. Suharyanto
Unknown Affiliation

Published : 47 Documents
Articles

Sifat Fisiko-Kimia Dendeng Daging Giling terkait Cara Pencucian (Leaching) dan Jenis Daging yang Berbeda Suharyanto, .; Priyanto, R; Gurnadi, E
MEDIA PETERNAKAN - Journal of Animal Science and Technology Vol 31, No 2 (2008): Media Peternakan
Publisher : Faculty of Animal Science, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (146.127 KB) | DOI: 10.5398/

Abstract

Dendeng is a typical Indonesian jerked meat commonly made from sliced or ground beef with 2 mm thickness. This research was conducted to study the effect of kind of meat and leaching method on pH, toughness, protein, fat content and peroxide value (PV) of ground jerked meat. The experiment was set up in a completely randomized factorial design with three replications. The first factor was three levels of leaching methods (no washing, washed in 1.5 x 1.5 x1.5 cm size and washed minced meat). The second factor was kind of meat namely horse meat, lamb and beef. The results indicated that neither interaction effect between leaching and kind of meat nor effect of leaching were significant on all characteristics observed. Kind of meat influenced significantly on the pH, toughness, fat content and PV of dendeng (P < 0.01). Key words: dendeng, physical-chemical characteristics, leaching
Eksplorasi dan karakterisasi bakteri aerob ligninolitik serta aplikasinya untuk pengomposan tandan kosong kelapa sawit Exploration and characterization of ligninolytic aerobic bacteria and its application in composting oil palm empty fruit bunch PRAKOSO, Haryo Tejo; WIDIASTUTI, Happy; SUHARYANTO, .; SISWANTO, .
E-Journal Menara Perkebunan Vol 82, No 1: Juni 2014
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.531 KB) | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v82i1.27

Abstract

AbstractLignin is a complex compounds that makes up the cell walls of plants and is quite difficult to degrade at normal ambient condition.  One of the organic materials with high  lignin content is empty fruit bunches (EFB) of oil palm. So far, the well-studied microorganism to degrade lignin is of a class of fungi. Utilization of bacteria to degrade lignin in EFB has rarely been reported although application of the bacteria is very important if it is associated with aerobic composting which requires regular turning process and supporting clean development mechanism (CDM). The objective of this study was to explore and characterize the bacteria having capability to degrade lignin in EFB. The result showed that from 14 types of sample, 12 and 11 isolates were obtained through non enrichment and enrichment methods respectively. Qualitative test was performed using a lignin derivative dye (methylene blue/MB) suspended in Luria Bertani (LB) solid media and the formation of the clear zone was observed, while quantitative assay was performed with enzyme activity assays of laccase (Lac), manganese peroxidase (Mn-P), and lignin peroxidase (Li-P). The best isolate (FS isolate) was obtained from enrichment method that able to make 0.6 cm clear zone of LB media + MB and actively produced laccase, manganese peroxidase with and without addition of Mn with an activity of 2.68, 20.02, and 0.36 U/mL, respectively. While the best isolate from non enrichment method was CRK 1, that was able to make   0.3 cm clear zone and produced Mn-peroxidase with and without addition of Mn as much as 2.09 and 0.23 U/mL, respectively. Application of the decomposer formula could speed upthe declining rate of C/N ratio and suppressing Escherichia coli and Salmonella sp.in EFB compost produced. Abstrak Lignin merupakan senyawa kompleks yang menyusun dinding sel tanaman dan cukup sulit didegradasi secara alami. Salah satu bahan organik yang mempunyai kadar lignin tinggi adalah tandan kosong kelapa sawit (TKKS). Sejauh ini, mikroorganisme yang banyak dipelajari dalam mendegradasi lignin adalah dari golongan jamur. Peng-gunaan bakteri dalam mendegradasi lignin pada TKKS belum banyak dilaporkan walaupun peran bakteri lignino-litik aerob sangat penting jika dikaitkan dengan proses pengomposan secara aerob yang membutuhkan pembalikan secara berkala danprogram clean development mechanism (CDM). Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi dan meng-karakterisasi  bakteri  yang  berpotensi  mendegradasi lignin  dalam pengomposan TKKS. Dari 14 jenis sampel diperoleh sebanyak 12 dan 11 isolat melalui metode tanpa dan dengan pengkayaan. Uji kualitatif dilakukan dengan mengukur terbentuknya zona bening pada media Luria Bertani (LB) padat yang mengandung senyawa warna turunan lignin (biru metilen/MB).Uji kuantitatif dilakukan dengan mengukur aktivitaslakase, Mn-peroksidase, dan lignin peroksidase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat FS  merupakan isolat terbaik dari metode pengkayaan yang mampu membentuk zona bening pada medium LB + MB  0,6 cm, sedangkan isolat terbaik dari metode tanpa pengkayaan adalah CRK 1 dengan zona bening 0,3 cm pada medium yang sama setelah inkubasisemalam. Isolat FS memiliki aktivitas lakase, Mn-peroksidase dengan dan tanpa Mn berturut-turut adalah sebesar 2,68; 20,02; dan0,36 U/mL, sedangkan isolat CRK 1 memiliki aktivitas Mn-peroksidase dengan dan tanpa Mnberturut-turut adalah 2,09 dan 0,23 U/mL. Aplikasi formula dekomposer pada pengompos-an 200 ton TKKS mampu mempercepat laju penurunan nisbah C/N dan menekan populasi Escherichia coli dan Salmonella sp.
Produksi dan stabilisasi desaturase dari Absidia corymbifera Production and stabilization of desaturases from Absidia corymbifera TRI-PANJI, .; SUHARYANTO, .; PAULUS, A W; SYAMSU, K; FAUZI, A M
E-Journal Menara Perkebunan Vol 70, No 2: Desember 2002
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.315 KB) | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v70i2.129

