Luh Made Sudimartini
Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana
Articles
15
Documents
Perhatian Pemilik Anjing Dalam Mendukung Bali Bebas Rabies

Buletin Veteriner Udayana Vol. 6 No.1 Pebruari 2014
Publisher : Buletin Veteriner Udayana

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perhatian pemilik anjing dalam mendukung  Bali bebas Rabies. Penelitian dilakukan pada bulan Desember 2010, di Desa Kukuh Tabanan, Desa Jagapati Badung, dan Desa Seraya Karangasem dengan jumlah responden sebanyak 500 orang. Cara pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara dengan panduan daftar pertanyaan yang ada pada kuisioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Jumlah kepemilikan anjing dari satu ekor sampai 4 ekor. Masyarakat memelihara anjing sebagian besar dengan tujuan untuk menjaga rumah (77,6%). Perhatian masyarakat pemilik anjing terhadap kesehatan dan perawatan kesehatan anjingnya, dilihat dari memandikan anjing, jumlah pemberian pakan, dan memeriksakan anjingnya ke dokter hewan masih rendah. Anggota keluarga yang sering  berinteraksi (memberikan pakan, memandikan) dengan anjing adalah ayah. Responden yang menjawab anjing bisa  dipegang pemilik sebanyak 93,6%. Berdasarkan atas jenis kelamin, masyarakat sebagian besar memelihara anjing jantan (84,8%). Anjing yang dipelihara dengan cara dilepas (64%). Kesimpulan dari penelitian ini adalah perhatian masyarakat dalam memelihara anjing dalam upaya mendukung Bali bebas rabies masih rendah. Disarankan perlu dilakukan kegiatan sosialisasi dan  edukasi tentang pemeliharaan anjing pada masyarakat.

Radiographic Evaluation of Rabbit Femur Implanted Bali Cattle Bone Graft

Jurnal Veteriner Vol 19 No 3 (2018)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bone xenograft from cattle bone is commonly used to treat a comminuted fracture case. This study aims to know the process of fractured-femur bone healing in rabbit post-implantation powder bone graft from cortical femur bone of Bali cattle evaluated by radiographs. Ten male local rabbits were used in this study, which were divided into 2 groups randomly. Group I (KI) as control, the diaphysis of femur bone was drilled with a diameter of 5 mm without implanting the bone graft, while Group II (KII), the diaphysis of femur bone was drilled 2 holes with a diameter of 5 mm each and with distance 20 mm, substituted with mineralized powder bone graft for the proximal hole (KIIa) and demineralized powder bone graft for the distal hole (KIIb). Fracture healing evaluation was done at week 0 (24 hours), 2, 4, and 6 postoperative by monitoring the growth of callus, fracture line, and union process with radiograph based classification according to Hammer et al., tabulated statistically, and presented descriptively. The results showed that KI and KII were in the sequel of fracture healing but had not reached remodeling phase perfectly. In conclusion, mineralized and demineralized powder bone graft used in this study was as osteoconductive and the use of bone graft shows no different significance and time shows different significance to fracture healing.

Analisis Nilai Gizi Telur Itik Asin Yang Dibuat Dengan Media Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L) Selama Masa Pemeraman

Buletin Veteriner Udayana VOL. 7 No. 2 Agustus 2015
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine of Udayana University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kandungan zat gizi dari telur itik asin yang dibuat dengan menggunakan media kulit buah manggis ditinjau dari kadar air, kadar abu, kadar lemak, kadar protein dan kadar karbohidrat selama masa pemeaman. Menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan 2 faktor perlakuan yaitu faktor pertama meliputi telur yang telah dilapisi media kulit buah manggis dan telur yang dilapisi media batu bata. Sedangkan faktor kedua yakni jangka waktu pemeraman telur yaitu selama 7, 14 dan 21 hari. Metode yang dipergunakan dalam pemeriksaan nilai gizi telur merujuk pada standar yang dikeluarkan oleh AOAC (1984). Data hasil penelitian dianalisa menggunakan Uji T untuk membandingkan kadar gizi kedua jenis telur asin tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama proses pemeraman dengan menggunakan media kulit buah manggis yang diamati pada hari ke 7, 14 dan 21 terjadi penurunan kadar air dan kadar lemak telur asin berturut-turut dari 68.02% menjadi 63.54% dan 14.23% menjadi 13.26%. Sedangkan  kadar abu, protein dan karbohidrat mengalami peningkatan berturut-turut dari 1.4% menjadi 2.69%, 13.54% menjadi 13.61% dan 1.93% menjadi 6.89%. Apabila dibandingkan dengan media batu bata, seluruh parameter nilai gizi tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan (P>0,05). Sehingga dapat disimpulkan bahwa media kulit buah manggis dapat dimanfaatkan sebagai media pembuatan telur asin.

