Articles

Found 14 Documents
Search

Bioekologi Ikan Kerapu di Kepulauan Karimunjawa (Bioecology of Groupers in Karimunjawa Waters) Mujiyanto, Mujiyanto; Sugianti, Yayuk
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 19, No 2 (2014): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.943 KB)

Abstract

Kelompok ikan yang menjadi target penangkapan di perairan Kepulauan Karimunjawa antara lain adalah ikan yang berasosiasi dengan ekosistem karang, seperti Kerapu (Epinephelus sp. dan Plectropomus sp.). Kerapu tergolong ikan demersal yang menyukai hidup di antara celah karang atau di dalam gua di dasar perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi bioekologi ikan Kerapu di Kepulauan Karimunjawa. Penelitian dilakukan pada tahun 2011-2013. Komunitas ikan Kerapu diamati dengan menggunakan metode transek garis pada kedalaman 5-6 dan 10-11 meter. Hasil analisis menunjukkan bahwa ikan Kerapu mempunyai keanekaragaman yang rendah dengan sebaran jenis yang merata di seluruh perairan. Terdapat dominasi jenis di Pulau Cendikian. Kesamaan jenis terdekat pada nilai  >95 % di kedalaman 5-6 meter dan 10-11 meter yang membentuk empat kelompok terdekat. Determinasi jenis ikan Kerapu dengan hasil tingkat kesamaan jenis terdekat dengan nilai >95 % di Pulau Kumbang (sisi utara), Pulau Kembar dan Batu Lawang. Perbedaan indeks ekologi dan kesamaan jenis Kerapu diduga dikarenakan faktor fisik-kimia perairan dan ketersediaan nutrisi serta oleh aktivitas nelayan dan kegiatan masyarakat. Kata kunci: ikan; Kerapu; indeks ekologi; Karimunjawa  Fish target groups in Karimunjawa waters consist of associated coral reef fish species such as grouper (Epinephelus sp. and Plectropomus sp.). This study aims to determine bioecology the condition of grouper in Karimunjawa waters. The study was conducted during 2011-2013. Data collection was performed using line transect method at 5-6 and 10-11 meters depth. The ecological value of grouper in waters Karimunjawa showed low diversity and the species of groupers is evenly distributed across the waters. There is species dominance in Cendikian Island. The species also showed closest similarity (> 95 %) in both the depth and formed 4 groups. The closest similarity (​​> 95 %) happened among the waters of north side of Kembang Islands Beetles (north side),  Kembar Island and Batu Lawang. The condition of groupers in Karimunjawa waters is affected by physical-chemical factors, the availability of nutrients, fishing activities and community activity.   Keywords: fish; grouper; ecological index; Karimunjawa
Respon Oksigen Terlarut Terhadap Pencemaran dan Pengaruhnya Terhadap Keberadaan Sumber Daya Ikan di Sungai Citarum Sugianti, Yayuk; Astuti, Lismining Pujiyani
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol 19, No 2 (2018)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jtl.v19i2.2488

Abstract

ABSTRACTThe concentration of dissolved oxygen (DO) be the most attention parameter because can reflect the water quality and the health of aquatic ecosystems. Along the main flow of Citarum river conditions are already heavily polluted due to waste input both household and urban waste, industrial waste, agricultural waste and livestock also, this conditions causes disruption for organism that are inside, one of them is fish. The purpose of this study was to determine changes in water quality due to pollution through the distribution pattern of the DO concentration by performing simulations using models Streeter & Phelps and their effects on fish life in the Citarum River. The results showed the high value of BOD in Citarum River led to a DO decrease, which indicates that this river has been under pressure utilization that exceeds the carrying capacity. This condition affects the presence of fish in Citarum river,where there has been a reduction the types of fish. Only fish that are resistant to low DO conditions that can survive in Citarum river.Keywords: dissolved oxygen, Streeter Phelps model, Citarum RiverABSTRAKKonsentrasi oksigen terlarut (DO) menjadi parameter yang paling banyak mendapat perhatian karena mencerminkan kualitas air dan kesehatan suatu ekosistem perairan. Sepanjang aliran sungai utama Citarum kondisi perairannya sudah tercemar berat diakibatkan masukan limbah, baik itu limbah rumah tangga dan perkotaan, limbah industri, juga limbah pertanian dan peternakan, kondisi ini menyebabkan gangguan bagi organisme yang ada di dalamnya salah satunya adalah ikan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perubahan kualitas perairan akibat pencemaran melalui pola sebaran konsentrasi DO dengan melakukan simulasi menggunakan model Streeter & Phelps dan pengaruhnya terhadap kehidupan ikan di Sungai Citarum. Hasil penelitian menunjukkan tingginya nilai BOD di Sungai Citarum menyebabkan penurunan DO, yang mengindikasikan bahwa sungai ini telah mengalami tekanan pemanfaatan yang melebihi daya dukungnya. Kondisi ini berpengaruh pada keberadaan ikan di Sungai Citarum, dimana telah terjadi pengurangan jenis-jenis ikan. Hanya ikan-ikan yang tahan terhadap kondisi DO rendah yang bisa bertahan hidup di Sungai Citarum.Kata kunci: oksigen terlarut, model Streeter Phelps, Sungai Citarum.
EVALUASI KESUBURAN EKOSISTEM PADANG LAMUN DENGAN MENGGUNAKAN BIOINDIKATOR FITOPLANKTON DI PULAU KARIMUNJAWA, JAWA TENGAH Sugianti, Yayuk
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol 16, No 1 (2015)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jtl.v16i1.1606