Abstract

SummaryDesaturases are enzymes which catalyze desaturation process on carbon chain of fatty acids into unsaturated fatty acids useful for healthy oil. Desaturases could be produced from Absidia corymbifera and applied for increasing unsaturation level and crude palm oil (CPO) quality. Desaturases have been known as very unstable enzymes. The objective this research was to determine carbon sources and culture time for optimum desaturase production, fatty acid composition resulted from desaturase bioconversion, and methods for stabilization of desaturase from A. corymbifera. Results showed that desaturases from A. corymbifera are intracellular enzymes that reached the highest activity in Serrano-Careon medium with C sources of a mixture of sucrose and paraffin (0.14 U/mL) and C sources of molasses (0.11 U/mL) incubated for 76 and 120 hours respectively. Activity of ∆6 and ∆12 desaturases have been detected in culture filtrate of A. corymbifera. Activiy of ∆12 desaturase was confirmed by increasing of linoleic acid in CPO incubated with culture filtrate and biomass extract, while activity of ∆6 was detected by its conversion as much as 66.48 % linoleic acid into gamma linolenic acid (GLA) that having high economic value. Precipitation of culture filtrate and lipid extraction of biomass were unable to stabilize desaturases. Desaturase degradation rate could be inhibited by isolation and washing of microsome fraction using high salt buffer. This method could stabilize desaturases 70-80% from initial activity at storage temperature 25o C and 50 o C for 6 hours. RingkasanDesaturase merupakan enzim yang berperan dalam proses desaturasi rantai karbon asam lemak menjadi asam lemak tak jenuh yang banyak manfaatnya bagi kesehatan. Desaturase dapat dihasilkan dari Absidia corymbifera dan diamplifikasikan untuk peningkatan ketidakjenuhan dan kualitas minyak sawit mentah (CPO). Enzim desaturase dikenal sangat tidak stabil. Penelitian bertujuan menetapkan sumber karbon dan waktu kultur yang memberikan aktivitas desaturase tertinggi, komposisi asam lemak hasil konversi desaturase dan cara menstabilkan desaturase dari A. corymbifera. Hasil penelitian menunjukkan bahwa desaturase dari A. corymbifera merupakan enzim intraselular yang mencapai aktivitas tertinggi pada medium Serrano-Careon dengan sumber karbon campuran sukrosa dan parafin (0,14 U/mL) dan sumber karbon molases (0,11 U/mL) masingmasing pada inkubasi selama 76 dan 120 jam. Aktivitas ∆6 dan ∆12 desaturase terdeteksi pada cairan fermentasi A. corymbifera. Aktivitas ∆12 desaturase terdeteksi dari peningkatan persentase asam linoleat pada CPO yang telah diinkubasi dengan cairan fermentasi atau ekstrak biomassa, sedangkan aktivitas ∆6 desaturase terdeteksi dari dikonversinya sebesar 66,48% asam linoleat menjadi asam gamma linolenat (GLA) yang memiliki potensi nilai ekonomis lebih tinggi. Pengendapan filtrat kultur fermentasi dan ekstraksi lipida biomassa tidak mampu menstabilkan desaturase. Laju degradasi desaturase dapat dihambat dengan cara isolasi dan pencucian fraksi mikrosom dengan bufer garam. Cara tersebut dapat mempertahankan aktivitas desaturase 70–80% pada penyimpanan suhu 25o C dan 50o C selama enam jam.
Produksi, isolasi dan karakterisasi superoksida dismutase dari Spirulina platensis yang dibiakkan dalam serum lateks Production, isolation, and characterization of superoxyde dismutase from Spirulina platensis cultured on latex serum TRI-PANJI, .; SUHARYANTO, .; WIJAYANTI, Marini
E-Journal Menara Perkebunan Vol 77, No 1: Juni 2009
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (374.392 KB) | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v77i1.113

