Articles

Found 12 Documents
Search

Studi Pertumbuhan, Mortalitas, dan Tingkat Eksploitasi Ikan Selar Kuning, Selaroides leptolepis (Cuvier dan Valenciennes) di Perairan Pulau Bintan, Riau

Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada Vol 8, No 2 (2006)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The estimation on population parameters of yellowstriped trevally, Selaroides leptolepis through the analysis of monthly length-frequency distribution was carried out by analyzing sample collected in Bintan waters, Riau from March 1998 to February 1999. Length-frequency data were analyzed by FiSAT program. The results showed that Von Bertalanffy growth parameters, L∞, K and growth performance (Ø’) were 18.0 cm, 1.2 y־¹and 2.59, respectively. Recruitment pattern showed one peak of recruitment. The total mortality (Z) was 4.45 and exploitation rate (E) was 0.48. Estimate results of fishing mortality and exploitation rate were found to be presently above appropriate levels.

GEOGRAPHIC INFORMATION SYSTEM-BASED MODELING AND ANALYSIS FOR SITE SELECTION OF GREEN MUSSEL, Perna viridis, MARICULTURE IN LADA BAY, PANDEGLANG, BANTEN PROVINCE

Indonesian Aquaculture Journal Vol 6, No 1 (2011): (June 2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (284.709 KB)

Abstract

Green mussel is one of important species cultured in Lada Bay, Pandeglang. To provide a necessary guidance regarding green mussel mariculture development, finding suitable site is an important step. This study was conducted to identify suitable site for green mussel mariculture development using geographic information system (GIS) based models. Seven important parameters were grouped into two submodels, namely environmental (water temperature, salinity, suspended solid, dissolve oxygen, and bathymetry) and infrastructural (distance to settlement and pond aquaculture). A constraint data was used to exclude the area from suitability maps that cannot be allowed to develop green mussel mariculture, including area of floating net fishing activity and area near electricity station. Analyses of factors and constraints indicated that about 31% of potential area with bottom depth less than 25 m had the most suitable area. This area was shown to have an ideal condition for green mussel mariculture in this study region. This study shows that GIS model is a powerful tool for site selection decision making. The tool can be a valuable tool in solving problems in local, regional, and/or continent areas.

EFFECT OF SALINITY, TEMPERATURE, AND FOOD VALUE OF FOUR MICROALGAE TO OYSTER, Crassostrea iredalei LARVAL GROWTH

Indonesian Aquaculture Journal Vol 1, No 2 (2006): (December 2006)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (588.239 KB)

Abstract

Published accounts of Crassostrea iredalei are only of its distribution in the Philippines. In Indonesia, this species is known to occur on the coast of South Sulawesi as well as in Banten. The purposes of the present studies were to investigate effect of salinity, temperature and food value of four microalgae to C. iredalei larval growth. Fine filtration of water was carried out using Sartorius capsule filter cartridge (1.2 ìm and 0.2 ìm) and sterilization was achieved by passing the water through an ultraviolet light unit. Low-salinity water was prepared by diluting filtered seawater with distilled water. High-salinity water was made by adding synthetic sea salts. All cultures were kept in constant temperature baths. Experiments of 8-days (for temperature and salinity trials) and 10-days (for diet trial) duration were duplicated in 500 mL glass beakers with larval density of 104 per liter. Seawater was changed every 48 h. The algae, Isochrysis galbana, I. galbana clone T-ISO, and Pavlova lutheri were added to the glass beakers at a rate of 100 cells/ìL; cell density of Chaetoceros calsitrans was 250 cells/ìl at the start of the experiment and after every water change. Using thermostat chambers, 5 temperatures were tested, ranging from 14o to 34o in 5 steps. Four salinities were used, they ranged from 10 to 35‰ in 5‰ steps. For environmental condition trial, I. galbana as food was used. In diet trials, 4 species of algae were tested e.g. I. galbana, I. galbana T-ISO, P. lutheri, C. calcitrans and a mixture of algae, T-ISO/C. calcitrans. The optimum salinity range for growth of larvae was recorded at 20‰—30‰ at which the mean shell length was 85.1—87.7 ìm. The highest survival rate was recorded at salinity of 25‰—30‰, it was 91.6%—92.7%. There were significant differences in larval growth between temperature treatments. The optimum temperature for larval growth was at 24°C—29°C, with survival rate of 91.6%—93.0%. P. lutheri and I. galbana proved to be of equal value as diet for larval growth, with survival rates of 89.4%—90.6%. The best algal food was I. galbana clone T-ISO, which resulted in mean shell length 107.7 ìm and survival rate 86.7%.

