I Nyoman Sulabda
Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana

Published : 10 Documents
Articles

Found 10 Documents
Search

PERCENTAGE OF VIABLE SPERMATOZOA COLLECTED FROM THE EPIDIDYMES OF DEATH LOCAL DOG

Buletin Veteriner Udayana Vol. 1 No. 2 Agustus 2009
Publisher : Buletin Veteriner Udayana

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of this study to determine the effectof post mortem time on percentage of lifeepididymessperm from postmortem dog caudae epididymides. A total of 9 dog were usedand divided into three group. T0 was control group, T1, 3 hours postmortem and T2, 6hours postmortem. This way, samples were obtained at different times postmortem. Spermwere extracted from the caudae epididymes by means of cuts.The result showed that the percentage of life sperm were 67,16 ± 5.67(T0), 46.33 ± 5.60(T1) and 24.00 ± 4.35 respectively. We could appreciate that percentage of life wasaffected by postmortem time. There was significant decrease life sperm recovered fromepididymes postmortem (P<0.01). In conclusion, epididymes sperm from dog undergodecrease of percentage of life, but it could stay acceptable within many hours postmortem.We intepreted these data to indicate that it may still be possible to obtain viablespermatozoa many hours later.

PENGARUH SUBSTITUSI AIR KELAPA MUDA DENGAN PENGENCER SITRAT KUNING TELUR TERHADAP MOTILITAS DAN PERSENTASE HIDUP SPERMATOZOA ANJING

Buletin Veteriner Udayana Vol. 2 No. 2 Agustus 2010
Publisher : Buletin Veteriner Udayana

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of this study was to determine the effect of tender coconut water substitutionon egg yolk citrate diluent with different doses on local breeds dog sperm motility and livespermatozoa. Semen was manually collected. Progressive motility and percentage of livespermatozoa were evaluated under a microscope utilizing a drop of semen between awarmed glass slide and coverslip, both at a temperature of 38 0C. The percentage of motileand live spermatozoa were examined by counting 100 spermatozoa using the classificationof Christiansen (1984). Sperm viability was assessed by eosinnegrosin staining. The result showed that coconut water substitution has significant effect on the motility and livespermatozoa. Combination between the levels of coconut water in the egg yolk citratediluent could be applied as an alternative diligent instead of egg yolk diligent for dogsemen up to 75%.

Kadar Glukosa Darah Anjing Kintamani

Buletin Veteriner Udayana Vol. 5 No. 2 Agustus 2013
Publisher : Buletin Veteriner Udayana

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penentuan kadar glukosa darah anjing kintamani menggunakan Accu-check Active dilakukan di laboratorium Patologi Klinik Veteriner, Fakultas Kedoktern Hewan Universitas Udayana. Sampel darah diambil dari 50 ekor anjing kintamani untuk menentukan kadar glukosa acak dan 10 ekor untuk mengetahui kadar glukosa darah puasa dan dua jam setelah makan. Sampel darah diambil dari vena chepalica. Anjing yang dipilih sebagai sampel adalah anjing kintamani milik penduduk di daerah Denpasar dan Kintamani. Hasil penelitian ini menunjukkan rerataan kadar glukosa normal darah anjing kintamani secara acak sebesar 86,62 mg/dl  19,09, jantan adalah 84,10 mg/dl  19,11  dan betina 89,81 mg/dl  19,01..  Pada keadaan puasa kadar glukosa darah anjing kintamani adalah 73,4 mg/dl  5,98,   jantan 74 mg/dl  2,82 betina 73 mg/dl  7,69. Kadar glukosa darah anjing kintamani dua jam setelah makan sebesar 75,6 mg/dl  6,13, jantan 76,25 mg/dl  2,36 dan  betina 75,76 mg/dl 7,98. Hasil ini masih berada dalam kisaran normal berdasarkan standar acuan Graham. Dengan demikian Accu-check Active dapat dipakai untuk menentukan kadar glukosa darah anjing kintamani.

Residu Antibiotik Tetrasiklin dan Penisilin dalam Daging Sapi Bali yang Diperdagangkan di Beberapa Pasar di Bali (TETRACYCLINE AND PENILILLIN ANTIBIOTIC RESIDUES IN BALI BEEF WHICH ARE TRADED IN SEVERAL MARKETS IN BALI)

Jurnal Veteriner Vol 19 No 4 (2018)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Animal products that are marketed are found to contain antibiotics (residues), so that if consumed by the humans for a long time will have a negative effect on human health, therefore regular monitoring is needed. Therefore it is very important to do the research on antibiotic residues in beef in several market areas in Bali. This study aims to determine residual tetracycline and penicillin antibiotics on beef bali cattle in several markets in Bali-Indonesia.  Research using 60 samples of beef originated from 5 different markets in Bali. As many as 12 sempels (100 g for each sample) was taken from each market that were purchased from different merchants. Screening tests (bioassay test) used to determine antibiotic residues in meat. The results showed that only three samples were positive containing antibiotics there were tertrasiklin 2 samples (3.33%) and penicillin1sample(1.67%). It was concluded that there were still antibiotic residues in beef marketed  in Bali. 