Efektifitas Ekstrak Daun Sirih Merah (Piper crocatum) Terhadap Peningkatan Berat Badan Tikus Putih (Rattus novergicus) Jantan Kondisi Diabetes Yang Di Induksi Aloksan

Buletin Veteriner Udayana Vol. 6 No. 2 Agustus 2014
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine of Udayana University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Purpose of this research is to learn the level of effectiveness of ethanol extract from red betel leaf (Piper crocatum) within increase weight of male white mouse in condition for diabetes mellitus. 20 male white mice (Rattus novergicus) in 3 mounth with weight between 190-250 gram which adapted during 2 weeks. It classified to be 5 groups random, each group consisty by 4 mice. The first treatment as a negative control (healty mouse) whitout giving treatment. The second treatment as alloxan positive control, the third treatment alloxan added by 2% suspension of ethaol extract from red betel leaf (dose 100 mg/kg bb) per oral. The fifth treatment is alloxan added by 0.02% suspension glibenclamide (dose 1 ml/kg bb) per oral. Giving extract betel leaf is done by oral with used sonde. Giving treatment at treatment III, IV and V is done everyday start from day 3 until the end of the day (21 day). The weight of mouse is measure at day 7, 14 and day 21 used analytical balanced. The result of this research show up that giving 2% ethanol extract from red betel leaf (Piper crocatum) with dose (50 mg/kg bb), dose (100 mg/kg bb) and glibenclamide 0,02% ( 1 ml/kg bb) with significant can increase weight (P<0,05) of white mice which induce alloxan. Result of this research could be conclude that ethanol extract of red betel leaf (Piper crocatum) can used for increase the weight.

Analisis Nilai Gizi Telur Itik Asin Yang Dibuat Dengan Media Kulit Buah Manggis Selama Masa Pemeraman (NUTRIENT ANALYSIS OF DUCK SALTED EGGS MADE BY MANGOSTEEN RIND MEDIA DURING SALTING PERIODS)

Buletin Veteriner Udayana Vol. 7 No. 2 Agustus 2015
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine of Udayana University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purposes of this research were to determine the level of nutrient in duck salted eggs made by using mangosteen rind media observed by water content, ash, fat, protein and carbohydrate during salting periods. This research used Completely Randomized Design (CRD), with twofactors. First were media;   mangosteen rind media and brick media. Second were salting periods;7, 14 and 21 days. The level of nutrient contain in duck salted eggs measured according to  Association of Official Analytical Chemist (1984) methods. These data analyzed by T tests tocompare the level of nutrient contain in duck salted eggs produced between medias during saltingperiods. The results show that during the curing process by using the mangosteen rind media wasobserved at days 7, 14 and 21 decreased water and fat content of salted eggs. While the ash, proteinand carbohydrates content increased successively. When compared with the bricks media, all levelof nutritional parameters did not show a significant difference. So it can be concluded that themangosteen rind can be used as a media for making salted eggs.