Abstract

AbstractSpirulina platensis is a blue-green microalgawhich is frequently used for food and feedsupplements and cosmetic active agent. Thismicroalga also produces a strong antioxidantnamely superoxide dismutase (SOD) used ascosmetic active agent for anti aging and anti freeradicals. SOD was isolated from S. platensis cellbiomass from local isolate grown on latex serumon semipilot (3.5 m 3 ) and pilot scale (40 m 3 )then dried with spray drying or sun drying andcharacterized. SOD was purified with sequentialtwo-stage sedimentation using ammoniumsulphate and fractionated in chromatographiccolumn containing Sephadex G 200. Thefractions were analysed to determine the activity,cofactor metal and amino acid composition of theantioxidant. The results showed thatsedimentation of SOD extract with 80%ammonium sulphate produced SOD with higheractivity compared to that of SOD fromcommercial S. platensis biomass. This SOD wassuccessfully isolated and purified. MetaloenzymeSOD was composed of subunits with molecularweight of 77.78; 71.74; and 19.2 kDa, whichcontained nine types of amino acids with tyrosineand lysine as the major amino acid components.Zn was the most predominant metal on SOD, thenfollowed by Fe and Mn. The main subunitcofactors consisted of Zn 72%, Fe 25%, Mn 2%,and Cu 1%, which were different from thesmall subunit that contained of Zn 55%, Mn 31%,Fe 14%, and Cu 4%. The stability of SOD wasachieved on pH 7.5 and temperature below 25 o C.AbstrakSpirulina platensis adalah mikroalga hijaubiru yang banyak digunakan sebagai suplemenpangan, pakan, dan bahan aktif kosmetika.Mikroalga ini juga menghasilkan antioksidankuat yaitu superoksida dismutase (SOD), yangmerupakan bahan aktif kosmetika anti penuaandini dan pencegah efek radikal bebas. SODdiisolasi dari biomassa sel S. platensis isolat lokalyang dibiakkan dalam serum lateks skalasemipilot (3,5 m 3 ) dan pilot (40 m 3 ) sertadikeringkan dengan cara pengeringan kabut(spray drying) atau penjemuran untuk kemudiandikarakterisasi. SOD dimurnikan dengan peng-endapan bertingkat menggunakan ammoniumsulfat dan dipisahkan dengan kolom kromatografiberisi Sephadex G 200. Hasil pemisahankemudian dianalisis untuk menentukan aktivitas,logam kofaktor serta komposisi asam amino antioksidan tersebut. Hasil penelitian menunjukkanbahwa pengendapan ekstrak SOD denganSOD lebih tinggi dari SOD asal biomassaS. platensis komersial. SOD tersebut telahberhasil diisolasi dan dimurnikan. MetaloenzimSOD tersusun atas subunit dengan BM 77,78;71,74; dan 19,2 kDa, yang mengandungsembilan jenis asam amino dengan tirosin danlisin sebagai komponen asam amino utama.Logam yang dominan pada SOD adalah Zn,disusul kemudian Fe dan Mn. Kofaktor sub unitbesar terdiri dari Zn 72%, Fe 25%, Mn 2%, danCu 1%, berbeda dengan sub unit kecil yangmengandung Zn 55%, Mn 31%, Fe 14%, dan Cu4%. Stabilitas SOD S. platensis dicapai pada pH7,5 dan suhu di bawah 25 o Cammonium sulfat 80% menghasilkan aktivitas
Biosorpsi ion tembaga dalam limbah tailing menggunakan jamur pelapuk putih amobil Biosorption of copper ion in tailing mining effluent using immobilizede white-rot fungi DIMAWARNITA, Firda; SUHARYANTO, .; TRI-PANJI1, .; RICHANA, Nur; ZAINUDIN, Achmad
E-Journal Menara Perkebunan Vol 83, No 1: Juni 2015
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.47 KB) | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v83i1.11

