Sudibyakto Sudibyakto
Faculty of Geography, Universitas Gadjah Mada

Published : 20 Documents
Articles

Found 7 Documents
Search
Journal : Majalah Geografi Indonesia

TINGKAT KERENTANAN DAN INDEKS KESIAPSIAGAAN MASYARAKAT TERHADAP BENCANA TANAH LONGSOR DI KECAMATAN BANTARKAWUNG KABUPATEN BREBES Farhi, Zayinul; Sudibyakto, Sudibyakto; Hadmoko, Danang Sri
Majalah Geografi Indonesia Vol 26, No 1 (2012): Maret 2012
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Bantarkawung adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Brebes yang sering terjadi bencana tanahlongsor. Oleh karena itu diperlukan pemetaan tingkat kerawanan dan kerentanan serta penilaian indeks kesiapsiagaan masyarakat. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan tingkat kerawanan, menentukan tingkat kerentanan, menilai indeks kesiapsiagaan masyarakat dan menganalisis hubungan tingkat kerawanan dengan nilai indeks kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana tanah longsor.  ABSTRACT Bantarkawung is one of the sub distict in Brebes regency which has many landslide occurences. Therefore, it is necessary to map susceptibility and vulnerability and to value community preparedness index. The aims of this research were to determine landslide susceptibility, determine vulnerability of element at risk (people and settlement) based on susceptibility zone toward landslide disaster, valuate community preparedness index, and analize relationship between susceptibility and community preparedness index toward landslide disaster. 
Kajian Luas Hutan Kota Berdasarkan Kebutuhan Oksigen, Karbon Tersimpan, dan Kebutuhan Air di Kota Yogyakarta Aprianto, Muchammad Chusnan; Sudibyakto, Sudibyakto; Fandeli, Chafid
Majalah Geografi Indonesia Vol 24, No 2 (2010): September 2010
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK KotaYogyakartaadalahkotayangberkembang.Perkembangankotaini sejalandenganjumlahpenduduk.Semakinbertambahjumlahpenduduk  maka akan semakin meningkat ke­­­butuhan mereka. Untuk memenuhi kebutuhan pendu­duk,makadibuatfasilitassepertiken­­daraanbermotor,jalandangedung. Fasi­litas ini akhirnya menggeser ruang terbuka hijau perkotaan. Akibatnya me­ning­­katkankonsumsioksigen,produksikarbondanber­ku­rangnyaareaserapan airhujan.Salahsatucarauntukmengatasimasalahiniadalahdenganmenjagadan meningkatkanruangterbukahijauyangberupahutankota. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsumsi dan produksi kebu­tuhanoksigen,karbon,dankebutuhanairsertamemberikanrekomendasiluas hutankotayangharusditambahkanuntukmemenuhikebutuhanoksigen,karbon ter­simpan, dan kebutuhan air. Selain itu, penelitian ini bertujuan untuk menentukandis­tribusihutankotadanjenispohonyangharusditambahkanpada tingkatkeca­matan,menentukankesesuaianluashutankotaberdasarkanUndang- UndangNo­mor26Tahun2007dengankebutuhanoksigen,karbonter­simpandan kebutuhanairdanmemperkirakankebutuhanluashutankotapadatahun2010.KotaYogyakartadipilihsebagailokasipenelitian.Sampeldiambilsecara purposif. Variabelyangdiukurlangsungpadapenelitianadalahproduksioksigen pa­da daun dan biomassa pohon. Variabel yang tidak diukur langsung adalah kon­sumsioksigen, produksikarbon, kebutuhan air penduduk dan serapan air hu­tanko­ta.Analisadatapadaperhitunganluashutankotaberdasarkankebutuhan ok­si­gendankarbontersimpanmenggunakanMetodeGerarkis.Sedangkanuntuk kebutuhanairmenggunakanpersamaananalitik.KotaYogyakartamengalamikekuranganpasokanoksigen,areaserapan kar­bondanairdarihutankota.Hutankotaperluditingkatkanmenjadi22%dari luaswilayahuntukme­me­nuhiketigakebutuhanini.Terdapat7kecamatanyang perlu ditambahkan luas hutan ko­tanya yaitu Danurejan, Gedongtengen, Gond­oma­nan, Jetis, Kraton, Ngampilan, dan Pakua­laman dengan  jenis  pohon yangditanamadalah akasia,beringin,danbungur.ABSTRACT Yogyakarta is a growing city. Urban development is in line with the population. The increasing number of people will increase their needs. To meet the needs of the population, then made facilities such as vehicles, roads and buildings. This facility is finally shifting the urban green open space. As a result, increases oxygen consumption, carbon production and