Articles

Found 35 Documents
Search

PEMBELAJARAN KONSEP GEOMETRI DENGAN MODEL ADVANCE ORGANIZER PADA SMP NEGERI 3 BANDA ACEH

Jurnal Mentari Vol 11, No 2 (2008)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Geometri merupakan bagian dari matematika yang selama ini mendapat sorotan karena rendahnya prestasi yang diperoleh siswa mulai dari siswa Sekolah Dasar sampai dengan Sekolah  Lanjutan. Demikian juga yang terjadi di SMP Negeri 3 Banda Aceh. Oleh karena itu, melalui penelitian ini dicoba menerapkan model pembelajaran advance organizer pada pembelajaran konsep segi empat dengan tujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan hal-hal berikut: (1) Aktifitas guru dan siswa dalam pembelajaran yang dilaksanakan dengan model advance organizer, (2) Tanggapan siswa terhadap kegiatan dengan model model advance organizer, (3) Tingkat pencapaian hasil belajar siswa tentang konsep geometri yang diperoleh melalui pembelajaran dengan model advance organizer, dan (4) Ketuntasan belajar siswa pada konsep geometri yang dicapai dengan model. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Penerapan model pembelajaran Advance Organizer melibatkan siswa aktif dalam kegiatan belajar  dan guru kreatif dalam kegiatan mengajar, (2) Siswa umumnya merasa senang dan berminat untuk mengikuti pembelajaran berikutnya dengan model pembelajaran Advance Organizer, (3) Melalui penerapan model pembelajaran Advance Organizer, penguasaan materi Segi empat siswa mencapai tingkat sedang, dan (4) Penerapan model pembelajaran Advance Organizer pada materi Segiempat telah mewujudkan tercapainya ketuntasan belajar secara klasikal   Kata kunci : Advance organizer,  konsep Geometri     Geometry is a part of mathematics that has been under the spotlight because of the low achievements of students ranging from elementary school students to high school. The same thing happened in SMP Negeri 3 Banda Aceh. Therefore, through this study attempted to apply the learning model advance organizer on learning concepts rectangle in order to identify and describe the following: (1) activities of teachers and students in learning models implemented with advance organizer, (2) student response the activities of the advance organizer model model, (3) level of student achievement on geometry concepts obtained through learning with models advance organizer, and (4) the concept of mastery learning students achieved with the model geometry. The data obtained were analyzed using descriptive statistics. The results showed that: (1) Application of Advance Organizer model of learning actively engages students in learning activities and creative teachers in teaching activities, (2) Students generally get excited and interested in learning to follow next with Advance Organizer learning model, (3) Through the application of Advance Organizer model of learning, mastery of the material aspect of four students reach moderate levels, and (4) application of learning model Quadrilateral Advance Organizer on the material achievement of mastery learning was manifest in the classical Keywords: Advance organizer, the concept of Geometry  

Effect of Papaya Seed Extract (Carica papaya Linn.) on Glucose Transporter 4 (GLUT 4) Expression of Skeletal Muscle Tissue in Diabetic Mice Induced by High Fructose Diet

Majalah Obat Tradisional Vol 22, No 2 (2017)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ethnobotany surveys show that papaya seeds are widely used as herbs for the management of some diseases such as abdominal discomfort, pain, malaria, diabetes, obesity, and infection. This research was conducted to analyze the effect of papaya seed extract on GLUT4 expression on skeletal muscle tissue of DM type II model induced by high fructose diet. This study used 24 animals, divided into 4 groups of negative control group, treated with papaya seed extract 100 mg / kgBB, 200 mg / kgBW and 300 mg / kgBW, was adapted for 14 days then induced by fructose solution 20% Orally with a dose of 1.86 grams / kgBB for 56 days. The treatment group was given papaya seed extract in accordance with the dose of each group for 14 days. GDP levels was measured using a spectrophotometer. Skeletal muscle tissue is used on the gastrocnemius part. GLUT4 expression was measured through a Immunoreactive Score (IRS) method with immunohistochemical staining using GLUT4 polyclonal antibodies. Comparative test results showed that there were significant differences between groups (p <0.05) in final GDP variables and GLUT4 expression. Pearson correlation test results show that the value p = 0.001, meaning there is a significant relationship between GLUT4 expression with final GDP levels. The result of simple linear regression analysis showed that p = 0,000 (<0,05), meaning that dose of papaya seed extract had a significant influence on GLUT4 expression.

