Ujang Subhan
Sfat Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu kelautan Universitas Padjadjaran

Published : 17 Documents
Articles

Found 10 Documents
Search
Journal : Jurnal Perikanan Kelautan

Pengaruh Penambahan Tepung Hipofisa Sapi Dalam Pakan Buatan Terhadap Pertumbuhan Ikan Tambakan (Helostoma temminckii)

Jurnal Perikanan Kelautan Vol 3, No 4 (2012)
Publisher : Jurnal Perikanan Kelautan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (56.974 KB)

Abstract

            Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tepung hipofisa sapi terhadap laju pertumbuhan benih ikan tambakan. Penelitian ini dilakukan selama 40 hari yaitu pada bulan Mei sampai Juni 2012, lokasi penelitian dilaksanakan di hatchery Balai Pelestarian Perikanan Perairan Umum (BPPPU) Cianjur. Dinas Perikanan dan Kelautan, Jawa Barat. Penelitian ini dilakukan secara eksperimental dengan menggunakan rancangan acak lengkap, yang terdiri dari lima perlakuan dan tiga kali ulangan. Kelima perlakuan tersebut adalah penggunaan tepung hipofisa dengan dosis 0,05%, 0,10%, 0,15%, 0,20% dari total pakan yang diberikan dan tanpa penambahan tepung hipofisa sebagai kontrol. Parameter yang diamati adalah laju pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian tepung hipofisa sapi sebesar 0,15 % menghasilkan laju pertumbuhan ikan tambakan tertinggi yaitu sebesar 2,03 %, dan kelangsungan hidup 86,67%. 

EFEKTIVITAS TEPUNG HIPOTALAMUS SAPI DALAM PAKAN BUATAN TERHADAP PERTUMBUHAN BENIH IKAN TAMBAKAN (Helostoma temminckii)

Jurnal Perikanan Kelautan Vol 3, No 4 (2012)
Publisher : Jurnal Perikanan Kelautan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (51.807 KB)

Abstract

            Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas tepung hipotalamus sapi terhadap laju pertumbuhan benih ikan tambakan. Metoda penelitian adalah eksperimental dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan lima perlakuan dan tiga ulangan. Kelima perlakuan tersebut adalah penggunaan tepung hipotalamus sapi 0% atau tanpa penambahan tepung hipotalamus sapi sebagai kontrol, penggunaan tepung hipotalamus sapi dengan dosis 0,05%, 0,10%, 0,15% dan 0,20% dari total pakan yang diberikan. Parameter yang diamati adalah laju pertumbuhan, tingkat kelangsungan hidup dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian tepung hipotalamus sapi dengan dosis yang berbeda meningkatkan laju pertumbuhan ikan tambakan. Pemberian tepung hipotalamus sebesar 0,10% memberikan laju pertumbuhan lebih tinggi dibanding perlakuan lainnya dengan rata-rata 2,32% perhari.

PEMBERIAN PROBIOTIK DENGAN CARRIER ZEOLIT PADA PEMBESARAN IKAN LELE DUMBO (Clarias gariepinus)

Jurnal Perikanan Kelautan Vol 3, No 4 (2012)
Publisher : Jurnal Perikanan Kelautan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (62.552 KB)

Abstract

Penelitian tentang pemberian probiotik dengan carrier zeolit  pada pembesaran ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) telah dilaksanakan pada bulan Juli-September 2012 di Laboratorium Pembenihan Ikan dan Kolam Percobaan Ciparanje Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran, Jatinangor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari penambah probiotik dengan carrier zeolit terhadap kodisi kualitas air dan tingkat kelangsungan hidup benih ikan lele dumbo (Clarias gariepinus). Benih yang digunakan adalah benih ikan lele dumbo dengan ukuran 7-9 cm dan berat 8,13 gram/ekor. Benih ikan lele dumbo berasal dari kolam percobaan Ciparanje, Jatinangor-Sumedang. Wadah pembesaran berupa kolam beton ukuran 2x1x0,5 meter, dan setiap kolam diisi dengan 600 L air tawar. Perlakuan yang dilakukan adalah pemberian probiotik dengan carrier zeolit dengan jumlah yang berbeda yaitu dosis 2,5 mg/L; 5 mg/L; 7,5 mg/L; serta ditambah dengan satu perlakuan kontrol. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan masing-masing perlakuan di ulang sebanyak 4 kali ulangan. Pemberian probiotik dengan carrier zeolit sebanyak 5mg/L dapat menekan konsentarsi amonia (0,17-0,22 ppm) dan dapat meningkatkan laju pertumbuhan serta kelangsungan hidup ikan lele yang tinggi yaitu 82% dan 85%.

