Articles

Found 1 Documents
Search
Journal : Jurnal Iktiologi Indonesia

Efek pemberokan dalam media air dengan salinitas yang berbeda terhadap kondisi fisiologis belut, Monopterus albus (Zuiew, 1793) Hadiroseyani, Yani; Sukenda, Sukenda; Surawidjaja, Enang Harris; Utomo, Nur Bambang Priyo; Affandi, Ridwan
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 16, No 3 (2016): Oktober 2016
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (MII )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (707.809 KB) | DOI: 10.32491/jii.v16i3.31

Abstract

This study aimed to evaluate the physiological responses of Asian swamp eel, Monopterus albus during the fasting period at different salinity levels. Fasting period was three days at four levels of salinity, i.e., 0 g L -1 , 3 g L - 1 , 6 g L - 1 , and 9 g L - 1 . The eels were stocked at a density of 200 kg m - 3 . Physiological parameters studied were blood plasma cortisol which was measured by radioimmunoassay method, blood plasma glucose and liver glycogen which were measured by spectrophotometer, blood plasma sodium which was analyzed by Atomic Absorption Spect rophotometer, and osmolality which was measured using osmometer. The results showed that salinity affected the physiological status of the eels. Fasting the eels could increase the blood plasma cortisol levels, but in at higher salinity levels the hormone was lower. Blood plasma sodium levels of the eels increased in line with higher salinity. Fasting the eels at salinity of 0 and 3 g L - 1 was increasing the glucose levels significantly compared to the eel at a salinity of 6 and 9 g L - 1 . In contrary, the liv er glycogen levels were statistically lower in salinity of 0 and 3 g L - 1 compared to the eels at a salinity of 6 and 9 g L - 1 . Fasting the fish for three days at all salinity treatments did not change the condition factor of the eels. The eels were exhibite d the best physiological performance during the three - days fasting period at a salinity of 9 g L - 1 .AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk meng evaluasi respons fisiologis ikan belut Monopterus albus pada pemberokan dengan tingkat salinitas yang berbeda. Pemberokan dilakukan pada ikan belut yang berukuran panjang 26,64 ± 2,94 cm dan b o - bot 12,57±4,99 g , selama tiga hari dalam media air dengan perlakuan empat tingkat salinitas, yaitu 0 g L - 1 , 3 g L -1 , 6 g L - 1 , dan 9 g L - 1 . B iomassa belut adalah 1 kg dalam 5 L air atau pada densitas 200 kg m - 3 . Parameter fisiologis yang diu - kur meliputi kortisol plasma darah dengan metode radioimunoasai, glukosa plasma darah dan glikogen hati dengan spektrofotometer, natrium plasma darah diana lisis dengan Atomic Absorption Spectrophotometer , dan osmolalitas de - ngan menggunakan osmometer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa p emberokan dan salinitas mengakibatkan peru - bahan kondisi fisiologis ikan belut. Pemberokan mengakibatkan k adar kortisol meningkat , n amun peningkatan salinitas dapat menekan kadar hormon tersebut. Kadar natrium plasma darah ikan belut mengalami peningkatan sejalan dengan semakin tingginya salinitas. Kadar glukosa belut yang diberok pada salinitas 0 dan 3 g L - 1 secara statistik lebih tinggi dan berbeda sangat nyata di b andingkan dengan belut pada salinitas 6 dan 9 g L - 1 . Hal sebaliknya t erjadi pada kadar gli - kogen hati, yaitu secara statistik lebih rendah pada salinitas 0 dan 3 g L - 1 dibandingkan dengan belut pada salinitas 6 dan 9 g L - 1 . P emberokan selama tiga hari pada semua perlakuan salinitas t idak mengakibatkan perubahan nilai faktor kondisi belut . Ikan belut memberikan respons fisiologis yang paling baik pada pemberokan tiga hari dengan salinitas 9 g L - 1.