Secang (Caesalpinia sappan L.) : Tumbuhan Herbal Kaya Antioksidan

Buletin Eboni Vol 13, No 1 (2016): Info Teknis Eboni
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Secang merupakan jenis tumbuhan herbal yang digunakan oleh masyarakat sebagai campuran air minum sehari-hari. Serpihan batang secang dimasukkan ke dalam air minum menjadikan air berwarna kemerahan. Tumbuhan ini mengandung senyawa flavonoid dan terpenoid yang bermanfaat sebagai antioksidan. Indeks antioksidatif ekstrak kayu secang lebih tinggi daripada antioksidan komersial, dapat menangkal radikal bebas oksidatif. Radikal bebas dapat merusak sel-sel tubuh dengan menyerang lipid, protein, enzim, karbohidrat dan DNA. Secang juga bermanfaat sebagai ramuan obat tradisional untuk pengobatan berbagai penyakit kronis dan degeneratf. Pemanfaatan bahan alami dapat menghasilkan residu yang lebih mudah terdegradasi dibandingkan bahan sintetik, serta efek samping dapat diminimalisir. Oleh karena itu, secang berpotensi sebagai minuman herbal  untuk kesehatan dan pengobatan.

APLIKASI INOKULUM EM-4 DAN PENGARUHNYA TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT SENGON

Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 1 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.464 KB)

Abstract

ABSTRAK Media pembibitan yang diaplikasikan dengan inokulum mikroba diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang lama fermentasi inokulum EM-4 yang terbaik untuk pertumbuhan   bibit tanaman sengon (Parasereanthes falcataria (L.) Nielsen di persemaian. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni-September 2006, di lokasi persemaian Balai Penelitian Kehutanan (BPK)   Makassar, Sulawesi Selatan. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan lima perlakuan lama waktu fermentasi yaitu : F0  = tanpa fermentasi (kontrol); F1   = fermentasi selama 3 hari;  F2    =  fermentasi selama 6 hari; F3    =  fermentasi selama 9 hari; F4  = fermentasi selama 12 hari. Parameter yang diamati adalah pertumbuhan bibit tanaman, meliputi tinggi, diameter batang, dan jumlah daun.Hasil pengamatan menunjukkan bahwa aplikasi EM-4 dapat meningkatkan pertumbuhan bibit tanaman sengon di persemaian. Perlakuan yang menghasilkan pertumbuhan optimal adalah media pembibitan yang difermentasi selama 6 hari. Pertumbuhan dari semua perlakuan meningkat sampai periode kedua, namun periode berikutnya media yang tidak difermentasi menunjukkan pertumbuhan yang agak lambat dibanding dengan media yang difermentasi.

PENGARUH BERBAGAI JENIS MATERIAL BOKASHI SEBAGAI MEDIA PEMBIBITAN GMELINA

Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 6 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (160.173 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang besarnya pengaruh jenis material bokashi dan persentase bokashi terbaik sebagai campuran media   untuk pertumbuhan bibit gmelina (Gmelina arborea Roxb.) di persemaian.   Penelitian dilaksanakan di persemaian PT  Inhutani I  Gowa, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Penelitian ini menggunakan pola Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan analisis faktorial. Faktor pertama adalah jenis material bokashi: jerami, sekam, kirinyu, dan   faktor kedua adalah persentase bokashi: 20%,  40%,  dan 60%.  Parameter yang diamati adalah tinggi bibit tanaman, diameter batang, dan jumlah daun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis material bokashi  yang terbaik adalah bokashi sekam, disusul bokashi kirinyu dan jerami. Persentase bokashi yang lebih efisien digunakan sebagai media pembibitan  gmelina adalah 40% bokashi.  Interaksi perlakuan  yang memberikan hasil pertumbuhan yang optimal adalah penggunaan 40% bokashi sekam,  yaitu menghasilkan pertumbuhan tinggi 45,16 cm, diameter 5,40 mm, dan jumlah daun sebanyak 19 helai, pada bibit gmelina umur tiga bulan di persemaian.

