Articles

Found 17 Documents
Search

Gumuk gunung api purba bawah laut di Tawangsari - Jomboran, Sukoharjo - Wonogiri, Jawa Tengah Hartono, Gendoet; Sudrajat, Adjat; Syafri, Ildrem
Indonesian Journal on Geoscience Vol 3, No 1 (2008)
Publisher : Geological Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17014/ijog.v3i1.46

Abstract

http://dx.doi.org/10.17014/ijog.vol3no1.20084This paper discusses the study on the basalt volcanic rocks and the volcano morphology indicating the existence of an ancient submarine volcano in Tawangsari-Jomboran sub-regency, Sukoharjo- Wonogiri, Central Java. In general, this basalt volcanic rocks were identified as andesite breccia which might be grouped into the Mandalika Formation of Oligosen-Miosen age (Surono et al., 1992). The origin of the Mandalika Formation in relation to the classic sedimentation process and the submarine volcanism is still needed to be evaluated. The present study was based on the detailed descriptions of the rocks both in the field and in the laboratory. The autoclastic basalt outcrops consisting of breccias show the characteristics of the igneous rock fragment component embedded in the groundmass with the same composition, namely igneous rock, dark grey to black in colour; porphyritic texture, rough surface, brecciated; pillow structures, massive, fine vesicularities, amygdaloidal filled with calcite, and radial fractures; calk-alkaline andesite composition ( SiO = 54.71% , K O = 1.15% ). This rock body attains the  dimension of 2 - 5 m length, and 40 cm - 1 m in diameter with the direction of the deposition varies following the direction of the eruption source. Brecciated structures on the surface was controlled by the high cooling rate and the low flow, while the interior of the rock is massive because it was not in a direct contact to the cooler mass outside. Autoclastic basalt breccias and or the pillow basalt lava was interpreted to be formed by the undulating low gradient of morphology with the average angle of <10o. On the other hand, the low basaltic magma viscosity produced the effusive eruption related to the formation of the low angle morphology. The distance between the hills generally composed of pillow basalt is between 500 m - 1 km. The typical pillow structure of the igneous rock as described above is interpreted to be the product of the lava flow related to the effusive eruption  from a submarine volcano located under or close to the seawater surface.   
KARAKTERISTIK FISIKA-KIMIA IKAN BANDENG PRESTO DAN ASAP IRADIASI Nilatany, Asti; Lasmawati, Deudeu; Sudrajat, Adjat; Indra, Indra Mustika; Nurhayati, Nurhayati
BETA GAMMA Vol 5, No 1 (2014): Februari 2014
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (309.688 KB)

Abstract

Telah dilakukan penelitian mengenai sifat fisika-kimia ikan bandeng presto dan asap setelah penyimpanan 8 bulan pasca iradiasi. Sampel ikan bandeng presto dan asap dipilih dan diiradiasi pada dosis 7,5 kGy. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik fisika-kimia meliputi aktivitas air, kadar air, Total Volatile Base Nitrogen (TVBN), kadar asam amino dan deteksi radikal bebas. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa iradiasi tidak berpengaruh secara signifikan terhadap beberapa karakteristika fisika-kimia yang diuji yaitu aktivitas air dan kadar air yang hanya berbeda angka desimal tetapi berpengaruh nyata terhadap nilai TVBN pada bandeng presto yaitu masing-masing 2,26 % (0 kGy) 2,01% ( 7,5 kGy) dan untuk bandeng asap: 3,02 %(0 kGy); 1,76 % (7,5 kGy). Iradiasi mempengaruhi kadar asam amino pada kedua jenis ikan bandeng antara sampel yang tidak diiradiasi dengan sampel yang diiradiasi sedangkan radikal bebas jumlahnya akan turun dengan meningkatnya lama waktu penyimpanan.Kata kunci : Iradiasi, bandeng presto, bandeng asap, sifat fisika-kimia
KOLABORASI KONSERVASI DI KAWASAN WISATA CIWIDEY Triana, Ely; Alikodra, Hadi S; Sunarminto, Tutut; Sudrajat, Adjat
MEDIA KONSERVASI Vol 19, No 3 (2014): Vol 19, No.3 2014, Media Konservasi
Publisher : MEDIA KONSERVASI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (248.382 KB)

