Articles

Found 23 Documents
Search

Bukan Dua Sisi Dari Sekeping Mata Uang Pernaskahan dan Perteksan dalam Tradisi Sastra Melayu Klasik Sudibyo, Sudibyo
Jurnal Humaniora Vol 11, No 2 (1999)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Dalam tradisi kesusastraan Melayu klasik, jarang terjadi suatu teks muncul hanya dalam satu naskah. Pada umumnya, sebuah teks hadir melalui beberapa naskah dan dengan wajah yang berbeda-beda . Hal ini disebabkan oleh beberapa hal . Pertama, adanya keinginan yang kuat untuk menyebarkan informasi yang terkandung dalam teks yang dipandang penting yang menyebabkan teks periu ditransmisikan . Kedua, dalam perjalanannya, teks melintasi bates ruang dan waktu yang berakibat teks rentan terhadap perubahan. Perubahan ini terutama disebabkan oleh resepsi dan interpretasi dalam proses transmisi dengan tujuan menyesuaikan salinan dengan suatu kondisi tertentu. Ketiga, teks sendin kadang-kadang memuat imbauan agar dirinya direnovasi, dikoreksi, dan disempumakan (Kratz, 1981 : 233) . Keempat, adakalanya dalam proses transmisi dipergunakan referensi yang menyebabkan terjadinya percampuran tradisi (Teeuw, 1986: 7) . Semua ini dimungkinkan karena teks Nadir dalam onimitas (bdk. Genette, 1997 : 39) dan anonimitas (Braginsky, 1993 :2) . Dalam tradisi kesusastraan Melayu klasik, onimitas, dalam hal ini onimitas peran naratorial diwujudkan dengan penyebutan nama did, dalang, yang empunya cerita, paramakawi, 52 bujangga, dagang, gharib, musafir, dan faqir (Koster, 1997 : 54). Onimitas peran naratorial ini hampir selalu berhubungan dengan fungsi dan genre sastra tertentu . Dalang, misalnya, dapat dipastikan mengacu pada cerita-cerita yang berfungsi menghibur atau melipur . Wahananya berupa hikayat dan syair percintaan, keajaiban, dan petualangan, misalnya cerita Panji dan cerita wayang, baik berupa prosa maupun puisi . Dagang hanya muncul dalam cerita-cerita yang berfungsi memberi faedah atau member manfaat. Adapun genre yang menjadi medianya adalah cermin-cermin didaktis bagi para raja dan pegawai istana, antologi-antologi didaktis, dan kronik-kronik sejarah (lihat Braginsky, 1994 : 2). Gharib, musafir dan faqir hadir dalam cerita-cerita yang berfungsi menyucikan rohani atau hail nurani manusia . Genre yang menjadi wahananya ialah kitab-kitab agama, tasawuf, hagiografi, dan alegori-alegori sufi, balk berupa prosa maupun puisi .
VARIASI KECEPATAN ALIR GAS PADA PROSES PELAPISAN KERNEL UO2 DENGAN COMPUTATIONAL FLUID DYNAMIC (CFD) Sukarsono, Sukarsono; Harmianto, Liliek; Wasitho, Muhadi Ayub; Sudibyo, Sudibyo; Purwadi, Dhandang
Jurnal Iptek Nuklir Ganendra Vol 15, No 1 (2012)
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1795.731 KB)