reduced water absorption area of rain. One way to overcome this problem is to maintain and increase green open space in the form of urban forest. This study aimed to determine the consumption and production needs oxygen, carbon, and water requirements and provide recommendations urban forest area which must be added to meet the needs of oxygen, carbon stored, and water needs. In addition, this study aims to determine the distribution of urban forest and tree species should be added to the district level, determine the suitability of forest area of the city is based on Law Number 26 Year 2007 needs oxygen, carbon stored and the need for water and estimating the needs of the city in the forest area Yogyakarta 2010.Kota year chosen as the study site. Samples taken purposif.Variabel measured directly in the research is the production of oxygen at the leaves and tree biomass. The variables are not measured directly is oxygen consumption, carbon production, the water needs of the population and water uptake urban forest. Analysis of data on the urban forest area calculation based on the need of oxygen and carbon stored using methods Gerarkis. As for the water needs using equation analitik.Kota Yogyakarta deficient supply of oxygen, carbon and water absorption area of the urban forest. Urban forest needs to be increased to 22% of the area for the third meet this need. There are seven districts that need to be added to its forest area is Danurejan, Gedongtengen, Gondomanan, Jetis, Kraton, Ngampilan, and Pakualaman with the type of trees planted are acacia, banyan, and bungur. KotaYogyakartaadalahkotayangberkembang.Perkembangankotaini sejalandenganjumlahpenduduk.Semakinbertambahjumlahpenduduk  maka akan semakin meningkat ke­­­butuhan mereka. Untuk memenuhi kebutuhan pendu­duk,makadibuatfasilitassepertiken­­daraanbe<span style="letter-spacing:
Analisis Risiko Tanah Longsor Desa Tieng Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo Astuti, Elna Multi; Widyatmoko, Djarot Sadharto; Sudibyakto, Sudibyakto
Majalah Geografi Indonesia Vol 25, No 2 (2011): September 2011
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Desa Tieng Kecamatan Kejajar secara umum memiliki kondisi topografi yang dapat menjadi faktor penyebab terjadinya tanah longsor seiring dengan perkembangan perkembangan aktivitas manusia. Untuk mengantisipasi dan mencegah terjadinya bencana alam tanah tanah longsor, maka perlu disediakan peta risiko tanah tanah longsor di Desa Tieng yang merupakan perpaduan antara peta bahaya dan peta kerentanan sebagai bahan pertimbangan yang penting dalam pencegahan dan penanggulangan tanah longsor. Penyusunan peta bahaya, kerentanan, dan risiko tanah longsor menggunakan ArcGIS dan ILWIS dengan menggunakan parameter hujan, lereng lahan, geologi, keberadaan sesar, kedalaman tanah, penggunaan lahan, infrastruktur, kepadatan pemukiman. Skoring dan pemberatan digunakan dalam penentuan peta bahaya dan  kerentanan. Metode pengambilan sampel dalam penelitian menggunakan metode pengambilan sampel acak berstrata dengan berdasarkan zona bahaya tanah longsor di lokasi penelitian.  Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa zona tingkat bahaya tanah longsor terbagi menjadi 3 zona yaitu zona bahaya tinggi, sedang, dan rendah. Wilayah pemukiman berada pada zona bahaya tinggi dan sedang. Tingkat kerentanan total merupakan fungsi dari tingkat kerentanan fisik, sosial, dan ekonomi. Tingkat kerentanan fisik menggunakan faktor persentase kawasan terbangun, kepadatan bangunan, dan jenis material banguan. Tingkat kerentanan sosial menggunakan faktor kepadatan penduduk, persentase penduduk usia tua-balita, dan penduduk wanita. Tingkat kerentanan ekonomi menggunakan faktor persentase rumah tangga yang bekerja di sektor rentan, dan persentase rumah tangga miskin. Masyarakat Desa Tieng membuat sistem terassering untuk berkebun dan membuat bangunan penahan dari batu untuk mengurangi bahaya tanah longsor.  Kesimpulan penelitian ini Desa Tieng berada pada risiko tanah longsor sedang dan tinggi. Penduduk yang berada pada zona risiko tinggi sebaiknya direlokasi terutama penduduk yang terletak berdekatan dengan tebing.  