Abstract

Collaboration of conservation must be a way in sustainable tourism development. The research aimed to evaluate the factual condition of collaboration of conservation and to formulate the strategies to improve the capacities of collaboration of conservation in Ciwidey tourism area. Analysis of conservation, sustainable tourism and collaboration objective aspects were conducted by distributing quetionnaire and interview the stakeholder. The data were analyzed by score mapping, gap and modified SWOT analysis. The result show that factual condition of collaboration of conservation in three location which are Kawah Putih, TWA Cimanggu and Situ Patenggang were valued fair to passable. The strategies to improve capacities of collaboration of conservation in Ciwidey tourism area are divided in three levels: 1) system level: to make policy which regulate the formation of an institution, for example a forum of conservation and ecotourism which include all stakeholders; and to build an integrated tourism transportation system and public facilities; 2) organization level: to include conservation and sustainable tourism aspects in the organization planning and programs in accordance to their authority and main tasks; 3) individual level: to improve the knowledge and skill of conservation and sustainable tourism for everyone who get involved in tourism activity by way of counseling and training.   Keyword: Ciwidey tourism area, Collaboration, Conservation, Strategy, Sustainable tourism.
Anomali Imbuhan Pada Segmen Zona Transfer Sistem Fluvial Cikapundung, Jawa Barat Tanuwijaya, Zamzam A. J.; Hendarmawan, Hendarmawan; Sudrajat, Adjat; Kuntjoro, W.
Bulletin of Scientific Contribution: GEOLOGY Vol 14, No 3 (2016): Bulletin of Scientific Contribution
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB) | DOI: 10.24198/bsc geology.vol14.2016.3

Abstract

     Terdapat indikasi adanya gejala kehilangan debit sungai yang bersifat alami (non-rekayasa) pada segmen zona transfer Cikapundung, yaitu pada jalur sungai antara daerah Maribaya dan Curug Dago. Karena segmen ini bersifat effluent (air tanah mengisi air sungai) maka gejala imbuhan yang terjadi pada segmen ini merupakan suatu anomali influent (air sungai mengisi air tanah). Bagian dasar sungai pada zona ini ditutupi oleh lapisan lava basal yang masif, sehingga proses imbuhan yang terjadi diduga melalui struktur rekahan batuan. Berdasarkan hasil pengujian statistik dapat disimpulkan bahwa pada zona transfer memang terjadi gejala anomali imbuhan, yaitu pada sub-segmen sungai yang bergradien rendah dan berdensitas kelurusan regional tinggi. Sub-segmen yang berdensitas kelurusan tinggi secara umum memiliki densitas rekahan batuan yang tinggi pula.Kata kunci: zona transfer, imbuhan, effluent, influent     There is an indication of a natural loss of discharge phenomenon within the zone transfer of Cikapundung which are located between Maribaya area and Curung Dago. Because this segment is effluent in nature, the symptom of recharge that happened in this segment is an anomaly. The river bed in this zone is covered by massive basalt layers. Therefore the recharge process that happened is through the fractured of basalt. The results of a statistical test conclude that in the transfer zone there is a recharge anomaly phenomenon which is in the sub-segment of the river which has both a low gradient and a high regional lineament density. In general, the sub-segment that is of a high lineament density also shows high fracture density.Keywords: transfer zone, recharge, effluent, influent
Peningkatan Aktivitas Vulkanik Gunung Api Slamet dan Pengaruhnya Terhadap Sistem Panas Bumi Surmayadi, Mamay; Humaida, Hanik; Patria, Cahya; Sudrajat, Adjat; Sulaksana, Nana; Rosana, Mega Fatimah
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 6, No 3 (2015)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3909.142 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v6i3.87

