karper (p<0,05), semakin besar konsentrasi deterjen maka persentase daya tetas telur setiap harinya semakin kecil. Pengaruh deterjen mulai terlihat jelas pada konsentrasi 5,40 mg/L dengan waktu kritis yaitu pada hari kedua.
KAJIAN TENTANG LAJU PERTUMBUHAN IKAN BANDENG (Chanos chanos Forskall) PADA TAMBAK SISTEM SILVOFISHERY DAN NON SILVOFISHERY DI DESA PESANTREN KECAMATAN ULUJAMI KABUPATEN PEMALANG Susanti, Rina; Sulardiono, Bambang; -, Supriharyono
Management of Aquatic Resources Journal Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.345 KB)

Abstract

Tambak merupakan salah satu jenis habitat yang dipergunakan sebagai tempat untuk kegiatan budidaya air payau yang berlokasi di daerah pesisir. Sistem Tambak Silvofishery merupakan suatu kegiatan budidaya perikanan yang dikombinasikan dengan pengelolaan hutan mangrove. Dalam penelitian ini, pengambilan sampel dilakukan setiap satu minggu sekali selama 4 minggu dengan mencatat laju pertumbuhan ikan bandeng yaitu dengan mengukur panjang dan berat ikan bandeng. Populasi yang dimaksud adalah ikan Bandeng yang diambil 50 sampel  dari jumlah ikan yang ada di tambak silvofishery dan non silvofishery. Padat penebaran ikan bandeng 2000 ekor/ 0,5 Ha, dengan media tambak silvofishery dan non silvofishery. Serta dilakukan pula pengukuran parameter pendukung seperti suhu, salinitas, pH, kecerahan, oksigen terlarut, nitrat, dan fosfat. Hasil analisis uji-t dengan Two-Sample Assuming Equal Variances bobot Specific Growth Rate (SGR) ikan bandeng pada tambak sistem silvofishery dengan bobot SGR ikan bandeng pada tambak non silvofishery menunjukkan nilai T hitung sebesar 0,186 dan T tabel sebesar 0,859. Berdasarkan data statistik tersebut maka T hitung < dari T tabel yang berarti tidak terdapat perbedaan rata-rata bobot SGR ikan bandeng pada tambak silvofishery dengan bobot SGR ikan bandeng pada tambak non  silvofishery.
KELIMPAHAN JENIS TERIPANG DI PERAIRAN TERBUKA DAN PERAIRAN TERTUTUP PULAU PANJANG JEPARA, JAWA TENGAH Satria, Guliano Gema Adi; Sulardiono, Bambang; Purwanti, Frida
Management of Aquatic Resources Journal Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (221.291 KB)

Abstract

Perairan terbuka adalah suatu daerah perairan yang menghadap ke arah laut lepas tanpa adanya penghalang baik itu pulau maupun daratan di depannya sehingga perairan terbuka sangat dipengaruhi oleh ombak dan gelombang. Perairan tertutup adalah suatu perairan yang terhalang oleh daratan atau pulau di depannya atau berupa teluk, sehingga kekuatan arus dan gelombang akan berkurang ketika sampai di pantai. Teripang merupakan salah satu spesies yang memiliki nilai ekonomis tinggi dan banyak dilakukan penangkapan terhadap teripang yang menyebabkan menurunnya populasi teripang pada suatu perairan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kelimpahan teripang pada perairan terbuka dan perairan tertutup Pulau Panjang, Jepara. Metode yang digunakan adalah metode kuadran transek berukuran 2x2 meter, yang diletakkan pada line transek sepanjang 100 meter. Pengambilan sampel dilakukan sebanyak tiga kali pada setiap titik pengamatan, dengan jarak antara setiap line 10 meter. Jenis teripang yang ditemukan pada perairan terbuka dan tertutup pulau Panjang adalah Holothuria atra, H.leucospilota, dan H.scabra. Dimana kelimpahan teripang pada perairan terbuka pulau panjang adalah 72 individu/1200m2 pada jenis H.atra, 36 individu/1200m2 pada jenis H.Leucospilota, 1 individu/1200m2 pada jenis H.scabra. Sedangkan kelimpahan jenis teripang pada perairan tertutup pulau Panjang adalah 37 individu/1200m2 pada jenis H.atra dan 22 individu/1200m2 pada jenis H.Leucospilota.
HUBUNGAN KELIMPAHAN EPIFAUNA YANG BERASOSIASI DENGAN LAMUN PADA TINGKAT KERAPATAN LAMUN YANG BERBEDA DI PANTAI PULAU PANJANG, JEPARA Herfina, -; Ruswahyuni, -; Sulardiono, Bambang
Management of Aquatic Resources Journal Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (255.314 KB)