PENGARUH EKSTRAK TEPUNG TESTIS SAPI DENGAN KONSENTRASI YANG BERBEDA TERHADAP KEBERHASILAN MASKULINISASI IKAN NILA MERAH (Oreochromis sp.)

Jurnal Perikanan Kelautan Vol 3, No 4 (2012)
Publisher : Jurnal Perikanan Kelautan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (78.992 KB)

Abstract

Penelitian penggunaan Ekstrak Tepung Testis Sapi (ETTS) pada proses maskulinisasi ikan nila merah (Oreochromis sp.), telah dilakukan pada bulan Maret – Mei 2012, yang bertempat di Hatchery FPIK UNPAD. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas Ekstrak Tepung Testis Sapi terhadap keberhasilan maskulinisasi larva ikan nila merah. Pada penelitian ini ETTS diberikan dengan cara perendaman terhadap larva ikan nila merah yang berumur 4 hari (fase diferensiasi sex) selama 8 jam. Konsentrasi ETTS yang digunakan yaitu perbandingan volume antara  ETTS dan Air. Perlakuan yang diberikan yaitu 0 ml/L, 1,5 ml/L, 3 ml/L, 4,5 ml/L dan 6 ml/L. Perendaman larva dilakukan pada stoples volume 5 liter dengan kepadatan 10 ekor/liter. Larva yang telah direndam ETTS dipelihara pada wadah akuarium  berukuran 40 x 30 x 30 cm3 dengan kepadatan awal 1ekor/liter, kemudian setelah 15 hari umur pemeliharaan larva kepadatan menjadi 2 ekor/liter. Hasil pengamatan menunjukan larva ikan nila merah berumur 4 hari dengan ekstrak tepung testis sapi (ETTS) sebanyak 3 ml/L menghasilkan ikan nila merah berkelamin jantan sebesar 69,07%.

EMBRIOGENESIS DAN KARAKTERISTIK LARVA PERSILANGAN IKAN PATIN SIAM (Pangasius hypophthalmus) JANTAN DENGAN IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus) BETINA

Jurnal Perikanan Kelautan Vol 8, No 2 (2017): Jurnal Perikanan dan Kelautan
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (485.181 KB)

Abstract

Penelitian dilaksanakan di kolam percobaan Ciparanje dan Laboratorium Akuakultur Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran, mulai dari bulan Desember 2016 hingga Februari 2017. Penelitian bertujuan untuk mengetahui perkembangan embriogenesis dan karakteristik perkembangan larva persilangan ikan patin siam jantan dengan ikan baung betina. Metode yang digunakan pada penelitian yaitu eksperimetal dengan analisis deskriptif kuantitatif yaitu dengan menganalisis tingkat keberhasilan hibridisasi. Derajat pembuahan pada ikan patin siam, ikan hibrid dan juga ikan baung masing-masing 92,57%, 91,47% dan 46,20%. Proses embriogenesis sampai dengan penetasan larva pada ikan patin siam lebih cepat dibandingkan dengan ikan hibrid dan juga ikan baung yaitu dengan waktu berturut turut yaitu 19 jam 40 menit, 21 jam 10 menit, dan 23 jam 30 menit. Derajat penetasan telur pada ikan patin, ikan hibrid dan juga ikan baung masing-masing 86,12%, 80,93% dan 56,16%. Derajat kelulushidupan ikan patin siam, ikan hibrid, dan juga ikan baung masing-masing 76,30%, 24,69% dan 51,61%. Karakteristik morfologi larva hibrid meliputi bentuk kepala, bentuk tubuh, bentuk sirip ekor dan sirip adipose cenderung intermediate yang merupakan perpaduan dari kedua indukan, sedangkan bentuk sirip anal, sirip dada, sirip punggung lebih mengarah kepada ikan baung. Abnormalitas pada larva ikan hibrid terjadi pada bagian tubuh dengan persentase larva yang abnormal sebesar 34,75%.

Deteksi Keragaman Genotip Hibrid Ikan Lele Sangkuriang, Mutiara Transgenik dan Mutiara Non Transgenik pada Keturunan Pertama

Jurnal Perikanan Kelautan Vol 7, No 2 (2016): Jurnal Perikanan dan Kelautan
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (418.291 KB)