Abstract

Abstract         Copper and gold mining industry produce large amount of tailings effluent containing heavy metals such as Cu and Hg that will polute  environment and agricultural land, if it is not properly treated.  Effort in reducing pollution level and recovery of metal in tailing could be conducted with biosorption process using microbial cell as an absorbent agent. This study aims to determine the ability of selected white rot fungi (WRF) immobilized on empty fruit bunches of oil palm (EFB)  to absorb Cu (II) metals in tailing. Based on growth rate, ligninolytic enzymes activity, and the absorption capacity of heavy metals, the superior WRF candidate was Omphalina sp. The ability of biomass Omphalina sp. to decrease the con-centrateion of Cu (II) with an initial concentration of 150 ppm, up to 63%. Omphalina sp. that immobilized on TKKS was able to reduce Cu (II) as much as 66-77% at pH 4.0 for 60 minutes. Abstrak                Eksploitasi tambang tembaga dan emas banyak menghasilkan limbah tailing yang masih me-ngandung logam berat seperti Cu (II) dan Hg (II). Limbah tersebut berpotensi mencemari perairan dan lahan pertanian bila tidak ditangani dengan baik.  Usaha untuk mengatasi limbah tailing dan sekaligus memekatkan (recovery) logam di dalam-nya dapat dilakukan dengan proses biosorpsi menggunakan sel mikroba. Penelitian ini bertujuan menetapkan kemampuan biomassa jamur pelapuk putih (JPP) yang diimobilisasi pada tandan kosong kelapa sawit (TKKS) dalam mengabsorpsi ion logam Cu (II). Metode biosorpsi logam yang digunakan dengan sistem batch dengan kadar logam 300 ppm, 200 ppm,dan 150 ppm. Hasil seleksi JPP berdasarkan laju pertumbuhan, aktivitas enzim ligninolitik, dan penyerapan logam berat telah  diperoleh   kandidat   JPP   unggul  yaitu Omphalina sp. Dalam media PDB,  Omphalina sp. toleran terhadap Cu (II) hingga konsentrasi 150 ppm. Kemampuan biomassa Omphalina sp. untuk penurunan konsentrasi Cu (II) dengan konsentrasi awal 150 ppm yaitu mencapai 63%. Omphalina sp. yang diimobilisasi dengan TKKS mampu menurun- kan kandungan Cu (II) sebesar 66-77%  pada pH 4.0 selama 60 menit. 
Karakterisasi gen penyandi lipase dari kapang Rhizopus oryzae dan Absidia corymbifera Characterization of gene encoding lipase from fungus Rhizopus oryzae and Absidia corymbifera PUTRANTO, Riza A; SANTOSO, Djoko; TRI-PANJI, .; SUHARYANTO, .; BUDIANI, Asmini
E-Journal Menara Perkebunan Vol 74, No 1: Juni 2006
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (471.091 KB) | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v74i1.118

Abstract

SummaryLipase is a group of enzymes which catalyze fat hydrolysis. Lipase is recently used to produce diacylglycerol (DAG) from triacylglycerol (TAG). Lipase  can be used to produce healthy oil. Having a rich biodiversity, Indonesia has the opportunity to produce lipase using indigenous microbes, such as molds. This research aimed to detect  LIPASE  gene on several strains of molds employing PCR technique. Genomic DNAs were isolated from four strains of molds (M. sitophila, R. oryzae, R. microsporus, and A. corymbifera). Heterologous primers for LIPASE  were designed based on the conserved region of 12 LIPASE  sequences accessed from GenBank and used to amplify the genomic DNA resulted in a 466 bp fragmen. BLAST analysis showed that the bands of DNAs have high homology with common lipase protein in several strains of  Rhizopus.Ringkasan Lipase merupakan kelompok enzim yang berfungsi sebagai biokatalis hidrolisis lemak. Lipase banyak digunakan untuk konversi triasilgliserol (TAG) menjadi diasilgliserol (DAG). Penggunaan lipase penting untuk produksi minyak sehat (healthy oil). Indonesia dengan keanekaragaman hayati tinggi berpeluang besar   mengembangkan   produksi   lipase   dari mikroba lokal, salah satunya adalah kapang. Deteksi gen merupakan langkah awal dalam upaya peningkatan produksi lipase melalui rekayasa genetika. DNA genomik empat galur kapang (M. sitophila, R. oryzae, R. microsporus, dan A. corymbifera) telah berhasil diisolasi. Sepasang primer heterologous telah berhasil dirancang berdasarkan daerah terkonservasi 12 sekuen gen LIPASE dari GenBank. Amplikon DNA yang diperoleh pada PCR menggunakan pasangan primer RLP memiliki panjang 466 bp. Analisis BLAST memperlihatkan bahwa amplikon PCR memiliki homologi yang tinggi dengan protein LIPASE  beberapa galur Rhizopus. 
Aktivitas ligninolitik Omphalina sp. hasil isolasi dari TKKS dan aplikasinya untuk dekolorisasi limbah kosmetik Ligninolytic activity of Omphalina sp. isolated from EFB and its application for decolorization of cosmetic waste SUHARYANTO, .; KRESNAWATY, Irma; PRAKOSO, Haryo Tejo; ERIS, Deden Dewantara
E-Journal Menara Perkebunan Vol 80, No 2: Desember 2012
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (148.873 KB) | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v80i2.34

