Suharyani Suharyani
Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta

Published : 5 Documents
Articles

Found 5 Documents
Search

PENGARUH METODE PERBAIKAN TANAH SALIN TERHADAP SERAPAN NITROGEN DAN FOSFOR RUMPUT BENGGALA (Panicum maximum) Suharyani, Suharyani; Kusmiyati, Florentina; Karno, Karno
Animal Agricultural Journal Vol 1, No 2 (2012): Volume 1, Nomor 2, Tahun 2012
Publisher : Animal Agricultural Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.006 KB)

Abstract

Wilayah pesisir memiliki sumber daya alam yang berpotensi cukup besar untuk pengembangan ternak ruminansia. Hal ini didukung oleh banyaknya lahan marginal yang dapat digunakan untuk mendukung ketersediaan hijauan pakan. Namun ketersediaan hijauan pakan sering menjadi masalah karena sulitnya hijauan pakan untuk tumbuh di wilayah pesisir yang memiliki tanah dengan kadar garam (NaCl) yang tinggi. Penelitian bertujuan untuk mengkaji pengaruh metode perbaikan tanah salin terhadap serapan nitrogen dan fosfor rumput benggala (Panicum maximum). Penelitian dilaksanakan di Rumah Kaca Laboratorium Ilmu Tanaman Makanan Ternak Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan dan Pertanian UNDIP selama 5 bulan. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 ulangan dan 7 perlakuan (T0 : Kontrol; T1 : gypsum (0,02 kg/pot);T2 : abu sekam padi (0,01 kg/pot); T3 : pupuk kandang (1,30 kg/pot); T4 : gypsum (0,02 kg/pot) dan abu sekam padi (0,01 kg/pot); T5 : gypsum (0,02 kg/pot) dan pupuk kandang (1,30 kg/pot); T6 : abu sekam padi (0,01 kg/pot) dan pupuk kandang (1,30 kg/pot). Parameter yang diamati adalah (1) serapan nitrogen, (2) serapan fosfor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode perbaikan tanah salin pada perlakuan gypsum dan pupuk kandang dapat meningkatkan serapan nitrogen dan fosfor pada tanah salin. Kesimpulan adalah penyerapan nitrogen dan fosfor oleh rumput benggala tertinggi dengan pemberian perlakuan gypsum dan pupuk kandang.Kata kunci : Rumput benggala, nitrogen, fosfor, tanah salin.Abstract The coastal area has a potential resource for livestock development. This is supported by large areas of marginal land that can be used for forage production. However, forage production in coastal areas is often limited by saline soil which has high sodium concentration. This study aimed to assess the effect of saline soil improvement methods on nitrogen and phosphorus uptake of Bengagala grass (Panicum maximum). The experiment was conducted for 5 months at the Greenhouse of Forage Science Laboratory, Department of Nutrition and Feed Science, Faculty of Animal Science and Agriculture, Diponegoro University. The experiment was arranged based on completely randomized Design (CRD) with 3 replications and 7 treatments (T0: Control; T1: gypsum (0.02 kg/pot), T2: rice husk ash (0.01 kg/pot); T3: animal manure (1.30 kg/pot); T4: gypsum (0.02 kg/pot) and rice husk ash (0.01 kg/pot), T5: gypsum (0.02 kg/pot) and animal manure (1.30 kg/pot); T6: rice husk ash (0.01 kg/pot) and animal manure (1.30 kg/pot). Parameters observed were (1) absorption of nitrogen, (2) absorption of phosphorus. The results showed that the treatment of gypsum and animal manure increased uptake of nitrogen and phosphorus in saline soil. It can be concluded that the treatment of gypsum and animal manure resulted in the highest nitrogen and phosphorus uptake by Benggala grass.Key word: Benggala grass, nitrogen, phosphorous, saline soil.
PENDAPAT ANGGOTA-ANGGOTA DPR-RI MENGENAI INDEPENDENSI AUDITOR NEGARA (BPK) Suharyani, Suharyani
Jurnal Pendidikan Akuntansi Indonesia Vol 4, No 2 (2005): Jurnal Pendidikan Akuntansi Indonesia
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

PENDAPAT ANGGOTA-ANGGOTA DPR-RI MENGENAI INDEPENDENSI AUDITOR NEGARA (BPK)This research, which is meant as a contribution to state financial control, focusing on the opinion of Indonesian Legislative Assembly members regarding state auditors independence (State Audit Board) viewed from micro perspective.  Here are two research questions (a)Do legislative members perceive that state auditors have independence attitude; (b)What factors are influencing the opinion of legislative members regarding state auditors independence. The researcher surveyed 70 legislative members from various faction, commission, education level, gender, and age by personally administered questionnaire technique.  Respondents are determined by stratified sampling and convenience sampling method.  Data are measured by Likert (ordinal) scale point 5.  First hypothesis testing analyze whether legislative members perceive that state auditors are independence performed by mean testing method.  While variables which are presumed influencing legislative members opinion are education level, age, gender, and political party (faction) origin (faction).  To test whether these four variables by individual influence respondent opinion significantly, the researcher use one way Anova method. The result shows legislative members perceive that state auditors weren’t independence. Except gender variable, the researcher found significant different opinion between respondents group classified by education level, age group, and political party origin.  In general, respondents group having degree of S3, elder than 60 year, and coming from Reformasi Faction have a more critical opinion compared to other groups.   Keywords : state auditor independence.
LIMBAH PELEPAH PISANG RAJA SUSU SEBAGAI ALTERNATIF BAHAN DINDING KEDAP SUARA Suharyani, Suharyani; Mutiari, Dhani
Sinektika Vol 13, No 1: Januari 2013
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (822.891 KB)