ABSTRACT Tieng District Kejajar village generally has a topography which can be the causes of the landslides along with the development of human activity. To anticipate and prevent the occurrence of natural disasters landslides land, it is necessary to provide a map of landslide risk land in the village of Tieng which is a combination of hazard maps and vulnerability map as an important consideration in the prevention and mitigation of landslides. Preparation of hazard maps, vulnerability, and risk of landslides using ArcGIS and ILWIS using the parameters of rain, land slope, geology, the presence of faults, depths of soil, land use, infrastructure, residential density. Scoring and weighting are used in the determination of hazard and vulnerability maps. The sampling method in research using stratified random sampling method with a landslide hazard zones based on the location of the research. The results showed that the degree of landslide hazard zone is divided into three zones, namely the danger zone of high, medium, and low. Residential areas are in the danger zone of high and medium. Total vulnerability level is a function of the level of vulnerability of physical, social, and economic. The level of physical vulnerability using a percentage factor woke region, building density, and type of material banguan. The level of social vulnerability using a factor of population density, percentage of population age-old toddler, and the female population. The level of economic vulnerability using factors the percentage of households who work in vulnerable sectors, and the percentage of poor households. Tieng Village Community makes terassering system for gardening and create a barrier of stone buildings to reduce the danger of landslides. The conclusion of this study Tieng village are at risk of landslides medium and high. Residents who are at high risk zones should be relocated mainly residents located adjacent to the cliffs.
Dampak Perubahan Penggunaan Lahan terhadap Perubahan Runoff di Daerah Aliran Sungai (DAS) Bedog Yogyakarta Yudha, Sanggara; Sudibyakto, Sudibyakto; Dibyosaputro, Suprapto
Majalah Geografi Indonesia Vol 27, No 2 (2013): September 2013
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK DAS Bedog merupakan salah satu DAS di Yogyakarta yang daerah aliran sungainya mengalami proses pengembangan wilayah perkotaan. Proses perkembangan wilayah perkotaan di DAS Bedog ini terjadi dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Parameter dari adanya proses pengembangan wilayah perkotaan di DAS Bedog adalah terjadinya peningkatan peningkatan tipe penggunaan lahan “permukiman”, yang semula sebesar 15,29% di tahun 2004 menjadi 16,94% tahun 2008 dan 17,72% pada tahun 2010 atau meningkat sebesar 0,4% per tahun.Tujuan utama dari penelitian ini adalah menganalisis dampak perubahan penggunaan lahan terhadap perubahan runoff dan merumuskan simulasi/skenario penggunaan lahan dalam menurunkan runoff di DAS Bedog menggunakan metode Curve Number-USSCS (CN-USSCS). Berdasarkan perhitungan metode CN-USSCS pada tahun 2004, 2008 dan 2010, akibat dampak dari perubahan penggunaan lahan menghasilkan ketebalan runoff sebesar 1.353,0 mm (66% dari jumlah hujan/tahun), 1.277,2 mm (55,5% dari jumlah hujan/tahun), dan 1.536,4 mm (57,6% dari jumlah hujan/tahun). Penggunaan lahan “permukiman” dan “lahan kosong” berkontribusi terbesar dalam peningkatan ketebalan runoff di DAS Bedog, dikarenakan memiliki nilai CN yang tinggi dan berarea luas.Validasi terhadap metode CN-USSCS menggunakan uji statistik, T-test dihasilkan nilai T-test sebesar 0,00 dan 0,092 dibawah nilai T-tabel sebesar 1,67 dan 1,71 serta nilai koefisien determinasi (R2) diatas 0,5 yang berarti metode CN-USSCS dapat diterapkan di DAS Bedog untuk memprediksi ketebalan runoff.Hasil rumusan skenario perubahan penggunaan lahan di DAS Bedog bahwa perubahan penggunaan lahan untuk 6 tahun ke depan (tahun 2016) mengalami perubahan ketebalan runoff sebesar 4% dari tahun 2010 (skenario 1). Penurunan ketebalan runoff di DAS Bedog dapat dilakukan dengan peningkatan luasan hutan berupa kebun