Abstract

VARIASI KECEPATAN ALIR GAS PADA PROSES PELAPISAN KERNEL UO2 DENGAN COMPUTATIONALFLUID DYNAMIC (CFD). Pelapisan kernel UO2, merupakan salah satu tahap dalam pembuatan bahan bakarnuklir yang sangat menentukan terhadap hasil akhir bahan bakar reaktor suhu tinggi. Kernel hasil prosessintering, yang merupakan partikel bulat UO2 diameter sekitar 0,8 mm, dikenakan proses pelapisan pirokarbondan silika karbida secara chemical vapor deposition (CVD). Aspek utama yang ditinjau dalam fluidisasi adalahmekanika fluida yang menggambarkan apa yang terjadi dalam proses fluidisasi. Kemampuan untukmemprediksi awal terjadinya fluidisasi sangat penting di dalam proses fluidisasi. Hal ini dilakukan untukmemperoleh hasil operasi yang bagus, life time tinggi, penentuan kecepatan minimum fluidisasi dan kecepatanmaksimum fluidisasi. Cairan atau gas apabila dilewatkan dari bawah ke atas pada partikel padat padakecepatan rendah, maka partikel tidak bergerak dan apabila kecepatan ditambah, pada titik tertentu partikelmulai bergerak. Kecepatan alir ini disebut sebagai kecepatan minimum fluidisasi. Dalam fluidisasi apabilakecepatan fluida yang melewati partikel dinaikkan maka perbedaan tekanan di sepanjang reaktor akanmeningkat pula. Partikel-partikel ini akan bergerak-gerak dan mempunyai perilaku sebagai fluida. Keadaanseperti ini dikenal sebagai partikel terfluidisasi (fluidized bed). Reaksi kimia yang terjadi dalam fluidisasi jugaberpengaruh terhadap kondisi proses dan terjadi perpindahan massa selama fluidisasi. Dalam penelitian initelah dilakukan modeling proses pelapisan pirokarbon dan silika karbida dengan Computational Fluid Dynamic(CFD) Fluent 6.3. Pelaksanaan penelitian, pertama-tama digambar reaktor dengan program Gambit 2.2.30 dandijalankan dengan program Fluent 6.3. Proses fluidisasi dihitung dengan model multiphase Eulerian dengan gassebagai fase primer dan kernel sebagai fase sekunder. Model dipilih untuk proses unsteady dan aliran laminar.Teori Syamlal-Obrien digunakan untuk perhitungan interaksi antar fase. Dari perhitungan Fluent 6.3, ternyatakecepatan alir gas masuk 8 m/dt masih ada kernel yang jatuh ke bawah, sehingga ini sesuai denganperhitungan menggunakan persamaan kecepatan minimum fluidisasi yang terhitung = 8,6 m/dt. Pada percobaanmenggunakan reaktor gelas juga diperoleh data pada kecepatan 9,49 m/dt sudah terjadi fluidisasi yang baikdibandingkan dengan fluidisasi pada kecepatan 7,11 m/dt masih terlihat ada kernel yang jatuh ke penampung.Data perhitungan nantinya bisa digunakan untuk operasi reaktor fluidisasi alat pelapisan kernel bahan bakar diPTAPB BATAN Yogyakarta.Kata kunci : kernel, reaktor suhu tinggi, fluidisasi, pirokarbon
Wiracerita Mahabhatara di Mata Penyalin Melayu: Resepsi dan Transformasi Cerita Bhartayuddha di dalam Hikayat Pandawa Lima dan Hikayat Darmawangsa Sudibyo, Sudibyo
Jurnal Humaniora No 4 (1997)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Penyebaran cerita wayang ke wilayah kebudayaan Melayu terjadi ketika orang Jawa berimigrasi ke daerah di sekitar pulau mereka. Peristiwa inl terjadi pada abad-9 (Brandon, 1970:9-10). Kebudayaan Jawa mencapai puncaknya pada abad ke-11 dan abad ke-15. Cerita wayang tentu sudah populer. Barangkali hal ini dapat ditunjukkan dengan banyaknya versi cerita wayang yang terdapat dalam khazanah kesusasteraan Melayu. Melihat kenyataan ini, menarik untuk dipertanyakan apakah pada saat wiracerita Mahabharata disalin ke dalam bahasa Melayu, wiracerita itu mempunyai fungsi yang sama dengan wiracerita Mahabharata di wilayah kebudayaan lain.
MITOS HIROGAMI LANGIT DAN BUMI DI DALAM CERITA PELIPUR LARA Sudibyo, Sudibyo
