Articles

Found 25 Documents
Search

EVALUASI INSEKTISIDA DELTAMETRIN 0,6% EC TERHADAP RHIPICEPHALUS SANGUINEUS Sudira, I Wayan
Buletin Veteriner Udayana Vol. 1 No. 1 Pebruari 2009
Publisher : Buletin Veteriner Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Parasit Rhipicephalus sanguineus (Acarina : Ixodidae) menyerang hewan peliharaan/ternak khususnya anjing, kambing dan babi. Penggunaan insektisida untuk mengendalikan parasit ini informasinya belum begitu banyak. Suatu percobaan untuk mengevaluasi insektisidaDeltametrin 0,6% EC terhadap Rhipicephalus sanguineus telah dilakukan di laboratorium pada bulan Mei , Juni, Juli 2007 di Denpasar. Hasilnya menunjukkan bahwa Deltametrin 0,6% Ec sangat baik untuk mengontrol Rhipicephalus sanguineus. Untuk pemakaian pada manusia perlu diteliti lebih lanjut.ABSTRACTParasite Rhipicephalus sanguineus (Acarina : Ixodidae) attack pets / livestock particulary dog, goat and pig. The information for the use of unsectiside to control by this parasite is scanly. An experimental study was caried out to evaluase the use of insentiside Deltamintri 0,6 % to control ofRhipicephalus sanguineus the study was condacted on May, June, July 2007 in Denpasar. The results of the study showed that Deltamentrin 0,6 % Ec is usefull to contrroly Rhipicephalus sanguineus shown LC50 happened to dosis 2,35 ppm and LC 95 happened to dosis 12 ppm. For usage on human being required to be more research.
SKRINING DAN UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI BEBERAPA RUMPUT LAUT DARI PANTAI BATU BOLONG CANGGU DAN SERANGAN Maduriana, I Made; Sudira, I Wayan
Buletin Veteriner Udayana Vol. 1 No. 2 Agustus 2009
Publisher : Buletin Veteriner Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

In this study, extracts of seaweeds Gracilaria arculata zanardinifrom Batu Bolong, Cangguand Gracilaria lichenoides (Linnaneus) and Hypnea sp. fromSerangan were screened forthe production of antibacterial against E. coli and M.luteus.The result of the study showed that all species of seaweeds have activity against E.coli and M. luteus, but Gracilaria arculata zanardini was the species of seaweed in thestrongest activity against E. coli and M. luteus.
UJI DAYA HAMBAT EKSTRAK DAUN KEDONDONG (LANNEA GRANDIS ENGL) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI ERWINIA CAROTOVORA Sudira, I Wayan; Merdana, I Made; Wibawa, I Putu Agus Hendra
Buletin Veteriner Udayana Vol. 3 No. 1 Pebruari 2011
Publisher : Buletin Veteriner Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Research with the title of the inhibition test kedondong leaf extract (Lannea grandisENGL)on the growth of bacteria Erwinia carotovora, causes soft rot of Aloe vera have beenconducted in vitro on media PPGA and testing of antibacterial activity of leaf extractkedondong on aloe vera leaf pieces. This study aims to determine the bactericidal activityof leaf extract and concentration kedondong minimal constraints on the growth ofbacteria Erwinea carotovora. Bacteria E. Carotovora isolated from the Aloe Vera plant softrot disease.Sections of leaves among the sick and the healthy cut to the size of ± 3 cm andcleaned with water and then soaked with 70% alcohol for 2 minutes inserted into laminar flow. Leaves clean kedondong have weighed as much as 100 grams chopped, then addedwith 1000 ml of methanol solvent. Immersion extract was filtered with filter paper watmanNo. 2.The filtrate obtained was evaporated by vacuum rotary evaporator to separate thesolvent (methanol) and the extract, made up to concentration. Bacteria isolated on mediapropagated PPGA tilted as stock for testing bacterial pathogens isolated colony of yellowwhitecolor with the aroma of sulfur-like smell of gas.Based on research results, it can beconcluded that the leaf extract could inhibit bacterial growth kedondongE carotovora withdoses at least 4% concentration in media PPGA and pieces of aloe vera leaves, whereas atconcentrations of 1, 2 and 3% have not been able to provide inhibition.
