Articles

Found 15 Documents
Search

THE EFFECT OF SOCIO-ECONOMY TOWARDS CONSERVATION AT CI TANDUY WATERSHED Sugandi, Dede
Indonesian Journal of Geography Vol 45, No 1 (2013): Indonesian Journal of Geography
Publisher : Faculty of Geography, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (639.697 KB)

Abstract

The aims of the study are: 1) Analyzing positive effect of resident’s income towards resident’sparticipation on conserving Ci Tanduy watershed 2) Analyzing negative effect of resident’sknowledge towards resident’s participation in conserving Ci Tanduy watershed, 3) Analyzingnegative effect of land possession towards resident’s participation in conserving Ci Tanduywatershed 4) Analyzing effort to improve resident’s socio-economy which supportsmaintenance and protection effort of Ci Tanduy watershed. Study method which is used issurvey with analysis with quantitative method. Analysis technique which is used is linearRegression. Area population is Ci Tanduy Watershed. Resident population is farmers andfishermen around the wwatershed. Analysis conclusion shows that 1) There is positive effectof income towards participation, 2) There is negative effect of knowledge towardsparticipation, 3) There is negative effect of land possession toward participation, 4) Areaphysical condition, which affects erosion and participation, requires resident participation.
PENGELOLAAN SUMBERDAYA PANTAI Sugandi, Dede
Jurnal Gea Vol 11, No 1 (2011)
Publisher : Rizki Offset

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (131.461 KB)

Abstract

Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki sumber daya garis pantai/pesisir yang panjang. Pengelolaan wilayah pesisir membutuhkan pengelolaan yang berkelanjutan sehingga dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan. Laut yang mengelilingi wilayah Indonesia dipengaruhi oleh pergerakan arus, angin, dan gelombang yang mempengaruhi terjadinya abrasi. Abrasi yang dapat menyebabkan air laut menjadi keruh dan longsor di pinggir pantai bertebing selanjutnya akan mempengaruhi penduduk yang bermata pencaharian di pantai. Tujuan kajian adalah menganalisis potensi sumberdaya pantai Indonesia yang dapat dikelola dan dimanfaatkan secara berkelanjutan, dan menganalisis model yang sesuai dalam pengelolaan sumberdaya pantai sehingga potensi sumberdaya hayati berkelanjutan. Dalam pengelolaan sumberdaya perlu aturan yang diberlakukan, sehingga terjadi keseimbangan, kelestarian dan keberlanjutan sumberdaya. Aturan diberlakukan tidak untuk semua kawasan, tetapi bagi kawasan-kawasan yang dibutuhkan untuk pemijahan dan pengembangbiakan biota laut. Untuk pengelolaan kawasan tersebut perlu kawasan konservasi yang sama-sama dipahami dan disadari oleh setiap pemangku kepentingan, stakeholder, nelayan, pemerintah, masyarakat dan pemerintah. Aturan dan kebijakan yang diberlakukan yang melibatkan pemangku kepentingan yang menjadi budaya yang berkembang dimasyarakat sehingga kawasan perlindungan/konservasi menjadi suatu keharusan dan dilaksanakan secara sadar oleh masyarakat.Kata kunci : pantai, pengelolaan, konservasi.
PEMANFAATAN CITRA SATELIT LANDSAT DALAM PENGELOLAAN TATA RUANG DAN ASPEK PERBATASAN DELTA DI LAGUNA SEGARA ANAKAN Sugandi, Dede
Jurnal Gea Vol 8, No 2 (2008)
Publisher : Rizki Offset

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (28.994 KB)

