I Made Sukada
Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana
Articles
16
Documents
THE ADVANTAGES AND DISADVANTAGES OF SYNDROMIC SURVEILLANCE METHODS

Buletin Veteriner Udayana Vol. 3 No.2 Agustus 2011
Publisher : Buletin Veteriner Udayana

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Syndromic surveillance is surveillance methods which has the potential to detect diseasesoutbreak in the early stages. The systems used existing data of disease syndromes whichgenerally appear at the beginning of infection to provide immediate analysis. Additionally,the method may identify the disease outbreak earlier than the conventional surveillancewhich commonly requires a longer time to determine the cause of the outbreaks. Althoughmany experts believe that syndromic surveillance is a good method for early detection ofdisease outbreak, some of them also believe that this system has several drawbacks

Perilaku Bermasalah pada AnjingKintamani

Buletin Veteriner Udayana Vol. 4 No.2 Agustus 2012
Publisher : Buletin Veteriner Udayana

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Anjing Kintamani adalah sebutan sekelompok anjing yang habitat aslinya di daerahKintamani. Penampilan dan karaketristik yang menarik menyebabkan anjing Kintamanisangat populer sebagai hewan kesayangan dan sekarang sedang diajukan ke FederationCynologique Internationale untuk penetapan sebagai anjing ras. Tujuan penelitian iniadalah mengevaluasi perilaku bermasalah pada anjing Kintamani. Penelitian ini dilakukandari bulan April sampai Mei 2011. Beberapa aspek yang berkaitan dengan masalah perilakudikumpulkan dengan menggunakan quesioner. Sebanyak 46 ekor anjing dari 75 anjing yangdigunakan sebagai sampel menunjukkan perilaku bermasalah (61.3%) dan 29 anjing tidakmenunjukkan perilaku bermasalah (38.7%). Di antara anjing yang digunakan sebagaisampel rata-rata umur anjing adalah 1- 2tahun dan hampir semua anjing belum disterilkan(92%). Juga didapat bahwa pemilik anjing memelihara anjingnya di halaman rumah (36%).Anjing berturut turt menunjukkan suara berlebihan (36%), perilaku merusak (17%), responberlebihan (6,7%), perilaku tidak pantas (34%) dan perilaku agresive (10,7%). Hasilpenelitian ini mendukung pendapat bahwa anjing kintamani tidak mempunyai perilakubermasalah, sehingga diharapkan sifat anjing Kintamani ini tetap dapat dipertahankan danuntuk dijadikan standar perilaku pada anjing kintamani

AMINO ACID SEQUENCE MOTIVE OF OSELTAMIVIR BINDING POCKET IN NEURAMINIDASE PROTEIN OF AVIAN INFLUENZA (H5N1) VIRUS FROM HUMAN AND ANIMAL IN INDONESIA

Jurnal Veteriner Vol 9, No 4 (2008)
Publisher : Jurnal Veteriner

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Former finding that avian influenza (AI) virus of H5N1 subtype from Indonesia shows reduced sensitivity against oseltamivir is critically reviewed trough molecular observation of the amino-acid sequence motive of neuraminidase protein (NA) of all H5N1 virus from human and animal in Indonesia available in GeneBank. Amino acid sequence of oseltamivir binding pocket of NA protein on all Indonesian viruses is typical for sensitive virus with a concerved motive of H274, E276, R292 dan N294. Resistance issue could not be explained based on available data.

Pola Distribusi Unggas dari Pasar Tradisonal Berperan dalam Penyebaran Virus Flu Burung

Jurnal Veteriner Vol 10, No 2 (2009)
Publisher : Jurnal Veteriner

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

A study has been carried out to map the distribution pattern of poultry from traditional market toreduce the transmission risk of avian influenza virus. The data were collected from threes markets wherepoultry are sold, namely in Bringkit of Badung Regency, Kumbasari of Denpasar City, and Kediri ofTabanan Regency. Data collections was based on interviews using questionnaire. Poultry from all marketsare distributed throughout Bali. Poultry are traded mainly for religious ceremony and immediatelyslaughtered as it arrives at the consumer’s house. The distribution pattern of poultry seems to play asignificant role in the disseminations of avian influenza virus. The right implementation of biosecurity intraditional markets is highly recommended to curb the risk.