Jurnal Humaniora No 1 (1994)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Cerita pelipur lara memiliki tempat tersendiri di dalam kehidupan masyarakat Melayu. Di kalangan kelompok masyarakat yang masih sederhana cerita pelipur lara merupakan sarana hiburan yang dapat dinikmati sehabis menunaikan pekerjaan sehari harI. Oleh sebeb itu, materi cerita pelipur lara, sebagaimana lazimnye cerita rakyat, berisi cerita -cerita ringan yang kaya fantasi dan hal-hal yang mempesonakan, misalnya kehidupan istana, putri- putri yang tampan dan cantik rupawan, para wirawan yang gagah berani, perkawinan tokoh utama cerita dengan putri kayangan, lukisan alam adikodrati yang fantastis, dan sebagainya. Di dalam tulisan ini akan dicoba ditelusuri secara singkat kaitan cerita pelipur lara terutama episode perkawinan manusia bumi dngan putri kayangan dengan mitos kosmogoni mengenai perkawinan suci (hirogami) langit dan bumi. Pertanyaan yang akan dicoba dijawab adalah mengapa kenyataan di dalam cerita pelipur lara bertolak belakang dengan kenyataan di dalam mitos kosmogoni atau mengapa cerita pelipur lara mendemitefikasikan mitos kosmogoni tersebut. Untuk keperluan ini, dipergunakan tiga buah cerita pelipur lara, Hikayar Malim Deman, Hikayat Raja Muda, dan Hikayat Malim Dewa yang ketiganya mengandung episode perkawinan manusia bumi dengan putri kayangan.
Cerpen Saran "Groot Majoor" Prakoso Karya Y.B. Mangunwijaya: antara Hegemoni dan Resistensi Sudibyo, Sudibyo
Jurnal Humaniora No 9 (1998)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Kegelisahan Y.B. Mangunwijaya mempertanyakan hal-hal yang dianggap mapan atau kanonik merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pilihan sikapnya sebagai seorang sastrawan. Hal ini terlihat dalam sejumlah novel yang ditulisnya, seperti Burung-Burung Manyar (BBM), Rara Mendut (RM), Genduk Duku (GD), Lusi L.indri (LL), dan Durpa Umayi (DU). Melalui BBM, Mangunwijaya menggugat stigmatisasi hitam-putih dan kuasanya terhadap nasib manusia. Di samping itu, ia juga mencoba menilai kembali cara-cara para penguasa Orde Baru yang membengkokkan penuturan sejarah revolusi Indonesia ke arah suatu tafsir bercorak fasistis dan berjiwa Machiavellian. BBM mempertanyakan apakah Indonesia masih menapak di jalan yang benar serta setia kepada arah haluan revolusi yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 dan keabsahan yang lazim ditarik antara kelompok Pandawa dengan Kurawa dengan perlambangan Bharatayuddha sehingga seolah-olah semua pelaku Indonesia adalah Pandawa dan semua Belanda beserta seluruh kaki tangan mereka adalah Kurawa (Mangunwijaya, 1997:57).
Keindahan sebagai Pelipur Lara Sudibyo, Sudibyo
Jurnal Humaniora No 3 (1996)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Sebuah karya sastra tidak dapat dibebaskan dari aktivitas menyatakansuatu pikiran, bahkan sebuah karya sastra kadang diciptakan dengan sengaja untuk menyatakan suatu pikiran (Junus, 1989:73). Bertolak dari pendapat di atas, sebuah karya sastra mengenal suatu masyarakat tertentu, diduga akan merefleksikan atau merefraksikan realitas sosial yang ada dalam masyarakat tersebut atau setidak-tidaknya karya itu akan menolak unsur-unsur yang berasal dan realitas lain (Junus, 1984:57). Seorang pembawa (penulis) cerita pelipur lara, berusaha mencari titik temu diantara dunia yang digambarkan di dalam ceritanya dengan dunia empirik yang dialami dan dirasakannya. Di dalam tulisan ini dipergunakan pendekatan psikologi sastra dengan penekanan kepada pembaca. Oleh karena itu, yang menjadi pusat perhatian tulisan ini adalah hubungan antara karya sastra dengan pengalaman pembaca, terutama yang menyangkut fungsi karya sastra bagi pembacanya (lihat Damono, 1995:8).
PAKU ALAM V: SANG ARISTO-MODERNIS DARI TIMUR Sudibyo, Sudibyo
Paramita: Historical Studies Journal Vol 25, No 1 (2015): PARAMITA
Publisher : History Department, Semarang State University and Historian Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v25i1.3425