Abstract

ABSTRAKSejak awal Maret 2014 status aktivitas Gunung Api Slamet di Jawa Tengah dinaikkan dari normal (level I) menjadi waspada (level II) seiring dengan peningkatan jumlah gempa vulkanik. Seismisitas Gunung Api Slamet yang dipantau melalui empat stasiun seismik memperlihatkangempa letusan terekam sebanyak 1.106 kejadian dengan rata-rata 73 kejadian per hari, gempa hembusan terekam sebanyak 6.857 kejadian dengan rata-rata 457 kejadian per hari, sedangkan gempa vulkanik dalam (VA) hanya terekam sebanyak 2 kali selama periode Maret – Agustus 2014. Sumber gempa tersebut berada pada kedalaman antara 1 - 2 km di bawah kawah Gunung Api Slamet sebagai indikasi gempa permukaan. Peningkatan aktivitas magmatik tersebut menghasilkan pelepasan gasCO2 yang berpengaruh terhadap fluida panas bumi yang ditunjukkan dengan terjadinya perubahan keasaman air dari normal menjadi alkalin, pembentukkan bualan gas CO2 pada air panas Pancuran 3 di Baturraden, dan peningkatan saturasi kalsit. Bualan gas CO2 pada air panas Pancuran 3 menjadi indikasi terjadinya proses pendidihan pada temperatur 273° C pada elevasi kedalaman 454 m dibawah permukaan laut. Kondisi ini menjadikan temperatur reservoar menjadi lebih tinggi sebagai indikasi bahwa sistem panas bumi Gunung Api Slamet merupakan sistem panas bumi aktif (active geothermal system) bertemperatur tinggi (high enthalpy).Kata kunci : bualan gas, fluida panas bumi, gempa permukaan, saturasi kalsitABSTRACTSince the beginning of March 2014 the activity status of The Slamet Volcano in Central Java has been declared from normal (level I) to become alert (level II) due tosignificant increase in the number of volcanic earthquakes. The Slamet Volcano seismicity monitored by four seismic stations shows eruption earthquakes as many as 1,106 events with an average of 73 events per day, gas emission earthquakes as many as 6,857 events with an average of 457 events per day, whereas the deep volcanic (VA) earthquake recorded only 2 times during the period of March to August 2014. The hypocentre of these earthquakes was at a depth of 1-2 km below Slamet Volcano crater as an indication of surface earthquakes. Increased magmatic activity resulted in the release of CO2 gas effect on the geothermal fluid indicated by changes in water acidity from normal to alkaline, formation of CO2bubblegas on Pancuran 3 hot springat Baturraden area, and calcite saturation enhancement. The presence of CO2 bubble gas on Pancuran 3 hot springis an indication of a boiling process at the temperature of 273° C at a depth of 454 m below sea level. This condition makes the reservoar temperature becomes higher as an indication that the geothermal system of The Slamet Volcano is an active geothermal systemwith high temperature (high enthalpy).Keywords: bubble gas, geothermal fluid, surface earthquake, calcite saturation
Karakteristik Musiman Debit Sungai Cikapundung di Kawasan Bandung Utara, Jawa Barat Tanuwijaya, Zamzam A.J.; Hendarmawan, .; Sudrajat, Adjat; Kuntjoro, W.
Bulletin of Scientific Contribution: GEOLOGY Vol 16, No 1 (2018): Bulletin of Scientific Contribution GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Debit sungai di DAS Cikapundung KBU (Kawasan Bandung Utara) secara umum mengandung oleh komponen musiman dan komponen anomali. Dalam penelitian ini diterapkan analisis harmonik terhadap komponen musiman untuk mengekstrak siklus-siklus yang membangun komponen ini. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa rataan normal debit dibangun oleh tiga siklus utama: siklus tahunan, tengah tahunan, dan 4 bulanan. Hasil ini diperkuat oleh analisis spektral terhadap data mentah debit yang memunculkan sinyal-sinyal signifikan pada tiga periode tersebut. Berdasarkan analisis spektrum silang dan koherensi, dapat disimpulkan bahwa determinan utama variasi debit adalah pola curah hujan di cekungan drainase Lembang (DAS Cikapundung Hulu). Puncak debit sungai rata-rata terjadi pada masa musim penghujan kedua (Monsun Australia), sedangkan puncak curah hujan rata-rata terjadi pada masa musim penghujan pertama (Monsun Asia). Kata kunci: debit, musiman, monsun, harmonik, koherensi
PERUBAHAN LINGKUNGAN PENGENDAPAN PADA KALA MIOSEN AKHIR-PLIOSEN AWAL BERDASARKAN KUMPULAN FORAMINIFERA BENTONIK KECIL PADA LINTASAN KALI JRAGUNG, KABUPATEN DEMAK, JAWA TENGAH Jurnaliah, Lia; Syafri, Ildrem; Sudrajat, Adjat; Kapid, Roebiyanto
Bulletin of Scientific Contribution: GEOLOGY Vol 15, No 1 (2017): Bulletin of Scientific Contribution
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

