Ujang Subhan
Sfat Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu kelautan Universitas Padjadjaran

Published : 33 Documents
Articles

Found 33 Documents
Search

THE EFFECTIVENESS OF HONEY SUPPLEMENTATION IN FEED FOR IMPROVING GOLDFISH FINGERLING CARASSIUS AURATUS IMMUNE SYSTEM AGAINST AEROMONAS HYDROPHILA BACTERIA ATTACK Rosidah, Rosidah; Subhan, Ujang; Mulyani, Yuniar; Dermawan, Rifai
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 1 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3658.789 KB) | DOI: 10.19027/jai.18.1.89-100

Abstract

ABSTRACT The attack of Aeromonas hydrophila bacteria can cause mortality in goldfish approximately 100%. The controlling of this bacterial attack can be done through increased fish immunity. Honey is one of the natural ingredients that increases body immune system. This study aimed to determine the effective dose of honey supplemented in feed to increase goldfish fingerling resistance for disease prevention. Fish used in this study were goldfish fingerlings with 3.5 g average weight. This study was done using experimental complete randomized design method with five treatments and three replications. Treatments given were honey supplementation in feed with 0 ml/kg (A) as control treatment, 150 ml/kg (B), 200 ml/kg (C), 250 ml/kg (D), and 300 ml/kg (E). The result showed that honey supplementation in feed was effective to improve goldfish fingerlings resistance against Aeromonas hydrophila bacterial attack. The supplementation of honey in feed with 200 ml/kg was the best treatment for inducing goldfish fingerlings against A. hydrophila. This was proven by the increased white blood cells (leucocytes) (27.84 ± 5.07%) followed with no apparent clinical symptoms after attacked by A.hydrophila, such as hemorrhage, necrosis, exophthalmia or dropsy, besides showing the highest survival rate with 73.33 ± 11.5%. Keywords : Aeromonas hydophila, goldfish, honey, leucocyte, resistance ABSTRAK Serangan bakteri Aeromonas hydrophila dapat menyebabkan kematian ikan mas koki hingga mencapai 100%. Penanggulangan serangan bakteri tersebut dapat dilakukan dengan meningkatkan ketahanan tubuh (imun) ikan.  Madu merupakan salah satu bahan alami yang dapat meningkatkan ketahanan tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan dosis efektif penambahan madu pada pakan untuk meningkatkan daya tahan tubuh benih ikan mas koki dalam upaya pencegahan penyakit aeromonasis. Benih yang digunakan adalah benih ikan mas koki berukuran 3.5 gram. Metode penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan lima perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan yang digunakan adalah penambahan madu pada pakan dengan dosis 0 mL/kg (A) sebagai kontrol, 150 mL/kg (B), 200 mL/kg (C), 250 mL/kg (D), 300 mL/kg (E). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan madu ke dalam pakan efektif dalam meningkatkan ketahanan tubuh ikan mas koki terhadap serangan Aeromonas hydrophila. Dosis 200 ml/kg pakan memberikan hasil terbaik dalam meningkatkan ketahanan tubuh ikan mas koki terhadap serangan A. hydrophila terlihat dari peningkatan jumlah sel darah putih terbesar (27.84 ± 5.07%), tidak nampak adanya gejala klinis ikan terserang A. hydrophila seperti hemoragi, necrosis, exophthalmia maupun dropsy dan menghasilkan kelangsungan hidup benih ikan mas koki tertinggi yaitu sebesar 73.33 ± 11.5%. Kata kunci: Aeromonas hydrophila, ketahanan tubuh, ikan mas koki, madu, sel darah putih. 
POTENSI GENETIK INDUK BELUT SAWAH (Monopterus albus) BERDASAR UJI POLIMORFISME MENGGUNAKAN MARKER RAPD (Random Amplified Polymorphic DNA) Buwono, Ibnu Dwi; Grandiosa, Roffi; Subhan, Ujang
Jurnal Akuatika Vol 2, No 2 (2011): Jurnal Akuatika
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Variasi genetik merupakan kunci untuk menentukan potensi genetik suatu spesies ikan dalam upaya seleksi induk. Uji polimorfisme berdasar marker RAPD (Random Amplified Polymorphic DNA) diaplikasikan untuk mendeteksi keragaman genetik belut sawah (Monopterus albus) asal Banjaran, Sumedang, Garut dan Tasikmalaya. Sebanyak 12 sampel diambil dan variasi genetik dianalisis menggunakan NTSYS-pc (Numerical Taxonomy System Programe). Belut sawah asal Tasikmalaya menunjukkan adanya variasi gen (3 variasi fragmen DNA) yang teramplifikasi primer S28 (5’-GTGACGTAGG-3’) dan hubungan kekerabatan relatif jauh (Similarity Index / SI 48%) dengan belut Banjaran, Sumedang dan Garut. Sebaliknya berdasar primer S45 (5’-TGAGCGGACA-3’), belut asal Sumedang memiliki polimorfisme lebih tinggi (3 variasi fragmen DNA) dan hubungan kekerabatan relatif jauh (SI 54 %) dibanding lainnya. Berdasar variasi gen yang tercermin dalam fragmen DNA yang teramplifikasi primer RAPD, belut sawah asal Tasikmalaya dan Sumedang merupakan calon induk unggul.
PERTUMBUHAN POPULASI Daphnia spp. YANG DIBERI PUPUK LIMBAH BUDIDAYA KARAMBA JARING APUNG (KJA) DI WADUK CIRATA YANG TELAH DIFERMENTASI EM4 -, Zahidah; Gunawan, W.; Subhan, Ujang
Jurnal Akuatika Vol 3, No 1 (2012): Jurnal Akuatika
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan populasi Daphniaspp.yang dibudidayakan dalam media yang diberi pupuk yang berasal dari limbah budidaya Karamba Jaring Apung (KJA) yang berasal dari Waduk Cirata yang telah difermentasi terlebih dahulu menggunakan EM4.Sampel limbah diambil dari KJA di Waduk Cirata, Blok Cipanas Desa Calincing, Cianjur.Fermentasi limbah dan kultur Daphniaspp. dilakukan di Laboratorium Akuakultur Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran. Penelitian dilaksanakan mulai bulan Agustus 2007 sampai dengan Desember 2007. Penelitian dilaksanakan menggunakan metode eksperimental, rancangan yang dipakai adalah rancangan acak lengkap dengan 6 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan terdiri dari : kotoran ayam 5 gr/L air sebagai kontrol, limbah budidaya tanpa difermentasi sebanyak 5 gr/L air; limbah budidaya yang telah difermentasi sebanyak 2,5 gr/L air;  limbah budidaya yang telah difermentasi sebanyak 5 gr/L air; limbah budidaya yang telah difermentasi sebanyak 7,5 gr/L air dan limbah budidaya yang telah difermentasi sebanyak 10 gr/L air. Parameter yang diamati meliputi, laju pertumbuhan populasi, laju mortalitas populasi, kepadatan pada saat puncak populasi dan waktu mencapai puncak populasi serta kandungan nutrisi Daphnia spp hasil budidaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan limbah budidaya KJA yang telah difermentasi EM4, sebanyak 10 gr/L air menghasilkan laju pertumbuhan sebesar 58,48% serta mortalitas sebesar 23,10%, dengan kepadatan populasi Daphniaspp. sebanyak 1541 ind./L yang dicapai pada hari kesepuluh, Nilai-nilai tersebut hampir sama dengan yang dihasilkan pada penggunaan kotoran ayam dengan nilai 60,01%, 27,80%, 1426 ind/L pada hari kesembilan secara berturut-turut. Kata kunci : Daphnia, KJA, dan Cirata
Pengaruh Penambahan Tepung Hipofisa Sapi Dalam Pakan Buatan Terhadap Pertumbuhan Ikan Tambakan (Helostoma temminckii) Mutianugrah, Pratiwi Dinda; -, Iskandar; Subhan, Ujang
Jurnal Perikanan Kelautan Vol 3, No 4 (2012)
Publisher : Jurnal Perikanan Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

            Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tepung hipofisa sapi terhadap laju pertumbuhan benih ikan tambakan. Penelitian ini dilakukan selama 40 hari yaitu pada bulan Mei sampai Juni 2012, lokasi penelitian dilaksanakan di hatchery Balai Pelestarian Perikanan Perairan Umum (BPPPU) Cianjur. Dinas Perikanan dan Kelautan, Jawa Barat. Penelitian ini dilakukan secara eksperimental dengan menggunakan rancangan acak lengkap, yang terdiri dari lima perlakuan dan tiga kali ulangan. Kelima perlakuan tersebut adalah penggunaan tepung hipofisa dengan dosis 0,05%, 0,10%, 0,15%, 0,20% dari total pakan yang diberikan dan tanpa penambahan tepung hipofisa sebagai kontrol. Parameter yang diamati adalah laju pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian tepung hipofisa sapi sebesar 0,15 % menghasilkan laju pertumbuhan ikan tambakan tertinggi yaitu sebesar 2,03 %, dan kelangsungan hidup 86,67%. 
EFEKTIVITAS TEPUNG HIPOTALAMUS SAPI DALAM PAKAN BUATAN TERHADAP PERTUMBUHAN BENIH IKAN TAMBAKAN (Helostoma temminckii) Muslim, Ryan Adhitia; -, Iskandar; Subhan, Ujang
Jurnal Perikanan Kelautan Vol 3, No 4 (2012)
Publisher : Jurnal Perikanan Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

            Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas tepung hipotalamus sapi terhadap laju pertumbuhan benih ikan tambakan. Metoda penelitian adalah eksperimental dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan lima perlakuan dan tiga ulangan. Kelima perlakuan tersebut adalah penggunaan tepung hipotalamus sapi 0% atau tanpa penambahan tepung hipotalamus sapi sebagai kontrol, penggunaan tepung hipotalamus sapi dengan dosis 0,05%, 0,10%, 0,15% dan 0,20% dari total pakan yang diberikan. Parameter yang diamati adalah laju pertumbuhan, tingkat kelangsungan hidup dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian tepung hipotalamus sapi dengan dosis yang berbeda meningkatkan laju pertumbuhan ikan tambakan. Pemberian tepung hipotalamus sebesar 0,10% memberikan laju pertumbuhan lebih tinggi dibanding perlakuan lainnya dengan rata-rata 2,32% perhari.
PEMBERIAN PROBIOTIK DENGAN CARRIER ZEOLIT PADA PEMBESARAN IKAN LELE DUMBO (Clarias gariepinus) Aquarista, Fenta; -, Iskandar; Subhan, Ujang
Jurnal Perikanan Kelautan Vol 3, No 4 (2012)
Publisher : Jurnal Perikanan Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian tentang pemberian probiotik dengan carrier zeolit  pada pembesaran ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) telah dilaksanakan pada bulan Juli-September 2012 di Laboratorium Pembenihan Ikan dan Kolam Percobaan Ciparanje Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran, Jatinangor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari penambah probiotik dengan carrier zeolit terhadap kodisi kualitas air dan tingkat kelangsungan hidup benih ikan lele dumbo (Clarias gariepinus). Benih yang digunakan adalah benih ikan lele dumbo dengan ukuran 7-9 cm dan berat 8,13 gram/ekor. Benih ikan lele dumbo berasal dari kolam percobaan Ciparanje, Jatinangor-Sumedang. Wadah pembesaran berupa kolam beton ukuran 2x1x0,5 meter, dan setiap kolam diisi dengan 600 L air tawar. Perlakuan yang dilakukan adalah pemberian probiotik dengan carrier zeolit dengan jumlah yang berbeda yaitu dosis 2,5 mg/L; 5 mg/L; 7,5 mg/L; serta ditambah dengan satu perlakuan kontrol. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan masing-masing perlakuan di ulang sebanyak 4 kali ulangan. Pemberian probiotik dengan carrier zeolit sebanyak 5mg/L dapat menekan konsentarsi amonia (0,17-0,22 ppm) dan dapat meningkatkan laju pertumbuhan serta kelangsungan hidup ikan lele yang tinggi yaitu 82% dan 85%.
PENGARUH EKSTRAK TEPUNG TESTIS SAPI DENGAN KONSENTRASI YANG BERBEDA TERHADAP KEBERHASILAN MASKULINISASI IKAN NILA MERAH (Oreochromis sp.) -, Irmasari; -, Iskandar; Subhan, Ujang
Jurnal Perikanan Kelautan Vol 3, No 4 (2012)
Publisher : Jurnal Perikanan Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian penggunaan Ekstrak Tepung Testis Sapi (ETTS) pada proses maskulinisasi ikan nila merah (Oreochromis sp.), telah dilakukan pada bulan Maret – Mei 2012, yang bertempat di Hatchery FPIK UNPAD. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas Ekstrak Tepung Testis Sapi terhadap keberhasilan maskulinisasi larva ikan nila merah. Pada penelitian ini ETTS diberikan dengan cara perendaman terhadap larva ikan nila merah yang berumur 4 hari (fase diferensiasi sex) selama 8 jam. Konsentrasi ETTS yang digunakan yaitu perbandingan volume antara  ETTS dan Air. Perlakuan yang diberikan yaitu 0 ml/L, 1,5 ml/L, 3 ml/L, 4,5 ml/L dan 6 ml/L. Perendaman larva dilakukan pada stoples volume 5 liter dengan kepadatan 10 ekor/liter. Larva yang telah direndam ETTS dipelihara pada wadah akuarium  berukuran 40 x 30 x 30 cm3 dengan kepadatan awal 1ekor/liter, kemudian setelah 15 hari umur pemeliharaan larva kepadatan menjadi 2 ekor/liter. Hasil pengamatan menunjukan larva ikan nila merah berumur 4 hari dengan ekstrak tepung testis sapi (ETTS) sebanyak 3 ml/L menghasilkan ikan nila merah berkelamin jantan sebesar 69,07%.
THE EFFECTIVENESS OF THE USE OF FILTER ON THE TILAPIA GROWTH PERFORMANCE, NUMBER OF NITROSOMONAS SP., AND WATER QUALITY IN AQUAPONICS SYSTEMS Andriani, Yuli; Zahidah, ,; Dhahiyat, Yayat; Subhan, Ujang; Zidni, Irfan; Pratama, Rusky Intan; Gumay, Nadia Purnamasari
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 1 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3430.884 KB) | DOI: 10.19027/jai.17.1.1-8