Abstract

Pulau panjang merupakan salah satu wilayah di perairan Kabupaten Jepara yang memiliki keanekaragamanan ekosistem perairan, antara lain adalah ekosistem lamun yang merupakan tempat hidup bagi biota-biota perairan yang salah satunya adalah epifauna. Secara ekologi, padang lamun mempunyai beberapa fungsi penting di daerah pesisir yang salah satunya yaitu berfungsi menstabilkan dasar-dasar lunak di mana kebanyakan spesies tumbuh, terutama dengan sistem akar yang padat dan saling menyilang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan epifauna yang berasosiasi pada kerapatan lamun yang berbeda dan mengetahui hubungan kelimpahan epifauna yang berasosiasi pada kerapatan lamun yang berbeda diperairan pantai pulau panjang jepara. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei-Juni 2012, di perairan pantai Pulau Panjang, Kabupaten Jepara.  Metoda sampling yang digunakan adalah metoda pemetaan sebaran lamun. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey yang bersifat deskriptif. Tingkat kerapatan lamun dibagi menjadi 3 stasiun dengan kerapatan yang berbeda yaitu kerapatan jarang, kerapatan sedang dan kerapatan padat, dengan luasan yang sama (5 m x 5 m). Pengambilan sampel epifauna dilakukan pada 9 titik sampling dengan cara pengambilan permukaan substrat yang berbeda didalam kuadran transek dengan menggunakan cetok dan disaring dengan menggunakan saringan ukuran 1 mm dan diberi formalin 4 %. Sampel disortir di laboratorium dan diidentifikasi. Dari hasil pengamatan diketahui terdapat 5 spesies lamun pada ketiga stasiun dengan jumlah yang berbeda. Jenis lamun yang ditemukan adalah jenis Thalassia sp, Cymodocea sp, Enhallus sp, Halodule sp dan Syringodium sp. Kerapatan lamun yang jarang dengan jumlah individu 15.923 individu, kerapatan lamun sedang berjumlah 36.546 individu dan kerapatan lamun padat dengan berjumlah 53.182 individu. Kelimpahan epifauna yang ditemukan di daerah kerapatan lamun jarang yaitu 118 individu/m2 dari 17 spesies, sedangkan pada daerah kerapatan lamun sedang didapatkan 149 individu/m2 dari 15 spesies dan untuk kerapatan padat didapatkan 170 individu/m2 dari 19 spesies. uji korelasi  pearson didapatkan (nilai Sig (2-tailed pada output SPSS) sebesar 0, 698 ( ≥ 0,05), dengan kesimpulan H0 diterima dan H1 ditolak  yaitu tidak ada perbedaan yang signifikan antara struktur hewan epifauna pada kerapatan lamun yang berbeda di pulau Panjang Jepara. Selain itu, didapatkan nilai korelasi antara hewan epifauna dengan kerapatan lamun sebesar -0, 457. menunjukkan tidak adanya hubungan yang erat antara hewan epifauna dengan kerapatan lamun di Pulau Panjang.
STRUKTUR KOMUNITAS IKAN KARANG PADA BOLA KARANG (REEF BALL) DI PERAIRAN PULAU PANJANG, KABUPATEN JEPARA, JAWA TENGAH Azhari, Muhammad Yusuf Muhar; Hendrarto, Boedi; Sulardiono, Bambang
Management of Aquatic Resources Journal Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (165.816 KB)