Peranan Pedagang Unggas dalam Penyebaran Virus Avian Influenza

Jurnal Veteriner Vol 11, No 4 (2010)
Publisher : Jurnal Veteriner

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

A questionnaire surveillence have been carried out in three different traditional markets (ie. Beringkitin badung district, Kumbasari in Denpasar, Kediri in Tabanan district) in order to understand the role ofpaultry traders behavior in transmitting of avian influenza virus. Of 150 quationares collected most oftraders (66.7%) kept the animals for 1-3 days before it was marketed. Traders bin Beringkit and Kediri(76.3%) used to mix different species of birds in their cages, whereas none of the traders from Kumbasaridoing that. When hygienec and sanitation aspects were considered (ie. Washing and desinfectan sprayingfor cages) it was found that the behavior of traders varied markedly between the 3 different market. Inconclusion the traders awareness to especially bird flue infection and implementation of biosecurity isvery low.

Kualitas Susu Kambing Peranakan Etawah Post-Thawing pada Penyimpanan Suhu Kamar

Indonesia Medicus Veterinus Vol 1 (3) 2012
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Susu merupakan media cair yang mempunyai komposisi sangat lengkap, sehingga tidak dapat bertahan lama dalam waktu lama bila disimpan pada suhu kamar. Susu yang disimpan pada suhu kamar akan mudah rusak jika tidak mendapat perlakuan seperti pasteurisasi, pendinginan/pembekuan, dan pemanasan. Dibandingkan dengan susu sapi, susu kambing mengandung protein relatif lebih tinggi, yaitu 4,3% dibanding susu sapi 3%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas susu kambing PE post-thawing pada penyimpanan suhu kamar ditinjau dari uji didih, uji alkohol, dan uji derajat asam. Penelitian ini diulang sebanyak 6 kali setiap hari sekali dengan waktu penyimpanan pada suhu kamar selama 0 jam, 2 jam, 4 jam dan 6 jam. Kesimpulannya bahwa susu kambing PE post-thawing yang disimpan pada suhu kamar tidak melebihi 2 jam, sehingga susu kambing PE beku setelah di-thawing harus segera diminum.

Cakupan Vaksinasi Anti Rabies pada Anjing dan Profil Pemilik Anjing Di Daerah Kecamatan Baturiti, Tabanan