Kerapuhan Sel Darah Merah Sapi Bali (THE FRAGILITY OF ERYTHROCYTES OF BALI CATTLE)

Jurnal Veteriner Vol 15, No 1 (2014)
Publisher : Jurnal Veteriner

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

An experimental study was conducted in order to evaluate the   of erythrocyte on bali cattle atVeterinary Physiology Laboratory, Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University, Denpasar, duringone month.  Fifty blood samples were taken from bali cattle which slaughtered at Pesanggaran abattoir,Denpasar. The erythrocyte fragility was determined by using method Red Cell Fragility Procedure (2001).Results showed that the fragility (initial haemolysis) on red blood cell of bali cattle was observed, atranged between 0.45% - 0.55% NaCl , while for total  haemolysis range between  0.30 - 0,35 % NaCl.

Hemolisis Eritrosit Babi Landrace Jantan yang Dipotong di Rumah Pemotongan Hewan Pesanggaran Denpasar

Indonesia Medicus Veterinus Vol 3 (3) 2014
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian mengenai hemolisis eritrosit babi landracejantan yang dipotong di Rumah Pemotongan Hewan Pesanggaran Denpasar, bertujuan untuk mengetahui titik fragilitas eritrosit (hemolisis awal) dan hemolisis total. Penelitian ini menggunakan 30 sampel darah babi landracejantan yang ditampung pada saat dipotong di Rumah Pemotongan Hewan Pesanggaran Denpasar, dan metode yang dipakai adalah terjadinya hemolisis dalam seri larutan 0,9%-0,3% NaCl. Hasil menunjukkan bahwa hemolisis awal terjadi pada rentang 0,65%-0,75% NaCl dengan rata-rata 0,70% NaCl dan standar deviasi ± 0,035, sedangkan hemolisis total terjadi pada rentang 0,45%-0,55% NaCl, rata – rata 0,45% NaCl, dan standart deviasinya ± 0,031. Dapat disimpulkan bahwa hasil yang didapat dari penelitian ini bahwa pada babi landrace jantan memiliki hemolisis awal 0,70% dan hemolisis total 0,45%. Disarankan untuk dilakukan penelitian lanjutan dengan melihat jenis kelamin, umur, dan asal hewan.

Tekanan Osmosis Membran Eritrosit Sapi Bali Jantan

Indonesia Medicus Veterinus Vol 4 (1) 2015
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian untuk mengetahui Tekanan Osmosis Membran Eritrosit Sapi Bali Jantan. Materi yang digunakan yaitu 30 ekor sapi dewasa ( kondisi klinis sehat, tanpa memperhatikan asal, dan pakan yang diberikan) yang disembelih di Rumah Pemotongan Hewan Pesanggaran, Denpasar. Metode penentuan tekanan osmosis yang dipakai menggunakan metode Swenson (2005), 2 mL darah sapi (diambil dari vena jugularis/saat disembelih), ditaruh dalam tabung reaksi yang telah diisi antikoagulan EDTA (Ethilyne Diamine Tetra Acetic). Kemudian disimpan dalam termos dingin dan segera diuji di laboratorium. Hasil menunjukkan bahwa tekanan osmosis membran eritrosit darah sapi bali sebagai berikut : hemolisis awal terjadi pada rata-rata 0,94 Osm/L (± 0.06) dengan rentang 0,85 Osm/L–1,03 Osm/L. Rataan total hemolisis 0,51 Osm/L (± 0,037) dengan rentang 0,51 Osm/L-0,60 Osm/L.