Efek Ekstrak Daun Ashitaba (Angelica keiskei) Terhadap Gambaran Histopatologi Ginjal Mencit (Mus musculus) Jantan Adinata, Made Oka; Sudira, I Wayan; Berata, I Ketut
Buletin Veteriner Udayana Vol. 4 No.2 Agustus 2012
Publisher : Buletin Veteriner Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek ekstrak etanol daun Ashitaba (Angelicakeiskei) yang diberikan secara oral dengan dosis bervariasi terhadap gambaran histopatologiginjal mencit. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 25 ekor mencit(Musmusculus) jantan dengan rata-rata berat badan 25-30 gram dan dibagi menjadi limagrup perlakuan. Perlakuan pertama tidak diberikan ekstrak etanol daun Ashitaba atausebagai kontrol. Perlakuan kedua sampai keempat masing-masing diberikan dosis 125mg/kg berat badan (bb); 250 mg/kg bb; 500 mg/kg bb; dan 1.000 mg/kg bb. Perlakuandiberikan secara oral setiap hari dalam waktu 21 hari. Pada hari ke 22, semua mencitdinekropsi dan ginjal diambil untuk selanjutnya dibuat preparat histopatologi denganpewarnaan hematoksilin eosin (HE). Perubahan histopatologi diperiksa berdasarkan adanyadegenerasi melemak, peradangan dan nekrosis. Hasil dari pemberian ekstrak etanol daunAshitaba (Angelica keiskei) dengan dosis 125 mg/kg bb, dua ekor mencit mengalamidegenerasi melemak dan infiltrasi sel radang dan satu mencit mengalami nekrosis.Pemberian dosis 250 mg/kg bb, tiga ekor mencit mengalami degenerasi melemak daninfiltrasi sel radang dan satu ekor mencit mengalami nekrosis. Pemberian dosis 500 mg/kgbb, tiga ekor mencit mengalami degenerasi melemak dan infiltrasi sel radang dan satu ekormencit mengalami nekrosis. Pemberian dosis 1000 mg/kg bb, tampak adanya infiltrasi selselradang, degenerasi melemak dan nekrosis pada semua mencit yang digunakan.Simpulan penelitian adalah pemberian ekstrak etanol daun Ashitaba pada dosis 1000 mg/kgbb dapat menimbulkan gangguan gambaran struktur histopatologi ginjal mencit (Musmusculus) jantan.
Perubahan Histopatologi Hati Mencit (Mus musculus) yang Diberikan Ekstrak Daun Ashitaba (Angelica keiskei) Swarayana, I Made Indrayadnya; Sudira, I Wayan; Berata, I Ketut
Buletin Veteriner Udayana Vol. 4 No.2 Agustus 2012
Publisher : Buletin Veteriner Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan histopatologi hati mencit (Musmusculus) yang diberikan ekstrak daun Ashitaba (Angelica keiskei). Penelitian inimenggunakan 25 ekor mencit jantan yang dibagi secara acak sederhana menjadi 5 grup.Grup A sebagai kontrol diberikan aquades, dan grup B, C, D, dan E masing-masingdiberikan 125 mg, 250 mg, 500 mg dan 1000 mg extrak Ashitaba secara oral. Pemberianekstrak etanol daun Ashitaba dilakukan setiap hari selama 21 hari. Pada hari ke 22 semuamencit dinekropsi dan hati diambil untuk diproses pembuatan preaparat dengan metodeembedding blocking dengan paraffin serta pewarnaan hematoxylin eosin (HE). Pemeriksaanperubahan histopatologi dilakukan berdasarkan adanya degenerasi melemak dan nekrosis.Hasil penelitian menunjukkan adanya nekrosis dan degenerasi yang ringan pada semuagrup perlakuan. Hasil analisis statistik dengan metode Kruskal Wallis menunjukkan hasilyang tidak berbeda diantara grup perlakuan. Penelitian ini membuktikan ekstrak daunAshitaba (Angelica keiskei) antara dosis 125 mg sampai 1.000 mg tidak menimbulkan efektoksik pada hati mencit.
Studi Patologi Kejadian Cysticercosis pada Tikus Putih Berata, I Ketut; Arjana, Anak Agung Gde; Sudira, I Wayan; Merdana, I Made; Budiasa, I Ketut; Oka, Ida Bagus Made
Jurnal Veteriner Vol 11, No 4 (2010)
Publisher : Jurnal Veteriner

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Rats are commonly used as animal model in pathological and reproduction research, butunfortunately they are often infected with cysticercosis. The objective of this research was to determinethe pathological changes the of the rats (Rattus novergicus) tissues affected with cysticercus. Thisresearch using 24 of female rats. They were adapted to a new environment for a week and the feeding andwater were provided ad libitum. At the end of adaptation period rats were necropsied and the visceralorgans were examined for pathological changes especially the present of cysticercosis. The liver and kidneyof each rat were soaked in 10% phosphate buffered formalin. Following dehydration process, tissue wereembedded in paraplast, cut at 5 micron and stained with Harris hematoxylin eosin (HE). The resultshowed that 8 of 24 rats were affected by cysticercosis on the liver. The histopathological changes werenecrotic lesions and eosinophylic cells infiltration around the cysticercosis lesion. The results showed that8 of 23 rats were affected by cysticercosis. The presence of necrosis and cells inflammation could interferethe results of the study when such a rats are used. It is therefore necessary to screen rats for cysticercosis.