Abstract

This paper recites Paku Alam V figures as an ambiguity subject and a cultural paradox. He lived in a kingdom economic crisis and a rapid flow of changes in politics, economy, laws, and lifestyle aspects which is caused by other colonial social elements. The analysis focuses on psychological, religious, and cultural aspects which form his personality. To achieve the goal, it uses post colonialism concerning in contact zone, textual studies and historical context. The textual studies are used to explain the role modernization in genealogy, consistence, and Paku Alam V mind revolution. The historical context is used to explain the historical background, especially related to zeitgeist, when Paku Alam V implemented his ideas.Keywords: aristocrat, paradox, text, context. Tulisan ini mengkaji sosok Paku Alam V sebagai subjek ambiguitas dan paradoks kebudayaan. Ia hidup di tengah krisis ekonomi kerajaan dan arus perubahan yang deras di bidang politik, ekonomi, hukum dan gaya hidup yang dihembuskan oleh kekuasaan dan elemen-elemen masyarakat kolonial lainnya. Analisis difokuskan pada aspek-aspek psikologis, religious, dan kultural yang membentuk pribadinya. Untuk mencapai tujuan itu, digunakan teori poskolonialisme tentang zona kontak dan kajian teks serta konteks sejarah. Kajian teks  digunakan untuk menjelaskan peran modernisasi dalam   genealogi, konsistensi, dan evolusi atau revolusi pemikiran P.A. V. Konteks sejarah digunakan untuk menjelaskan latar belakang sejarah, khususnya yang berkaitan dengan zeitgeist saat P.A. V mengimplementasikan gagasan-gagasannya. Kata kunci: aristrokat, modernis, paradoks, teks, konteks 
EMULSION LIQUID MEMBRANE EXTRACTION OF Zr AND Hf FROM ACID NITRIC USING EXTRACTANT TOPO Basuki, Kris Tri; Sudibyo, Sudibyo
Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia Vol 18, No 1 (2017): Februari 2017
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (313.206 KB) | DOI: 10.17146/jstni.2017.18.1.3161

Abstract

EKSTRAKSI EMULSI MEMBRANE CAIR Zr dan HF DALAM LARUTAN ASAM NITRAT DENGAN EKSTRAKTAN TOPO. Telah dilakukan ekstraksi larutan Zr yang mengandung Hf menggunakan  extraktan TOPO. Sebagai fasa air digunakan larutan campuran ZrO(NO3)2 dan HfO(NO3)2 yang mengandung Zr 10 gr/L dan Hf 500 mg/L, sedangkan ekstraktan atau fasa organik adalah TOPO dengan variasi konsentrasi yang diencerkan dengan kerosen. Emulgator Span-80 digunakan untuk membuat membuat larutan membrane emulsi.Fasa internal yang digunakan adalah asam nitrat 3M dan fasa eksternal yang digunakan adalah asam fosfat 5M. Parameter yang diteliti yaitu konsentrasi ekstraktan, kecepatan pengadukan, waktu pengadukan, dan perbandingan fasa internal dan fasa eksternal. Untuk analisis Zr dan Hf digunakan metode X-Ray Fluorescence (XRF). Dari hasil optimasi proses ekstraksi Zr dan Hf dengan membran emulsi  dengan menggunakan ekstraktan TOPO diperoleh kesimpulan sebagai berikut: waktu pembuatan fasa membran adalah dengan kecepatan pengadukan 8000 rpm, konsentrasi TOPO 5% dalam kerosen, konsentrasi internal asam nitrat 3M, konsentrasi asam fosfat 5M, waktu ekstraksi pengadukan 10 menit dengan kecepatan pengadukan tetap 500 rpm , dan perbandingan fasa membran dan fasa eksternal 1 : 1. Pada kondisi ini diperoleh faktor pisah (FP) Zr-Hf = 17,39.
Penentu Jarak Tembak Berdasarkan Kerusakan Proyektil Timah Tanpa Jacket untuk Senjata Api Genggam Jenis Revolver S&W Kaliber .38 Spesial pada Target Tulang Sudibyo, Sudibyo
Jurnal Biosains Pascasarjana Vol 17, No 3 (2015)
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (596.441 KB) | DOI: 10.20473/bsn.v17i3.Y2015.10784

