I Gusti Ngurah Sudisma
Bagian Klinik Hewan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana, Bali

Published : 8 Documents
Articles

Found 8 Documents
Search

Gambaran Total Eritrosit, Hemoglobin, dan Packed Cell Volume Tikus Putih Jantan Selama Pemberian Ekstrak Pegagan

Buletin Veteriner Udayana Vol. 5 No.1 Pebruari 2013
Publisher : Buletin Veteriner Udayana

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak pegagan terhadap total eritrosit, kadar hemoglobin, dan packed cell volume pada tikus putih jantan. Penelitian ini menggunakan 15 ekor tikus putih jantan dengan berat badan ± 300 gram dan umur 12 minggu. Tikus ini kemudian dibagi dalam 5 perlakuan yaitu kelompok OA, OB, OC, OD, dan KT.  Masing-masing kelompok terdiri dari 3 ekor tikus. Kelompok  OA: 100 mg/ekor (0,2 ml); OB: 200 mg/ekor (0,4 ml); OC: 300mg/ekor (0,6 ml); OD: 400mg/ekor (0,8 ml) dan KT sebagai kontrol diberikan aquades 0,2 ml. Pemberian ekstrak pegagan diberikan secara oral setiap hari selama 7 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak pegagan dari dosis 100 mg/ekor, 200 mg/ekor, 300 mg/ekor, dan 400 mg/ekor berpengaruh secara nyata terhadap gambaran peningkatan total eritrosit, PCV, tetapi tidak mempengaruhi kadar hemoglobin jika dibandingkan dengan control yaitu masih dalam batas normal.

Anestesi Infus Gravimetrik Ketamin dan Propofol pada Anjing (THE GRAVIMETRIC INFUSION ANAESTHESIA WITH KETAMINE AND PROPOFOL IN DOGS)

Jurnal Veteriner Vol 13, No 2 (2012)
Publisher : Jurnal Veteriner

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aim was to evaluate quality of anaesthesia by using gravimetric infusion anaesthesia withketamine and propofol in dogs. The quality of anaesthesia, duration of actions, and the physiological responsseof anaesthesia were evaluated in twenty domestic dogs. Anaesthesia was induced intramuscularly withatropine (0.03 mg/kg)-xylazine (2 mg/kg) (AX), intravenously ketamine-propofol (KP) (4 mg/kg), andmaintained with continuous intravenous infusion with pre-mixed propofol (P) and normal saline containing2 mg/ml of propofol and 2 mg/ml of ketamine (K). Domestic stray dogs were randomly divided into fivegroups. Groups AXKP-K2P2, AXKP-K4P4, and AXKP-K6P6 were treated with ketamine-propofol the dose0.2 mg/kg/minute, 0.4 and 0.6 mg/kg/minute respectively, while group AXKP-P4 was given propofol 0.4 mg/kg/minute and group AXKP-I was given isoflurane 1-2%. Heart rate (HR), respiratory rate (RR),electrocardiogram (ECG), blood oxygen saturation (SpO2), end tidal CO2 (ET CO2), and capillary refill time(CRT) were measured. No significant difference (P>0.05) found between the groups in anaesthetion times.All groups showed rapid and smooth inductions, prolonged surgical stage, and rapid recovery. Groups AXKPK2P2and AXKP-K4P4 showed minimal physiological effect on the dogs. The HR, RR, ET CO2, SpO2, CRT,and ECG wave were stabl. Combination of AXKP-K6P6 induced SpO2 depression, increased and instabilityof HR, RR and ET CO2. Groups AXKP-P4 showed decreased of HR and respiratory depression. All anaestheticcombinations showed no significant influence (P>0.05) on the electricity of the dog’s heart. The combinationof ketamine-propofol at dose 0.2 and 0.4 mg/kg/minute were found to be better as an application formaintaining anaesthesia by gravimetric continuous intravenous infusion. The method is a suitablealternative for inhalation anaesthesia in dogs.