STUDI HISTOPATOLOGI HATI TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) YANG DIBERI EKSTRAK ETANOL DAUN KEDONDONG (Spondias dulcis G.Forst) SECARA ORAL Adikara, I Putu Arya; Winaya, Ida Bagus Oka; Sudira, I Wayan
Buletin Veteriner Udayana Vol. 5 No. 2 Agustus 2013
Publisher : Buletin Veteriner Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Tanaman kedondong sering dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai obat alternatif  untuk mengobati berbagai macam penyakit. Sedangkan penelitian tentang toksisitas daun kedondong pada hati belum pernah dilakukan. Dalam penelitian ini tikus putih (Rattus norvegicus) dibagi secara acak menjadi lima kelompok, masing-masing kelompok berjumlah 5 ekor. Kelompok A sebagai kontrol (placebo) yang diberi aquades peroral; kelompok B diberikan ekstrak daun kedondong 100 mg/kg bb (0,2 ml/ekor); kelompok C diberikan ekstrak daun kedondong 200 mg/kg bb (0,4 ml/ekor); kelompok D diberikan ekstrak daun kedondong 300 mg/kg bb (0,6 ml/ekor); kelompok E diberikan ekstrak daun kedondong 400 mg/kg bb (0,8 ml/ekor). Pemberian ekstrak daun kedondong dilakukan secara oral. Dilanjutkan dengan nekropsi pada hari ke-15 untuk pengambilan organ hati yang nantinya akan dibuat preparat hitopatologi.Hasil pemeriksaan histopatologi pada hati  tikus putih(Rattus norvegicus) yang diberikan ekstrak etanol daun kedondong, tidak ditemukan adanya perubahan seperti adanya infiltrasi sel radang, degenerasi melemak, degenerasi hidrofik dan nekrosis pada kelompok perlakuan K1, K2, K3, tetapididapatkan hasil peradangan ringan pada kelompok perlakuan K4 dan K5 pada 1 ekor tikus putih (Rattus norvegicus) dari 5 ekor yang diberi perlakuan pada tikus putih (Rattus norvegicus).
Kajian Ekstrak Daun Kedondong (Spondias dulcis G.Forst.) Diberikan Secara Oral Pada Tikus Putih Ditinjau Dari Histopatologi Ginjal Suparman, I Putu; Sudira, I Wayan; Berata, I Ketut
Buletin Veteriner Udayana Vol. 5 No.1 Pebruari 2013
Publisher : Buletin Veteriner Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Tanaman kedondong sering dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai obat alternatif  untuk mengobati berbagai macam penyakit. Sedangkan penelitian tentang toksisitas daun kedondong pada ginjal belum pernah dilakukan. Dalam penelitian ini tikus putih (Rattus norvegicus) dibagi secara acak menjadi lima kelompok, masing-masing kelompok berjumlah 5 tikus putih. Kelompok A sebagai kontrol (placebo) yang diberi aquades peroral; kelompok B diberikan ekstrak daun kedondong 100 mg/kg bb (0,2 ml/ekor); kelompok C diberikan ekstrak daun kedondong 200 mg/kg bb (0,4 ml/ekor); kelompok D diberikan ekstrak daun kedondong 300 mg/kg bb (0,6 ml/ekor); kelompok E diberikan ekstrak daun kedondong 400 mg/kg bb (0,8 ml/ekor). Pemberian ekstrak daun kedondong dilakukan secara oral menggunakan sonde khusus yang dimasukkan langsung ke lambung dan dilakukan selama 14 hari. Nekropsi untuk pengambilan organ ginjal dilakukan pada hari ke 15. Jaringan ginjal selanjutnya diproses untuk pembuatan preparat histopatologi dengan pewarnaan Hematoxylin Eosin (HE). Pemeriksaan histopatologi pada ginjal tikus putih yang diberikan ekstrak daun kedondong tidak ditemukan adanya peradangan, degenerasi melemak dan nekrosis pada kontrol (placebo). Sedangkan ditemukan adanya nekrosis pada pemberian dengan dosis 100 mg/kg bb (0,2 ml), 200 mg/kg bb (0,4 ml), 300 mg/kg bb (0,6 ml), 400 mg/kg bb (0,8 ml). Pada pemeriksaan yang didasarkan adanya infiltrasi sel-sel radang ditemukan adanya peradangan pada dosis 400 mg/kg bb (0,8 ml). Hasil ini menunjukkan pemberian ekstrak daun kedondong (Spondias dulcis G.Forst) dengan rentang dosis 100 mg/kg bb sampai dengan dosis 400 mg/kg bb selama 14 hari, menyebabkan gangguan histopatologi pada organ ginjal tikus putih (Rattus novegicus).