Indonesia Medicus Veterinus Vol 1 (4) 2012
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rabies merupakan salah satu penyakit yang bersifat zoonosis yang dapat menyerang manusia dan hewan berdarah panas dan dapat menyebabkan kematian. Penyakit ini ditularkan melalui gigitan hewan yang positif rabies. Bali merupakan salah satu daerah di Indonesia yang bebas rabies, namun semenjak kasus gigitan anjing positif rabies November 2008 di daerah Ungasan, Badung maka Bali dinyatakan sebagai daerah tertular rabies. Dalam hal ini Pemerintah Bali telah melakukan tindakan-tindakan dalam menanggulangi kasus rabies yang semakin menyebar luas di Bali. Akan tetapi, karena semakin luasnya daerah yang tertular rabies menunjukkan bahwa Pemerintah Bali belum maksimal dalam penanganan penyakit ini. Penelitian ini menggunakan metode observasional study, dengan melakukan pengumpulan data mengenai sosio-ekologi anjing dan profil pemilik anjing. Data mengenai sosio ekologi anjing meliputi: karakteristik anjing, terutama mengenai cakupan vaksinasi dan faktor resiko pada anjing yang tidak divaksin serta jumlah populasi anjing. Sedangkan data mengenai profil pemilik anjing meliputi: karakteristik keluarga, persepsi tentang penanganan rabies, pengetahuan tentang rabies dan vaksinasi, pengalaman dan pengetahuan tentang gigitan anjing. Dari penelitian ini diperoleh hasil sebagai berikut : cakupan vaksinasi di Banjar Pekarangan 79,4% dan Banjar Abianluang diperoleh hasil 67%, rata-rata hasil cakupan vaksinasi kedua Banjar tersebut 73,2%. Masih banyaknya masyarakat tidak memvaksin anjing dikarenakan belum cukup umur 5 orang, tidak dapat ditangani 11 orang, pemilik sibuk ketika waktu vaksin 22 orang dan pemilik acuh terhadap vaksinasi sebanyak 3 orang. Informasi mengenai rabies yang ada di masyarakat, didapat hasil sebanyak 274 orang mengetahui rabies dapat menginfeksi semua hewan mamalia, 251 orang mengetahui rabies dapat terjadi setiap waktu, dan 264 orang mengetahui rabies dapat dipengaruhi oleh faktor anjing. Sumber informasi didaerah tersebut, didapatkan hasil sebanyak 276 orang dari Pemerintah, sebanyak 243 orang mendapatkan informasi dari televisi, dan sebanyak 163 orang dari koran. Keberhasilan dalam pemberantasan rabies tidak akan berhasil jika hanya dengan vaksinasi dan eliminasi saja bila tidak dipadu dengan cara pemeliharaan anjing yang benar, sehingga perlu dilakukannya program pendidikan kepada masyarakat tentang bagaimana cara memelihara anjing yang baik, dengan membatasi pergerakan anjingnya (dengan cara diikat atau dikandangkan) serta perlunya meningkatkan pemahaman masyarakat akan pentingnya pemberian vaksinasi anti rabies, terutama pada anjing-anjing muda.

Kualitas Telur dan Pengetahuan Masyarakat Tentang Penanganan Telur di Tingkat Rumah Tangga

Indonesia Medicus Veterinus Vol 1 (5) 2012
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telur merupakan bahan pangan sempurna, karena mengandung zat gizi yang dibutuhkan untuk makhluk hidup seperti protein, lemak, vitamin dan mineral dalam jumlah cukup. Di masyarakat telur dapat disiapkan dalam berbagai bentuk olahan, harganya relatif murah, sangat mudah diperoleh dan selalu tersedia setiap saat. Ketersediaan telur yang selalu ada dan mudah diperoleh ini, harus diimbangi dengan pengetahuan masyarakat tentang penanganan telur, yang bertujuan untuk memperlambat penurunan kualitas atau kerusakan telur. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kualitas telur ayam konsumsi, di Banjar Gambang Desa Mengwi, Badung. Mengetahuai tingkat pengetahuan dan kepedulian masyarakat dalam penangangan telur konsumsi, di Banjar Gambang, Desa Mengwi, Badung, serta hubungannya terhadap kualitas telur. Penelitian ini dilakukan dengan metode pengujian terhadap Indeks Kuning Telur (IKT), Indeks Putih Telur (IPT), dan Haugh Unit serta memberikan kuisioner kepada setiap kepala keluarga, sebagai perwakilan diambil 30% dari jumlah kepala keluarga di Banjar Gambang secara acak, kemudian di analisis secara deskriptif, kemudian dicari persentase kualitas telur yang baik dan pengetahuan pengetahuan penanganan telur dengan uji Chi Square, selanjutnya ditampilkan dalam tabel 2x2. Dari Penelitian ini diperoleh hasil sebagai berikut : rata-rata Ideks Putih Telur 0,0250, rata-rata Indeks Kuning Telur 0,338, dan rata-rata nilai Haugh Unit 49,81. Serta hasil dari kuisioner diperoleh masyarakat yang berpengetahuan positif 49 Kepala Keluarga, berpengetahuan negatif 4 kepala keluarga. Kesimpulan dari penelitian ini adalah kualitas telur di Banjar Gambang, Desa Mengwi, Badung digolongkan kualitas B, sehingga telur masih layak untuk dikonsumsi, pengetahuan penanganan telur tidak berhubungan dengan kualitas telur. Saran yang dapat diberikan dalam penelitian ini adalah perlu dilakukan penelitian-penelitian terkait dengan hubungan pengetahuan terhadap kualitas telur pada jangkauan wilayah yang lebih luas dan jumlah sampel yang lebih banyak, sehingga dapat diperoleh data yang lebih representative.