Abstract

Abstract White-rot fungi (WRF) are belong to Basidiomycetes group that capable to degrade lignin, because they produce extracelullar ligninolytic enzymes such as lignin peroxsidase (Li-P), mangan peroxidase (Mn-P) and laccase. The ligninolytic activity can be used in bioprocess oxidation system such as biopulping, biobleaching and bioremediation.  The purposes of this research were to determine the optimum conditions of growth and ligni-nolytic activity of  Omphalina and to observe its potential to decolorize cosmetics wastewater.  Omphalina sp. was grown on media of PDA-Remazol Brilliant Blue R (RBBR) and PDA-Guaiacol (GU) at various pH and temperature conditions. The decolorization of cosmetic effluent was conducted by applying Omphalina sp. at various dose of inoculum.  Decolorization rate and change of COD were observed for eight days. The  results  showed that Ompha-lina sp. could grow and produce peroxidase enzyme both on RBBR and GU media at pH 4.5-8.5  and temperature 23-350C. Optimum dose of inoculum was as much as 5%  w/v at which the fungus was able to  decolorize cosmetic factory effluent up to 92.79% and to decrease COD value up to  48.57 % after eight days of incubation.Abstrak Jamur pelapuk putih (JPP) merupakan jamur kelompok Basidiomycetes yang mampu mendegradasi lignin karena memproduksi enzim-enzim ligninolitik ekstraseluler seperti lignin peroksidase (Li-P), mangan peroksidase (Mn-P) dan lakase.  Kemampuan ligninolitik JPP dapat dimanfaatkan dalam sistem oksidasi bioproses seperti biopulping, biobleaching dan bioremediasi. Pene-litian bertujuan menetapkan kondisi optimum pertumbuhan Omphalina sp. dan aktivitas ligninolitik yang dihasilkan-nya serta mempelajari potensinya dalam mendekolorisasi limbah cair kosmetik. Omphalina sp. ditumbuhkan dalam media PDA-Remazol Brilliant Blue R (RBBR) dan PDA-Guaiakol (GU)  pada  berbagai variasi pH dan suhu. Percobaan dekolorisasi limbah cair kosmetik dilakukan dengan aplikasi inokulum dalam berbagai dosis. Laju dekolorisasi dan perubahan COD diamati selama delapan hari. Hasil penelitian menunjukkan Omphalina sp. tumbuh dan menghasilkan enzim peroksidase, baik pada  media RBBR maupun GU pada pH 4,5-8,5 dan suhu 25-350C. Dosis optimum aplikasi Omphalina sp. adalah 5% (b/v) yang mampu mendekolorisasi limbah cair pabrik kosmetik hingga 92,79%  dan menurunkan COD 48,57% setelah delapan hari.
Optimasi pertumbuhan dan aktivitas enzim ligninolitik Omphalina sp. dan Pleurotus ostreatus pada fermentasi padat Optimization of growth and ligninolytic enzymes activity of Omphalina sp. and Pleurotus ostreatus using solid state fermentation WIDIASTUTI, Happy; SISWANTO, .; SUHARYANTO, .
E-Journal Menara Perkebunan Vol 75, No 2: Desember 2007
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (219.505 KB) | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v75i2.146