Abstract

Perairan Segara Anakan yang merupakan pertemuan beberapa muara sungai, yaitu Ci Tanduy, Ci Meneng, Ci Beureum, Ci Konde, dan beberapa sungai lainnya telah berubah akibat sedimentasi oleh lumpur Ci Tanduy yang setiap tahunnya menyumbang 740.000 meter kubik lumpur dari total sedimen 1 juta meter kubik/tahun yang dibawa masuk sungai-sungai lain. Adanya penambahan luas daratan akibat proses sedimentasi tersebut tentunya akan menimbulkan berbagai dampak. Dampak tersebut tidak saja berpengaruh terhadap aspek kehidupan penduduk, tetapi juga terhadap aspek lain yang melibatkan pihak pemerintah, misalnya dalam pengelolaan tata ruang dan aspek perbatasan. Salah satu dampak sedimentasi di kawasan Segara Anakan adalah permasalahan hukum dan kelembagaan dari kepemilikan delta di kawasan laguna. Dari kondisi inilah yang menyebabkan perlunya dicari model pendekatan yang sesuai untuk penataan ruang perairan Segara Anakan. Dalam penelitian ini, upaya pengelolaan tata ruang dan aspek perbatasan dan penguasaan tanah delta akibat sedimentasi di kawasan Segara Anakan dianalisis melalui citra penginderaan jauh misalnya dengan Citra Landsat. Pemanfaatan citra satelit dipilih sebagai alternatif penelitian, karena citra satelit dapat mencakup daerah yang luas. Dari citra satelit tersebut dapat diidentifikasi secara spesifik antara daratan dan lautan dalam waktu relatif singkat, serta waktu perekamannya yang berkelanjutan. Kata Kunci: Segara Anakan, sedimentasi, citra landsat, laguna
MODEL PEMBELAJARAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFI DI SEKOLAH MENENGAH ATAS Sugandi, Dede
Jurnal Gea Vol 6, No 2 (2006)
Publisher : Rizki Offset

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (34.9 KB)

Abstract

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknik informasi, telah dimanfaatkan pada bidang pemetaan dengan menggunakan komputer sebagai bagian untuk menyajikan data dan informasi keruangan. Sehingga, bentuk, pola dan sistem pada kartografi menjadi acuan dalam penyajian informasi keruangan. SIG merupakan sistem yang berakar pada kartografi yang berperan untuk menyajikan, menampilkan, mengedit, menganalisis dan mencetak data keruangan yang hasilnya berupa peta, grafik dan data keruangan. Proses pembelajaran mata pelajaran geografi dengan kajian SIG di SMA muncul masalah, seperti : 1) Bagaimana model pembelajaran kajian SIG dan ketersediaan perangkat penunjang Proses pembelajaran SIG pada mata pelajaran Geografi di Sekolah Menengah Atas(SMA)? Sedangkan untuk memperoleh dan memecahkan masalah tentang Proses pembelajaran mata pelajaran Geografi kajian SIG adalah: 1) Menganalisis model pembelajaran kajian SIG dan ketersediaan perangkat penunjang Proses pembelajaran SIG pada mata pelajaran Geografi di Sekolah Menengah Atas (SMA). Model pembelajaran SIG di SMA merupakan keterampilan yang sangat menunjang dalam proses pembuatan peta. Keterampilan ini perlu ditunjang fasilitas pembelajaran. Kesimpulan yang diperoleh adalah : 1) SIG merupakan kajian keterampilan pada mata pelajaran geografi, 2) Model pembelajaran kajian SIG harus dilakukan secara bertahap dengan berbagai latihan dalam menyajikan informasi keruangan dengan menggunakan Komputer. Kata Kunci: Model Pembelajaran, Sistem Informasi Geografi.
URGENSI PENENTUAN DAN PENEGAKAN HUKUM KAWASAN SEMPADAN PANTAI Sugito, Nanin Trianawati; Sugandi, Dede
Jurnal Gea Vol 8, No 2 (2008)
Publisher : Rizki Offset

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (49.923 KB)

