Articles

Found 31 Documents
Search

Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPA (Bagian-Bagian Tumbuhan) Dengan Pemanfaatan Lingkungan Alam Sekitar Kelas IV SDK Padat Karya Suhendro, Suhendro; N. Husain, Sarjan; Djirimu, Muchlis
Jurnal Kreatif Tadulako Online Vol 4, No 5 (2016): Junal Kreatif Tadulako Online
Publisher : Jurnal Kreatif Tadulako Online

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (14.194 KB)

Abstract

Permasalahan utama adalah rendahnya hasil belajar siswa dikelas IV SDK Padat Karya, pada pembelajaran IPA dengan materi bagian-bagian tumbuhan. Tujuan penelitian ini ialah untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SDK Padat Karya dengan materi bagian-bagian tumbuhan. Penelitian ini adalah PTK dan bersifat kolaboratif, tempat penelitian adalah siswa kelas IV SDK Padat Karya yang berjumlah 14 siswa. Penelitian dilaksanakan dalam empat tahap kegiatan yaitu Perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi dilaksanakan dua siklus kegiatan. Analisis data menggunakan tehnik analisis deskriptif, penyajian data kuantitatif dalam bentuk persentase data kualitatif yang berupa data observasi aktifitas siswa, observasi aktifitas guru dalam kegiatan pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada siklus 1 pertemuan pertama nilai rata-rata sebesar 61,7 dengan ketuntasan siswa sejumlah 5 siswa (36%) dari 14 siswa, pada pertemuan kedua memperoleh nilai rata-rata sebesar 64,6 dengan ketuntasan siswa sejumlah 7 siswa (50%). Sedangkan pada siklus II pertemuan pertama nilai rata-rata menjadi 70,2 dengan ketuntasan siswa sejumlah 10 siswa (70%) dari 14 siswa, pada pertemuan kedua memperoleh nilai rata-rata sebesar 78,2 dengan ketuntasan siswa sejumlah 13 siswa (81%). Indikator kinerja hasil belajar yang peneliti tentukan telah tercapai pada pembelajaran siklus II, yaitu nilai rata-rata hasil tes IPA mencapai 78,2 untuk prosentase ketuntasan juga telah tercapai yaitu sebesar 92% dengan jumlah siswa sebanyak 13 siswa telah mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu 65 dari 14 siswa kelas IV SDK Padat Karya. Bila dilihat dari aspek aktivitas siswa maupun aktivitas guru keduanya mengalami peningkatan dari kategori baik pada siklus I menjadi kategori sangat baik pada siklus II. Dengan demikian penggunaan metode demonstrasi dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SDK Padat Karya pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Kata Kunci: Hasil Belajar IPA; Lingkungan Alam Sekitar.
Interleukin-18 levels in adult dengue fever and dengue hemorrhagic fever Pohan, Herdiman T.; Suhendro, Suhendro; Bur, Rika; Matondang, Asnath; Djauzi, Samsuridjal; Inada, Katsuya; Endo, Shigeatsu
Medical Journal of Indonesia Vol 13, No 2 (2004): April-June
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (271.037 KB) | DOI: 10.13181/mji.v13i2.136

Abstract

Interleukin (IL)-18 ( interferon-γ inducing factor) is one of cytokines, produced by macrophage, take part in differentiation T-helper (Th) to Th1 and interferon γ producing. T helper1 play role in cellular immunity especially in viral infection include dengue. A descriptive correlative study has done to know the correlation between IL-18 levels and disease severity in admitted dengue fever (DF) and dengue hemorrhagic fever (DHF) patients. In 42 subjects consist of 20 (47.6%) DF and 22 (53.3%) DHF (grade I to IV WHO criteria, 1999) showed that IL-18 levels significantly higher in DHF than DF patients. There are significant correlation between IL-18 levels and hematocrit and low platelet value. This study supports the possible role of IL-18 in pathogenesis DHF in adults. (Med J Indones 2004; 13: 86-9)Keywords: dengue, dengue hemorrhagic fever, IL-18, cytokine, pathogenesis
Procalcitonin Level Differences in Patients with Liver Cirrhosis Without Bacterial Infection Mesanti, Oska; Gani, Rino Alvani; Simadibrata, Marcellus; Suhendro, Suhendro
The Indonesian Journal of Gastroenterology, Hepatology, and Digestive Endoscopy Vol 18, No 1 (2017): VOLUME 18, NUMBER 1, April 2017
Publisher : The Indonesian Journal of Gastroenterology, Hepatology, and Digestive Endoscopy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1464.807 KB) | DOI: 10.24871/181201715-19