ASSESSMENT OF GENETIC VARIATION OF PEARL OYSTER, Pinctada maxima, BASED ON THE ANALYSIS OF MITOCHONDRIAL CYTOCHROME OXIDASE SUBUNIT I GENE

Indonesian Aquaculture Journal Vol 4, No 1 (2009): (June 2009)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (96.663 KB)

Abstract

Pearl oyster, Pinctada maxima is one of economical ly important species in aquaculture, particularly in pearl industry. Information on genetic variation of pearl oyster is required in order to be able to make a sound management of it’s natural populations and to utilize it to improve the quality of pearl culture. Five populations from different geographic locations of pearl oyster, Pinctada maxima, (Sumbawa, Bali, Selat Sunda, Belitung, and South Sulawesi) were analyzed for genetic variation within a 750-base pair region of the Mitochondrial Cytochrome Oxidase subunit I (MtCOI) gene using Restriction Fragment Length Polymorphism (RFLP) technique. The analysis of 25 pearl oyster samples, their haplotype diversity ranged from 0.0970 to 0.1939 and the number of haplotype in each population ranged from three to five haplotypes. Clustering of populations based on Nei’s genetic distances and constructed using unweighted pair-group method with Arithmetic mean (UPGMA) showed that the populations were clustered into two groups: Belitung, Selat Sunda, Bali and Sumbawa in one group, while South Sulawesi in the second group.

PERKEMBANGAN KEGIATAN PERIKANAN IKAN BANDENG PADA KERAMBA JARING TANCAP DI PANDEGLANG PROVINSI BANTEN

Media Akuakultur Vol 4, No 1 (2009): (Desember 2009)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (50.035 KB)

Abstract

Survai keramba jaring tancap ikan bandeng (Chanos chanos) menjadi suatu studi yang menarik dibandingkan dengan daerah lain karena kegiatan dilakukan di muara sungai yang mengalami perkembangan sangat cepat, dimana pada awalnya bermula dengan 2 keramba sebagai percobaan, ternyata dalam kurun waktu 6 bulan sudah menutupi semua areal sungai sepanjang sekitar 4 km dengan 310 buah keramba. Kegiatan ini perlu menjadi perhatian Pemda setempat karena pada satu sisi kegiatan ini jelas akan meningkatkan produksi ikan dan meningkatkan pendapatan nelayan namun di lain hal kecepatan pertambahan jumlah keramba di luar batas daya dukung perairan, akan mendatangkan suatu risiko yang tinggi bagi keberhasilan kegiatan tersebut, bahkan dapat menyebabkan kematian total seperti yang sudah terjadi pada daerah-daerah lain, seperti di Waduk Cirata, Danau Maninjau, dan daerah lainnya.

MONITORING PERIKANAN TAMBAK DENGAN MENGGUNAKAN DATA PENGINDERAAN JAUH DI KABUPATEN KARAWANG, JAWA BARAT

Media Akuakultur Vol 2, No 1 (2007): (Juni 2007)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1545.662 KB)

Abstract

Data penginderaan jauh telah digunakan secara efektif pada penelitian ini untuk menampilkan perkembangan perikanan tambak berdasarkan distribusi dan luasannya di kawasan Pantai Utara Jawa, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Distribusi dan perubahan lahan tambak diperoleh dengan cara mendigitasi citra satelit untuk tiga waktu berbeda yaitu tahun 1989, 1999, dan 2004. Dari hasil analisis menunjukkan bahwa luasan tambak terbesar ditemukan di Kecamatan Batujaya. Sedangkan dari segi perkembangan lahan tambak, Kecamatan Cibuaya merupakan kecamatan yang tergolong pesat untuk perkembangan lahan tambak dengan luasan sekitar 2.358 ha dari tahun 1989 sampai tahun 2004. Secara keseluruhan peningkatan lahan tambak di Kabupaten Karawang dari tahun 1989 sampai tahun 2004 mencapai 8.022 ha.