Abstract

Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari sekitar 17,500 pulau besar dan kecil dengan panjang garis pantai kurang lebih 81.000 km. Kondisi ini menjadikan Indonesia sebagai negara dengan kondisi geografis yang sebagian besar wilayahnya merupakan daerah pantai. Kawasan pantai umumnya sangat menarik para nelayan untuk mendirikan perumahan karena ingin dekat dengan tempat bekerja mereka sebagai penangkap ikan di laut. Tapi pada kenyataannya sekarang banyak nelayan yang kesulitan untuk berlabuh di tepi pantai karena sudah banyak bangunan milik perorangan atau badan usaha privat yang didirikan di garis pantai bahkan menjorok ke laut. Tentu saja fenomena ini telah melunturkan fungsi sosial dari laut sebagai aset yang merupakan milik seluruh manusia. Kawasan pantai merupakan wilayah yang sangat rentan terhadap perubahan, baik perubahan akibat ulah manusia maupun perubahan alam. Desakan kebutuhan ekonomi menyebabkan wilayah pantai yang seharusnya menjadi wilayah penyangga daratan menjadi tidak dapat mempertahankan fungsinya sehingga kerusakan lingkungan pesisir pun terjadi. Untuk mencegah terjadinya kerusakan pantai lebih jauh, diperlukan adanya kawasan sempadan pantai. Kawasan ini berfungsi untuk mencegah terjadinya abrasi pantai dan melindungi pantai dari kegiatan yang dapat mengganggu/merusak fungsi dan kelestarian kawasan pantai. Garis sempadan pantai ditentukan berdasarkan bentuk dan jenis pantai daerah yang bersangkutan. Penetapan garis sempadan pantai harus ditindaklanjuti dengan penegakan hukum (law enforcement) sehingga dapat bersifat tegas terhadap pelanggaran yang terjadi, untuk semua pihak tanpa kecuali. Kata kunci: Kawasan, sempadan pantai.
MODEL PENANGGULANGAN BANJIR Sugandi, Dede
Jurnal Gea Vol 7, No 1 (2007)
Publisher : Rizki Offset

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (35.774 KB)

Abstract

Banjir dan genangan merupakan masalah tahunan dan memberikan pengaruh besar terhadap kondisi masyarakat baik secara sosial, ekonomi maupun lingkungan. Banjir bukan merupakan masalah pribadi yang diteliti berdasarkan disiplin ilmu, tetapi banjir diakibatkan sistem lingkungan yang rusak dan mata rantai fisis lingkungan yang terganggu, sehingga untuk mengatasi masalah banjir perlu dikaji secara terpadu. Banjir di wilayah Bandung Selatan, Jakarta Bekasi, Tangerang atau daerah lainnya disebabkan pada badan sungai terjadi pendangkalan oleh endapan material hasil erosi dari hulu sungai. Pendangkalan sungai tersebut menyebabkan kapasitas sungai berkurang. Selain terjadinya pendangkalan sungai, karena debit air yang mengalir dari hulu sungai meningkat. Peningkatan debit aliran pada anak dari hulu sungai sebagai akibat curah hujan yang turun tidak/kurang meresap ke dalam tanah, sehingga curah hujan menjadi aliran permukaan. Aliran permukaan yang bergerak di permukaan tanah mengikis tanah dan membawa ke badan sungai, karena itu aliran sungai bukan saja debit meningkat juga ditambah material hasil erosi. Material hasil erosi yang mengendap dengan debit aliran yang meningkat menyebabkan aliran air tidak dapat ditampung oleh sungai, sehingga aliran langsung pada badan sungai meluap yang berakibat banjir di sekitar dan sepanjang dataran sungai. Debit air permukaan yang meningkat yang disebabkan curah hujan yang tidak meresap, maka salah satu usaha yang perlu dikembangkan adalah curah hujan yang jatuh ke permukaan tanah harus meresap. Dengan ketebalan curah hujan dengan debit aliran permukaan yang meningkat, maka setiap unit penggunaan lahan harus mampu meresapkan curah hujan yang jatuh pada setiap satuan lahan yang ada, sehingga aliran permukaan kecil yang dapat ditampung badan sungai. Banjir yang terjadi hanya di sekitar wilayah Bandung Selatan, Jakarta, Bekasi, Tangerang dan daerah lainnya, karena daerah tersebut merupakan daerah yang datar dan paling rendah. Tetapi Curah hujan yang terjadi di seluruh wilayah, terutama hulu sungai, maka untuk mengatasi peningkatan debit aliran permukaan, maka pada daerah hulu sungai dan penggunaan lahan perlu dikembangkan model resapan yang dapat menampung curah hujan meresap sebelum aliran permukaan mengalir melalui badan sungai. Model yang perlu dikembangkan untuk mengatasi terjadinya banjir adalah dengan mengurangi debit aliran permukaan, maka pada setiap unit penggunaan lahan harus meresapkan curah hujan. untuk meresapkan curah hujan dengan cara pembuatan sumur resapan alau lahan resapan. Pada setiap unit lahan aliran permukaan dialirkan pada sumur resapan atau aliran permukaan dialirkan ke lahan resapan, dimana struktur tanah pada lahan resapan diubah menjadi lahan yang mampu meresapkan air. Kata kunci: model, banjir
DESAIN SEBARAN TITIK KERANGKA DASAR PEMETAAN DETAIL SITUASI KAMPUS UPI BANDUNG Jupri, Jupri; Sugandi, Dede; Sugito, Nanin Trianawati
Jurnal Gea Vol 9, No 2 (2009)
Publisher : Rizki Offset