Gambaran Darah Anjing Yang Diinjeksi Xilasin-Ketamin Secara Subkutan (DESCRIPTION BLOOD OF DOG XYLAZINE-KETAMINE INJECTED SUBCUTANEOUSLY)

Buletin Veteriner Udayana Vol. 8 No. 1 Pebruari 2016
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine of Udayana University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh injeksi berulang xilasin-ketamin melalui sub kutan terhadap total eritrosit, kadar hemoglobin dan hematokrit anjing lokal. Sebanyak 24 ekor anjing lokal umur 1-2 tahun berat badan 10-15 kg sebagai hewan coba. Anjing dikelompokkan  menjadi tiga. Kelompok pertama sebagai kontrol, sedangkan kelompok kedua diinjeksi kombinasi xilasin-ketamin dengan dosis dua dan 10 mg/kg bb dan kelompok ketiga diinjeksi dengan dosis xilasin (2 mg/kg bb) dan ketamin dosis (10 mg/kg bb) secara sub kutan. Darah diambil sebelum anestesi dan sesudah masa pemulihan anestesi melalui vena femoralis. Pemeriksaan eritrosit dengan Neubauer, pemeriksaan kadar hemoglobin dengan metode Sahli dan pemeriksaan hematokrit dengan metode Microhematocrit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terjadi perbedaan yang nyata terhadap total eritrosit, kadar hemoglobin dan hematokrit pada perlakuan injeksi berulang xilasin-ketamin yang dikombinasi ataupun dipisah dengan kelompok kontrol. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa injeksi berulang xilasin-ketamin dengan dosis xilasin (2 mg/kg bb) dan ketamin (10 mg/kg bb) spesifikasinya aman terhadap total eritrosit, kadar hemoglobin dan hematokrit dan baik digunakan sebagai anestesi pada anjing.

Kecepatan Kesembuhan Luka Insisi Yang Diberi Amoksisilin Dan Asam Mefenamat Pada Tikus Putih

Buletin Veteriner Udayana Vol. 8 No. 2 Agustus 2016
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine of Udayana University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kecepatan kesembuhan luka insisi pada tikus putih (Rattus norvegicus) yang diberikan obat amoksisilin dan asam mefenamat ditinjau dari gambaran makroskopik dan mikroskopik. Tiga puluh dua ekor tikus putih jantan dengan berat 150-200 gram dibagi menjadi 2 kelompok secara acak dibuat luka insisi pada linea alba dengan panjang insisi 2 cm dengan kedalaman hingga menembus peritoneum. Tikus Kelompok perlakuan I adalah tikus yang diberikan amoksisilin dengan dosis 150 mg/kg BB/ hari pasca operasi, sedangkan kelompok perlakuan II adalah tikus yang diberikan amoksisilin dosis 150 mg/kg BB/ hari yang dikombinasikan dengan asam mefenamat dengan dosis 45 mg/kg BB/hari pasca operasi selama 3 hari. Pengamatan kesembuhan luka secara makroskopik dilakukan setiap hari selama 14 hari. Pada hari ketujuh dan keempat belas, 8 ekor tikus dari masing-masing kelompok dieutanasi, kemudian kulit lokasi luka insisi dikoleksi untuk pemeriksaan histopatologis. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa pemberian amoksisilin dan asam mefenamat mempercepat kesembuhan luka dibandingkan kelompok tikus yang hanya diberi amoksisilin dengan hilangnya tanda kemerahan dan kebengkakan pada hari ke-6. Secara histopatologis tidak terjadi perbedaan yang signifikan terhadap sel epitel, sel radang dan jaringan kolagen luka insisi tikus putih.

Perbandingan Kecepatan Kesembuhan Luka Insisi yang Diberi Amoksisilin-Deksametason dan Amoksisilin-Asam Mefenamat pada Tikus Putih (Rattus Norvegicus)