POLA AGROFORESTRY TANAMAN PENGHASIL GAHARU DAN KELAPA SAWIT

Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 4 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (378.059 KB)

Abstract

ABSTRAKPengembangan tanaman penghasil gaharu (Aquilaria malacensis Lamk.) di areal perkebunan kelapa sawit merupakan sistem agroforestry yang perlu diketahui pola tanamnya yang tepat, terutama jarak tanam yang optimal antara tanaman penghasil gaharu dan pohon kelapa sawit.  Jarak tanam berkaitan dengan  intensitas cahaya,  semakin jauh jarak tanaman penghasil gaharu dari pohon kelapa sawit, maka  intensitas cahaya yang dapat dimanfaatkan oleh tanaman penghasil gaharu semakin besar, sebaliknya tingkat naungannya berkurang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui  jarak tanam yang  tepat antara tanaman penghasil gaharu dan pohon kelapa sawit, sehingga tanaman penghasil gaharu dapat tumbuh optimal di areal perkebunan kelapa sawit. Plot ujicoba berlokasi di Kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap Berblok  dengan tiga perlakuan jarak tanaman penghasil gaharu dari pohon kelapa sawit,  yaitu jarak 2 m, 3 m, dan 4 m. Parameter yang diamati adalah pertumbuhan tanaman penghasil gaharu, meliputi tinggi tanaman,  diameter batang,  persentase hidup  serta kondisi iklim mikro dan biofisik lapangan. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan  jarak tanaman penghasil gaharu dari  pohon kelapa sawit belum menunjukkan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan  tanaman penghasil gaharu  sampai umur  24 bulan.  Pengaruh  nyata  terlihat  pada umur 30 bulan, dimana  jarak tanam yang optimal adalah  4 m dengan rerata pertumbuhan  tinggi 235,0 cm dan diameter batang 32,0 mm. 

PENGARUH ZAT PENGATUR TUMBUH PADA PERBANYAKAN JATI MUNA SECARA KULTUR JARINGAN

Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 4 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (86.56 KB)

Abstract

 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi zat pengatur tumbuh BAP (Benzyl Amino Purin) yang optimum untuk perbanyakan jati muna secara kultur jaringan. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Balai Penelitian Kehutanan Makassar, yaitu mulai bulan April sampai bulan Juni 2002. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan perlakuan konsentrasi BAP yaitu 0,5; 1,0; 1,5;2,5; 3,0; 3,5; dan 4,0 ppm, pada medium MS, diulang sebanyak lima ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 2,5 ppm BAP adalah konsentrasi yang optimum, yaitu menghasilkan rata-rata 3-5 tunas dengan tinggi tunas 4,0 cm; serta waktu mulai bertunas yaitu sekitar tujuh hari.

TEKNlK PEMBIBITAN BITTI (Vitex cofassus Reinw.) SECARA KULTUR JARINGAN

Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 2 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (10280.72 KB)

Abstract

Teknik pembibitan  bun (vire» rofassus  Remw.)  dilakukan  di Laboratorium  Kultur  Jaringan  Balai Penelitian dan  Pcngcmbangan   Kehutanan   Sulawesi,   Makassar,  Penelittan   perbanyakan tanaman bitu secara kultur jaringan,   bertujuan  untuk  mendapatkan  informasi  tcntang kombinasi   antara sumber eksplan   dan jems zat pcngatur tumbuh   yang  terbaik untuk  perkembangan   kalus,  serta  komposrsi   media yang tcrbaik  untuk perturnbuhan planlct  tanaman  bitti.   Pcrlakuan  yang dicobakan  adalah  kombinasi  antara sumber eksplan  dan jcnis  zat  pengatur   turnbuh, dan  perlakuan   berbagai jems  komposisi   media  kultur.   Hasrl  pcnclitian menunjukkan bahwa  kombmasi   antara  sumbcr eksplan  embrio  dan  0, 1            ppm  NAA  menghasilkan pcrkernbangan  kalus  yang terbaik yaitu  90 %.  Komposist  media  yang tcrbaik    untuk pcrtumbuhan   tunas planlet adalah   1,0  ppm BAP + 1,0  ppm GA3.  Media tersebutjuga dapat untuk perbanyakan  bibit brrti  secara kultur jaringan.