DI MORFOMETRIK UDANG JERBUNG (Fenneropenaeus merguiensis de Man) DARI BEBERAPA POPULASI DI PERAIRAN INDONESIA

Jurnal Riset Akuakultur Vol 4, No 1 (2009): (April 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (192.497 KB)

Abstract

Udang jerbung, Fenneropenaeus merguiensis merupakan salah satu jenis udang penaeid indegenous yang memiliki prospek untuk dikembangkan sebagai kandidat budidaya tambak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman secara morfologi dan jarak genetik udang jerbung dari populasi alam di Selat Sunda, pantai Cilacap, pantai Bengkulu, Selat Lombok, dan pantai Pontianak. Analisis komponen utama (PCA) digunakan untuk mengetahui keragaman morfologi antar populasi alami udang jerbung. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan secara morfologi udang jerbung yang diteliti. Populasi Pontianak memiliki keragaman yang paling tinggi dan Bengkulu paling rendah. Dari analisis kluster diperoleh dua kelompok utama yaitu kluster yang pertama terdiri atas Pontianak-Selat Lombok-Bengkulu dan kluster kedua Selat Sunda-Cilacap. Jarak genetik terjauh dimiliki populasi udang jerbung dari Cilacap-Selat Lombok dan terdekat Cilacap-Selat Sunda.Banana prawn, Fenneropenaeus merguiensis, is one of several prospective local crustaceans for shrimp culture. The objective of this study was to reveal the genetic differences among banana prawn populations from Sunda strait, Cilacap coast, Bengkulu coast, Lombok strait, and Pontianak coast. Principle Component Analysis (PCA) was used to determine genetic differences among the five wild populations. Results of the PCA analysis show that there are morphometrically genetic variations among studied banana prawn populations. Banana prawn from Pontianak has the highest variation of morphology. Results of cluster analysis indicate that there are two main clusters where banana prawns from Pontianak, Lombok Strait, and Bengkulu are categorized as the first cluster while Sunda Strait and Cilacap populations are categorized as the second cluster. The highest value of genetic distance is shown by banana prawn populations from Cilacap and Lombok and the lowest value is Cilacap-Sunda Strait.

ANALISIS SPASIAL POTENSI KAWASAN BUDIDAYA LAUT DI PROVINSI MALUKU UTARA DENGAN APLIKASI DATA PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS

Jurnal Riset Akuakultur Vol 5, No 1 (2010): (April 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (394.415 KB)

Abstract

Provinsi Maluku Utara merupakan provinsi kepulauan dengan jumlah pulau baik besar maupun kecil mencapai 395 buah. Dengan luas lautan yang dominan (sekitar 76%) menjadikan provinsi ini berpotensi bagi pengembangan budidaya laut. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis spasial potensi kawasan budidaya laut dengan menggunakan data penginderaan jauh (inderaja) dan Sistem Informasi Geografis (SIG). Data utama yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: lingkungan perairan (kedalaman perairan, klorofil-a, dan suhu permukaan laut), infrastruktur (pelabuhan perikanan) dan sebaran penduduk. Hasil analisis spasial menunjukkan bahwa total luasan potensi kawasan budidaya laut di Maluku Utara masing-masing adalah 5.923 km2 untuk budidaya rumput laut, 5.243 km2 untuk budidaya ikan dan 3.512 km2 untuk budidaya kekerangan. Kabupaten Halmahera Selatan merupakan kabupaten yang memiliki potensi kawasan budidaya laut terbesar yaitu: 2.114 km2 untuk budidaya rumput laut, 1.719 km2 untuk budidaya ikan dan 1.441 km2 untuk budidaya kekerangan. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi data dasar perencanaan lebih lanjut untuk pengembangan budidaya laut di Provinsi Maluku Utara