Abstract

SummarySolid wastes of bagasse and empty fruitbunch (EFB) respectively from sugarcane andpalm oil mill in Indonesia are abundant. Nowdays, up to now these solid wastes have not yetbeen optimally utilized so that the added valueis still very low and even cause an environ-mental problem. Research on bioconversion ofbagasse and EFB with two culture of white-rotfungi (WRF) i.e., Omphalina sp. and Pleurotusostreatus to produce ligninolytic enzymes wasconducted to provide added value to thislignocellulosic waste. Production of extracellular enzymes from WRF was not onlydetermined by the type of isolate but also theculture condition. This research was aimed todetermine the optimum culture condition ofsolid state fermentation in producing lignino-lytic enzymes at laboratory scale. In thisresearch, WRF was examined for ligninolyticproducing enzymes (laccase, lignin peroxidase/ LiP and Mn-peroxidase / MnP), using mediaconsisting of bagasse and EFB separately asmain substrate with supplementation of ricebran, Cu 2+ with or without rice bran. Theobservation was based on their growth andligninolytic enzyme activities. Characteristicsof optimum pH of LiP, MnP and laccaseactivity were also determined. The resultsshowed that addition of supplement was notable to increase the Cu 2+ growth of myceliaespecially in the first and second months but inthe third month the addition of supplementenhanced the mycelia growth. The growth ofmycelia on the addition of Cu 2+ with or withoutrice bran significantly lower compared to thecontrols both of Omphalina sp. and P. ostreatusin bagasse and EFB. The optimum pH oflaccase, MnP, and LiP activities was five bothfor Omphalina sp. and P. ostreatus at EFBand bagasse. Omphalina sp. was better thanP. ostreatus in producing laccase on bagasseand EFB without any supplementations. Thehighest laccase activity showed by P. ostreatuswith bagasse and EFB media treated with Cuand Cu + rice bran. Supplementation withCu 2+ was more effective in increasing laccaseactivity than rice bran. Activities of Li-P onbagasse and EFB for the two WRF cultureswere significantly influenced by supple-mentation of both of rice bran and Cu 2+ . Li-Pactivity on EFB was slightly higher than thaton bagasse. Mn-P activity was not influencedby rice bran, Cu 2+ or the combination of both.However, these enzymes activities on EFBwere higher compared to bagasse especiallyfor P. ostreatus. Suplementation of Cu wasenhance the activity of laccase and LiP both ofP. ostreatus and Omphalina sp in baggasse andEFB though inhibited the growth of those fungiespecially in the initial growth.RingkasanLimbah padat bagas tebu dan tandankosong kelapa sawit (TKKS) masing-masingdari proses pengolahan gula tebu dan minyaksawit di Indonesia jumlahnya melimpah dansampai saat ini belum mendapat penangananyang efektif sehingga nilai tambahnya masihsangat rendah dan bahkan mengganggulingkungan. Penelitian biokonversi limbahpadat bagas tebu dan TKKS menggunakan duaisolat fungi pelapuk putih (FPP) yaituOmphalina sp. dan Pleurotus ostreatus untukproduksi enzim ligninolitik dilakukan untukmeningkatkan nilai tambah limbah ligno-selulosa tersebut. Penelitian ini, mengujiaktivitas enzim ekstraseluler dari FPP antaralain lakase, lignin peroksidase (LiP), dan Mn-peroksidase (MnP) dari dua spesies FPP yaituOmphalina sp. dan P. ostreatus. Penelitianbertujuan menetapkan kondisi optimum mediafermentasi untuk produksi enzim ligninolitikdari bagas tebu dan TKKS sebagai substrat dankarakterisasi pH optimum enzim ligninolitikdari dua FPP yaitu Omphalina sp. danP. ostreatus. Pengamatan dilakukan berdasar-kan laju pertumbuhan dan aktivitas enzimligninolitik. Enzim lakase, MnP, dan LiPdiekstraksi dan dikarakterisasi pH optimumaktivitasnya. Hasil penelitian menunjukkanbahwa pemberian suplemen menghambatpertumbuhan miselia pada satu dan dua bulanpertama inkubasi, namun laju pertumbuhanmiselium khususnya pada perlakuan pemberianCu 2+ dan Cu 2+ + dedak meningkat tajam padabulan ketiga setelah inkubasi. Pertumbuhanmiselium Omphalina sp dan P. ostreatus padamedium yang ditambah Cu 2+ dan Cu 2+ +dedaklebih rendah dibandingkan dengan kontrol.Pada inkubasi tiga bulan, aktivitas optimumlakase, MnP dan LiP diperoleh pada pH 5, baikuntuk Omphalina sp. maupun P. ostreatusyang diekstrak dari bahan lignoselulosa bagastebu dan TKKS. Aktivitas lakase dariOmphalina sp. lebih tinggi daripadaP. ostreatus pada substrat TKKS dan bagastebu tanpa suplementasi. Pemberian suplemenberupa Cu 2+ dan dedak atau kombinasinyameningkatkan aktivitas lakase baik pada bagastebu maupun pada TKKS. Aktivitas lakasetertinggi ditunjukkan oleh isolat P. ostreatuspada medium bagas tebu dan TKKS padaperlakuan pemberian Cu 2+ dengan atau tanpadedak. Aktivitas lakase nampaknya lebihdipengaruhi oleh penambahan Cu 2+ dibanding-kan dengan pemberian dedak. Aktivitas LiPbaik pada bagas tebu maupun TKKS untukkedua FPP yang diuji pada perlakuanpenambahan dedak dan Cu nyata lebih tinggidibandingkan dengan aktivitas LiP yangdiekstrak dari medium tanpa penambahansuplemen. Aktivitas LiP pada TKKS lebihtinggi dibandingkan dengan pada bagas tebukhususnya untuk P. ostreatus. Sedangkanaktivitas MnP tidak dipengaruhi penambahandedak dan Cu 2+ demikian pula kombinasikeduanya. Aktivitas MnP yang diekstrak dariTKKS lebih tinggi dibandingkan denganaktivitas MnP yang diekstrak dari bagas tebukhususnya untuk P. ostreatus. PenambahanCu 2+ meningkatkan aktivitas lakase dan LiPP. ostreatus dan Omphalina sp yang ditum-buhkan pada bagas dan TKKS walaupun ionlogam ini menghambat pertumbuhan keduaJPP ini khususnya pada awal pertumbuhan.
Pemurnian diasilgliserol dari produk gliserolisis minyak sawit mentah dengan kromatografi kolom Purification of diacylglycerol from glycerolysis products of crude palm oil using column chromatography TRI-PANJI, .; SUHARYANTO, .; PERWITASAR, Urip
E-Journal Menara Perkebunan Vol 79, No 1: Juni 2011
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.272 KB) | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v79i1.71