Abstract

Background: Procalcitonin level can increase in patients with liver cirrhosis without bacterial infection. The aim of this study is to identify the role of procalcitonin in patients with liver cirrhosis without bacterial infection.Methods: Cross-sectional study was performed to patients with liver cirrhosis without bacterial infection. In patients, we performed procalcitonin level examination and bacterial infection identification. Further, we analysed them to know the procalcitonin level difference in patients with compensated and decompensated liver cirrhosis without bacterial infection.Results: We obtained 39 patients with liver cirrhosis without bacterial infection, male 61.5% with compensated condition found in 17 patients and decompensated in 22 patients. We found significant difference in the average of procalcitonin level in decompensated patients (0.738ng/mL ± 1.185) compared to compensated (0.065ng/mL ± 0.022).Conclusion: Procalcitonin level increased in patients with liver cirrhosis without bacterial infection. The level in decompensated patients were higher compared to compensated patients.
DETERMINAN PEMILIHAN KARIR SEBAGAI AKUNTAN PUBLIK OLEH MAHASISWA AKUNTANSI Asmoro, Tri Kusno Widi; Wijayanti, Anita; Suhendro, Suhendro
JURNAL EKONOMI UHO Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : JURNAL EKONOMI UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (128.186 KB)

Abstract

The purpose of this research is to analyze some factors which can influence the accounting students’ interest at Batik Islamic University and the  Sebelas Maret University Surakarta. This research sample using purposive sampling. The samples are 100 respondents. The analytical method is multiple linear regression.The results of this research shown that partially only factor training of professionals who have a significant influence on career selection of students S1 accounting to be public accounting. Meanwhile the salary factor, professional recognition, work environment, social values, consideration of the labor market, and personality have no significant effect. Whereas, simultaneously concluded that the factors of salaries, professional training, professional recognition, work environment, social values, labor market considerations, and personality have a positive and significant influence on student career selection of S1 accounting to be public accounting.
FACTORS INFLUENCING THE SELECTION OF ACCOUNTING STUDENTS IN A CAREER AS A PUBLIC ACCOUNTANT Widi Asmoro, Tri Kusno; Wijayanti, Anita; Suhendro, Suhendro
JURNAL EKONOMI AKUNTANSI DAN MANAJEMEN Vol 15, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract The purpose of this study is to find the influence of the factors of the career selection of the S1 student at accounting department at Batik Islamic University and the University of Sebelas Maret Surakarta.This research sample using purposive sampling. The samples are 100 respondents. The analytical method is multiple linear regression.The results of this research shown that partially only factor training of professionals who have a significant influence on career selection of students S1 accounting to be public accounting. Meanwhile the salary factor, professional recognition, work environment, social values, consideration of the labor market, and personality have no significant effect. Whereas, simultaneously concluded that the factors of salaries, professional training, professional recognition, work environment, social values, labor market considerations, and personality have a positive and significant influence on student career selection of S1 accounting to be public accounting. Keywords: Career, colleger, public accounting
APLIKASI HSE PLAN PROYEK PERAPIAN INSTALASI KABEL DI TBBM BOYOLALI Suhendro, Suhendro
Orbith Vol 11, No 1 (2015): Maret 2015
Publisher : Orbith