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (919.477 KB)

Abstract

Saat ini kampus utama UPI melakukan pembangunan besar-besaran. Dalam rangka inventarisasi sarana dan prasarana kampus sebagai aset UPI diperlukan adanya pemetaan detail situasi kampus. Dari peta detail situasi kampus ini akan dihasilkan informasi posisi secara akurat. Penentuan posisi tersebut dilakukan dengan menggunakan metode tertentu untuk memecahkan parameter posisi (koordinat) berdasarkan pada suatu sistem referensi dan koordinat. Dalam pemetaan detail situasi kampus mutlak diperlukan titik kerangka dasar pemetaan. Representasi titik-titik kerangka dasar pemetaan tersebut di lapangan berupa Bench Mark/tugu yang memiliki nilai koordinat definitif, yang terintegrasi baik secara sistem nasional, bahkan di lingkup praktis global. Hingga saat ini pemetaan yang dilakukan di kampus UPI masih menggunakan sistem koordinat lokal. Hal ini disebabkan oleh kondisi Bench Mark/tugu yang rusak, hilang, atau tidak dapat digunakan lagi. Melalui penelitian ini akan dihasilkan desain sebaran titik kerangka dasar untuk pemetaan detail situasi kampus UPI. Desain sebaran titik kerangka dasar akan diupayakan memenuhi spesifikasi teknis yang distandarkan, sehingga akan dihasilkan lokasi Bench Mark/tugu yang aman dan memungkinkan keberadaannya dari waktu ke waktu akan terjaga dengan baik. Kata Kunci : titik kerangka dasar, pemetaan UPI.
Model of Conservation on Sagara Anakan Environment Sugandi, Dede
Forum Geografi Vol 27, No 2 (2013): December 2013
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (776.103 KB)

Abstract

Widespread decline in agricultural land and the impact on production decline caused extensive forest activities to meet the needs of the population. Activities that cause less environmental quality offset environmental balance changes. These changes due to deforestation, erosion, degraded land and natural resource degradation are exploited so that the function of ecological, economic and social life. Damaged ecosystems resulting in erosion, landslides in the watershed affect the sedimentation in Sagara Anakan sea. Silting, resulting in narrowing of fishing activities, tourism, sports, and services decreased crossings. Because of the problem and the purpose of this study proposed and analyzed a few questions: 1) How does the socio-economic impact of farmers in conserving the environment of Sagara Anakan ?, 2) How do people form of conservation and coastal of Sagara Anakan ?, 3) How model of integrated conservation in the watershed and coastal of Sagara Anakan ? and 4) What role do the people in the watershed and coastal on Sagara Anakan conservation ?. Study site covers an area of flow and Ci Ci Tanduy Beureum and Sagara Tillers waters. Activities of the population in the process of land affected when in Sagara tillers. The method used was a survey with a sample divided by the watershed upstream, downstream and coastal tengahm. Using statistical analysis techniques and geography, so that part of the watershed characteristics can be imaged. Shallowing Sagara Anakan, physically was affected by the physical condition of the easily eroded and accelerated by human activities. The activities of farmer on the watershed have done conservation unless doing reforestation, whereas the farmer on the swamp and coastal areas are not doing conservation. Different physical circumstances, the conservation of watersheds and coastal forms differ. Socio-economic condition of farmer affect the conservation. The farmer could not reforestation conservation form, as the socio-economic needs. While in the farmer swamp and coastal conservation is not done, because the physical state was not possible. To conserve of Sagara Anakan, then the shape of coastal conservation by planting trees, not catch fish, marine dredging, not taking out the trash, do not use drugs to win the fish and catch a certain size. While in conservation should be done with different shape and performed in an integrated manner that requires the participation of the population.
PERANAN PEMBELAJARAN GEOGRAFI DALAM PEMBENTUKAN SIKAP PESERTA DIDIK TERHADAP MITIGASI BENCANA GEMPA BUMI DAN LONGSOR DI KOTA PADANG Novarita, Amalia; Sugandi, Dede; Pasya, Gurniwan Kamil
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 15, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.691 KB)