KAJIAN DAMPAK PENURUNAN DAUR TANAMAN Acacia crassicarpa A. Cunn TERHADAP NILAI PRODUKSI DAN SOSIAL

Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 10, No 2 (2013): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (136.317 KB)

Abstract

A. crassicarpa A. Cunn adalah salah satu jenis tanaman pokok yang dikembangkan pada Hutan Tanaman Industri Pulp (HTI) sebagai bahan baku pulp dan kertas. Permasalahan pada jenis tanaman ini, produktivitasnya masih rendah serta daurnya masih panjang. Untuk kesinambungan suplai kayu, maka perusahaan HTI menurunkan daur tanaman dari umur 6 tahun menjadi umur 4–5 tahun agar bahan baku kayu tetap tersedia sesuai kebutuhan Industri. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dampak penurunan A. crassicarpa  daur terhadap nilai produksi dan sifat kayunya, kondisi ekologis serta aspek sosial. Metode penelitian dilakukan dengan membuat plot samping pada areal HTI untuk mengamati aspek produksi dan sifat kayunya yang meliputi parameter volume pohon, sifat kayu dan nilai financial sedangkan aspek sosial difokuskan pada serapan tenaga kerja terhadap pengelolaan HTI. Hasil kajian menunjukkan bahwa produksi tertinggi pada umur antara 4 – 5 tahun, diindikasikan dengan tercapainya daur teknis dan ekonomis pada umur tersebut. Sedangkan sifat kimia dan dimensi serat kayunya tergolong kualitas I dan II dari umur 4–6 tahun, dengan rendamen tertinggi pada kayu umur 4 tahun. Aspek sosial khususnya penyerapan tenaga kerja menunjukkan nilai terbesar pada daur umur 4 tahun. Berdasakan hasil kajian ini diperoleh bahwa penurunan daur HTI A.crassicarpa  tidak berdampak negatif terhadap pengelolaan hutan lestari.

Pertumbuhan Tanaman Mahoni (Swietenia macrophylla King) dan Suren (Toona sinensis) di Wilayah DAS Datara Kab. Gowa

Buletin Eboni Vol 10, No 1 (2013): Info Teknis Eboni
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Daerah Aliran Sungai (DAS) secara alamiah merupakan satuan hidrologis, sehingga dampak pengelolaan yang dilakukan di dalam DAS akan terindikasikan dari keluarannya yang berupa tata air. Penutupan vegetasi hutan memegang peranan penting dalam pengaturan sistem hidrologi, terutama "efek spons" yang menyerap air hujan dan mengatur alirannya sehingga mengurangi banjir dan menjaga ketersediaan air di musim kemarau.  Fungsi tersebut akan hilang jika vegetasi di  wilayah  DAS yang lebih tinggi hilang atau rusak sehingga perlu direhabilitasi. Percobaan rehabilitasi dilakukan di DAS Mikro Datara yang secara administratif terletak di dua kelurahan, yaitu Kelurahan Garasi dan Kelurahan Gantarang, Kecamatan Tinggi Moncong, Kabupaten Gowa.  Berdasarkan iklim, ketinggian, topografi, karakter tanah dan kondisi sosial masyarakat, jenis tanaman penghasil kayu yang  dapat digunakan untuk rehabilitasi lahan di DAS Datara Kabupaten Gowa,  antara lain: mahoni dan suren. Pada rehabilitasi lahan diterapkan perlakuan jarak tanam dan komposisi tanaman pokok.  Hasil pengamatan menunjukkan bahwa perlakuan jarak tanam dan komposisi  tanaman pokok belum  berpengaruh nyata terhadap pertambahan tinggi  dan diameter batang tanaman suren dan mahoni hingga umur 30 bulan di lapangan.