Abstract

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendeteksi keragaman genotip dari lele sangkuriang, mutiara transgenik, mutiara non transgenik dan hibridnya dengan marka RAPD (Random Amplified Polymorphic DNA) menggunakan 6 macam primer (OPA-03 OPA-07, OPA-09, OPA-11, OPA-16 dan OPA-06). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental secara eksploratif dengan analisis deskriptif kualitatif. Hasil amplifikasi menunjukkan primer OPA-03 (5’-AGTCAGCCAC-3’) merupakan primer terbaik yang memvisualisasikan fragmen (polimorfik dan monomorfik) pada seluruh sampel. Isolasi DNA genom ikan uji menggunakan Wizard® Genomic DNA Purification Kit (Promega). Hubungan kekerabatan dari ikan uji ditunjukkan dalam bentuk fenogram menggunakan program NTSYSpc. Hasil analisis dari fenogram OPA-03 menunjukkan keturunan pertama hasil persilangan lele jantan mutiara transgenik dan betina sangkuriang memiliki keragaman genotip dibanding persilangan lainnya.  Keturunan pertama dari hasil persilangan induk dari strain yang sama (sangkuriang dan sangkuriang) memiliki kekerabatan sebesar 70% (keragaman genotip 30 %), hasil persilangan antara mutiara non transgenik dengan sangkuriang memiliki kesamaan genetik 79%. Indeks kesamaan genetik tertinggi (82%) diperoleh dari keturunan pertama hasil persilangan mutiara transgenik dengan sangkuriang.

Analisis Kekerabatan Genetik Hibrid Ikan Nilem (Osteochilus hasselti) dan Ikan Mas (Cyprinus carprio L) Mengunakan PCR-RAPD

Jurnal Perikanan Kelautan Vol 8, No 1 (2017): Jurnal Perikanan dan Kelautan Unpad
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (294.89 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis kekerabatan generasi kedua hasil persilangan ikan mas (Cyprinus carprio) dan hibrid ikan nilem (Osteochilus hasselti) terhadap induknya dengan metode PCR-RAPD (Random Amplified Polymorphic DNA – Polymerase Chain Reaction) menggunakan Primer jenis Operon, OPA-3 dan OPA-11. Metode penelitian dilakukasn secara ekploratif dan  dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil dari penggunaan primer OPA-11 memunculkan pita lebih banyak jika dibandingkan dengan OPA-3. indeks kekerabatan generasi keduanya sangat beragam, hasil persilangan hibrid ikan nilem jantan dengan ikan mas betina sebesar 70,5% mengarah kepada ikan mas. Hasil persilangan hibrid ikan nilem jantan dengan ikan nilem betina  memilki nilai kekerabatan sebesar 26% mengarah kepada hibrid ikan nilem. Fenotip yang dimunculkan dari generasi kedua ini mengarah pada indukan betina  seperti persilangan hibrid ikan nilem jantan dengan ikan mas betina lebih menyerupai ikan mas dibandingkan ikan nilem. Sedangkan Hasil persilangan hibrid ikan nilem jantan dengan ikan nilem betina menyerupai ikan nilem.

Keragaan Produksi Dan Evaluasi Usaha Pembesaran Ikan Mas (Cyprinus carpio) Pada Sistem Kolam Air Deras (Studi Kasus Di Kecamatan Cijambe Kabupaten Subang)

Jurnal Perikanan Kelautan Vol 7, No 1 (2016): Jurnal Perikanan dan Kelautan
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (489.048 KB)

Abstract

Penelitian ini dilakukan pada Januari 2015 sampai dengan Oktober 2015 di Kecamatan Cijambe, Kabupaten Subang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keragaan produksi, produktivitas, dan kinerja finansisal usaha pembesaran ikan mas pada sistem kolam air deras di Kecamatan Cijambe. Metode penelitian yang digunakan adalah metode studi kasus dengan unit analisis yaitu pembudidaya pembesaran ikan mas di Kecamatan Cijambe. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuisioner dari sampel yang dipilih secara sengaja. Data yang diperoleh dari hasil penelitian ini dianalisis dengan menggunakan metode analisis deskriftif kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukan perhitungan analisis finansial usaha budidaya pembesaran ikan mas sistem kolam air deras di Kecamatan Cijambe Kabupaten Subang memiliki rata-rata keuntungan sebesar Rp.60.913.860 per musim pemeliharaan. Nilai imbangan penerimaan dan biaya sebesar 1,32, nilai Payback Periods (PP) sebesar 0,52 tahun atau jika dihitung jangka waktu pengembalian biaya investasinya adalah selama 6 bulan, Break Event Point (BEP) harga bernilai Rp.15.228, dan nilai BEP produksi sebesar 10.303 kg. Hasil dari perhitungan analisis produktivitas per satuan luas yaitu memiliki nilai rata-rata sebesar 204,22 Kg/th/m2, dan rata-rata produktivitas per satuan pakan memiliki nilai rata-rata sebesar 0,77 Kg/th/Kg.