Abstract

ABSTRACT This study aims to determine the most effective type of living filter media for the bacteria Nitrosomonas sp. in order to improve water quality in aquaponics systems. The method used in this study was completely randomized design, consisting of five treatments and each was repeated three times. The treatments were: A (without addition of filter media), B (addition of palm fibers, silica sand, and activated carbon), C (addition of palm fibers, silica sand, gravel, and activated carbon), D (addition of palm fibers, silica sand, rocks, and activated carbon), and E (addition of palm fibers, silica sand, bioball, and activated carbon). Parameters measured were: 1) the number of Nitrosomonas bacteria, 2) water quality (ammonia, nitrate, and phosphate); and, 3) productivity of fish and Chinese spinach. Data were analyzed using a descriptive method. The findings show that the highest number of bacteria was found in treatment E, 9.29×105 CFU/mL on the bioball filter media and 4.43×105 CFU/mL in rearing tanks. The best water quality was in treatment B, with a concentration of ammonia of 0.17 mg/L, nitrate of 0.33 mg/L, and phosphate of 0.54 mg/L. Plant productivity was the best in treatment B in which the average length and weight reach 48.1 cm and 11.1 grams of plant/week, respectively. The best fish growth was seen in treatment C with an absolute growth rate of 4.4 grams and a specific growth rate of 1.9%/day. The recommended filter was made of Arenga pinnata fibers, silica sand, gravels, and active carbon of about 2 cm thick each.The results showed that the type of filter on the aquaponic system had an effect on the amount of Nitrosomonas sp. in water, water quality, and the productivity of Chinese spinach.Keywords: aquaponics, filter, water quality, Nitrosomonas sp.ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menentukan jenis filter yang paling efektif sebagai media hidup bakteri Nitrosomonas sp. sehingga menghasilkan kualitas air yang baik dalam sistem akuaponik. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap, yaitu lima perlakuan dengan tiga kali pengulangan. Perlakuan dalam penelitian ini meliputi: A (tanpa penambahan media filter), B (penambahan media filter ijuk, pasir silika, dan karbon aktif), C (penambahan media filter ijuk, pasir silika, kerikil, dan karbon aktif), D (penambahan media filter ijuk, pasir silika, batu, dan karbon aktif), dan E (penambahan media filter ijuk, pasir silika, bioball, dan karbon aktif). Parameter yang diamati adalah: 1) jumlah bakteri, 2) kualitas air (meliputi amonia, nitrat, dan fosfat), serta 3) produktivitas ikan dan kangkung air. Data hasil penelitian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah kelimpahan bakteri Nitrosomonas sp. tertinggi terdapat pada perlakuan E, yaitu 9,29×105 CFU/mL pada media filter bioball dan 4,43×105 CFU/mL pada media air pemeliharan. Adapun kualitas air terbaik yaitu pada perlakuan B dengan konsentrasi amonia 0,17 mg/L, nitrat 0,33 mg/L, dan fosfat 0,54 mg/L. Produktivitas kangkung terbaik yaitu pada perlakuan B dengan panjang rata-rata mencapai 48,1 cm dan bobot tanaman 11,1 gram/minggu. Pertumbuhan ikan terbaik terdapat pada perlakuan C, dengan nilai pertumbuhan ikan mutlak sebesar 4,4 gram dan pertumbuhan spesifik 1,9%/hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis filter pada sistem akuaponik berpengaruh terhadap jumlah Nitrosomonas sp. dalam air, kualitas air, dan produktivitas tanaman kangkung. Filter yang disarankan dari hasil penelitian ini adalah yang tersusun atas ijuk, pasir silika, batukerikil, dan karbon aktif masing-masing setinggi ±2 cm.Kata kunci: akuaponik, filter, kualitas air, Nitrosomonas sp., produktivitas tanaman
PERAKITAN IKAN LELE (CLARIAS SP.) TRANSGENIK DENGAN TEKNIK ELEKTROPORASI SPERMA Dwi Buwono, Ibnu; Kurnia Agung, M. Untung; Subhan, Ujang
Jurnal Biologi Udayana Vol 20 No 1 (2016): Jurnal Biologi
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aplikasi teknologi transfer gen melalui perantaraan sperma dimungkinkan untuk memperbaiki kualitas genetik ikan. Keberhasilan transfer gen hormon pertumbuhan (Growth Hormone =GH) ikan budidaya melalui elektroporasi sperma dapat menghasilkan ikan transgenik. Pada penelitian ini dilakukan transfer konstruksi vektor ekspresi gen GH lele dumbo (pTarget-CMV-CgGH) ke sperma lele dumbo (strain mutiara) menggunakan kejut listrik 125 Vcm-1 dengan jumlah pulsa 3 dan 5 serta 50 Vcm-1 dengan jumlah pulsa 3 dan 5. Konsentrasi vektor yang digunakan 60 ng/?L, lama kejutan 30 milidetik dan interval kejut 0,1 detik. Dari hasil elektroporasi sperma lele mutiara sebesar 125 Vcm-1 (jumlah pulsa 3 dan 5) serta 50 Vcm-1 (jumlah pulsa 3 dan 5) ini, terdeteksi fragmen berukuran 600 bp (gen GH lele dumbo) pada sperma dan fragmen 1000 bp (96 % identik dengan GH Clarias gariepinus, no. aksesi AF416488.1) pada ikan umur 4 bulan menunjukkan keberhasilan transfer gen GH lele dumbo (GH eksogen) ke sperma lele mutiara. Rata-rata kelipatan tumbuh ikan lele mutiara transgenik umur 4 bulan (125 Vcm-1 dan 50 Vcm-1 dengan jumlah pulsa 3 dan 5) berturut- turut 3,53 kali; 3,05 kali; 2,75 kali dan 2,76 kali dari ukuran ikan non transgenik (over-ekspresi GH eksogen). GH eksogen terdeteksi pada ikan lele mutiara transgenik dan tidak terdeteksi pada ikan lele mutiara non transgenik (non elektroporasi). Ikan lele mutiara transgenik berhasildirakit dengan menyisipkan gen GH lele dumbo menggunakan teknik elektroporasi sperma.
EMBRIOGENESIS DAN KARAKTERISTIK LARVA PERSILANGAN IKAN PATIN SIAM (Pangasius hypophthalmus) JANTAN DENGAN IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus) BETINA -, Ardhardiansyah; Subhan, Ujang; Yustiati, Ayi
Jurnal Perikanan Kelautan Vol 8, No 2 (2017): Jurnal Perikanan dan Kelautan
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (485.181 KB)

