Suhartana Suhartana
Department of Chemistry, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Published : 25 Documents
Articles

Found 25 Documents
Search

PEMBAKARAN FERRALSOL DAN APLIKASINYA UNTUK PENJERNIHAN MINYAK GORENG SISA PAKAI Suhartana, Suhartana
BERKALA FISIKA Vol 10, No 2 (2007): Berkala Fisika
Publisher : BERKALA FISIKA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.411 KB)

Abstract

Ferralsol is tropical type land, which exploited as rice field farm and plantation. Other benefit which can be taken away from  this ferrasol  if burned hence will be able to make liquid cleaner material. Composition of ferralsol is ferralsol orthic and ferralsol plinthic. If burned is good for purification liquid material, inorganic and also organic material. In this research result of combustion from ferralsol, used to make clear ex- cooking oil. Result of which scored a number of peroxide go down 12,75 %, number of acid also go down 8,33 %,   by ferralsol, and a number of peroxide go down 19,45 %, number of acid also go down 10,42 % by burning ferralsol   but with both ex- cooking  oil color become clear progressively.   Keyword: ferralsol, liquid cleaner material
Pemanfaatan Tempurung Kelapa Sebagai Bahan Baku Arang Aktif dan Aplikasinya Untuk Penjernihan Air Sumur di Desa Belor Kecamatan Ngaringan Kabupaten Grobogan Suhartana, Suhartana
BERKALA FISIKA Vol 9, No 3 (2006): Berkala Fisika
Publisher : BERKALA FISIKA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (224.84 KB)

Abstract

Waste Piece of Coconut shell used in society often only used upon which burn or firewood. Some furniture industries minimize there, exploited as a tool of physic educative and souvenir. In other hand, can be taken away from piece of coconut shell could to raw material of active charcoal. Chemical content of active charcoals is carbon compound, is very good for process of liquid material purification, inorganic and also organic material goodness. In this research is existing active charcoal, used to make clear ground water at Belor Ngaringan Grobogan District. Result after treatment by active charcoal pH, hardness, salinity, biologycal oxygen demand and chemical oxygen demand were decrease.   Keyword: piece of coconut shell, active charcoal, liquid material purification.
Elektrodekolorisasi Indigo Karmin Menggunakan Alumina dan Karbon Bekas Sriatun, Sriatun; Kuwatno, Kuwatno; Suhartana, Suhartana
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 10, No 3 (2007): Volume 10 Issue 3 Year 2007
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (228.621 KB)

Abstract

Dekolorisasi zat warna indigo karmin telah dilakukan dengan metode elektrolisis. Dalam metode ini telah diteliti pengaruh pH dan temperatur terhadap kemampuan dekolorisasi indigo karmin. Adanya elektrokoagulasi/elektroflokulasi disebabkan oleh kemampuan flok Al(OH)3 mengadsorb indigo karmin dan membentuk kompleks Al-indigo karmin. Flok Al(OH)3 dihasilkan oleh elektrolisis larutan dengan menggunakan alumunium bekas sebagai anoda dan karbon sisa baterai sebagai katoda. Elektrolisis dilakukan selama 150 menit dengan tegangan luar 12 Volt. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan dekorisasi terhadap indigo karmin oleh flok Al(OH)3 dipengaruhi oleh pH dan temperatur larutan. Kemampuan dekolorisasi minimum pada pH=6 dan akan meningkat pada kondisi basa dan asam. Persentase dekolorisasi maksimum pada temperatur ruang adalah 51,95% pada pH=14. Persentase dekolorisasi optimum adalah 98,33% pada temperatur 70oC pada pH=10.Kata kunci : elektrodekolorisasi, indigo karmin, alumunium
Pemanfaatan Sekam Padi sebagai Bahan Baku Arang Aktif dan Aplikasinya untuk Penjernihan Air Sumur di Desa Asinan Kecamatan Bawen Kabupaten Semarang Suhartana, Suhartana
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 10, No 3 (2007): Volume 10 Issue 3 Year 2007
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di zaman orde baru Negara kita pernah menjadi Swasembada pangan, dengan dicanangkan program Desa Swasembada. Dengan program tersebut, produksi gabah melimpah ruah. Gabah tersusun dari kulit luar (sekam), kulit ari, endosperm dan lembaga. Dalam penelitian ini dilakukan pengarangan terhadap sekam padi, kemudian dibuat menjadi arang aktif. Produk arang aktif digunakan untuk menjernihkan air sumur dari desa Asinan kecamatan Bawen Kabupaten Semarang. Hasil yang diperoleh terjadi penurunan pH, angka kesadahan, kandungan NaCl, BOD, dan COD.
Natural Zeolite Modification using Dithizone and Its Application as Adsorbent of Cu(II) Setyorini, Agnidian; Suhartana, Suhartana; Pardoyo, Pardoyo
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 21, No 2 (2018): Volume 21 Issue 2 Year 2018
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Activation of zeolites with dithizone by reflux method was carried out at 50°C for 6 hours and the results were analyzed using FTIR and GSA. Furthermore, the modified zeolite dithizone was used to adsorb Cu2+ metal ions on variations of adsorption time of 5, 10, 15, 30 and 60 min, variation of adsorption pH 2, 3, 4, 5 and 6 as well as variations in concentrations of 250, 500, 1000, 1500 and 2000 ppm. The results showed that there was a vibrational shift and a new peak emerged on the FTIR zeolite activation spectrum and modified zeolite indicating that the dithizone was present in the zeolite. GSA analysis results show that the surface area of activated zeolite is greater than natural zeolite ie 4,205 m2/g and 5,459 m2/g respectively, whereas dithizone-zeolite had a much smaller surface area of 0.925 m2/g. The selectivity of adsorption of activated zeolite to Cu(II) was greater than of dithizone-zeolite. The optimum adsorption contact time was 10 min for dithizone-zeolite and 30 min for activated zeolite. The optimum adsorption pH was at pH 5 for both adsorbents, as well as the optimum adsorption concentration at 250 ppm for both adsorbents.
Koagulasi Pewarna Indigo Karmina (Disodium-3,3’-dioxo-2,2’-bi-indolylidene-5,5’-disulfonat) dengan Metode Elektrolisis Menggunakan Anoda Seng Darmawan, Adi; Suhartana, Suhartana; Kristinawati, Leny
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 9, No 1 (2006): Volume 9 Issue 1 Year 2006
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.622 KB)