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Manajemen proyek adalah sebuah disiplin keilmuan dalam hal perencanaan, pengorganisasian, pengelolaan (menjalankan serta pengendalian), untuk dapat mencapai tujuan-tujuan proyek. Proyek adalah sebuah kegiatan yang bersifat sementara yang telah ditetapkan awal pekerjaannya dan waktuselesainya (dan biasanya selalu dibatasi oleh waktu, dan seringkali juga dibatasi oleh sumber pendanaan), untuk mencapai tujuan dan hasil yang spesifik dan unik,[1] dan pada umumnya untuk menghasilkan sebuah perubahan yang bermanfaat atau yang mempunyai nilai tambah. Proyek selalubersifat sementara atau temporer dan sangat kontras dengan bisnis pada umumnya (OperasiProduksi)[2], dimana Operasi-Produksi mempunyai sifat perulangan (repetitif), dan aktifitasnya biasanya bersifat permanen atau mungkin semi permanen untuk menghasilkan produk atau layanan (jasa/servis). Pada prakteknya, tipe manajemen pada kedua sistem ini sering berbeda, dengan kemampuan teknis dan keputusan manajemen strategis yang spesifik. Menyediakan lingkungan kerja yang aman bagi karyawan, buruh pelabuhan, rekanan, pelanggan dan pengunjung. Dengan memperhatikan Aspek Keamanan, Keselamatan dan Kesehatan Kerja, dan berusaha mencegah terjadinya Kecelakaan Akibat Kerja (KAK), Penyakit Akibat Kerja (PAK) dan pencemaran terhadap lingkungan kerja maupun lingkungan sekitarnya, menjamin bahwa setiap kegiatan operasional tidak mengakibatkan risiko cidera, Penyakit Akibat Kerja (PAK), kerugian, atau berdampak negatif  bagi karyawan, lingkungan kerja dan masyarakat sekitar.  Mematuhi semua peraturan yang berlaku baik untuk aspek keselamatan dan kesehatan kerja maupun lingkungan dan menempatkan SMK3 (Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja) pada posisi sejajar, beriringan, dan setara dengan Sistem Manajemen lainnya. Melakukan perbaikan dan peningkatan kinerja SMK3 secara berkesinambungan.  Memastikan Bahwa Kebijakan Keselamatan dan Kesehatan Kerja di CV Adi Utama telah dikomunikasikan, dimengerti, dan dipatuhi oleh seluruh karyawan dan pihak terkait lainnya.
PENGALAMAN PRIBADI MENGOBATI PENYAKIT STROKE SECARA ALAM Suhendro, Suhendro
Orbith Vol 10, No 1 (2014): Maret 2014
Publisher : Orbith

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stroke (bahasa Inggris: stroke, cerebrovascular accident,(CVA) adalah suatu kondisi yang terjadi ketika pasokan darah ke suatu bagian otak tiba-tiba terganggu. Dalam jaringan otak, kurangnya aliran darah menyebabkan serangkaian reaksi biokimia, yang dapat merusakkan atau mematikan sel-sel saraf di otak. Kematian jaringan otak dapat menyebabkan hilangnya fungsi yang dikendalikan oleh jaringan itu. Stroke adalah penyebab kematian yang ketiga di Amerika Serikat dan banyak negara industri di Eropa (Jauch,2005).Bila dapat diselamatkan, kadang penderita mengalami kelumpuhan di anggota badannya,hilangnya sebagian ingatan atau kemampuan bicaranya. Beberapa tahun belakangan ini makin populer istilah serangan otak. Istilah ini berpadanan dengan istilah yang sudah dikenal luas, "serangan jantung".Stroke terjadi karena cabang pembuluh darah terhambat oleh emboli, Emboli bisa berupa kolesterol atau udara.
APLIKASI MANAGEMEN K3LL PADA PROYEK PERAPIAN INSTALASI KABEL DI TBBM BOYOLALI Suhendro, Suhendro
Orbith Vol 11, No 2 (2015): Juli 2015
Publisher : Orbith