Abstract

Abstract This study aims to predict the shooting range based on damage the type of lead a projectile without jacket caliber.38 special fired from handguns kinds brand Revolver S & W caliber .38 specials. Based on the phenomenon of criminal cases of abuse handguns types Revolver and the fact that real data it was found that 8% of the amount of lead projectiles without jacket as forensic evidence, the condition has broken the deformed moderate to severe.         The study was conducted at the Police Forensic Laboratory experimental method test-fired in the shooting box at short throw distance range of 0.5 to 6 meters , where the bone is positioned at the target position changes location every 0.5 meters, so the total number of shots is 12 times shot on 12 position target location, and finally obtained 12 variations of deformation projectile shot results.        Stages test firing conducted through three stages as follows: 1). Phase sample preparation equipment and materials firearms, bullets and target bone. 2). Phase shooting target accurately. 3). Stages of deformation measurements and weighing projectile, arranged in the form of table data.        Material samples of bullet used was the type of lead bullets without jacket caliber .38 special with technical specifications diameter of projectile 9.09 mm (real 9.05 mm), length of projectile 17.90 mm (real 18.61 mm), projectile material lead antimony, projectile weight of 10.25 grams, muzzle velocity (initial) 265 m / sec, rounded nose shape, coefficient of form C = 2, the ballistic coefficient i = 0,9 effective range or the distance accurately of 25 meters.        Material samples of bone were used as target is 1694 SR veal ribs with bone hardness values (87 ± 1.5) shore, is used for the calibration test firing, a human skull age adults (≥ 35 years) with a value of hardness (78 ± 6 ) shore, is used as the target subjects of research, human ribs (costal C-3 / C-6) adult (≥ 35 years) with a value of hardness (69 ± 19.5) shore, is used as the target subjects of research. Keywords : deformation; projectiles; bones
Calprotectin mRNA (MRP8/MRP14) expression in neutrophils of periodontitis patients with type 2 diabetes mellitus Syaify, Ahmad; HNES, Marsetyawan; Sudibyo, Sudibyo; Suryono, Suryono
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 42, No 3 (2009): (September 2009)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v42.i3.p130-133

Abstract

Background: Calprotectin, a major cytosolic protein of leukocytes, is detected in neutrophils and monocytes/machrophages. This protein is known to be a marker for several inflammatory diseases including periodontitis. In type 2 diabetes mellitus patients, the severity of periodontitis was strongly thought to be caused by decreasing of leukocytes function such as neutrophils. Previous research found that the calprotectin level in serum of periodontitis patients with type 2 DM is higher than periodontits patients non DM. Purpose: The aim of this study was to determine calprotectin mRNA (MRP8/MRP14) expression in human neutrophils of periodontitis patients with type 2 diabetes mellitus. Methods: Neutrophils were isolated from the peripheral blood of periodontitis patients with uncontrolled type 2 DM, controlled type 2 DM, and non DM. The expression of calprotectin mRNA (MRP8 and MRP14) were detected by RTPCR. Result: The result showed that the value of mRNA calprotectin expression in DM patients were higher than non DM, and the highest expression was on the uncontrolled type 2 DM. Conclusion: The basal level of calprotectin mRNA MRP8/MRP14 expression increased in neutrophil of periodontitis patient with type 2 DM compared non diabetic subjects. It was suggested that high basal level of calprotectin mRNA has a role in the regulation of periodontitis severity with diabetes mellitus patients.