Histopatologi Ginjal Tikus Putih Akibat Pemberian Ekstrak Pegagan (Centella asiatica) Peroral Suhita, Luh Putu Ratna; Sudira, I Wayan; Winaya, Ida Bagus Oka
Buletin Veteriner Udayana Vol. 5 No.1 Pebruari 2013
Publisher : Buletin Veteriner Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Pegagan merupakan tanaman herbal  yang sering dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia sebagai obat alternatif untuk mengobati berbagai macam penyakit. Penelitian tentang toksisitas (studi histopatologi) tanaman pegagan pada ginjal belum pernah dilakukan. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya perubahan histopaotogi pada ginjal tikus putih setelah pemberian ekstrak pegagan (Centella asiatica) peroral. Tikus putih (Rattus norvegicus) dibagi secara acak menjadi lima kelompok, masing-masing kelompok berjumlah 6 ekor. Kelompok A sebagai control (placebo) yang diberi aquades peroral; kelompok B yang diberikan ekstrak pegagan 100 mg/kg bb (0,2 ml/ekor); kelompok C yang diberikan ekstrak pegagan dosis 200 mg/kg bb (0,4 ml/ekor); kelompok D yang diberikan 300 mg/kg bb (0,6 ml/ekor); dan kelompok E yang diberikan ekstrak pegagan dosis 400 mg/kg bb (0,8 ml/ekor). Nekropsi untuk pengambilan organ ginjal dilakukan pada hari ke-9. Jaringan ginjal selanjutnya diproses untuk pembuatan preparat histopatologi dengan pewarnaan Hemaktosilin Eosin (HE). Hasil pemeriksaan histopatologi pada ginjal tikus putih yang diberikan ekstrak pegagan, tidak ditemukan adanya degenerasi melemak, degenerasi hidrofik, dan nekrosis baik pada control (placebo) maupun pemberian dosis 0,2  ml; 0,4 ml; 0,6 ml; 0,8 ml. Hasil ini menunjukkan pemberian ekstrak pegagan (Centella asiatica) dengan rentang dosis 100 mg/kg bb sampai dengan dosis 400 mg/kg bb selama 9 hari, tidak menyebabkan gangguan histopatologi pada organ ginjal tikus putih (Rattus novegicus).
Efektivitas Perasan Akar Kelor (Moringa Oleifera) Sebagai Pengganti Antibiotik pada Ayam Broiler Yang Terkena Kolibasilosis DARMA, BOI; MAHATMI, HAPSARI; SUDIRA, I WAYAN
Indonesia Medicus Veterinus Vol 2 (3) 2013
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang “Efektifitas Air Perasan Akar Kelor (Moringa oleifera) Sebagai Alternatif Pengganti Antibiotika Pada Ayam Broiler Yang Terkena Kolibasilosis” yang bertujuan untuk mengetahui daya hambat perasan akar kelor (Moringa oleifera) terhadap pertumbuhan bakteri E.coli yang diisolasi dari ayam broiler yang menderita kolibasilosis. Penelitian ini menggunakan metode Kirby Bauer yang dimodifikasi (Lay, 1994) dengan menggunakan air perasan akar kelor (Moringa oleifera) konsentrasi 20%, 40%, 60%, 80%, dan 100% sebagai perlakuan dan kertas cakram yang mengandung antibiotik Kloramfenikol sebagai kontrol positif serta akuades steril sebagai kontrol negative. Setiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Data yang diperoleh dari hasil penelitian dianalisis menggunakan statistik dengan Uji Sidik Ragam, bila terdapat pengaruh yang sangat nyata dilanjutkan dengan uji Duncan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah zona hambat perasan akar kelor (Moringa oleifera) konsentrasi 100% berbeda nyata (P<0,05) dengan konsentrasi 20%, 40%, dan 60%, hal ini disebabkan karena konsentrasi 100% mengandung zat aktif yang paling banyak dibandingkan dengan konsentrasi yang lainnya. Semakin tinggi konsentrasi yang digunakan maka semakin tinggi juga kandungan zat aktif yang terkandung didalamnya sehingga zona hambat yang terbentuk juga semakin luas, begitu juga sebaliknya