Abstract

Pulau panjang merupakan salah satu objek wisata didaerah Jepara. Daya tarik dari wisata pulau Panjang yaitu terdapat ekosistem terumbu karang yang dimanfaatkan oleh wisatawan, dan masyarakat setempat. Adanya kegiatan wisata tersebut dapat memberikan dampak negatif terhadap ekosistem terumbu karang yang menjadi rusak, yang diduga dapat mengakibatkan terjadinya penurunan produktivitas perikanan dan perairan. Sehubungan dengan hal tersebut dapat dilakukan upaya rehabilitasi terumbu karang yang rusak dengan rehabilitasi menggunakan bola karang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis ikan karang, dan mengetahui struktur komunitas ikan karang yang berada dikawasan bola karang terkait dengan perbedaan waktu. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April dan bulan September 2013. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu meteode visual sensus dengan melakukan pengamatan, pencatatan, dan identifikasi terhadap ikan karang yang berada dikawasan bola karang pada pengamatan bulan April dan bulan September 2013 dengan melakukan berenang bebas berjarak 4,5 meter dari setiap bola karang. Analisis data yang digunakan yaitu indeks komunitas, analisis uji t test, dan analisis uji chi-square. Hasil penelitian ikan karang di bola karang pada pengamatan bulan April dan bulan September 2013 terdapat 10 genus yang terdiri dari 15 spesies, dan terjadi peningkatan jumlah ikan karang. Analisis uji chi-square menyatakan ada perbedaan komposisi kelimpahan ikan karang pada pengamatan bulan April dan bulan September 2013. Indeks komunitas ikan karang pada bulan September lebih baik dibandingkan bulan April. Analisis uji t menyatakan ada perbedaan indeks komunitas ikan karang pada pengamatan bulan April dan bulan September 2013 di setiap bola karang yang terdapat di perairan pulau Panjang, Jepara. Panjang Island is one of the attractions in Jepara. The attraction of the Panjang Island tourism is coral reefs ecosystem which are utilized by the tourists, and the local community. The existence of  tourist activities can give a negative impact on coral reefs ecosystem, fisheries and aquatic productivity. In relation with that, it can rehabilitate damaged coral reefs use reef balls. The purpose of this study to was determine the reef fish species and the community structure of reef fish in the reef ball. This study was conducted in April and September 2013. This study used visual census method by observed, recorded, and identificated of reef fish in reef ball areas, on the observations in April and September 2013 by free-swimming within 4.5 meters of each reef balls. Data was analysis with community index,  t test, and chi-square analysis. The result of this study showed that, there were 10 genus consisted of 15 species, and there were increase of of reef fish in April and September. Chi-square test showed that there were significant differences between abundance of reef fish composition in April and September 2013. Community index of reef fish in September better than that in April. This was supported by t test analysis which stated that there were significant differences between community index of reef fish in April and September 2013 in every reef ball in Panjang Island, Jepara.
STUDI KELIMPAHAN TERIPANG (HOLOTHURIIDAE) PADA EKOSISTEM LAMUN DAN EKOSISTEM KARANG PULAU PANJANG JEPARA Ardiannanto, Ryanditama; Sulardiono, Bambang; Purnomo, Pujiono Wahyu
Management of Aquatic Resources Journal Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (779.208 KB)