Abstract

Ekosistem padang lamun mempunyai fungsi yang sangat penting sebagai stabilitas dan penahan sedimen, mengembangkan sedimentasi, mengurangi dan memperlambat pergerakan gelombang, sebagai daerah feeding, nursery, dan spawning ground. Namun pemanfaatannya ternyata telah menimbulkan permasalahan pencemaran dan mengakibatkan kerusakan. Untuk mengantisipasi permasalahan tersebut digunakanlah fitoplankton sebagai bioindikator, karena beberapa organisme fitoplankton bersifat toleran dan mempunyai respon yang berbeda terhadap perubahan kualitas perairan. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan tingkat kesuburan dan pencemaran air pada ekosistem lamun di perairan Pulau Karimunjawa. Penelitian dilakukan pada 4 stasiun yaitu Ujung Gelam, Legon Lele, Menjangan Besar, dan Cikmas. Berdasarkan hasil penelitian Tingkat kesuburan pada ekosistem lamun di perairan Pulau Karimunjawa berdasarkan bioindikator fitoplankton termasuk dalam kondisi sedang, dengan tingkat pencemaran ringan. Adanya jenis fitoplankton dominan Nitzschia sp dari kelas Bacillariophyceae perlu diantisipasi keberadaannya supaya tidak menimbulkan dampak negatif bagi organisme di dalamnya. Karena fitoplankton jenis ini terbukti menjadi sumber asam domoic (DA) yang beracun dan sangat berbahaya bagi manusia, mamalia laut, dan burung laut.Kata Kunci : bioindikator, fitoplankton, padang lamun 
Distribusi Plankton di Waduk Kedungombo Krismono, Krismono; Sugianti, Yayuk
Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada Vol 9, No 1 (2007)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jfs.69

Abstract

The aim of this research was to know plankton distribution in Kedungombo reservoir. The research was conducted at three inlet station, (1) inlet from Kemukus mountain, (2) inlet from Kemusuk and (3) inlet from DAM in transition season (May and September, 2002), rainy season (November, 2002) and dry season (July, 2002). The result showed that the abundance of plankton organism was the highest at July (dry season) when the N:P ratio was highest.
TUMBUHAN AIR DI DANAU LIMBOTO, GORONTALO: MANFAAT DAN PERMASALAHANNYA Suryandari, Astri; Sugianti, Yayuk
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 2, No 4 (2009): (April 2009)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (125.252 KB) | DOI: 10.15578/bawal.2.4.2009.151-154

Abstract

Danau Limboto cenderung semakin hari, semakin menurun luasnya. Luas danau pada tahun 1932 mencapai 8.000 ha, pada tahun 1970 menurun menjadi 4.500 ha. Pada tahun 1993, perairan ini mengalami penurunan luasnya menjadi 3.057 ha dengan kedalaman maksimumnya 2,3 m dan pada tahun 2004 tersisa 3.000 ha. Masalah pendangkalan dengan laju sedimentasi 1,5 cm per tahun dan perkembangan populasi tumbuhan air (rumput liar dan eceng gondok, Eichhornia crassipes) yang telah mencapai luas 9.420 m2menjadi ancaman bagi sumber daya perikanan di danau tersebut. Tujuan dari tulisan ini adalah untuk mengetahui jenis tumbuhan air serta menggambarkan kondisinya di Danau Limboto beserta manfaat dan permasalahannya. Hasil pengamatan menunjukkan bahwadi Danau Limboto ditemukan 9 jenis tumbuhan air, meliputi tipe tumbuhan yang muncul di tepian danau, yang tenggelam dan berakar di dasar, dan yang mengapung bebas ataupun yang berakar. Jenis tumbuhan yang dominan adalah eceng gondok yang telah menjadi gulma.
JENIS-JENIS PLANKTON YANG DITEMUKAN DI SUNGAI MARO, MERAUKE Sugianti, Yayuk; Satria, Hendra
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 2, No 2 (2008): (Agustus 2008)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.2.2.2008.57-61