campuran dan tumbuhan perdu (semak belukar) di daerah Bantul sebesar > 50% dari luas DAS Bedog (skenario 4). ABSTRACT Bedog watershed is one of the watersheds in the area of Yogyakarta through the process of urban development. The process of urban development in the Bedog watershed this happened in the past 10 years. The parameters of the process of urban development in the Bedog watershed is the increase in land use "settlement" from 15,29% (2004) to  16,94% (2008) and 17,72% in 2010 or an increase of 0.4% per year.The main objective of this research is is to analyze the impact of land use change on runoff and formulate of the simulation / scenarios of land use in reducing runoff in the Bedog watershed using the Curve Number -USSCS (CN-USSCS). Based on the calculation of CN-USSCS in 2004, 2008 and 2010, due to the impact of changes in land use resulted runoff of 1353.0 mm (66% of the amount of rain / year), 1277.2 mm (55.5% of the amount of rain / year), and 1536, 4 mm (57.6% of the amount of rain / year). Settlement and Bareland contributed to the greatest increase in runoff in the Bedog watershed, due to having a high value of CN and has a large area.Validation of the methods of CN-USSCS using statistical test, T-test produced values of 0.00 and 0.092 below the T-table values of 1.67 and 1.71, and the coefficient of determination (R2) above 0.5, which means CN-USSCS method can be applied in the Bedog watershed to predict the runoff.The results of the formulation of land use change scenarios in Bedog watershed that the change in land use for the next 6 years ( 2016) to change the runoff by 4% from the 2010 (scenario 1). Decrease runoff in the Bedog watershed to do with the increase in forest area in the form of mixed garden and herba plants (shrubs) in Bantul for >50% of the total Bedog watershed (scenario 4).
KEMAMPUAN SALURAN TERMAL CITRA LANDSAT 7 ETM+ DAN CITRA ASTER DALAM MEMETAKAN POLA SUHU PERMUKAAN DI KOTA DENPASAR DAN SEKITARNYA Wisnawa, I Gede Yudi; Sutanto, Sutanto; Sudibyakto, Sudibyakto
Majalah Geografi Indonesia Vol 22, No 1 (2008): Maret 2008
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research was carried out in some parts of Bali Province, including Denpasar city and the surrounding regencies. The purposes of this research are: 1) to determine the pattern of surface temperature in Denpasar city; 2) to determine the accuracy level of the thermal channels in the Landsat 7 ETM+ and ASTER images for mapping the pattern of surface temperature in Denpasar city; 3) as well as to determine the relationship between the surface temperatures with building and with vegetation coverages. The method applied in this research are density slicing analysis, the 3rd ordo polynomial regression analysis, the root mean square different (rmsD), and the product moment correlations. The image enhancement techniques which are used in this research include thermal data calibrations, urban index transformation, and vegetation index transformation. The results of this study shows that the pattern of urban surface temperature spreads spatially and does not occur exclusively only in the city center but also in its surrounding areas; found in settlements with the density ranging from compact to more compact; also found in dry land with vegetation density ranging from sparse to sparser. Starting the value of rms difference can be used as the standard measurement in assesment of the surface temperature extraction accuracy. The 6.1st channel of Landsat 7 ETM+ image is the best which shows the rms difference of 4.95, followed by the 13rd channel of ASTER image with the rms difference of 5.73. The value of highly positive correlation between building density index with surface temperature is 0.73. It means that each increased of building density index value will be followed by increasing of surface temperature value. The value of highly negative correlation also happened between vegetation density index (vegetation coverage) with the surface temperature is -0.53. It means that each increased of vegetation index value will be followed by decreasing of surface temperature value.