Abstract

AbstractVegetable oil enriched with diacylglycerol (DAG) isknown as healthy oil. This oil is much more expensive thancooking oil. Production of DAG could be performed byglycerolysis process of CPO using specific lipase of 1,3-glyceride from Rhizopus oryzae mold. Product derived fromglycerolysis process of CPO is a mixture of DAG, mono-acylglycerol (MAG), free fatty acid (FFA) and residual ofunglycerolysed triacylglyserol (TAG). Therefore the DAGproduct has to be isolated from other components in order toget high purity of DAG. The objective of the research was topurify and to find out optimal concentration of DAG derivedfrom a mixture product of CPO glycerolysis at laboratoryscale experiment (total reactant for glycerolysis was93.8 mL) and semipilot scale experiment (10 times oflaboratory scale) using column chromatography with silicagel as stationary phase. The research showed that thehighest DAG content could be collected at fraction of 26 th i.e65%, while at semipilot scale experiment the highest contentof DAG (97%) was achieved at 64 to 66th fraction.Reglycerolysis of residual CPO only yielded 8.24%glycerolysis product which was much lower than that of thefirst glycerolysis reaching 46.67%. The highest DAG derivedfrom the second reglycerolysis product was achieved at 24 thfraction reaching 35.71 % .AbstrakMinyak nabati kaya kandungan diasilgliserol (DAG)dikenal sebagai minyak sehat (healthy oil). Minyak ini jauhlebih mahal dari minyak makan biasa. Produksi DAG dapatdilakukan dengan proses gliserolisis CPO menggunakanenzim lipase spesifik 1,3-gliserida dari kapang Rhizopusoryzae. Produk gliserolisis CPO triasilgliserol adalahcampuran DAG, monoasilgliserol (MAG) dan asam lemakbebas (ALB) serta residu triasilgliserol (TAG) yang tidaktergliserolisis. Oleh karena itu DAG yang terbentuk harusdipisahkan dari komponen lainnya agar diperoleh fraksi DAGdengan kemurnian tinggi. Penelitian ini bertujuan untukmemurnikan dan menetapkan konsentrasi DAG yang dapatdiperoleh dari gliserolisis CPO skala lab (total reaktan93,8 mL) dan skala semipilot (10 kali skala laboratorium)dengan kromatografi kolom menggunakan fase padat silikagel. Residu TAG dari gliserolisis pertama digunakan untukgliserolisis kedua atau gliserolisis ulang. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa fraksi DAG dengan konsentrasitertinggi diperoleh pada fraksi ke-26 yaitu sebesar 65%,sedangkan pada percobaan dengan skala semipilot (10 kaliskala laboratorium) diketahui bahwa konsentrasi DAGtertinggi (97%) diperoleh pada fraksi ke-64 sampai denganke-66. Gliserolisis kedua dari residu CPO hanya mampumenghidrolisis TAG menjadi campuran DAG, MAG danALB sekitar 8,24%, lebih kecil dari reaksi gliserolisispertama yaitu sebesar 46,67%. DAG tertinggi yang berhasildikumpulkan dari produk gliserolisis kedua adalah padafraksi ke-24 yaitu sebesar 35,71% .
Optimization media from low-cost nutrient sources for growing Spirulina platensis and carotenoid production Optimasi media dengan sumber nutrisi murah untuk pertumbuhan dan produksi karotenoid Spirulina platensis TRI-PANJI, .; SUHARYANTO, .
E-Journal Menara Perkebunan Vol 69, No 1: Juni 2001
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (233.789 KB) | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v69i1.175