ABSTRACTResearch area is located in Demak regency, Northern Central Java. Sixteen samplesediments was carried out from 140 meter section in Jragung River with 10 meter interval.Species and specimen of small benthic foraminifera was quantified in every 1 (one) gramdry sample sediment. Cluster analyses of small benthic foraminifera assemblages showedthat research area is comprises of 4 (four) biofacies. There are Biofacies A-JR (deep seawith middle bathyal zone), biofacies B-JR (shallow sea with outer shelf zone), biofacies C-JR (deep sea with middle bathyal – abyssal zone) and biofacies D-JR (deep sea withmiddle bathyal – lower bathyal zone). Eventually, during Late Miocene – Early Pliocenethere were 8 (eight) times fluctuate environmental (bathymetric zone) changes from deepsea to shallow sea.Key words: Small benthic foraminifera, biofacies, deep sea, shallow seaABSTRAKDaerah penelitian terletak di Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Sebanyak 16 sampelsedimen diambil pada LIntasan Kali Jragung sepanjang 140 meter dengan interval 10meter. Penghitungan jumlah spesies dan jumlah individu foraminifera bentonik kecildilakukan pada setiap 1 (satu) gram sampel sedimen kering. Berdasarkan analisis klusterterhadap kumpulan foraminifera bentonik kecil, daerah penelitian terbagi menjadi 4(empat) biofasies, yaitu: Biofasies A-JR dengan lingkungan laut dalam (zona batialtengah); Biofasies B-JR dengan lingkungan laut dangkal (zona paparan luar); BiofasiesC-JR dengan lingkungan laut dalam (zona batial tengah-zona abisal) dan Biofasies D-JRdengan lingkungan laut dalam (zona batial tengah-zona batial bawah). Selama KalaMiosen Akhir-Pliosen Awal daerah penelitian mengalami 8 (delapan) kali perubahanlingkungan laut (zona batimetri) yang fluktuatif dari laut dalam menjadi laut dangkal.Kata Kunci: Foraminifera bentonik Kecil, biofasies, laut dalam, laut dangkal
TEKTONIK SESAR CIMANDIRI, PROVINSI JAWA BARAT Haryanto, Iyan; Hutabarat, Johanes; Sudrajat, Adjat; Ilmi, Nisa Nurul; Sunardi, Edy
Bulletin of Scientific Contribution: GEOLOGY Vol 15, No 3 (2017): Bulletin of Scientific Contribution:GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB) | DOI: 10.24198/bsc geology.vol15.2017.3