Titer Antibodi dan Hitung Jenis Leukosit Ayam Potong Jantan Pasca Vaksinasi Virus Newcastle Disease

Indonesia Medicus Veterinus Vol 5 (1) 2016
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian tentang titer antibodi dan gambaran hitung jenis leukosit ayam potong jantan pasca vaksinasi telah dilakukan di Laboratorium Bersama, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana, Denpasar bertujuan untuk mengetahui dan mempelajari pengaruh vaksinasi terhadap titer antibodi dan perubahan jumlah jenis-jenis leukosit dalam darah. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap pola split in time dengan dua faktor utama yaitu K = kontrol (tanpa vaksinasi), dan V (dengan vaksinasi). Masing-masing faktor dikelompokkan ke dalam 3 taraf waktu (yaitu 7, 14, dan 21) hari pasca vaksinasi sebagai V1, V2, dan V3. Masing-masing K dan V terdiri dari sepuluh ulangan sehingga diperlukan jumlah hewan coba dua puluh ekor ayam. Jenis ayam yang digunakan adalah ayam potong jenis CP 707 umur 1 hari. Setelah hari ke 7, 14, dan 21 pasca vaksinasi (untuk kelompok V), dan hari ke 7, 14, dan 21 pasca injeksi pelarut vaksin (untuk kelompok K) seluruh ayam diambil darahnya untuk diamati titer antibodi dan hitung jenis leukositnya. Analisis data dilakukan dengan uji ragam taraf 5 % dan bila berbeda nyata dilanjutkan dengan uji Sidak 5% (Steel dan Torrie, 1981). Hasil menunjukkan bahwa terjadi peningkatan yang nyata (P<0,05) terhadap titer antibodi dan jenis/prosentase limfosit, dan tidak berbeda nyata terhadap prosentase heterofil, esinofil, basofil dan monosit).

Uji Alergi Ekstrak Akar Tuba Terhadap Kulit Anak Kucing Lokal

Buletin Veteriner Udayana Vol. 8 No. 2 Agustus 2016
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine of Udayana University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Akar tuba (Derris eliptica) mengandung racun rotenaone yang merupakan senyawa isoflavon (flavonoid) termasuk dalam kelompok senyawa fenol. Senyawa ini dapat membunuh ikan, serangga, kutu dan tungau. Akar tuba dapat digunakan sebagai antiektoparasit misalnya kutu pada kucing, namun penelitian tentang  kepekaan kulit anak kucing terhadap ekstrak tuba belum ada. Penelitian ini menggunakan hewan coba 6 ekor anak kucing umur 1 – 3 bulan (tanpa diperhatikan jenis kelamin) yang dibagi menjadi 2 kelompok secara acak yaitu 3 ekor sebagai kontrol (K) dan 3 ekor sebagai perlakuan (P).Kucing dicukur rambutnya menggunakan gunting ukuran 0.5 cm x 0.5 cm di tengkuk, obdominal dan inguinal, kemudian ditetesi (satu tetes) dengan ekstrak akar tuba konsentrasi 15%, 20% dan 25 %. Setelah 30, 60, dan 120 menit, dilihat tanda-tanda alergi pada kulit yaitu timbulnya gatal, warna merah, atau meradang. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan metode analisis menggunakan varian taraf 5%. Uji lanjutan menggunakan  BNT 5%. Hasil menunjukkan bahwa ekstrak akar tuba konsentrasi 15%, 20%dan 25% tidak menyebabkan alergi pada kulit anak kucing. Disimpulkan bahwa ekstrak akar tuba aman digunakan untuk anti ektoparasit pada anak kucing umur 1-3 bulan.

ASOSIASI POLIMORFISME GENETIKA LOKUS DEOXYNUCLEIC ACID (DNA) MIKROSATELIT GEN BOVINE LYMPHOCYTE ANTIGEN (BoLA) DENGAN KUALITAS SEMEN PADA SAPI BALI

Jurnal Kedokteran Hewan Vol 7, No 2 (2013): J. Ked. Hewan
Publisher : Syiah Kuala University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (373.094 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan informasi dasar mengenai struktur genetika menggunakan marka melokuler DNA mikrosatelit gen bovine lymphocyte antigen (BoLA) dan hubungannya dengan kualitas semen sapi bali. Data diambil dari 8 ekor sapi jantan yang ada di Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Inseminasi Buatan, Baturiti, Tabanan, Bali. Hasil pemeriksaan kualitas sperma menunjukkan bahwa volume semen sapi bali 3,0-6,5 ml, konsentrasi spermatozoa 800-11.000 juta sel/ml, dan persentase spermatozoa motil 70-75%. Hasil penelitian pada sapi bali menunjukkan bahwa ketiga lokus mikrosatelit yang digunakan teramplifikasi pada sapi bali dan jumlah alel pada lokus RM185 dan BM1815 adalah 2 sedangkan jumlah alel pada lokus DRB3 adalah 1. Heterozigositas per lokus berkisar 0-0,533. Nilai PIC per lokus antara 0-0,375. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ukuran alel pada ketiga mikrosatelit berpotensi sebagai marka molekuler yang berperan terhadap kualitas semen pada sapi bali.