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

K3LL merupakan singkatan dari kesehatan keselamatan kerja dan lindung lingkungan. Dalam  K3LL hal yang penting dipelajari adalah bagaimana cara agar seseorang dapat menghindari segala macam kerugian yang diperolehnya dalam melakukan suatu aktivitas atau pekerjaan. Ada beberapa terminologi dalam K3LL yang menjadi dasar utama kajian ilmu tersebut yaitu, hazard,risk, incident, dan accident. Hazard adalah segala macam hal baik benda maupun kondisi lingkungan tertentu yang dapat menimbulkan suatu bahaya atau berpotensi memiliki bahaya.Riskatau risiko adalah besarnya kemungkinan suatu bahaya dapat mengenai suatu objek yang berada di sekitar hazard.Jika dibuatsebuah fungsi dari risk, maka variabel yang terikat di dalamnya adalah konsekuensi (consequence) yang ditimbulkan dan besar kemungkinan (probability) yang dapat membuat suatu bahaya dapat terjadi.Kemudian incident adalah suatu kecelakaan yang tidak menimbulkan kerugiansedangkan accident adalah suatu kecelakaan yang dapat memberikan kerugian.Kedua-duanya merupakan kejadian yang tak terduga dan tiba-tiba terjadi pada saat melakukan kegiatan atau aktivitas pekerjaan.
Culture-and nonculture-based antibiotics for complicated soft tissue infections are comparable Irwanto, Ronald; Suhendro, Suhendro; Chen, Khie; Abdullah, Murdani
Universa Medicina Vol 32, No 1 (2013)
Publisher : Faculty of Medicine, Trisakti University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/UnivMed.2013.v32.20 - 28