Abstract

ABSTRACTCimandiri fault formed during stage II orogenesis is the oldest fault at the end of the middle Eocene. The Cimandiri fault is the active fault that developed a paleo high and uplifted the Ciletuh Formation within front arc basin. The stage III orogenesis at the Late Eocene indicated by regional compression in the Java that affected to reactivation fault. This fault known to be the same as the Baribis thrust fault. Finally, the compression tectonic decreased that it created the normal fault on Cimandiri thrust-fold. Therefore, we can define the Cimandiri fault into two regional fault patterns. The first pattern, the thrust fault that indicated by high bedding inclined. The second pattern, the next pattern is the normal fault that revealed by fault scarps inclination more than 50o or even vertical in some locations. Keywords: Cimandiri fault, front arc basin, Ciletuh valley, Cimandiri Valley. ABSTRACKSesar Cimandiri merupakan sesar tua yang terbentuk selama berlangsungnya orogenesa tahap II, yaitu pada waktu Akhir Eosen Tengah. Pada saat itu  batuan sedimen Formasi Ciletuh berumur Eosen Tengah yang terbentuk di dalam Cekungan Depan Busur  sudah terangkat ke permukaan. Sesar ini terus aktif hingga menyebabkan terbentuknya  tinggian purba (paleo-hight) antara Lembah Ciletuh dan Lembah Cimandiri. Pada Akhir Tersier, tektonik kompresi kembali terjadi, menyebabkan untuk ketiga kalinya sesar Cimandiri teraktifkan kembali sebagai sesar naik. Peristiwa ini disimpulkan sebagai orogenesa ke III di Pulau Jawa. Salah satu struktur sesar regional yang terbentuk pada saat itu adalah Sesar Baribis. Setelah tektonik kompresi berkurang terjadi kesetimbangan menyebabkan terbentuknya sesar normal pada jalur lipatan anjakan Cimandiri. Oleh karena itu, Sesar Cimandiri terdiri atas dua sesar regional yang pertama sebagai sesar naik yang dicirikan oleh deformasi lipatan batuannya yang umumnya tegak, dan sebagai sesar normal yang dicirikan dengan terbentuknya gawir sesar dengan kemiringan di atas 50° bahkan di beberapa lokasi mendekati vertical. Kata Kunci: Sesar Cimandiri, Cekungan Depan Busur, Lembah Ciletuh, Lembah Cimandiri.
ANOMALI IMBUHAN PADA HULU ZONA DEPOSISI SISTEM FLUVIAL CIKAPUNDUNG, JAWA BARAT Tanuwijaya, Zamzam A.J.; Hendarmawan, Hendarmawan; Sudrajat, Adjat; Kuntjoro, W.
Bulletin of Scientific Contribution: GEOLOGY Vol 15, No 1 (2017): Bulletin of Scientific Contribution
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Abstrak     Terdapat adanya indikasi kehilangan debit sungai Cikapundung yang bersifat alami pada segmen Maribaya-Gandok. Segmen ini secara umum bersifat effluent (air tanah mengisi air sungai), sehingga gejala imbuhan influent (air sungai mengisi air tanah)yang terjadi pada segmen ini merupakan suatu anomali. Gejala imbuhan terbesar diduga terjadi di daerah Gandok yang merupakan area hulu zona deposisi. Penelitian ini dilakukan untuk menguji dugaan tersebut. Dilakukan survey debit sungai dan identifikasi kondisi-kondisi geologi pada sepanjang segmen yang diteliti. Adapun pengujian secara statistik terkait pengaruh variabilitas debit sungai terhadap muka air tanah dilakukan melalui analisis deret waktu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses imbuhan terbesar memang terjadi di area yang telah diduga, yaitu pada segmen yang memiliki faktor gradien terendah dan berdensitas kelurusan tinggi. Proses imbuhan terjadi khususnya melalui zona kontak perlapisan antara formasi Cibeureum dan Cikapundung.Kata kunci: zona deposisi, imbuhan, efluent, influentAbstract     There is an indication of the natural discharge loss of the Cikapundung river in the Maribaya-Gondok segment. Generally, the characteristic of this segment is effluent, so the influent process in this segment is an anomaly. It is suspected that the major recharge happened in the Gandok area which is an upper area of the deposition zone. This research examines this hypothesis. The process of surveying discharge and identifying the supporting geological conditions has done along the segment. While the statistical testing is used to measure the influence of discharge variability to the water table through time series analysis. The result of this study shows that the major recharge happens in the suspected area, which is in the segment that has the lowest gradient factor and high density lineaments. The process of recharge happens especially through the contact zone between the Cibeureum and the Cikapundung formation.Keywords: deposition zone, recharge, effluent, influent
Identifikasi prospek panas bumi berdasarkan Fault and Fracture Density (FFD): Studi kasus Gunung Patuha, Jawa Barat Bujung, Cyrke A.N.; Singaribun, Alamta; Muslim, Dicky; Hirnawan, Febri; Sudrajat, Adjat
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 2, No 1 (2011)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4749.663 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v2i1.17

Abstract

SARIPenelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi struktur permukaan daerah panas bumi berdasarkan densitas kelurusan, anomali magnetik, dan manifestasi panas bumi di permukaan. Struktur permukaan dianalisis melalui kerapatan lineament di permukaan dengan metode FFD. Lineament ini diasumsikan berasosiasi dengan fracture atau fault di daerah panas bumi yang umumnya tertutup oleh manifestasi permukaan sehingga sulit teridentifikasi. Fault dan fracture ini diasumsikan sebagai bidang lemah yang menjadi jalur pergerakan fluida termal sehingga dapat menjadi petunjuk bagi lokasi daerah permeabel atau reservoir. Berdasarkan metoda FFD yang dikompilasikan dengan data geomagnetik,diketahui bahwa daerah prospek panas bumi berada di daerah Cibuni, Kawah Putih-Kawah Ciwidey.Kata kunci: struktur, lineament, FFD, Panas bumiABSTRACTThis research aims to identify the surface structures of geothermal area based on lineament density, magnetic anomaly and surface manifestation. The surface structures were analyzed through the density of lineaments on the surface with FFD method. The lineaments are assumed associated with fractures or faults found in geothermal areas those are generally covered by surface manifestation which are difficult to be identified. These faults and fractures were assumed as weak plane that act as fluid thermal movement, thereby it can be used as guidance for the location of permeable area or a reservoir. Based on FFD method which was compiled with magnetic data, it is known that the prospect of geothermal area is located at Cibuni, Kawah Putih-Kawah Ciwidey.Keywords: structure, lineament, FFD, Geothermal