Abstract

Beberapa hal yang dapat mempengaruhi kenyamanan di dalam ruangan diantaranya adalah perencanaan sistem pencahayaan, penghawaan dan akustik dapat berfungsi optimal. Kenyamanan dalam ruangan akan terwujud apabila bisa mengatasi masalah kebisingan yang terjadi baik dari dalam maupun dari luar ruangan. Kemajuan sarana transportasi menjadi salah satu penyebab masalah kebisingan. Pemilihan material yang kurang tepat juga menjadi penyebab kebisingan. Reduksi bunyi dapat terjadi tergantung jenis material penyerapannya, yaitu material yang memiliki nilai penyerapan lebih tinggi dari pada nilai pantulnya. Pemilihan material akustik menjadi penentu kualitas suara di dalam ruangan. Beberapa fungsi suatu bangunan memiliki persyaratan tingkat intensitas bunyi yang distandarkan. Bahan material yang diproduksi oleh pabrik dan sering dijumpai adalah glaswool, karpet, sterofoo,. Beberapa penelitian terdahulu telah mengujikan beberapa alternatif bahan dinding kedap suara dengan memanfaatkan potensi lokal, diantaranya adalah dengan menggunakan bahan dasar sekam padi, sabut kelapa dan serbuk gergaji kayu. Pada penelitian ini limbah pelepah pisang menjadi pilihan untuk bahan dasar dinding kedap suara. Selain harganya murah, bahanini sering dijumpai dan mudah untuk memperolehnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa serat pelepah pisang memenuhi persyaratan penting dari karakteristik dasar bahan akustik yaitu, bahan berpori yang memiliki jaringan selular dengan pori-pori yang saling berhubungan. Tingkat kepadatan pelepah pisang yang sudah dikeringkan akan semakin membuat pelepah pisang menjadi bahan yang dapat menyerap bunyi dengan cukup baik dan akan meredamnya.Pelepah pisang yang sudahdikeringkan, memilki tekstur yang berserabut dan berpori. Hal ini bisa menjadi alternatif bahan dasar material dinding kedap suara. Jenis pisang yang digunakan pada penelitian ini adalah pisang raja susu yang dinilai lebih murah dan lebih banyak terdapat disekitar lingkungan rumah.
AGLOMERASI DAN PERBEDAAN PRODUKTIVITAS PERUSAHAAN DI DALAM DAN DI LUAR KAWASAN BERIKAT Suharyani, Suharyani; Mahi, Benedictus Raksaka
Jurnal Ilmu Ekonomi dan Pembangunan Vol 18, No 2 (2018): Jurnal Ilmu Ekonomi dan Pembangunan
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jiep.v18i2.24970

Abstract

Export promotion policies have been implemented in many developing countries, which is implemented as Bonded Zone in Indonesia. There are at least two interesting issues from the Bonded Zone?s existence, related to industrial agglomeration and tax incentives with export share requirement. This study aims to look at the impact of agglomeration on productivity differences between firms located within and outside the Bonded Zone. The object were exporters in industrial sector, while the period was from 2009 to 2016. This study uses twostep Heckman method to overcome the selection bias problem because the usage of tax reporting data. The first phase was probit model of tax compliance equation, while productivity equation in the second stage was estimated using OLS. The estimation outputs show firms within the Bonded Zone are more productive because they receive benefits from industrial agglomeration within the zone, from availability of facilities and infrastructure, labor access and knowledge spillover. As a policy recommendation, economic policies in Indonesia should be directed in the form of place-based policies because they are proven to be able to increase productivity.Keywords: Bonded Zone, productivity, agglomeration, tax incentive, twostep HeckmanJEL classification: H2, H21, F10
IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PEMERINTAH DALAM PELESTARIAN HUTAN LINDUNG DI KOTA TARAKAN Suharyani, Suharyani; Tjaija, Parakkasi; Tahir, Muhammad
Kolaborasi : Jurnal Administrasi Publik Vol 2, No 1 (2016): April 2016
Publisher : Department of Public Administration, Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (586.659 KB) | DOI: 10.26618/kjap.v2i1.872

Abstract

The need of land becomes the main cause of degradation in the forest area. Local government’s desire to preserve the forests face challenges due to various interest. The research is undertaken through a qualitative method approach using case study. The research involves nine informants. Data are collected through observation, interviews and documents. The data are analyzed in some steps such as data collection, data reduction, data presentation, verification and conclusion.The research results indicate that the local government disseminates the policies through policy campaign. The resources used in the field for policy implementation is insufficient. Technical personnel and supervisor in the field has fit with their competencies. The bureaucratic structure in term of coordination among the parties involved in the implementation of policies for the forest conservation for forest farmer groups is going well. Keywords: policy implementation, preservation, forest   Kebutuhan akan lahan menjadi penyebab terjadinya degradasi pada kawasan hutan. Keinginan pemerintah daerah untuk melestarikan hutan sering berbenturan dengan berbagai kepentingan.Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan tipe penelitian studi kasus. Informan penelitian sebanyak  9 orang. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan dokumen. Teknik analisis data melalui tahapan koleksi, reduksi data, penyajian data, verikasi dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemda dalam mensosialisasikan kebijakan melalui Penyuluhan. Sumber daya pelaksanaan kebijakan dilapangan kuantitas kurang memadai. Penempatan pegawai pelaksana dilapangan petugas lapangan dan pengawas lapangan sudah sesuai dengan bidangnya. Struktur birokrasi, dimana bentuk koordinasi dan kerja sama antar pihak-pihak yang terkait dalam pelaksanaan kebijakan pelestarian hutan lindung bagi kelompok tani berjalan dengan baik. Kata kunci: implementasi kebijakan, pelestarian, hutan