Abstract

Teripang (Sea Cucumber) merupakan salah satu spesies yang banyak terdapat pada ekosistem lamun dan karang. Menurunnya populasi teripang diduga akan menyebabkan perubahan lingkungan perairan, oleh sebab itu penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan komposisi jenis, kerapatan relatif teripang, kelimpahan teripang (Holothuriidae) dan komposisi jenis makanan dalam usus teripang pada perairan karang dan lamun di pantai Pulau Panjang Jepara. Penelitian ini dilaksanakan di perairan Pulau Panjang, Jepara pada bulan November tahun 2013. metode pengambilan sampel untuk data penutupan karang menggunakan line transek dan untuk data kerapatan lamun menggunakan kuadran transek. Hasil dari penelitian ini nilai persentase kerapatan lamun di ekosistem lamun terdiri dari Thalassia hemprichii 42.47%, Enhalus acoroides 38.79%, Halodule uninervis 7.00%, dan  Syringodium isoetifolium 11.74%. Sedangkan penutupan terumbu karang untuk  Karang hidup 0.52%, Karang mati 42.27%, Pecahan karang 30.73% dan Pasir 26.49%. Sedangkan nilai persentase  Komposisi jenis teripang (Holothuriidae) di perairan lamun dan karang didapatkan 2 jenis yaitu H. atra dan H. nobilis, dengan kerapatan relatif pada ekosistem lamun H. atra adalah 93.06 % sedangkan untuk H. nobilis di terumbu karang adalah 91.67 %. Kelimpahan teripang pada ekosistem lamun terdiri dari H. atra sebesar 161 individu/150m2 dan H. nobilis sebesar 12 individu/150m2 sedangkan pada ekosistem terumbu karang terdiri dari H. atra 8 individu/150m2 dan H.nobilis sebesar 88 individu/150m2. Komposisi makanan teripang dari jenis H. atra yang didapatkan adalah jenis Nitzchia sp 21.635%, Spirulina sp 11.0578%, Parafavella sp 5.769%. dan butiran pasir sebesar 14.904%, sedangkan H. nobilis adalah Nitzchia sp sebesar 26.415%, Spirulina sp sebesar 10.063%, dan Parafavella sp sebesar 5.031%, dan butiran pasir sebesar 17.610%. Sea cucumbers are mostly found in the seagrass and reefs ecosystems. The research aims to know the composition, relative density, abundance and food composition in the gut of sea cucumber found on the reef and seagrass ecosystems of the Coastal Water of Panjang Island, Jepara. The reseach was carried out at Coastal Water of Panjang Island, Jepara on November 2013. The sampling metode used to collect data on reef cover percentage is line transect and for seagrass density is quadrant transect. Persentage of seagrass density : Thalassia hemprichii 42.47%, Enhalus acoroides 38.79%, Halodule uninervis 7.00%, and Syringodium isoetifolium 11.74%. Coral cover on the reef ecosystem composed of living coral 0,52%, dead reef 42,27%, coral fragments 30,73% and sand 26,49%.  There are two kind of sea cucumber from seagrass and reef ecosystem i.e Holothuria atra  and Holothuria nobilis. The relative abundance of H.atra was 93.06 % on seagrass ecosystem and H.nobilis on coral reef ecosystem was 91.67 %. Sea cucumber abundance at seagrass ecosystem are H. atra 161 individuals/150m2 and H. nobilis 12 individuals/150m2 while on reef ecosystem abundance of sea cucumber are H. atra 8 individuals/150m2 and H. nobilis 88 individuals/150m2. Food composition in the gut of H. atra are Nitzchia sp 21.635%, Spirulina sp 11.0578%, Parafavella sp 5.769%. and sand 14.904%, while in the gut of H. nobilis are Nitzchia sp 26.415%, Spirulina sp 10.063%, are Parafavella sp 5.031%, and sand 17.610%.
ANALISA SEBARAN MPT, KLOROFIL-a DAN PLANKTON TERHADAP TANGKAPAN TERI (Stolephorus spp.) DI PERAIRAN JEPARA Hikmawati, Nurwinda; Hartoko, Agus; Sulardiono, Bambang
Management of Aquatic Resources Journal Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (925.008 KB)