Abstract

BACKGROUNDData collected in 2010 from Cipto Mangunkusumo Hospital indicate thatcomplicated skin and soft tissue infections accounted for more than 10% ofcases. Etiological diagnoses are based on the findings on bacterial culture andthus evaluation of the effectiveness of bacterial culture becomes a necessity.The purpose of this study was to evaluate the operational effectiveness ofbacterial culture for etiological diagnosis of complicated skin and soft tissueinfections.METHODSThis was a historical cohort study using secondary data of patients withcomplicated skin and soft tissue infections admitted for hospitalization to CiptoMangunkusumo Hospital, Jakarta from July 2011 to July 2012. The 90 subjectsmeeting the inclusion and exclusion criteria were divided into 2 groups of 45patients each. Group 1 comprised patients who received initial antibiotic therapyaccording to cultural results, while the patients in group 2 received initial antibiotictherapy without reference to cultural results. Successful diagnostic culture wasassessed by the absence of therapeutic failure. Therapeutic failure wasdetermined using 3 parameters that had to be fulfilled, viz. absence of antibioticescalation, repeat operations, and clinical deterioration. The latter parameterwas assessed by clinical judgement of the attending physician.RESULTSAfter controlling for confounding variables (age, severity of infection,comorbidity), there was no statistical difference in therapeutic success betweenculture-based and non-culture based initial antibiotic therapies (OR=0.45,p=0.085).CONCLUSIONThis study demonstrates the ineffectiveness of bacterial culture as a diagnosticcriterion for appropriate antibiotic therapy of complicated skin and soft tissueinfections.
Perbedaan Kadar C-Reactive Protein pada Demam Akut karena Infeksi Dengue dan Demam Tifoid Idhayu, Adeputri Tanesha; Chen, Lie Khie; Suhendro, Suhendro; Abdullah, Murdani
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 3, No 3 (2016)
Publisher : Jurnal Penyakit Dalam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan. Infeksi dengue dan demam tifoid merupakan penyakit endemik di Indonesia. Namun pada awal awitan demam terdapat kesulitan dalam membedakan keduanya. Oleh karena itu dibutuhkan modalitas pemeriksaan penunjang yang sederhana untuk membantu diagnosis infeksi dengue dan demam tifoid. C-Reactive Protein (CRP) merupakan alat bantu diagnostik yang terjangkau, cepat dan murah untuk diagnosis penyebab demam akut. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan kadar CRP pada demam akut karena infeksi dengue dengan demam tifoid.Metode. Penelitian ini merupakan studi potong lintang pada pasien demam akut dengan diagnosis demam dengue/ demam berdarah dengue atau demam tifoid yang dirawat di IGD atau ruang rawat RSCM, RS Pluit dan RS Metropolitan Medical Center Jakarta dalam kurun waktu Januari 2010 sampai dengan Desember 2013. Kadar CRP yg diteliti adalah CRP yang diperiksa 2-5 hari setelah awitan demam. Data penyerta yang dikumpulkan adalah data demografis, data klinis, pemberian antibiotik selama perawatan, leukosit, trombosit, neutrofil, LED dan lama perawatan.Hasil. Sebanyak 188 subjek diikutsertakan pada penelitian ini, terdiri dari 102 pasien dengue dan 86 pasien demam tifoid. Median (RIK) CRP pada infeksi dengue 11,65 (16) mg/L dan pada demam tifoid 53 (75) mg/L. Terdapat perbedaan median CRP yang bermakna antara infeksi dengue dan demam tifoid (p <0,001). Pada titik potong persentil 99%, didapatkan hasil kadar CRP infeksi dengue sebesar 45,91 mg/L dan kadar CRP demam tifoid pada level persentil 1% sebesar 8 mg/L.Simpulan. Terdapat perbedaan kadar CRP pada demam akut karena infeksi dengue dengan demam tifoid. Pada titik potong persentil 99%, kadar CRP >45,91 mg/L merupakan diagnostik CRP untuk demam tifoid, kadar CRP <8 mg/L merupakan diagnostik CRP untuk infeksi dengue. kadar CRP 8-45,91 mg/L merupakan area abu-abu dalam membedakan diagnosis keduanya.Kata Kunci: dengue, demam tifoid, protein C-reaktif The Difference of C-Reactive Protein Levels in Acute Fever caused by Dengue and Typhoid InfectionsIntroduction. Dengue infection and typhoid fever are endemic disease in Indonesia. But in the early days of onset sometimes it is difficult to distinguish them. A simple modality test is needed to support the diagnosis. C-Reactive Protein (CRP) is an affordable, fast and relatively less expensive diagnostic tool to diagnose the causes of acute fever. This study was aimed to determine the differences of CRP level in the acute febrile caused by dengue infection or typhoid fever. Methods. A cross sectional study has been conducted among acute febrile patients with diagnosis of dengue fever/ dengue hemorrhagic fever or typhoid fever who admitted to the emergency room or hospitalized in Cipto Mangunkusumo Hospital, Pluit Hospital, and Metropolitan Medical Center Hospital Jakarta between January 2010 and December 2013. Data obtained from medical records. CRP used in this study was examined at 2-5 days after onset of fever. The other collected data were demographic data, clinical data, use of antibiotics, leukocytes, platelets, neutrophils, ESR, and length of stay in hospital. Results. 188 subjects met the inclusion criteria; 102 patients with dengue and 86 patients with typhoid fever. Median CRP levels in dengue infection was 11.65 (16) mg/L and in typhoid fever was 53 (75) mg/L. There were significant differences in median CRP levels between dengue infection and typhoid fever (p < 0.001). At the 99% percentile cut-off point, CRP levels for dengue infection was 45.91 mg/L and CRP levels for typhoid fever at 1% percentile was 8 mg / L. Conclusions. There was significantly different levels of CRP in acute fever due to dengue infection and typhoid fever. At the 99% percentile cut-off point, CRP level >45.91 mg/L was diagnostic for typhoid fever, CRP level <8 mg/L was diagnostic for dengue infection. CRP level between 8 to 45.91 mg/L was a gray area for determining diagnosis of dengue infection and typhoid fever. Keywords: C-reactive protein, dengue, typhoid fever