Efektivitas Berbagai Media Tanam Untuk Mengurangi Karbon Organik Total Pada Sistem Akuaponik dengan Tanaman Selada

Jurnal Perikanan Kelautan Vol 9, No 1 (2018): Jurnal Perikanan Dan Kelautan Vol. IX No. 1 /Juni 2018
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (457.839 KB)

Abstract

Akuaponik adalah konsep pengembangan bio-integrated farming system, yaitu suatu rangkaian teknologi yang memadukan antara teknik budidaya perikanan dan teknik pertanian hidroponik. Air dari proses budidaya ikan yang masuk ke dalam wadah pemeliharaan tanaman akan digunakan kembali sebagai sumber air pada proses budidaya ikan. Air tersebut mengandung banyak bahan organik sehingga perlu diperhatikan dalam pengelolaan kualitas air budidaya. Karbon merupakan penyusun utama bahan organik. Bahan organik tersebut dapat diukur menggunakan pendekatan uji karbon organik total. Penelitian ini dilakukan di Greenhouse, Komplek Kolam Percobaan Ciparanje, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran, Jatinangor selama empat minggu. Percobaan dilakukan untuk menetapkan efisiensi media tanam terbaik dalam menurunkan konsentrasi karbon organik total di media air budidaya dan membuat pertumbuhan tanaman selada lebih baik. Metode yang digunakan yaitu metode eksperimental dengan Rancangan Acak Kelompok yang terdiri dari empat perlakuan dan empat kelompok. Media tanam yang diuji adalah batu apung dan arang sekam dengan perbandingan 3:1, batu apung dan arang sekam dengan perbandingan 1:3, seluruhnya batu apung, serta seluruhnya arang sekam. Pengamatan dilakukan pada minggu ke-0, 1, 2, 3 dan 4 selama empat minggu. Parameter yang diamati meliputi konsentrasi karbon organik total, amonia total, oksigen terlarut, pH, suhu, tinggi tanaman dan bobotnya, serta panjang ikan dan bobotnya. Hasil penelitian disimpulkan bahwa media tanam seluruhnya arang sekam memberikan hasil penurunan karbon organik total yang lebih baik dibandingkan seluruhnya batu apung hingga minggu kedua penelitian dan media tanam ini perlu diganti setiap dua atau tiga minggu sekali sejak penyemaian untuk mendapatkan produktivitas tanaman yang tinggi. Media tanam seluruhnya arang sekam memberikan pertambahan tinggi dan bobot selada terbaik yaitu masing-masing sebesar 18,6 cm dan 115,2 gram.  

Efek Cekaman Salinitas Rendah Perairan Terhadap Kemampuan Adaptasi Udang Vaname (Litopenaeus vannamei)

Jurnal Perikanan Kelautan Vol 9, No 2 (2018): Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol. IX No. 2 /Desember 2018
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (318.439 KB)

Abstract

Udang vaname (Litopenaeus vannamei) merupakan spesies euryhaline yang hidup di wilayah pesisir maupun laut. Spesies ini mampu bertahan pada wilayah dengan ekspos curah hujan dan siklus evaporasi sepanjang tahun yang akan berpengaruh pada fluktuasi salinitas dan suhu perairan. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui dan mengkaji kemampuan adaptasi udang vaname (Litopenaeus vannamei) pada media air yang mendapatkan perlakuan (salinitas) yang berbeda. Penelitian dilakukan di Laboratorium Basah dan Kolam Percobaan Ciparanje Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Padjadjaran, menggunakan 6 (enam) perlakuan berbeda. Udang vaname ditebar dalam akuarium dengan padat tebar awal sebanyak 20 ekor/akuarium. Setiap akuarium kemudian diberikan perlakuan berupa kontrol (32 ppt) dan perbedaan penurunan kadar salinitas (2 ppt/hari; 4 ppt/hari; 6 ppt/hari; 9 ppt/hari; dan 18 ppt/hari). Hasil penelitian menunjukkan udang mampu beradaptasi terhadap perubahan salinitas bertahap hingga 0 ppt dengan perlakuan (2 ppt/hari; 4 ppt/hari; dan 6 ppt/hari), ditunjukkan melalui sintasan yang bertahan di angka 100%. Sementara untuk perlakuan penurunan salinitas yang signifikan (9 ppt/hari dan 18 ppt/hari), udang kurang mampu beradaptasi, ditunjukkan dengan sintasan masing-masing 65% dan 35%. Respon udang pasca adaptasi terhadap cekaman salinitas rendah ditunjukkan dengan tingkat sintasan dari yang tertinggi ke rendah berturut-turut ditunjukkan pada perlakuan penurunan salinitas 9 ppt/hari; 18 ppt/hari; 4 ppt/hari; dan 6 ppt/hari. Sintasan lapangan yang diperoleh pada musim kemarau dan hujan tidak jauh berbeda. Kisaran sintasan di musim kemarau berada pada nilai 74,55% - 90,11%. Sedangkan selama musim hujan, sintasan udang berkisar antara 83,59% - 91,8%.