Abstract

SummarySpirulina platensis is a cyanobacteriaproducing several bioactive compounds such ascarotenoids which are economically valuable. Toproduce carotenoids in S. platensis biomassefficiently, it is necessary to define an optimummedium composition consisting of mineral saltand organic complex derived from low-costnutrient sources. Spirulina platensis grown oncomplex media containing latex serum fromconcentrated latex factory, supplemented withsalt minerals might produce high yieldingcarotenoids. The objective of this research is todefine media composition for optimum growthand carotenoid production of S. platensis and toidentify carotenoid compounds from biomass ofthe algae. S. platensis was grown on mediacontaining latex serum from latex concentratefactory (5%, v/v), macroelements andmicroelements, for 10 weeks at a room aeratedand illuminated by 20 W TL lamp at 50 cmdistance. Microelements were formulatedat a certain amount to give eleven combinationsof C: N: P: Mg. The Aiba & Ogawa syntheticmedium was used as a reference medium. Theoptimum growth of S. platensis had reachedafter eight-week incubation. Among elevenmedia composition containing latex serumexamined, best growth on a formulated mediumwith a ratio of C: N: P: Mg = 1:3:0.3:0.2 yielding0.350 g biomass/L This amount was slightlylesser than those on synthetic Aiba & Ogawamedium that yields 0.407 g biomass/L, aftereight-week incubation. Although the biomassproduction was lower than that of synthetic Aiba & Ogawa medium, the formulated mediagave higher carotenoid content. The highestcarotenoid content in biomass was 2.866 mg/kgbiomass obtained from a medium with ratio ofC: N: P: Mg = 1: 2: 0.3: 0. Thin layerchromatography (TLC) analysis of biomassextract showed the presence of two-six carotenoidcompounds, in which one of them is β- carotene.RingkasanSpirulina platensis adalah sianobakteria yangmenghasilkan berbagai senyawa bioaktif bernilaiekonomi tinggi antara lain karotenoida. Untukmemproduksi karotenoida dari biomassa selS. platensis secara efisien, perlu ditetapkankomposisi media mineral dan bahan organikkompleks yang optimal dari sumber nutrisi yangmurah. Spirulina platensis yang ditumbuhkandalam media serum lateks dari pabrik latekspekat dengan suplemen garam-garam mineraltertentu diharapkan produktif dalammenghasilkan karotenoida. Tujuan penelitianadalah menetapkan komposisi media yangoptimal untuk pertumbuhan dan produksikarotenoid serta mengidentifikasi jenis senyawakarotenoid dalam biomassa sel S. platensis.Sianobakteria ini ditumbuhkan dalam mediakompleks mengandung serum lateks pekat(5%, v/v) dengan suplemen nutrisi berupamakronutrien dan mikronutrien selama10 minggu di dalam ruangan dengan aerasi danpenyinaran lampu TL 20 W pada jarak 50 cm.Komposisi makronutrien diformulasi untukmemberikan sebelas macam variasi nisbahC:N:P:Mg. Sebagai pembanding digunakanmedia sintetik Aiba & Ogawa. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa pertumbuhan S. platensismencapai puncak setelah diinkubasikan selamadelapan minggu. Dari 11 komposisi mediamengandung lateks yang diuji, pertumbuhanS. platensis terbaik adalah yang ditumbuhkandalam media formula dengan nisbah C:N:P:Mg=1:3:0.3:0.2 menghasilkan 0,350 g biomassa/L,sedikit lebih rendah dibandingkan denganmenggunakan media sintetik Aiba & Ogawa yangmenghasilkan 0,407 g biomassa/L selama8 minggu. Walaupun kandungan biomassanyalebih rendah, media formula tersebut meng-hasilkan karotenoid lebih tinggi dibandingkandengan media sintetik Aiba & Ogawa.Kandungan karotenoid tertinggi pada biomassayaitu sebesar 2.866 mg/kg diperoleh pada mediadengan nisbah C:N:P:Mg=1:2:0.3:0. Analisisekstrak biomassa dengan TLC menunjukkanadanya dua-enam jenis karotenoida, salahsatunya adalah β - karotena.