HUBUNGAN KEKERABATAN BEBERAPA POPULASI KERANG HIJAU (Perna viridis) DI INDONESIA BERDASARKAN SEKUEN CYTROCROME B mtDNA

Jurnal Riset Akuakultur Vol 5, No 1 (2010): (April 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (323.147 KB)

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan kekerabatan stok kerang hijau (Perna viridis) di beberapa perairan Indonesia sebagai informasi dasar bagi program pemuliaan. Sampel kerang hijau yang berasal dari populasi alam perairan Tanjung Kait, Kamal, Panimbang, Cirebon, Pasuruan, Kenjeran, dan Pangkep diambil secara acak. Amplifikasi PCR dan sekuensing mitokondria daerah cytochrome B adalah HCO (F): 5’-TAA ACT TCA GGG TGA CCA AAA AAT CA-3’ (26 bp) dan LCO (R): 5’-GGT CAA CAA ATC ATA AAG ATA TTG G-3’ (25 bp). Sekuen DNA yang diperoleh digunakan untuk analisis homologi, analisis genetic distance dan analisis kekerabatan. Hasil analisis homologi susunan nukleotida berdasarkan BLAST-N terhadap sekuen mtDNA Perna viridis yang tersimpan di Genebank menunjukkan similaritas 97%. Hasil analisis didapatkan jarak genetik yang terdekat adalah populasi Tanjung Kait dengan Kenjeran sedangkan jarak genetik terjauh adalah populasi Cirebon dengan Kamal. Hubungan kekerabatan yang ditunjukkan dengan dendrogram diperoleh 2 kelompok yaitu 6 populasi membentuk satu kelompok dan populasi Cirebon membentuk kluster tersendiri. Sekuens tersebut mungkin dapat digunakan sebagai penanda dalam program breeding kerang hijau di Indonesia

KARAKTERISTIK GENETIK POPULASI TIRAM MUTIARA (Pinctada margaritifera) TERKAIT DENGAN DISTRIBUSI GEOGRAFISNYA DI PERAIRAN INDONESIA

Jurnal Riset Akuakultur Vol 4, No 1 (2009): (April 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (93.112 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk memetakan keragaman genetik lima populasi tiram mutiara di Indonesia (Sumbawa, Bali Utara, Selat Sunda, Belitung, Sulawesi Selatan) dengan teknik mtDNA RFLP daerah amplifikasi Cytochrome Oxydase I (COI) dan hubungan kekerabatannya. Lima puluh tiram mutiara (Pinctada margaritifera) yang dianalisis menghasilkan DNA teramplifikasi sebesar 750 pb pada daerah COI mtDNA dengan teknik RFLP. Delapan belas komposit haplotipe terdeteksi dengan menggunakan tiga enzim restriksi: FokI, HaeIII, dan NlaIV. Diversitas haplotip rata-rata sebesar 0,255±0,093. Lima populasi tiram mutiara menghasilkan tiga kelompok dengan jarak genetik terendah adalah populasi Sumbawa dan Bali Utara (0,017) dan terjauh adalah populasi Sulawesi Selatan (0,142). Populasi Sulawesi Selatan merupakan populasi unik berdasarkan distribusi haplotipe BBCAA (60%) dengan nilai keragaman genetik terendah (0,105) dibandingkan dengan populasi lainnya (0,177-0,328).The objectives of this study were to map the genetic diversity of five populations of pearl oyster in Indonesian waters using restriction fragment length polymorphism analysis of DNA COI gene and their genetic relationships. A total of 50 individual of pearl oysters (Pinctada margaritifera) were analyzed for genetic variations within a 750-base pair region of the mitochondrial DNA COI gene using restriction fragment length polymorphism analysis. 18 composite haplotypes were detected following three digestions of endonuclease: FokI, HaeIII, and NlaIV. Five populations of pearl oysters formed three groups where the lowest values of Nei’s genetic distance were among Sumbawa and North Bali populations (0.017) and highest were among the South Sulawesi populations (0.142). The South Sulawesi populations possess uniqueness based on the haplotipe distribution of BBCAA (60%) with the lowest values of genetic diversities (0.105) compared to other populations (0.177--0.328).