KAJIAN PEMANFAATAN DAN KELAYAKAN KUALITAS AIRTANAH UNTUK KEBUTUHAN DOMESTIK DAN INDUSTRI KECIL-MENENGAH DI KECAMATAN LAWEYAN KOTA SURAKARTA JAWA TENGAH Indrawan, Taufik; Gunawan, Totok; Sudibyakto, Sudibyakto
Majalah Geografi Indonesia Vol 26, No 1 (2012): Maret 2012
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Kecamatan Laweyan merupakan salah satu daerah di Kota Surakarta yang merupakan daerah perkotaan dengan kepadatan penduduk 11.271 jiwa/km2. Di Kecamatan Laweyan banyak terdapat industri kecil-menengah khususnya industri batik yang notabene membutuhkan airtanah dalam jumlah besat dalam proses produksinya disamping juga banyak industri lain yang beragam jenisnya. Berdasarkan kenyataan tersebut peneliti tertarik melakukan penelitian tentang pemanfaatan airtanah untuk kebutuhan domestik dan industri kecil-menengah dan kualitas airtanah yang digunakan untuk pemenuhan kebutuhan domestik di Kecamatan Laweyan Kota Surakarta. Tujuan penelitian ini adalah 1) Mengkaji pemanfaatan airtanah untuk kebutuhan domestik dan industri kecil-menengah di wilayah Kecamatan Laweyan Kota Surakarta. 2) Menganalisis kualitas airtanah untuk kebutuhan domestik di Kecamatan Laweyan Kota Surakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kebutuhan airtanah untuk keperluan domestik di Kecamatan Laweyan Kota Surakarta adalah 183 lt/kapita/hari dan pemanfaatan airtanah  untuk keperluan domestik di Kecamatan Laweyan Kota Surakarta dalam satu tahun adalah sebesar 7.353.795,53 m3. Sedangkan pemanfaatan airtanah untuk keperluan industri kecil-menengah di Kecamatan Laweyan Kota Surakarta pada tahun 2010 adalah sebesar 910.173,50 m3. Berdasarkan hasil uji laboratorium diketahui bahwa dari parameter fisika yang diuji menunjukkan kadar TDS sebesar 213-368 mg/l. Dari parameter kimia yang diuji menunjukkan pH sebesar 8,2-8,6, kadar Fe < 0,193 mg/l, kadar amonia sebesar 0,0257-0,0569, kadar phenol sebesar 0,0215-0,0254, kadar Cr total < 0,0157, dan dari parameter biologi diketahui kandungan bakteri total coliform sebesar > 1600 MPN / 100 ml. Berdasarkan penelitian ini disimpulkan bahwa airtanah di Kecamatan Laweyen tidak memenuhi standar baku mutu yang telah ditetapkan.  ABSTRACT Sub Laweyan is one area in the city of Surakarta, which is urban areas with a population density of 11,271 people/km2. In Sub Laweyan there are many small-medium scale industries, especially the batik industry which incidentally require groundwater in the number besat in their production processes as well as many other industries that various kinds. Based on the fact that researchers interested in conducting research on the use of groundwater for domestic and small-medium scale industries and the quality of groundwater used for domestic needs in the District Laweyan Surakarta. The purpose of this research are 1) studying the use of groundwater for domestic and small-medium scale industries in the District Laweyan Surakarta. 2) analyze the quality of groundwater for domestic needs in the District Laweyan Surakarta. The results showed that the need for groundwater for domestic purposes in the District Laweyan Surakarta is 183 liter / capita / day and the use of groundwater for domestic purposes in the District Laweyan Surakarta in one year amounted to 7,353,795.53 m3. While the use of groundwater for small-medium scale industries in the District Laweyan Surakarta in 2010 amounted to 910,173.50 m3. Based on laboratory test results is known that the physical parameters that were tested showed levels of TDS of 213-368 mg / l. From the chemical parameters tested showed a pH of 8.2 to 8.6, Fe content <0.193 mg / l, ammonia content of 0.0257 to 0.0569, 0.0215 to 0.0254 for phenol content, total Cr levels < 0.0157, and the biological parameters known to contain total coliform bacteria amounted to> 1600 MPN / 100 ml. Based on this study concluded that the groundwater in the District Laweyen not meet quality standards that have been determined. 