Indonesia Medicus Veterinus Vol 5 (2) 2016
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kecepatan kesembuhan luka insisi pada tikus putih (Rattus norvegicus) yang diberikan obat deksametason dan asam mefenamat ditinjau dari gambaran makroskopik dan mikroskopik. Tiga puluh ekor tikus putih jantan dengan berat 150-200 gram dibagi menjadi tiga perlakuan, yang diinsisi pada daerah linea alba dengan panjang insisi dua cm dengan kedalaman hingga menembus peritoneum. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Pengamatan makroskopik dilakukan setiap hari selama 14 hari. Pada hari ketujuh dan hari ke14, lima ekor tikus dari semua kelompok dieutanasi, kemudian kulit hingga peritoneum lokasi luka insisi dikoleksi untuk pemeriksaan histopatologis. Hasil pemeriksaan makroskopik dianalis secara deskriptif dan pemeriksaan histopatologis dianalisis menggunakan uji Non Parametrik. Hasil pemeriksaan makroskopik dan mikroskopik menunjukan bahwa tikus perlakuan III memberikan efek kesembuhan luka lebih cepat dibandingkan tikus perlakuan II dan tikus perlakuan I karena efek dari peradangan terjadi lebih sedikit (minimal) dan kerapatan kolagen yang lebih padat.

Hemogram Anjing Penderita Dermatitis Kompleks

Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 No 5 (2018): Volume 7 (5) 2018
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hemogram anjing penderita dermatitis kompleks. Sampel penelitian ini adalah darah anjing yang mengalami dermatitis kompleks yang didapatkan dari daerah sekitar Denpasar. Dermatitis kompleks adalah radang kulit yang disebabkan oleh komplikasi berbagai agen penyebab seperti parasit, bakteri dan jamur. Komplikasi dari berbagai agen itu menyebabkan kerusakan pada kulit dan terganggunya proses vaskularisasi ke kulit, hal ini menyebabkan terjadi pembusukan pada kulit sehingga menimbulkan bau yang tidak sedap, kerontokan rambut, dan luka borok. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 15 ekor anjing. Pemeriksaan darah untuk mendapatkan nilai hemogram digunakan mesin Animal Blood Counter iCell-800Vet, China. Setelah penghitungan diferensiasi leukosit dari preparat ulas darah dengan pengamatan mikroskop, data dianalisis secara deskriptif. Hasil hemogram anjing penderita dermatitis kompleks adalah anemia, neutropenia, dan basofilia. Neutropenia yang terjadi pada anjing penderita dermatitis kompleks disertai peningkatan neutrofil stab/neutrofil muda, hal tersebut mengindikasikan adanya peradangan yang bersifat akut. Temuan hemogram yang paling umum pada anjing penderita dermatitis kompleks adalah anemia, neutropenia dan basofilia. Neutropenia yang terjadi disertai dengan peningkatan neutrofil muda (stab/band).

Efektivitas Ekstrak Daun Mimba terhadap Micrococcus Luteus yang Diisolasi dari Anjing Penderita Dermatitis Kompleks

Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 No 5 (2018): Volume 7 (5) 2018
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mimba (Azadirachta indica A Juss) adalah tanaman yang tergolong dalam tanaman perdu/terna yang tumbuh subur di Indonesia. Ekstrak daun mimba mengandung beberapa senyawa aktif seperti alkaloid, flavonoids, triterpenoids, karotenoids, steroids dan keton. Micrococcus luteus merupakan bakteri yang berpredileksi pada kulit, mukosa, dan orofaring serta bersifat patogen oportunistik pada pasien immunosupresi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan ekstrak daun mimba (Azadirachta indica A Juss) dalam menghambat pertumbuhan Micrococcus luteus dan mengetahui konsentrasi ekstrak daun mimba (Azadirachta indica A Juss) yang efektif dalam menghambat pertumbuhan Micrococcus luteus. Uji daya hambat menggunakan metode agar well diffusion. Variabel penelitian yaitu konsentrasi ekstrak daun mimba, 5%, 10% dan 25%, dan rata-rata zona hambat pertumbuhan Micrococcus luteus. Data dianalisis dengan analisis ragam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi ekstrak daun mimba memberikan pengaruh yang sangat nyata (P<0,01) terhadap pertumbuhan Micrococcus luteus, hal ini menunjukkan bahwa ekstrak daun mimba (Azadirachta indica A Juss) mempunyai pengaruh terhadap pertumbuhan bakteri tersebut, tetapi tidak efektif jika dibandingkan dengan zona hambat antibiotik kanamisin (kontrol positif). Simpulan dari penelitian ini adalah ekstrak daun mimba mampu menghambat pertumbuhan bakteri Micrococcus luteus.