Kadar Glukosa Darah Anjing Kintamani

Buletin Veteriner Udayana Vol. 5 No. 2 Agustus 2013
Publisher : Buletin Veteriner Udayana

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penentuan kadar glukosa darah anjing kintamani menggunakan Accu-check Active dilakukan di laboratorium Patologi Klinik Veteriner, Fakultas Kedoktern Hewan Universitas Udayana. Sampel darah diambil dari 50 ekor anjing kintamani untuk menentukan kadar glukosa acak dan 10 ekor untuk mengetahui kadar glukosa darah puasa dan dua jam setelah makan. Sampel darah diambil dari vena chepalica. Anjing yang dipilih sebagai sampel adalah anjing kintamani milik penduduk di daerah Denpasar dan Kintamani. Hasil penelitian ini menunjukkan rerataan kadar glukosa normal darah anjing kintamani secara acak sebesar 86,62 mg/dl  19,09, jantan adalah 84,10 mg/dl  19,11  dan betina 89,81 mg/dl  19,01..  Pada keadaan puasa kadar glukosa darah anjing kintamani adalah 73,4 mg/dl  5,98,   jantan 74 mg/dl  2,82 betina 73 mg/dl  7,69. Kadar glukosa darah anjing kintamani dua jam setelah makan sebesar 75,6 mg/dl  6,13, jantan 76,25 mg/dl  2,36 dan  betina 75,76 mg/dl 7,98. Hasil ini masih berada dalam kisaran normal berdasarkan standar acuan Graham. Dengan demikian Accu-check Active dapat dipakai untuk menentukan kadar glukosa darah anjing kintamani.

Gambaran Darah Anjing Yang Diinjeksi Xilasin-Ketamin Secara Subkutan (DESCRIPTION BLOOD OF DOG XYLAZINE-KETAMINE INJECTED SUBCUTANEOUSLY)

Buletin Veteriner Udayana Vol. 8 No. 1 Pebruari 2016
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine of Udayana University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh injeksi berulang xilasin-ketamin melalui sub kutan terhadap total eritrosit, kadar hemoglobin dan hematokrit anjing lokal. Sebanyak 24 ekor anjing lokal umur 1-2 tahun berat badan 10-15 kg sebagai hewan coba. Anjing dikelompokkan  menjadi tiga. Kelompok pertama sebagai kontrol, sedangkan kelompok kedua diinjeksi kombinasi xilasin-ketamin dengan dosis dua dan 10 mg/kg bb dan kelompok ketiga diinjeksi dengan dosis xilasin (2 mg/kg bb) dan ketamin dosis (10 mg/kg bb) secara sub kutan. Darah diambil sebelum anestesi dan sesudah masa pemulihan anestesi melalui vena femoralis. Pemeriksaan eritrosit dengan Neubauer, pemeriksaan kadar hemoglobin dengan metode Sahli dan pemeriksaan hematokrit dengan metode Microhematocrit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terjadi perbedaan yang nyata terhadap total eritrosit, kadar hemoglobin dan hematokrit pada perlakuan injeksi berulang xilasin-ketamin yang dikombinasi ataupun dipisah dengan kelompok kontrol. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa injeksi berulang xilasin-ketamin dengan dosis xilasin (2 mg/kg bb) dan ketamin (10 mg/kg bb) spesifikasinya aman terhadap total eritrosit, kadar hemoglobin dan hematokrit dan baik digunakan sebagai anestesi pada anjing.

Pembiusan Babi Model Laparoskopi untuk Manusia dengan Zoletyl, Ketamin dan Xylazin

Jurnal Veteriner Vol 12, No 4 (2011)
Publisher : Jurnal Veteriner

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In the last decade the use of pig as animal model for trining in laparoscopic surgery showed onincreased in Indonesia. The training for laparoscopy surgery involved cholecystectomy, ovariohysterctomy,hysterectomy, nefrectomy, spleenectomy, and cardiosurgery. The success of such training depends on themethod and the process as such as the proper used to handle the animal. The study was a retrospectivestudy over 2009-2010 laparoscopic training on 62 pigs. The objective of this study was to elucidate theprocedure of pig laparoscopic surgery, anesthesia methods, obstacle, and the solutions. Method ofanesthesia induction was performed by using combination of tiletamine-zolazepam (8 mg/kg bw), ketamineHCl (6 mg/kg bw), and xylazine HCl (2 mg/kg bw) /ZKX without premedication. Anesthetized pigs weremaintained with combination of ketamine HCl (5 mg/kg bw)-xylazine HCl (2 mg/kg bw) without anyanalgesic agent. Onset of ZKX induction induction was 3-5 minutes. Time of surgery varied from 40 to 120minutes, depend on surgery procedures. Heart beat and respiration rate per minute were remain stableduring surgery procedure, with observed at 68.4±12.1 and 41.3±14.1 respectively. The anesthetic methodused for Indonesian local pigs appeared to be suitable for laparoscopic surgery model for human.