Abstract

Penelitian dilaksanakan di kolam percobaan Ciparanje dan Laboratorium Akuakultur Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran, mulai dari bulan Desember 2016 hingga Februari 2017. Penelitian bertujuan untuk mengetahui perkembangan embriogenesis dan karakteristik perkembangan larva persilangan ikan patin siam jantan dengan ikan baung betina. Metode yang digunakan pada penelitian yaitu eksperimetal dengan analisis deskriptif kuantitatif yaitu dengan menganalisis tingkat keberhasilan hibridisasi. Derajat pembuahan pada ikan patin siam, ikan hibrid dan juga ikan baung masing-masing 92,57%, 91,47% dan 46,20%. Proses embriogenesis sampai dengan penetasan larva pada ikan patin siam lebih cepat dibandingkan dengan ikan hibrid dan juga ikan baung yaitu dengan waktu berturut turut yaitu 19 jam 40 menit, 21 jam 10 menit, dan 23 jam 30 menit. Derajat penetasan telur pada ikan patin, ikan hibrid dan juga ikan baung masing-masing 86,12%, 80,93% dan 56,16%. Derajat kelulushidupan ikan patin siam, ikan hibrid, dan juga ikan baung masing-masing 76,30%, 24,69% dan 51,61%. Karakteristik morfologi larva hibrid meliputi bentuk kepala, bentuk tubuh, bentuk sirip ekor dan sirip adipose cenderung intermediate yang merupakan perpaduan dari kedua indukan, sedangkan bentuk sirip anal, sirip dada, sirip punggung lebih mengarah kepada ikan baung. Abnormalitas pada larva ikan hibrid terjadi pada bagian tubuh dengan persentase larva yang abnormal sebesar 34,75%.