Abstract

Aktivitas manusia dapat menimbulkan pengaruh terhadap ekosistem. Pengaruh ini salah satunya menimbulkan penurunan kualitas perairan Jepara. Penurunan kualitas perairan dikhawatirkan dapat berdampak pada hasil tangkapan. Sedikitnya hasil tangkapan ikan teri (Stolephorus spp.) bagan tancap sebagai hasil tangkapan dominan disebabkan antara lain karena turunnya kualitas perairan dan lokasi penancapan bagan tancap kurang sesuai. Oleh karena itu, perkembangan informasi dan geografis diharapkan dapat membantu pengelolaan sumberdaya perikanan, misalnya melalui peta sebaran MPT, klorofil-a, fitoplankton dan zooplankton yang diduga dapat berpengaruh terhadap hasil tangkapan ikan teri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebaran spasial konsentrasi MPT, klorofil-a, fitoplankton, zooplankton dan hasil tangkapan teri; kemudian untuk mengetahui komposisi plankton yang terdapat dalam saluran pencernaan ikan teri serta mengetahui hubungan MPT, klorofil-a, fitoplankton dan zooplankton terhadap hasil tangkapan ikan teri bagan tancap. Metode penelitian secara eksploratif dan metode sampling secara purposive random sampling. Pengambilan sampel air dilakukan di permukaan bersamaan pengambilan sampel plankton secara horizontal dan aktif ditarik menggunakan kapal. Hasil yang diperoleh digunakan sebagai peta sebaran spasial yang menggambarkan kualitas perairan dengan metode Kriging. Uji statistik regresi polinomial dan regresi berganda digunakan untuk mengetahui pengaruhnya terhadap hasil tangkapan. Hasil yang diperoleh bahwa konsentrasi MPT tidak berpengaruh terhadap hasil tangkapan, dengan konsentrasi 50 – 100 mg/l sehingga cukup bagus bagi perikanan dan dapat menurunkan kualitas bagi perikanan bila konsentrasinya > 81 mg/l. Konsentrasi klorofil-a 0,056 – 0,117 mg/m3 sehingga masih normal dan bagus bagi perikanan, namun tidak berpengaruh terhadap hasil tangkapan. Fitoplankton dan zooplankton berpengaruh terhadap hasil tangkapan ikan teri, didukung dengan pencacahan komposisi perut ikan teri bahwa zooplankton persentasenya 93,48 % dan fitoplankton hanya 6,52 %. Human activities influence the ecosystem. For example is water quality degradation in Jepara.The water quality degradation which likely to influence the catch. Less Anchovy (Stolephorus spp.) is dominant catch of bamboo platform liftnet is caused by water quality degradation and location while placing bamboo platform liftnet not appropriate. Therefore, the development of Geographic Information System is expected to help fishery resource management, for instance by providing MPT, chlorophyll-a, phytoplankton and zooplankton distribution maps that could affect anchovy cathes. This study aims to determine the spatial distribution of MPT,chlorophyll-a, phytoplankton, zooplankton and anchovy catches; to determine the composition of plankton found in the alimentary tract of anchovy and to determine the relationship betwen MPT, chlorophyll-a, phytoplankton, zooplankton and anchovy catch from bamboo platform liftnet. Explorative research method and purposive sampling were utilized in this research. Water and plankton sampling were conducted in the same surface horizontally and actively by using boat. The results were used to make spatial  distribution map describing water quality. Polynomial and multiple regression analyses were conducted to discover its effect on the catch. The results indicated that the concentration of MPT was not affect the anchovy catch, the consentration of   50 – 100 mg/l was adequate for fishery and quality of fishery is likely to degrade if the concentration > 81 mg/l. The concentration of chlorophyll-a 0,056 – 0,117 mg/m3 was considered normal and suitable for fishery and it was not negatively impact the catch. Phytoplankton and zooplankton affected the anchovy catch as the enumeration of anchovy stomach composition showed that zooplankton and phytoplankton percentages were 93.48 % and 6.52 % repectively.