Abstract

Sungai Maro berada di wilayah administrasi Kabupaten Merauke dan merupakan salah satu sumber kekayaan plasma nutfah ikan asli Papua. Ikan-ikan yang terdapat di sungai ini berpotensiuntuk dikembangkan sebagai ikan konsumsi, untuk itu potensi dan pemanfaatannya perlu dikelola dengan sebaik-baiknya. Salah satu kriteria penting untuk meningkatkan sumber daya perikanan adalah data ketersediaan pakan alami seperti plankton. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk memberikan informasi jenis-jenis plankton yang terdapat di Sungai Maro, Merauke selama pengamatan tahun 2007. Dari hasil penelitian Loka Riset Pemacuan Stok Ikan tahun 2007, kelas Chlorophyceae memiliki persentase jumlah paling tinggi dibandingkan kelas-kelas plankton lain nya (38%). Genera plankton yang ditemukan selama pengamatan didominasi oleh fitoplankton dari kelas Chlorophyceae, yaitu (Staurastrum sp., Ulotrix sp., dan Tetraedron sp.), serta Bacillariophyceae,(Asterionella sp.) dan Cyanophyceae (Oscillatoria sp.).
SEBARANLONGITUDINAL FITOPLANKTONDI SUNGAIMARO, KABUPATENMERAUKE, PROVINSI PAPUA Astuti, Lismining Pujiyani; Sugianti, Yayuk
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 3, No 4 (2011): (April 2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (125.092 KB) | DOI: 10.15578/bawal.3.4.2011.269-275

Abstract

Sungai Maro merupakan salah satu sungai besar di Kabupaten Merauke, berfungsi sebagai habitat ikan hias yang bernilai ekonomis penting yaitu ikan arwana (Scleropages jardinii) dan kakap batu (Datnioide aquadraticus). Wilayah sekitar sungai merupakan rawa-rawa yang merupakan habitat ikan arwana terutama di wilayah tengah sampai hulu sungai. Fitoplankton merupakan produser dan pakan alami beberapa jenis ikan di SungaiMaro. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui sebaran longitudinal fitoplankton yang ada di SungaiMaro, Kabupaten Merauke. Penelitian ini dilakukan dengan survei dan pengambilan contoh dilakukan pada bulan Desember 2007 di lima stasiun pengamatan pada lokasi pemijahan ikan arwana di ruas Sungai Maro. Parameter yang dianalisis adalah komposisijenis dan kelimpahan fitoplankton. Hasil pengamatan di lima stasiun pengamatan, ditemukan lima kelas fitoplankton yang terdiri atas kelas Chlorophyceae (14 genus), Cyanophyceae (satu genus), Bacillariophyceae (tujuh genus), Dinophyceae (dua genus), dan Euglenaphyceae (satu genus), dengan kelimpahan fitoplankton berkisar 49.294- 66.396 ind./L. Persentase fitoplankton tertinggi dari ruas atas sampai bawah adalah Staurastrum dominan dari Stasiun Barkey danWeloyah, Synedra di Stasiun Mouwer dan Toray, Ulothrix di Stasiun Kaliwanggo. Sedangkan urutan keberadaan kelas fitoplankton dari ruas atas sampai bawah di SungaiMaro adalah Chlorophyceae di StasiunBarkey, Weloyah, dan Mouwer, kemudian Bacillariophyceae di Stasiun Toray dan Chlorophyceae di Stasiun Kaliwanggo. Maro River is one of big river inMerauke Regency and serve as ornamental fish habitat of arowana (Sleropages jardinii) and Datnioides aquadraticus that economically has high value. Around of this river are wetland area that is arwana habitat mainly at middle and upper river. Phytoplankton is natural feed producer for several fishes species at Maro River. Aim of this paper was to know longitudinal distribution of phytoplankton atMaro River. The research was conducted by survey method and sampling was conducted in December 2007 at 5 sampling stations on arwana fish spawning sites located at Maro River. The parameters were analyzed include composition and abundance of phytoplankton. Result showed that at five sampling stations were found 5 classes of phytoplankton which consists of the class Chlorophyceae (14 genera), Cyanophyceae (1 genera), Bacillariophyceae (7 genera), Dinophyceae (2 genera), and Euglenaphyceae (1 genera) with the abundance of phytoplankton ranges from 49,294- 66,396 ind./L. The highest percentage of phytoplankton in each station was found from upper to lower segment was Staurastrum found at Barkey and Weloyah Synedra at Mouwer and Toray, Ulothrix at Kaliwanggo. While the presence of phytoplankton class was found from upper to lower on Maro River was Chlorophyceae at Barkey, Weloyah, andMouwer, Bacillariophyceae at Toray and Chlorophyceae at Kaliwanggo.
BEBERAPA ASPEK BIOLOGI IKAN NILEM (Osteochillus vittatus) DI DANAU TALAGA, SULAWESI TENGAH Putri, Masayu Rahmia Anwar; Sugianti, Yayuk; Krismono, Krismono
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 7, No 2 (2015): (Agustus 2015)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.846 KB) | DOI: 10.15578/bawal.7.2.2015.111-120