PENGETAHUAN PEDAGANG TRADISIONAL DALAM PENANGANAN TELUR AYAM

Indonesia Medicus Veterinus Vol 1 (5) 2012
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengetahuan penanganan telur di beberapa warung tradisional tidaklah sama, hal ini dikarenakan pengetahuan, tingkat pendidikan, serta kepedulian pedagang di setiap warung berbeda-beda. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kualitas telur, tingkat pengetahuan pedagang terhadap penanganan telur di lingkungan Dukuh Sari Sesetan serta mengetahui sejauh mana hubungan pengetahuan terhadap kualitas telur. Penelitian ini dilakukan dengan metode pengujian terhadap Indeks Kuning Telur (IKT), Indeks Putih Telur (IPT), dan Haugh Unit (HU), sedangkan untuk pengetahuan mengenai penanganan telur digunakan cara menyebarkan kuisioner ke pedagang di 28 warung tradisional. Hasil data lalu di analisa secara deskiptif. Sebagai sampel dari penelitian ini, pada 28 warung tradisional diambil masing-masing 2 butir telur.Hasil penelitian ini menunjukkan rata-rata Indeks Kuning Telur (IKT) 0,339, rata-rata Indeks Putih Telur (IPT) 0,0377 dan rata-rata nilai Haugh Unit (HU) 55,978. Serta hasil dari kuisioner diperoleh pedagang dengan pengetahuan positif 23 pedagang, dan yang negatif 5 pedagang. Kemudian hasil tabel 2x2 yang terlihat bahwa, pengetahuan dan kualitas telur memperlihatkan adanya hubungan, tetapi hubungannya tidak terlihat terlalu signifikan dan ini menunjukkan bahwa pengetahuan bukan satu-satunya yang mendukung nilai kualitas telur. Pengetahuan pedagang di lingkungan Dukuh Sari Sesetan dapat dikatakan baik dan cukup mengerti apa yang menjadi point-point penting dalam hal menangani telur walaupun tidak sepenuhnya dilakukan. Dilihat dari hasil pemeriksaan secara subjektif dan objektif yang baik, maka ini membuktikan telur ayam konsumsi yang dijual pada 28 warung tradisional yang berada di lingkungan Dukuh Sari Sesetan layak dikonsumsi oleh masyarakat. Hendaknya masyarakat mulai meyakini media atau keterpaparan informasi tentang cara penanganan telur ayam konsumsi yang baik, yang nantinya dapat dipelajari dan diyakini sehingga akan mengubah prilaku masyarakat dalam penanganan telur menjadi yang lebih baik, agar mendapatkan hasil yang lebih baik pula.

Streptococcus agalactiae isolates FROM SUBCLINICAL MASTITIS CATTLE : I. In vitto phenotypic expression of isolates

Media Veteriner Vol 4, No 1 (1997): Media Veteriner
Publisher : Media Veteriner

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.134 KB)

Abstract

Thirty six isolates Streptococcus agalactiae from subclinical mastitis cattle in Bogor were esanlincd their phenotypic espressions such as hemolytic pattern. supernatant turbidity inliquid medium, and colony morphology in semisolid medium (agar semi solid). Nine, fifteen and ttvelve isolates showed their a, 0, and y hemolytic patterns respectively. Fourteen isolates showed turbid supernatant, 18 isolates with less turbid supernatant, and the rest gave clear supernatant in fluid medium. In agar semi solid, 15 isolates showed mostly thick diffuse colonies in combination with thin diffuse and compact colonies, 17 isolates with mostly thin diffuse colonies in combination with thick diffuse and compact colonies. The rest isolates showed compact without diffuse colonies. There was a relation between growth pattern in fluid medium and colony morphology in agar semi solid, and the varia