Abstract

Padang are subduction plate zone between Hindia-Austalia and Eurasia, its about 200 km from west off the coast of Padang. This condition makes Padang on high risk on dealing natural disaster issue such as earthquake which triggered landslide that cuts road in Padang and create chaos for people around. Geography are needed for student to acknowledged the things that happen before and after disaster and called disaster mitigation to create human behavior when such disaster happen around them, especially for student. Research conducted in public and private high school in Padang. Samples takes 11 schools picked randomly using random sampling. Research being process using descriptive research. And the results are students in Padang did not aware the importance of learning about mitigation disaster for now. It means with a lot of things happens, students didn’t prepare their self in order to prevent any huge damage of disaster due to lack of information about it. When questioner being spread around the student it was found out that they feel hesitant on behavior during mitigation disaster. Therefore it is really important for teacher to inform, teach, train and create student’s behavior to minimizing any risk before, during and after earthquake and landslide happens.
Model of Conservation on Sagara Anakan Environment Sugandi, Dede
Forum Geografi Vol 27, No 2 (2013): December 2013
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (776.103 KB)

Abstract

Widespread decline in agricultural land and the impact on production decline caused extensive forest activities to meet the needs of the population. Activities that cause less environmental quality offset environmental balance changes. These changes due to deforestation, erosion, degraded land and natural resource degradation are exploited so that the function of ecological, economic and social life. Damaged ecosystems resulting in erosion, landslides in the watershed affect the sedimentation in Sagara Anakan sea. Silting, resulting in narrowing of fishing activities, tourism, sports, and services decreased crossings. Because of the problem and the purpose of this study proposed and analyzed a few questions: 1) How does the socio-economic impact of farmers in conserving the environment of Sagara Anakan ?, 2) How do people form of conservation and coastal of Sagara Anakan ?, 3) How model of integrated conservation in the watershed and coastal of Sagara Anakan ? and 4) What role do the people in the watershed and coastal on Sagara Anakan conservation ?. Study site covers an area of flow and Ci Ci Tanduy Beureum and Sagara Tillers waters. Activities of the population in the process of land affected when in Sagara tillers. The method used was a survey with a sample divided by the watershed upstream, downstream and coastal tengahm. Using statistical analysis techniques and geography, so that part of the watershed characteristics can be imaged. Shallowing Sagara Anakan, physically was affected by the physical condition of the easily eroded and accelerated by human activities. The activities of farmer on the watershed have done conservation unless doing reforestation, whereas the farmer on the swamp and coastal areas are not doing conservation. Different physical circumstances, the conservation of watersheds and coastal forms differ. Socio-economic condition of farmer affect the conservation. The farmer could not reforestation conservation form, as the socio-economic needs. While in the farmer swamp and coastal conservation is not done, because the physical state was not possible. To conserve of Sagara Anakan, then the shape of coastal conservation by planting trees, not catch fish, marine dredging, not taking out the trash, do not use drugs to win the fish and catch a certain size. While in conservation should be done with different shape and performed in an integrated manner that requires the participation of the population.