ANALISIS CURAH HUJAN UNTUK ANTISIPASI KEKERINGAN DAN MITIGASINYA DI DAERAH ALIRAN SUNGAI PROGO Sudibyakto, Sudibyakto; Suyono, Suyono; Kirono, Dewi Galuh
Majalah Geografi Indonesia Vol 16, No 2 (2002): September 2002
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Daerah Aliran Sungai (DAS) Progo dapat Magi ke dalam beberapa Sub DAS yaitu Sub DAS Progo Hulu, Sub DAS Tangsi, Sub DAS Elo, Sub DAS Blongkeng, dan Sub DAS Progo Hilir. Wilayah DAS Progo cukup bervariasi dalam hal topografi, unit geologi dan geomorfologi, hidrologi, jenis tanah, tipe vegetasi, dan tipe curah hujan (iklim), sehingga karakteristik fisik tersebut diharapkan berpengaruh terhadap keragaman nilai indeks kekeringan (drought index). Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari karakteristik hujan, khususnya curah hujan rata-rata bulanan, sebagai dasar untuk menganalisis keadaan neraca air. Untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan analisis terhadap nilai evapotranspirasi, dan perkiraan nilai kapasitas tanah menahan air (water holding capasity). Hasil dari analisis neraca air dapat diperoleh nilai kekurangan lengas (moisture deficit) dalam tanah, sehingga dapat ditentukan nilai indeks kekeringan dengan cara Thornthwaite, dan dirumuskan pula berbagal upaya mitigasinya. Hasil pernelitian menunjukkan bahwa secara umum makin tinggi elevasi suatu tempest, hujan yang jatuh di wilayah tersebut semakin tinggi dengan intensitas hujan yang tinggi pula. Hubungan tersebut selanjutnya menentukan tipe iklim di daerah penelitian. Tipe iklim A menurut klasifikasi Schmidt-Ferguson meliputi sebagian besar wilayah pegunungan dengan ketinggian di atas 500 meter, tipe B umumnya antara 250-500 meter, dan tipe C umumnya kurang dari 250 meter. Hasil analisis neraca air bulanan dengan metode Thornthwaite-Mather menunjukkan bahwa defisit air mulai terjadi bulan Mei hingga Oktober dengan puncak defisit air antara Agustus dan September. Perkembangan spasial tingkat kekeringan terutama dimulai dari bagian hilir meliputi daerah Kenteng, Sentolo dan rneluas ke bagian tengah meliputi daerah Mendut dan Salaman dengan defisit air mencapai antara 50-70 mm per bulan. Kecenderungan perubahan indeks kekeringan sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor yang menentukan kapasitas tanah menahan air, yailu faktor tekstur tanah, kedalaman zone pekarangan, dan nilai evapotranspirasi. Faktor iklim tidak selalu berpengaruh nyata terhadap perubahan nilai (indeks) kekeringan, sehingga diduga faktor jenis tanah dan tipe penggunaan lahan yang lebih berpengaruh terhadap indeks kekeringan. Upaya mitigasi yang perlu dilakukan untuk mengatasi kekeringan antara lain penghijauan, konservasi tanah dan air antara lain berupa teras pada lereng yang terjal, pembuatan sumur resapan, dan pembuatan waduk-waduk kecil, bagi tempat-tempat yang memungkinkan.