Pembiusan Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) dengan Campuran Ketamine dan Xylazine (THE ANAESTHETIZATION OF LONG TAILED MACAQUE (MACACA FASCICULARIS) BY INJECTING THE COMBINATION OF KETAMINE AND XYLAZINE)

Jurnal Veteriner Vol 2, No 1 (2001)
Publisher : Jurnal Veteriner

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembiusan Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) dengan Campuran Ketamine dan Xylazine   (THE ANAESTHETIZATION OF LONG TAILED MACAQUE (MACACA FASCICULARIS) BY INJECTING THE COMBINATION OF KETAMINE AND XYLAZINE)

Laporan Kasus: Hemangioma pada Anjing Golden Retriever

Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 No 6 (2018): Volume 7 (6) 2018
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hemangioma adalah tumor jinak sel-sel endotel pembuluh darah. Hemangioma sering terjadi pada kulit, yaitu pada bagian dermis atau lapisan subkutan sebagai akibat dari sel endotel pembuluh darah yang bermutasi. Hemangioma dapat terjadi karena paparan sinar matahari dan sering terjadi pada anjing dengan usia di atas lima tahun. Seekor anjing ras Golden Retriever berumur delapan tahun, bobot badan 35,4 kg dan berjenis kelamin betina diperiksa di Rumah Sakit Hewan Pendidikan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana dengan keluhan adanya benjolan pada pangkal ekor. Secara klinis, anjing sehat dengan nafsu makan, minum, defekasi dan urinasi normal. Menurut hasil pemeriksaan histopatologi yang dilakukan di Balai Besar Veteriner Denpasar, dimana terlihat adanya banyak peluasan dan hemoragi pembuluh darah, anjing didiagnosis menderita hemangioma dengan prognosis fausta. Tumor ditangani dengan melakukan pembedahan (eksisi). Sebelum dilakukan tindakan operasi, hewan diberikan premedikasi berupa atropine sulfate melalui injeksi subkutan, lima belas menit kemudian dilanjutkan dengan pemberian xylazine dan ketamine secara injeksi intramuskular. Insisi dilakukan pada bagian tengah tumor kemudian dilakukan preparasi untuk membuka bagian kulit dan eksisi jaringan tumor secara menyeluruh. Bekas insisi pada subkutan dijahit dengan pola jahitan continous suture dan pada kulit dengan pola jahitan interrupted suture. Anjing diberi antibiotik amoxicillin trihydrate 500 mg (Amoxan®) peroral dengan dosis pemberian tiga kali sehari satu tablet selama lima hari dan mefenamic acid 500 mg (Bernofarm®) peroral dosis pemberian dua kali sehari satu tablet selama tiga hari. Hari kedelapan pascaoperasi anjing dinyatakan sembuh dengan luka yang sudah mengering dan menyatu dengan baik.  

Laporan Kasus: Mukosil Sublingualis pada Anjing Lokal

Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 No 6 (2018): Volume 7 (6) 2018
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mukosil sublingualis merupakan akumulasi saliva dengan komposisi mukus sepanjang dasar lidah. Mukosil sublingual disebabkan karena kelainan pada kelenjar saliva ataupun salurannya. Kelainan tersebut secara pasti tidak diketahui penyebabnya, namun dapat diakibatkan oleh trauma benda tumpul, benda asing ataupun neoplasia. Komposisi dari mukus pada mukosil dapat berupa campuran darah dengan saliva. Penanganan operasi dapat dilakukan dengan cara pembersihan mukosil, drainase atau marsupialisasi serta cara yang paling efektif dengan pengangkatan kelenjar saliva. Seekor anjing lokal jantan dengan bobot badan 12 kg dan umur 1 tahun mengalami pembengkakan dibawah lidah setelah dilakukan pembedahan ditemukan komposisi saliva dengan bercampur darah. Hal tersebut mengarahkan diagnosa pada mukosil sublingualis. Pada kasus ini hanya dilakukan pembersihan mukosil. Pada pengamatan pasca operasi luka operasi sudah menutup dengan baik pada hari ke 5, namun belum ada tanda-tanda kekambuhan. Pada hari ke 10 terlihat terjadi kekambuhan pada bagian berbeda dibawah lidah.