Abstract

Ikan nilem (Osteochillus vittatus) merupakan ikan introduksi diDanau Talaga,Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Studi tentang biologi populasi suatu spesiesakanmembantu dalammemahami pengelolaannya. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui beberapa aspek biologi ikan nilem(Osteochillus vittatus)sebagai informasi dasar dalam langkah pengelolaan sumberdaya ikan di Danau Talaga. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret, Mei, Juli dan Oktober Tahun 2013. Sampel ikan nilem diperoleh dengan melakukan percobaan penangkapan menggunakan 2 set jaring insang (ukuran mata jaring 1, 1½, 2, 3 dan 4 inci). Ikan yang didapat, diukur panjang total (cm) dan beratnya (g). Pengamatan isi perut dan gonad dilakukan di laboratorium Biologi Ikan, Balai Penelitian Pemulihan dan Konservasi Sumberdaya Ikan.Ikan nilem merupakan ikan yang dominan tertangkap di Danau Talaga dengan kisaran ukuran panjang antara 11-22,7 cmdan ukuran berat antara 15,79 – 171,43 g, dimana ikan dengan kelompok panjang antara 14-15 cmmendominasi tangkapan. Pola pertumbuhan ikan nilembersifat alometrik negatif. Ikan nilemdikategorikan sebagai ikan herbivor dengan makanan utamanya adalah tumbuhan. Ikan nilem yang dominan tertangkap berada pada tingkat kematangan gonad (TKG) IV, dimana ukuran pertama kali matang gonad (Lm) baik jantan atau betina lebih kecil dibandingkan Lm ikan nilem pada beberapa referensi. Hal ini mengindikasikan bahwa ikan nilem di Danau Talaga matang gonad pada ukuran yang lebih kecil. Tipe pemijahan ikan nilemdi Danau Talagaadalah total spawner dan dapat memijah sepanjang tahun.Bonylip barb (Osteochillus vittatus) was one of introduction fish species in Sulawesi waters, including Lake Talaga, Donggala,Central Sulawesi. Study on biology populationof species will assist in understanding of its management. The aim of this research is to know some biological aspects of bonylip barb as basic information in fish resource management of Lake Talaga. The researchwas conducted on March, May, July and October 2013. The fish samples werecaptured by 2 sets experimental gillnet(mesh size 1, 1½, 2, 3 and 4 inch). These samples then measured its length and weight. The stomach content and gonad was observed at biological laboratory of Research institute for Fisheries Enhancement and Conservation. Bonylip barb is a dominant fish at Lake Talaga with the length range between 11-22.7 cm and weight range between 15.79 – 171.43 g. The fishes with the length group 14-15 cm were dominatedin fish catch. Bonylip barbwas an herbivore fish with plants as the main food. Thefish with stage IV of gonadsmaturitywere dominated, with the first length of maturity (Lm) in Lake Talagawas smaller than other references, either male or female fish.It was indicatedthat in Lake Talaga, bonylip barb fishwas matured in smaller size. Thebonylip barb is a total spawner and the spawning period of it may occurred throughout the year.
BIODIVERSITAS IKANKARANG DI PERAIRANTAMANNASIONALKARIMUNJAWA, JEPARA Sugianti, Yayuk; Mujiyanto, Mujiyanto
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 5, No 1 (2013): (April 2013)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (724.807 KB) | DOI: 10.15578/bawal.5.1.2013.23-31