Abstract

Zat warna indigo karmina merupakan salah satu senyawa organik yang digunakan dalam proses pewarnaan tekstil. Zat warna ini menghasilkan limbah cair yang mengakibatkan pencemaran dan kerusakan lingkungan. Sementara seng sisa juga mudah ditemukan. Elektrolisis merupakan suatu metode yang digunakan untuk memanfaatkan kembali kedua limbah tersebut. Logam seng dimanfaatkan sebagai elektroda untuk mendekolorisasi pewarna indigo karmina. Elektrolisis dilakukan selama 7 menit dan tegangan eksternal 6 Volt dengan variasi pH dan temperatur. Hasil elektrolisis dianalisis dengan Spektrofotometer UV-Vis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa elektrodekolorisasi dipengaruhi oleh pH dan temperatur. Elektrodekolorisasi pewarna indigo karmina efektif dilakukan pada pH asam yaitu 4 dengan persen dekolorisasi 94,52% dan pada temperatur 70oC dengan persen dekolorisasi 98,09 %.
Dealuminasi Zeolit Alam Menggunakan Asam (HCl dan H2SO4) untuk Katalis pada Proses Sintesis Biodiesel Norvia, Sugiarti; Suhartana, Suhartana; Pardoyo, Pardoyo
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 19, No 2 (2016): Volume 19 Issue 2 Year 2016
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telah dilakukan dealuminasi zeolit alam menggunakan asam (HCl dan H2SO4) untuk katalis pada proses sintesis biodiesel. Zeolit dianalisis dengan AAS dan FTIR serta uji aktivitas katalis pada sintesis biodiesel dengan metode GC-MS. Didapatkan bahwa H2SO4 lebih efektif mendealuminasi zeolite dibandingkan dengan HCl. Hasil spektrogram FTIR menunjukkan bahwa proses dealuminasi asam mengakibatkan perubahan bilangan gelombang dan rasio Si/Al yang cukup signifikan, di mana pada rasio Si/Al zeolit meningkat dari 4,57 menjadi 5,41 pada zeolit alam dealuminasi HCl dan menjadi 6,42 pada zeolit alam dealuminasi H2SO4. Zeolit terdealuminasi mampu bekerja sebagai katalis dalam sintesis biodiesel di mana katalis zeolit dealuminasi H2SO4 menghasilkan metil ester dengan senyawa dominan asam 9-oktadekenoat dengan persentase luas area sebesar 63,21% lebih banyak dibandingkan pada katalis zeolit dealuminasi HCl dan zeolite belum didealuminasi.
Studi Kemampuan Adsorpsi Zeolit Alam Terdealuminasi terhadap Senyawa Fenol dan 2-Metoksifenol pada Asap Cair Sekam Padi: Eksperimen dan Komputasi AB Initio Gressangga, Wempie; Suhartana, Suhartana; Siahaan, Parsaoran
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 14, No 3 (2011): Volume 14 Issue 3 Year 2011
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang studi kemampuan adsorpsi zeolit alam terdealuminasi terhadap senyawa fenol dan 2-metoksifenol pada asap cair sekam padi. Penelitian ini dilakukan melalui dua pendekatan yaitu eksperimen dan komputasi ab initio. Dealuminasi zeolit dilakukan dengan pengasaman menggunakan asam HCl dan H2SO4. Zeolit alam sebelum dan sesudah didealuminasi dianalisis menggunakan Spektroskopi Serapan Atom (SSA). Asap cair sebelum dan sesudah adsorpsi dianalisis menggunakan GC-MS. Pemodelan dilakukan pada tingkat teori HF/6-31G** diperoleh energi interaksi terendah antara segmen dimer tetrahedral zeolit rasio Si-Al 2-0 dengan fenol sebesar -19,3313 kkal/mol dan dengan 2-metoksifenol sebesar -22,1246 kkal/mol. Dealuminasi zeolit alam menggunakan asam HCl 6N diperoleh rasio Si/Al tertinggi sebesar 19,2432. Hasil adsorpsi asap cair diperoleh kadar fenol dan 2-metoksifenol terendah ketika diadsorpsi menggunakan zeolit alam dengan rasio Si/Al tertinggi dengan kadar masing-masing 0,52% dan 28,4%. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi rasio Si/Al mampu meningkatkan kemampuan adsorpsi senyawa fenol dan 2-metoksifenol pada asap cair sekam padi, melalui hasil pemodelan juga dibuktikan bahwa segmen tetrahedral zeolit rasio Si-Al tertinggi memiliki energi interaksi terendah terhadap molekul fenol dan 2-metoksifenol.
Sintesis Arang Aktif dari Tempurung Kelapa dan Aplikasinya Untuk Adsorpsi Asap Cair Kurniati, Feti Dwi; Pardoyo, Pardoyo; Suhartana, Suhartana
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 14, No 3 (2011): Volume 14 Issue 3 Year 2011
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sintesis arang aktif menggunakan bahan dasar tempurung kelapa telah dilakukan. Penelitian ini bertujuan mensintesis arang aktif dari tempurung kelapa, menggunakan arang aktif untuk mengadsorpsi asap cair serta menentukan kondisi adsorpsi optimum berdasarkan warna, bau dan kuantitas senyawa fenolat dan asam. Aktivasi arang tempurung kelapa dilakukan menggunakan asam phospat dan natrium klorida dengan waktu perendaman 24 jam. Karakterisasi gugus fungsi dilakukan menggunakan FTIR. Adsorpsi asap cair dilakukan dengan waktu kontak 7, 30 dan 60 menit. Analisis senyawa penyusun asap cair dilakukan menggunakan GC-MS. Kadar total fenol dianalisis menggunakan spektrofotometer UV-Vis dengan metode Follin Ciocalteau, sedangkan analisis kadar total asam menggunakan metode titrimetrik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa arang aktif mampu mengadsorpsi warna, bau dan menurunkan jumlah senyawa fenolat dan asam. Dan hasil terbaik untuk adsorpsi asap cair diperoleh dari arang aktif 3F (arang aktif yang diaktivasi oleh H3PO4 dengan adsorpsi selama 60 menit). Asap cair setelah adsorpsi berwarna jernih dan mempunyai bau yang tidak menyengat. Analisis gugus fungsi menunjukkan adanya gugus hidroksil dan karboksil. Analisis GC-MS menunjukkan kehilangan sejumlah senyawa pada asap cair setelah diadsorpsi. Senyawa-senyawa yang hilang umumnya didominasi oleh senyawa fenolat dan asam. Penurunan tertinggi terhadap senyawa fenolat sebesar 76,6% dan penurunan tertinggi terhadap asam sebesar 58,2%.
Reduksi Senyawa 6-Amino-5-Nitroso Urasil Menjadi 5,6-Diaminourasil (Studi Pendahuluan) Suhartana, Suhartana; Rusdiarso, Bambang; Narsito, Narsito
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 3, No 1 (2000): Volume 3 Issue 1 Year 2000
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6948.297 KB)

Abstract

Telah dilakukan sintesis dan reduksi senyawa 6-amino-5-nitroso urasil (6-A-5-NU) menjadi 5,6 diaminourasil (DAU). Analisis kualitatif dilakukan dengan penentuan titik leleh dan spektra IR. Senyawa 5,6- Diaminourasil (DAU) disintesis dari urea dan etilsianoasetat dalam suasana enolat. Reaksi diawali dengan melalui pembentukan senyawa hasil antara senyawa 6-aminourasil, dan 6-Amino-5-Nitroso Urasil (keduanya madya yang stabil), sebelum diperoleh senyawa hasil akhir DAU. Hasil DAU yang diperoleh mempunyai titik leleh 249-254°C (literatur 257-258°C) dan rendemen yang diperoleh adalah 80,86%, kondisi optimum diperoleh dengan memakai reduktor amonium sulfida, dan suhu 40°C.