Abstract

Taman Nasional Karimunjawa merupakan salah satu kawasan pelestarian alamdi Kabupaten Jepara, dikelola dengan sistemzonasi yang dapat dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan,menunjang budidaya, pariwisata dan rekreasi. Terumbu karang dan komunitas ikannyamerupakan ekosistemyang kompleks dengan keanekaragaman hayati yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui kelimpahan dan biodiversitas ikan karang yang tersebar di zona inti, zona perlindungan dan zona pemanfaatan Taman Nasional Karimunjawa, Jepara. Penelitian dilakukan dengan metode transek 2,5 meter x 2,5 meter. Pencatatan jenis dan penghitungan ikan menggunakan metode sensus visual. Hasil yang diperoleh dari pengamatan ikan karang di zona inti, zona perlindungan dan zona pemanfaatan adalah ditemukannya 10 famili dengan 59 spesies dan 1369 individu ikan karang di ketiga lokasi penelitian, dengan rincian ikan karang di zona inti ditemukan 9 famili, 25 spesies dan 491 individu, di zona perlindungan terdapat 6 famili, 29 spesies dan 370 individu ikan karang dan terakhir di zona pemanfaatan ditemukan 5 famili, 27 spesies dan 508 individu ikan karang. Distribusi jenis ikan karang di zona perlindungan dan zona pemanfaatan lebih tinggi dibandingkan dengan di zona inti. Tingginya jumlah jenis ikan karang di zona perlindungan dan zona pemanfaatan dikarenakan bervariasinya habitat yang terdapat di terumbu karang. Kelimpahan spesies ikan karang tertinggi di tiga lokasi penelitian adalah Pomacentrus alexanderae sebesar 222 ind/m2.Karimunjawa National Parks is one of nature conservation area in the district of Jepara, which is managed by the zoning system can be utilized for the purpose of research, science, education, culture, tourism and recreation. Coral reefs and fish communities is a complex ecosystem with high biodiversity. The aims of this study is to determine abundance and biodiversity of reef fish species are scattered in the core zone, protection zone and utilization zone in Karimunjawa National Parks, Jepara. The research was conducted by transect 2.5 meters x 2.5 meters. Recording types and counting fish used visual census method. The results obtained from observations of reef fishes in the core zone, buffer zone and the zone was the discovery of 10 families with 59 species and 1369 individual reef fish in all three study sites, with details in the core zone of reef fish found 9 families, 25 species and 491 individuals, protection zone there are 6 families, 29 species and 370 individuals and last in the utilization zone reef fish found 5 families, 27 species of reef fish and 508 individuals. The distribution of reef fish species in protection zone and utilization zone higher than in core zone The high number of species of reef fish in the protection zone and utilization zone because of varied habitats found in coral reefs. The high abundance of species of reef fish in three research sites is Pomacentrus alexanderae of 222 ind/m2.
PENANGKAPAN IKAN DI SUNGAI MARO, MERAUKE Sugianti, Yayuk; Satria, Hendra
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 1, No 5 (2007): (Agustus 2007)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1437.518 KB) | DOI: 10.15578/bawal.1.5.2007.197-201

Abstract

Sungai Maro berada di Wilayah administrasi Kabupaten Merauke Propinsi Papua berfungsi untuk kegiatan transportasi dan perikanan tangkap sehingga merupakan salah satu sungai di Kabupaten Merauke yang memberi kontribusi perikanan yang besar antara lain merupakan daerah penangkapan ikan arwana Irian (Sclerophages jardini). Penelitian bertujuan untuk mengetahui jenis ikan, alat tangkap, status, dan aspek sosial ekonomi sebagai informasi yang berguna untuk mendukungkonstribusi dalam pengelolaan perikanan di Sungai Maro, Merauke. Penelitian dilakukan dengan metode survei dan wawancara pada bulan April, Juli, September, dan Nopember 2006. Lokasi penelitian ditentukan berdasarkan pada daerah yang merupakan sentra ikan arwana yaitu Toray, Bupul, Kweel, Barkey, Kaliwango (Distrik Sota), dan Tanas (Distrik Elikobel). Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil tangkapan terdapat 19 jenis ikan dengan 8 macam alat tangkap. Penangkapan ikan di Sungai Maro belum optimal karena nelayan banyak menggunakan alat tangkap tradisional.